Anda di halaman 1dari 2

PEMPROV DKI

JAKARTA
RSU KEC. SAWAH
BESAR

PERSALINAN LETAK SUNGSANG PERVAGINAM

No. Dokumen

Standar
Prosedur
Operasional

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

Revisi
00

Halaman
1 dari 2
Ditetapkan oleh
DIREKTUR

Tanggal Terbit
Drg. Suzy Freud
196512071990112001
Persalinan pada bayi dengan presentasi bokong kaki atau kaki
Persalinan pada bayi dengan presentasi bokong melalui jalan lahir
dengan tatalaksana yang tepat sehingga menghilangkan resiko
komplikasi pada ibu dan bayi.
Penetapan tentang prosedur persalinan letak sungsang pervaginam.
PROSEDUR PERTOLONGAN PERSALINAN SPONTAN
1. Tahap pertama : fase labat, yaitu mulai lahirnya bokong sampai
pusar (scapula depan). Disebut fase lambat karena fase ini tidak
berbahaya.
2. Tahap kedua : tahap cepat, yaitu mulai lahirnya pusar sampai
lahirnya mulut. Disebut fase cepat karena pada fase ini kepala
janin mulai masuk pintu atas panggul, sehingga kemungkinan tali
pusat terjepit. Oleh karena itu, fase ini harus segera diselesaikan
dan tali pusat segera dilonggarkan. Bila mulut sudah lahir, janin
dapat bernafas lewat mulut.
3. Tahap ketiga : fase lambat, yaitu mulai lahirnya mulut sampai
seluruh kepala lahir. Disebut fase lambat karena kepala akan
keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar
yang tekanannya lebih rendah, sehingga kepala harus dilahirkan
secara perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya perdarahan
intra cranial (adanya rupture tentorium serebelli)
Teknik /Pelaksanaan
1. Sebelum melakukan pimpinan persalinan penolong harus
memperhatikan sekali lagi persiapan untuk ibu, janin maupun
penolong. Pada persiapan kelahiran janin harus selalu disediakan
cunam piper.
2. Ibu tidur dalam posisi litotomi, sedang penolong berdiri di depan
vulva. Ketika timbul his, ibu diminta mengejan dengan
merangkul kedua panggul paha.
3. Pada waktu bokong mulai membuka vulva (crowning)

Agar tenaga mengejan lebih kuat. Bersamaan dengan dimulainya gerakan hiperlordosis ini. 7. sehingga mengurangi bahaya infeksi. bokong dicengkram secara Bracht. mulut dan akhirnya seluruh kepala. sehingga gerakan tersebut hanya disesuaikan dengan gaya berat badan janin. Tangan penolong tidak masuk ke dalam jalan lahir. sehingga fase cepat dapat segera diselesaikan (berakhir). perut. Menjaga agar kepala janin tetap dalam posisi fleksi. Penolong hanya mengikuti gerakan ini tanpa melakukan tarikan. 5. dagu. 2. sehingga tidak semua persalinan letak sungsang dapat dipimpin dengan cara Bracht. Dengan gerakan hiperlordosis ini berturut – turut lahir pusar. sedangkan jari-jari lain memegang panggul. adanya lengan menjungkit atau menunjuk. c. Pada setiap his. Kamar bersalin 2. Pada waktu tali pusar lahir dan tampak sangat teregang. 1. Menghindari terjadinya ruang kosong antara fundus uterus dan kepala janin. Kerugian 1. Persalinan secara Bracht mengalami kegagalan terutama dalam keadaan panggul sempit. sehingga mengurangi trauma pada janin. yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu. sesuai dengan sumbu panggul. 4. bahu dan lengan. janin besar. b. Keuntungan 1. 8. seorang asisten melakukan ekspresi Kristeller pada fundus uterus. tali pusat dikendurkan lebih dahulu. sehingga tidak terjadi lengan menjungkit. Segera setelah bayi lahir. Kemudian penolong melakukan hiperlordosis pada badan janin guna mengikuti gerakan rotasi anterior. Seorang asisten segera menghisap lendir dan bersamaan itu penolong memotong tali pusat. ibu diminta mengejan.Unit terkait disuntikkan 2-5 unit oksitosin intra muskulus. 6. Pemberian oksitosin ini ialah untuk merangsang kontraksi rahim sehingga fase cepat dapat diselesaikan dalam dua his berikutnya. jalan lahir kaku misalnya pada primigravida. Janin yang baru lahir diletakkan di perut ibu. Perinatologi . 5 – 10% persalinan secara Bracht mengalami kegagalan. Maksud ekspresi Kristeller ini adalah : a. 2. yaitu kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panjang paha. Episiotomi dikerjakan pada saat bokong membuka vulva. Cara ini adalah cara yang paling mendekati persalinan fisiologi.