Anda di halaman 1dari 15

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN

ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI


TAKE HOME TEST
HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN
Disusun Oleh:
Anisa Hapsari Kusumastuti (3613100020)

1. Anda ditugaskan untuk mencari data dan informasi mengenai rumah Radio Bung Tomo Jalan
Mawar 10-12 yang dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya dari berbagai sumber
(media cetak, internet, narasumber dan tinjauan lapangan).
a. Mendeskripsikan permasalahan yang terjadi ditinjau dari regulasi cagar budaya
Bangunan Studio Pemancar Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RBPRI) Bung
Tomo telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pemkot Surabaya dengan Surat
Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya No. 188.45/004/402.1.04/1998. Bangunan ini merupakan
rumah tempat Bung Tomo melakukan siaran radio kemerdekaan 10 Nopember 1945 yang terletak
di Jalan Mawar 10-20 Tegalsari, Surabaya. Tepat didepan rumah tersebut terpasang plakat
marmer yang menyebutkan bahwa bangunan itu merupakan bangunan cagar budaya yang
tertulis atas kepemilikan Pak Amin dengan tahun 1935. Hal tersebut diperjelas dalam Surat
keputusan (SK) Wali Kota Surabaya No. 188.45/0040402.1.04/1998 yang secara resmi telah
menetapkan rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya. Lahan Cagar budaya tersebut
diklasifikasikan sebagai bangunan cagar budaya tipe B yakni dapat dirawat dengan ketentuan
restorasi, yakni boleh dipugar namun tidak merubah bentuk aslinya, dapat dirobohkan apabila
kondisi bangunan telah rusak parah dan tidak layak berdiri.

Gambar 1.1. Rumah cagar budaya Radio Perjuangan milik Bung Tomo
Sumber: lensaindonesia.com

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
Informasi yang telah dihimpun suarasurabaya.net setelah melakukan survey lapangan,
ternyata Pak Amin, pemiliknya, telah menjual bangunan itu kepada PT. Jayanata Kosmetika Prima
yang juga berkantor di Jalan Mawar. Informasi lain juga telah didapatkan bahwa berkaitan dengan
bangunan tersebut, pengajuan izin renovasi yang harus mendapat rekomendasi dari dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya. Namun, pada pelaksanaannya telah mendapatkan izin
restorasi pada tanggal 12 Maret 2016 dan tidak sesuai dengan aturan renovasi, bangunan
tersebut justru dirobohkan dan kini rata dengan tanah. Pembongkaran Bangunan Radio Barisan
Pemberontakan Republik Indonesia (RBPI) Bung Tomo melanggar 2 aturan yakni Undang-Undang
No 11 Tahun 2010 tentang Pelestarian Cagar Budaya dan Peraturan Daerah No 5 Tahun 2005
tentang Pelestarian Bangunan dan Lingkungan Cagar Budaya.
b. Melakukan kajian kasus pembongkaran bangunan tersebut terhadap regulasi cagar
Budaya (Undang-undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Daerah) dalam kajian
tersebut, anda harus menyebutkan klausul pada pasal yang dilanggar. Untuk
mempermudah buatlah dengan sistem matriks.
Permasalahan diatas telah melanggar dua peraturan perundang-undangan, yaitu:
- Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Pelestarian Cagar Budaya
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor
01/PRT/M/2015 Tentang Bangunan Gedung Cagar Budaya yang Dilestarikan
- Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan Lingkungan
Cagar Budaya dan Keputusan Walikota Surabaya Nomor 59 Tahun 2007 Tentang
Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 Tahun 2005 Tentang Pelestarian
Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya.
Regulasi yang

Bab dan Pasal yang Dilanggar

Dilanggar

Telaahan Permasalahan

Pasal 66 Ayat 1
Setiap
Budaya,

orang
baik

bagiannya,
UU No 11 Tahun
2010 tentang

Seseorang
dilarang
seluruh

dari

merusak
maupun

kesatuan,

dengan

sengaja

Cagar

merusak bangunan cagar budaya

bagian-

baik sebagian maupun keseluruhan

kelompok,

tanpa izin dari Kepala Daerah.

dan/atau dari letak asal.


Pasal 81 Ayat 1

Perubahan fungsi ruang bangunan

Pelestarian Cagar

Setiap orang dilarang mengubah fungsi

cagar budaya harus mendapatkan

Budaya

ruang Situs Cagar Budaya dan/atau Kawasan

izin Kepala Darah. Apabila sesorang

Cagar Budaya peringkat nasional, peringkat

tanpa izin dari Kepala Daerah

provinsi, atau peringkat kabupaten/kota,

melakukan

baik seluruh maupun bagian-bagiannya,

bangunan

kecuali dengan izin Menteri, gubernur, atau

dikenakan sanksi.

perubahan
cagar

budaya

fungsi
akan

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
bupati/wali

kota

sesuai

dengan

tingkatannya.
Pasal 10 ayat 4

Bangunan cagar budaya memiliki

Penyelenggaraan bangunan gedung cagar

arti sangat bernilai sehingga harus

budaya yang dilestarikan harus mengikuti

dijaga

prinsip:

penyelenggaraannya, hal ini tidak

dengan

baik

dalam

- sedikit mungkin melakukan perubahan;

sesuai dengan kasus Rumah Radio

- sebanyak

Bung Tomo di Jalan Mawar 10-12

mungkin

mempertahankan

keaslian; dan

Surabaya dimana bangunan cagar

- tindakan perubahan dilakukan dengan


penuh kehati-hatian.

budaya tersebut justru dirobohkan


secara keseluruhan dan dijual pada
PT. Jayanata Kosmetika Prima.

Pasal 25 ayat 2

Peraturan Menteri

Berdasarkan

regulasi

tersebut,

seharusnya

pelaku

Setiap orang tanpa izin Menteri, Gubernur,

sudah

atau

pembongkaran Rumah Radio Bung

Bupati/Walikota

mengubah

fungsi

ruang bangunan gedung cagar budaya yang

Tomo

dilestarikan dikenakan sanksi sesuai dengan

Surabaya dikenakan sanksi karena

ketentuan peraturan perundang-undangan

pembongkaran

tentang Cagar Budaya.

tidak sesuai dengan izin yang

Pekerjaan Umum

di

Jalan

Mawar
yang

10-12

dilakukan

diberikan oleh pemkot.

Dan Perumahan

Pasal 26

Melakukan

Rakyat Republik

(1) Pembongkaran bangunan gedung cagar

terhadap suatu bangunan terdapat

Indonesia Nomor

budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal

beberapa ketentuan tapi ketentuan

01/PRT/M/2015

10 ayat (1) huruf e dapat dilakukan apabila

tersebut

Tentang Bangunan

terdapat kerusakan struktur bangunan yang

kondisi Rumah Radio Bung Tomo di

tidak

Jalan Mawar 10-12 Surabaya saat

Gedung Cagar

dapat

diperbaiki

lagi

serta

Budaya yang

membahayakan pengguna, masyarakat, dan

Dilestarikan

lingkungan.

pembongkaran

tidak

sesuai

dengan

ini.

(2) Pembongkaran bangunan gedung cagar


budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan pada bangunan gedung cagar
budaya yang telah dihapus penetapan
statusnya sebagai bangunan gedung cagar
budaya.
(3) Penghapusan status sebagai bangunan
gedung cagar budaya dilakukan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan tentang Cagar Budaya.
(4) Pembongkaran sebagaimana dimaksud
pada

ayat

persetujuan

(1)

harus

pemerintah

mendapatkan
kabupaten/kota,

pemerintah provinsi untuk DKI Jakarta, atau


Menteri untuk bangunan gedung cagar
budaya dengan fungsi khusus sesuai rencana

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
teknis pembongkaran yang telah mendapat
pertimbangan dari TABG-CB.
Bab

(Kriteria,

Tolok

ukur

dan

Penggolongan), Pasal 15
Konservasi

bangunan

Pada kasus Rumah radio Bung


Tomo ini telah ditetapkan sebagai

cagar

budaya

bangunan Cagar Budaya dengan

golongan B (restorasi dan rehabilitasi atau

Tipe B.

rekonstruksi) dilaksanakan sebagai berikut:

sebagaimana

tercantum

klausul

melarang

- Bangunan dilarang dibongkar kecuali

Penggolongan
ini

Tipe B
dalam
adanya

apabila kondisi fisik bangunan buruk,

pembongkaran apabila kondisi fisik

roboh, terbakar atau tidak layak tegak,

masih baik. Pada kasus rumah radio

sehingga

bung tomo pelanggararan pasal ini

dapat

dilakukan

pembongkaran.

termuat pada poin A.

- Dalam hal bangunan cagar budaya


sudah tidak utuh lagi maka apabila
dilakukan pembangunan harus sesuai
dengan bentuk aslinya dan tidak boleh
membongkar bagian bangunan yang
masih ada.
Peraturan Daerah
Kota Surabaya
Nomor 5 Tahun
2005 Tentang
Pelestarian
Bangunan
dan/atau
Lingkungan Cagar
Budaya

- Pemeliharaan dan perawatan bangunan


cagar budaya harus dilakukan tanpa
mengubah tampang bangunan, warna
dan detail serta ornamen bangunan.
- Dalam upaya restorasi/rehabilitasi atau
rekonstruksi

dimungkinkan

adanya

perubahan tata ruang bagian dalam,


sepanjang

tidak

mengubah

struktur

utama bangunan.
- Di dalam persil atau lahan bangunan
cagar budaya dimungkinkan adanya
bangunan tambahan yang menjadi satu
kesatuan yang utuh dengan bangunan
utama.
Bab X (Perlindungan, Pemeliharaan dan

Pada

Pemugaran), Pasal 31 Ayat 1 dan 2

penggolongan

bangunan

menentukan

treatment

1. Setiap

orang

wajib

memelihara

kalusul

pasal

ini

bangunan dan/atau lingkungan cagar

pemeliharaan yang berbeda beda.

budaya.

Pada kasus rumah radio bung

2. Pemeliharaan sebagaimana dimaksud


pada

ayat

penggolongan

1,

berdasarkan
bangunan

tomo,

PT

Jayanata

selaku

pada

pengelola lahan tidak memelihara

dan/atau

dengan baik kondisi bangunan

lingkungan cagar budaya yang telah

cagar

budaya tersebut,

ditetapkan.

ironisnya terjadi pembongkaran.


sebagian

namun

Bab X (Perlindungan, Pemeliharaan dan

Pembongkaran

Pemugaran), Pasal 33 dan 34 ayat 1 dan 2

seluruh bangunan cagar budaya

atau

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
Pasal 33:
Setiap

harus

orang

yang

akan

membongkar

mempunyai

pembingkaran

dari

izin

Tim

Namun,

Cagar

sebagian atau melakukan demolisi terhadap

Budaya.

adanya

bangunan dan /atau lingkungan cagar

pembongkaran rumah radio bung

budaya harus memiliki Izin Membongkar.

tomo tidak mendapatkan surat ijin

Pasal 34 :

pembongkaran,

namun

berupa

1. Permohonan izin sebagaimana dimaksud

surat rekomendasi renovasi. Tentu

dalam Pasal 32 dan Pasal 33 diajukan

saja hal ini tidak sesuai dengan ijin

kepada Kepala Daerah melalui Pejabat

yang diajukan kepada tim cagar

yang ditunjuk .

budaya.

2. Pemberian izin sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 32 dan Pasal 33 harus
mendapat pertimbangan terlebih dahulu
dari Tim Cagar Budaya
Bab XI (Hak dan Kewajiban Pemilik,

Pemeliharaan

Penghuni dan Pengelola), Pasal 36 ayat 1

cagar budaya tidk dilakukan oleh

Setiap orang yang memiliki, menghuni

pengelola bangunan cagar budaya

dan/atau mengelola bangunan dan/atau

ini.

lingkungan cagar budaya wajib melindungi,

ditelantarkan

memelihara dan melestarikan bangunan

pembongkaran, hal ini menyalahi

dan/atau lingkungan cagar budaya tersebut.

klausul dalam pasal ini.

Bab XIV (Pengawasan), Pasal 39 ayat 2

Pajabat berwenang dalam kasus ini

Untuk

adalah

pelaksanaan

tugas

sebagaimana

Rumah

dinas

dan

radio

pengelolaan

bung

dan

tomo

dilakukan

kebudayaan

dan

dimaksud pada ayat (1), Pejabat yang

pariwisata serta tim cagar budaya

ditunjuk

mengadakan

lamban dalam pemeriksaan dan

pemeriksaan dan pengawasan terhadap

berwenang

pengawasan dari izin yang telah

berbagai kegiatan menyangkut bangunan

diberikan. Pembongkaran rumah

dan/atau lingkungan cagar budaya.

radio bung tomo diketahui setelah


adanya pemberitaan media dan
keluhan masyarakat.

Keputusan

Bab

Walikota Surabaya

Pelaksanaan Demolisi)

Nomor 59 Tahun

Setiap

membongkar

cagar budaya. Fenomena yang

2007

sebagian atau melakukan demolisi terhadap

terjadi di lapangan, rumah radio

bangunan

cagar

bung tomo dilakukan demolisi

izin

yang tidak disarankan dan belum

membongkar/merobohkan yang dikeluarkan

adanya perizinan dari tim cagar

oleh

budaya.

Tentang

Pelaksanaan
Peraturan
Kota
Nomor

Daerah
Surabaya

2005

Tahun
Tentang

Pelestarian

IX

(Prosedur

orang

Tata

lingkungan

harus

memiliki

Kepala

Cara

Perbedaan eksekusi dari Perizinan


renovasi yang telah dikeluarkan tim

akan

dan/atau

budaya,

Permukiman

yang

dan

Dinas

Tata

tembusan

Kota

Kepala

dan
Dinas

Kebudayaan dan Pariwisata.

Bangunan dan/atau
Lingkungan

Cagar

Budaya.

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
c.

Berdasarkan klausul dalam regulasi cagar budaya tersebut apa sanksi yang sesuai untuk
kasus pembongkaran itu ? Jelaskan jawaban anda.
Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang telah ditelaah diatas, sanksi-sanksi
yang semestinya berlaku bagi pelanggar perundang-undangan adalah sebagai berikut:
-

Pasal 105 Undang-Undang No. 11/2010 tentang Cagar Budaya. Merujuk pasal itu, setiap
orang yang melakukan perusakan cagar budaya bisa diancam pidana penjara minimal 1
tahun dan maksimal lima tahun, dan/atau denda minimal Rp 500 juta dan maksimal Rp5
miliar.

Pasal 110 Undang-undang No. 11/2010 tentang Cagar Budaya. Merujuk pasal itu, setiap
orang yang tanpa izin Menteri, gubernur, atau bupati/wali kota mengubah fungsi ruang
Situs Cagar Budaya dan/atau Kawasan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
81 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling

sedikit

Rp100.000.000,00

(seratus

juta

rupiah)

dan

paling

banyak

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).


-

Pasal 42 Peraturan Daerah Kota Surabaya No 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan
dan/atau Lingkungan Cagar Budaya, setiap orang yang melanggar ketentuan
pemanfaatan bangunan tanpa izin Kepala Daerah akan dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah).

2. Anda ditugaskan membaca buku Hukum Agraria Indonesia oleh Prof. Boedi Harsono
(boleh dari berbagai terbitan). Kemudian jawablah pertanyaan berikut ini:
a. Apa yang disebut tanah ulayat? Mengapa sesudah tahun 1960 tanah ulayat di saneer?
Berdasarkan telaahan buku Hukum Agraria Indonesia yang mengacu Undang-Undang Pokok
Agraria Pasal 3 Tahun 1960, Tanah ulayat merupakan tanah yang didiami oleh kelompok orangorang yang merupakan warga suatu masyarakat hukum adat tertentu dan merupakan wilayah
daerah kekuasaan masyarakat hukum yang bersangkutan, baik sudah dihaki oleh seseorang
maupun yang belum yang disadari sebagai kepunyaan bersama para warga masyarakat itu serta
diakui eksistensi dan pelaksanaannya sepanjang kenyataannya masih ada. Dimana tanah ulayat
yang diakui eksistensinya adalah apabila masyarakat hukum adat tertentu yang bersangkutan
memang masih ada. Jika memang masih ada, pelaksanaanya harus sedemikian rupa sesuai
dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan persatuan bangsa. Tanah ulayat
ini pada umumnya tidak memiliki batas hak ulayat masyarakat hukum adat territorial secara
pasti.

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
Sesudah tahun 1960 tanah ulayat mengalami saneer atau penyaringan. Bahwa dalam UUPA
dan Hukum Tanah Nasional, Tanah Ulayat tidak menghapus Hak Ulayat, tetapi juga tidak akan
mengaturnya. Hal ini dilakukan karena mengatur hak ulayat akan berakibat melanggengkan
atau

melestarikan

eksistensinya.

Padahal

perkembangan

masyarakat

menunjukkan

kecendurungan akan dihapusnya hak ulayat tersebut melalui proses alamiah karena pengaruh
intern berupa menjadi kuatnya hak-hak perorangan/individual dalam masyarakat hukum adat
yang bersangkutan (Uraian UUPA Pasal 85 dan 126 E). dimana seringkali kenyataan itu diperkuat
dengan pengaruh ekstern, terutama kebijakan dan tindakan pihak penguasa dalam usaha
memperoleh tanah yang merupakan tanah ulayat untuk berbagai kepentingan pembangunan,
baik oleh Pemerintah ataupun pengusaha swasta.
b. Apa saja macam tanah ulayat yang pernah ada di Indonesia?
Berdasarkan telaahan buku Hukum Agraria Indonesia yang telah mengutip dari buku Ter
Haar, Beginselen en stelsel van het adatrecht, macam-macam tanah ulayat adalah sebagai
berikut:
-

Tanah wilayah yang memberi makan (pertuanan Ambon)

Tempat yang memberi makan (penyampeto Kalimantan)

Tempat yang dibatasi (pewatasan Kalimantan, wewengkon Jawa, prabumian Bali)

Tanah yang terlarang bagi oranglain (totabuan Bolaang Mangondouw)

Torluk (Angkola)

Limpo (Sulawesi Selatan)

Muru (Buru)

Payar (Bali)

Paer (Lombok)

Ulayat (Minangkabau)

Menurut hukum adat, terdapat berbagai jenis tanah, yang diberi nama menurut cara
memperolehnya atau menurut tujuan penggunaannya.

Berdasarkan cara memperolehnya


-

Tanah yasan/tanah trukah/tanah truko, yaitu tanah yang diperoleh seseorang


dengan cara membuka tanah sendiri (membuka hutan)

Tanah pusaka/tanah tilaran, yaitu tanah yang diperoleh seseorang dari pemberian
(hibah) warisan orangtuanya

Tanah pekulen/tanah gogolan, yaitu tanah yang diperoleh seseorang dari


pemberian desanya.

Berdasarkan tujuan penggunaannya

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
-

Tanah bengkok/tanah pituwas/tanah lungguh, yaitu tanah milik desa (persekutuan


hukum) yang diserahkan kepada seseorang yang memegang jabatan pemerintah
didesa itu untuk diambil hasilnya sebagai upah jabatannya

Tanah suksara/tanah kemakmuran, yaitu tanah milik desa (persekutuan hukum)


yang diusahakan/digarap untuk kepentingan desa atau untuk kesejahteraan
masyarakat desanya (jawa, bondo deso, sunda, titisara).

c.

Apa saja macam tanah ulayat yang senyatanya masih ada di Indonesia?
Macam tanah ulayat yang hingga kini masih ada di Indonesia contohnya berada di
Indonesia bagian barat, yaitu sesuai dengan hukum adat Minangkabau, bahwa tanah ulayat
dibagi menjadi beberapa tipe, diantaranya adalah:

Tanah Ulayat Nagari, yaitu tanah yang secara turun temurun dipergunakan untuk
kepentingan

bersama

dalam

satu

nagari

dimana

pengawasan

terhadap

pemanfaatannya berada dibawah kekuasaan wali nagari.

Tanah Ulayat Suku, yaitu tanah yang secara turun temurun dikelola oleh suku dan
dipergunakan untuk kepentingan suku dan pengawasan serta pemanfaatannya
dipegang oleh kepala suku

Tanah Ulayat Kaum, yaitu tanah yang diperoleh secara turun temurun dan
dimanfaatkan secara bersama oleh suatu kaum dimana pengawasannya berada
ditangan mamak kepala waris

Tanah Ulayat Pencaharian, yaitu tanah yang diperoleh berdasarkan pembelian

Contoh studi kasus tanah ulayat yang senyatanya masih ada di Indonesia

Tanah Ulayat di Provinsi Papua


Dalam telaahan Buku Agraria Indonesia yang membahas Undang-Undang Nomor 21

Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (LNRI 2001-135, TLNRI 3151; Boedi
Harsono, ibid, K9), terdapat ketentuan mengenai Hak Ulayat bagi masyarakat Papua. Dimana
dalam Pasal 43 berisi Pemerintah Provinsi Papua wajib mengakui, menghormaati,
melindungi, memberdayakan, dan mengembangkan hak-hak masyarakat

adat dengan

berpedoman pada ketentuan peraturan hukum yang berlaku. Hak-hak masyarakat hukum
adat tersebut meliputi hak ulayat dan hak perorangan masyarakat hukum adat yang
bersangkutan. Dijelaskan lebih lanjut melalui Pasal 38 ayat (2) UU Otsus Papua yang
menyatakan bahwa usaha-usaha perekonomian di Provinsi Papua yang memanfaatkan
sumber daya alam harus dilakukan dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat adat,
memberikan jaminan kepastian hukum bagi pengusaha, dan pembangunan berkelanjutan
yang pengaturannya ditetapkan dengan Perdasus. Serta lebih lanjut Pasal 43 UU Otonomi

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
Khusus Papua juga menyebutkan bahwa dalam UU tersebut memberikan legitimasi adanya
pengakuan dari Pemerintah Provinsi Papua terhadap hak ulayat masyarakat hukum adat di
Papua dimana pada pasal tersebut membahas mengenai perlindungan terhadap hak-hak
masyarakat adat.
Hal tersebut didukung bahwa pada tahun 2008, Pemerintah Provinsi Papua
menerbitkan Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua Nomor 23 Tahun 2008 tentang Hak
Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak Perorangan Warga Masyarakat Hukum Adat Atas
Tanah. Tujuan dari diterbitkannya Perda Hak Ulayat ini adalah sebagai bentuk pengakuan dan
perlindungan dari Pemerintah Provinsi Papua terhadap hak ulayat masyarakat hukum adat.
Diharapkan dengan adanya Perda Hak Ulayat ini, peran dari masyarakat adat Papua dalam
pembangunan di Papua semakin diperhitungkan dan dilibatkan.

Tanah ulayat yang masih ada di desa-desa Pulau Jawa dapat dibedakan menjadi
beberapa tipe, antara lain:
-

Tanah bondo desa, dimana merupakan tanah yang bertuanan tanahnya berada
ditangan desa, tetapi penggarapan atas tanah dilakukan oleh penduduk desa
tertentu yang memperoleh hakatas penggarapan tanah dengan cara menyewa
tanah tersebut

Tanah milik rakyat, dimana tanah milik perseorangan dari usaha sendiri atau
diperoleh dari tanah morowito

Tanah bengkok, dimana tanah milik desa pertuanan tanahnya diserahkan pada
para pejabat desa selama memangku jabatannya dan merupakan imbalan atas jasa
terhadap jabatannya yang diperoleh terhadap hasil penggarapan tanah bengkok
tersebut.

3. Deskripsikan Judul dan lokasi tugas anda masing masing, kemudian jawablah pertanyaan
dibawah ini:
Dalam memenuhi Tugas 3 Mata Kuliah Hukum dan Administrasi Perencanaan yang berkaitan
dengan implementasi peraturan perundang-undangan, diambil studi kasus yang dituliskan berikut:
Judul Tugas

: Evaluasi dalam Implementasi Peraturan Perundang-Undangan Cagar Budaya


dalam Konflik Pembongkaran Rumah Radio Bung Tomo

Lokasi

: Jalan Mawar 10-20 Tegalsari, Surabaya

a. Apa masalah regulasi yang diidentifikasikan? Jawaban harus dikaitkan dengan klausul
dalam regulasi.
Bangunan Studio Pemancar Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RBPRI) Bung
Tomo telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pemkot Surabaya dengan Surat

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya No. 188.45/004/402.1.04/1998. Bangunan ini merupakan
rumah tempat Bung Tomo melakukan siaran radio kemerdekaan 10 Nopember 1945 yang terletak
di Jalan Mawar 10-20 Tegalsari, Surabaya. Tepat didepan rumah tersebut terpasang plakat
marmer yang menyebutkan bahwa bangunan itu merupakan bangunan cagar budaya yang
tertulis atas kepemilikan Pak Amin dengan tahun 1935. Hal tersebut diperjelas dalam Surat
keputusan (SK) Wali Kota Surabaya No. 188.45/0040402.1.04/1998 yang secara resmi telah
menetapkan rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya. Lahan Cagar budaya tersebut
diklasifikasikan sebagai bangunan cagar budaya tipe B yakni dapat dirawat dengan ketentuan
restorasi, yakni boleh dipugar namun tidak merubah bentuk aslinya, dapat dirobohkan apabila
kondisi bangunan telah rusak parah dan tidak layak berdiri
Berdasarkan informasi yang telah dihimpun suarasurabaya.net setelah melakukan survey
lapangan, ternyata Pak Amin, pemiliknya, telah menjual bangunan cagar budaya itu kepada PT.
Jayanata Kosmetika Prima yang juga berkantor di Jalan Mawar. Informasi lain juga telah
didapatkan bahwa berkaitan dengan bangunan tersebut, pengajuan izin renovasi yang harus
mendapat rekomendasi dari dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya. Namun, pada
pelaksanaannya telah mendapatkan izin restorasi pada tanggal 12 Maret 2016 dan tidak sesuai
dengan aturan renovasi, bangunan tersebut justru dirobohkan dan kini rata dengan tanah.
Pembongkaran Bangunan Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RBPI) Bung Tomo
melanggar 2 aturan yakni Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Pelestarian Cagar Budaya
dan Peraturan Daerah No 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan Lingkungan Cagar
Budaya.
Permasalahan tersebut telah melanggar dua peraturan perundang-undangan, yaitu:
- Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Pelestarian Cagar Budaya
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor
01/PRT/M/2015 Tentang Bangunan Gedung Cagar Budaya yang Dilestarikan
- Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan Lingkungan
Cagar Budaya dan Keputusan Walikota Surabaya Nomor 59 Tahun 2007 Tentang
Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 Tahun 2005 Tentang Pelestarian
Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya.
b. Bagaimana tautan masalah tersebut dengan pasal-pasal yang gayut (relevan)? Jawab
dengan matriks.
Regulasi yang
Dilanggar

Bab dan Pasal yang Dilanggar

Telaahan Permasalahan

10

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
Pasal 66 Ayat 1
Setiap

Seseorang

orang

Budaya,

dilarang

baik

bagiannya,

seluruh

dari

merusak
maupun

kesatuan,

dengan

sengaja

Cagar

merusak bangunan cagar budaya

bagian-

baik sebagian maupun keseluruhan

kelompok,

tanpa izin dari Kepala Daerah.

dan/atau dari letak asal.


UU No 11 Tahun

Pasal 81 Ayat 1

Perubahan fungsi ruang bangunan

2010 tentang

Setiap orang dilarang mengubah fungsi

cagar budaya harus mendapatkan

Pelestarian Cagar

ruang Situs Cagar Budaya dan/atau Kawasan

izin Kepala Darah. Apabila sesorang

Budaya

Cagar Budaya peringkat nasional, peringkat

tanpa izin dari Kepala Daerah

provinsi, atau peringkat kabupaten/kota,

melakukan

baik seluruh maupun bagian-bagiannya,

bangunan

kecuali dengan izin Menteri, gubernur, atau

dikenakan sanksi.

bupati/wali

kota

sesuai

perubahan
cagar

fungsi

budaya

akan

dengan

tingkatannya.
Pasal 10 ayat 4

Bangunan cagar budaya memiliki

Penyelenggaraan bangunan gedung cagar

arti sangat bernilai sehingga harus

budaya yang dilestarikan harus mengikuti

dijaga

prinsip:

penyelenggaraannya, hal ini tidak

dengan

baik

dalam

- sedikit mungkin melakukan perubahan;

sesuai dengan kasus Rumah Radio

- sebanyak

Bung Tomo di Jalan Mawar 10-12

mungkin

mempertahankan

keaslian; dan

Surabaya dimana bangunan cagar

- tindakan perubahan dilakukan dengan


penuh kehati-hatian.

budaya tersebut justru dirobohkan


secara keseluruhan dan dijual pada
PT. Jayanata Kosmetika Prima.

Peraturan Menteri

Pasal 25 ayat 2

Pekerjaan Umum

Setiap orang tanpa izin Menteri, Gubernur,

sudah

Dan Perumahan

atau

pembongkaran Rumah Radio Bung

Rakyat Republik

ruang bangunan gedung cagar budaya yang

Tomo

Indonesia Nomor

dilestarikan dikenakan sanksi sesuai dengan

Surabaya dikenakan sanksi karena

01/PRT/M/2015

ketentuan peraturan perundang-undangan

pembongkaran

tentang Cagar Budaya.

tidak sesuai dengan izin yang

Tentang Bangunan

Berdasarkan

Bupati/Walikota

mengubah

fungsi

Gedung Cagar

di

regulasi

tersebut,

seharusnya

pelaku

Jalan

Mawar
yang

10-12

dilakukan

diberikan oleh pemkot.

Budaya yang

Pasal 26

Melakukan

Dilestarikan

(1) Pembongkaran bangunan gedung cagar

terhadap suatu bangunan terdapat

budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal

beberapa ketentuan tapi ketentuan

10 ayat (1) huruf e dapat dilakukan apabila

tersebut

terdapat kerusakan struktur bangunan yang

kondisi Rumah Radio Bung Tomo di

tidak

Jalan Mawar 10-12 Surabaya saat

dapat

diperbaiki

lagi

serta

membahayakan pengguna, masyarakat, dan

pembongkaran

tidak

sesuai

dengan

ini.

lingkungan.
(2) Pembongkaran bangunan gedung cagar
budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan pada bangunan gedung cagar
budaya yang telah dihapus penetapan

11

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
statusnya sebagai bangunan gedung cagar
budaya.
(3) Penghapusan status sebagai bangunan
gedung cagar budaya dilakukan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan tentang Cagar Budaya.
(4) Pembongkaran sebagaimana dimaksud
pada

ayat

persetujuan

(1)

harus

pemerintah

mendapatkan
kabupaten/kota,

pemerintah provinsi untuk DKI Jakarta, atau


Menteri untuk bangunan gedung cagar
budaya dengan fungsi khusus sesuai rencana
teknis pembongkaran yang telah mendapat
pertimbangan dari TABG-CB.
Bab

(Kriteria,

Tolok

ukur

dan

Penggolongan), Pasal 15
Konservasi

bangunan

Tomo ini telah ditetapkan sebagai


cagar

budaya

Tipe B.

rekonstruksi) dilaksanakan sebagai berikut:

sebagaimana

tercantum

klausul

melarang

Nomor 5 Tahun
2005 Tentang
Pelestarian
Bangunan
dan/atau
Lingkungan Cagar
Budaya

Penggolongan
ini

Tipe B
dalam
adanya

apabila kondisi fisik bangunan buruk,

pembongkaran apabila kondisi fisik

roboh, terbakar atau tidak layak tegak,

masih baik. Pada kasus rumah radio

sehingga

bung tomo pelanggararan pasal ini

dapat

dilakukan

pembongkaran.

Kota Surabaya

bangunan Cagar Budaya dengan

golongan B (restorasi dan rehabilitasi atau


- Bangunan dilarang dibongkar kecuali

Peraturan Daerah

Pada kasus Rumah radio Bung

termuat pada poin A.

- Dalam hal bangunan cagar budaya


sudah tidak utuh lagi maka apabila
dilakukan pembangunan harus sesuai
dengan bentuk aslinya dan tidak boleh
membongkar bagian bangunan yang
masih ada.
- Pemeliharaan dan perawatan bangunan
cagar budaya harus dilakukan tanpa
mengubah tampang bangunan, warna
dan detail serta ornamen bangunan.
- Dalam upaya restorasi/rehabilitasi atau
rekonstruksi

dimungkinkan

adanya

perubahan tata ruang bagian dalam,


sepanjang

tidak

mengubah

struktur

utama bangunan.
- Di dalam persil atau lahan bangunan
cagar budaya dimungkinkan adanya
bangunan tambahan yang menjadi satu
kesatuan yang utuh dengan bangunan
utama.

12

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
Bab X (Perlindungan, Pemeliharaan dan

Pada

Pemugaran), Pasal 31 Ayat 1 dan 2

penggolongan

bangunan

menentukan

treatment

3. Setiap

orang

wajib

memelihara

kalusul

pasal

ini

bangunan dan/atau lingkungan cagar

pemeliharaan yang berbeda beda.

budaya.

Pada kasus rumah radio bung

4. Pemeliharaan sebagaimana dimaksud


pada

ayat

1,

penggolongan

berdasarkan
bangunan

tomo,

PT

Jayanata

selaku

pada

pengelola lahan tidak memelihara

dan/atau

dengan baik kondisi bangunan

lingkungan cagar budaya yang telah

cagar

budaya tersebut,

namun

ditetapkan.

ironisnya terjadi pembongkaran.

Bab X (Perlindungan, Pemeliharaan dan

Pembongkaran

Pemugaran), Pasal 33 dan 34 ayat 1 dan 2

seluruh bangunan cagar budaya

Pasal 33:

harus

Setiap

orang

yang

akan

membongkar

sebagian

atau

mempunyai

pembingkaran

dari

izin

Tim

Namun,

Cagar

sebagian atau melakukan demolisi terhadap

Budaya.

adanya

bangunan dan /atau lingkungan cagar

pembongkaran rumah radio bung

budaya harus memiliki Izin Membongkar.

tomo tidak mendapatkan surat ijin

Pasal 34 :

pembongkaran,

namun

berupa

4. Permohonan izin sebagaimana dimaksud

surat rekomendasi renovasi. Tentu

dalam Pasal 32 dan Pasal 33 diajukan

saja hal ini tidak sesuai dengan ijin

kepada Kepala Daerah melalui Pejabat

yang diajukan kepada tim cagar

yang ditunjuk .

budaya.

5. Pemberian izin sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 32 dan Pasal 33 harus
mendapat pertimbangan terlebih dahulu
dari Tim Cagar Budaya
Bab XI (Hak dan Kewajiban Pemilik,

Pemeliharaan

Penghuni dan Pengelola), Pasal 36 ayat 1

cagar budaya tidk dilakukan oleh

Setiap orang yang memiliki, menghuni

pengelola bangunan cagar budaya

dan/atau mengelola bangunan dan/atau

ini.

lingkungan cagar budaya wajib melindungi,

ditelantarkan

memelihara dan melestarikan bangunan

pembongkaran, hal ini menyalahi

dan/atau lingkungan cagar budaya tersebut.

klausul dalam pasal ini.

Bab XIV (Pengawasan), Pasal 39 ayat 2

Pajabat berwenang dalam kasus ini

Untuk

adalah

pelaksanaan

tugas

sebagaimana

Rumah

dinas

dan

radio

pengelolaan

bung

dan

tomo

dilakukan

kebudayaan

dan

dimaksud pada ayat (1), Pejabat yang

pariwisata serta tim cagar budaya

ditunjuk

mengadakan

lamban dalam pemeriksaan dan

pemeriksaan dan pengawasan terhadap

berwenang

pengawasan dari izin yang telah

berbagai kegiatan menyangkut bangunan

diberikan. Pembongkaran rumah

dan/atau lingkungan cagar budaya.

radio bung tomo diketahui setelah


adanya pemberitaan media dan
keluhan masyarakat.

Keputusan

Bab

IX

(Prosedur

Walikota Surabaya

Pelaksanaan Demolisi)

dan

Tata

Cara

Perbedaan eksekusi dari Perizinan


renovasi yang telah dikeluarkan tim

13

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
Nomor 59 Tahun

Setiap

membongkar

cagar budaya. Fenomena yang

2007

sebagian atau melakukan demolisi terhadap

terjadi di lapangan, rumah radio

bangunan

cagar

bung tomo dilakukan demolisi

izin

yang tidak disarankan dan belum

membongkar/merobohkan yang dikeluarkan

adanya perizinan dari tim cagar

oleh

budaya.

Tentang

Pelaksanaan
Peraturan
Kota

Daerah
Surabaya

Nomor

2005

Tahun
Tentang

Pelestarian

orang

yang

akan

dan/atau

lingkungan

harus

memiliki

budaya,
Kepala

Permukiman

Dinas

Tata

tembusan

Kota

Kepala

dan
Dinas

Kebudayaan dan Pariwisata.

Bangunan dan/atau
Lingkungan

Cagar

Budaya.

4. Pengendalian dalam implementasi rencana terdiri dari peraturan zonasi, perizinan, insentif
dan disinsentif serta sanksi.
a. Sebutkan syarat PZ yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menerbitkan perizinan
(3). Jelaskan masing-masing.
Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan upaya untuk mencapai tertib tata ruang, sesuai
dengan UUPR 26 Th 2007 insttrumen pengendalian pemanfaatan ruang pada melipurti 4 jenis
, yaitu penetapan peraturan zonasi, perijinan, pemberian insentif dan disinsentif, pengenaan
sanksi.
Adapun syarat Peraturan Zonasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menerbitkan
perizinan menurut penjelasan pasal 36 ayat (1) UU No. 26 Tahun 2007 meliputi :
Syarat mengenai ketentuan amplop ruang. Amplop ruang sendiri terdiri atas koefisien dasar
bangunan (KDB), koefisien lantai bangunan (KLB), koefisien dasar hijau (KDH), dan garis
sempadan bangunan (GSB).
Syarat ketentuan penyediaan prasarana dan sarana. Syarat ini digunakan sebagai kelengkapan
dasar fisik bangunan yang mendukung berfungsinya zona secara optimal.
Syarat ketentuan lain yang dibutuhkan. Syarat ini berupa ketentuan pemanfaatan ruang yang
terkait dengan keselamatan penerbangan, pembangunan pemancar alat komunikasi, dan
pembangunan jaringan listrik tegangan tinggi.
b. Apa saja jenis sanksi yang dapat dikenakan kepada pelanggar RTR? Jelaskan dalam hal
mana sanksi-sanksi tersebut dapat diberikan! Untuk menjawab pertanyaan ini baca UU
26 tahun 2007 dan PP no 15 tahun 2010 tentang penyelenggaraan penataan ruang.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 Pasal 182 Ayat (1), setiap orang yang
melakukan pelanggaran dibidang penataan ruang dikenakan sanksi administratif. Adapun

14

HUKUM DAN ADMINISTRASI PERENCANAAN


ANISA HAPSARI KUSUMASTUTI
pelanggaran yang seperti apa, yaitu menurut Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 bahwa
pelanggaran di bidang penataan ruang yang dimaksud meliputi :
1) Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang seperti memanfaatkan
ruang dengan izin pemanfaatan ruang di lokasi yang tidak sesuai dengan peruntukannya,
memanfaatkan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang dilokasi yang sesuai peruntukannya,
dan/atau memanfaatkan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang di lokasi yang tidak sesuai
peruntukannya.
2) Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diberikan oleh
pejabat berwenang seperti tidak menindaklanjuti izin pemanfaatan ruang yang telah
dikeluarkan dan/atau memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan fungsi ruang yang tercantum
dalam izin pemanfaatan ruang.
3) Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan persyaratan izin yang diberikan oleh pejabat
yang berwenang seperti melanggar batas sempadan yang telah ditentukan, melanggar
ketentuan koefisien lantai bangunan (KLB) yang telah ditentukan, melanggar ketentuan
koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien dasar hijau (KDH), melakukan perubahan
sebagian atau keseluruhan fungsi bangunan, melakukan perubahan sebagian atau
keseluruhan fungsi lahan, dan/atau tidak menyediakan fasilitas sosial atau fasilitas umum
sesuai dengan persyaratan dalam izin pemanfaatan ruang.
4) Mengahalangi akses terhadap kawasan yang dinyatakan oleh peraturan perundangundangan sebagai milik umum seperti menutup akses ke pesisir pantai, sungai, danau, situ,
dan sumber daya alam serta prasarana publik, menutup akses terhadap sumber air, menutup
aksesterhadap taman dan ruang terbuka hijau, menutup akses terhadap fasilitas pejalan kaki,
menutup akses terhadap lokasi dan jalur evakuasi bencana, dan menutup akses terhadap
jalan umum tanpa izin pejabat yang berwenang.
Sedangkan untuk jenis sanksi yang dikenakan kepada pelanggar rencana tata ruang terdapat
pada Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Pasal 63 dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010
Pasal 182 Ayat (3) yang meliputi peringatan tertulis, penghentian sementara kegiatan,
penghentian sementara pelayanan umum, penutupan lokasi, pencabutan izin, pembatalan izin,
pembongakaran bangunan, pemulihan fungsi ruang, dan denda administratif. Apabila surat
peringatan tertulis yang dikeluarkan kepada pelanggar rencana tata ruang diabaikan, maka
pejabat yang berwenang melakukan tindakan berupa pengenaan sanksi administratif lainnya
seperti penghentian sementara kegiatan atau bahkan hingga pengenaan denda administratif.

15