Anda di halaman 1dari 8

From : http://sarubanglahaping.blogspot.co.id/2013/10/analisis-kasuspembunuhan-marsinah.

html

Analisis Kasus Pembunuhan Marsinah


A.

Kasus Marsinah

Marsinah hanyalah seorang buruh pabrik dan aktivis buruh yang bekerja pada PT
Catur Putra Surya (CPS) di Porong Sidoarjo, Jawa Timur. Ia ditemukan tewas
terbunuh pada tanggal 8 Mei 1993 diusia 24 tahun. Otopsi dari RSUD Nganjuk
dan RSUD Dr Soetomo Surabaya menyimpulkan bahwa Marsinah tewas kerena
penganiayaan berat.
Marsinah adalah salah seorang dari 15 orang perwakilan para buruh yang
melakukan perundingan dengan pihak perusahaan. Awal dari kasus pemogokan
dan unjuk rasa para buruh karyawan CPS bermula dari surat edaran Gubernur
Jawa Timur No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar
menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji
sebesar 20% gaji pokok. Himbauan tersebut tentunya disambut dengan senang
hati oleh karyawan, namun di sisi pengusaha berarti tambahannya beban
pengeluaran perusahaan. Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT. Catur
Putera Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat Edaran tersebut dengan resah.
Akhirnya, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei
1993 menuntut kenaikan upah dari Rp 1700 menjadi Rp 2250.
Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut
unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu
mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar
rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat
mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang
sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam,
Marsinah lenyap.
Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya
sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.
Pada tanggal 30 September 1993 dibentuk tim Bakorstanasda Jatim untuk
melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai
penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit
Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik/penyelidik Polda Jatim serta
Den Intel Brawijaya.
Delapan petinggi PT CPS ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi,
termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan
yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di
sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. Setiap
orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat skenario dan
menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto, juga
termasuk salah satu yang ditangkap.
Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan
Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. Pengacara Yudi

Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya rekayasa oknum aparat


kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah.
Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang
diduga terlibat pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang
yang diduga terlibat pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI.
Hasil penyidikan polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian kontrol
CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia
dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi
Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono
(satpam CPS) mengeksekusinya.
Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah
stafnya yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka
naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam
proses selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia
membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni). Putusan
Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan
sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah
direkayasa.
Kasus ini menjadi catatan ILO (Organisasi Buruh Internasional), dikenal sebagai
kasus 1713. Hingga kini kasus Marsinah tetap menjadi misteri dan menjadi
sejarah kelam ranah hukum di Indonesia.

From : http://fuad-myers.blogspot.co.id/2011/11/analisa-kasus-pelanggaran-hamberat.html
ANALISA KASUS PELANGGARAN HAM BERAT KASUS MARSINAH
POSISI KASUS
Kasus Marsinah
Marsinah (10 April 1969?Mei 1993) adalah seorang aktivis dan buruh pabrik PT.
Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian
ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari.
Mayatnya ditemukan di hutan di Dusun Jegong Kecamatan Wilangan Nganjuk,
dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat. Dua orang yang terlibat dalam
otopsi pertama dan kedua jenazah Marsinah, Haryono (pegawai kamar jenazah
RSUD Nganjuk) dan Prof. Dr. Haroen Atmodirono (Kepala Bagian Forensik RSUD
Dr. Soetomo Surabaya), menyimpulkan, Marsinah tewas akibat penganiayaan
berat.
Marsinah memperoleh Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun yang sama.
Kasus ini menjadi catatan ILO (Organisasi Buruh Internasional), dikenal sebagai
kasus 1713. Awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan
surat edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar
menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji
sebesar 20% gaji pokok. Himbauan tersebut tentunya disambut dengan senang
hati oleh karyawan, namun di sisi pengusaha berarti tambahannya beban
pengeluaran perusahaan. Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT. Catur
Putera Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat Edaran tersebut dengan resah.
Akhirnya, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei
1993 menuntut kenaikan upah dari Rp 1700 menjadi Rp 2250.
Marsinah adalah salah seorang karyawati PT. Catur Putera Perkasa yang aktif
dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa
tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa
pada
tanggal
2
Mei
1993
di
Tanggul
Angin
Sidoarjo.
3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon
Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh. Pada 4 Mei 1993,
para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan
harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250.
Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan ont diterima, termasuk
oleh buruh yang absen.
Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekanrekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah
menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan
perundingan dengan pihak perusahaan. Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa
Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando
Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri
dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan
masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk
menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak
Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.

Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya


sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.
Tanggal 30 September 1993 telah dibentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim
untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah.
Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan
Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik/penyelidik Polda
Jatim
serta
Den
Intel
Brawijaya.
Delapan petinggi PT CPS ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi,
termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan
yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di
sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. Setiap
orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat control dan menggelar
rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto, juga termasuk
salah satu yang ditangkap. Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka
sudah mendekam di tahanan Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan
Marsinah. Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi, mengungkap adanya
rekayasa oknum aparat kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh
Marsinah.
Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang
diduga terlibat pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang
yang diduga terlibat pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI. Hasil penyidikan
polisi ketika menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian ontrol CPS) menjemput
Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik,
lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan
Puspita, Surabaya.
Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya. Di
pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya
yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik
banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses
selanjutnya pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung Republik Indonesia
membebaskan para terdakwa dari segala dakwaan (bebas murni). Putusan
Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan
sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah
direkayasa.
ANALISA KASUS
Didalam Posisi kasus yang sudah ada di atas, adapun kasus tersebut masuk
dalam katagori pelanggaran ham Berat karena di dalam perincian mengenai
posisi kasus diatas terdapat salah satu unsure yang memuat mengenai unsureunsur pelanggaran HAM Berat yakni Pasal 9 UU No 26 Tahun 2000 ( Unsure
Kejahatan Kemanusiaan ), dan juga mengandung unsure pelanggaran hak asasi
manusia mengenai hak hidup sebagaimana yang tercantumkan dalam ICCPR.
Pasal 9 UU No 26 Tahun 2000, dalam pasal ini menyebutkan bahwa:
(sumber : http://www.kompasiana.com/asrinayuni/kasus-marsinah_54f5d2f2a33311d6508b45b4)
Kasus diatas menunjukkan masih banyaknya pelanggaran HAM di Indonesia. Pelanggaran HAM
adalah setiap perbuatan seseorang atau sekelompok orang baik disengaja maupun tidak

mengganggu atau mencabut hak asasi orang lain. Kasus diatas dapat digolongkan dalam
kejahatan terhadap kemanusiaan, yaitu salah satu kegiatan yang dilakukan sebagai bagian dari
serangan yang meluas atau sistematikdan serangan tersebut dijtujukan langsung terhadap
penduduk sipil berupa:

a.
b.
c.
d.
e.

Pembunuhan;
Pemusnahan;
Perbudakan;
Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;
Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara
sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum
internasional;
f. Penyiksaan;
g. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan
kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk
kekerasan seksual lain yang setara,
h. Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang
didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya,
agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal
sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional;
i. Penghilangan orang secara paksa;
j. Kejahatan apartheid. sistem pemisahan ras (id.wikipedia.org)
Adapun Mekanisme yang harus di ambil dalam penyelesaian kasus ini yakni
mekanisme yang mengarah kepada departemen apa yang berhak untuk
melakukan proses penyelesaian kasus ini. Departemennya yakni Komnas HAM
dan jaksa agung sebagai departemen tertinggi dalam penyelesaian kasus
pelanggaran HAM Berat. Adapun proses yang akan dilakukan oleh Komnas
HAM dan juga jaksa agung sendiri yakni sebagai berikut :
1. Tahap Penyelidikan ( Komnas HAM )
2. Tahap Penyidikan ( Jaksa Agung )
3. Tahap Penuntutan ( Jaksa Agung )
4. Pemeriksaan Di Pengadilan HAM

Sumber: Diolah dari UU No 26 Tahun 2000


Demikian tahap-tahap yang akan dilalui untuk
pelanggaran HAM Berat ini yakni Kasus Marsinah.

menyelesaikan

kasus

From : http://www.kompasiana.com/asrinayuni/kasus-marsinah_54f5d2f2a33311d6508b45b4
Upaya yang dapat dilakukan untuk menegakkan HAM dilakukan dalam dua bentuk, yaitu
pencegahan dan penindakan. Pencegahan merupakan upaya menciptakan kondisi yang
semakin kondusif bagi penghormatan HAM. Sedangkan penindakan merupakan upaya untuk
menangani kasus pelanggaran HAM berdasarkan ketentuan hokum yang berlaku. Dalam

upaya pencegahan terjadinya pelanggaran terhadap HAM, pemerintah melalui peraturan


perundang-undangan yang dibuatnya, dimasukkanlah masalah HAM tersebut. Selain itu,
juga dapat dilakukan dengan cara :
1. Pelayanan, konsultasi, pendampingan dan advokasi bagi masyarakat yang menghadapi
kasus HAM, biasanya dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum.
2. Penerimaan pengaduan dari korban pelanggaran HAM, Komnas HAM, lembaga bantuan
hukum, dan LSM HAM memiliki peranan penting.
3. Investigasi, yaitu pencarian data,informasi, fakta yang berkaitan dengan peristiwa
pelanggaran HAM, merupakan tugas Komnas HAM dan LSM HAM.
4. Penyelesaian perkara melali perdamaian, negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan penilaian
ahli, tugas Komnas HAM.
5. Penyelesaian pelanggaran HAM berat melalu proses peradilan di pengadilan HAM,
misalnya kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan.

From : http://ulviyani28.blogspot.co.id/2015/03/kasus-pelanggaran-hammarsinah_31.html
II.

ANALISIS

Kasus pembunuhan Marsinah merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM)


berat. Alasannya adalah karena telah melanggar hak hidup seorang manusia.
Dan
juga
karena
sudah
melanggar
dari
unsur
penyiksaan
dan
pembunuhan sewenang-wenang di luar putusan pengadilan terpenuhi. Dengan
demikian, kasus tersebut tergolong patut dianggap kejahatan kemanusiaan yang
diakui oleh peraturan hukum Indonesia sebagai pelanggaran HAM berat.
Tindakan pembunuhan merupakan upaya berlebihan dalam menyikapi tuntutan
marsinah dan kawan-kawan buruhnya. Marsinah dan kawan-kawannya berdemo
bukan tanpa sebab. Mereka berdemo untuk menuntut upah sepatutnya yang
sudah menjadi hak mereka sebagai pekerja karena memang setiap orang berhak
untuk bekerja serta mendapat imbalan dan diperlakuan yang adil dan layak
dalam hubungan kerja.
Menurut aturan yang berlaku tidak ada dasar hukum yang melarang aksi unjuk
rasa/demonstrasi. Seharusnya masalah yang dituntut oleh para buruh tersebut
bisa diselesaikan melalui cara perundingan, baik dengan mediasi ataupun secara
langsung oleh para pihak yang terkait. Jika terjadi aksi unjuk rasa, maka
seharusnya tindakan yang dilakukan dari pihak kontra adalah menyerap dan
mengkaji aspirasi buruh, sedangkan aparat keamanan berwajib menjamin
terciptanya komunikasi baik antarkedua belah pihak. Tapi hal ini tidak terjadi
dalam kasus Marsinah.
Menyelesaikan kasus Marsinah berarti harus mengurai banyak benang kusut,
benang kusut yang mungkin hanya dapat terurai dari tangan mereka yang
benar-benar peduli untuk mengurainya. Hilang dan matinya Marsinah sudah
barang tentu adalah sesuatu yang direkayasa sehingga sampai saat ini
kasusnya tidak pernah menemui titik terang. Pemerintah seharusnya mengadili
pelaku pembunuhan dengan hukum pidana yang sesuai peraturan yang
berlaku. Serta memberikan hak hak dan jaminan keselamatan kerja kepada
para tenaga kerja. Dan mempertegas peraturan mengenai keamanan ketenaga
kerjaan agar kasus sepeti Marsinah ini tidak terulang kembali.

III.

KESIMPULAN

Marsinah adalah salah seorang karyawati PT. Catur Putera Perkasa yang aktif
dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa
tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa
pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggul Angin Sidoarjo. 3 Mei 1993, para buruh
mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer (Koramil) setempat
turun tangan mencegah aksi buruh.
4 Mei 1993, para buruh mogok total mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk
perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp
2.250. Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima,
termasuk oleh buruh yang absen.Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah

masih aktif bersama rekan-rekannya


perundingan-perundingan.

dalam

kegiatan

unjuk

rasa

dan

Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang


melakukan perundingan dengan pihak perusahaan. Siang hari tanggal 5 Mei,
tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke
Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa
mengundurkan diri dari CPS.
Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk
kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan
keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah
itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan
Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah
menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993