Anda di halaman 1dari 23

METODE PENAMBANGAN

STRIP MINING

Disusun Oleh :
Vidhalul Andhisa
Muhammad Naufal
Riky Wahyudi
Al-Mizan

Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik
Universitas Syiah Kuala

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa, karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya maka
kami telah menyelesaikan makalah Mata Kuliah Sistem
Penambangan dengan tepat waktu.
Berikut ini makalah dengan judul Metode Penambangan
Strip Mining, yang menurut kami dapat memberikan manfaat
yang besar bagi kami dan mahasiswa lainnya untuk
mempelajari tentang Metode Penambangan berupa Strip
Mining.
Dengan ini, sebelumnya kami terlebih dahulu meminta
maaf bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan
yang kami buat kurang tepat atau menyinggung.

Banda Aceh, 23 Februari 2016

DAFTAR ISI

Halaman Sampul.....................................................................i
Kata Pengantar........................................................................ ii
Daftar Isi.................................................................................iii
Bab I Pendahuluan..................................................................1
I.1 Latar Belakang...................................................................1
I.2 Rumusan Masalah..............................................................2
I.3 Tujuan dan Manfaat............................................................2
Bab II Pembahasan..................................................................3
II.1 Tahap-Tahap Kegiatan dalam Usaha
pertambangan...................................3
II.2 Konsiderasi Pada Operasi
Penambangan..........................................................3
II.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Sistem
Penambangan...............................................................................
.........................................4
II.4 Pengertian Strip Mining.....................................................6
II.5 Cara Penambangan Strip
Mining...........................................................................6
II.6 Metode Sistem Penambangan Strip Mining........................10
II.7 Alat Yang Digunakan Pada Penambangan Metode Strip
Mining.....................................................................................15
II.8 Reklamasi pada Strip Mining.............................................14
II.9 Keuntungan dan kerugian metode penambangan Strip
Mining.....................................................................................16
Bab III Penutup........................................................................17
III.1 Kesimpulan.......................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pertambangan merupakan salah satu sektor industri yang
fokus pada eksplorasi dan eksploitasi mineral dan batubara.
Pertambangan bertujuan untuk mengambil dan mengolah
mineral dan batubara dalam bumi agar memiliki nilai jual yang
ekonomis dan dapat dipergunakan dengan maksimal untuk
menyokong kehidupan manusia.
Sumber daya mineral dan batubara merupakan sumber
daya yang tidak dapat diperbaharui kembali (wasting assets
atau non renewable), dengan kata lain industri pertambangan
merupakan industri tanpa daur. Oleh karena itu industri
pertambangan selalu berhadapan dengan keterbatasan, baik
lokasi, jenis, jumlah maupun mutu materialnya. Selain hal
tersebut, industri pertambangan berkewajiban memperhatikan
keselamatan kerja dan menjaga kelestarian lingkungan hidup
serta mengembangkan masyarakat sekitar.
Dalam dunia pertambangan, ada beberapa metode dalam
menambang (ekploitasi) mineral dan batubara. Secara garis
besar metode penambangan dibagi menjadi 3 yaitu, tambang
permukaan, tambang bawah tanah dan tambang bawah air.
Strip Mining adalah salah satu jenis metode tambang
permukaan yang umumnya digunakan untuk menambang
endapan batubara yang letaknya mendatar atau sedikit miring.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja tahap kegiatan dalam usaha Pertambangan ?
2. Apa faktor yang mempengaruhi pemilihan sistem
penambangan ?
3. Apa yang dimaksud dengan Strip Mining ?
4. Bagaimana proses penambangan pada Strip Mining ?
5. Alat berat apa saya digunakan pada tambang Strip
Mining ?
6. Bagaimana proses reklamasi tambang Strip Mining ?
7. Apa saja kelebihan dan kekurangan tambang Strip Mining
?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1. 3.1 Tujuan
1. Menjelaskan tahapan kegiatan usaha pertambangan;
2. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi pemilihan sistem
Penambangan;
3. Menjelaskan pa yang dimaksud dengan Strip Mining;
4. Menjelaskan proses penambangan pada Strip Mining;
5. Menjelaskan alat berat yang umumnya digunakan pada
tambang
Strip Mining;
6. Menjelaskan proses reklamasi tambang Strip Mining;
7. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari Strip Mining.
1.3.2 Manfaat
1. Untuk mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan
metode
penambangan Strip Mining
2. Untuk memenuhi kewajiban (tugas) mahasiswa dari
Dosen pengajar

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Tahap-Tahap Kegiatan dalam Usaha
pertambangan
Kegiatan dalam usaha pertambangan meliputi tugas-tugas
yang dilakukan untuk mencari dan mengambil bahan galian dari
kulit bumi, kemudian mengolah sampai bisa bermanfaat bagi
manusia. Secara garis besar tahap-tahap kegiatan dalam usaha
pertambangan adalah sebagai berikut :

Penyelidika
n Umum

Eksplora
si

Arsip

Tidak

Studi
Kelayaka
n

Menguntungka
n?
Ya

Pengangkut
an
Pemasaran

Pengolahan
dan
Pemurnian

Penambang
an

Persiapan
Penambang
an

Penutupa
n
Tambang

II.2 Konsiderasi Pada Operasi Penambangan


Secara garis besar, faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap kelangsungan kegiatan penambangan dibagi dalam
dua kategori, yaitu faktor teknis dan faktor ekonomi.

1. Kajian Secara Teknis


Unsur unsur teknis yang perlu mendapat perhatian
dalam pelaksanaan aktifitas kegiatan kerja sebuah proyek
penambangan meliputi :
a. Kondisi Umum tempat proyek dilaksanakan
Kondisi tempat kerja yang perlu diperhatikan adalah
meliputi kondisi geologi, topografi, iklim dan sosial budaya.
Keadaan umum tersebut mutlak diperhitungkan guna
menentukan penjadwalan waktu kegiatan dan yang utama
sekali menetapkan efesiensi kerja yang efektif dari
pelaksanaan proyek tersebut.
b. Sarana perlengkapan peralatan kerja
Jenis perlengkapan dan peralatan kerja disesuaikan
dengan kondisi tempat kerja, maksud pekerjaaan,
kapasitas produksi, dan efektifitas kerja yang diinginkan.
Cara pengadaanya diperhitungkan dengan umur produksi
dan efektifitas kerja dan ketersediaan modal kerja yang di
miliki
c. Metode Pelaksanaan kerja
Dalam
proyek
ini
pelaksanaan
kegiatan
pembongkaran material dilakukan dengan peledakan.
Metode tersebut dipilih mengingat jenis materialnya
memilki kekerasan yang cukup tinggi, fraksi material yang
lepas yang sasaran produksinya telah ditentukan.
2. Kajian Secara Ekonomis
Kajian
secara
ekonomis
dimaksudkan
untuk
mengetahui sebuah proyek penambangan memperoleh
keuntungan atau tidak. Dalam perhitungan aliran uang
diperhatikan beberapa faktor yang berpengaruh dalam
situasi ekonomi. Hal-hal yang diperhatikan tersebut
adalah:
1. Nilai (value) daripada endapan mineral per unit berat (P)
dan biasanya dinyatakan dengan ($/ton) atau (Rp/ton).
2. Ongkos produksi (C), yaitu ongkos yang diperlukan
sampai mendapatkan produknya diluar ongkos stripping.
3. Ongkos stripping of overburden (Cob).

4. Cut Off Grade, akan menentukan batas-batas cadangan


sehingga menentukan bentuk akhir penambangan.

II.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan


Sistem Penambangan
Aturan utama dari eksploitasi tambang adalah memilih
suatu metoda penambangan yang paling sesuai dengan
karakteristik unik (alam, geologi, lingkungan dan sebagainya)
dari endapan mineral yang ditambang di dalam batas
keamanan, teknologi dan ekonomi, untuk mencapai ongkos
yang rendah dan keuntungan yang maksimum (Morrison dan
Russel, 1973; Boshkov dan Wright, 1973). Faktor-faktor tersebut
antara lain :
1. Sifat keruangan dari endapan bijih
- Ukuran (dimensi : tinggi atau tebal khususnya)
- Bentuk (tanular, lentikular, massif, irregular)
- Posisi (miring, mendatar atau tegak)
- Kedalaman (nilai rata-rata, nisbah pengupasan)
2. Kondisi Geologi dan Hidrologi
- Mineralogy dan petrologi (sulfida atau oksida)
- Komposisi kimia (utama, hasil samping, mineral by
product)
- Struktur
endapan
(lipatan,
patahan,
intrusi,
diskontinuitas)
- Bidang lemah (kekar, fracture, cleavage dalam mineral,
cleat dalam Batubara)
- Keseragaman, alterasi, erosi
- Air tanah dan hidrologi
3. Sifat geomekanik
- Sifat elastic (kekuatan, modulus elastic, koefesien
poison)
- Perilaku plastis atau viscoelastis (flow, creep)
- Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)
- Konsolidasi, kompaksi dan kompeten
- Sifat-sifat fisik yang lain (bobot isi, voids, porositas,
permeabilitas, lengas bebas, lengas bawaan)

4. Konsiderasi ekonomi
- Cadangan (tonnage dan kadar)
- Produksi
- Umur tambang
- Produktifitas
- Perbandingan ongkos penambangan
penambangan yang cocok

untuk

metode

5. Faktor teknologi
- olehan tambang
- Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih)
- Kefleksibilitas metode dengan perubahan kondisi-kondisi
- Selektifitas metode untuk bijih dan waste
- Konsentrasi/penyebaran pekerjaan.

II.4 Pengertian Strip Mine


Penambangan dengan metode tambang terbuka adalah
metode penambangan yang segala kegiatannya atau
aktivitasnya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan
permukaan bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung
dengan udara luar dan kegiatan penggaliannya berupa endapan
mineral dan batubara.
Strip Mining merupakan pertambangan kupas atau
pertambangan baris yang dilakukan untuk endapan-endapan
yang letaknya mendatar atau sedikit miring. Dalam metode ini
yang harus diperhitungkan adalah cara nisbah pengupasan
(stripping ratio) dari endapan yang akan ditambang, yaitu
perbandingan banyaknya volume tanah penutup (m 3 atau BCM)
yang harus dikupas untuk mendapatkan 1 ton endapan. Cara ini
sering diterapkan pada penambangan batubara, atau endapan
garam-garam.

II.5 Cara Penambangan Strip Mine


Metode ini diterapkan untuk menambang endapan
batubara yang dekat dengan permukaan yang khususnya pada
daerah mendatar sampai agak landai. Ketebalan lapisan
batubara yang ditambang dengan sistem strip mining berkisar
antara 1 m sampai 10 m. Endapan batubara yang lebih tebal
dan memiliki berbagai lapisan biasanya sitambang dengan cara
berjenjang (banching). Penambangannya dimulai dari singkapan
batubara yang mempunyai lapisan dan tanah penutup dangkal
dilanjutkan ke lapisan yang lebih tebal sampai batas pit.
Pemindahan tanah penutup dan batubaranya menyusur
secara menyilang (strip across) satu dimension endapan, yang
kemudian digali secara paralel dari arah yang lain (opposit
direction). Overburden atau lapisan tanah penutup dapat
diisikan kembali kebekas penggalian sebelumnya (backfilling).
Siklus ini kemudian dilakukan secara berulang hingga
penambangan selesai.
Dalam strip mining pemeliharaan dinding tebing tidak
begitu kritis seperti pada operasi penambangan multiple bench
pit, tetapi tumpukan material buangan yang tinggi mempunyai
permasalahan longsor (slope failure problem).

Peralatan seperti dragline atau bucket wheel excavator


dapat
digunakan
untuk
pengupasan
tanah
penutup.
Penambangan batubaranya sendiri yang bersifat rapuh bisa
menggunakan shovel kemudian dimuat ke alat angkut, seperti
misalnya truck atau lori. Sedangkan untuk batu bara jenis keras
perlu menggunakan pemboran dan peledakan.

Penambangan batubara bersamaan dengan kegiatan reklamasi

Langkah-langkah dalam Strip Mining adalah :


1. Kegiatan
tahap
awal
yang
dilakukan
adalah
membersihkan dan memindahkan (land clearing)
tumbuhan dan tanah pucuk yang akan dipakai kembali
untuk reklamasi tambang dengan menggunakan buldozer
dan alat lainnya.
2. Kemudian diikuti dengan pemindahan lapisan penutup
(over burden) yang terletak antara lapisan tanah pucuk
dan lapisan batubara. Apabila waste yang menutupi
batubara sangat keras atau tidak bisa digali oleh

excavator, maka akan dilakukan pengeboran dan


peledakan.
3. Waste
tersebut
akan
ditempatkan
pada
lokasi
penumpukan hingga batubara yang akan digali terlihat,
setelah itu maka dimulailah pengambilan batubara.
4. Pengambilan dilakukan di satu baris/strip, dan sejalan
dengan pengambilan di strip pertama, kegiatan
pengambilan tanah penutup di strip kedua dilakukan, dan
tanah penutup pada strip kedua akan di timbun di area
yang sudah diambil batubaranya pada strip pertama.
Kegiatan ini dilakukan berulang hingga strip terakhir.

Beberapa Tahapan Kegiatan Penambangan

Untuk maksud penumpukan hasil bongkaran tanah


penutup
disamping
penggunaan
shovel
dapat
juga
diperbantukan dengan dragline. Kemampuan dragline dalam
menjangkau melebihi shovel, dengan demikian dapat
mengumpulkan waste lebih tinggi.

II.6 Metode sistem penambangan Strip Mining

Sistem penambangan ini pada dasarnya terbagi dua, yaitu


area mining method dan Contour mining.
1. Area Mining Method
Sistem ini pada umumnya diterapkan untuk endapan
batubara yang letaknya kurang lebih horizontal (mendatar)
serta
daerahnya
juga
merupakan
dataran.
Kegiatan
penambangan dimulai dengan pengupasan tanah penutup
dengan cara membuat paritan besar yang biasanya disebut box
cut dan tanah penutupnya dibuang ke daerah yang tidak di
tambang. Setelah endapan batubara dari galian pertama
diambil, kemudian disusul dengan pengupasan berikutnya yang
sejajar dengan pengupasan pertama dan tanah penutupnya
ditimbun atau dibuang ke tempat bekas penambangan atau
penggalian yang pertama (back filling digging method).
Demikianlah selanjutnya penggalian demi penggalian
dilanjutkan sampai penggalian yang terakhir. Penggalian yang
terakhir akan meninggalkan lubang memanjang yang di satu
sisi lainnya oleh tanah penutup yang tidak digali. Seirama
dengan kemajuan penambangan, secara bertahap timbunan
tanah penutup juga diratakan. Terdapat tiga cara penambangan
area mining method, yaitu :
a. Conventional area mining method
Pada cara ini, penggalian
dimulai
pada
daerah
penambangan awal sehingga
penggalian
lapisan
tanah
penutup dan penimbunannya
tidak terlalu mengganggu
lingkungan. Kemudian lapisan
tanah penutup ini ditimbun di
belakang daerah yang sudah
ditambang.

b. Area mining with stripping shovel


Cara ini digunakan untuk
batubara yang terletak 10-15
m di bawah permukaan tanah.
Penambangan dimulai dengan
membuat bukaan berbentuk
segi empat. Lapisan tanah
penutup ditimbun sejajar
dengan arah penggalian, pada
daerah yang sedang
ditambang. Penggalian sejajar
ini dilakukan sampai seluruh
endapan tergali.
c. Block area mining
Cara ini hampir sama
dengan
conventional
area
mining
method,
tetapi
daerah
penambangan
dibagi
menjadi beberapa blok
penambangan. Cara ini
terbatas untuk endapan
batubara dengan tebal
lapisan tanah penutup
maksimum 12 m. Blok penggalian awal dibuat dengan
bulldozer, Tanah hasil penggalian kemudian didorong pada
daerah yang berdekatan dengan daerah penggalian.
2. Contour Mining
Sistem penambangan ini biasanya diterapkan untuk
cadangan batubara yang tersingkap di lereng pegunungan atau
bukit. Kegiatan penambangan diawali dengan pengupasan
tanah penutup di daerah singkapan (outcrap) di sepanjang
lereng mengikuti garis kontur sekeliling bukit atau pegunungan

tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuang kearah


lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap
diambil dan diangkut, kemudian diikuti dengan penggalian
endapan batubaranya. Penggalian kemudian dilanjutkan ke arah
tebing sampai mancapai batas penggalian yang masih
ekonomis, mengingat tebalnya tanah penutup yang harus
dikupas
untuk
mendapatkan
batubaranya.
Karena
keterbatasannya daerah yang biasanya digali, maka daerah
menjadi sempit tetapi panjang sehingga memerlukan alat-alat
yang mudah berpindah-pindah dan umur tambang biasanya
pendek. Terdapat empat cara penambangan contour mining,
yaitu :
a. Conventional contour mining
Pada metode ini, penggalian
awal dibuat sepanjang sisi
bukit pada daerah dimana
batubara
tersingkap.
Pemberaian
lapisan
tanah
penutup
dilakukan
dengan
peledakan dan pemboran atau
menggunakan dozer dan ripper
serta alat muat front end
leader
kemudian
langsung
didorong dan ditimbun di
daerah lereng yang lebih rendah. Pengupasan dengan contour
stripping akan menghasilkan jalur operasi yang bergelombang,
memanjang dan menerus mengelilingi seluruh sisi bukit.
b. Block-cut contour mining
Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blokblok penambangan yang bertujuan untuk mengurangi timbunan
tanah buangan pada saat pengupasan tanah penutup di sekitar
lereng. Pada tahap awal blok 1 digali sampai batas tebing
(highwall) yang diijinkan tingginya. Tanah penutup tersebut
ditimbun sementara, batubaranya kemudian diambil. Setelah itu
lapisan blok 2 digali kira-kira setengahnya dan ditimbun di blok
1. Sementara batubara blok 2 siap digali, maka lapisan tanah
penutup blok 3 digali dan berlanjut ke siklus penggalian blok 2

dan menimbun tanah buangan


pada blok awal. Pada saat blok
1
sudah
ditimbun
dan
diratakan
kembali,
maka
lapisan tanah penutup blok 4
dipidahkan ke blok 2 setelah
batubara
pada
blok
3
tersingkap semua. Lapisan
tanah
penutup
blok
5
dipindahkan
ke
blok
3,
kemudian
lapisan
tanah
penutup blok 6 dipindahkan ke blok 4 dan seterusnya sampai
selesai. Penggalian beruturan ini akan mengurangi jumlah
lapisan tanah penutup yang harus diangkut untuk menutup final
pit.
c. Haulback contour mining
Metode
haulback
ini
merupakan modifikasi dari
konsep
block-cut,
yang
memerlukan
suatu
jenis
angkutan
overburden,
bukannya
langsung
menimbunnya. Jadi metode
ini
membutuhkan
perencanaan
dan
operasi
yang
teliti
untuk
bisa
menangani
batubara
dan
overburden secara efektif.

d. Box-cut contour mining


Pada metode box-cut
contour mining ini lapisan
tanah penutup yang sudah
digali,
ditimbun
pada
daerah yang sudah rata di
sepanjang garis singkapan
hingga membentuk suatu
tanggul-tanggul
yang
rendah
yang
akan
membantu
menyangga
porsi terbesar dari tanah
timbunan.

Penambangan mendatar batubara, memperlihatkan mesin


penggali beroda Bucket Wheel Excavator (BWE) sedang
memindahkan batuan penutup dan mesin penggali berantai
sedang memindahkan batubara.

P
enambangan Batubara dengan Bucket Wheel Excavator
Penambangan
mendatar
batubara,
memperlihatkan
pemindahan batuan penutup dengan mesin pegupas (dragline),
perataan dengan dozer dan penanaman ulang dengan tumbuhtumbuhan.

Penambangan dengan Dragline

II.7 Alat Yang Digunakan Pada Penambangan


Metode Strip Mining
Penambangan yang akan dilakukan difokuskan dengan
menggunakan peralatan mekanis. Adapun alat yang digunakan
diperlukan untuk menunjang kegiatan penambangan, yaitu :
- Bulldozer
- Bucket Wheel Excavator
- Loading Shovel
- Stripping Shovel
- Dragline
- Truck Shovel
- Front end loader
- Scrapper
- Riper
- Off Highway Dump Truck
- Wheel Loader
- Track Loader
- Backhoe

II.8 Reklamasi pada Strip Mining


Reklamasi merupakan
kembali lingkungan yang

kegiatan untuk merehabilitasi


telah rusak baik itu akibat

penambangan atau kegiatan yang lainnya. Rehabilitasi ini


dilakukan dengan cara penanaman kembali atau penghijauan
suatu kawasan yang rusak akibat kegiatan penambangan
tersebut. Pelaksanaan reklamasi dan revegetasi dapat dilakukan
pula secara bersamaan sejauh dengan kemajuan aktifitas
penambangan. Untuk bekas tambang yang tidak dapat ditutup
kembali, pemanfaatan dapat dilakukan dengan berbagai cara
serta tetap memperhatikan aspek lingkungan, seperti untuk
pemanfaatan sebagai kolam cadangan air, pengembangan ke
sector wisata air, pembudidayaan ikan. Kegiatan pengelolaan
pengupasan tanah dan penimbunan tanah, tidak dapat
dilepaskan dari proses bagaimana tanah yang diangkut dibawa
ke lokasi penimbunan tanah (soil stockpile).
Namun secara umum, garis besar tahapan reklamasi
adalah sebagai berikut :
1. Konservasi Top Soil
2. Penataan Lahan
3. Pengelolaan Sedimen dan Pengendalian Erosi
4. Penanaman Cover Crop
5. Penanaman Tanaman Pionir
6. Penanggulangan Logam Berat
Hal-hal yang harus diperhatikan didalam perencanaan reklamasi
adalah sebagai berikut :
1. Mempersiapkan rencana reklamasi sebelum pelaksanaan
penambangan,
2. Luas areal yang direklamasikan sama dengan luas areal
penambangan,
3. Memindahkan dan menempatkan tanah pucuk pada
tempat tertentu dan mengatur sedemikian rupa untuk
keperluan revegetasi,
4. Mengembalikan/memperbaiki pola drainase alam yang
rusak,
5. Menghilangkan/memperkecil kandungan (kadar) bahan
beracun sampai tingkat yang aman sebelum dapat
dibuang ke suatu tempat pembuangan,
6. Mengembalikan lahan seperti keadaan semula dan/atau
sesuai dengan tujuan penggunaannya,
7. Memperkecil erosi selama dan setelah proses reklamasi,

8. Memindahkan semua peralatan yang tidak digunakan


lagi dalam aktifitas penambangan,
9. Permukaan yang padat harus digemburkan namun bila
tidak memungkinkan agar ditanami dengan tanaman
pionir yang akarnya mampu menembus tanah yang
keras,
10. Setelah penambangan maka pada lahan bekas
tambang yang diperuntukkan bagi revegetasi, segera
dilakukan penanaman kembali dengan jenis tanaman
yang
sesuai
dengan
rencana
rehabilitasi
dari
Departemen Kehutanan dan RKL yang dibuat,
11. Mencegah masuknya hama dan gulma yang
berbahaya,
12. Memantau dan mengelola areal reklamasi sesuai
dengan kondisi yang diharapkan.

II.9 Keuntungan dan kerugian metode


penambangan Strip Mining
A.
Beberapa
keuntungan
yang
diperoleh
bila
menggunakan Strip Mining :
1. Produksi tinggi
2. Relatif lebih aman
3. Ongkos penambangan per ton atau per bcm endapan
mineral/bijh lebih murah karena tidak perlu adanya
penyanggaan, ventilasi dan penerangan.
4. Kondisi kerjanya baik, karena berhubungan langsung dengan
udara luar dan sinar matahari.
5. Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran besar dapat
lebih leluasa, sehingga produksi bisa lebih besar.
6. Pemakaian bahan peledak bisa lebih efisien, leluasa dan
hasilnya lebih baik, karena di daerah yang terbuka.
B. Kerugian metode penambangan Strip Mining :
1. Para pekerja langsung dipengaruhi oleh keadaan cuaca,
dimana hujan yang lebat atau suhu yang tinggi mengakibatkan
efisiensi kerja menurun, sehingga hasil kerja juga menurun.
2. Kedalaman penggalian terbatas, karena semakin dalam
penggalian akan semakin banyak tanah penutup (overburden)
yang harus digali.

3. Timbul masalah dalam mencari tempat pembuangan tanah


yang jumlahnya cukup banyak.
4. Alat-alat mekanis letaknya menyebar.
5. Pencemaran lingkungan hidup relatif lebih besar.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
1. Kegiatan dalam usaha pertambangan meliputi tugas-tugas
yang dilakukan untuk mencari dan mengambil bahan
galian dari kulit bumi, kemudian mengolah sampai bisa
bermanfaat bagi manusia.
2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan
kegiatan penambangan yaitu faktor teknis dan faktor
ekonomi.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Sistem
Penambangan yaitu Sifat keruangan dari endapan bijih,
Kondisi Geologi dan Hidrologi, Sifat Geomekanik,
Konsiderasi Ekonomi dan Faktor Teknologi.
4. Strip Mining merupakan pertambangan kupas atau
pertambangan baris yang dilakukan untuk endapanendapan yang letaknya mendatar atau sedikit miring.
5. Sistem penambangan Strip Mining terbagi dua, yaitu area
mining method dan Contour mining.
6. Reklamasi

merupakan kegiatan untuk merehabilitasi


kembali lingkungan yang telah rusak baik itu akibat
penambangan atau kegiatan yang lainnya dan mempunyai
tahapan Konservasi Top Soil, Penataan Lahan, Pengelolaan
Sedimen dan Pengendalian Erosi, Penanaman Cover Crop,
Penanaman Tanaman Pionir dan Penanggulangan Logam
Berat.