Anda di halaman 1dari 12

I.

LATAR BELAKANG
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang sangat berat. Penyakit ini menyerang 4

sampai 7 dari 1000 orang (Saha e al, 2005). Skizofrenia biasanya menyerang pasien dewasa
yang berusia 15-35 tahun. Diperkirakan terdapat 50 juta penderita di dunia, 50% dari
penderita tidak menerima pengobatan yang sesuai, dan 90% dari penderita yang tidak
mendapat pengobatan tepat tersebut terjadi di Negara berkembang (WHO,2011).Di
Indonesia, prevalensi gangguan jiwa berat (skizofrenia) sebesar 0,46%. Sulawesi Tengah
menempati peringkat pertama dari provinsi lain yang berada di Sulawesi dengan penderita
skizofrenia sebesar 0,53%. (RISKESDAS,2008).
Salah satu penanganan skizofrenia dengan menggunakan pengobatan

antipsikotik.

Antipsikotik merupakan terapi obat-obatan utama yang efektif mengobati skizofrenia (Irwan
dkk, 2008). Rumah Sakit Daerah Madani merupakan satu-satunya Rumah Sakit milik
pemerintah di Provinsi Sulawesi Tengah sebagai rujukan untuk pasien gangguan kejiwaan.
Berdasarkan laporan dari unit rekam medik RSD Madani menyatakan bahwa kasus pasien
skizofrenia rawat inap termasuk pasien terbanyak dan mengalami peningkatan setiap
tahunnya di rumah sakit tersebut dengan kejadian pada tahun 2010 terdapat 326 pasien
skizofrenia dari 506 pasien gangguan jiwa, tahun 2011 terdapat 347 pasien skizofrenia dari
560 pasien gangguan jiwa, tahun 2012 terdapat 365 pasien skizofrenia dari 427 pasien
gangguan jiwa dan tahun 2013 terdapat 375 pasien skizofrenia dari 662 pasien
gangguan jiwa.
Penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan anti psikotik

pada pasien skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa Rumah Sakit Daerah Madani
Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 ditinjau dari aspek tepat indikasi,
tepat obat, tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi.
II.

METODE
Dalam penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental observasional yang

dikerjakan secara prospektif dan hasil penelitian disajikan secara deskriptif. Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Pengumpulan data dilakukan
dengan 2 cara, yaitu pengumpulan data primer dengan melakukan observasi dan wawancara,
dimana peneliti terlibat secara langsung dalam mengamati keadaan pasien dan data sekunder
dari rekam medik pasien.

1

2 0 14 39 6 0 23.1 1.7 66.4 25.9 10 21 19 20 1 3 13.4 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Distribusi karakteristik pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 a.7 20.5 71. 5. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumla h Persentase pasien (%) 59 15 79.8 4.6 14.4 16.7 6.4 10 53 11 13.7 9. Usia a.BI.4 1. Karakteristik Pasien Karakteristik Pasien 1. 18-25 26-45 46-65 >65 b.7 68. Laki-Laki 3.7 27 1.4 28.9 5. Perempuan 18-25 26-45 46-65 >65 Suku/etnis Kaili Pamona Mori Tomini Bungku Dampelas Lainnya Tanpa Keterangan Status Perkawinan Kawin Tidak/Belum Kawin Duda/Janda Jenjang Pendidikan Tidak Sekolah SD SMP SMA Akademi Sarjana Pekerjaan PNS Tani/Nelayan Wiraswasta Buruh Pelajar/Mahasiswa Tidak Bekerja 2 .7 18.3 14 39 6 0 23.1 10.9 2. 6.1 10.2 0 22 7 2 5 3 1 21 12 29. 4.5 2.7 66.4 4.5 28.1 2 14 4 1 2 51 2.

Hal ini berkaitan dengan onset dari skizofrenia. Byrne et al. disebutkan bahwa para imigran baru memiliki stress lebih besar karena harus beradaptasi dengan kultur sekitarnya. sedangkan agresifitas pada perempuan penderita skizofrenia masih dapat ditangani oleh keluarga di rumah sehingga cenderung dirawat di rumah. Jenjang pendidikan pasien skizofrenia yang terbanyak pada penelitian ini yaitu pendidikan SD 28. Distribusi suku menunjukkan sukuterbanyak pasien skizofrenia adalah suku Kaili yaitu 29. (Kaplan and Sadock. 1997.1% dan 73.40% (Tabel 1). usia yang terbanyak pada pasien berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan adalah yang berusia antara 26-45 tahun yaitu 66. lingkungan atau pengaruh dari dalam diri sendiri. Hal ini disebabkan pada usia muda terdapat faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan emosional. Kelompok suku lainnya merupakan terbanyak kedua yaitu 28. 2004. sedangkan pasien perempuan hanya berjumlah 15 orang (20. Penelitian ini menunjukkan distribusi usia pasien skizofrenia berdasarkan jenis kelamin. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa skizofrenia lebih banyak dijumpai pada orang yang tidak kawin (Kaplan and Sadock. Hal ini sesuai dengan Kaplan and Sadock (2010).7%). 1997). Berdasarkan wawancara peneliti dengan perawat rawat inap pasien skizofrenia.3%). Skizofrenia pada laki-laki biasanya timbul antara usia 15-25 tahun.3%. Penyebabnya dapat karena faktor genetik. Hal ini disebabkan karena jumlah responden pada saat penelitian yang paling banyak dirawat inap adalah suku Kaili. Hasil penelitian ini menunjukkan pasien laki-laki berjumlah 59 orang (79. sehingga pasien perlu pengobatan dalam jangka waktu lama karena skizofrenia bersifat kronis sehingga kemampuannya membangun relasi dengan baik (misalnya untuk menikah) cenderung terganggu (David. Sira. usia pertama kali terkena skizofrenia antara 3 .Prognosis atau perjalanan penyakit pada laki-laki lebih buruk dibandingkan pada penderita perempuan sehingga cepat terlihat.70%. Suku lainnya merupakan suku yang berasal dari luar Sulawesi Tengah. 2005). jenis kelamin laki-laki penderita skizofrenia lebih banyak dirawat inap dibanding dengan perempuan karena laki-laki biasanya memiliki agresifitas sangat tinggi sehingga sulit ditangani jika hanya dirawat di rumah. sedangkan pada wanita antara 25-35 tahun (Irmansyah.7%. Penelitian ini menunjukkan status perkawinan pasien skizofrenia yang terbanyak adalah status tidak/belum kawin yaitu 71. 2003). Gangguan jiwa skizofrenia biasanya muncul pada masa remaja atau belum menikah. sedangkan pada usia tua lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biologik (Kaplan and Sadock. 2011). 2010).4%. Jenjang pendidikan yang terbanyak setelah itu adalah SMA 27.6%.

9 19 9 3 17. 2006). Oleh karena itu. Halusinasi merupakan gejala positif yang paling banyak ditemukan di RSD Madani yaitu 44.1 2.8%. Karakteristik klinis skizofrenia 1. Selain motivasi diri yang kurang karena adanya gejala negatif yang mendasarinya. Menurut Hawaris (2007) gejala positif skizofrenia merupakan gambaran gangguan jiwa skizofrenia yang mencolok dan amat mengganggu lingkungan atau keluarga dan merupakan salah satu motivasi keluarga untuk membawa penderita berobat.5%. pada usia tersebut pasien yang terkena skizofrenia tidak dapat mendapat pendidikan yang lebih tinggi lagi karena kesulitan untuk mengikuti pendidikan formal. serta isolasi sosial dan ekonomi. 4 . Halusinasi juga merupakan salah satu gejala psikotik yang merupakan kriteria diagnostik skizofrenia sehingga gejala ini mendominasi dari gejala lainnya.2%. Afek tumpul atau alam perasaan yang datar merupakan gambaran alam perasaan yang dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi (Hawaris. stigmatisasi dan diskriminasi pada penyandang gangguan jiwa menghalangi mereka untuk berintegrasi ke dalam masyarakat.2011).15-25 dan 25-35 tahun (Kaplan and Sadock.2 45.9 9. Afek tumpul merupakan gejala negatif yang banyak ditemukan di RSD Madani yaitu 16. Halusinasi yaitu persepsi sensorik yang salah di mana tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan dengannya dengan wujud penginderaan yang keliru (Arif. Gejala Skizofrenia Tabel 2 Distribusi gejala pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 Gejala Jumlah Gejala Positif Waham Halusinasi Inkoherensi Gejala Negatif Afek Datar Alogia Isolasi sosial Persentase (%) 18 51 11 16. karena sering mendapatkan ejekan. 2010). 2007).1 8.3%). b.7 Gejala skizofrenia yang paling banyak adalah gejala positif (72. Distribusi pekerjaan pasien yang terbanyak pada penelitian adalah tidak bekerja yaitu 62. Oleh karena itu. faktor ini membatasi hak berpendapat dan hak memperoleh pekerjaaan (Saperstein et al.

Tipe tak terinci merupakan tipe yang terbanyak kedua yaitu 27%.2 100 5 .0 100 Tipe skizofrenia terbanyak adalah tipe paranoid yaitu 40.1 0. 3. tipe ini diberikan bilamana pernah paling tidak satu kali episode skizofrenia tetapi tanpa gejala positif yang menonjol. 2007).4 26 1 3 136 19.4%). Menurut Arif (2006) ciri utama skizofrenia tipe paranoid adalah adanya keyakinan yang tidak rasional (waham) mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya fungsi kognitif dan afek yang relatif masih terjaga. Tipe yang paling sedikit adalah tipe hebefrenik (4. Berbeda dengan tipe tak terinci.1%). Tipe ini mempunyai gejala positif yang menonjol atau memenuhi kriteria skizofrenia tetapi tidak dapat digolongkan pada tipe skizofrenia yang lain. cirri utama tipe ini adalah pembicaraan kacay dapat disertai kekonyolan dan tawa yang tidak berkaitan dengan isi pembicaraan (Arif. Hal ini sejalan dengan pembahasan sebelumnya yang menyatakan bahwa gejala halusinasi paling banyak ditemukan yang merupakan salah satu ciri yang mendominasi tipe paranoid.1 27. Jenis antipsikotik yang digunakan Tabel 4 Distribusi jenis antipsikotik yang digunakan pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 Jenis Antipsikotik Tipikal Klorpromazin Trifluoperazin Haloperidol Atipikal Klozapin Olanzapin Risperidon Total Jumlah Persentase (%) 37 10 59 27.2.7 2. Hawaris.5 4.4 23.5%. tipe yang tak tak tergolongkan (YTT) gejalanya sulit untuk digolongkan pada skizofrenia tertentu dimana pada penelitian ini terdapat sebanyak 23 %. 2006. Selanjutnya tipe residual (5. Tipe-tipe skizofrenia Tabel 3 Distribusi tipe-tipe skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 Jumlah pasien 30 3 20 4 17 74 Diagnosa Skizofrenia Paranoid Skizofrenia Hebefrenik Skizofrenia Tak Terinci Skizofrenia Residual Skizofrenia YTT Total Persentase (%) 40.2 7.0 5.4 43.

Dipiro et al. Efek terhadap sistem otonom dan efek antikolinergiknya sangat minimal. sedangkan lama rawat inap yang lebih dari 28 hari sebanyak 40%. waham. rawat inap perlu bagi pasien skizofrenia jika membahayakan diri sendiri atau lingkungannya dan lama perawatan pasien skizofrenia adalah minimal 4 minggu (28 hari). sulit tidur. Hal ini sejalan dengan pembahasan sebelumnya karena antipsikotik tipikal digunakan untuk mengobati gejala positif yang merupakan gejala yang mendominasi pasien skizofrenia. apatis.7 40. menarik diri. 2003. klorpromazin juga memiliki efek samping sedatif kuat yang digunakan terhadap sindrom psikosis dengan gejala gaduh gelisah. Antipsikotik tipikal yang banyak digunakan adalah haloperidol yaitu 43. Klorpromazin merupakan antipsikotik tipikal yang paling banyak digunakan kedua yaitu 27. hiperaktif.4% Haloperidol merupakan antipsikotik yang bersifat D2 antagonis yang sangat poten. 2011). Selain memiliki efek samping hipotensi yang tinggi dari pada haloperidol.5 Lama rawat inap pasien kurang dari 28 hari sebanyak 30%. Namun terdapat pula 30% pasien yang menjani rawat inap < 28 hari karena menurut salah satu dokter spesialis jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah pasien boleh 6 . Hasil penelitian menunjukkan pasien yang menjalani rawat inap > 28 hari paling dominan hal ini dikarenakan pengobatan skizofrenia membutuhkan waktu yang lama.2%. perasaan dan perilaku. hipoaktif kehilangan minat dan inisiatif dan perasaan tumpul (Maslim. Lama Rawat Inap Tabel 5 Distribusi lama rawat inap pasien infeksi saluran kemih yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 Lama Rawat Inap Jumlah pasien < 28 hari > 28 hari 22 30 Persentase (%) 29. Sedangkan haloperidol yang efek samping sedatif lemah digunakan terhadap sindrom positif dengan gejala dominan antara lain halusinasi. Berdasarkan standar pelayanan medik RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah.Obat antipsikotik (neuroleptik) merupakan terapi utama pada pasien skizofrenia. Pada penelitian ini gejala positif mendominasi (72. kekacauan pikiran. Jenis antipsikotik yang banyak digunakan di RSD Madani periode Januari-April 2014 adalah tipikal yaitu 78% dan paling sedikit adalah jenis atipikal yaitu 22%.3%) sehingga penggunaan antipsikotik tipikal juga paling tinggi (78%). 4.

7%) masih dirawat inap. c.berobat jalan jika selama perawatan pasien sudah memenuhi kriteria pasien pulang yaitu tenang. pasien diantar kerumahnya oleh pihak rumah sakit.6 100 7 .4 9.3%) sembuh parsial dengan tetap berobat jalan dan pasien skizofrenia belum pulang 22 orang (29. Keadaan Pulang Keadaan pulang pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 adalah seluruh pasien skizofrenia pulang 52 orang (70. Namun. Pemilihan obat mengacu pada penegakkan diagnosis. jika jangka waktu yang cukup lama keluarga tidak datang. Ketepatan indikasi disesuaikan dengan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien. 5. kooperatif. Tepat obat Tabel 7 Distribusi tepat obat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 Tepat Obat Ya Tidak Total Jumlah 123 13 136 Persentase (%) 90. 2. Hal tersebut menunjukkan semua pasien 100% tepat indikasi. minum obat teratur. Rasionalitas penggunaan antipsikotik 1. perawatan diri cukup. Beberapa pasien sudah memenuhi kriteria pulang tapi masih dirawat inap karena belum adanya keluarga yang menjemput. Tepat indikasi Tabel 6 Distribusi tepat indikasi pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 Tepat Indikasi Ya Tidak Total Jumlah 74 0 74 Persentase (%) 100 0 100 Hasil penelitian menunjukan semua pasien skizofrenia mendapatkan terapi antipsikotik. makan dan minum teratur. Jika diagnosis yang ditegakkan tidak sesuai maka obat yang digunakan juga tidak akan memberikan efek yang diinginkan.

pasien yang kesekian kalinya masuk rumah sakit dengan gejala positif dan negatif tetapi hanya diberikan terapi trifluoperazin sebanyak 1 pasien.6%. Selain itu. trifluoperazin dan kombinasi haloperodol dengan klorpromazin sebanyak 3 pasien. profil khasiat dan efek samping dari obat-obat yang digunakan Hasil penelitian menunjukkan pemilihan jenis. Perbedaan antara obat antipsikotik merupakan hal yang tidak begitu penting dibanding respon pasien terhadap obat.2 100 8 . Hal ini tidak sesuai dengan algoritma pengobatan dimana firstline pada pengobatan episode pertama adalah antipsikotik generasi II.4%. Pemilihan obat antipsikotik dipengaruhi oleh tingkat sedasi yang diinginkan dan kerentanan pasien terhadap efek samping ekstrapiramidal. Kombinasi tersebut selain tidak memberikan keuntungan justru akan meningkatkan risiko efek samping yang dapat membahayakan pasien. Trifluoperazin merupakan antipsikotik generasi I yang hanya efektif terhadap gejala positif. Penggunaan kombinasi klorpromazin dengan trifluoperazin pada 4 pasien juga dianggap tidak tepat. Tepat Pasien Tabel 8 Distribusi tepat pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 Tepat Pasien Ya Tidak Total Jumlah 65 9 74 Persentase (%) 87. Namun bila respon pasien terhadap jenis antispikotik tertentu tidak baik maka perlu diganti dengan jenis antipsikotik lain hingga pasien merespon lebih baik. 3. Selain medikasi antipsikotik dari pengobatan skizofrenia. Penelitian pada 136 antipsikotik terdapat yang tidak tepat obat sebesar 9. Maksudnya adalah jenis antipsikotik yang diberikan pada pasien tergantung pada respon pasien terhadap obat tersebut.8 12. Hal ini terjadi karena pasien dengan episode pertama diberi Antipsikotik generasi I yaitu masing-masing diberi haloperidol. efek ekstrapiramidal dan efek hipotensif. Jika pasien memiliki respon yang baik dengan mengalami perbaikan gejala dengan pemberian jenis obat antipsikotik tertentu maka obat itulah yang efektif untuk pasien tersebut.Pemilihan antipsikotik sebaiknya mempertimbangkan tanda-tanda klinis dari pasien. efek sampingnya seperti efek sedatif. Pemberian obat antipsikotik dalam satu golongan umumnya memiliki efek yang sama misalnya pada potensi antipsikotiknya. Pemberian kombinasi ini dianggap polifarmasi karena keduanya merupakan golongan fenotiazin. golongan dan kombinasi antipsikotik pada pasien skizofrenia yang tepat obat sebesar 90.4% dan yang tidak tepat obat sebesar 9. intervensi psikososial dapat memperkuat perbaikan klinis seperti dukungan keluarga dan terapi spiritual.

Sehingga mempermudah dokter untuk lebih berhatihati dalam memberikan terapi antipsikotik. Tepat dosis Tabel 9 Distribusi tepat dosis pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 Tepat Dosis Ya Tidak Total Jumlah 111 25 136 Persentase (%) 81.6 18.4% dari 136 antipsikotik. penurunan fungsi liver. Tepat pasien jika penggunaan obat antipsikotik sesuai dengan kondisi fisiologi dan patofisiologi pasien atau tidak adanya kontraindikasi dengan pasien dan tidak terdapat riwayat alergi. Selain itu. 2013). 4.7% dan tidak tepat sebesar 12.2%.2% pasien tidak tepat pasien. Hasil penelitian ini diperoleh dosis yang tidak tepat diberikan pada pasien lanjut usia karena dosis awal yang diberikan sama dengan dosis untuk pasien dewasa.6% dan tidak tepat sebesar 18. dapat juga langsung diberi dosis tinggi tergantung pada keadaan pasien dan kemungkinan terjadi efek samping. Menurut Maharani (2004) dosis obat antipsikotik pada pasien skizofrenia dimulai dengan dosis yang rendah lalu perlahanlahan dinaikkan. Tepat dosis adalah dosis yang berada dalam area terapi obat antipsikotik dan kesesuaian dosis tersebut berdasarkan kondisi pasien khususnya pasien lanjut usia.4 100 Hasil penelitian didapatkan tepat dosis sebesar 81. 2004). Pemberian dosis obat antipsikotik pada pasien lanjut usia setengah dosis dewasa (BPOM RI. Hasil penelitian didapatkan 12. Menurut salah satu dokter di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah jika ditemukan riwayat dan penyakit fisik yang berat pasien di tempatkan di ruang tersendiri yang merupakan tempat rawat inap pasien skizofrenia dengan gangguan lainnya. karena 1 pasien yang mempunyai riwayat alkoholik diberikan terapi klozapin yang kontraindikasi dengan riwayat tersebut. tidak ditemukannya lagi riwayat penyakit lain pada semua pasien yang diteliti. Pada pasien yang dirawat di rumah sakit boleh diberikan dosis tinggi karena pengawasannya lebih baik (Maramis.Distribusi tepat pasien skizofrenia yang mendapat terapi antipsikotik didapatkan hasil tepat Pasien sebesar 87. 2008). 9 . Pasien usia lanjut membutuhkan dosis antipsikotik lebih rendah karena beberapa alasan antara lain penurunan klirens ginjal. penurunan P450 dan lebih sensitif untuk gejala ekstrapiramidal (Amir. penurunan cardiac output.

tepat dosis 81. Tepat frekuensi Tabel 10 Distribusi tepat frekuensi pemberian antipsikotik pasien skizofrenia yang dirawat inap jiwa di RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 TFPA Ya Tidak Total Jumlah 123 13 136 Persentase (%) 90. sehingga cukup diberikan 2 kali sehari. dan tepat frekuensi pemberian antipsikotik 90. 2013). 2011.6%. Sehingga klozapin cukup diberikan 2 kali sehari agar dapat mempertahankan kadar obat dalam plasma. Klozapin hanya tersedia dalam bentuk preparat oral.6 100 TFPA : Tepat Frekuensi Pemberian Antipsikotik Hasil penelitian didapatkan tepat frekuensi pemberian antipsikotik sebesar 90. obat dapat diberikan tidak terlalu sering. Penyederhanaan jadwal dosis akan meningkatkan kepatuhan pasien (Katzung.4%.8%. karena kriteria pengobatan rasional meliputi tepat indikasi.6% dari 136 antipsikotik. Waktu paruh eliminasi adalah 12 jam (antara 10-16 jam). Penentuan frekuensi pemberian obat dengan fungsi organ normal dapat ditentukan dengan melihat nilai waktu paruh (t12 ) obat. Penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 belum dapat dikatakan rasional. Jika dosis harian efektif pasien telah diketahui. tepat obat 90.4% dan tidak tepat sebesar 9. 10 . Amir. dapat bermanfaat bagi kebanyakan pasien selama menjalani terapi rumatan jangka panjang. Hasil rasionalitas pengobatan adalah sebagai berikut : tepat indikasi 100%. tepat dosis dan tepat frekuensi belum tepat 100%. tepat pasien 87. Antipsikotik sering diberikan dalam dosis harian yang terbagi dan titrasi hingga mencapai dosis efektif.5. Klorpromazin dapat diberikan dosis awal 30-75 mg 3 kali sehari namun untuk dosis pemeliharaan diberikan 100 mg 2 kali sehari. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia di instalasi rawat inap jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah periode Januari-April 2014 belum dikatakan rasional. Waktu paruh 31 jam (rata-rata 21-24 jam) dengan satu kali dosis (Dipiro et al. Waktu paruh haloperidol 12 jam. Dosis sekali sehari. tepat obat. 2012). Kadar puncak plasma dicapai 5 jam pemberian olanzapin.4%. tepat pasien.4 9. biasanya pada malam hari. konsentrasi plasma puncak dicapai setelah 2 jam pemberian oral.

R.. Jakarta.. Riau. Sinopsis psikiatri Edisi ke-7. Jakarta. Buku Saku Psikiatri. Mortensen.F. ______________________.M. 2003.. Kedokteran Universitas Indonesia. Matzke.. M. Binarupa Aksara. Pharmacotherapy Handbook. 2006. Jakarta. Yogyakarta. Penerbit Refika Aditama. 2005.. B. Jakarta... G. H. Katzung. J. Buku Ajar Psikiatri: Skizofrenia. Surabaya. Majalah Kesehatan Jiwa No. Jakarta..L. Hawaris. Seventh Edition. 2010.. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Anonim. Fakultas Kedokteran Riau. 2008. 2009. Jakarta. 11 . 1997.I. Talbert... M. Edisi 10.B. 2012. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia.W. Balai Penerbitan..L. Fajriansyah A. 2004. 2008. Edisi 2. 3. P. McGraw-Hill Medical.L. H.. McGraw-Hill Medical. W.G.. Schwinghammer. B. Arch Gen Psychiatry David. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. D. RSJ Madani Provinsi Sulawesi Tengah. Irwan M.. 2007. and Dipiro.C.. Dipiro.. 2011. Maharani. N. J. Parental Age and Risk of Schizophrenia.T.G. Agerbo. Palu Arif.. Wells. Sinopsis psikiatri Jilid 1. Buku Kedokteran EGC. R. Airlangga University Press. Farmakologi Dasar dan Klinik. W. BPOM RI. Ewald. Irmansyah. Skizofrenia Bisa Mengenai Siapa Saja. E. Yee.T. Standar Pelayanan Medik RSJ Madani. G. 2004. Skripsi.. 2005.J. F. Eaton. T. 2004. DAFTAR PUSTAKA Amir.. Binarupa Aksara. 799-813. Skizofrenia Memahami Dinamika Keluarga Pasien. New York. Pharmacotheraphy A Pathophysiologic Approach 8th. L.. Terjemahan. IONI: Informatorium Obat Nasional Indonesia. Kajian Penggunaan Obat Antipsikosis pada Pasien Skizofrenia di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Grhasia Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Periode Januari-Desember 2003... Dipiro. Sinuhadji B. B... M. I. and Posey. Wells.. New York.... A.R.. Sadock B. Kaplan. 2013. Bandung..V. Byrne.IV. Maramis. Jakarta. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Indrayana M. C. Penatalaksanaan Skizofrenia.. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

.D... Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2005. Naskah Publikasi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.M. D. I. Saperstein. M. Saha. PloS Med 2(5): e141. Pontianak.. 2011..int/mental_health/management/schizophrenia/en/ (diakses 8 Desember 2013). Jakarta. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. J.. A Systematic Review of the Prevalence of Schizophrenia. WHO. 2011. Laporan Nasional 2007. 2003. Welham. http://www. McGrath.who.. and Bell.. Depertemen Kesehatan Republik Indonesia.. Karakteristik Skizofrenia di Rumah Sakit Khusus Alianyang Pontianak Periode 1 Januari – 31 Desember 2009. 2011. 2008. 12 . Riset Kesehatan Dasar. A.Maslim. Edisi 3. Chant. Intrinsic motivation as a predictor of work outcome after vocational rehabilitation in schizophrenia J Nerv Ment Dis:199:672 Sira.M. Panduan Praktis Penggunaan Klinis dan Kebijakan Obat Psikotropik (Psychotropic Medication).. Fiszdon J. S.