Anda di halaman 1dari 9
Ashifa Maulidya S 04011381419194 ANATOMI DAN FISIOLOGI GIJAL ANAK Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terletak di kedua sisi columna vertebralis setinggi vertebra torakal 12 – vertebra lumbal 3. Pada umumnya, ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri karena adanya hati. Ginjal terletak di spatium retroperitoneal, yaitudi abdomen atas, di belakang peritoneum, di depan 2 iga terakhir dan 3 otot besar, yaitutransversus abdominis, quadrates lumborum dan psoas mayor. Di sebelah kranial ginjal terdapat kelenjar adrenal yang berwarna kuning. Kelenjar adrenal bersama ginjal dan jaringan lemak perirenal dibungkus oleh fascia gerota, fascia ini berfungsi sebagai barrier yang menghambat meluasnya perdarahan dari parenkim ginjal serta ekstravasasi urine pada saat terjadi trauma ginjal, serta menghambat penjalaran infeksi atau metastasis tumor. Diluar fasa gerota terdapat jaringan lemak peritoneal/pararenal. Struktur Ginjal dilapisi oleh sebuah kapsula fibrosa tipis dan diluar kapsul ini terdapat jaringan lemak perirenal . Hilus merupakan tempat masuk atau keluarnya arteri, vena renalis,pembuluh limfatik, saraf dan ureter. Ujung atas ureter yang disebut pelvis renalis, terbagi menjadi dua atau tiga calix major. Cabang yang lebih kecil, yaitu calix minor, muncul dari setiap calix mayor. Area yang mengelilingi calix, disebut sinus renalis, biasanya mengandung sejumlah jaringan adiposa. Ginjal memiliki korteks di luar dan medula di dalam. Pada manusia, medula ginjal terdiriatas 8-15 struktur berbentuk kerucut yang disebut piramida ginjal, yang dipisahkan oleh penjuluran korteks yang disebut columna renalis. Piramida ini merupakan bukaan saluranpengumpul (tubulus collectivus) yang membawa filtrate dari nefron korteks menuju pelvis. Setiap piramida medula plus jaringan korteks di dasarnya dan di sepanjang sisinya membentuksuatu lobus ginjal. Jadi didalam korteks terdapat banyak nefron sedangkan pada medula banyak terdapat duktuli.Setiap ginjal terdiri atas 1-1,4 juta unit fungsional yang disebut nefron. Sebuah nefronterdiri dari sebuah komponen penyaring yang disebut korpuskula (atau badan Malphigi) yangdilanjutkan oleh saluran-saluran (tubulus), yaitu tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle,dan tubulus kontortus distal, yang kemudian  filtrat diteruskan ke tubulus collectivus. Korpuskel Ginjal (Badan Malphigi) - Terdiri atas glomerulus (gulungan kapiler) dikelilingi kapsula Bowman. Glomerulus ditutupi lapisan visceral, kapsula bowman ditutup lapisan parietal. Di antaranya terdapat ruang kapsul untuk tempat filtrat. Kutub vaskular (arteriol aferen masuk dan arteriol eferen keluar) dan kutub urinarius, tempat mulai tubulus kontortus proximal. Lapisan parietal terdiri atas selapis epitel pipih, lamina basalis, dan serat retikulin. Lapisan visceral, sel epitel menjadi sel podosit dgn tonjolan-tonjolan (processus) primer dan sekunder (pedikel). Pedikel selang-seling ini merupakansalah satu 'sawar' penyaringan di glomerulus. Selain pedikel tersebut, sawar glomerulus dibentuk oleh fenestrase sel endotel kapiler dan membran basal glomerular yang memiliki anyaman kolagen tipe IV yang berikatan silang pada matriks proteoglikan yang bermuatan negatif. Kapiler glomerulus memiliki sel mesangial (dinding) yang berfungsi sebagai makrofag.  Tubulus Kontortus Proximal - Merupakan sambungan dari kutub urinarius, epitel menjadi silindris atau kuboid selapis.dan mikrovili membentuk brush border. Vesikel pinositik dengan  lisosom. Bagian Tipis dan Tebal Ansa Henle - Kedua bagian ansa henle terdiri atas selapis epitel kuboid di dekat korteks, tetapi berupa epitel skuamosa di dalam medula. Bagian tipis desendens sangat permeabel terhadap air, sehingga air disini direabsoprsi dengan cepat dari tubulus karena interstisium medula yang hiperosmotik. Sebaliknya, di bagian tipis dan tebal asendens, permeabilitas air hampir nol namun terjadi reabsorpsi sejumlah besar natrium,  klorida, dan kalium. Tubulus Kontortus Distal - Merupakan bagian terakhir nefron. Epitel selapis kuboid dengan  sel lebih kecil dan banyak, lumen lebih besar, lebih banyak mitokondria, tanpa mikrovili. Tubulus Kolektivus - Urin mengalir dari tubulus distal ke tubulus koligen, yang kemudian bergabung membentuk Duktus Papilaris Bellini. Tubulus koligens dilapisi epitel  kuboid,sel tampak pucat. Juxtaglomerulus apparatus Sel sel otot terspesialisasi yang terdapat pada dinding pembuluh daraf arteri afferen dan macula densa pada tubulus distal membentuk suatu struktur yaitu juxtaglomerulus apparatus. Struktur ini terdiri dari 3 jenis sel (1) sel granular pada dinding arteri afferen, (2) sel macula densa, dan (3) sel mesengial ekstraglomerular. Fungsi dari struktur ini adalah untuk meregulasi tekanan darah dan retensi natrium dan air. Saraf simpatis secara langsung menstimulasi sel granular untuk mensekresi renin, renin mengubah angiotensinogen di hepar menjadi angiotensin I, ACE yang berasal dari kapiler paru mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II, yang menyebabkan stimulasi aldosterone pada cortex adrenal. Aldosterone mempromosikan penyerapan natrium bersama H2O di tubulus proximal, meningkatkan volume dan tekanan darah. Tekanan darah rendah akan merangsang sel granular mensekresi renin via stimulasi ceta1 adrenergic rseptor. Kadar natrium yang rendah akan menstimulasi sel makula lalu mengirim sinyal ke sel granular untuk mensekresi renin dan meretensi natrium. Sekitar 1 juta nefron yang terdapat pada setiap ginjal. Pada manusia, pembentukan nefron seutuhnya terjadi setelah lahir. Akan tetapi secara fungsional pematangan dari perkembangan dan pemanjangan tubular tetap berlanjut sampai sekitar 1 dekade pertama kehidupan bayi. Pengurangn jumlah nefron secara progressif dapat menyebabkan insufisiensi ginjal yang akan menjadi hipertensi , hiperfiltrasi dan prematur sklerosis karena unit nefron yang kerja berlebih. Darah yang membawa sisa-sisa hasil metabolisme tubuh difiltrasi didalam glomeruli keudian di tubuli ginjal, beberapa zat yang masih diperlukan mengalami reabsorpsi dan zat-zat hasil sisa metabolisme mengalami sekresi bersama air membentuk urine. Setiap hari tidak kurang 180 liter cairan tubuh difiltrasi di glomerulus dan menghasilkan urine 1-2 liter. Urine yang terbentuk didalam nefron disalurkan melalui piramida ke sistem pelvikalises ginjal untuk kemudian disalurkan kedalam ureter. Sistem pelvikalises ginjal terdiri atas kaliks minor, infundibulum, kaliks major, dan pelvis renalis. Mukosa sisten pelvikalises terdiri atas epitel transisional dan dindingnya terdiri dari otot polos yang mampu berkontraksi untuk mengalirkan urine sampai ke ureter. Vaskularisasi ginjal mendapatkan aliran darah dari a. Renalis yang merupakan cabang langsung dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena dialirkan melalui v. Renalis bermuara ke VCI. Sistem arteri ginjal adalah ‘end arteries’ yaitu arteri yang tidak mempunyai anastomosis dengan cabang arteri lain. Sehingga jika terdapat kerusakan pada salah satu cabang arteri ini, akan timbul iskemi dan necrosis pada daerah yang diperdarahi. Fungsi Selain membuang sisa-sisa metabolisme tubuh melalui urine, ginjal berfungsi dalam (1) mengatur sekresi hormon aldosterone dan ADH dalam mengatur jumlah cairan tubuh, (2) mengatur metabolisme ion calsium dan vit D, (3) menghasilkan beberapa hormon ; eritropoetin , renin (BP), dan prostalglandin. Daftar pustaka Guyton, Arthur C dan John E. Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. Robbins, Cotran.(2010). Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease, 8th edition. Saunders, Elsevier Snell .S, Richard. (2006). Anatomi Klinik Snell Edisi 6. Jakarta : Penerbit buku kedokteran ECG ANALISIS MASALAH 1. Kalimat 2-5 (c) Apa diagnosis banding yang dapat disingkirkan dari frekuensi dan volume kencing normal dengan makan minum seperti biasa? Jawab : Frekuensi dan volume BAK yang normal menandakan bahwa pada 2 hari yang lalu laju filtrasi glomerulus masih baik sehingga masih menghasilkan jumlah urin yang adekuat, akan tetapi di hari berikutnya BAK sudah berkurang karena lesi pada glomerulus bertambah parah mempengaruhi proses filtrasi sehingga urine yang dihasilkan tidak adekuat lagi. Makan dan minum seperti biasa menandakan nafsu makan yang masih baik. Penurunan nafsu makan dapat terjadi pada pasien yang merasakan keluhan gastrointestinal seperti mual dan muntah. Mual dan muntah pada pasien dengan kelainan ginjal berhubungan dengan PNA (infeksi) atau adanya kemungkinan gagal ginjal (uremia) 2. Pemeriksaan fisik (b) Bagaimana mekanisme abnormalitas dari hasil pemeriksaan fisik ? Jawab :  Tampak sakit sedang Anak terlihat sakit sedang karena tanda dan gejala yang timbul dari glomerulonefritis akut yaitu sakit kepala (hipertensi ensefalopati) dan palpebra edema  Hipertensi Penyakit renovaskular pada kasus ini disebabkan karena mekanisme hipervolemia. : Pembentukan kompleks antigen-antibodi yang tertimbun di membran basalis glomerulus , proses aktivasi plasminogen menjadi plasmin oleh strptokinase yang menyebabkan kaskade sistem komplemen, dan proses autoimmun antigen mimicry molecule pada glomerulus  proses inflamasi glomerulus  proliferasi endotel dan sel mesangial, infiltrasi PMNs penurunan fungsi glomerulus  penurunan laju filtrasi glomerulus  penurunan ekskresi Na dan air (retensi)  hipervolemi  ekspansi volume intravaskular  hipertensi  Palpebra edema Peningkatan volume intravaskuler  peningkatan tekanan hidrostatik transudasi cairan ke jaringan interstisial  palpebra edema  Shifting dullness positif (asites) Peningkatan volume intravaskuler  peningkatan tekanan hidrostatik transudasi cairan ke jaringan interstisial asites  Pitting edema pre tibial dan dorsum pedis Peningkatan volume intravaskuler  peningkatan tekanan hidrostatik transudasi cairan ke jaringan interstisial  pitting edema pretibial dan dorsum pedis 3. Pemlab (g) Apa indikasi pemeriksaan komplemen C3 ? Jawab : Test komplemen C3 merupakan test yang dilakukan dengan tujuan untuk mengukur aktivitas dari protein yang merupakan bagian dari sistem komplemen (C3). Sistem komplemen merupakan grup protein yang bersirkulasi bebas dalam pembuluh darah dan bekerja dengan sistem imun tubuh dalam menginduksi proses inflamasi. C3 dan C4 adalah komponen komplemen yang paling sering diukur. Tes komplemen dapat dilakukan untuk memonitoring pasien dengan penyakit autoimun untuk melihat apakah pengobatan yang diberikan berhasil. Pada saat sistem komplemen bekerja selama proses inflamasi, level protein komplemen dalam darah menjadi menurun, misal pada pasie SLE, selain itu test komplemen juga dilakukan untuk penyakit sebagai berikut : - Infeksi jamur - Septikemia bakteri gram negatif - Infeksi parasit seperti malaria - Shock - Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria - Kanker - Colitis ulcerative - Glomerulonephritis - Lupus nephritis, dsb 4. Hipotesis (f,g)  Patogenesis ? Jawab : GNAPS berawal apabila host rentan yang terpapar kuman Streptokokus group A strain nefritogenik bereaksi untuk membentuk antibodi terhadap antigen yang menyerang. Reaksi imunologik yang terjadi yaitu kompleks antigen-antibodi yang terjadi di dalam sirkulasi ataupun in situ dalam glomerulus. Proses inflamasi yang menyebabkan injuri renal dipicu oleh : - Aktivasi plasminogen menjadi plasmin oleh streptokinase yang kemudian diikuti oleh aktivasi kaskade komplemen  proses inflamasi - Deposisi kompleks Ag-Ab yang telah terbentuk sebelumnya ke dalam glomerulus - Ab streptokokus yang terbentuk sebelumnya berikatan dengan mimicry molecule dari protein renal yang menyerupai Ag streptokokus (jaringan glomerulus yang normal bersifat autoantigen bereaksi dengan circulating Ab yang sebelumnya terbentuk untuk melawan Ag streptokokus) Keadaan tersebut menyebabkan injuri renal yang ditandai dengan proliferasi sel endotel dan sel mesangial serta infiltrasi leukosit menyebabkan penurunan fungsi glomerulus  Kompetensi dokter umum ? Jawab : Kompetensi III  mendiagnosis, melakukan penatalaksaan awal dan merujuk