Anda di halaman 1dari 16

REFLEKSI KASUS

ABSES PERITONSIL
Disusun Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti
Ujian Akhir Stase Telinga Hidung Tenggorokan dan Kepala Leher
RSUD Tidar Magelang

Diajukan Kepada :
dr. M. Chrisma P, Msi.Med., Sp.THT-KL
Disusun Oleh :
Ginesha Hafidzy Garishah

SMF BAGIAN ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN DAN


KEPALA LEHER
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TIDAR KOTA MAGELANG
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

REFLEKSI KASUS
I. PENGALAMAN
Pasien laki-laki usia 59 tahun datang dengan keluhan nyeri tenggorokan dan
susah menelan, keluhan dirasakan sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit.
Keluhan dirasakan secara tiba-tiba /mendadak pada saat pasien sedang
bekerja dan nyeri dirasakan terus menerus. Pasien juga mengeluh suara
bergumam(+), sukar membuka mulut (+), mulut bau(+), demam (+), leher
sebelah kiri dirasakan membengkak (+), air liur banyak (+). Sebelum nyeri
tenggorokan dan susah menelan tidak didahului dengan tersedak makanan/
minuman. Keluhan dirasakan pertama kali, batuk pilek disangkal pasien,
riwayat konsumsi obat rutin(-), riwayat hipertensi (-), DM (-). Pasien di
diagnosa dengan abses peritonsil.
II. MASALAH YANG DIKAJI
Bagaimana gejala klinis dan penatalaksanaan pada abses peritonsil?
III.

ANALISIS MASALAH
Abses Peritonsil (Quinsy) merupakan salah satu dari abses
leher dalam. Pengertian dari abses leher dalam adalah
terkumpulnya nanah (pus) yang terbentuk di ruang potensial
diantara fasia leher dalam sebagai akibat dari penjalaran
infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok,
sinus paranasal, telinga tengah dan leher.
Abses

peritonsil

merupakan

terkumpulnya

material

purulent yang terbentuk di luar kapsul tonsil dekat kutub atas


tonsil, sebagai akibat dari komplikasi tonsillitis akut atau
infeksi yang bersumber dari kelenjar mucus weber di kutub
atas tonsil dengan etiologi yang sama seperti tonsillitis.
Etiologi
Abses peritonsiler terjadi akibat dari komplikasi infeksi
pada tonsil, seperti tonsillitis akut atau infeksi yang bersumber

dari

kelenjar

mucus

weber

di

kutub

atas

tonsil.

Kuman

penyebabnya sama dengan kuman penyebab tonsillitis.


Organisme
pyogenes

aerob

(Group

tersering

adalah

Beta-hemolitik

Streptococcus
streptococcus),

Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenza. Sedangkan


organisme
Prevotella,

anaerob

yang

berperan

Porphyromonas,

adalah

Fusobacterium,

Fusobacterium,

dan

Peptostreptococcus spp.
Pada stadium permulaan (stadium infiltrat), selain pembengkakan tampak
juga permukaan yang hiperemis. Bila proses berlanjut, daerah tersebut lebih lunak
dan berwarna kekuning-kuningan. Tonsil terdorong ke tengah, depan, dan bawah,
uvula bengkak dan terdorong ke sisi kontra lateral. Bila proses terus berlanjut,
peradangan jaringan di sekitarnya akan menyebabkan iritasi pada m.pterigoid
interna, sehingga timbul trismus. Abses dapat pecah spontan, sehingga dapat
terjadi aspirasi ke paru. Selain itu, abses peritonsiler terbukti dapat timbul de novo
tanpa ada riwayat tonsillitis kronis atau berulang sebelumnya.
Abses peritonsil yang timbul sebagai kelanjutan tonsilitis akut biasanya
timbul pada hari ke 3 dan ke 4 dari tonsillitis akut. Sumber infeksi berasal dari
salah satu kripta yang mengalami peradangan, biasanya kripta fossa supratonsil,
dimana ukurannya besar, merupakan kavitas seperti celah dengan tepi tidak
teratur, dan berhubungan erat dengan bagian posterior dan bagian luar tonsil.
Muara dari kripta yang mengalami infeksi tersebut tertutup sehingga abses yang
terbentuk di dalam saluran kripta akan pecah melalui kapsul tonsil dan berkumpul
pada tonsil bed. Pus yang berkumpul pada fosa supratonsil tersebut akan
menimbulkan penonjolan, pembengkakan dan edema dari palatum molle sehingga
tonsil akan terdorong kearah medial bawah. Walaupun sangat jarang abses
peritonsil dapat terbentuk di inferior.
Abses peritonsiler juga bisa sebagai kelanjutan dari infeksi yang
bersumber dari kelenjar mukus weber. Kelenjar ini berhubungan dengan
permukaan atas tonsil lewat duktus dan kelenjar ini membersihkan area tonsil dari
debris dan sisa makanan yang terperangkap di kripta tonsil. Inflamasi pada

kelenjar weber dapat menyebabkan selulitis. Infeksi ini menyebabkan duktus


sampai permukaan tonsil menjadi lebih terobstruksi akibat inflamasi sekitarnya.
Hasilnya adalah nekrosis jaringan dan pembentukan pus yang menghasilkan tanda
dan gejala abses peritonsil.
Gambaran Klinis dan Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pada anamnesis dapat diperoleh keterangan dari penderita mengenai nyeri
tenggorok atau nyeri menelan ringan yang bersifat kronik, rasa mengganjal di
tenggorokan, mulut berbau, badan lesu, nafsu makan berkurang, sakit kepala,
mendengkur, dan kadang disertai sesak.
Gejala yang dikeluhkan pasien antara lain panas sub
febris, disfagia dan odinofagia yang menyolok dan spontan, hot
potato voice, mengunyah terasa sakit karena m. masseter
menekan tonsil yang meradang, nyeri telinga (otalgia) ipsilateral,
foetor ex orae, perubahan suara karena hipersalivasi dan banyak
ludah yang menumpuk di faring, rinolalia aperta karena udem
palatum molle (udem dapat terjadi karena infeksi menjalar ke
radix

lingua

dan

epiglotis

udem

perifokalis),

trismus

(terbatasnya kemampuan untuk membuka rongga mulut) yang


bervariasi, tergantung derajat keparahan dan progresivitas
penyakit, trismus menandakan adanya inflamasi dinding lateral
faring dan m. Pterigoid interna, sehingga menimbulkan spasme
muskulus tersebut. Akibat limfadenopati dan inflamasi otot,
pasien sering mengeluhkan nyeri leher dan terbatasnya gerakan
leher (torticolis).
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tonsil yang membesar, tonsil
hiperemi, kripta melebar dan terisi detritus.
Tabel 1. Perbedaan tonsilitis akut, eksaserbasi akut, dan kronis.
Tonsilitis Akut

Tonsilitis Kronis
Eksaserbasi akut

Tonsilitis Kronis

Hiperemis dan edema

Hiperemis dan edema

Kripte tak melebar


Detritus (+ / -)
Perlengketan (-)
Antibiotika, analgetika,
obat kumur

Membesar/mengecil
tidak hiperemis
Kripte melebar
Detritus (+)
Perlengketan (+)
Bila mengganggu lakukan
tonsilektomi

Kripte melebar
Detritus (+)
Perlengketan (+)
Sembuhkan radangnya,
lakukan 2 6 minggu
setelah peradangan tenang
(Sumber: Derake A, Carr MM. Tonsillectomy. Dalam : Godsmith AJ, Talavera F,
Allen Ed.eMedicine.com.inc.2002:1 10)

Standar pemeriksaan klinis untuk tonsil telah dibuat oleh banyak pusat
penelitian dan kesehatan. Biasanya, meskipun tidak selalu, hipertrofi obstruktif
terjadi pada tonsil dan adenoid, dimana keadaan ini harus segera ditangani.
Permasalahan yang timbul adalah apabila obstruksi adenoid telah tampak, namun
pembesaran tonsil masih +1 atau +2. Pada kasus ini, keputusan klinik yang tepat
harus dibuat. Kecuali bila hipertrofi tonsil tampak signifikan, maka operasi tonsil
in situ dapat dilakukan.
Standar klasifikasi derajat pembesaran tonsil dibuat berdasarkan rasio
tonsil terhadap orofaring (dari sisi medial ke lateral) di antara pillar anterior.
-

0 : bila tonsil berada di dalam fosa

+1 : < 25% tonsil menutupi orofaring

+2 : 25 50% tonsil menutupi orofaring

+3 : 50 75% tonsil menutupi orofaring

+4 : > 75% tonsil menutupi orofaring

PATOFISIOLOGI PENYAKIT

Reaksi Inflamasi pada Tonsil

menyebar ke daerah peritonsil

jaringan ikat longgar infiltrasi supurasi

Abses Peritonsil
Penatalaksanaan
Penanganan

abses

peritonsiler

meliputi

hidrasi,

menghilangkan nyeri, dan antibiotik yang efektif mengatasi


Staphylococcus aureus dan bakteri anaerob. Aspirasi needle
merupakan

penanganan

yang

efektif

pada

75

abses

peritonsiler pada anak-anak dan dianjurkan sebagai terapi utama


kecuali terdapat riwayat tonsilitis rekuren atau abses peritonsiler
sebelumnya

maka

indikasinya

adalah

tonsilektomi

dengan

segera.
Pada stadium infiltrasi, diberikan antibiotika dosis tinggi,
dan obat simtomatik. Juga perlu kumur-kumur dengan cairan
hangat dan compres dingin pada leher. Pemilihan antibiotik yang
tepat tergantung dari hasil kultur mikroorganisme pada aspirasi

jarum.

Penisilin

peritonsilar

dan

merupakan
efektif

drug
pada

of
98%

chioce

pada

abses

kasus

jika

yang

dikombinasilakn dengan metronidazole. Dosis untuk penisilin


pada dewasa adalah 600mg IV tiap 6 jam selama 12-24 jam, dan
anak 12.500-25.000 U/Kg tiap 6 jam. Metronidazole dosis awal
untuk dewasa 15mg/kg dan dosis penjagaan 6 jam setelah dosis
awal dengan infus 7,5mg/kg selama 1 jam diberikan selama 6-8
jam dan tidak boleh lebih dari 4 gr/hari.
Bila telah terbentuk abses, dilakukan pungsi pada daerah
abses, kemudian diinsisi untuk mengeluarkan nanah. Tempat
insisi ialah di daerah yang paling menonjol dan lunak, atau pada
pertengahan garis yang menghubungkan dasar uvula dengan
geraham atas terakhir. Intraoral incision dan drainase dilakukan
dengan mengiris mukosa overlying abses, biasanya diletakkan di
lipatan supratonsillar. Drainase atau aspirate yang sukses
menyebabkan perbaikan segera gejala-gejala pasien.
Bila terdapat trismus, maka untuk mengatasi nyeri,
diberikan analgesia lokal di ganglion sfenopalatum. Kemudian
pasien dinjurkan untuk operasi tonsilektomi a chaud. Bila
tonsilektomi dilakukan 3-4 hari setelah drainase abses disebut
tonsilektomi a tiede, dan bila tonsilektomi 4-6 minggu sesudah
drainase abses disebut tonsilektomi a froid. Pada umumnya
tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi tenang, yaitu 2-3 minggu
sesudah drainase abses.
Terapi Operasi
Bila telah terjadi fluktuasi dan terapi konservatif tidak menolong, maka
tindakan aspirasi pus cukup memadai, tetapi lebih sering harus diikuti dengan
insisi. Drainase terbaik adalah tonsilektomi quinsy, yang dilakukan dengan
anastesi umum dan perlindungan antibiotika. Yang mengherankan, tonsil tidak

mengalami perdarahan hebat, dan sebenarnya tindakan ini lebih mudah


dibandingkan pengangkatan tonsil beberapa minggu kemudian, sewaktu ruangan
peritonsil yang sebelumnya terisi pus terah terobliterasi dengan jaringan parut dan
fibrosis, dan kapsul tonsilaris kurang mudah dikenali.
Bila tidak terdapat ahli dan fasilitas untuk melakukan tonsilektomi
quinsy, maka terapi yang sesuai adalah insisi dan drainase melalui mulut.
Drainase di tempat praktek membutuhkan lampu kepala dan alat penyedot faring
yang baik, harus dilakukan di lokasi yang tepat, dan harus dilakukan tindakan
untuk menghindarkan aspirasi pus ke paru. Teknik insisi dan drainase
membutuhkan anastesi lokal. Faring disemprot dengan anastesi topikal. Kemudian
2 cc Xilocain dengan adrenalin 1/100.000 disuntikkan di regio insisi. Pisau tonsila
no. 12 atau no.11 dengan plester atau dengan kasa di bagian proksimal pisau dan
gagang pisau untuk mencegah penetrasi yang dalam, insisi dibuat melalui mukosa
dan submukosa dekat kutub atas fosa tonsilaris. Hemostat tumpul dimasukkan
melalui insisi ini dengan lembut direntangkan. Pengisapan tonsila sebaiknya
segera disediakan untuk mengumpulkan pus yang dilkeluarkan. Pada anak yang
lebih tua atau dewasa muda dengan trismus yang berat, pembedahan drainase
untuk abses peritonsiler mungkin dilakukan setelah aplikasi cairan kokain 4%
pada daerah insisi dan daerah ganglion sfenopalatina pada fosa nasalis untuk
mencapai n. palatina descenden. Anak-anak yang lebih muda membutuhkan
anastesi umum16. Tempat insisi ialah di daerah yang paling menonjol dan lunak,
atau pada pertengahan garis yang menghubungkan dasar uvula dengan geraham
atas terakhir (lipatan supratonsiler). Bila dilakukan dengan tepat, hanya akan
terjadi sedikit perlukaan. Kesalahan tersering karena tidak membuat lubang yang
cukup panjang atau cukup dalam. Biasanya evakuasi pus akan diikuti perbaikan
segera gejala-gejala pasien.
Karena abses peritonsil merupakan komplikasi tonsilitis akut yang
berulang-ulang, maka dianjurkan pada penderita abses peritonsil dilakukan
tonsilektomi, supaya tidak timbul abses yang berulang. Dapat dilakukan tindakan
operasi tonsilektomi a chaud (immediate tonsilektomi), yaitu tonsilektomi segera

mungkin setelah drainase abses. A tiede, yaitu tonsilektomi dilakukan 3-4 hari
setelah drainase abses. A froid (interval tonsilektomi), yaitu tonsilektomi
dilakukan 4-6 minggu sesudah drainase abses.
Pada umumnya tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi tenang, yaitu 2-3
minggu sesudah drainase abses. Abses peritonsil mempunyai kecenderungan besar
untuk kambuh. Sampai saat ini belum ada kesepakatan kapan tonsilektomi
dilakukan pada abses peritonsil. Sebagian penulis menganjurkan tonsilektomi 68
minggu kemudian karena mengingat kemungkinan terjadi perdarahan atau sepsis,
sedangkan sebagian lagi menganjurkan tonsilektomi sesegera mungkin. Indikasiindikasi untuk tonsilektomi segera pada abses peritonsil, jika terdapat obstruksi
jalan napas atas, sepsis dengan adenitis servikalis atau abses ke leher bagian
dalam, riwayat abses peritonsiler sebelumnya, dan riwayat faringitis eksudatifa
berulang.
Tabel 1. Indikasi tonsilektomi segera pada abses tonsilaris2
Obstruksi jalan nafas atas
Sepsis dengan adenitis servikalis atau abses leher bagian dalam
Riwayat abses peritonsil sebelumnya
Riwayat faringitis eksudatif yang berulang
Fasano JC juga menjelaskan beberapa indikasi tonsilektomi segera pada abses
peritonsil yaitu:4

Abses peritonsil yang tidak dapat diinsisi dan drainase karena trismus atau

abses yang berlokasi di kutub bawah


Abses peritonsil yang meluas dari hipofaring ke daerah parafaring dengan

risiko meluas ke daerah leher dalam


Penderita dengan diabetes melitus yang memerlukan toleransi terhadap terapi

berbagai antibiotika
Penderita dengan usia >50 tahun dengan tonsil yang melekat karena abses
sangan mudah meluas ke leher dalam
Beberapa jenis operasi tonsilektomi yang dapat dilakukan antara lain:1

Tonsilektomi achaud yaitu apabila tonsilektomi dilakukan bersama-sama

dengan tindakan drainase abses.


Tonsilektomi atiede yaitu apabila tonsilektomi dilakukan 3-4 hari setelah

tindakan drainase abses.


Tonsilektomi afroid yaitu apabila tonsilektomi dilakukan 4-6 minggu setelah
tindakan drainase abses.
Operatif
Dilakukan tindakan pembedahan berupa tonsilektomi dengan
metode Diseksi. Dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Pasien supine dengan GA

Desinfeksi daerah operasi dan sekitarnya

Tutup doek steril kecuali daerah operasi

Pasang mouth gage davise boyle

Buat sayatan U terbalik pada tonsil sebelah kiri, keluar pus cc

Dilanjutkan dengan diseksi, atas perdarahan

Buat sayatan U terbalik pada tonsil sebelah kanan, lakukan diseksi, tampak
jaringan yang rapuh dari pole atas sampai bawah

Fossa tonsil dijahit 5-5

Evaluasi perdarahan perdarahan berhenti, Operasi selesai


Penggunaan steroids masih kontroversial. Penelitian terbaru yang

dilakukan Ozbek mengungkapkan bahwa penambahan dosis tunggal intravenous


dexamethasone pada antibiotik parenteral telah terbukti secara signifikan
mengurangi waktu opname di rumah sakit (hours hospitalized), nyeri tenggorokan

(throat pain), demam, dan trismus dibandingkan dengan kelompok yang hanya
diberi antibiotik parenteral. parenteral.
Komplikasi
Komplikasi abses peritonsil dapat berupa edema laring
akibat tertutupnya rima glotis atau edema glotis akibat proses
perluasan radang ke bawah. Keadaan ini membahayakan karena
bisa menyebabkan obstruksi jalan napas. Abses yang pecah
secara spontan terutama waktu tidur dapat mengakibatkan
aspirasi pneumonia dan piemia. Abses yang ruptur spontan
biasanya pecah dari pilar anterior. Penjalaran infeksi dan abses
ke daerah parafaring, sehingga dapat terjadi abses parafaring.
Kemudian dapat terjadi penjalaran ke mediastinum menimbulkan
mediastinitis. Bila terjadi penjalaran ke daerah intrakranial, dapat
mengakibatkan trombus sinus kavernosus, meningitis, dan abses
otak.

Sekuele

poststreptokokus

(glomerulonefritis,

demam

reumatik) apabila bakteri penyebab infeksi adalah streptococcus


Grup

A.

Kematian,

walaupun

jarang

dapat

terjadi

akibat

perdarahan atau nekrosis septik ke selubung karotis (carotid


sheath). Dapat juga terjadi peritonsilitis kronis dengan aliran pus
yang berjeda. Komplikasi juga terjadi akibat tindakan insisi pada
abses akibat perdarahan yang terjadi pada arteri supratonsilar.

DIAGNOSIS PADA ABSES PERITONSILER


1 Anamnesis
Informasi dari pasien (anamnesis) sangat diperlukan
untuk menegakkan diagnosis abses peritonsiler. Adanya riwayat
pasien mengalami nyeri pada tenggorokan adalah salah satu
yang mendukung terjadinya abses peritonsilar. Riwayat adanya
faringitis akut yang disertai tonsilitis dan rasa kurang nyaman
pada pharingeal unilateral.

2 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tonsilitis akut dengan
asimetri

faring

sampai

dehidrasi

dan

sepsis.

Didapatkan

pembesaran dan nyeri tekan pada kelenjar regional. Pada


pemeriksaan kavum oral terdapat eritema, asimetri palatum
mole, eksudasi tonsil, dan pergeseran uvula kontralateral. Dan
pada palpasi palatum molle teraba fluktuasi. Nasofaringoskopi
dan laringoskopi fleksibel direkomendasikan pada pasien yang
mengalami kesulitan bernapas, untuk melihat ada tidaknya
epiglotitis dan supraglotis.
Abses peritonsiler biasanya unilateral dan terletak di
kutub superior dari tonsil yang terkena, di fossa supratonsillar.
Mukosa di lipatan supratonsillar tampak pucat dan bahkan
seperti bintil bintil kecil. Nasofaringoskopi dan laringoskopi
fleksibel direkomendasikan untuk penderita yang mengalami
gangguan

pernafasan.

3 Pemeriksaan Laboratorium
Yang merupakan gold standar untuk mendiagnosa
abses peritonsiler adalah dengan mengumpulkan pus dari abses
menggunakan aspirasi jarum. Pus kemudian dikultur dan dengan
kultur

ini

peritonsiler

dapat
serta

ditentukan

organisme

antibiotika

penatalaksanaannya.
4 Pemeriksaan Penunjang Lainnya

yang

penyebab

abses

tepat

untuk

a Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan


laboratorium berupa hitung darah lengkap, pengukuran kadar
elektrolit. Karena pasien dengan abses peritonsil seringkali
dalam keadaan sepsis dan menunjukkan tingkat dehidrasi
yang bervariasi akibat tidak tercukupinya asupan makanan.
b Pemeriksaan radiologi dapat membantu pada terapi abses
peritonsil yang tidak mengalami perbaikan setelah dilakukan
inspirasi dan drainase atau terdapat perburukan edema pada
selulitis peritonsil yang telah diterapi. Pada kasus tertentu
dimana ternyata absesnya terdapat di tonsil itu sendiri dan
atau sebagian abses tersembunyi pada inferior atau posterior
tonsil. Foto polos dapat berupa pandangan jaringan lunak
lateral dari nasofaring dan orofaring dapat membantu dokter
dalam menyingkirkan diagnosis abses retropharyngeal. Pada
posisi AP, terdapat distorsi jaringan lunak, tapi tidak begitu
membantu dalam menentukan lokasi abses.
c Pada pasien yang sangat muda, evaluasi radiologi dapat
dilakukan dengan CT-scan pada rongga mulut dan leher
menggunakan

kontras

intravena.

Ditemukan

gambaran

kumpulan cairan hipodens di apex tonsil yang terkena, dengan


penyengatan

pada

perifer.

Gambaran

lainnya

termasuk

pembesaran asimetrik tonsil dan fossa sekitarnya. Intraoral


ultrasonography merupakan teknik pencitraan yang simpel
dan non-invasif, dapat membedakan selulitis dan abses.

IV.KESIMPULAN
Pada pasien ini dilakukan tonsilektomi sudah sesuai indikasi absolut
menurut The American Academy of Otolaryngology, Head and Neck Surgery yaitu

pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas, disfagia


menetap, gangguan tidur, terjadi febris yang berulang,
V. DOKUMENTASI
1. Identitas Pasien
a) Nama
b) Umur
c) Pekerjaan
d) Agama
e) Alamat

: Ny. M T
: 59 tahun
: Buruh
: Islam
: Mertoyudan.

2. Anamnesis
a) Keluhan Utama
Nyeri tenggorokan dan Susah menelan
b) Riwayat Penyakit Sekarang
datang dengan keluhan nyeri tenggorokan dan susah menelan, keluhan
dirasakan sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan dirasakan
secara tiba-tiba /mendadak pada saat pasien sedang bekerja dan nyeri
dirasakan terus menerus. Pasien juga mengeluh suara bergumam(+),
sukar membuka mulut (+), mulut bau(+), demam (+), leher sebelah kiri
dirasakan membengkak (+), air liur banyak (+). Sebelum nyeri
tenggorokan dan susah menelan tidak didahului dengan tersedak
makanan/ minuman. Keluhan dirasakan pertama kali, riwayat tersedak
(-), batuk pilek disangkal pasien,
c) Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat asma
: disangkal
Riwayat jantung
: disangkal
Riwayat hipertensi
: disangkal
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat TBC
: disangkal
d) Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat asma
: disangkal
Riwayat hipertensi
: disangkal
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat TBC
: disangkal
3. Pemeriksaan Fisik
a) Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum
: Sakit sedang
Kesadaran
: CM
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Frekuensi Nadi: 78 x/ menit
Frekuensi Nafas
: 23 x/menit
Suhu tubuh : 36,7 oC
Telinga
Dextra
Sinistra
Auricula
Normotia
Normotia
Planummastoidiu
Nyeri tekan - ,
Nyeri tekan -,

m
Glandula limfatika
Canalis
audiotorius
extrena
Membran timpani
Deformitas
Kavum nasi
Konka inferior
Darah
Septum nasi

nyeri ketuk Nnll Edem - ,


hiperemis -

nyeri ketuk Nnll Edem -,


hiperemis -

intak
Hidung
Lapang
Edem -

intak
Lapang
Edem -

Ditengah
Tenggorokan
T3
Ditengah
pharing
Tenang

Tonsil
Uvula
Dinding
posterior
4. Pemeriksaan Penunjang

PEMERIKSAAN LABORATORIUM: 23 Juni 2016


Hb
: 14,1 gr/dL
Leukosit
: 17.000/mm3
Trombosit
: 175.000/mm3
GDS
: 146 mg/dL
DIAGNOSIS
Abses Peritonsil Sinistra
TERAPI

Umum
o Istirahat yang cukup
o Jaga kebersihan mulut
o Minum obat dengan teratur

Khusus
o Insisi dan drainasi abses peritonsil
o Ketorolac inj. 3x30 mg
o Cefixime Inj. 2x100 mgr
o Dexametason Inj. 2x1 amp

T3

o Betadine Gurgle 3x1 cup


o Metronidazole 2x1g
o Infus sanmol 3x 100 gr
PROGNOSIS

VI.

Qou ad Vitam

Quo ad Fungsionam : Bonam

Quo ad Sanationam

: Bonam

: Bonam

REFERENSI
Andrianto P. Penyakit telinga hidung dan tenggorokan, Edisi V Jakarta:
EGC;1993. Hal: 308-309.
Efendi H. Penyakit-penyakit nasofaring dan orofaring. Dalam: Boies, buku ajar
penyakit THT Edisi VI. Jakarta: EGC; 1997. Hal: 333-354.
Fachruddin, Darnila. Abses leher dalam. Dalam: Buku ajar ilmu kesehatan,
telinga-hidung-tenggorokan. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006. Hal: 185196.
Hatmansjah. Tonsilektomi. Dalam: Cermin Dunia Kedokteran Vol. 89. Jakarta:
FKUI; 1993. Hal : 19-21
Iskandar H.N, Mangunkusumo E.H, Roezin A.H. Penyakit telinga, hidung,
tenggorok, kepala, dan leher. Jakarta: Binarupa Aksara; 1994. Hal: 350-352.
Soepardi E.A, Iskandar H.N. Abses peritonsiler. Dalam: Buku ajar ilmu
kesehatan telinga, hidung dan tenggorokan. Jakarta: FKUl; 2000. Hal: 185189.

Beri Nilai