Anda di halaman 1dari 19

DAKRIOSISTITIS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik


di SMF. Ilmu Kesehatan Mata RSU Haji Surabaya

Oleh:
Atika Caesarini, S.Ked

NIM. 2013 104 01011 054

Gusti Pindo Asa A, S.Ked

NIM. 2013 104 01011 048

Pembimbing:
dr. Ratna Muslimah, Sp.M

SMF ILMU KESEHATAN MATA RSU HAJI SURABAYA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2013

BAB 1
PENDAHULUAN
Sistem ekskresi terdiri atas pungtum, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan
duktus nasolakrimalis. Setiap kali berkedip, palpebra menutup seperti ritsleting
mulai dari lateral, menyebarkan air mata secara merata diatas kornea dan
menyalurkannya ke dalam sistem ekskresi pada aspek medial palpebra. Pada
kondisi normal, air mata dihasilkan dengan kecepatan yang kira-kira sesuai
dengan kecepatan penguapannya. (Vaughan, 2010)
Sistem eksresi lakrimal cenderung mudah terjadi infeksi dan inflamasi
karena berbagai sebab. Membran mukosa pada saluran ini terdiri dari dua
permukaan yang saling bersinggungan, yaitu mukosa konjungtiva dan mukosa
nasal, di mana pada keadaan normal pun sudah terdapat koloni bakteri. Tujuan
fungsional dari sistem ekskresi lakrimal adalah mengalirkan air mata dari kelenjar
air mata menuju ke kavum nasal. Tersumbatnya aliran air mata secara patologis
menyebabkan terjadinya peradangan pada sakus lakrimal yang biasa disebut
dengan dakriosistitis (Gilliland, 2012).
Infeksi sakus lakrimalis adalah penyakit umum yang biasanya terdapat
pada bayi atau wanita pascamenopause. Paling sering unilateral dan selalu
sekunder akibat obstruksi duktus nasolakrimalis. Pada banyak kasus dewasa,
penyebab obstruksi itu tidak diketahui. Gejala utama dakriosistitis adalah mata
berair dan belekan (bertahi mata) (Vaughan, 2010).
Pada bayi, infeksi kronik menyertai obstruksi duktus nasolakrimalis, tetapi
dakriosistitis akut jarang terjadi. Dakriosistitis akut pada anak sering terjadi akibat
infeksi Haemophilus influenza. Tetapi harus segera dilakukan secara agresif
karena beresiko menimbulkan selulitits orbital. Dakriosistitis akut pada orang
dewasa biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau kadang-kadang
Strptococcus -hemolyticus. Pada dakriosistitis kronis, organismenya adalah
Streptococcus pneumonia atau jarang sekali Candida albicans infeksi campur

tidak dijumpai. Penyebab infeksi dapat ditemukan secara mikroskopis dengan


pemulasan sediaan hapus konjungtiva yang diambil setelah memeras sakus
lakrimalis (Vaughan, 2010).
Dakriosistitis umumnya terjadi pada dua kategori usia, yaitu anak-anak
dan orang dewasa di atas 40 tahun dengan puncak insidensi pada usia 60 hingga
70 tahun. Dakriosistitis pada bayi yang baru lahir jarang terjadi, hanya sekitar 1%
dari jumlah kelahiran yang ada. Penelitian menyebutkan bahwa 70-83% kasus
dakriosistitis dialami oleh wanita, sedangkan pada dakriosistitis kongenital
jumlahnya hampir sama antara laki-laki dan perempuan. Dakriosistitis telah lama
tercatat terjadi lebih sering terjadi pada sisi kiri daripada sisi kanan dikarenakan
duktus nasolakrimalis dan fossa lakrimalis membentuk sudut yang lebih besar di
sisi kanan daripada di sisi kiri (Gilliland, 2012).

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Sistem Lakrimalis
Sistem lakrimal terdiri atas dua jaringan utama, yaitu sistem sekresi
lakrimal atau kelenjar lakrimal dan sistem ekskresi lakrimal (Ilyas, 2013).
Komponen sekresi terdiri atas kelenjar yang menghasilkan berbagai unsur
pembentukan cairan air mata, yang disebarkan diatas permukaan mata oleh
kedipan mata. Kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis merupakan
komponen ekskresi sistem ini yang mengalirkan sekret ke dalam hidung
(Vaughan, 2010).
Kelenjar lakrimalis terletak pada bagian lateral atas mata
yang disebut dengan fossa lakrimalis. Bagian utama kelenjar ini
bentuk dan ukuranya mirip dengan biji almond, yang terhubung
dengan suatu penonjolan kecil yang meluas hingga ke bagian
posterior dari palpebra superior. Dari kelenjar ini, air mata
diproduksi dan kemudian dialirkan melalui 8-12 duktus kecil yang
mengarah ke bagian lateral dari fornix konjungtiva superior dan
di sini air mata akan disebar ke seluruh permukaan bola mata
oleh kedipan kelopak mata (Ellis, 2006)

Sumber: Ellis, 2006

Gambar 2.1. Kelenjar Lakrimalis dan Sistem Drainase

Selanjutnya, air mata akan dialirkan ke pungtum lakrimalis,


kemudian menuju ke dua kanalis lakrimalis, superior dan inferior
yang terlihat sebagai penonjolan kecil pada kantus medial.
Setelah itu, air mata akan mengalir ke dalam sakus lakrimalis
yang terlihat sebagai cekungan kecil pada permukaan orbita.
Dari sini, air mata akan mengalir ke duktus nasolakrimalis dan
bermuara pada meatus nasal bagian inferior. Dalam keadaan
normal, duktus ini memiliki panjang sekitar 12 mm dan berada
pada sebuah saluran pada dinding medial orbita (Ellis, 2006)
2.2 Definisi
Dakriosistitis adalah peradangan pada sakus lakrimalis. Biasanya
peradangan ini dimulai oleh terdapatnya obstruksi pada duktus nasolakrimalis.
Obstruksi ini pada anak-anak biasanya akibat tidak terbukanya membran
nasolakrimal (membran Hassner), sedangkan pada orang dewasa akibat adanya
penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung (Ilyas, 2013)
2.3 Epidemiologi
Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak atau orang dewasa di atas
40 tahun, terutama perempuan dengan puncak insidensi pada usia 60 hingga 70
tahun (Ilyas, 2013). Dakriosistitis pada bayi yang baru lahir jarang terjadi, hanya
sekitar 1% dari jumlah kelahiran yang ada dan jumlahnya hampir sama antara
laki-laki dan perempuan (Gilliland, 2012).
2.4 Klasifikasi
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, dakriosistitis dibedakan menjadi tiga
jenis, yaitu:
a.Akut

Pasien

dapat

menunjukkan

morbiditasnya

yang

berat

namun

jarang

menimbulkan kematian. Morbiditas yang terjadi berhubungan dengan abses


pada sakus lakrimalis dan penyebaran infeksinya.

Sumber: Gilliland, 2012


Gambar 2.2. Dakriosistitis Akut

b. Kronis
Morbiditas utamanya berhubungan dengan lakrimasi kronis yang berlebihan
dan terjadinya infeksi dan peradangan pada konjungtiva.
c. Kongenital
Merupakan penyakit yang sangat serius sebab morbiditas dan mortalitasnya
juga sangat tinggi. Jika tidak ditangani secara adekuat, dapat menimbulkan
selulitis orbita, abses otak, meningitis, sepsis, hingga kematian. (Gilliland,
2012).
2.5 Faktor Predisposisi Dan Etiologi
Faktor risiko tertinggi adalah obstruksi duktus nasolakrimalis. Umur juga
digambarkan sebagai faktor predisposisi dikarenakan jumlah dakriosistitis akut
menjadi meningkat seiring dengan bertambahnya usia yang disertai dengan
obstruksi duktus nasolakrimalis. Wanita juga merupakan faktor risiko untuk
dakriosistitis. Selain itu, patologi hidung tampaknya memiliki peran penting
dalam risiko terbentuknya dakriosistitis berupa deviasi septum hidung, rhinitis dan
hipertrofi konka inferior dan infeksi.
5

Tanda

Akut
Infeksi pada sakus
lakrimalis, gram positif
70%
Biasanya akibat

Kronis
Terisi oleh material
mukoid
Terkadang akibat tekanan
pada sakus

tersumbatnya duktus
nasolakrimalis
Sering terjadi pada bayi
Gejala

dan wanita menopause


Sinusitis maksilaris
Trauma pada jaringan
Operasa pada hidung
atau sinus
Obstruksi kongenital

Riwayat dakriosistitis
akut
Obstruksi duktus
nasolakrimalis kronis
Fraktur tulang wajah
Adanya benda asing
yang menyumbat saluran
lakrimalis

Sumber : The College of Opthometri, 2011

Dakriosistitis akut pada anak-anak sering disebabkan oleh Haemophylus


influenzae, sedangkan pada orang dewasa sering disebabkan oleh Staphylococcus
aureus dan Streptococcus -haemolyticus. Pada literatur ini, juga disebutkan
bahwa dakriosistitis kronis sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae
(PDT, 2006)
2.6 Patofisiologi
Awal terjadinya peradangan pada sakus lakrimalis adalah adanya obstruksi
pada duktus nasolakrimalis. Obstruksi duktus nasolakrimalis pada anak-anak
biasanya akibat tidak terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada orang

dewasa akibat adanya penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung
(Ilyas, 2013)
Dakriosistitis akut memiliki berbagai penyebab. Namun faktor umum
adalah obstruksi total duktus nasolakrimalis yang mencegah drainase normal dari
sakus lakrimalis ke dalam hidung. Stasis dan retensi air mata kronis menyebabkan
infeksi sekunder dengan bakteri. Temuan klinis meliputi edema dan eritema di
bawah medial canthal tendon dengan distensi sakus lakrimalis dengan derajat
nyeri yang bervariasi (AAO, 2005)
2.7 Gejala Klinis
Gejala umum pada penyakit ini adalah keluarnya air mata dan kotoran.
Pada dakriosistitis akut, di daerah sakus lakrimalis terdapat gejala radang,
bengkak, dan nyeri tekan. Substansi purulen dapat diperas dari sakus. Pada
keadaan kronik, gejala satu-satunya adalah mata berair dan substansi mukoid
biasanya bisa diperas keluar dari sakus. Dakriosistitis jarang disertai komplikasi
konjungtivitis walaupun sakus konjungtivalis terus menerus bermandikan pus
yang keluar dari pungtum lakrimal. Pada dakriosistitis pneumonia, sesekali timbul
ulkus kornea setelah trauma kornea ringan (Vaughn, 2010).
Akut
Tanda

Merah, pembekakan
pada sakus lakrimalis

Kronis
Hampir sama dengan
akut namun lebih berat

dan daerah sekitar


Discharge purulen pada
pemijatan
Discharge pada daerah
sakus

Onset cepat
Nyeri
Edema pada sakus

Gejala

lakrimalis
Epifora
Demam

Epifora yang berulang


dan kemerahan pada
daerah kantus
Kemerahan yang
persisten pada daerah
medial kantus
Nyeri dan bengkak pada
daerah medial kantus

Tahapan
pembentukan
dakriosistitis
Sumber
: The
College of Opthometri,
2011

kronis:

Catarrhal: ditemukan konjungtiva hiperemi intermiten dan epifora, dengan


discharge mukoid yang biasanya steril.
Mukosel sakus lakrimal: mengumpulnya air mata secara stagnan dan terdapat
pelebaran sakus lakrimal, dengan sekret mukoid.
Supuratif kronis: epifora dengan eritema pada sakus lakrimal. Ditemukan
refluks

bahan

purulen

dengan

penekanan

pada

daerah

sakus,

dan

mikroorganisme yang terisolasi (Pinar-sueiro, 2012)


2.8 Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis dakriosistitis dibutuhkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dapat dilakukan
dengan cara autoanamnesis dan heteroanamnesis. Setelah itu, dilakukan
pemeriksaan fisik. Jika, dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik masih belum
bisa dipastikan penyakitnya, maka boleh dilakukan pemeriksaan penunjang.
Uji dye disappearance test (DDT) berguna untuk menilai ada atau
tidaknya aliran lakrimal yang memadai, terutama dalam kasus unilateral.
Fluorescein ditanamkan dalam forniks konjungtiva dari setiap mata menggunakan
setetes larutan fluorescein 2% steril atau fluorescein strip yang dibasahi. Film air
mata diamati, sebaiknya dengan filter biru kobalt dari slit lamp. Daya tahan
fluoresein yang persisten dan asimetris klirens fluoresein dari meniskus air mata
selama 5 menit menunjukkan obstruksi relatif di sisi yang mempertahankan
fluoresein (AAO, 2005).

2.9 Diagnosis Banding


Diagnosis banding dakriosistitis adalah selulitis preseptal, selulitis orbital,
kalazion, konjungtivitis, serta episkleritis. Diferensiasi didasarkan pada riwayat
menyeluruh dan pemeriksaan (Murthy, 2011)
a. Selulitis preseptal
Selulitis preseptal adalah infeksi yang umum terjadi pada kelopak mata dan
jaringan lunak periorbital yang menimbulkan eritema kelopak mata akut dan
edema. Infeksi yang terjadi umumnya berasal dari persebaran dari infeksi
lokal seperti sinusitis. Meski memiliki manifestasi klinis yang sama dengan
selulitis orbita, perlu di bedakan antara kedua penyakit ini. Selulitis
preseptal hanya melibatkan jaringan lunak di anterior septum orbita dan
tidak melibatkan sruktur di dalam rongga orbita.
b. Selulitis Orbita
Selulitis orbita merupakan peradangan supuratif jaringan ikat longgar
intraorbita di belakang septum orbita. Selulitis orbita akan memberikan
gejala demam, mata merah, kelopak sangat edema dan kemotik, mata
proptosis, atau eksoftalmus diplopia, sakit terutama bila digerakkan, dan
tajam penglihatan menurun bila terjadi penyakit neuritis retrobulbar. Pada
retina terlihat tanda stasis pembuluh vena dengan edema papil.
c. Kalazion
Kalazion adalah radang granulomatosa kronik yang steril dan idiopatik pada
kelenjar meibom. Awalnya dapat berupa radang ringan disertai nyeri tekan
yang mirip hordeolum dibedakan dengan hordeolum karena tidak ada
tanda tanda radang akut. Kebanyakan kalazion mengarah ke permukaan
konjungtiva,yang mungkin sedikit memerah atau meninggi. Jika cukup besar
dan mengganggu penglihatan atau mengganggu secara kosmetik, dianjurkan
eksisi lesi
d. Konjungtivitis

Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva, merupakan penyakit


mata paling umum di dunia. penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemi

ringan dengan mata berair sampai konjuntivitis berat dengan sekret purulen
kental. Penyebab umumnya eksogen, tetapi bisa endogen. Gejala penting
konjungitvitis adalah sensasi benda asing, yaitu sensasi tergores atau
terbakar, sensasi penuh di sekeliling mata, gatal.
e. Episkleritis
Episkleritis adalah peradangan lokal jaringan ikat vaskular penutup sklera
yang relatif sering dijumpai. Kelainan ini cenderung mengenai orang muda.
Kekambuhan sering terjadi dan penyebabnya tidak diketahui. Gejalanya
anatara lain kemerahan dan iritasi ringan atau rasa tidak nyaman.
Pemeriksaan mata menunjukkan injeksis sklera yang bisa nodular, sektoral,
atau difus (Murphy, 2011)
2.10 Terapi
Pedoman untuk mengobati dakriosistitis akut :
Menghindari irigasi atau probing dari sistem kanalikular sampai infeksi reda
Diagnostik atau theurapeutic probing dari saluran nasolakrimal tidak
diindikasikan pada orang dewasa dengan dakriosistitis akut
Kompres hangat harus diterapkan ke daerah yang terinfeksi
Antibiotik topikal memiliki efektivitas minimal ketika didapatkan stasis,
sedangkan antibiotik oral memiliki efektivitas yang tinggi di sebagian besar
infeksi. Bakteri gram positif adalah penyebab paling umum dari
dakriosistitis akut, namun bakteri gram negatif harus dicurigai pada pasien
dengan diabetes , immunocompromised , atau tinggal di sebuah panti jompo
Antibiotik parenteral diperlukan pada kasus yang parah, terutama jika
ditemukan selulitis
Aspirasi sakus lakrimal dapat dilakukan jika didapatkan pyocele - mukosel
yang terlokalisir. Informasi mengenai terapi antibiotik sistemik yang tepat
diperoleh dari hapusan dan kultur dari aspirasi
Sebuah abses terlokalisir yang melibatkan kantung lakrimal dan jaringan
lunak disekitar kelopak mata memerlukan insisi dan drainase (AAO, 2005)

10

Pengobatan dakriosistitis pada anak (neonatus) dapat dilakukan dengan masase


kantong air mata. Dapat juga diberikan antibiotik amoxicillin/clavulanate atau
cefaclor 20-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam tiga dosis dan dapat pula diberikan
antibiotik

topikal

dalam

bentuk

tetes

(moxifloxacin

0,5%

atau

azithromycin 1%) atau menggunakan sulfonamid 4-5 kali sehari (Sowka,


2010).
Pada orang dewasa, dakriosistitis akut dapat diterapi dengan melakukan
kompres hangat pada daerah sakus yang terkena dalam frekuensi yang cukup
sering. Amoxicillin dan chepalosporine (cephalexin 500mg p.o. tiap
6 jam) juga merupakan pilihan antibiotik sistemik yang baik
untuk orang dewasa. Untuk mengatasi nyeri dan radang, dapat
diberikan analgesik oral (acetaminofen atau ibuprofen), bila perlu
dilakukan perawatan di rumah sakit dengan pemberian antibiotik
secara intravena, seperti cefazoline tiap 8 jam (Sowka, 2010)
Pada orang dewasa, adanya mukokel adalah pertanda bahwa tempat
obstruksi

adalah

di

duktus

nasolakrimalis

dan

diindikasikan

tindakan

dakriosistorinostomi (DCR). Terbukanya sistem kanalikuli dipastikan jika mukus


atau pus keluar melalui pungtum saat sakus ditekan. Pemeriksaan hidung penting
untuk menjamin cukupnya ruang drainase antara septum dan dinding lateral
hidung. Dakriosistorinostomi meliputi pembentukan anastomosis permanen antara
sakus lakrimalis dan hidung. Dengan pendekatan eksternal, pembukaan saluran
dicapai dengan melakukan insisi pada krista lakrimalis anterior. Dibentuk saluran
berdinding tulang di lateral hidung, dan mukosa hidung dijahitkan ke mukosa
sakus lakrimalis. Pendekatan endoskopik melalui hidung dengan memakai laser
untuk membentuk anastomosis antara sakus lakrimalis dan rongga hidung atau
untuk menghindari insisi eksternal (Vaughan, 2010)

11

Sumber: Murthy, 2011


Gambar 2.3 Anestesi lokal maupun general dapat dilakukan.

Sumber: Murthy, 2011

Gambar 2.4 Pemisahan otot orbikularis dengan


menggunakan gunting Tenotomy hingga menyentuh tulang

Sumber: Murthy, 2011

Gambar 2.5 Penghentian perdarahan pada


otot orbikularis dengan menggunakan cutter.

12

Sumber: Murthy, 2011

Gambar 2.6 Pelebaran mukosa hidung

Sumber: Murthy, 2011


Gambar 2.7 Pemotongan mukosa hidung
untuk membuka saluran duktus nasolakrimalis

Sumber: Murthy, 2011


Gambar 2.8 Pemasangan silikon untuk
membuat saluran kelenjar air mata yang baru.

13

Sumber: Murthy, 2011


Gambar 2.9 Penutupan luka dengan
menggunakan benang vicril ukuran 6-0

2.11 Komplikasi
Komplikasi dikarenakan adanya risiko penyebaran yang meliputi
superfisial (cellulitis), dalam (selulitis orbita, abses orbital, meningitis) atau umum
(sepsis). Komplikasi ini jarang terjadi dan lebih sering terlihat pada individu
dengan immunocompromised dan dakriosistitis kongenital. Operasi intraokular seperti operasi katarak - harus ditunda sampai dakriosistitis telah diobati, karena
adanya risiko berupa endophthalmitis. Terdapat beberapa komplikasi yang terkait
dengan DCR meliputi:

Kegagalan prosedur DCR

Jaringan parut pada kulit.

Epistaksis.

Selulitis.

Rhinorrhoea cairan serebrospinal (jika subarachnoid space secara tidak


sengaja memasuki) (Hartree, 2011)

2.12 Prognosis
Prognosis baik jika ditangani segera dan operasi tidak tertunda setelah fase
akut telah teratasi. Namun, dakriosistitis kongenital akan berakibat serius dan
berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas jika tidak segera diobati dengan
agresif (Hartree, 2011)

14

15

BAB 3
PENUTUP
Dakriosistitis adalah peradangan pada sakus lakrimalis. Biasanya
peradangan ini dimulai oleh terdapatnya obstruksi pada duktus nasolakrimalis.
Obstruksi ini pada anak-anak biasanya akibat tidak terbukanya membran
nasolakrimal, sedangkan pada orang dewasa akibat adanya penekanan pada
salurannya, misal adanya polip hidung. Dakriosistitis umumnya terjadi pada dua
kategori usia, yaitu anak-anak dan orang dewasa di atas 40 tahun dengan puncak
insidensi pada usia 60 hingga 70 tahun
Dakriosistitis akut memiliki berbagai penyebab. Namun faktor umum
adalah obstruksi total duktus nasolakrimalis yang mencegah drainase normal dari
sakus lakrimalis ke dalam hidung. Stasis dan retensi air mata kronis menyebabkan
infeksi sekunder dengan bakteri. Temuan klinis meliputi edema dan eritema di
bawah tendon kantus medial dengan distensi sakus lakrimalis.
Gejala umum pada penyakit ini adalah keluarnya air mata dan kotoran.
Pada dakriosistitis akut, di daerah sakus lakrimalis terdapat gejala radang, sakit,
bengkak, dan nyeri tekan. Substansi purulen dapat diperas dari sakus. Pada
keadaan kronik, gejala satu-satunya adalah mata berair dan substansi mukoid
biasanya bisa diperas keluar dari sakus
Pengobatan dakriosistitis pada anak (neonatus) dapat dilakukan dengan
masase kantong air mata ke arah pangkal hidung. Dapat juga diberikan antibiotik
dan dapat pula diberikan

antibiotik topikal dalam bentuk tetes. Pada orang

dewasa, dakriosistitis akut dapat diterapi dengan melakukan kompres hangat pada
daerah sakus yang terkena dalam frekuensi yang cukup sering. Dakriosistitis
kronis pada orang dewasa dapat diterapi dengan cara melakukan
irigasi dengan antibiotik. Sumbatan duktus nasolakrimal dapat
diperbaiki dengan cara pembedahan (DCR) jika sudah tidak
radang lagi. Meskipun begitu, menghilangkan obstruksi adalah penyembuhan
satu-satunya.

16

DAFTAR PUSTAKA

AAO. 2005. Orbit, Eyelid, and Lacrimal System. USA:American Academy of


Ophtalmology. Pp: 278-279
College of optometrists. 2011. Dacryocystitis (chronic). Clinical management
guidelines
College of optometrists. 2011. Dacryocystitis (acute). Clinical management
guidelines
Ellis, Harold. 2006. Clinical Anatomy, A Revision and Applied Anatomy for
Clinical Students Eleventh Edition. Massachusetts, USA :Blackwell
Publishing, Inc. pp: 392-393
Gilliland, G.D. 2012. Dacryocystitis. http://www.emedicine.com/. Diakses tanggal
1 Desember 2013
Hartree, Naomi. 2011. Dacryocystitis and Canaliculitis. Egton Medical
Information Systems Limited. www.patient.co.uk/doctor/Dacryocystitisand-Canaliculitis.htm. diakses tanggal 2 Desember 2013
Ilyas, Sidharta. 2013. Ilmu Penyakit Mata Edisi Keempat. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Pp: 104-106
Murthy, Ramesh. 2011. Dacryocystitis. Kerala Journal of Ophthalmology. Vol.
XXIII, No.1, Mar. Pp: 66-71
PDT, 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata Ed.III.
Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo.
Pinar-sueiro, sergio. 2012. Dacryocystitis: systematic approach to diagnosis and
therapy. Current infectious disease reports: upper respiratory, head, and neck
infections. Pp: 1-12
Sowka, Joseph. 2010. The handbook of ocular disease management:
Dacryocystitis. Review of optometry. Pp: 11a-12a
Vaughan, Asburys. 2010. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC. Pp: 90-91

17

18