Anda di halaman 1dari 4

Posted by opikologi on April 3, 2012

Posted in: Wacana. Tagged: otonomi daerah. Leave a comment

Oleh Dr Syarif Hidayat
Peneliti pada PEP-LIPI
PADA kolom opini harian umum Kompas , 28 April 2000, Bung Syamsudin Haris menurunkan
sebuah artikel dengan judul `Paradigma Baru Otonomi Daerah`. Mencermati secara saksama isi
artikel tersebut, satu di antara `pesan` mendasar yang disampaikan Bung Haris adalah
pentingnya memahami eksistensi kebijaksanaan otonomi daerah sebagai bagian dari agenda
demokratisasi kehidupan bangsa. Dengan kata lain, Bung Haris mencoba untuk mengingatkan
pembaca bahwa keberadaan kebijaksanaan otonomi daerah harus tidak diartikulasi sebagai a
final destination (tujuan akhir). Tetapi lebih sebagai mechanism (mekanisme) dalam menciptakan
demokratisasi penyelenggaraan pemerintahan.
Pada tataran teoritis, preposisi yang dikemukakan oleh Bung Haris di atas, sebenarnya, bukan
merupakan sesuatu yang `baru`. Karena hal tersebut telah menjadi argumen utama dari political
decentralisation perspective (perspektif desentralisasi politik). Mawhood, 1987, misalnya secara
tegas mendefinisikan desentralisasi sebagai devolusi kekuasaan dari pemerintah pusat ke
pemerintah daerah, the devolution of power from central to local government. Oleh karenanya
dapat dimengerti, bila Mawhood kemudian merumuskan tujuan utama dari kebijaksanaan
desentralisasi sebagai upaya untuk mewujudkan political equality, local accountability, dan local
responsiveness. Di antara prasyarat yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan tersebut adalah
pemerintah daerah harus memiliki teritorial kekuasaan yang jelas (legal territorial of power);
memiliki pendapatan daerah sendiri (local own income); memiliki badan perwakilan (local
representative body) yang mampu mengontrol eksekutif daerah; dan adanya kepala daerah yang
dipilih sendiri oleh masyarakat daerah melalui pemilu.
Dengan rumusan definisi dan tujuan desentralissai seperti dikemukakan di atas, para
pendukungpolitical

decentralisasi

perspektif percaya

bahwa

keberadaan

kebijaksanaan

Kendati pada tingkat pernyataan. Sementara. 1965). Tetapi lebih pada perspektif desentralisasi administrasi. dan pada konteks inilah kita harus mengapresiasi artikel yang ditulis oleh Bung Syamsudin Haris. Dengan dasar pemahaman seperti ini. mendefinisikan desentralisasi sebagai penyerahan wewenang (bukan kekuasaan) dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. dengan konsep tersebut diasumsikan society akan memiliki akses yang lebih besar dalam mengontrol penyelenggaraan pemerintahan di daerah. kiranya dapat dimengerti bila aplikasi kebijaksanaan desentralisasi di Indonesia selama ini telah terpisah dari agenda demokratisasi. dan Maryanov. Namun pada tingkat kenyataan. the transfer of authority from central to local government (Diana. wewenang yang diserahkan kepada daerah sangat dibatasi dan kontrol pemerintah pusat atas daerah juga terlihat sangat ketat.desentralisasi akan mampu menciptakan sistem pemerintahan yang demokratis. Argumen dasarnya adalah. 1963. administrative decentralisation . pemerintah daerah sendiri. administrative decentralisation perspective (John Legge. konsep desentralisasi politik di atas relatif menjadi sesuatu yang baru. konsep desentraliasi di Indonesia tidak pernah merujuk pada perspektif desentralisasi politik. Reformulasi desentralisasi Persoalannya sekarang adalah apakah pendekatan desentralisasi administrasi tersebut masih harus tetap dpertahankan sebagai konsep dasar dalam melakukan reformasi hubungan pusat- . Sementara. Maryanov (1965) telah melabeli fenomena ini sebagai Ideological vs Technical Orientation. atau apa yang disebut oleh Vincent Ostrom sebagai the features of a system of governance that would be appropriate to circumstance where people govern rather than presuming that government govern(1991:6). akan lebih responsif terhadap berbagai tuntutan yang datang dari komunitasnya. karena tekanan utamanya lebih pada upaya menciptakan efesiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Konsep desentralisasi Bagi Indonesia. pada sisi lain. Mengapa tidak? Karena bila ditelusuri latar belakang sejarah perkembangannya. 1984). Sedangkan tujuan utama dari kebijaksanaan desentralisasi itu sendiri lebih dititikberatkan pada upaya menciptakan efesiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Devay (1989) lebih memilih istilah ambivalesi antara keinginan desentralissai dan sentralisasi. untuk menjelaskan fenomena tersebut. akan diketahui bahwa semenjak dari awal. Perspektif yang disebut kedua. sering dikemukakan bahwa kebijaksanaan desentralisasi di Indonesia bertujuan untuk mempercepat proses demokratisasi di tingkat lokal. Conyer.

tetapi sampai pada penunjukan daerah-daerah tingkat II yang dijadikan sebagai sampel uji coba. Pendapat yang serupa juga disampaikan oleh U Hatta Djatipermana (Bupati/Kepala Daerah Tingkat II Bandung). April 1995).daerah mendatang? Dengan logika pemahaman secara sederhana. mereka pun cenderung mengartikulasikan pelaksanaan otonomi daerah sebagai `kewajiban` daripada sebagai hak. baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam. dengan tegas mengatakan: “Terpilihnya Banyumas sebagai salah satu daerah percontohan merupakan hasil kerja tim interdep tingkat pusat yang sejak bulan Maret berkeliling ke seluruh Indonesia. Oleh karenanya dapat dipahami bila pemerintah pusat telah memainkan peran utama tidak hanya dalam merumuskan kriteria pemilihan sampel. ketika itu. Ketika itu. . terlihat dengan jelas bahwa dimensi-dimensi politik seperti demi untuk tetap menjaga keutuhan bangsa dan stabilitas politik nasional. merupakan bukti konkret dari betapa hubungan kekuasaan pusat-daerah tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan administrasi. Djoko Sudantoko (Bupati/Kepala Daerah Tingkat II Banyumas) misalnya. Rupanya Departemen Dalam Negeri dan Gubernur Jawa Barat. Sebagai konsekuensi logis dari kondisi seperti ini. Alasan utamanya karena pendekatan ini relatif telah gagal dalam menjawab berbagai persoalan di seputar hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah di Indonesia. Contoh kasus lain yang masih hangat dalam ingatan kita adalah gagalnya `proyek` uji coba otonomi daerah pada tahun 1995 yang dimotori oleh Sumitro Maskun (saat menjabat Dirjen PUOD). menunjang ke arah kemungkinan dilaksanakannya otonomi daerah ( Prisma No 4. Hatta secara terbuka mengatakan: “… Waktu Kabupaten Bandung ditetapkan menjadi daerah otonomi percontohan kami juga kaget. dan maraknya tuntutan daerah akhir-akhir ini. H. April 1995). telah menjadi `bahan baku` utama dalam menjustifikasi konsep desentralisasi administrasi yang diterapkan. dan menetapkan urusan-urusan yang akan didesentralisasikan. merasa `terkejut. tetapi menghendaki penyelesaian secara politik. Saya tidak tahu apakah Kabupaten Banyumas dianggap mempunyai keunggulan tertentu sehingga sesuai dengan tolok ukur dan kriteria dari tim pusat untuk menjadi percontohan otonomi daerah“ (PrismaNo 4. Lebih jauh dari itu. sudah punya kriteria yang menganggap bahwa potensi Kabupaten Bandung. kemudian kagum` pada saat mengetahui daerahnya telah terpilih sebagai sampel uji coba. juga dapat dipahami bila sebagian besar dari bupati/kepala daerah tingkat II. idealnya pendekatan desentralisasi administrasi yang selama ini diterapkan harus sudah mulai ditinggalkan. Terjadinya gerakan daerah pada tahun 1950-an.

karena ia lebih didasari oleh kepentingan pragmatis guna mencari cara yang terbaik di antara pilihan-pilihan politik yang sulit. . Bila selama ini pendekatan yang digunakan lebih memosisikan pemerintah pusat sebagai pemegang peran utama dalam menentukan baik jumlah maupun ruang lingkup wewenang yang harus dimiliki oleh daerah. Penulis sendiri lebih mengartikulasikan alternatif kedua ini sebagai solusi antara untuk menuju alternatif pemecahan yang disebut pertama. tetapi lebih pada perubahan metode pelaksanaannya. Upaya reformasi seperti ini dapat dipastikan. juga perlu dilakukan. Pemerintah pusat. dari administrative decentralisation menuju political decentralisation. implikasi dari reformasi konsep desentralisasi alternatif kedua tersebut tidak sampai pada peninjauan kembali UU No 22 dan 25 Tahun 1999. sekali lagi. seyogianya. Persoalannya sekarang adalah reformasi konsep desentralisasi ini. adalah melakukan reformasi terhadap pendekatan yang digunakan dalam mengimplementasikan konsep yang telah ada. Karena dua produk undang-undang tersebut masih sangat kental diwarnai ide-ide dasar perspektif desentralisasi administrasi.Contoh kasus tersebut. Tetapi harus lebih bersikap aktif. dan secara bijaksana mau mendengarkan keinginan daerah. harus berbesar hati untuk memosisikan diri hanya sebagai fasilitator. maka pada masa mendatang hendaknya `peran utama` tersebut harus sudah diserahkan kepada daerah. dari pihak pemerintah daerah hendaknya tidak bersikap pasif –menunggu `petunjuk` dari pusat. dan mendudukkan kebijaksanaan desentralisasi sebagai suatu mekanisme dalam mewujudkan demokratisasi penyelenggaraan pemerintahan. salah satu implikasinya yang mungkin akan dihadapi dalam waktu dekat adalah peninjauan kembali pemberlakuan UU No 22 dan 25 tahun 1999. tidak akan mampu menyelesaikan akar permasalahan yang sesungguhnya. yang barangkali lebih moderat. Alternatif lain. Pada tataran perundang-undangan. amandemen Pasal 18 UUD 1945. Di antaranya menghendaki adanya reformulasi definisi desentralisasi dengan lebih menitikberatkan the devolution of power> daripada the the delegation of authority. tidak dapat dihindari. akan membawa sejumlah konsekuensi yang mendasar. Sementara pada sisi lain. Lebih jauh dari itu. tidak dapat dihindari. menegaskan bahwa untuk membenahi hubungan kekuasan antara pusat dan daerah di era `Indonesia Baru` ini menghendaki adanya `reformulasi` konsep desentralisasi itu sendiri. dan memiliki keberanian untuk menentukan sendiri baik jenis maupun ruang lingkup wewenang yang akan dimiliki. Pada tingkat operasional.