Anda di halaman 1dari 16

PRAKTEK MANDIRI PERAWAT

KECENDERUNGAN DAN ISUEE KEPERAWATAN DI INDONESIA


PRAKTEK MANDIRI PERAWAT

BAB 1
PENDAHULUAN
1.

Latar belakang masalah.

Issu hangat tentang keperawatan yang sering dibahas di pertemuan


keperawatan baik ditingkat regional maupun nasional adalah: (1). Undangundang praktek keperawatan, (2). Praktek mandiri perawat, dan (3).
Kesejahteraan perawat.
Tiga komponen issu tersebut sebenarnya saling berkaitan dan saling
mempengaruhi, artinya dengan disyahkan Rancangan undang-undang praktek
keperawatan diharapkan perawat mempunyai payung hukum dalam
melaksanakan praktek mandiri keperawatan sehingga diharapkan kesejahteraan
perawat akan meningkat, disamping itu dengan adanya undang-undang praktek
keperawatan diharapkan keperawatan dapat diakui sebagai profesi independent
yang bukan dibawah atau bagian dari profesi lain.

Saat ini undang-undang praktek keperawatan masih dalam bentuk rancangan


undang-undang, dan sebagian besar perawat sudah menyuarakan untuk
mendukung GOALnya undang-undang praktek keperawatan salah satunya
dengan demontrasi yang sudah dilaksanakan beberapa kali, dan masih banyak
cara yang dilakukan oleh perawat untuk mensukseskan tujuan tersebut.

Perawat adalah suatu profesi independent, dan suatu profesi memang harus
memiliki payung hukum sebagai pijakan untuk melaksanakan tindakan sesuai
dengan keilmuannya. Profesi keperawatan di negara-negara tetangga bahkan di
negara-negara maju sudah memiliki undang-undang praktek keperawatan, dari
sinilah awal mengapa perawat di seluruh indonesia ingin juga memiliki undangundang sebagai payung hukum sebagai pijakan untuk melaksanakan /
melindungi tindakannnya atau sebagai payung hukum untuk melaksanakan
praktek mandiri dan ini sebenarnya pemerintah sudah memiliki dasar untuk
merealisasikan undang-undang praktek keperawatan yaitu adanya Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik
perawat.

Di Indonesia keperawatan belum sepenuhnya dianggap sebagai profesi yang


mandiri, indikatornya antara lain (1). Belum memiliki undang-undang praktek
keperawatan, (2). Perawat kurang dilibatkan dalam mengambil suatu kebijakan
di intansi pelayanan kesehatan, (3). Pemerintah belum / tidak melibatkan
perawat dalam membuat / melaksanakan program pembangunan kesehatan (4)..
Kinerja perawat belum dihargai sesuai dengan beban kerja yang dipikulnya.
Untuk masalah kesejahteraan ini sebenarnya organisasi profesi bisa terlibat dan
berperan aktif tetapi realitanya justru terbalik suatu contoh kaitannya dengan
masalah jenjang karir perawat yang mana bila berdasarkan Pedoman
Pengembangan Jenjang Karir Profesional Perawat, Direktorat Bina Pelayanan
Keperawatan (2006) bahwa Secara umum penjenjangan karir profesi perawat
terdiri dari 4 (empat) bidang, meliputi :
1.
Perawat Klinik (PK) : yaitu perawat yang memberikan asuhan keperawatan
langsung kepada pasien/klien sebagai individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2.
Perawat Manajer (PM) : yaitu perawat yang mengelola pelayanan
keperawatan di sarana kesehatan, baik pengelola tingkat bawah (front line
manager), tingkat menengah (middle manager), tingkat atas (top manager).
3.
Perawat Pendidik (PP) : yaitu perawat yang memberikan pendidikan kepada
peserta didik di institusi pendidikan keperawatan.
4.
Perawat Peneliti/Riset (PR) : yaitu perawat yang bekerja dibidang penelitian
keperawatan/kesehatan
Dan untuk perawat klinik bisa sampai PK V tetapi organisasi profesi hanya
memperjuangkan hanya sampai PK II, begitu juga dengan jenjang karir perawat
pendidik.
Saat ini masih terjadi persepsi yang keliru si masyarakat
tentang profesi keperawatan di Indonesia. Persepsi keliru itu terjadi karena
kesalahan informasi yang mereka terima dan kenyataan di lapangan. Kondisi ini
didukung pula dengan kebudayaan dan rutinitas kinerja perawat yaitu perawat
sebagai pembantu para dokter. Masih banyak para perawat yang tidak percaya
diri ketika berjalan dan berhadapan dengan dokter. Paradigma ini harus dirubah,
mengikuti perkembangan keperawatan dunia. Para perawat menginginkan
perubahan mendasar dalam kegiatan profesinya. Kalau tadinya hanya
membantu pelaksanaan tugas dokter, menjadi bagian dari upaya mencapai
tujuan asuhan medis, kini mereka menginginkan pelayanan keperawatan mandiri
sebagai upaya mencapai tujuan asuhan keperawatan yang paripurna dalam
rangka memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat yang holistik.

Pertanyaanya sekarang, siapkah perawat Indonesia


menuju praktek mandiri yang profesional artinya melaksanakan tindakan sesuai
dengan keprofesiannya dan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
1.

Gambaran Keperawatan di Indonesia

Kondisi keperawatan di Indonesia sangat tertinggal dibandingkan negaranegara ASEAN seperti Piliphina, Thailand, Singapura dan Malaysia, apalagi bila
ingin disandingkan dengan Amerika dan Eropa. Pendidikan rendah, gaji rendah,
pekerjaan selangit inilah fenomena yang ada. Rendahnya gaji menyebabkan
tidak sedikit perawat yang bekerja di dua tempat, suatu contoh pagi hingga
siang di rumah sakit negeri, siang hingga malam di rumah sakit swasta, atau
pagi hingga malam ngajar di beberapa instansi pendidikan. Dalam kondisi yang
demikian maka sulit untuk mengharapkan kinerja seorang perawat bisa
maksimal. Apalagi bila dilihat dari rasio perawat dan pasien, dalam shift sore dan
malam hanya ada 2-3 perawat yang jaga sedangkan pasien ada 20-25 per
bangsal jelas tidak proporsional(Yusuf,2006).

Jumlah perawat yang menganggur di Indonesia cukup mencengangkan.


Hingga tahun 2005 mencapai 100 ribu orang. Hal ini disebabkan kebijakan zero
growth pegawai pemerintah, ketidakmampuan rumah sakit swasta
mempekerjakan perawat dalam jumlah memadai, rendahnya pertumbuhan
rumah sakit dan lemahnya kemampuan berbahasa asing. Ironisnya, data WHO
2005 menunjukkan bahwa dunia justru kekurangan 2 juta perawat, baik di AS,
Eropa, Australia dan Timur Tengah. Fakta lain di lapangan, saat ini banyak tenaga
perawat yang bekerja di rumah sakit dengan status magang (tidak menerima
honor seperserpun) bahkan ada rumah sakit yang meminta bayaran kepada
perawat bila ingin magang. Alasan klasik dari pihak rumah sakit mereka sendiri
yang datang minta magang. Dilematis memang, Padahal sebenarnya banyak
sekali kesempatan dan tawaran kerja di luar negeri seperti :USA,. Canada, United
Kingdom (Inggris), Kuwait, Saudi Arabia, Australia, New Zaeland, Malaysia, Qatar,
Oman, UEA, Jepang, German, Belanda, Swiss (Yusuf, 2006).

Kemampuan bersaing perawat Indonesia bila di bandingkan dengan


negara-negara lain seperti Philipines dan India masih tertinggal . Pemicu yang
paling nyata adalah karena dalam system pendidikan keperawatan kita masih
menggunakan Bahasa Indonesiasebagai pengantar dalam proses pendidikan.
Hal tersebut yang membuat Perawat kita kalah bersaing di tingkat global. Salah
satu tolak ukur kualitas dari Perawat di percaturan internasional adalah
kemampuan untuk bisa lulus dalam Uji Kompetensi keperawatan seperti ujian
NCLEX-RN dan EILTS sebagai syarat mutlak bagi seorang perawat untuk dapat
bekerja di USA. Dalam hal ini kualitas dan kemampuan perawat Indonesia masih
sangat memprihatinkan (Muhammad, 2005)

Sejak disepakatinya keperawatan sebagai suatu profesi dan terjadi


pergeseran paradigma keperawatan dari pelayanan yang sifatnya vokasional
menjadi pelayanan yang bersifat professional yaitu pada lokakarya nasional
keperawatan pada tahun 1983, keperawatan kini dipandang sebagai suatu
bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan yang meliputi aspek bio,psiko,sosio dan spiritual yang komperehensif,
dan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat yang baik
yang sehat maupun yang sakit.

Sebagai profesi yang masih dalam proses menuju perwujudan diri,


profesi keperawatan dihadapkan pada berbagai tantangan. Pembenahan internal
yang meliputi empat dimensi domain yaitu; Keperawatan, pelayanan
keperawatan, asuhan keperawatan, dan praktik keperawatan. Belum lagi
tantangan eksternal berupa tuntutan akan adanya registrasi, lisensi, sertifikasi,
kompetensi dan perubahan pola penyakit, peningkatan kesadaran masyarakat
akan hak dan kewajiban, perubahan sistem pendidikan nasional, serta
perubahan-perubahan pada suprasystem dan pranata lain yang terkait (Yusuf,
2006).

Keluarnya Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan


(diperbarui UU Nomor 36 Tahun 2009), UU No 2/1989 (di perbarui UU Nomor 20
Tahun 2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Surat Keputusan Menteri
Kesehatan No 1239/Menkes/SK/2001 tentang registrasi dan praktik keperawatan
lebih mengukuhkan keperawatan sebagai suatu profesi di Indonesia. Adanya
Undang-undang No. 8 tahun 1999 tetang Perlindungan Konsumen semakin
menuntut perawat untuk melaksanakan praktik keperawatan secara profesional
menjadi suatu keharusan dan kewajiban yang sudah tidak dapat ditawar-tawar
lagi. Penguasaan Ilmu dan keterampilan, pemahaman tetang standar praktik,
standar asuhan dan pemahaman hak-hak pasien menjadi suatu hal yang penting
bagi setiap insan pelaku praktik keperawatan di Indonesia (Yanto, 2001)

Konsekuensi dari perkembangan itu harus ada jenjang karier dan


pengembangan staf yang tertata baik, imbalan jasa, insentif serta sistem
penghargaan yang sesuai dan memadai. Rendahnya imbalan jasa bagi perawat
selama ini mempengaruhi kinerja perawat. Banyak perawat bergaji di bawah
upah minimum regional (UMR). Sebagai gambaran, gaji perawat pemerintah di
Indonesia antara Rp 300.000-Rp 1 juta per bulan tergantung golongan.
Sementara perawat di Filipina tak kurang dari Rp 3,5 juta (Kompas, 2001)
Pengembangan Jenjang Karir Profesional Perawat, Direktorat Bina Pelayanan
Keperawatan (2006) bahwa Secara umum penjenjangan karir profesi perawat
terdiri dari 4 (empat) bidang, meliputi :

1.
Perawat Klinik (PK) : yaitu perawat yang memberikan asuhan keperawatan
langsung kepada pasien/klien sebagai individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2.
Perawat Manajer (PM) : yaitu perawat yang mengelola pelayanan
keperawatan di sarana kesehatan, baik pengelola tingkat bawah (front line
manager), tingkat menengah (middle manager), tingkat atas (top manager).
3.
Perawat Pendidik (PP) : yaitu perawat yang memberikan pendidikan kepada
peserta didik di institusi pendidikan keperawatan.
4.
Perawat Peneliti/Riset (PR) : yaitu perawat yang bekerja dibidang penelitian
keperawatan/kesehatan
Dan untuk perawat klinik bisa sampai PK V tetapi organisasi profesi hanya
memperjuangkan hanya sampai PK II, begitu juga dengan jenjang karir perawat
pendidik.
Selain memiliki kemampuan intelektual, interpersonal dan teknikal,
perawat di Indonesia juga harus mempunyai otonomi yang berarti mandiri dan
bersedia menanggung resiko, bertanggung jawab dan bertanggung gugat
terhadap tindakan yang dilakukannya. Tetapi yang terjadi di lapangan sangat
memilukan, banyak sekali Perawat yang melakukan Praktek Pelayanan
Kedokteran dan Pengobatan yang sangat tidak relevan dengan ilmu
keperawatan itu sendiri. Hal tersebut telah membuat profesi Perawat di pandang
rendah oleh profesi lain. Banyak hal yang menyebabkan hal ini berlangsung
berlarut-larut antara lain:
a.
itu sendiri.

Kurangnya kesadaran diri dan pengetahuan dari individu perawat

b. Tidak jelasnya aturan yang ada serta tidak tegasnya komitmen penegakan
hukum di Negara Republik Indonesia.
c.

Minimnya pendapatan secara finansial.

d. Kurang peranya organisasi profesi dalam membantu pemecahan permasalah


tersebut.
e. Rendahnya pengetahuan masyarakat, terutama di daerah yang masih
menganggap bahwa Perawat juga tidak berbeda dengan DOKTERatau petugas
kesehatan yang lain (Muhammad, 2005)

2.

Kondisi Sistem Pendidikan Keperawatan di Indonesia

Pengakuan body of knowledge keperawatan di Indonesia dimulai sejak


tahun 1985, yakni ketika program studi ilmu keperawatan untuk pertama kali
dibuka di Fakultas Kedokteran UI. Dengan telah diakuinya body of knowledge
tersebut maka pada saat ini pekerjaan profesi keperawatan tidak lagi dianggap

sebagai suatu okupasi, melainkan suatu profesi yang kedudukannya sejajar


dengan profesi lain di Indonesia.

Tahun 1984 dikembangkan kurikulum untuk mempersiapkan perawat


menjadi pekerja profesional, pengajar, manajer, dan peneliti. Kurikulum ini
diimplementasikan tahun 1985 sebagai Program Studi Ilmu Keperawatan di
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tahun 1995 program studi itu mandiri
sebagai Fakultas Ilmu Keperawatan, lulusannya disebut ners atau perawat
profesional. Program Pascasarjana Keperawatan dimulai tahun 1999. Kini sudah
ada beberapa Program Magister Keperawatan dan Program Spesialis
Keperawatan di Indonesia.

Sejak tahun 2000 terjadi euphoria Pendirian Institusi pendidikan keperawatan


baik itu tingkat Diploma III (akademi keperawatan) maupun Strata I.
Pertumbuhan institusi pendidikan keperawatan di Indonesia menjadi tidak
terkendali. Seperti jamur di musim kemarau. Artinya di masa sulitnya lapangan
kerja, proses produksi tenaga perawat justru meningkat pesat. Parahnya lagi,
fakta dilapangan menunjukkan penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan
mayoritas berasal dari pelaku bisnis murni / profesi non keperawatan, sehingga
pemahaman tentang hakikat profesi keperawatan dan arah pengembangan
perguruan tinggi keperawatan kurang dipahami. Belum lagi sarana prasarana
cenderung untuk dipaksakan, kalaupun ada sangat terbatas (Yusuf, 2006). Saat
ini di Indonesia berdiri 32 buah Politeknik kesehatan dan 598 Akademi Perawat
yang berstatus milik daerah,ABRI dan swasta (DAS) yang telah menghasilkan
lulusan sekitar 20.000 23.000 lulusan tenaga keperawatan setiap tahunnya.
(Sugiharto, 2005).

Tantangan terberat saat ini adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM) tenaga keperawatan. Secara kuantitas perawat merupakan tenaga
kesehatan dengan jumlah terbanyak dan terlama kontak dengan pasien, namun
secara kualitas masih jauh dari harapan masyarakat. Indikator makronya adalah
masih ada perawat yang bekerja di unit pelayanan kesehatan (rumah
sakit/puskesmas) hanyalah tamatan SPK (sederajat SMA/SMU).

Berangkat dari kondisi tersebut, maka dalam kurun waktu 1990-2000 dengan
bantuan dana dari World Bank, melalui program health project (HP V)
dibukalah kelas khusus D III keperawatan hampir di setiap kabupaten. Selain itu
bank dunia juga memberikan bantuan untuk peningkatan kualitas guru dan
dosen melalui program GUDOSEN. Program tersebut merupakan suatu
percepatan untuk meng-upgrade tingkat pendidikan perawat dari rata-rata
hanya berlatar belakang pendidikan SPK menjadi Diploma III (Institusi
keperawatan). Tujuan lain dari program ini diharapkan bisa memperkecil gap

antara perawat dan dokter sehingga perawat tidak lagi menjadi perpanjangan
tangan dokter (Prolonged physicians arms) tapi sudah bisa menjadi mitra kerja
dalam pemberian pelayanan kesehatan(Yusuf, 2006).

Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sisitem pendidikan keperawatan di


Indonesia adalah UU no. 2 tahun 1989 (diperbarui UU Nomor 20 Tahun 2003)
tentang Sistem pendidikan nasional, Peraturan pemerintah no. 60 tahun 1999
tentang pendidikan tinggi dan keputusan Mendiknas no. 0686 tahun 1991
tentang Pedoman Pendirian Pendidikan Tinggi (Munadi, 2006). Pengembangan
sistem pendidikan tinggi keperawatan yang bemutu merupakan cara untuk
menghasilkan tenaga keperawatan yang profesional dan memenuhi standar
global. Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu lulusan
pendidikan keperawatan menurut Yusuf (2006) dan Muhammad (2005) adalah :
(1) Standarisasi jenjang, kualitas/mutu, kurikulum dari institusi pada
pendidikan.
(2) Merubah bahasa pengantar dalam pendidikan keperawatan dengan
menggunakan bahasa inggris. Semua Dosen dan staf pengajar di institusi
pendidikan keperawatan harus mampu berbahasa inggris secara aktif
(3) Institusi harus dipimpin oleh seorang dengan latar belakang pendidikan
keperawatan
(4) Pengelola insttusi hendaknya memberikan warna tersendiri dalam institusi
dalam bentuk muatan lokal, misalnya Mental Health Nursing, Emergency
Nursing, pediatric nursing, coronary nursing.
(5) Standarisasi kurikulum dan evaluasi bertahan terhadap staf pengajar di
insitusi pendidikan keperawatan
(6) Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, dan Organisasi profesi
serta sector lain yang terlibat mulai dari proses perizinan juga memiliki tanggung
jawab moril untuk melakukan pembinaan.

3.
I.

Landasan hukum profesi perawat


Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

BAB I Ketentuan Umum, Pasal 1 Ayat 6


Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Pasal 1 Ayat 7
Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang
digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif,
preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

II.

Keputusan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor:

1239/MENKES/SK/XI/2001 tentang Registrasi dan Praktek Perawat (sebagai revisi


dari SK No. 647/MENKES/SK/IV/2000)
BAB I Ketentuan Umum Pasal
(1) Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan :
Perawat adalah orang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam
maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
(2) Surat Izin Perawat selanjutnya disebut SIP adalah bukti tertulis pemberian
kewenangan untuk menjalankan pekerjaan keperawatan di seluruh Indonesia
(garis bawah saya).
(3) Surat Ijin Kerja selanjutnya disebut SIK adalah bukti tertulis untuk
menjalankan pekerjaan keperawatan di seluruh wilayah Indonesia (garis bawah
saya).
BAB III Perizinan, Pasal 8 :
(1) Perawat dapat melaksanakan praktek keperawatan pada sarana pelayanan
kesehatan, praktek perorangan/atau berkelompok.
(2) Perawat yang melaksanakan praktek keperawatan pada sarana pelayanan
kesehatan harus memiliki SIK (garis bawah saya).
(3) Perawat yang melakukan praktek perorangan/berkelompok harus memiliki
SIPP (garis bawah saya).
Pasal 9 Ayat 1
SIK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Ayat 2 diperoleh dengan mengajukan
permohonan kepada kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.
Pasal 10
SIK hanya berlaku pada 1 (satu) sarana pelayanan kesehatan.
Pasal 12

(1).SIPP sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (3) diperoleh dengan


mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat. Surat Ijin Praktek Perawat selanjutnya disebut SIPP adalah bukti
tertulis yang diberikan perawat untuk menjalankan praktek perawat
(2).SIPP hanya diberikan kepada perawat yang memiliki pendidikan ahli madya
keperawatan atau memiliki pendidikan keperawatan dengan kompetensi yang
lebih tinggi.
Pasal 13
Rekomendasi untuk mendapatkan SIK dan/atau SIPP dilakukan melalui penilaian
kemampuan keilmuan dan keterampilan bidang keperawatan, kepatuhan
terhadap kode etik profesi serta kesanggupan melakukan praktek keperawatan.
Pasal 15
Perawat dalam melaksanakan praktek keperawatan berwenang untuk :
(a). melaksanakan asuhan keperawatan meliputi pengkajian, penetapan
diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan keperawatan dan
evaluasi keperawatan.
(b). Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada butir a meliputi :
intervensi keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling
kesehatan.
(c). Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dmaksud huruf a
dan b harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan
organisasi profesi.
(d). Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaan
tertulis dari dokter (garis bawah saya).
Pengecualian pasal 15 adalah pasal 20;
(1). Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa pasien/perorangan, perawat
berwenang untuk melakukan pelayanan kesehatan diluar kewenangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.
(2). Pelayanan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1)
ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
Pasal 21
(1).Perawat yang menjalankan praktek perorangan harus mencantumkan SIPP di
ruang prakteknya. (garis bawah saya).
(2).Perawat yang menjalankan praktek perorangan tidak diperbolehkan
memasang papan praktek (garis bawah saya).
Pasal 31

(1). Perawat yang telah mendapatkan SIK aatau SIPP dilarang :


a. menjalankan praktek selain ketentuan yang tercantum dalam izin tersebut.
b. melakukan perbuatan bertentangan dengan standar profesi.
(2). Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau
menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain,
dikecualikan dari larangan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) butir a.
Di dalam praktek apabila terjadi pelanggaraan praktek keperawatan, aparat
penegak hukum lebih cenderung mempergunakan Undang-Undang No. 36 tahun
2009 tentang Kesehatan

BAB 3
PEMBAHASAN
1.
A.

Organisasi Profesi
Pemberlakuan Standart Profesi Keperawatan

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai organisasi profesi suara


perawat nasional, mempunyai tanggung jawab utama yaitu melindungi
masyarakat / publik, profesi keperawatan dan praktisi perawat. Praktek
keperawatan ditentukan dalam standar organisasi profesi dan system
pengaturan serta pengendaliannya melalui perundang undangan keperawatan
(Nursing Act), dimanapun perawat itu bekerja (PPNI, 2000).
Dalam kaitannya dengan tanggungjawab utama dan komitmen tersebut di atas
maka PPNI harus memberikan respon, sensitive serta peduli untuk
mengembangkan standar praktek keperawatan. Diharapkan dengan
pemberlakuan standar praktek keperawatan di Indonesia akan menjadi titik
inovasi baru yang dapat digunakan sebagai : (1) falsafah dasar pengembangan
aspek aspek keperawatan di Indonesia, (2) salah satu tolak ukur efektifitas dan
efisiensi pelayanan keperawatan dan (3) perwujudan diri keperawatan
professional.
Beberapa keuntungan dapat diperoleh dari adanya standar keperawatan sebagai
dasar rasional dalam merencanakan keperawatan, mencapai efisiensi organisasi,
mengevaluasi membina dan upaya perbaikan, alat komunikasi dan koordinasi
asuhan keperawatan diseluruh system pelayanan kesehatan, menentukan
kebutuhan perawat dan pola utilitasnya.

Aspek-aspek penting mengapa standar keperawatan harus ditentukan : (1).


Memebrikan arah, (2). Mencapai persetujuan sesuai harapan / ekspekstasi, (3).

Memantau dan menilai hasil memnuhi standar, tidak memenuhi standar atau
melampaui standar, (4). Merupakan petunjuk bagi organisasi/manajemen, profesi
dan pasien dalam organisasi tatanan pelayanan untuk memperoleh hasil optimal.
B.

Pengaturan Praktik Keperawatan Melalui Piranti Hukum

Praktik keperawatan perlu diatur dengan seperangkat undang-undang/peraturan


yang mengatur praktik yang bermutu. Pengaturan ini diperlukan karena
beberapa alasan berikut.

Perlindungan terhadap masyarakat


1.
Alasan utama perlunya pengaturan praktik keperawatan yakni mengacu
kepada azas untuk melindungi masyarakat penggunan jasa pearawat. Azas ini
dapat dilaksanakan apabila ada seperangkat undang-undang/peraturan yang
mengatur praktik keperawatan, sehingga praktik yang dilaksanakan bermutu.
Masyarakat akan terlindung terhadap tindakan kelalaian atau tidak tepat dalam
praktik kepearwatan tersebut.
2.
Dengan berkembangnya IPTEK dan berdampak pula terhadap pendidikan
dasar masyarakat yang makin meningkat, maka masyarakat semakin kritis
dalam memenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan terhadap pelayanan
keperawatan yang bermutu.
3.
Era sejagatan atau globalisasi sudah diambang pintu yang akan ditandai
dengan adanya pasar bebas, tempat disetiap negara dapat menawarkan produk
dan jasanya ke Indonesia, termasuk jasa keperawatan
Perlindungan terhadap perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan(care
provider)
1.

Mencegah penyimpangan atau malpraktek

Pada dasarnya setiap profesi bertanggung jawab terhadap kinerjanya dan harus
dapat mempertanggung jawabkan pelayanan yang diberikan. Untuk itu perlu
adanya undang-aundang atau peraturan yang mengaturnya sehingga lingkup
prakter keperawatan dan bats kewenangan menjdi jelas.
2.

Otonomi perawat

Setiap profesi seyogyanya memiliki otonomi yang luas untuk mengatur


ketentuan praktek yang akan dilaksanakan termasuk keperawatan. Hal ini
dimungkinkan karena keperawatan memiliki ilmu dan kiat yang mendasari
praktek profesionalnya.
3.

Globalisasi

Memasuki era globalisasi tenaga perawat Indonesia diharapkan mampu bersaing


dengan perawat yang dating dari luar negeri.

Tujuan Perapan system regulasi atau pengaturan praktek keperawatan


Ssisten regulasi merupakan sustu mekanisme pengaturan yang harus ditempuh
oleh setiap tenaga keperawatan yang ingin untuk memberikan pelayanan
keperawatan kepada klien.
Tujuan pokok system regulasi:
1.
Menciptakan lingkungan system keperawatan yang didasarkan keinginan
merawat(caring environment)
2.

Menjamin bentuk keperawatan yang aman bagi klien.

3.

Meningkatkan hubungan kesejawatan(kolegialitas).

4.

Mengembangkan jaringan kerja yang bermanfaat bagi klien

5.

Meningkatkan tanggung jawab professional dan social.

6.

Meningkatkan advokasi bagi klien.

7.

Meningkatkan system pencatatan dan pelaporan keperawatan.

8.

Menjadi landasan untuk mengembangan karier tenaga keperawatan.

C.

Pengembangan Model Praktik Keperawatan

Dengan keadaan saat ini yang mana pemerintah sedang gencar-gencarnya


membuat program pembangunan kesehatan suatu contoh program desa siaga,
desa siaga sehat jiwa, dan masih banyak upaya-upaya pemerintah dalam
memyelenggarakan pembangunan dibidang kesehatan baik yang bersifat
preventif, promoti, kuratif dan rehabilitatif dan ini merupakan kesempatan
perawat untuk merefleksi dan mengembangkan diri dengan cara terlibat secara
aktif dalam pelaksanaan program tersebut baik di lingkungan rumah sakit,
puskesmas, maupun di lingkungan pendidikan
Perawat perlu menciptakan model praktik pelayanan perawatan yang khas dan
berbeda, sehingga meskipun perannya tidak langsung berdampak terhadap
peningkatan indeks pembangunan manusia, namun tetap berarti (mengisi sektor
yang kosong/tidak tergarap) karena perannya tidak identik dengan profesi lain
atau sebagai sub sistem tenaga kesehatan lainnya.
Mengingat hal hal tersebut kita perlu mencermati beberapa peristiwa di
belahan dunia lain, akan perubahan perubahan konsep dan pengembangan
kesehatan. Khususnya di negara maju seperti Amerika, hasil riset yang
dikemukakan oleh Bournet (dalam Jurnal Riset) tentang perkembangan Hospital
At Home atau perawatan pasien di rumah mereka sendiri, secara kuantitatif
menunjukan peningkatan dari tahun ke tahunnya. Pada tahun 1970an rasionya
adalah 291 ; 1 , kemudian tahun 1990an perbandingannya sekitar 120 ; 1 dan
terakhir penelitian pada tahun 2004 perbedaannya menjadi semakin tipis yaitu
12 ; 1. Masih penelitian tentang Hospital At Home dan di Amerika menunjukan
bahwa, tingkat kepuasan pasien yang di rawat di rumahnya sendiri lebih

memuaskan pasien dan keluarga dibandingkan dengan mereka yang dirawat di


rumah sakit. Bila kita melihat kecenderungan dan Isue di negara lain tersebut
kita dapat membuat satu analisis bahwa, Hospital At Home akan menjadi salah
satu model anyar yang perkembangannya akan sangat pesat.
Implikasinya bagi perawat dan praktek keperawatan jelas hal ini merupakan
angin surga, karena dengan praktik dalam model Hospital At Home, perawat
akan menunjukan eksistensinya. Keuntungannya dalam meningkatkan peran
perawat antara lain; (1) Otonomi praktik keperawatan akan jelas dibutuhkan dan
dibuktikan, mengingat kedatangan perawat ke rumah pasien memikul tanggung
jawab profesi, (2) Perawat dimungkinkan menjadi manager/ leader dalam
menentukan atau memberikan pandangan kepada pasien tentang pilihan
pilihan tindakan atau rujukan yang sebaiknya ditempuh pasien, (3) Patnership,
berdasarkan pengalaman di lapangan kebersamaan dan penghargaan dengan
sesama rekan sejawat serta profesi lain memperlihatkan ke-egaliterannya , (4)
Riset dan Pengembangan Ilmu, hal ini yang paling penting, dengan adanya
konsistensi terhadap keperawatan nampak fenomena keunggulan dari Hospital
At Home ini, ketika perawat mengasuh pasien dengan jumlah paling ideal yaitu
satu pasien dalam satu waktu, interaksi tersebut selain memberikan tingkat
kepuasan yang baik juga memberikan dorongan kepada perawat untuk
memecahkan masalah secara scientific approach.
Untuk menjawab tantangan sekaligus untuk mempersiapkan hal tersebut diatas
dibutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, diantaranya organisasi profesi dalam
hal ini PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia)dan institusi pendidikan
keperawatan, hal ini dikarenakan PPNI dan Institusi pendidikan keperawatan
sangat bertanggungjawab dan berperan penting dalam rangka melahirkan dan
memyiapkan perawat yang berkualitas dan berdedikasi.
Ruang kosong praktek Hospital At Home ini menjadi peluang bidang garap yang
akan menambah tegas betapa perawat memiliki peran yang tidak identik dan
tidak tergantikan. Pengalaman di lapangan membuktikan tentang betapa
tingginya animo masyarakat akan kehadiran Hospital At Home (Nursing At
Home)

2.
A.

Institusi Pendidikan
Penerapan Bahasa Asing

Kemampuan bersaing perawat Indonesia bila di bandingkan dengan negaranegara lain seperti Philipines dan India masih kalah . Pemicu yang paling nyata
adalah karena dalam system pendidikan keperawatan kita masih menggunakan
Bahasa Indonesiasebagai pengantar dalam proses pendidikan. Hal tersebut
yang membuat Perawat kita kalah bersaing di tingkat global. Salah satu tolak
ukur kualitas dari Perawat di percaturan internasional adalah kemampuan untuk
bias lulus dalam Uji Kompetensi keperawatan seperti ujian NCLEX-RN dan EILTS
sebagai syarat mutlak bagi seorang perawat untuk dapat bekerja di USA. Dalam

hal ini kualitas dan kemampuan perawat Indonesia masih sangat


memprihatinkan (Muhammad, 2005)
Institusi pendidikan harus menerapkan bahasa asing sebagai bagian dari
kompetensi mahasiswa dalam pendidikan keperawatan, baik dengan melakukan
kerjasama dengan institusi lokal maupun asing.

B.

Penyelenggaraan Pendidikan yang berkualitas

Untuk institusi pendidikan cara yang bisa dilakukan untuk menerapkan model
praktek keperawatan mandiri adalah (1). Dengan tetap menyelenggarakan
pendidikan keperawatan program khusus baik tingkat D3 maupun S1
keperawatan, (2). Pengelola / pengambil kebijakan di insititusi pendidikan
keperawatan harus seorang perawat, (3). Institusi pendidikan keperawatan tidak
hanya berorientasi bisnis saja tetapi juga harus berorientasi kualitas dari produk
yag dihasilkan dalam hal ini lulusan yang siap berkompetisi di tingkat nasional
maupun internasional.

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

1.

Kesimpulan

Praktek Nursing At Home atau praktek mandiri perawat ini menjadi peluang
bidang garap yang akan menambah tegas betapa perawat memiliki peran yang
tidak identik dan tidak tergantikan, sehingga PPNI harus memberikan respon,
sensitive serta peduli untuk mengembangkan standar praktek keperawatan.
Diharapkan dengan pemberlakuan standar praktek keperawatan di Indonesia
akan menjadi titik inovasi baru yang dapat digunakan sebagai : pertama falsafah
dasar pengembangan aspek aspek keperawatan di Indonesia, kedua salah satu
tolak ukur efektifitas dan efisiensi pelayanan keperawatan dan ketiga
perwujudan diri keperawatan professional. Praktik keperawatan perlu diatur
dengan seperangkat undang-undang/peraturan yang mengatur praktik yang
bermutu.
Institusi pendidikan harus menerapkan bahasa asing sebagai bagian dari
kompetensi mahasiswa dalam pendidikan keperawatan, baik dengan melakukan
kerjasama dengan institusi lokal maupun asing. Serta penyelenggaraan
pendidikan yang berkualitas sesuai standart.

2.

Saran

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melaksanakan praktek mandiri
perawat , antara lain :
1.
Bagi organisasi profesi yaitu dengan pemberlakuan standart profesi
keperawatan, pengaturan praktik keperawatan melalui piranti hokum,
mengembangkan praktik mandiri keperawatan secara berkelompok maupun
individu untuk konsultasi, melakukan kunjungan rumah, hospice care untuk
pasien terminal
2.
Bagi institusi Pendidikan dengan menyelenggarakan pendidikan yang
berkualitas, mengacu pada standart kompetensi dan peningkatan kemampuan
berbahasa asing bagi mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

Kompas. (2001). Nasib Perawat : Pendidikan Rendah, Gaji Rendah, dari


http://www.kompas.com/kompas.

Kompas. (2001). Diskusi Era Baru Profesi Keperawatan : Perawat Menjadi Mitra
Sejajar Dokter. dari http://www.kompas.com/kompas

Muhammad, SM. (2005). Jadi Perawat ? Ogah Ah. http://www.innappni.or.id/index.php

Muhammad, SM. (2005). Reformasi Keperawatan. http://www.innappni.or.id/index.php

Munadi, R. (2006). Seratus Ribu Perawat Di Ri Nganggur !.


http://perawatoverseas.blogspot.com

Pusdiknakes. (2001). Kemandirian Dan Profesionalisme Perawat Dalam Praktik


Keperawatan. http://www.pusdiknakes.or.id/new

Sugiharto (2005). Antisipasi Perencanaan Tenaga Kesehatan Guna Mendukung


Indonesia Sehat 2010, http://www.twnagakesehatan.or.id/artikel_detail

Yusuf, S. (2006). Maraknya Pendirian Institusi Kesehatan. http://innappni.or.id/html


http://suparmantoskepners.blogspot.com/2011/04/KECENDERUNGAN-dan-ISUElegal-dalam keperawatan.html
http://cms.sip.co.id/hukumonline
http://sholeh.student.umm.ac.id/2010/02/05/pendidikan-keperawatan/