Anda di halaman 1dari 16

TUGAS REFARAT

Cardiopulmonary Resuscitation (CPR)

NAMA : MANDEEP SINGH MUKAND SINGH
NIM : 04121401104

Dr. H Zulkifli, SpAn. M. Kes, MARS
Departemen/Bagian Anestesiologi & Terapi Intensif
RSMH/FK Unsri Palembang

PDU NON REGULER 2012
FAKULTAS KEDOKTERAN
2015
BAB 1

Setengahnya meninggal secara mendadak. BAB 2 . Setiap tahun hampir 330. . Menurut American Heart Association bahwa rantai kehidupan mempunyai hubungan erat dengan tindakan resusitasi jantung paru. Terjadi baik di luar rumah sakit maupun di dalam rumah sakit. dengan diberikan RJP segera maka akan mempunyai kesempatan yang amat besar untuk dapat hidup kembali.PENDAHULUAN Henti jantung menjadi penyebab utama kematian di beberapa Negara.000 warga Amerika meninggal karena penyakit jantung. ). karena serangan jantung (cardiac arrest). karena bagi penderita yang terkena serangan jantung.

pernafasan berhenti atau satu-satu. secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. dimaksudkan sebagai usaha-usaha untuk mencegah berlanjutnya episode henti jntung menjadi kematian biologis. 2. e. Dapat diartikan pula sebagai usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi yang kemudian memungkinkan untuk hidup normal kembali setelah fungsi pernafasan dan atau sirkulasi gagal. Henti Nafas Henti nafas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari korban atau pasien.1 Defenisi Resusitasi Jantung Paru Otak yang bias kita kenal dengan nama RJPO atau Cardiopulmonary Resuscitation adalah usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi akibat terhentinya fungsi dan atau denyut jntung. Tenggelam atau lemas Stroke Obstruksi jalan nafas Epiglotitis Overdosis obat-obatan Tesengat listrik Infark Miokard Tersambar petir B. c. f.PEMBAHASAN 2. Resusitasi sendiri berarti menghidupkan kembali. g. d. dilatasi pupil . femoralis. radialis) disertai kebiruan atau pucat sekali.2 Indikasi Resusitasi Jantung Paru Otak A. Henti nafas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup dasar. Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis. h. Henti sirkulasi ini akan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. b. Henti nafas dapat terjadi dalam keadaan seperti: a. Henti Jantung Pada saat terjadi henti jantung.

c. mengobatinya. Tanda . Bantuan hidup dasar (Basic Life Support) atau resusitasi ABC atau resusitasi kardiopulmoner berarti menjaga jalan napas tetap paten (A). dinilai. yaitu BLS ditambah dengan D (drug) dan E (EKG) - D ( drugs ) E ( EKG ) : pemberian obat-obatan termasuk cairan. Fase II : Advance Life Support (ALS). tidak teraba denyut arteri yang muncul setelah henti jantung 2. yaitu penambahan dari BLS dan ALS.B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenasi yang adekuat . hilangnya kesadaran dalam waktu 10-20 detik setelah henti jantung b.G ( gauge ) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus menerus. pupil dilatasi dalam waktu 45 detik setelah henti jantung e. .3 Fase Resusitasi Jantung Paru Otak Tujuan bantuan hidup dasar ialah untuk oksigenasi darurat secara efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal.tanda henti jantung. terlihat seperti mati. I (Intensive care). Fase III : Prolonged Life Support (PLS). dicari penyebabnya dan kemudian . Dalam fase I ini terdiri dari langkah yang di A (airway).C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru b. yang ditandai warna kulit pucat sampai kelabu d. membuat napas buatan (B) dan membuat sirkulasi buatan dengan pijatan jantung (C). B (breathing). C (circulation). G (gauge). .tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar. a. antara lain : a. henti nafas (apnea) yang muncul setelah 15-20 detik henti jantung c.A (airway ) : menjaga jalan nafas tetap terbuka . : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin untuk mengetahuis fibrilasi ventrikel. H (head). Tindakan ini dilakukan tanpa alat atau dengan alat yang sederhana dan harus dilakukan dengan cepat dalam waktu kurang dari 4 menit pada suhu normal secara baik dan terarah.

yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi. . I (Intensive Care ) : perawatan intensif di ICU. Sebelum melakukan tahapan A (airway) terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada pasien/korban. atau aktifkan bel/sistem emergency yang ada (bel emergency di rumah sakit). Bila ditemukan pasien/korban miring atau telungkup pasien/korban harus ditelentangkan dulu dengan membalikkan sebagai satu kesatuan yang utuh untuk mencegah cedera/komplikasi. Meminta pertolongan Bila diyakini pasien/korban tidak sadar atau tidak ada respon segera minta pertolongan dengan cara : berteriak ”tolong !!!!” beritahukan posisi dimana. e. dll. Memastikan keamanan lingkungan Aman bagi penolong maupun aman bagi pasien/korban itu sendiri. pernafasan dikontrol terus menerus. Mengatur posisi penolong Posisi penolong berlutut sejajar dengan bahu pasien/korban agar pada ssat memberikan batuan nafas dan bantuan sirkulasi penolong tidak perlu banyak pergerakan. Memperbaiki posisi pasien/korban Tindakan BHD yang efektif bila pasien/korban dalam posisi telentang. sehingga - dapat dicegah terjadinya neurologic yang permanen. pCO2 bila diperlukan dan tunjangan sirkulasi mengedalikan jika terjadinya kejang. yaitu: a. b. d. sonde lambung. pengukuran pH.- H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistem saraf dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung. sambil memanggil namanya atau Pak!!!/ Bu!!!!/ Mas!!!/Mbak!!!. berada pada permukaaan yang rata/keras dan kering. pergunakan alat komunikasi yang ada. Memastikan kesadaran pasien/korban Dalam memastikan pasien/korban dapat dilakukan dengan menyentuh atau menggoyangkan bahu pasien/korban dengan lembut dan mantap. c.

sniffing position. maka lidah ikut tertarik dan jalan napas terbuka. rahang didorong kedepan. Perasat dorong rahang bawah (jaw-thrust maneuver) Pada pasien dengan trauma leher. posisi hirup. lender atau benda asing lainnya. . maka dilakukan beberapa tindakan atau parasat misalnya: 1. Lidah dan epiglottis penyebab utama tersumbatnya jalan napas pada pasien tidak sadar. bersihkan dahulu sebelum memberikan napas buatan. Karena lidah melekat pada rahang bawah. A (AIRWAY) Jalan Nafas Jika diagnosis henti jantung telah ditegakkan. Satu tangan penolong mendorong dahi kebawah supaya kepala tengadah. maka resusitasi harus segera dimulai. Parasat kepala tengadah-dagu diangkat (head tilt-chin lift maneuver) Parasat ini dilakukan jika tidak ada traumapada leher. sehingga hidung menghadap keatas dan epiglottis terbuka. rahang bawah diangkat didorongkedepan pada sendinya tanpa menggerakkan kepala-leher.Gambar 1. 2. lakukan ‘manuever triple airway’ (kepala tengadah.4 Basic Life Support Pada dasarnya resusitasi jantung paru terdiri dari 2 elemen: kompresi dada dan mulut ke-mulut (mouth-to-mouth) napas buatan. tangan lain mendorong dagu dengan hati-hati tengadah. mulut dibuka) dan jika mulut ada cairan. Cek kesadaran dan Aktifkan Sistem Emergensi 2. Jika henti jantung terjadi diluar rumah sakit: letakan pasien dalam posisi terlentang. Jika tonus otot pasien hilang. posisi cium. Untuk menghindari hal ini. lidah aan menyumbat faring dan epiglottis akan menyumbat laring. Letakkan pasien pada posisi telentang pada alas keras ubin atau selipkan papan jika pasien diatas kasur.

Pembebasan Jalan Nafas teknik Head tilt chin lift (a) dan tehnik jaw thrust manuver (b) B (BREATHING) Bantuan Nafas Pasien dengan henti napas. mulut ke stoma trakeostomi atau mulut ke mulut via sungkup muka. a.(a) (b) Gambar 2. tidurkan dalam posisi terlentang. mulut ke hidung (mouth-to-nose). mulut ke hidung (mouth-to-nose). . Pemberian nafas dari mulut ke mulut b.Volume udara yang berlebihan dapat menyebabkan udara masuk ke lambung.misalnya pasien/korban mengalami trismus atau luka berat. Mulut ke mulut (mouth-to-mouth) Merupakan cara yang cepat dan efektif. Pada saat memberikan penolong tarik nafas dan mulut penolong menutup seluruhnya mulut pasien/korban dan hidung pasien/korban harus ditutup dengan telunjuk dan ibu jari penolong. Gambar 4. Direkomendasikan bila bantuan dari mulut korban tidak memungkinkan.Penolong sebaiknya menutup mulut pasien/korban pada saat memberikan bantuan nafas. mouth-to-mouth). Napas buatan tanpa alat dapat dilakukan dengan cara mulut ke mulut (the kiss of life.

Memastikan ada tidaknya denyut jantung pasien/korban Ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher pasien/korban dengan cara dua atau tiga jari penolong meraba pertengahan leher sehingga teraba trakea. Pernafasan mulut ke stoma. Bila ada nafas pertahankan airway pasien/korban.Gambar 5. kemudian digeser ke arah penolong kira-kira 1-2 cm. mulut ke stoma trakheostomi Dilakukan pada pasien/korban yang terpasang trakheostomi atau mengalami laringotomi. 2. raba dengan lembut selam 5 – 10 detik. Memberikan bantuan sirkulasi Jika dipastikan tidak ada denyut jantung berikan bantuan sirkulasi atau kompresi jantung luar dengan cara: . Pernafasan dari mulut ke hidung c. Bila teraba penolong harus memeriksa pernafasan. bila tidak ada nafas berikan bantuan nafas 12 kali/menit. C (CIRCULATION) bantuan sirkulasi Terdiri dari 2 tahap : 1.3 Gambar 6.

.Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan diatas telapak tangan yang lain. Tindakan kompresi yang benar akan menghasilkan tekanan sistolik 60 – 80 mmHg dan diastolik yang sangat rendah. .Waktu penekanan dan melepaskan kompresi harus sama ( 50% duty cycle).Dari tulang dada (sternum) diukur 2.Posisi badan penolong tegak lurus menekan dinding dada pasien/korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali dengan kedalaman penekanan 1. .Hindari jari-jari menyentuh didnding dada pasien/korban. Kompresi dada D (DEFIBRILATION) terapi listrik .Tangan tidak boleh berubah posisi. .8 – 5 cm).5 – 2 inchi ( 3. Gambar 7..Tiga jari penolong ( telunjuk.Selang waktu mulai dari menemukan pasien/korban sampai dilakukan tindakan bantuan sirkulasi tidak lebih dari 30 detik. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong.3 jari ke atas.Kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit. .Ratio bantuan sirkulasi dan bantuan nafas 30 : 2 baik oleh satu penolong maupun dua penolng. .tengan dan manis) menelusuri tulang iga pasien/korban yang dekat dengan sisi penolong sehingga bertemu tulang dada (sternum).Tekanan pada dada harus dilepaskan dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali kompresi. Dilakukan selama 4 siklus.

Pada penggunaan orang awam tersedia alat Automatic External Defibrilation (AED). Defibrilasi 2. Nyalakan AED b. hal ini mencakup: a. Penyebab utama adalah ventrikel takikardi atau ventrikel fibrilasi.Terapi dengan memberikan energi listrik Dilakukan pada pasien/korban yang penyebab henti jantung adalah gangguan irama jantung. dan kedalaman mutlak pada bayi dan anak-anak lebih dalam daripada versi sebelumnya dari AHA Guidelines for CPR and ECC c. Lanjutkan kompresi dada segera setelah syok (meminimalkan gangguan) Gambar 8. Kedalaman kompresi paling sedikit 2 inchi (5 cm) pada dewasa dan paling sedikit sepertiga dari diameter anteroposterior dada pada penderita anak-anak dan bayi (sekitar 1.5 Panduan Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 Menekankan pada RJP yang berkualitas secara terus menerus AHA Guidelines for CPR and ECC 2010 mengutamakan kebutuhan RJP yang berkualitas tinggi. Ikuti petunjuk c. Memberi kesempatan daya rekoil dada (chest recoil) yang lengkap setiap kali selesai kompresi .5 hingga 2 inchi tidak lagi digunakan pada dewasa. Kecepatan kompresi paling sedikit 100 x/menit (perubahan dari ”kurang lebih” 100 x/menit) b.5 inchi [4cm] pada bayi dan 2 inchi [5cm] pada anak-anak) Batas antara 1. Tahapan defibrilasi : a.

feel. Sebagian besar penderita yang mengalami henti jantung diluar rumah sakit tidak mendapatkan pertolongan RJP oleh orang-orang disekitarnya. Meminimalisasi gangguan pada kompresi dada e. atau sekitar 18 detik). Ventilasi yang berlebihan harus dihindari. Begitu jalan nafas telah dibebaskan. Dengan merubah urutan menjadi C-A-B kompresi dada akan dimulai sesegera mungkin dan ventilasi hanya tertunda sebentar (yaitu hingga siklus pertama dari 30 kompresi dada terpenuhi. Hanya RJP pada bayi yang merupakan perkecualian dari protokol ini. Terdapat banyak alasan untuk hal tersebut. urutan dari Airway-Breathing-Circulation berubah menjadi Compression-Airway-Breathing. terutama oleh penolong yang seorang diri. atau mengumpulkan peralatan ventilasi. Pada rangkaian A-B-C. Mengamankan jalan nafas sebagai prioritas utama merupakan sesuatu yang memakan waktu dan mungkin tidak berhasil 100%. kompresi dada dapat dilakukan secara terus menerus (dengan kecepatan paling sedikit 100 x/menit) dan tidak lagi diselingi dengan ventilasi.d. Setelah memulai emergency response system hal berikutnya yang penting yaitu untuk segera memulai kompresi dada. mencari alat pembatas (barrier devices). yang dimulai dengan prosedur yang paling sulit. AHA Guidelines for CPR and ECC 2010 meneruskan rekomendasi untuk memberikan nafas buatan sekitar 1 detik. dan bayi (tidak termasuk bayi yang baru lahir). listen. Hal ini untuk menghindari penghambatan pada pemberian kompresi dada yang cepat dan efektif. Perubahan dari A-B-C menjadi C-A-B Perubahan yang utama pada BLS. Hal ini berarti tidak ada lagi look. kompresi dada seringkali tertunda ketika penolong membuka jalan nafas untuk memberikan nafas buatan. dimana urutan yang lama tidak berubah. yaitu membuka jalan nafas dan memberikan . Pada penderita tersebut. Mayoritas besar henti jantung terjadi pada dewasa dan penyebab paling umum adalah Ventricular Fibrilation atau pulseless Ventricular Tachycardia. sehingga komponen ini dihilangkan dari panduan. namun salah satu hambatan yang dapat timbul yaitu urutan A-B-C. Nafas buatan kemudian dapat diberikan sekitar 1 kali nafas setiap 6 sampai 8 detik (sekitar 8-10 nafas per detik). Menghindari ventilasi yang berlebihan Tidak ada perubahan dalam rekomendasi untuk rasio kompresi-ventilasi yaitu sebanyak 30:2 untuk dewasa. elemen paling penting dari Basic Life Support adalah kompresi dada dan defibrilasi yang segera. anak-anak.

tapi juga pada meminimalkan gangguan pada komponen penting dari CPR tersebut. Kompresi yang inadekuat atau gangguan yang sering (atau keduanya) akan mengurangi jumlah total kompresi yang diberikan per menit. kompresi yang lebih banyak dihubungkan dengan tingginya rata-rata kelangsungan hidup. Jumlah kompresi dada yang dilakukan per menit selama RJP sangat penting untuk menentukan kembalinya sirkulasi spontan (return of spontaneous circulation [ROSC]) dan fungsi neurologis yang baik. Kedalaman kompresi Untuk dewasa kedalaman kompresi telah diubah dari jarak 1½ .nafas buatan. dan kompresi yang lebih sedikit dihubungkan dengan rata-rata kelangsungan hidup yang lebih rendah. untuk membuka jalan nafas. Memulai pertolongan dengan kompresi dada dapat mendorong lebih banyak penolong untuk memulai RJP. oksigen dan energi yang penting untuk dialirkan ke jantung dan otak. dan melakukan analisis AED [Automated Electrical Defibrilator]). memberikan nafas buatan. Rata-rata kompresi Sebaiknya dilakukan kira – kira minimal 100 kali/ menit. . Kesepakatan mengenai kompresi dada yang adekuat membutuhkan penekanan tidak hanya pada kecepatan kompresi yang adekuat. Kompresi menghasilkan aliran darah. Jumlah yang tepat untuk memberikan kompresi dada per menit ditetapkan oleh kecepatan kompresi dada dan jumlah serta lamanya gangguan dalam melakukan kompresi (misalnya. Kompresi yang efektif (menekan dengan kuat dan cepat) menghasilkan aliran darah dan oksigen dan memberikan energi pada jantung dan otak.2 inch menjadi minimal 2 inch (5 cm). Kompresi menghasilkan aliran darah terutama dengan meningkatkan tekanan intrathorakal dan secara langsung menekan jantung. Pada sebagian besar studi.

Kompresi tanpa ventilasi (Hands Only CPR) memberikan hasil yang sama jika dibandingkan kompresi dengan menggunakan ventilasi. Penekanan krikoid Penekanan krikoid adalah suatu teknik dimana dilakukan pemberian tekanan pada kartilago krikoid penderita untuk menekan trakea kearah posterior dan menekan esophagus ke vertebra servikal. namun AHA mengesahkan tehnik ini pada tahun 2008. Identifikasi pernafasan agonal oleh pengantar (Dispatcher Identification of Agonal Gasps) Penolong diajarkan untuk memulai RJP jika korban tidak bernafas atau sulit bernafas. Untuk penolong yang belum terlatih diharapkan melakukan RJP pada korban dewasa yang pingsan didepan mereka.RJP Dengan Tangan Saja (Hands Only CPR) Secara teknis terdapat perubahan dari petunjuk RJP 2005. Penekanan krikoid dapat menghambat inflasi lambung dan mengurangi resiko regurgitasi dan aspirasi selama ventilasi dengan bag-mask namun hal ini juga dapat menghambat . Hands Only CPR (hanya dengan kompresi) lebih mudah untuk dilakukan oleh penolong yang belum terlatih dan lebih mudah dituntun oleh penolong yang ahli melalui telepon. Pengecekan kecepatan pernafasan seharusnya dilakukan sebelum aktivasi emergency response system. Penyedia layanan kesehatan seharusnya diajarkan untuk memulai RJP jika korban tidak bernafas atau pernafasan yang tidak normal.

Aktivasi Emergency Response System. anak-anak dan bayi (termasuk RJP pada neonatus).ventilasi. penolong ketiga membantu ventilasi atau memakaikan bag mask untuk membantu pernafasan dan penolong ke-empat mempersiapkan dan defibrilator. Penelitian menunjukkan bahwa penekanan krikoid dapat menghambat kemajuan airway dan aspirasi dapat terjadi meskipun dengan aplikasi yang tepat. RJP harus segera dimulai dan menggunakan defibrilator elektrik jika tersedia. . Misalnya : satu penolong mengaktifkan respon sistem kegawatdaruratan sedangkan penolong kedua melakukan kompresi dada. Tim Resusitasi Dibutuhkan suatu tim agar resusitasi berjalan dengan baik dan efektif. Saat ini penggunaan rutin penekanan krikoid tidak lagi direkomendasikan. Jika penyedia pelayanan kesehatan tidak merasakan nadi selama 10 detik. namun seharusnya tidak ditunda. aktivasi segera dari sistem kegawatdaruratan dilakukan setelah korban yang tidak merespon. Menurut panduan tahun 2005. Tabel perbandingan dasar BLS pada dewasa. Aktivasi emergency response system seharusnya dilakukan setelah penilaian respon penderita dan pernafasan.

dengan kecepatan kompresi paling sedikit 100 x/menit dan kedalamannya paling sedikit 2 inchi (5cm) pada dewasa dan anak-anak. Pada CPR (cardiopulmonary rescucitation) Guidelines 2010.BAB III KESIMPULAN Resusitasi jantung paru adalah usaha yang dilakukan untuk apa-apa yang mengindikasikan terjadinya henti nafas atau henti jantung.5 inchi (4cm) pada bayi. advanced life support yang efektif. Resusitasi yang berhasil setelah terjadinya henti jantung membutuhkan gabungan dari tindakan yang terkoordinasi yang meliputi pengenalan segera henti jantung dan aktivasi emergency response system. terdapat perubahan pada tahapan BLS yang pada awalnya tahapan sebagai berikut: A-B-C (Airway-Breathing-Circulation) menjadi CA-B (Circulation-Airway-Breathing) untuk pasien dewasa dan pediatrik (anak dan bayi. . tidak termasuk bayi baru lahir). Panduan RJP yang terbaru ini juga menekankan pada pemberian RJP yang berkualitas tinggi. perawatan post-cardiac arrest yang terintegrasi. defibrilasi yang cepat. serta 1. RJP awal dengan menekankan pada kompresi dada.

American Heart Association. American Heart Association. Part 4 Adult Basic Life Supprt in Circulation Journal . Highlights of the 2010 American Heart Association Guidelines for CPR and ECC 2.DAFTAR PUSTAKA 1. 2010. 3. 2010. 2005. Part 4 Adult Basic Life Support in Circulation Journal. American Heart Association.