Anda di halaman 1dari 8

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAKARTA

JOURNAL READING
Effect of anaesthesia on lung function in children with asma

Disusun untuk Memenuhi Syarat mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian
Anetesi
Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta

Diajukan Kepada:
Pembimbing: dr. Thariq Emyl T. H, Sp. An
Disusun Oleh:
Regina Lisa Permata

Kepaniteraan Klinik Departemen Anestesi
FAKULTAS KEDOKTERAN-UPN “VETERAN” JAKARTA

Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta
PERIODE Mei-Juni 2015

..... 197710022010122001 Anesthesiology 2012..An NIP.......... Sp........LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN ANESTESI Journal reading dengan judul: Effect of anaesthesia on lung function in children with asma Diajukan untuk Memenuhi Syarat mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Departemen Anestesi Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta Disusun Oleh: Regina Lisa Permata Telah disetujui oleh Pembimbing: Nama pembimbing dr...... Ernita Aknal..... Thariq Emyl T.......... H.. 112:220-5 .... Sp.......An Tanda Tangan Tanggal ........ ..... Mengesahkan: Koordinator Kepaniteraan Anestesi dr.

97%) dan pada control sebanyak 19.19%). P.2 (0. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur efek dari anestesi umum yang berimbang terhadap fungsi pernapasan anak-anak dengan penyakit asma di bandingkan dengan anak tanpa asma. Heaf Pemeriksaan spirometri dilakukan sebelum operasi.84%28. segera setelah operasi (awal) dan sehari setelah (akhir) anestesi umum untuk operasi elektif pada 20 anak dengan asma dan 20 anak tanpa asma. C. R. May.97%) pada kelompok kontrol.87%) namun hanya sebanyak 14. investigasi dan prosedur terapi yang membutuhkan anestesi umum hal ini menunjukkan bahwa banyak anak-anak dengan asma di berikan anestesi umum untuk prosedur elektif dan gawat darurat. Tekanan oksimetri di rekam pada malam pertama setelah tindakan operasi. R. Ratarata awal PEFR pada penderita asma sebanyak 19. Kami membandingkan pola tekanan oksimetri pada postoperasi pada kedua kelompok ini.83-15. Tidak ada perbedaan tekanan oksimetri pada malam hari.93 (7. Namun penurunan ini tidak terlihat lebih besar pada anak-anak penderita asma terkontrol dengan baik dibandingkan dengan anak-anak yang tidak memiiki asma.8619. Martin. Bowhay and D.03 (2.23-25.42%) pada kontrol. Kami menyimpulkan bahwa anak yang sehat memperlihatkan penurunan FEV1 dan PEFR setelah anestesi umum untuk operasi elektif. A. Romer.EFEK ANESTESI PADA FUNGSI PARU PADA ANAK DENGAN ASMA H. H.91 (95% confidence internal.89-21. A. Ratarata terakhir FEV1 8. Zat-zat inhalasi mengurangi frekuensi dari peningkatan resistensi jalan napas dan penurunan compliance paru pada anjing dan manusia dan untuk mengobati bronkospasme yang akut.55 (11.70-27. H.29-22.82 (0. Didapatkan prevalensi tinggi asma pada masa kanak-kanak.56%) pada penderita asma dan 6. Smyth. berdasarkan penelitian terbaru dari Skotlandia menunjukkan prevalensi lebih besar dari 14%. (CI) 10. Dengan peningkatan di dalam operasi.25 (10.75%) dan pada control sebanyak 11. Penelitian pada binatang telah menunjukkan bahwa penyekat neuromuscular memiliki berbagai macam efek pada resistensi paru dan beberapa obat opioid menyebabkan depresi pernapasan pusat.02 ( 9. Rata-rata akhir menurun dari dasar PEFR pada penderita asma sebanyak 18.79-14.80%). Rata-rata awal FEV1 menurun pada penderita asma sebanyak 16. L. . P.

tenggorokan atau operasi gigi misalnya tonsilektomi. bila ada yang memiliki riwayat batuk berulang dan infeksi tidak di ikutkan pada penelitian ini. induksi. jenis kelamin dan jenis operasi (hidung.M. pelepasan pen pada ekstremitas. Semua terbebas dari infeksi atau sakit pada pernapasan saat penelitian. semua anak sebelumnya terdiagnosa asma dan mendapatkan pengobatan profilaksis salah satunya inhalasi sodium cromoglycate atau inhalasi korikosteroid.H.A. 20 anak pada kelompok control dengan terdiagnosa tanpa asma. Pada kelompok anak dengan asma. pencabutan gigi. Kelompok asma dan control di samakan . permukaan tubuh atau operasi ekstremitas. R. Setiap anak disesuaikan dengan control yaitu umur (1 tahun). ventilasi dan analgetik intraoperasi. Pengobatan selanjutnya di lanjutkan di masa perioperatif tetapi terapi bronkodilatasi yang spesifik tidak di resepkan kecualui ada suatu klinis yang muncul. herniotomi). manajemen airway. Perbandingan yang berpasangan dari perubahan fungsi paru-paru antara penderita asma dan control dilakukan dengan mengurangi penurunan persentase FEV1 atau PEFR pada periode awal post operasi atau akhir untuk setiap control dari penurunan persentase FEV1 atau PEFR pada saat yang sama juga untuk penderita asma dan di cocokkan. Di ulang awal periode post operasi (pemulihan yang cukup dari anestesi untuk memfasilitasi upaya penuh pada spirometri) dan di akhir periode post operasi (pagi hari berikutnya setelah pukul 08. misalnya artroskopi dari lutut. usia dan jenis kelamin. Pengukuran spirometri telah di lakukan oleh salah satu penelitian tersebut ( H. Perbedaannya di bandingkan dengan menggunakan uji t berpsangan. Data di analisis menggunakan Wilcoxon. dengan Nilai-nilai spirometri post operasi di kurangi nilai-nilai dari nilai-nilai dasar dan ukuran perbedaan di analisis dalam setiap kelompok. Spirometri yang di pakai selama kunjungan sebelum operasi adalah Vitalograph compct II. Semuanya di latih di laboraorium fungsi paru di rumah sakit.30 sebelum selesai). Analgetik postoperasi di resepkan sesuai dengan jenis operasi dan ukurann anak serta diberikan atas permintaan. minor operasi perut bagian bawah misalnya orkidopeksi. Dinyatakan sebagai persentase nilai prediksi untuk tinggi.Penelitian terhadap semua pasien (penderita asma dan control) dengan pemberian anestesi umum pada prosedur bedah elektif pada anak berumur 5-16 tahun dan dapat melakukan spirometri. Nilai untuk PEFR. kapasitas vital paksa dan rasio FEV1/FVC di peroleh dari setiap anak yang telah latihan dasar spirometri dengan teknik yang benar. Sebelum di lakukan operasi anak-anak dengan orang tuanya mengisi surat informed consent atau surat persetujuan tertulis dari peneliti. FEV1 (volume ekspirasi paksa). relaxan.M atau H. Sesuai dengan prosedur operasi setiap anak di kelompok control menerima anestesi yang sama dengan anak asma termasuk premedikasi.CR).

Penelitian pertama kali untuk melihat keseluruhan efek dari anestesi umum yang seimbang dengan fungsi paru-paru pada anak dengan asma. Pada kedua kelompok ada penurunan PEFR dan FEV1 pada periode awal postoperasi dan di PEFR pada akhir postoperasi lebih besar dari 10% dan signifikan secara statistic. Bagaimanapun pengukuran yang di lakukan hanya ketika kesadaran telah kembali penuh dan tingkat kooperatif pasien sama antara pre dan post operasi.03 (95% confidence interval. Rata-rata PEFR dan FEV1 mengalami penurunan di awal postoperasi yang lebih besar dari 10% pada penderita asma dan control dan demikian dengan secara statistic signifikan klinis.7) dan perbedaan rata-rata dari waktu yang di habiskan dengan saturasi oksigen kurang dari 90% adalah 0. Meskipun penurunan pada akhir FEV1 secara statistic signifikan dalam penderita asma tapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara asma dan . seperti pencatatan pengukuran setelah pelatihan selesai dan hasil yang konsisten dicapai untuk setiap anak. Perbedaan yang tidak signifikan. Penurunan FEV1 pada akhir periode postoperasi kurang dari 10% di kedua kelompok.usia. Namun. meskipun penurunan ini tidak mencapai signifikan statistic pada penderita asma. Tidak ada perbedaan pada saturasi oksigen semalam antara kelompok tersebut dan tidak ada masalah klinik dalam observasi dari beberapa pasien. Perbedaan rata-rata pada persentase saturasi oksigen antara asma dan control adalah 0.87. Kedua kelompok menunjukkan penurunan terbesar di PEFR dan FEV1 pada awal periode postoperasi. berat badan. tinggi badan dan durasi operasi. Pada tekanan oksimetri semalam sama untuk penderia asma dan control dalam peneiian 11 pasang. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok dalam penurunan PEFR atau FEV1 di kedua waktu postoperasi. Namun anakanak yang tidak pernah memiliki penyakit pernapasan tidak akan di lakukan spirometri dalam penelitian ini. Anak dengan asma biasanya familiar dengan test laju puncak ekspirasi dan beberapa telah di ajarkan bagaimana tes spirometri. ketika gangguan sekunder untuk anestesi mungkin hasil kerjasama telah memberikan kontribusi untuk menurunkan nila-nilai. keduanya asma dan non asma yang mengalami anestesi umum untuk operasi elektif menunjukkan penurunan FEV1 dan PEFR pada periode awal postoperasi. mungkin mencerminkan teknik kurang berlatih. Kami mendemonstrasikan anak yang sehat. 0.8 ke 0. efeknya di minimalkan. Kelompok control memiliki nilai yang lebih rendah untuk pra operasi PEFR dan FEV1 dan meskipun ini tidak signifikan secara statistic. Kami tidak menemukan perbedaan antara kelompok sebelum operasi pada spirometri dasar yang menunjukkan bahwa anak-anak penderita asma yang terkontrol dengan baik dengan pengobatan mereka saat ini.

control secara klinis. . kegagalan untuk memenuhi periode waktu sulit tidur sepanjang malam. Dengan 20 penelitian dengan kekuatan 0. Tekanan oksimetri tidak berbeda antara kelompok.7 mendeteksi perbedaan dari 10% pada awal FEV1 antara penderita asma dan kontrol. lebih sedikit pasien yang selesai pada bagian penelitian ini karena kesulitan teknis. Bukan tidak mungkin pada penderita asma dengan control yang kurang baik dengan penurunan FEV1 pada preoperasi dalam hal yang sama akan menyebabkan penurunan FEV1 masaah klinis. Perbandingan statistic dari perbedaan antara kelompok untuk semua penurunan FEV1 dan PEFR tidak memperlihatkan perbedaan signifikan pada setiap waktu. Penurunan yang kecil pada PEFR dan FEV1 tidak terkait dengan masalah klinis dan dapat menggambarkan gangguan jaan napas yang disebabkan karena penyumbatan oleh lender atau bronkokonstriksi. Penurunan PEFR pada periode awal postoperasi disertai dengan penurunan persentase lebih dari 10% pada FEV1 pada periode yang sama.