Anda di halaman 1dari 39

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling

1 Plan

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................. 1
BAB I...................................................................................................... 2
PENDAHULUAN....................................................................................... 2
A.

Latar Belakang.............................................................................. 2

B.

Rumusan Masalah.........................................................................2

BAB II..................................................................................................... 4
PEMBAHASAN......................................................................................... 4
A.

Perancangan dan Pemahaman Sampling Plan..............................4


1.

Istilah dalam penarikan sampel.................................................4

2.

Kelompok Teknik Pengambilan Sampel......................................5


a.

Probability Sampling...............................................................5
1) Random Sampling (Pengambilan Sampel Acak)..................5
2) Proportionate Stratified Random Sampling (Pengambilan
sampel acak stratifikasi sebanding)....................................5

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


2 Plan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian melibatkan proses pengumpulan dan analisa
data yang dilakukan secara sistematis, sehingga dicapai tujuantujuan tertentu secara efektif. Secara kompleks penelitian
merupakan aktivitas pengumpulan fakta, bukti atau hasil secara
sistematis dalam rangka untuk menemukan, mengembangkan
atau menguji hal-hal yang berkaitan dengan fenomena alam
maupun sosial serta pengetahuan yang melandasinya. Penelitian
memiliki

fungsi

yang

besar

bagi

perkembangan

ilmu

pengetahuan. Proses penelitian berdasarkan metode penelitian


dapat dibedakan menjadi penelitian eksperimental, penelitian
yang melibatkan uji secara kualitatif maupun kuantitatif dan
menganalisis hasil yang didapatkan serta membuat kesimpulan
berdasarkan sintesis dari fenomena dengan hasil analis, dan
penelitian

survai

yang

pada

umumnya

digunakan

untuk

mengkaji atau menentukan sampel untuk menemukan insidensi,


distribusi, dan korelasi dalam variabel-variabel yang diteliti.
Dalam kedua proses ini sangat dibutuhkan penggunaan sampel
sebagai refleksi dari subjek inti yang sedang diteliti. Subyek
dapat berupa hasil produksi, fenomena, dan informasi. Sampel
yang didapatkan harus memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi
agar dapat mencerminkan populasi dengan baik. Sampel yang
pengambilannya didasarkan prosedur dan melalui tahapantahapan yang dilaksanakan dengan baik dapat menghasilkan
sampel yang terpercaya. Dalam pengambilan sampel terdapat
sebuah

panduan

yang

telah

terstandardisasi

yang

dapat

digunakan sebagai pedoman akurat mengenai metode penarikan


sampel.

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


3 Plan

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pedoman akurat mengenai
metode penarikan sampel
2. Bagaimana Sampling Plan bekerja dalam penarikan sampel?
3. Apa jenis-jenis dari teknik pengambilan sampel?
4. Apa saja alat-alat yang digunakan dalam mengambil
sampel?
5. Penanganan

apa

saja

yang

harus

dilakukan

dalam

mengambil sampel?
6. Bagaimana cara mengambil sampel dengan baik?
7. Apa yang harus diperhatikan saat menarik sampel?
8. Bagaimana cara menentukan berapa banyak sampel yang
harus diambil agar sampel lebih akurat?
9. Apa yang harus dipastikan saat pengambilan sampel?
10.Bagaimana bentuk sampling plan yang benar? Apa saja
contohnya?
11.Bagaimana

cara

mengurangi

atau

sehingga lebih mudah untuk diteliti?

membagi

sampel

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


4 Plan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Perancangan dan Pemahaman Sampling Plan
Dalam mengambil sampel, tahap demi tahap harus
dilaksanakan dengan baik agar mendapat sampel yang layak
atau absah untuk diuji, dan hasil ujinya dapat mewakili seluruh
populasi dengan baik dan akurat. Penanganan, pengambilan,
dan pengujian sampel yang baik menghasilkan hasil pengujian
yang dapat dipercaya. Jika sampel diambil tidak sesuai dengan
prosedur, maka seluruh proses yang bisa dinyatakan sebagai
rangkaian tersebut dapat memberikan hasil yang ambigu dan
tidak mencerminkan populasi dengan benar. Agar mendapat
sampel yang baik, dibuat sebuah perencanaan pengambilan
sampel yang disebut dengan sampling plan. Perancangan
Sampling

Plan

melaksanakan
mencakup

ditujukan

sebagai

pengambilan

tentang

pedoman

sampel.

kebutuhan

inti

Sampling

dan

tujuan

di
Plan

dalam
akan

sampling,

mencantumkan spesifikasi sampel (padat, cair, atau gas), teknik,


metode pengambilan, dan cara penanganan yang dideskripsikan
dengan baik, serta petunjuk pengaplikasiannya dalam kerja
lapangan dengan benar. Pemahaman tentang isi dari sampling
plan sangat dibutuhkan agar dapat dijalankan dengan baik.
Berikut ini adalah beberapa poin dalam memahami sampling
plan.

1. Istilah dalam penarikan sampel


a. Populasi atau lot. Populasi merupakan jumlah atau
satuan bahan atau hasil produksi yang ditangani dengan
kondisi yang sama, artinya bahwa dalam populasi atau
lot seluruh bagiannya seimbang.
b. Sampel. Sampel merupakan sebagian kecil bahan yang
diambil secara metode yang mewakili bahan yang
terdapat pada populasi.

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


5 Plan

c. Sampling. Sampling adalah teknik atau cara memilih


sampel yang dapat mewakili lot yang akan dianalisis.
d. Sampel benar, bias, palsu
e. Populasi Normal, menceng, dan ganda

2. Kelompok Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel yang benar mempermudah
penentuan

mutu

secara

akurat,

karena

sampel

yang

didapatkan bebas dari kesalahan eksternal yang merancukan


hasilnya. Teknik pengambilan sampel secara umum terdiri
dari dua kelompok, yaitu:

a. Probability Sampling
Metode

ini

merupakan

teknik

pengambilan/penarikan sampel dimana semua


anggota populasi di dalam sebuah populasi/lot
memiliki kesempatan atau peluang yang sama
untuk terpilih menjadi sampel. Jenis-jenis metode
yang

termasuk

dalam

teknik

probability

sampling, yaitu:

1) Random Sampling (Pengambilan Sampel


Acak)
Metode

ini

merupakan

pengambilan

sampel yang dilakukan secara acak dan


langsung

tanpa

strata/tingkatan

memperhatikan

yang

terdapat

pada

keseluruhan populasi. Dengan metode ini,


sampling dapat dilakukan dengan mudah
karena pengambilan sampel tidak memiliki
ketentuan yang pasti mengenai kriteria dari
bagian populasi yang akan dijadikan sampel.
Sampling dapat dilakukan dengan metode ini
apabila anggota populasi dianggap tersebar
secara

homogen.

Pengambilan

dengan

metode ini digunakan untuk menghilangkan


kemungkinan bias di dalam sebuah populasi.

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


6 Plan

2) Proportionate Stratified Random Sampling


(Pengambilan sampel acak stratifikasi
sebanding)
Pengambilan

sampel

acak

stratifikasi

merupakan teknik sampling yang digunakan


dalam

menangani

lot

yang

populasinya

memiliki beberapa subpopulasi atau kelas


(strata). Teknik ini dapat digunakan apabila
karakteristik

dari

setiap

kelas

tidak

sama/homogen, anggota dari setiap strata


yang dianggap homogen, dan mempunyai
jumlah

anggota

proporsional

yang

(dapat

perbandingan).

berbeda

namun

dinyatakan

Pengambilan

sebagai

sampel

ini

dilakukan secara acak proporsional, artinya


jumlah

sampel

sebuah

dari

strata

kelompok

perbandingan

tertentu

ditentukan

populasi

antar

kelas

dari
dari
yang

tetap, namun pemilihan anggota sampelnya


tetap diambil secara acak dan sampel yang
diambil harus meliputi seluruh strata.

3) Disproportionate
Sampling

Stratified

(Pengambilan

Random

Sampel

Acak

Berstratifikasi Tak Sebanding)


Suatu cara pengambilan sampel yang
digunakan bila anggota populasinya tidak
homogen, terdiri atas kelompok yang tidak
homogen, atau anggota-anggota dari masingmasing

strata

Pengambilan

sampel

tidak

proporsional.

dengan

cara

ini

mungkin akan memasukkan seluruh anggota


di dalam strata yang memiliki jumlah anggota
lebih sedikit dan tetap mengambil beberapa

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


7 Plan

anggota dalam strata yang memiliki anggota


yang lebih banyak ke dalam sampel, namun
sampel tetap harus meliputi seluruh jenis
strata.

4) Cluster Sampling (Pengambilan Sampel


Daerah)
Teknik pengambilan sampel berdasarkan
cluster

sampling

digunakan

jika

populasi

tidak terdiri dari individu melainkan terdiri


dari

kelompok

atau

kluster{2}.

Cluster

sampling lebih efektif untuk menentukan


sampel bila obyek yang akan diteliti atau
sumber data sangat luas, misalnya penduduk
suatu

negara,

propinsi,

atau

kabupaten.

Untuk menentukan populasi mana yang akan


dijadikan sumber data, maka pengambilan
sampel berdasarkan daerah dari populasi
yang telah ditetapkan

{3}

. Teknik cluster

sampling dapat dilakukan dalam dua tahap


yaitu:
i. Menentukan sampel daerah
ii. Menentukan orang-orang yang ada pada
daerah dengan cara pengambilan sampel
juga.
Tahapan pertama dapat disebut sebagai
one

stage

simple

cluster

sampling

dan

tahapan kedua dapat dimaksud dengan twostage simple cluster sampling.


a. Non-probability sampling
Non-probability
pengambilan

sampling

sampel

yang

adalah
tidak

teknik
memberi

peluang/kesempatan sama baik setiap unsur atau

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


8 Plan

anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik


pengambilan sampel ini meliputi:

I.

Pengambilan Sampel Sistematis

Teknik pengambilan sampel ini merupakan

teknik penarikan sampel dengan cara penentuan


sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi
yang telah diberi nomor urut. Contoh: Anggota
populasi diberi nomor urut dari no. 1 sampai no.
200. Selanjutnya, pengambilan sampel dilakukan
dengan memilih nomor urut ganjil, atau genap
saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, atau
urutan bilangan prima.

II.

Pengambilan Sampel Kuota

Pengambilan sampel kuota adalah teknik

penarikan sampel dari populasi yang mempunyai


ciri-ciri tertentu sampai tercapai jumlah (quota)
yang ditentukan. Sebagai peneliti akan melakukan
penelitian terhadap pegawai golongan II pada
suatu instansi, dan penelitian dilakukan secara
kelompok. Jumlah sampel ditetapkan 100 orang
sementara penelitian sebanyak 5 orang, maka
setiap anggota peneliti dapat memilih sampel
secara bebas dengan karakteristik yang telah
ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.

III.

Pengambilan Sampel Aksidental

Sampling aksidental adalah teknik penentuan

sampel berdasarkan kebetulan bertemu dengan


peneliti dapat digunakan sebagai sumber data
(Sugiyono, 2001: 60). Menurut Margono (2004: 27)
menyatakan bahwa dalam teknik ini pengambilan
sampel tidak ditetapkan lebih dahulu. Peneliti
langsung mengumpulkan data dari unit sampling
yang

ditemui.

pendapat

umum

Misalnya

penelitian

mengenai

pemilu

tentang
dengan

mempergunakan setiap warga negara yang telah

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


9 Plan

dewasa

sebagai

unit

sampling.

Peneliti

mengumpulkan data langsung dari setiap orang


dewasa yang dijumpainya, sampai jumlah yang
diharapkan terpenuhi.

IV.

Purposive

Sampling

(Pengambilan

Sampel

Tertentu)

Pengambilan sampel tertentu adalah teknik

penarikan sampel yang dilakukan dengan adanya


tujuan-tujuan tertentu sehingga keterwakilannya
ditentukan
orang

peneliti

yang

berdasarkan

berpengalaman.

pertimbangan

Sampel

diambil

berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu


dari

penyelidik.

pencacah

Dalam

diminta

kuota

untuk

sampling,

wawancara

para

dengan

sejumlah individu yang mempunyai karakteristik


atau sifat-sifat tertentu (Jarwanto, dkk 1985:119).

V.

Pengambilan Sampel Jenuh

Pengambilan sampel jenuh hanya dilakukan

jika populasi relatif kecil. Oleh karena itu, pada


teknik sampling jenuh seluruh anggota populasi
digunakan

sebagai

sampel.

Istilah

lain

dari

pengambilan sampel jenuh ini adalah sensus,


dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

VI.

Snowball Sampling
Snowball

sampling

merupakan

penarikan

sampel yang mula-mula kecil kemudian sampel


yang terpilih pertama memilih sampel berikutnya,
yang akhirnya sampel menjadi bertambah seperti
bola salju yang menggelinding semakin lama
semakin besar.

VII.

Pengambilan Sampel Seadanya

Merupakan pengambilan sampel sebagian

dari populasi berdasarkan seadanya data atau


kemudahan mendapatkan data tanpa perhitungan
apapun

mengenai

derajat

kerepresentatifnya

(mewakilkan). Hasil/kesimpulan yang dibuat dari

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


10Plan

pengambilan sampel masih sangat kasar sehingga


hasil bersifat sementara.

I.

Menentukan Jumlah Sampel

Besarnya jumlah sampel sering dinyatakan dengan

ukuran sampel. Jumlah sampel yang mewakili 100% populasi


adalah sama dengan jumlah populasi. Jika jumlah sampel
semakin besar hingga mendekati jumlah populasi, maka
peluang kesalahan dalam pengambilan kesimpulan akan
semakin kecil.
Beberapa

hal

yang

perlu

diperhatikan

dalam

menentukan jumlah atau besarnya sampel adalah sebagai


berikut:
a) Unit analisis,
b) Pendekatan atau model penelitian,
c) Banyaknya karakteristik khusus yang

ada

pada

populasi
d) Keterbatasan penelitian.
Untuk jumlah subyek dalam populasi sebanyak 100
sampai 150 subyek, maka jumlah sampel yang diambil
menggunakan rumus Cochran, sebagai berikut:

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


11Plan

A. Pelaksanaan Sampling
1. Pelaksanaan Penarikan Sampel
a. Alat pengambil sampel padat

Menurut Standar Nasional Indonesia dengan No.

Seri 19-0428-1998, terdapat dua jenis alat pengambil


sampel produk/bahan padat yaitu berbentuk tombak
dan sekop. Alat pengambil sampel harus dibuat dari
bahan yang tidak mempengaruhi secara kimia terhadap
sampel juga tidak terdapat kontaminasi pada alat-alat
yang akan digunakan dalam mengambil sampel.
I.

Bentuk tombak

Alat pengambil contoh bentuk tombak dapat

berupa tombak tunggal atau tombak ganda. Alat


pengambil contoh tombak tunggal, biasanya dibuat
dengan

ujung

runcing

yang

digunakan

untuk

mengambil contoh misalnya karung goni atau


karung polyethylene, contoh yang diambil keluar
dari

pangkal

tombak.

Alat

pengambil

contoh

tombak ganda terdiri dari dua lapis logam yang


ukuran salah satunya lebih kecil dan dapat masuk di
dalam logam yang lain. Tombak dilengkapi dengan
beberapa lubang sejumlah tiga sampai empat buah
sepanjang tombak. Pada tombak bagian dalam
dilengkapi dengan pegangan yang berbentuk T. Alat
ini dipergunakan untuk mengambil contoh berupa
bubuk, butiran-butiran kecil dalam karung, dengan
cara menusukkan tombak ke dalam karung dan
memutar pipa bagian dalam.

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


12Plan

II.

Bentuk Sekop

Beberapa tipe sekop yang digunakan untuk

mengambil sampel dalam bentuk curah. Jenis sekop


dapat

berupa

bergagang

sekop
pendek.

bergagang

panjang

Pengambilan

dan

sampel

dilaksanakan dengan alat yang bersih dan kering


dan dilaksanakan pada tempat yang terlindung dari
hal-hal yang dapat mempengaruhi sampel.

Dan ada beberapa selain diatas seperti bingkai


pengambil sampel, tabung pengambil sampel, botol

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


13Plan

sampel yang telah ditimbang, pisau fleksibel, klep


akses, wadah plastik, wadah sekali pakai, pisau
operasi, wadah steril, pipet, loop (alat inkulasi) dan
sendok disposable.

b. Cara Pengambilan Sampel Padat


I.
Pengambilan sampel padat

dari

lot

yang

berbentuk curah

a. Pengambilan sampel produk curah pada alat


pengangkut lini produksi. Sampel diambil pada
waktu bahan atau produk yang sedang bergerak
melalui saluran yang mengangkut bahan atau
produk dari ruang produksi ke gudang atau
sebaliknya atau dari alat transportasi ke gudang
atau sebaliknya. Sampel diambil beberapa kali
yang bobotnya sama pada periode yang sama.
b. Jika hasil produksi yang berbentuk curah berada
dalam
sebuah

tumpukan
gudang,

atau

dikumpulkan

sampel

dapat

dalam
diambil

berdasarkan jumlah lot dan sesuai dengan jenis


uji yang akan dilakukan. Sampel diambil dari
beberapa tempat dari seluruh lapisan secara
acak dengan masing-masing bobotnya kira-kira
sama.
II.

Pengambilan sampel dari lot yang berbentuk terkemas

a. Jika populasi berada pada alat pengangkut atau


line produksi, sampel diambil dari produk yang
sedang bergerak melalui saluran pengangkut
produk dari ruang produksi ke gudang atau
sebaliknya atau dari alat transportasi ke gudang
atau sebaiknya. Sampel diambil dari beberapa
kemasan pada waktu yang sama.
b. Apabila sampel-sampel berada dalam kemasan
karton atau karung, sampel-sampel primer atau
contoh yang diambil langsung dari tanding atau
lot, diambil dari beberapa karung/karton/pati

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


14Plan

tergantung pada banyaknya kemasan karung


atau sejenisnya. Apabila jumlah lot lebih dari
1000 kemasan, harus dibuat lot dengan ukuran
yang sama kemudian diambil dari akar dua
jumlah karung/peti, diambil secara acak dengan
menggunakan tabel acak.

III. Pengambilan sampel yang dimaksudkan untuk pengujian


laboratorium

a. Semua wadah atau unit sampel dikirim ke


laboratorium dan diperiksa satu per satu atau
wadah

dibuka

dan

isinya

dijadikan

satu

kemudian diaduk hingga homogen selanjutnya


diambil sejumlah sampel laboratorium
b. Sampel laboratorium atau wadah-wadah di atas
dikemas

sedemikian

rupa

sehingga

selama

pengangkutan dan penyimpanan terlindung dari


pengaruh benturan dan cuaca (cahaya, hujan,
panas) dan disegel.
c. Sampel diberi label antara lain mencantumkan
tanggal dan waktu pengambilan sampel, nama
orang/petugas

dan

badan

yang

menugaskannya, merek/cap bahan yang diambil


sampelnya, simbol petunjuk atau identifikasi
dan lain-lain dengan ketentuan yang berlaku

IV. Pengambilan sampel untuk kemasan besar


Proses

pengambilan

berbagai

kegiatan

massal

(banyak

seseorang

sampel

sehingga

dari

jumlahnya)

mendapatkan

terdiri

atas

produk

yang

memungkinkan

sejumlah

kecil

produk

(sampel) yang sedapat mungkin mewakili populasi


yang banyak tersebut yang akan digunakan dalam
analisa untuk menentukan karakteristik tertentu
dari produk tersebut.
a) Sampel primer

diambil

dan

dicampur

sehingga diperoleh sampel yang siap untuk

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


15Plan

dianalisa. Semakin tidak homogen batch


atau produk dalam lot yang diambil sampel
akan semakin banyak sampel primer yang
diambil

untuk

mewakili

membuat

keseluruhan

sampel

populasi.

lebih
Jumlah

sampel pada sampel primer tergantung dari


jumlah karung dalam lot.
b) Metode pengambilan sampel
Pada gudang penyimpanan

karung

pengambilan sampel tidak dapat dilakukan


dengan

mesin.

Umumnya

pengambilan

sampel dilakukan dengan cara mengambil


sebagian

isi

karung

pengambil

sampel

Pengambilan

sampel

menggunakan
yang

alat

sesuai.

menggunakan

alat

pengambil sampel lebih cepat karena tidak


perlu membuka karung dan sampel yang
diambil didapatkan dari beberapa bagian
karung terpilih.
Misal:
1) Jika dari sampling plan terpilih 10
karung (10 karung dari 100 karung
pengiriman), maka paling sedikit
50

gram

produk

diambil

dari

karung 100 kg.


2) Jika sampel yang dipilih sebagai
sampel

lebih

pengiriman

dari

lebih

10
maka

karung
yang

diambil kurang dari 500 gram dan


jumlah

harus

mencukupi

untuk

bahan analisa atau pemeriksaan


produk.
Untuk memperoleh sampel yang benar, harus dipastikan
dahulu besarnya lot yang akan diperiksa, sehingga setiap bagian

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


16Plan

dari lot memiliki peluang yang sama untuk diperiksa. Sampel


yang diambil sesuai dengan prosedur baku akan mewakili
kumpulan besar populasi yang akan dianalisa. Sampel yang
mewakili sangat penting, terutama bila akan mendeteksi adanya
mikroba patogen atau penyebaran racun pada bahan pangan
yang akan diekspor.
Dapat dibayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan
apabila

ekspor

bahan

pangan

yang

mencapai

beberapa

kontainer akan dianalisa kandungan bakteri patogen yang


terdapat pada sampel tersebut dari seluruh bahan pangan.
Analisis yang dilakukan terhadap seluruh anggota populasi,
selain mahal dan memakan waktu yang lama juga akan
menyebabkan kontaminasi dan dapat menghambat proses
analisa. Kerugian yang sama juga akan dialami apabila sampel
yang akan dianalisa merupakan sampel yang diambil tanpa
melalui prosedur yang terdapat pada sampling plan sehingga
tidak mewakili bahan pangan yang akan diekspor. Pengambilan
sampel merupakan bagian dari tahapan analisa mutu untuk
mengurangi biaya yang besar namun masih dapat mewakili
kelompok yang lebih besar, sehingga hasil analisa dapat
menggambarkan kondisi dari kelompok tersebut.
Untuk dapat mengambil sampel yang mewakili dapat
dilakukan dengan cara melakukan penarikan sampel secara
acak.

Untuk

bilangan

kegiatan

acak.

pendekatan

Cara

tersebut dapat menggunakan


lainnya

berdasarkan

adalah

stratifikasi.

tabel

dengan

melakukan

Dengan

cara

ini,

pengambilan sampel secara acak dilakukan dari setiap strata,


misalkan

dari

bagian

atas,

tengah

dan

dasar

kontainer.

Penarikan sampel secara acak dilakukan untuk memberikan


kesempatan yang sama bagi setiap sampel untuk terambil.
Pengambilan sampel secara acak dapat dilakukan dengan
memberi nomor pada bahan yang akan diuji lalu mencatatnya

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


17Plan

pada kertas kecil. Setelah kertas diacak, diambil beberapa


lembar untuk dijadikan sampel. Jumlah kertas yang diambil
disesuaikan dengan jumlah sampel yang akan dianalisis. Cara ini
kurang efektif untuk jumlah lot besar.
Dua kesalahan umum yang dialami dalam pengambilan
sampel:
a) Orang cenderung mengambil sampel yang paling
mudah dijangkau.
b) Sampel sudah ditentukan lebih dahulu, karena pelaku
pengambil sampel sudah kenal baik dengan kondisi
sampel.
2. Pengurangan Ukuran Sampel
Sampel yang dikumpulkan dari sampel-sampel primer
jumlahnya

lebih

banyak

dari

yang

diperlukan.

Jumlah

tersebut harus dikurangi untuk mendapatkan sejumlah


produk (misalnya biji-bijian) yang lebih memungkinkan untuk
dilakukan

pemeriksaan.

digunakan

untuk

Beberapa

mengurangi

metode

ukuran

yang

dapat

sampel

yang

menghasilkan sub sampel yang mewakili:


a. Metode Coning
Semua sampel primer dicampur merata, kemudian
dibuat

kerucut

(cone)

atau

gunungan-gunungan

kemudian dipipihkan dan dibelah dua. Diteruskan


dibelah empat. Tiap-tiap bagian tersebut merupakan
sub sampel. Proses tersebut dapat diteruskan hingga
mendapatkan sub sampel yang sesuai. Metode Coning
sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan
tertentu tetapi memerlukan tempat kerja yang bersih
dan cukup luas.
b. Boarner Divider (Pembagi Boarner)
Di dalam peralatan ini terdapat suatu kerucut yang
berfungsi untuk membagi sampel. Di bagian dasar
kerucut produk akan terperangkap dan akan keluar
melalui dua outlet. Prosesnya diulang beberapa kali

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


18Plan

dengan menggunakan bahan yang ditampung dari


salah satu outlet. Satu kali proses sampel akan terbagi
menjadi dua subsampel.
c. Pembagi metode Riffle
Pembagi model Riffle

tersusun

dari

beberapa

ruangan yang berhubungan sehingga memungkinkan


produk terutama biji-bijan terbagi menjadi dua bagian
yang sama. Alat ini biasanya digunakan untuk bijibijian

karena

semua

alat

terlihat

dan

gampang

ditangani.

BAB III
CONTOH SAMPLING PLAN
A. Rancangan

Sampling

Plan

untuk

Penarikan

Sampel

berdasarkan Military Standard (MIL-STD-105E, Sampling


Procedures and Tables for Inspection By Attributes, 10 May
1989)
Pada

mulanya

penarikan

sampel

Military

Standard

digunakan oleh militer Amerika Serikat (tepatnya dikeluarkan


oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat) untuk melakukan
inspeksi peralatan militer. Peralatan militer yang dikenakan
dilakukan inspeksi sangat ketat agar terjamin kualitasnya.
Karena metode ini sangat baik maka diterapkan pada produk
makan oleh FAO melalui Codex Alimentarius Commission (CAC).
Pengambilan (sampling) standar militer (military standard) dapat

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


19Plan

digunakan untuk pemeriksaan atribut mutu: produk akhir, bahan


baku,

bahan

yang

sedang

diproses,

pemeliharaan, dan arsip.


1. Penentuan Akseptabilitas dari Lot
Untuk
menentukan
apakah

lot

penyimpanan,

diterima

dalam

pemeriksaan persentase kecacatan, rencana pengambilan


sampel yang berlaku harus dilaksanakan sesuai dengan a),
b), c) dan d)
a) Pengambilan sampel tunggal
1) Jumlah unit sampel yam diperiksa harus sama dengan
ukuran sampel yang ditentukan di dalam rencana
pengambilan sampel.
2) Pengambilan sampel hanya dilakukan satu kali.
3) Jika jumlah kerusakan (defect) yang ditemukan pada
sampel angka penerimaan maka lot atau batch
dapat diterima.
4) Jika jumlah kerusakan (defect) yang ditemukan pada
sampel angka penolakan maka lot atau batch dapat
ditolak.
b) Pengambilan sampel ganda
1) Pengambilan sampel hanya dilakukan satu atau dua
kali, untuk memutuskan apakah lot diterima atau
ditolak. Pada sampling pertama dan kedua terdapat
persyaratan

minimal

sampel

rusak

untuk

dapat

menerima atau menolak lot.


2) Jika angka kecacatan ditemukan pada sampel utama
angka penerimaan maka lot harus dianggap dapat
diterima, namun jika angka kecacatan yang ditemukan
pada sampel utama angka penerimaan utama, maka
lot dianggap ditolak.
3) Jika angka kecacatan yang ditemukan pada sampel
utama diantara angka penerimaan utama dengan
angka penolakan, sampel sekunder dengan ukuran
yang sama harus diperiksa.

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


20Plan

4) Hasil sampling 1 dan 2 digunakan untuk penerimaan


atau

penolakan

lot.

Oleh

karena

itu,

bilangan

kecacatan yang ditemukan pada sampel utama dan


sekunder harus diakumulasikan.
5) Jika bilangan kecacatan yang telah dijumlah itu dari
angka penerimaan sekunder maka lot diterima namun
jika bilangan kecacatan yang telah dijumlah dari
sampel primer dan sekunder dari angka penerimaan
sekunder maka lot harus ditolak. Keuntungan: lot yang
baik dan lot yang buruk dideteksi pada sampling
pertama dan hanya lot yang mempunyai spesifikasi
tertentu yang butuh sampling 2.

2. Tingkat Pemeriksaan (Inspection Level)


Terdapat tiga tingkat inspeksi pemeriksaan, yaitu I, II, dan
III. Tingkat inspeksi menentukan hubungan antara ukuran lot
dan ukuran sampel. Tingkat pemeriksaan I adalah
setengah jumlah pemeriksaan normal (tingkat pemeriksaan
II). Tingkat pemeriksaan II adalah pemeriksaan normal.
Tingkat pemeriksaan III adalah dua kali pemeriksaan
normal.

3. Tingkat Inspeksi Khusus (Special Inspection Levels)


Terdapat 4 tingkat Inspeksi khusus yaitu S-1, S-2, S-3, S-4.
Diberikan untuk ukuran sampel relatif kecil dan toleransi
terhadap resiko tinggi pada penarikan sampel. Dalam
pemilihan tingkat inspeksi dari tingkat S-1 hingga S-4,
perhatikan dengan seksama agar dapat menghindari nilai
AQL (Acceptable Quality Level) yang tidak konsisten. Dengan
kata lain, tujuan dari tingkat inspeksi khusus adalah untuk
membuat sampel menjadi sekecil mungkin serta sesuai
dengan yang dibutuhkan.

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


21Plan

4. Acceptable Quality Level (AQL)


Merupakan
didefinisikan

tingkat

mutu

sebagai

yang

maksimum

dapat
persen

diterima

atau

cacat

yang

diperbolehkan dalam satu lot yang akan diterima sekitar


95% pada waktu tersebut. Contoh: Dalam sampling plan,
tertulis

AQL

6,5.

Artinya

inspektur

(pemeriksa)

akan

menerima suatu lot atau produksi dengan cacat maksimal


6,5% dari 95% bagian dari lot melalui inspeksi pada waktu
tersebut.

5. Tabel yang digunakan dalam penentuan sampling plan


Terdapat banyak jenis tabel yang dapat digunakan untuk
merancang sampling plan. Beberapa tabel yang dapat
menjadi referensi yaitu (Tabel terdapat pada Section 5):
a) Sampling size code letters (Kode huruf untuk
ukuran sampel, Tabel I). Tabel digunakan untuk
menentukan kode (A-R) berdasarkan jumlah unit
dalam

satu

ditentukan

lot.
pula

Penentuan
oleh

kode

tersebut

tingkat-tingkat

pemeriksaan yang terbagi menjadi dua bagian,


yaitu tingkat pemeriksaan normal dan tingkat
pemeriksaan khusus. Pemilihan tingkat inspeksi
tergantung dari jenis produk yang diinspeksi
b) Master tables for normal inspection single
sampling (Tabel inti untuk pemeriksaan normal
pengambilan sampel tunggal, Tabel II-A).
c) Master tables for tightened inspection single
sampling (Tabel inti untuk inspeksi diperketat
pengambilan sampel tunggal, Tabel II-B).

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


22Plan

d) Master tables for reduced inspection single


sampling (Tabel inti untuk inspeksi dikurangi
pengambilan sampel tunggal, Tabel II-C)
e) Master table for normal inspection double
sampling (Tabel inti untuk pemeriksaan normal
pengambilan sampel ganda, III-A)
f) Master table for tightened inspection double
sampling

(Tabel

inti

untuk

pemeriksaan

diperketat pengambilan sampel ganda, III-B)


g) Master table for reduced inspection double
sampling

(Tabel

inti

untuk

pemeriksaan

dikurangi pengambilan sampel ganda, III-C)

6. Ketentuan dan Cara Membaca Tabel.


Berdasarkan kode yang diperoleh dalam tabel I dilakukan
penentuan jumlah sampel yang diinspeksi, Reject number
(Re) dan Acceptance number (Ac) yang akan mengacu
pada Tabel II, III, da IV. Dalam tabel II, III, dan IV terdapat
tanda anak panah vertikal ke atas maupun ke bawah.
Apabila tidak terdapat Reject number dan Acceptance
number pada tabel yang sesuai dengan kode sampel dan
AQL, maka harus menggunakan sampling plan di atas
atau di bawah anak panah dalam kolom yang sama. Jika
hal ini terjadi, maka huruf kode dan ukuran sampel
berubah.
7. Prosedur Military Standard MIL-STD 105E
a) Tentukan ukuran lot
b) Pilih tingkat pemeriksaan

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


23Plan

c) Tentukan kode ukuran sampel


d) Tentukan

jenis

rancangan

penarikan

sampel

(single,

double, multiple, normal, diperketat, dan direduksi)


e) Gunakan tabel yang sesuai
f) Pilih AQL
g) Tentukan ukuran sampel
h) Tentukan Ac dan Re
i) Buat

keterangan

(penjelasan)

dari

rancangan

pengambilan sampel.
Contoh:
Untuk

sampling

plan

tunggal

normal,

diambil

sampel sebanyak 500 unit dengan AQL sebesar 25% dari


dalam lot kentang (artinya yang berkualitas buruk tidak
lebih dari 25% dalam keranjang). Berapa jumlah Ac dan
Re pada sampling plan tersebut dan apa kode nya?
Pembahasan:
Jika dilihat dari tabel II-A (Single sampling plans for
normal inspection (Master Table), untuk ukuran sampel
500 unit kode huruf sampel adalah huruf N, dan AQL 25
berada pada kolom ke-18 dari tabel tersebut. Jika ditarik
garis hingga bertemu di titik perpotongan, Ac dan Re tidak
ada untuk tipe sampel dan AQL seperti ini. Hanya saja
dalam tabel, pengguna akan diarahkan ke ukuran sampel
yang ditunjuk oleh kepala arah panah. Dalam situasi ini,
ukuran sampel yang cocok untuk sampling plan ini adalah
50 unit dengan kode huruf H. Tertulis dalam tabel,

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


24Plan

tepat di kepala arah panah, Nilai Ac dan Re dari sampling


plan, berturut-turut 21 dan 22, jika dari Ac lot diterima,
jika dari Re lot ditolak, jika diantara Ac dan Re, maka
sampling diulang menjadi double sampling dengan ukuran
sampel 500 unit (karena arah panah dalam tabel ini akan
berbeda dengan arah panah dalam tabel lain).
8. Ketentuan perubahan jenis pemeriksaan
a) Pemeriksaan awal menggunakan normal
b) Normal menjadi diperketat jika 2 dari 5 lot yang berurutan
telah ditolak pada pemeriksaan awal
c) Diperketat

menjadi

normal

jika

pada

pemeriksaan

diperketat 5 lot atau batch berurutan diterima


d) Normal menjadi dikurangi jika dalam pemeriksaan normal
10 lot tidak ada yang ditolak. Produksi dalam keadaan
baik tidak ada masalah mesin, dan bahan baku.
e) Dikurangi menjadi normal jika satu lot atau batch ditolak,
pemeriksaan

dikurangi

menghasilkan

kriteria

tidak

menerima atau tidak menolak lot diterima namun kembali


dan produksi tertunda atau tidak teratur.

B. Pelaksanaan

Sampling

Berdasarkan

SNI

03-7016-2004

Tentang Tata Cara Pengambilan Contoh dalam Rangka


Pemantauan Kualitas Air pada Suatu Daerah Pengaliran
Sungai.
Tata cara ini membahas masalah yang berhubungan dengan
cara pengambilan yang meliputi pemilihan lokasi, penentuan

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


25Plan

frekuensi, cara pengambilan dan perlakuan contoh di lapangan


dalam rangka pemantauan kualitas air, dengan acuan SNI 062412-1991 tentang metode pengambilan contih unji kualitas air.
1. Istilah dan definisi
Istilah dan definisi berikut berlaku untuk pemakaian
tata cara ini:
a. Contoh, contoh air untuk keperluan pemeriksaan
kualitas air.
b. Kualitas Air, sifat-sifat air yang ditunjukkan
dengan nilai dan atau kadar makhluk hidup, zat,
energi, termasuk bahan, pencemar, dan/atau
komponen lain yang ada dan/atau terkandung di
dalam air.
c. Pemantauan

Kualitas

Air,

Pemeriksaan

kualitas air yang dilakukan secara terus-menerus


pada suatu lokasi tertentu.
d. Contoh Sesaat (grab sample), contoh air yang
diambil sesaat pada suatu lokasi tertentu.
e. Contoh

Gabungan

Tempat

(integrated

samples), campuran contoh-contoh sesaat yang


diambil dari titik/lokasi yang berbeda pada waktu
yang sama.
f.

Contoh

Gabungan

Waktu

(composite

sample), campuran contoh-contoh sesaat yang


diambil dari titik/lokasi yang berbeda pada waktu
yang sama.

2. Dasar Pertimbangan

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


26Plan

Untuk

mendapatkan

diperhatikan

bahwa

kebenaran,

data

yang

data

digunakan

harus
terjamin

kebenarannya sehingga dalam pemantauan kualitas air


perlu dipertimbangkan pemilihan lokasi secara berikut :
Tahap

pertama

dalam

perencanaan

sistem

pemantauan air adalah pengumpulan data mengenai


keadaan lingkungan serta karakteristik dan pemanfaatan
sumber

air.

Berdasarkan

data

tersebut

dapat

direncanakan lokasi pengambilan contoh yang tepat


sesuai

dengan

keperluannya.

Dalam

tata

cara

ini

diberikan suatu penuntun pemilihan lokasi yang tepat.


Terdapat tiga dasar yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan lokasi pengambilan contoh.
a. Kualitas air sebelum adanya pengaruh kegiatan
manusia yaitu pada lokasi hulu sungai yang
dimaksudkan

untuk

mengetahui

kualitas

air

secara alamiah sebagai baseline station.


b. Pengaruh kegiatan manusia terhadap kualitas air
dan pengaruhnya untuk pemanfaatan tertentu.
Lokasi

ini

pengaruh

dimaksudkan
kegiatan

untuk

manusia

mengetahui

yang

disebut

impact station.
c. Sumber-sumber

pencemaran

yang

dapat

memasukkan zat-zat yang berbahaya ke dalam


sumber

air.

Lokasi

ini

dimaksudkan

untuk

mengetahui sumber penyebaran bahan-bahan


yang berbahaya, sehingga dapat ditanggulangi.
Letak lokasi dapat di hulu ataupun di hilir sungai,
bergantung pada sumber dan jenis zat berbahaya
tersebut apakah alamiah maupun buatan.

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


27Plan

3. Perencanaan lokasi pengmbilan contoh


a. Pertimbangan kegunaan data
Tahap

pertama

dalam

perencanaan

lokasi

pengambilan contoh, adalah mengetahui kegunaan


data kualitas air yang akan dipantau. Kegunaan data
adalah sebagai berikut :
1) Sumber informasi mengenai potensi kualita
air

yang

tersedia

untuk

keperluan

pengembanan sumber daya air pada saat ini


dan masa yang akan datang.
2) Penyelidikan
lingkungan

dan

pengkajian

terhadap

pengaruh

kualitas

air

dan

pencemaran air,
3) Sumber data untuk keperluan penelitian
4) Perlindungan terhadap pemakai
5) Pengawasan terjadinya kasus pencemaran di
satu daerah tertentu
6) Pertimbangan

bebean

pencemaran

yang

dibuang melalui sungai ke laut.

b. Pertimbangan pemanfaatan sumber air


Pemilihan
dipengaruhi
pemanfaatan
sumber

air

lokasi
oleh

pengambilan

bermacam-macam

sumber
dan

contoh

hilir

air

tersebut.

sungai

lebih

banyak

kepentingan
Pemanfaatan
besar

resiko

pencemarannya dibandingkan dengan pemanfaatan


yang

sama

di

lokasi

hulu,

sehingga

diperlukan

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


28Plan

pengawasan kualitas air yang lebih intensif di lokasi


hilir.
Selain itu sumber air yang digunakan sebagai
sarana

transportasi

pertanian

ataupun

bahan

kimia

pengawetan

misalnya
kayu

untuk

mempunyai

resiko pencemaran yang lebih besar dari sumber air


yang tidak digunakan untuk hal-hal tersebut. Oleh
karena itu di lokasi-lokasi yang kualitas airnya sangat
berpengaruh terhadap pemanfaatan tertentu misalnya
untuk keperluan air rumah tangga atau industri
tertentu, maka pemantauan kualitas airnya juga harus
dilakukan secara intensif.
c. Pertimbangan sarana pengambilan contoh
Dalam perencanaan lokasi pengambilan contoh
perlu diketahui fasilitas bangunan yang telah ada pada
sumber air tersebut, yang dapat dimanfaatkan untuk
saran pengambilan contoh. Beberapa sarana berikut
dapat dimanfaatkan dalam pengambilan contoh.
a) Jembatan. Pengambilan contoh dari jembatan
lebih

mudah

dilaksanakan

dan

titik

pengambilan contoh dapat diidentifikasi secara


pasti.
b) Pos pengukur debit air. Pos pengukur debit air
biasanya

dilengkapi

dengan

alat

pencatat

tinggi muka air otomatis


c) Bendung. Pengambilan contoh pada bendung
juga sangat menguntungkan karena di lokasi
bendung umumnya terdapat pengukur debit

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


29Plan

serta catatan lain yang berguna untuk evaluasi


kualitas air
4. Penentuan lokasi pengambilan contoh
Lokasi pengambilan contoh ditentukan berdasarkan
pada tujuan pemeriksaan pengambilan conoth dapat
dilakukan pada air permukaan dan air tanah (bagian ini
merupakan bagian yang tidak terdapat secara rinci pada
sampling plan. Akan tetapi, terdapat pada SNI 06-24121991 tentang Metode pengambilan contoh kualitas air).
a) Air permukaan
Lokasi penambilan contoh di air permukaan dapat
berasal

dari

daerah

pengaliran

sungai

dan

danau/waduk, dengan penjelasn sebagai berikut:


1) Pemantauan kualitas air pada suatu derah
pengaliran sungai (DPS), berdasarkan pada:
(a) Sumber air alamiah, yaitu lokasi pad tempat
yang

belum

terjadi

atau

masih

sedikit

pencemaran;
(b) Sumber

air

tercemar,

yaitu

lokasi

pda

tempat yang telah mengalami perubahan


atau di hilir sumber pencemar;
(c) Sumber air yang dimanfaatkan, yaitu lokasi
pada

tempat

penyadapan

pemanfaatan

sumber air tersebut;


2) Pemantauan kualitas air pada danau/waduk
berdasarkan pada :

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


30Plan

(a) Tempat masuknya sungai ke danau/waduk;


(b) Di tengah danau/waduk;
(c) Lokasi penyadapan air untuk pemanfaatan;
(d) Tempat keluarnya air danau/waduk

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


31Plan

b) Air Tanah

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


32Plan

Lokasi pengambilan contoh air tanah dapat bersal


dari air tanah bebas (tidak tertekan) dan air tanah
tertekan dengan penjeasan sebagai berikut:
1) Air tanah bebas (tidak tertekan) :
(a) Di

sebelah

hulu

dan

hilir

dari

penimbunan/pembuangan

lokasi
sampah

kota/industri;
(b) Di sebelah hilir daerah pertanian yang
intensif menggunakan pestisida dan pupuk
kimia;
(c) Di daerah pantai dimana terjadi penyusupan
air asin
(d) Tempat-tempat yang dianggap perlu.
2) Air tanah tertekan :
(a) Di

sumur

produksi

pemenuhan

air

kebutuhan

tanah

untuk

perkotaan,

pedesaan, pertanian, dan industri;


(b) Di sumur produk air tanah PAM maupun
sarana umum;
(c) Di sumur-sumur pemantauan kualitas air
tanah;
(d) Di lokasi kawasan industri;
(e) Di sumur observasi air tanah di suatu
cekungan air tanah artesis (misalnya :
cekungan artesis Bandung;

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


33Plan

(f) Pada sumur observasi di wilayah pesisir


dimana terjadi penyusupan air asin
(g) Pada

sumur

observasi

penimbunan/pengolahan

limbah

industri

bahan berbahaya dan beracun (B3);


(h) Pada sumur lainnya yang dianggap perlu.

5. Frekuensi pengambilan contoh


Beberapa

faktor

yang

dapat

mempengaruhi

frekuensi pengambilan contoh yaitu: perubahan kualitas


air, waktu pengambilan contoh dan debit air.

a) Perubahan kualitas air


Perubahan

kualits

air

disebabkan

oleh

perubahan kadar unsur yang masuk ke dalam


air, kecepatan alir dan volume air. Perubahan
tersebut dapat terjadi sesaat ataupun secara
teratur dan terus menerus dalam suatu periode
waktu. Sungai dan sumber air lainnya dapat
mengalami perubahan tersebut dapat secara
alamiah atau buatan. Kedua perubahan tersebut
dapat dijelaskan di bawah ini.
(1) Perubahan sesaat
Perubahan sesaat disebabkan oleh
suatu

kejadian

seringkali

tidak

yang
dapat

tiba-tiba

dan

diramalkan.

Sebagai contoh turunnya hujan lebat


yang tiba-tiba akan menyebabkan debit

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


34Plan

air yang diikuti oleh terbawanya bahanbahan pencemaran dari pengikisan di


daerah

sekitarnya.

bocoran

dari

Tumpahan

dan

industri

atau

limbah

pertanian dapat pula merubah kualitas air


sesaat.
(2) Perubahan terus-menerus
Perubahan
setiap

secara

tahun

dapat

terus

menerus

terjadi

karena

turunnya hujan atau turunnya suhu yang


beraturan
musim

tiap-tiap

akan

musim.

Perubahan

menyababkan

terjadinya

perubahan komposisi air serta kecepatan


pembersihan

secara

alamiah

(self

purification). Perubahan secara teratur


dapat

pula

terjadi

setiaphari

secara

alamiah, misalnya perubahan pH, oksigen


terlarut,

suhu,

dan

alkaniti.

Kegiatan

industri dan pertanian pada suatu daerah


dapat pula mempengaruhi kualitas air
secara teratur selama terjadinya kegiatan
pembuangan

limbahnya

Sedangkan

kegiatan domestik dapat menyebabkan


perubahan

harian

dan

mingguan.

Perubahan kualitas air yang teratur dapat


pula disebabkan oleh adanya pengaturan
debit air yang dilakukan secara teratur
dan

terus-menerus

tertentu.
b) Waktu pengambilan contoh

untuk

keperluan

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


35Plan

Perubahan kualitas air yang terus menerus


perlu dipertimangkan dalam penentuan waktu
pengambilan contoh pada sumber air. Contoh
perlu diambil pada waktu tertentu dan periode
yang tetap sehingga data dapat digunakan
untuk mengevaluasi perubahan kualitas air,
akan tetapi kualitas air pada saat tersebut
tidaklah menggambarkan kualitas air pada saatsaat yang lain Hal ini terjadi terutama pada
kualitas air yang berubah setiap waktu. Sebagai
contoh

grafik

kualitas

air

menunjukkan

yang

sangat

perubahan

ekstrim

selama

pengukuran selama tiga minggu.

Dari gambar tersebut, perhitungan nilai


rata-rata kadar harian adalah 6,1. Akan tetapi
apabila contohnya hanya diambil setiap hari

keempat, maka nilai rata-rata kadar menjadi 9.


Sedangkan bila diambil setiap hari pertama nilai
rata-rata kadar menjadi 3. Untuk mengetahui
kesalahan

ini

maka

frekuensi

pengambilan

contoh setiap minggu diambil sebanyak dua


kali, sehingga diperlukan 6 kali pengambilan
dalam periode tiga minggu.
c) Debit Air

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


36Plan

Kadar dari zat-zat tertentu di dalam air


diperngaruhi oleh debit air sungai atau volume
sumber air. Selama debit aliran yang kecil di
musim kemarau, frekuensi pengambilan contoh
perlu ditingkatkan terutama pada sungai yang
menampung limbah industri, domsetik, dan
pertanian
Pengukuran debit air diperlukan pula untuk
menghitung jumlah beban pencemaran dan
diperlukan pula untuk membandingkan kualitas
air pada debit rendah dan debit besar selama
periode pemantauan.
6. Penentuah frekuensi pengambilan contoh
Untuk memperoleh data yang baik maka jumlah
frekuensi pengambilan contoh air pada suatu lokasi perlu
ditentukan secara sistematis. Guna menentukan jumlah
frekuensi pengambilan contoh ini terdapat tahapantahapan yang perlu diperhatikan.
a) Pengumpulan informasi
Pengumpulan informasi meliputi:
1) Kondisi-kondisi yang mempengaruhi kualitas air pada suatu lokasi,
misalnya sumber pencemaran, titik pemanfaatan dan sebagainya, di
samping itu informasi in juga diperukan untuk menentukan titik
pengambilan contoh air;
2) Data hasil analisis kualitas air yang ada dimana informasi ini digunakan
untuk membantu memperkirakan perubahan kulitas air pada lokasi
tersebut.
b) Penetapan parameter yang diperiksa

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


37Plan

Setelah diketahui kepeluan dari pemantauan


yang akan dilakukan maka ditetapkan parameterparameter yang penting untuk diperiksa sesuai
dengan pemanfaatan airnya dan batasan kadar
dari

parameter-parameter

tersebut

sesuai

standar kualitas air setempat. Hal ini akan


mempengaruhi pemanfaatan air pada saat ini
dan masa yang akan datang.
c) Studi pendahuluan
Studi pendahuluan perlu dilakukan untuk
mengetahui kadar parameter-parameter dalam
air di lokasi yang akan diambil dan juga untuk
mengetahui perubahan-perubahan kualitas air
yang

terjai.

Sebagai

perbandingan,

studi

pendahuluan di sungai dapat dilakukan dengan


frekuensi pengambilan contoh sebagai berikut:
1) Setiap minggu selama satu tahun;
2) Setiap hari berturut-turut selama 7 hari,
diuangi lagi setiap 13 minggu sekali
(empat kali selama satu tahun);
3) Selama

empat

jam

selama

hari

berturut-turut, diulangi lagi setiap 13


minggu sekali;
4) Setiap jam selama 24 jam dan diulangi
lagi setiap 13 minggu sekali.
Frekuensi
tersebut

di

disesuaikan

pengambilan

contoh

atas

dapat

fasilitas

masih
yang

ada.

seperti
berubah
Untuk

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


38Plan

meringankan beban pekerjaan, jumlah parameter


yang dianalisi dapat dikurangi. Untuk lokasi
danau dianjurkan survai pendahuluan dilakukan
lima hari berturut-turut diulangi setiap 13 minggu
sekali.

Sedangkan

untuk

lokasi

yang

telah

tercemar dan dekat denan titik pemanfaatan,


maka

frekuensi

pengambilan

contoh

dapat

diperbanyak. Dari data yang diperoleh pada studi


pendahuluan

tersebut

kemudian

ketelitian dan persen kebenaran

dihitung

(confidence

limit) dari parameter utamanya.


d) Penetapan frekuensi pengambilan contoh air
Berdasarkan

informasi

dikumpulkan,

termasuk

pendahuluan,

dapat

yang
data

diketahui

telah

hasil

studi

parameter-

parameter yang melebihi batas kriteria yang


berlaku serta frekuensi terjadinya. Dengan
demikian

dapat

ditetapkan

frekuensi

pengambilan contoh yang diperlukan dan


pengambilan

contohsecara

rutin

dilaksanakan.
Apabila

studi

dilaksanakan
frekuensi

atau

pendahuluan
ditangguhkan

pengambilan

contoh

belum
maka
(untuk

sementara) dapat dilakukan sebagai berikut:


1) unt

Pengambilan Sampel dengan Tepat Berdasarkan Sampling


39Plan

BAB V

DAFTAR PUSTAKA
Iqbal, R. (2015, February 9). Cara Pengambilan Sampel. Retrieved July
7, 2016, from Riefka Iqbal History of Smakpa:
http://historyofsmakpa.blogspot.co.id/2015/02/cara-pengambilansampel.html
Sudarmanto, R. G. (2011, August). Retrieved July 7, 2016, from
http://staff.unila.ac.id/radengunawan/files/2011/08/PenentuanBesarnya-Sampel-Menggunakan-Rumus-Cochran.pdf
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuanititatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung, Jawa Barat, Indonesia: Penerbit Alfabeta.