Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesi Umum adalah hilangkan nyeri secara sentral di sertai hilangnya kesadaran dan
bersifat reversible. Tanda yang di gunakan untuk melihat kedalaman anestesi adalah penurunan
tekanan darah, volume dan frekuensi napas dan meningkatkan frekuensi denyut jantung. Pada
pemasangan VP shunt ini di butuhkan anestesi yaitu berupa general anestesi. Obat-obat yang di
gunakanpun obat-obat anestesi yang sudah umum di gunakan.
Oabat-obatnya di mulai dengan premedikasi yaitu midazolam yang berupa golongan
benzodiazepine untuk sedasi supaya pasien tertidur dan akan mengakibatkan amnesia retrograde
dan fentanil berupa goongan opioid kuat yang bila obat-obat yang lain di kombinasi dengan
opioid maka efek obatnya akan bertambah. Untuk induksi di berikan propofol, obat ini terbuat
oleh susu dan mengandung protein pada saat penyuntikan akan merasa tidak nyaman pada
daerah suntikan dan setelah di suntikan maka pasien akan langsung di berikan oksigen untuk
selanjutnya akan di pasangkan ETT. Untuk pelumpuh otot berikan atracurium, berguna untuk
melumpuhkan otot untuk di pasangkan ETT dan untuk otot-otot abdomen.

BAB II LAPORAN KASUS 2. konjungtiva anemis (-/-). sclera ikerik (-/-).50C e. makanan dan udara c. Riwayat pengobatan Ulracet (tramadol HCL 37. S. Tekanan darah paling tinggi mencapai 240 (systole). Anamnesis a. Riwayat operasi Pemasangan VP shunt. Alergi Tidak memiliki alergi obat.1 Status pasien 1. minum alcohol dll b. Obat di minum teratur. Tidak memiliki riwayat nyeri dada. Keadaan umum : baik b. 3.S : Perempuan : : GT : 59 tahun : multifungsi VP shunt : revisi VP shunt 2.Rekam Medik Ruangan Usia Diagnosa Pra-bedah Tindakan : Ny. sakit paru. Adanya sesak napas setelah jalan semenjak operasi. Berat badan : 55 kg d. Kebiasaan Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok. Pemeriksaan fisik a. Acetazolamide 250 mg dan potassium chloride 600 mg semuanya di minum dari 2 minggu-sekarang. e. Kepala dan leher : normocephal. Tanda Vital  TD : 140/100  RR : 20x/menit  N : 80x/menit  S : 36. Kesadaran : compos mentis c. . Identitas Nama Jenis kelamin No. adanya mual muntah dari selesai operasi sampai sekarang. d. Obat yang di gunakan captopril dan amlodipin/nifedipin?.5 mg dan Paracetamol). Riwayat penyakit Pasien memiliki riwayat hipertensi dari 3 tahun lalu sampai sekarang.

akral hangat Mallampati skor : 1 (tampak pilar faring. murmur (-)      Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Pergerakan dada kanan dan kiri simetris. Rontgen thorax : Kesan : cor dan pulmo dbn Ureum Na K Cl Kreatinin GDS : 39 mg/dl : 147 mmol/l : 4.7 g/dl Ht : 36% Trombosit : 200 ribu/mm3 PT : 10. gallop (-). palatum mole. turgor kulit cukup. distensi (-) : bising usus (+) : suara timpani : Nyeri tekan (-) Ekstremitas : sianosis (-). Kesan ASA ASA 2 (pasien dengan sistemik ringan) dengan riwayat hipertensi terkontrol.23 ribu Hb : 11. Laboratorium Leukosit : 7.4 detik SGOT : 13 u/l SGPT : 13 u/l b. Pemeriksaan penunjang a. wheezing (-) Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : Perut datar. III dan AVF 5. EKG : T inverted di V2-V6 II. rhonkhi (-).8 detik APTT : 35.1 mg/dl : 92 mg/dl c.f.60 mmo/l : 118 mmol/l : 1. Thorax  Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Palpasi : Ictus cordis teraba dan kuat angkat Perkusi : o Batas atas kiri : ICS II linea parasternalis sinistra o Batas atas kanan : ICS II linea parasternalis dextra o Batas bawah kiri : ICS V linea midclavikula sinistra o Batas bawah kanan : ICS IV linea parasternalis Dextra Auskultasi : SI-S2 reguler. . dan uvula) Mouth opening : 332 dbn 4. retraksi (-) : Vokal fremitus kanan sama dengan kiri : Sonor kedua lapang paru : Vesikular breath sound (+).

Rencana Anstesi : General Anesesi dengan intubasi o Premedikasi o Midazolam (0.5 mg 3 mg Sediaan 5 cc : 1 mg/cc  3 cc o Fentanyl (1-3 μg/kgBB) = 55 – 165 μg  150 μg Sediaan 2 cc : 50 μg/cc  3 cc o Induksi Propofol (2-3 mg/kgBB) = 110-165 mg  150 mg Sediaan 20 cc : 10 mg/ml  15 cc o Pelumpuh otot Atracurium (0.05-0. batuk) • Tekanan darah : 2 (TD berubah < 20%) . orientasi baik) • Pernafasan : 2 (dapat nafas dalam.00 .12.2 Status anesthesia Anestesia dilakukan pada posisi telentang dengan posisi kepala netral.5 .6 cc o Monitoring o Pemantauan jalan nafas dan ventilasi selama anestesia o Pemantauan oksigenasi selama anestesia dengan pemasangan pulse oximetri Recovery Room (Aldrette Score) • Kesadaran : 2 (sadar.1 mg/kgBB) = 2.6 cc o Pemasangan ETT Dewasa perempuan  digunakan ETT biasa dengan cuff ukuran 7. Lama anestesi 11.75-5.12.5-0.33 mg  30 mg Sediaan 5 cc : 10 mg/ml  3 cc Rumatan (0.2.5 o Maintenance o N2O & O2 = 1L: 1L o Sevoflurant 2 Vol% o Atracurium 0.6 mg/kgBB) = 27.5 mg  6 mg = 0. 1.1 mg/kgBB) = 5.15 (1 jam) dan lama operasi 11.15 .00 (1 jam).

kaudal dan perifer). induksi dan relaxant. Terdapat 3 tujuan dalam anestesi : hipnotik. . analgesia dan relaxant.• Aktivitas : 2 (4 ekstremitas bergerak) • Warna kulit/SpO2 : • TOTAL : 10 2 (merah muda. volume dan frekuensi napas dan meningkatkan frekuensi denyut jantung. Bila general anestesi ada premedikasi. tanpa O2. Macam-macam dari anestesi umum adalah general anestesi dan regional (spinal. SaO2 > 92%) Tindak Lanjut • Observasi tanda-tanda vital post operasi • O2 nasal kanul 2 L • Ketorolac 3x30 mg (iv) • Ondansentron 2x4 mg (iv) BAB III TINJAUAN PUSTAKA Anestesi umum adalah hilangkan nyeri secara sentral di sertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. epidural. Tanda yang di gunakan untuk melihat kedalaman anestesi adalah penurunan tekanan darah.

makanan dan udara). riwayat operasi sebelumnya.Tujuan dari Premedikasi adalah melancarkan induksi. Pada pasien usia di atas 50 tahun ada anjuran untuk pemeriksaan EKG dan foto thoraks. riwayat alergi (obat. Reseptor GABA memiliki 2 bagian yaitu GABA mengaktifkan GABA A A dan GABA B. Midazolam berikatan dengan subunit δ. leukosit. tindakan buka mulut (mouth opening) untuk melihat apakah ada kesulitan untuk memasukkan laringoskop intubasi. Obat ini bekerja pada reseptor GABAA (α. Obat ini bekerja berinteraksi dengan reseptor penghambat neurotransmitter yang diaktifkan oleh GABA. palpasi. minum alcohol. rumatan dan bangun dari anestesi. Pemeriksaan rutin seperi inspeksi. Merupakan sedasi lebih cepat dan juga sebagai anti ansietas. Premedikasi Midazolam adalah golongan benzodiazepine. perkusi dan auskultasi. Farmakodinamik pada obat ini sebagai sedasi. leher pendek dan kaku. masa perdarahan dan penyakit yang terkait dengan penyakitnya. reseptor GABAA berikatan dengan α dan β dan terbukalah kanal ion Cl ke dalam sel dan akan mengakibatkan potensial aksi sepanjang membrane sel dan sel sukar tereksitasi. Pemeriksaan laboratorium adalah lab darah khususnya Hb. β. riwayat penyakit yang di derita. golongan ini tidak langsung tetapi butuh GAA untuk ekskresikan efeknya. riwayat merokok. Efek terhadap pernapasan tidak berefek tetapi untuk penderita PPOK akan mengalami hipoksis alveolar/narcosis CO2. Pemeriksaan fisiknya adalah keadaan gigi-geligi. pengurangan terhadap rangsang emosi/ansietas dan antikonvulsi. Selama anestesi berlangsung dapat mengakibatkan apnea bia di . hypnosis. GABA A ini berperan sebagian besar di neurotransmitter di system saraf pusat. o o o o o o o o Di bawah ini adalah tujuan dari premedikasi yaitu : Meredakan kecemasan dan ketakutan Memperlancar induksi anestesi Mengurangi kelenjar ludah dan bronkus Minimalkan jumlah obat anestetik Mengurangi mual munah pasca bedah Menciptakan amnesia Mengurangi isi lambung Mengurangi refleks yg membahayakan Sebelum dilakukannya pemebedahan ada penilaian prabedah yaitu anamnesa yang di lakukan adalah riwayat operasi. perdarahan. δ).

fentanil di absorbsi bila intravena akan menurunkan kadar plasma secara cepat dalam 1-2 jam pertama. dapat menurunkan arteri sistemik yang di sebabkan oleh vasodilatasi perifer. Efek pada pernapasan akan menyebabkan depresi napas sampai dengan apnea selama 30 detik dan diperkuat dengan pemberian opioid. Induksi Propofol sebagai “ day surgery”. Kelebihan dari obat ini bekerja lebih cepat. Efek samping dapat menyebabkan hipotensi berat dan antiemetic. Di indikasikan untuk analgesia dan dapat menimbulkan analgesi obstetric.9-0. amnesia retrograde. Efek samping dari obat ini adalah lemas. kekakuan otot. nyeri epigastriun. inkoordinasi motorik. di distribusikan ke jaringan. Antidotum : nalokson. mulut kering. berkeringat. insomnia Fentanil Merupakan golongan opioid. di metaboleisme oleh ekstensif kelompok enzim sitokrom P450 di hati. Pelumpuh otot Atracurium merupakan pelumpuh otot sintetik dengan masa kerja sedang. euphoria. medikasi pra-anestesi.berikan bersama opioid. Terdapat neyeri di tempat suntikan. mual muntah. Efek samping adalahn pusing. mual muntah. analgesia. Bekerja sebagai agonis reseptor μ. Indikasi sebagai ansietas. Masa puncak dari fentanil sekitar 5 menit dan kurang mempengaruhi kardiovaskular. menghilangkan bronkospasme oleh histamine dan metakolin dan dapat menurunkan frekuensi jantung dan sedikit menurunkan tekanan darah. metabolism di hati dan di sekresikan dalam urin. Obat ini bekerja dengan Ach yang di lepaskan di ujung saraf motorik yang akan berinteraksi dengan reseptor nikotik otot di lempeng akhir saraf pada membrane sel otot rangka yang akan menyebabkan depolarisasi local yang melewati ambang rangsang yang menghasilkan .dan di ekskresikan ke urin. Farmakokinetiknya.6 jam. Waktu paruh 1. palpitasi. Farmakokinetik obat ini adsorbsi secara sempurna. mengurangi mual muntah pasca bedah. diare.

Curah jantung dapat di pertahan oleh isofluran. Hati-hati dengan pasien riwayat epilepsy. Anastetik inhalasi Isofluran adalah eter berhalogen. streptomisin) akan mengahambat neuro muscular melalui hambatan pelepasan Ach dari ujung saraf motorik dan hambatan ini dapat di atasi oleh ion Ca.potensial aksi otot MAP. Isofluran dapat merelaksasikan otot rangka lebih baik dan meningkatkan efek pelumpuh otot. Hipotensi di sebabkan oleh vasodilatasi di otot. Dengan demikina dosis isofluran dan pelumpuh otot dapat di kurangi. dislokasi sendi. Pada system saraf pusat dapat pecah spontan akan mengakibatkan metabolit kurang aktif. mencegah trauma pada terapi syok dengan listrik. Di sisi lain isofluran dapat menyebabkan depresi napas dan menekan respons ventiasi terhadap hipoksia. . Kadar obat di dalam udara membuat pasien menahan napas dan batuk. Isofluran lebih aman untuk pasien jantung di bandingkan dengan halotan ayau enfluran. Setelah pemberian medikasi preanestesi. anestesi yang lama dapat menyebabkan menumpuknya mucus di saluran napas. mempermudan intubasi. Kontraindikasi tidak di anjurkan untuk analgesic pada persalinan karena dapat merelaksasikan otot uterus. Interaksi oleh obat khususnya pada obat antibiotic yaitu golongan aminoglikosida ( gentamisin. golongan tetrasikin dapat menghambat transmisi neuromuscular dan hambatan ini dapat di antagoniskan oleh ion Ca dan golongan peptide (klindamisin) yang akan memblok transmisi neuromuscular. Farmakokinetiknya di konversi oleh esterase plasma dan secara spontan menjadi metabolit kurang aktif yang menyebabkan waktu paruhnya tidak menyebabkan peningkatan pada pasien gangguan fungsi ginja. laudanosin yang menembus sawar darah otak dan mangakibatkan konsentrasi dalam darah tinggi dan dapat mengakiatkan kejang. stadium induksi di lalui kurang dari 10 menit dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan bersama dengan N 2O dan oksigen. Di indikasikan sebagai adjuvant dalam anestesi. Isofluran dapat memicu reflex saluran napas yang menyebabkan hipersekresi. Sevofluran adalah anestesi inhalasi yang baru memebrikan induksi dan pemulihan lebih cepat dari pendahulunya. batuk dan sasme laring di tambah lagi dengan terganggunya fungsi sillia di jalan napas. Pembuluh darah koroner berdilatasi dan aliran koroner di pertahankan walaupun konsumsi oksigen berkurang.

maka dari itu pemakaian pelumpuh otot di perlukan. . Pada pasien ini di lakukan intubasi karena proses operasi yang sedikit lama sekitar 1 jam lebih. karena pada pemasangan ini bila menggunakan spinal itu merupakan kontraindikasinya. Untuk general anestesi membutuhkan obat-obatan yang lengkap mulai dari premedikasi. Pada pasien ini terjadi peningkatan intracranial maka dari itu konraindikasi dari pemakaian teknik anestesi spinal. induksi dan pelumpuh otot. Pemakaian pelumpuh otot di sisni selain di gunakan untuk proses intubasi karena merelaksasikan tonus sfingters trakeanya selain itu dapat merelaksasikan otot abdomen karena pada operasi ini abdomenlah yang di buka karena untu membenarkan letak dari VP shunt yang menyumbat.BAB IV KESIMPULAN Pada pemasangan VP shunt ini teknik anestesi yang di gunakan adalah General anestesi.