Anda di halaman 1dari 4

bbc.

com

Pengampunan pajak: mendatangkan uang


atau melindungi pengemplang? - BBC
Indonesia
Jerome Wirawan Wartawan BBC Indonesia
Setelah Undang-Undang Tax Amnesty atau Pengampunan Pajak disahkan, pemerintah
Indonesia didesak untuk menyusun reformasi pajak dan menguatkan penegakan hukum agar
pengampunan pajak tak lagi terjadi di masa mendatang.
Selama ini, menurut Direktur Eksekutif Pusat Analisis Perpajakan Indonesia (CITA), Yustinus
Prastowo, pemerintah tidak efektif dalam penegakan hukum karena kendala regulasi,
administrasi, koordinasi, dan kompetensi.
Padahal, di dalam perpajakan, kita mengenal daluarsa. Kewenangan Dirjen Pajak memungut
pajak atau menetapkan pajak dibatasi lima tahun. Jadi praktis banyak sekali wajib pajak yang
tidak bisa diperiksa karena keterbatasan kapasitas yang menyebabkan daluarsa, ujarnya.

Image copyright Reuters Image caption Melalui UU Tax Amnesty, negara diperkirakan akan
mendapat Rp165 triliun.
Di samping itu, tambah Prastowo, pemerintah punya keterbatasan akses informasi baik dalam
negeri, ke perbankan, maupun ke luar negeri dalam rangka pertukaran data dengan negara
lain.

Undang-Undang Tax Amnesty menjadi relevan karena dana triliunan rupiah di luar negeri
yang tidak bisa dijangkau pemerintah itu kini bisa didulang.
Namun, sebelum masa Undang-Undang Pengampunan Pajak berakhir 31 Maret 2017
mendatang, pemerintah punya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Image copyright Reuters Image caption Pemerintah didesak mereformasi sistem pajak agar
pengampunan pajak tak lagi terjadi.
Undang-Undang ini harus yang terakhir. Undang-Undang ini harus ditempatkan sebagai
jembatan untuk menuju comprehensive tax reform berupa penguatan sistem perpajakan,
peraturan, maupun kelembagaannya. Dalam konteks itu, pemerintah masih punya pekerjaan
rumah untuk mewujudkan reformasi pajak dan melakukan penegakan hukum yang kuat dan
tegas. Jika pemerintah berhenti pada tax amnesty, ini yang bahaya, jelas Prastowo.
Bahaya yang dimaksud Prastowo adalah para wajib pajak menjadi semakin leluasa untuk
menghindari pajak serta memiliki persepsi bahwa pemerintah lemah dan tidak bisa berbuat
apa-apa untuk menindak mereka.

Demoralisasi
Masalah hukum memang menjadi perhatian sejumlah aktivis antikorupsi setelah UndangUndang Tax Amnesty berlaku. Maryati Abdullah dari lembaga Publish What You Pay,
misalnya.
Maryati memandang keinginan pemerintah untuk menambah pemasukan dari pengampunan
pajak sejatinya tidak mengindahkan aspek hukum.
Orang-orang dalam target kasus pidana hukum yang seharusnya dibawa ke peradilan
perpajakan, kemudian kasus mereka diputihkan karena membayar sekian persen tarif tebusan,

saya meragukan penegakan hukum selanjutnya. Tidak menutup kemungkinan di balik pidana
pajak ada pencucian uang, kata Maryati.

Image caption Sejumlah orang kecewa terhadap langkah


pemerintah yang memfasilitasi orang-orang kaya yang menghindari pajak.
Dia juga menyoroti demoralisasi para wajib pajak dari kelas menengah ke bawah akibat
pengampunan pajak orang-orang berduit.
Dalam jangka panjang, pengampunan pajak ini bisa mendemoralisasi kepatuhan dari para
pembayar pajak. Karena ternyata negara lebih memfasilitasi orang-orang kaya yang tidak
patuh. Menurut saya ini menyakitkan hati publik, ujarnya.
Beberapa orang yang saya wawancarai di jalan mengamininya. Mereka mengutarakan
keprihatinan atas pengampunan yang diberikan pemerintah terhadap warga Indonesia yang
menghindari pajak.
Saya karyawan biasa yang setiap bulan dipotong gajinya untuk bayar pajak ke negara. Lalu
negara justru mengampuni orang-orang yang mengemplang pajak? Ini tidak adil, kata Susi,
yang ditemui di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Hartanto, yang bekerja di sebuah bank asing, lebih kritis. Menurutnya, tarif tebusan yang
ditetapkan dalam Undang-Undang Pengampunan Pajak sangat kecil dibandingkan dengan
aset yang dibawa warga Indonesia ke luar negeri demi menghindari pajak di Indonesia.
Dengan tarif yang ditetapkan, ibaratnya kita ingin mendapatkan sesuatu yang kecil tapi
memberi kelonggaran begitu besar kepada pengusaha yang membawa aset ke luar negeri,
kata Hartanto.

Tambahan pemasukan
Akan tetapi, pemerintah melalui Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menegaskan
bahwa tambahan pemasukan dari dana yang didapat dari pengampunan pajak akan sangat
berarti bagi anggaran pendapatan negara.

Image copyright AFP Image caption Potensi penerimaan negara dari pengampunan pajak
akan meningkatkan kemampuan pemerintah untuk berbelanja, termasuk di ranah
infrastruktur.
Dengan adanya tax amnesty maka ada potensi penerimaan yang akan bertambah dalam
APBN kita, baik di tahun ini atau tahun-tahun sesudahnya, yang akan membuat APBN kita
lebih sustainable. APBN lebih sustainable dan kemampuan pemerintah untuk spending atau
untuk belanja juga semakin besar sehingga otomatis ini akan banyak membantu programprogram pembangunan tidak hanya infrastruktur tapi juga perbaikan kesejahteraan
masyarakat, kata Bambang.
Dia menjelaskan bahwa tarif uang tebusan tidak sama dengan tarif pajak 30% untuk individu
Sebab, tarif pajak normal untuk individu dikenakan terhadap pendapatan, sedangkan yang
tarif uang tebusan dalam UU Tax Amnesty dikenakan terhadap aset.
Juga harus diklarifikasi bahwa tidak semua yang ikut amnesty adalah pengemplang atau
wajib pajak nakal, kata Bambang.
Melalui UU Tax Amnesty, para wajib pajak yang bersedia memindahkan asetnya dari luar
negeri akan diberikan tarif tebusan sebesar 2% sampai 5%. Adapun wajib pajak yang
mendeklarasikan asetnya di luar negeri tanpa memindahkan aset akan dikenai tarif 4% hingga
dan 10%.
Saat Undang-Undang ini berakhir Maret 2017 mendatang, negara diperkirakan akan
mendapat Rp165 triliun.
Meski terdapat tambahan dana dari pengampunan pajak, APBN-Perubahan 2016 muncul
defisit Rp296,723 triliun atau Rp2,35% dari Produk Domestik Bruto.