Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

MATA KULIAH SISTEM INFORMASI KESEHATAN
ANALISIS TERHADAP KASUS RAWAN PANGAN DENGAN STATUS GIZI
KURANG DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN,
NUSA TENGGARA TIMUR

OLEH:
IMANUEL KABBY
NIM.1407010060

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016

Kupang. meskipun dalam penyusunannya penulis menemui banyak kesulitan dan masalah namun penulis dapat menyelesaikannya. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui dampak buruk dari kondisi rawan pangan terhadap status gizi di Kabupaten TTS. Maret 2016 Penulis 1 .KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa karena atas kasih dan penyertaan-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. namun penulis telah memaparkan secara sederhana dengan baik. Makalah ini masih kurang lengkap dalam isi dan materinya dikarenakan kami masih belum terlalu memahami secara detail.

................................................................................................................................................................................. Dampak Kondisi Rawan Pangan........................ Latar Belakang ........................................................... 2......................................... Penilaian Status Gizi ................ 1 1....... Penyajian dan Analisis Data ..... ii BAB I PENDAHULUAN 1....................................................................................5..............................................................................................................2...................3................................................................ 11 DAFTAR PUSTAKA 2 ................................ Pengertian Status Gizi............................................................ Pengertian Kondisi Rawan Pangan ............................1....................................2.............. 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2........ 2..........................................................................................4....................................... Saran .................................................. 1 1.......1..1..... Rumusan Masalah .. 9 BAB IV PENUTUP 4....... Tujuan ................................. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi.............................1............................................................ 2............................................... 10 4......................... Interpretasi Data .......................................................... 3 3 5 6 6 BAB III PEMBAHASAN 3.......................................... 2...................2............................ i DAFTAR ISI ................................3.......................................................................... Simpulan ..............................................2......................................................... 8 3......DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .........................

Gizi kurang secara langsung menjadi penyebab 300. terjadi penurunan pada tahun 2010 dibandingkan tahun 2007 yakni sebesar 9. angka gizi kurang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2010 mencapai 29. untuk angka underweight mencapai 47.2%. 1.4% pada 2007 menjadi 9% pada tahun 2010 (terjadi penurunan sebesar 0.2.4%). Angka stunting untuk daerah Timor Barat meliputi 61. 1.2 Empat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tahun 2007 melakukan survey untuk menilai keadaan status gizi anak di Timor Barat yang meliputi daerah Kabupaten Kupang.8% di Timor Barat dan untuk daerah TTS sendiri mencapai 50.1% dan di daerah TTS sendiri mencapai 11.2%. prevalensi gizi buruk di Indonesia mencapai angka 5. Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).BAB I PENDAHULUAN 1. dan Belu. Berdasarkan data Riskesdas 2007. Dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008. Provinsi NTT merupakan provinsi dengan masalah kesehatan ibu dan anak yang cukup berat. Beberapa provinsi masih menyumbangkan angka gizi kurang tertinggi di Indonesia. provinsi dengan angka gizi kurang tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).4%.000 kematian per tahun pada balita di negara berkembang dan berkontribusi secara tidak langsung pada lebih dari setengah kematian anak di seluruh dunia. gizi kurang 13% dan 18. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak luput dari masalah ini.4%.1% dan untuk daerah TTS Sendiri mencapai 67. Latar Belakang Kondisi pangan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi balita.1%.1.4 % berdasarkan indikator berat badan per umur (BB/U). Untuk angka gizi buruk. Keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dapat dijelaskan bahwa gizi baik adalah gizi seimbang. Rumusan Masalah 1) Apa dampak dari kondisi rawan pangan? 2) Bagaimana pengaruh kondisi rawan pangan terhadap status gizi masyarakat. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan Riskesdas tahun 2007 yang menunjukkan angka 24. Timor Tengah Utara (TTU).4% untuk gizi kurang dan gizi buruk. Sedangkan. Tujuan 1 . Timor Tengah Selatan (TTS). Gizi kurang dan gizi buruk pada balita merupakan masalah kesehatan yang masih menjadi beban di dunia terutama di negara berkembang. Angka wasting pada anak Balita di daerah Timor Barat mencapai 13.3. Sulawesi Tengah dan Nangroe Aceh Darussalam. sehingga peningkatan kondisi pangan sebagai akselerasi pencegahan dan intervensi gizi buruk.

Adapun tujuan dalam Mengetahui dampak buruk dari kondisi rawan pangan terhadap status gizi di Kabupaten TTS. 2 . .

Hal ini dapat terjadi karena jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari anjuran kebutuhan individu (Wardlaw. gizi normal. 2. Status gizi normal merupakan suatu ukuran status gizi dimana terdapat keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan individu. Metode antropometri sangat berguna untuk melihat ketidakseimbangan energi dan protein. Pada umumnya antropometri mengukur dimensi dan komposisi tubuh seseorang (Supariasa. dan gizi lebih (Almatsier. Energi yang masuk ke dalam tubuh dapat berasal dari karbohidrat. Status gizi merupakan suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Keseimbangan tersebut dapat dilihat dari variabel-variabel pertumbuhan.1. 2007). Status gizi dibagi menjadi tiga kategori. Pengertian Status Gizi Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh keseimbangan asupan zat gizi dengan kebutuhan. Akan tetapi. yaitu berat badan. 2005). antropometri tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi zat-zat gizi yang spesifik (Gibson. lingkar kepala. 2005). yaitu : 1. Penilaian Status Gizi Penilaian status gizi merupakan penjelasan yang berasal dari data yang diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk menemukan suatu populasi atau individu yang memiliki risiko status gizi kurang maupun gizi lebih (Hartriyanti dan Triyanti. 1986). yaitu status gizi kurang. . Status gizi kurang atau yang lebih sering disebut undernutrition merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari energi yang dikeluarkan. lingkar lengan dan panjang tungkai. Status gizi normal merupakan keadaan yang sangat diinginkan oleh semua orang (Apriadji.2. lemak dan zat gizi lainnya (Nix. 2001). Penilaian Langsung a. protein.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Status gizi lebih (overnutrition) merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh lebih besar dari jumlah energi yang dikeluarkan (Nix. tinggi badan/panjang badan. 2007). 2005). Penilaian status gizi terdiri dari dua jenis. Antropometri Antropometri merupakan salah satu cara penilaian status gizi yang berhubungan dengan ukuran tubuh yang disesuaikan dengan umur dan tingkat gizi seseorang. 2001).

Penilaian berdasarkan faktor ekologi digunakan untuk mengetahui penyebab kejadian gizi salah (malnutrition) di suatu masyarakat yang nantinya akan sangat berguna untuk melakukan intervensi gizi (Supariasa. e. kulit. dimana dilakukan pemeriksaan dalam suatu bahan biopsi sehingga dapat diketahui kadar zat gizi atau adanya simpanan di jaringan yang paling sensitif terhadap deplesi. 2007). Pemeriksaan biokimia pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya defisiensi zat gizi pada kasus yang lebih parah lagi. 2007). 2002) . dan angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan kekurangan gizi (Hartriyanti dan Triyanti. mukosa mulut. statistik pelayanan kesehatan. Penilaian Tidak Langsung a Survei Konsumsi Makanan Survei konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh individu maupun keluarga. 2004). rambut. seperti kejadian buta senja (Supariasa. Klinis Pemeriksaan klinis merupakan cara penilaian status gizi berdasarkan perubahan yang terjadi yang berhubungan erat dengan kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi. f. faktor fisik. dan lingkungan budaya. Biofisik Pemeriksaan biofisik merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat kemampuan fungsi jaringan dan melihat perubahan struktur jaringan yang dapat digunakan dalam keadaan tertentu.b. Faktor Ekologi Penilaian status gizi dengan menggunakan faktor ekologi karena masalah gizi dapat terjadi karena interaksi beberapa faktor ekologi. seperti faktor biologis. Statistik Vital Statistik vital merupakan salah satu metode penilaian status gizi melalui data-data mengenai statistik kesehatan yang berhubungan dengan gizi. seperti angka kematian menurut umur tertentu. sedangkan data kualitatif dapat diketahui frekuensi makan dan cara seseorang maupun keluarga dalam memperoleh pangan sesuai dengan kebutuhan gizi (Baliwati. Biokimia Pemeriksaan biokimia disebut juga cara laboratorium. Pemeriksaan klinis dapat dilihat pada jaringan epitel yang terdapat di mata. uji ini disebut uji biokimia statis (Baliwati. angka penyebab kesakitan dan kematian. 2. 2002). dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh (kelenjar tiroid) (Hartriyanti dan Triyanti. d. 2004). Data yang didapat dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. c. Data kuantitatif dapat mengetahui jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi.

Apabila anak menderita infeksi saluran pencernaan. dkk. 2000). kurang nafsu makan. Faktor Langsung 1) Konsumsi Makanan Faktor makanan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh langsung terhadap keadaan gizi seseorang karena konsumsi makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh. Kemiskinan sebagai penyebab gizi kurang menduduki posisi pertama pada kondisi yang umum. Golongan miskin menggunakan bagian terbesar dari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan makanan. tetapi juga karena penyakit.dan pertumbuhan akan terganggu (Supariasa.2. Dalam keadaan demikian mudah diserang infeksi. 2002). 1996). Pengetahuan ibu yang ada kaitannya dengan kesehatan dan gizi erat hubungannya dengan pendidikan ibu. 2.3. Seseorang kekurangan zat gizi akan mudah terserang penyakit.1996). Hal ini harus mendapat perhatian serius karena keadaan ekonomi ini relatif mudah diukur dan berpengaruh besar terhadap konsumen pangan. Infeksi Timbulnya KEP tidak hanya karena makanan yang kurang. dimana untuk keluarga di negara 2) berkembang sekitar dua pertiganya (Suhardjo. daya tahan tubuh dapat melemah. Semakin tinggi pendidikan akan semakin tinggi pula pengetahuan akan kesehatan dan gizi keluarganya. Faktor tidak langsung 1) Tingkat Pendapatan Pendapatan keluarga merupakan penghasilan dalam jumlah uang yang akan dibelanjakan oleh keluarga dalam bentuk makanan. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi a.dan infeksi saluran pencernaan. baik kualitas maupun kuantitas dapat menimbulkan masalah gizi 2) (Khumaidi. kecacingan. Hal ini akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas zat gizi yang 3) dikonsumsi oleh anggota keluarga ( Soekirman. akhirnya dapat menderita KEP. 2000) b. Sebaliknya anak yang makannya tidak cukup baik. . Pengertian Kondisi Rawan Pangan Rawan pangan adalah kondisi yang di dalamnya tidak hanya mengandung unsur yang berhubungan dengan state of poverty saja seperti masalah kelangkaan sumber daya alam.4. Sanitasi Lingkungan Keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik memungkinkan terjadinya berbagai jenis penyakit antara lain diare. Pengetahuan Gizi Pengetahuan gizi ibu merupakan proses untuk merubah sikap dan perilaku masyarakat untuk mewujudkan kehidupan yang sehat jasmani dan rohani. penyerapan zat-zat gizi akan terganggu yang menyebabkan terjadinya kekurangan zat gizi. Anak mendapatkan makanan cukup baik tetapi sering diserang diare atau demam. dan akhirnya mudah terserang KEP (Soekirman.

Pada skala mikro dampaknya terhadap semua kelompok umur yaitu para orang tua. otak janin dan pertumbuhan terhambat. interaksi sosial kurang. (b) kemampuan individu/rumah tangga untuk mendapatkan pangan. pada kondisi rawan pangan yang akut atau kronis dapat muncul secara simultan dan bersifat relatif permanen. orang dewasa. miskin motivasi. Kesakitan meningkat. (Sumarmi. Berbagai dampak yang ditimbulkan sebagai berikut. bayi dan para wanita termasuk juga wanita hamil. perampokan dan lain sebagainya.kekurangan modal. meningkatnya angka kematian. perkembangan 4. Malnutrisi pada orang tua disebabkan kekurangan makanan dan penurunan kesehatan. rendah Penurunan derajat kesehatan dan kemampuan fisik usia produktif. Ada tiga hal penting yang mempengaruhi tingkat rawan pangan. 2010). kesegaran fisik 3. terganggunya perkembangan mental dan meningkatnya resiko terkena penyakit kronis setelah dewasa. kriminalitas meningkat Malnutrisi pada wanita hamil dan meningkatnya angka kematian ibu. penyapihan 5. Namun juga mengandung unsur yang bersifat dinamis yang berkaitan dengan proses bagaimana pangan yang diperlukan didistribusikan dan dapat diperoleh setiap individu/rumah tangga melalui proses pertukaran guna memenuhi kebutuhan pangan mereka (Sumarmi. Penurunan berat badan bayi. yaitu: (a) kemampuan penyediaan pangan kepada individu/rumah. Sedang pada kasus rawan pangan yang musiman dan sementara. 2010). dan (c) proses distribusi dan pertukaran pangan yang tersedia dengan sumber daya yang dimiliki oleh individu/rumah tangga. dan sifat malas yang menyebabkan ketidakmampuan mereka mencukupi konsumsi pangan. Sedangkan dampak yang terjadi pada skala makro. anak-anak. 2. 1. Kerawanan pangan terjadi manakala rumah tangga. Ketiga hal tersebut. pertumbuhan & daya tangkap menurun. daya beli masyarakat menurun tajam yang kemudian dapat menjadi penyebab tingginya tingkat kriminalitas seperti pencurian. faktor yang berpengaruh kemungkinan hanya salah satu atau dua faktor saja dan sifatnya tidak permanen. berat bayi ahir rendah Penurunan derajad kesehatan pada anak-anak. absensi meningkat. Akibat yang lebih membahayakan lagi adalah. menyebabkan kesempatan bekerja & pendapatan menurun dan umur harapan hidup 2. dengan ditandai sulitnya mata pencaharian. masyarakat atau daerah tertentu mengalami ketidakcukupan pangan untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan para individu anggotanya. keterbelakangan mental. yang tidak cukup waktu sehingga mudah terkena infeksi serta kekurangan makanan. prestasi oleh raga jelek. Dampak Kondisi Rawan Pangan Dampak dari kerawanan pangan dan kekurangan gizi dapat terjadi pada skala makro dan skala mikro.5. dimana setiap . adalah timbulnya permasalahan pada kehidupan masyarakat. menurun.

wordpress.individu berupaya untuk memperoleh kebutuhan hidup tanpa memperhatikan kepentingan orang lain.i i Diakses dari: peni1981.com/2009/03/31/rawanpangan/ (8 Maret 2015) . sehingga dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat.

9 1.4 2.7 1.838 25.BAB III PEMBAHASAN 3.970 17. 06. 09.7 0.619 19. 08.347 434. 19.637 20.197 21. 14. 18.405 Proporsi BGM terhadap Jumlah Bayi yang ditimbang (%) 1.1.1 Status Gizi Balita Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. 13. 10. 05.9 .663 30.197 15.680 22.3 2. 15.616 11. Penyajian dan Analisis Data Tabel 3.5 2.190 28.8 0.7 3. 21.6 0.818 7. 11. 12.320 750 397 424 256 492 688 141 228 218 489 211 97 753 218 546 112 498 473 8.247 20.1 1. 04.5 2.370 24.8 2.513 12.114 39.363 13.206 25.635 8.260 11. 02.2 2.4 1.6 1. 2014 Kabupaten/Kota 01.3 2. 17.3 2.479 Keterangan: BGM (Berat Badan di Bawah Garis Merah) merupakan salah satu indikator gizi seorang balita Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 189 347 878 2.439 30. 07. 20.4 3.4 2.9 3.1. 16.560 16. 03. 71. Sumba Barat Sumba Timur Kupang Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Belu Alor Lembata Flores Timur Sikka Ende Ngada Manggarai Rote Ndao Manggarai Barat Sumba Tengah Sumba Barat Daya Nagekeo Manggarai Timur SabuRaijua Malaka Kota Kupang Jumlah Jumlah Bayi yang Ditimbang BGM 11.9 5.7 1.

i i Badan Pusat Statistik Provinsi NTT.Proporsi BGM terhadap Jumlah Bayi yang ditimbang (%) Kota Kupang Malaka Sabu Raijua Manggarai Timur Nagekeo Sumba Barat Daya Sumba Tengah Manggarai Barat Rote Ndao Manggarai Ngada Ende Sikka Flores Timur Lembata Alor Belu Timor Tengah Utara Timor Tengah Selatan Kupang Sumba Timur Sumba Barat 0 1 2 3 4 5 6 Pada data yang ditampilkan di atas. ditemukan bahwa persentase jumlah bayi yang memiliki berat badan dibawah garis merah (BGM) yang merupakan indikator status gizi.9% yang merupakan angka tertinggi di Provinsi NTT. (2015) 7 . terhadap jumlah bayi yang ditimbang pada Kabupaten Timor Tengah Selatan mencapai 5.

3. Interpretasi Data Dari informasi yang ditemukan. Kasus kelaparan yang terjadi di TTS dimana warga memakan putak sebagai kasus yang sebenarnya sudah terjadi setiap tahunnya. Salah satunya adalah status gizi masyarakat menjadi gizi kurang bahkan gizi buruk. apabila kebutuhan pangan tidak dapat terpenuhi maka terjadi kelaparan. sehingga dapat menimbulkan menurunnya derajat kesehatan.id (2015) . Sebanyak 2.2.206 hektar dan lahan sawah seluas 201 hektar yang terkena dampak kekeringan tersebut. sehingga berdampak terhadap peningkatan kasus kelaparan dan gangguan gizi.i Kekeringan tersebut memberikan dampak buruk terhadap daya konsumsi masyarakat di TTS. terdapat fakta bahwa Kabupaten TTS merupakan salah satu daerah dengan kondisi rawan pangan.938 kepala keluarga (KK) yang tersebar di lima desa. i nttprov.go. Luas lahan kering mencapai 1. Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) juga mengalami dampak kekeringan. Kecamatan Kualin dan Kolbano.

orang dewasa. terganggunya perkembangan mental dan meningkatnya resiko terkena penyakit kronis setelah dewasa. . keterbelakangan mental. kesegaran fisik menurun.BAB IV PENUTUP 4.1.2. 1. Pada skala mikro dampaknya terhadap semua kelompok umur yaitu para orang tua. Kondisi rawan pangan disertai kekeringan di Kabupaten TTS menjadi penyebab dari menurunnya derajat kesehatan masyarakat dengan status gizi masyarakat. jelek. Perlu adanya pengidentifikasian lebih lanjut untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan dalam penanganan kondisi rawan pangan dengan status gizi buruk pada masyarakat Kabupaten TTS. anak-anak. Saran Kondisi rawan pangan dengan tingkat status gizi kurang yang bertambah menjadi perhatian serius dalam sektor ketahanan pangan dan sektor kesehatan. 4. dan pertumbuhan terhambat. absensi meningkat. berat bayi ahir rendah Penurunan derajad kesehatan pada anak-anak. cukup waktu sehingga mudah terkena infeksi serta kekurangan makanan. Malnutrisi pada orang tua disebabkan kekurangan makanan dan penurunan kesehatan. meningkatnya angka kematian. penyapihan yang tidak 5. interaksi sosial kurang. Kesakitan meningkat. menyebabkan kesempatan bekerja & pendapatan menurun dan umur harapan hidup rendah Penurunan derajat kesehatan dan kemampuan fisik usia produktif. kriminalitas meningkat Malnutrisi pada wanita hamil dan meningkatnya angka kematian ibu. 2. prestasi oleh raga 3. pertumbuhan & daya tangkap menurun. Penurunan berat badan bayi. Simpulan Dampak dari kerawanan pangan dan kekurangan gizi dapat terjadi pada skala makro dan skala mikro. bayi dan para wanita termasuk juga wanita hamil. Berbagai dampak yang ditimbulkan sebagai berikut. perkembangan otak janin 4.

(1996). Pendidikan Tinggi. Jakarta: EGC. (2011) Khumaidi. In: Penilaian Status Gizi. Data Status Gizi di Provinsi NTT tahun 2013.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Jakarta: BPK Gunung Mulia Supariasa. Konsep Dasar Timbulnya Masalah Gizi. (2000). Jakarta: Direktorat Jenderal. (2002). Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. (2013). Gizi Masyarakat. Dkk. Departemen Pendidikan Nasional . dkk. Soekirman. Ilmu Gizi dan Aplikasinya.