Anda di halaman 1dari 9

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER EKOLOGI LAUT

JUDUL MAKALAH
EKOSISTEM MANGROVE, PADANG LAMUN, TERUMBU KARANG

Oleh:
Sarah Dhastiana Kartika Dewi

1306411820

2013

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2016

I.

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri atas 17.508
pulau dengan panjang garis pantai 81.791 km, memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi
seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun, ikan, mamalia, reptilia, krustasea dan
berbagai jenis moluska. Sumberdaya alam laut tersebut merupakan salah satu modal dasar yang
dapat dimanfaatkan untuk pembangunan nasional.Adanya suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh
hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya disebut dengan ekosistem.
Ekosistem berasal dari kata : Geobiocoenosis, yang berarti Biocoenosis : komponen biotik dan
Geocoenosis : komponen abiotik. Tidak hanya tergantung di mana organisme tadi hidup, tetapi
juga pada apa yang dilakukan organisme termasuk mengubah energi, bertingkah laku, bereaksi,
mengubah lingkungan fisik maupun biologi dan bagaimana organisme dihambat oleh spesies lain.
Aliran energi dalam niche yang terjadi adalah ketika matahari menyinari laut, sinarnya
akan membantu proses fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton. Fitoplankton inilah yang
kemudian akan dikonsumsi oleh zooplankton, zooplankton dikonsumsi oleh hewan dengan tingkat
yang lebih tinggi (karnivora), hingga pada akhirnya hewan karnivora akan mati dan didekomposisi
oleh dekomposer menjadi detritus, yang kemudian diserap fitoplankton sebagai zat hara/nutrien.
Ada beberapa ekosistem yang terdapat di laut tropis contohnya : mangrove, lamun dan terumbu
karang. hubungan ketiga ekosistem ini sangat sinergis. Apabila salahsatu sistem mengalami
gangguan,maka sistem yang lain akan berpengaruh juga.
Ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang memiliki peran yang saling
mendukung bagi keutuhan ekosistem masing-masing. Mangrove memiliki peranan sebagai
penjebak hara dan sedimen, pelindung daratan dari abrasi, dan intrusi air laut dan menjadi tempat
berlindung bagi banyak organisme laut. Komunitas lamun memiliki peranan, yaitu mengurangi
energi gelombang, menstabilkan substrat sehingga mengurangi kekeruhan, menjebak zat hara, serta
menjadi tempat bertelur dan mencari makan. Terumbu karang sendiri mempunyai peranan yaitu
mengurangi energi gelombang, juga memperkokoh daerah pesisir secara keseluruhan dan menjadi
habitat bagi banyak jenis organisme laut.

II.

MANGROVE
Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove (English). Secara umum
hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu
daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air
laut surut dan komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut.
Tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove adalah tumbuhan yang bersifat halophyte, atau

mempunyai toleransi yang tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut dan pada umumnya
bersifat alkalin. Ekosistem mangrove didefinisikan sebagai mintakat pasut dan mintakat suprapasut dari pantai berlumpur dan teluk, goba, dan estuary yang didominasi oleh halophyta yakni
tumbuh-tumbuhan yang hidup di air asin, berpokok, dan beradaptasi tinggi yang berkaitan dengan
anak sungai, rawa, dan banjiran, bersama-sama dengan populasi hewan dan tumbuhan. Mangrove
tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai pantai yang datar. Biasanya di tempat yang
tak ada muara sungainya hutan mangrove terdapat agak tipis, namun pada tempat yang mempunyai
muara sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur dan pasir, mangrove
biasanya tumbuh meluas. Mangrove tidak tumbuh di pantai yang terjal yang berombak besar dan
arus pasang surut yang kuat.

Gambar 1. Rantai makanan pada ekosistem mangrove

III.

PADANG LAMUN
Padang lamun merupakan suatu komunitas dengan produktivitas primer dan sekunder yang
sangat tinggi, detritus yang dihasilkan sangat banyak, dan mampu mendukung berbagai macam
komunitas hewan. Padang lamun memiliki peranan ekologis yang sangat penting, yaitu sebagai
tempat berlindung, tempat mencari makan, tempat tinggal atau tempat migrasi berbagai jenis
hewan. Habitat lamun dapat dipandang sebagai suatu komunitas, dalam hal ini suatu padang lamun
merupakan kerangka struktur dengan tumbuhan dan hewan yang saling berhubungan. Habitat
lamun dapat juga dipandang sabagai suatu ekosistem, dalam hal ini hubungan hewan dan tumbuhan
tadi dipandang sebagai suatu proses tunggal yang dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh interaktif
dari faktor-faktor biologis, fisika, kimiawi. Lamun dapat hidup mulai dari rendah nutrien dan
melimpah pada habitat yang tinggi nutrien. Keberadaan lamun pada kondisi habitat tersebut, tidak
terlepas dan ganguan atau ancaman-ancaman terhadap kelansungan hidupnya baik berupa ancaman
alami maupun ancaman dari aktivitas manusia.

Lamun hidup dan terdapat pada daerah daerah mid-intertidal sampai kedalaman 0,5-10
m, dan sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesies lebih banyak terdapat di daerah
tropik dari pada di daerah uhajari. Habitat lamun dapat dilihat sebagai suatu komunitas,
dalam hal ini suatu padang lamun merupakan kerangka struktur dengan tumbuhan dan hewan
yang saling berhubungan. Habitat lamun dapat juga dilihat sabagai suatu ekosistem, dalam
hal ini hubungan hewan dan tumbuhan tadi dilihat sebagai suatu proses yang dikendalikan
oleh pengaruh-pengaruh interaktif dari faktor-faktor biologis, fisika, kimiawi. Ekosistem padang
lamun pada daerah tropik dapat menempati berbagai habitat, dalam hal ini status nutrien
yang diperlukan sangat berpengaruh. Lamun dapat hidup mulai dari rendah nutrien dan
melimpah pada habitat yang tinggi nutrien. Lamun pada umumnya dianggap sebagai kelompok
tumbuhan yang homogen. Lamun

terlihat

mempunyai kaitan

dengan

habitat

dimana

banyak lamun (Thalassia) adalah substrat dasar dengan pasir kasar. Enhalus acoroides
dominan hidup pada substrat dasar berpasir dan pasir sedikit berlumpur dan kadang-kadang
terdapat pada dasar yang terdiri atas campuran pecahan karang yang telah mati.

Gambar 2. Ekosistem padang lamun

IV.

TERUMBU KARANG
Ekosistem terumbu karang menempati barisan terdepan, disusul ekosistem lamun dan
mangrove. Terumbu karang membutuhkan perairan dengan kecerahan tinggi dan intensitas cahaya
yang memadai, yang biasanya berada pada daerah paparan yang dangkal. Wilayah Indonesia
memiliki perairan pantai sepanjang lebih dari 81.000 km. Perairan ini sebagian besar merupakan
perairan dangkal yang sangat potensial bagi berkembangnya ekosistem terumbu karang. Terumbu
karang merupakan salah satu ekosistem yang amat penting bagi keberlanjutan sumberdaya yang
terdapat di kawasan pesisir dan lautan, dan umumnya tumbuh di daerah tropis, serta mempunyai
produktivitas primer yang tinggi (10 kg C/m2/tahun). Tingginya produktivitas primer di daerah
terumbu karang ini menyebabkan terjadinya pengumpulan hewan-hewan yang beranekaragam
seperti; ikan, udang, moluska, dan lainnya. Dari hasil inventarisasi yang dilakukan ditemukan

kelompok karang hard coral dengan berbagai tipe yaitu : branching, tabulate, sub massif, dan
lainnya. Jenis ikan karang ditemukan sekitar 26 famili diantaranya famili Chaetodontidae,
Pomacentridae, dan Labridae.
Terumbu adalah deposit berbentuk masif dari kalsium karbonat yang diproduksi oleh
karang (filum Cnidaria, ordo Scelaractinia) dengan tambahan utama dari callacerous algae dan
organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat. Karang adalah hewan tak bertulang belakang
yang termasuk dalam filum Coelenterata (hewan berrongga) atau Cnidaria yang disebut sebagai
karang (coral) mencakup karang dari ordo Scleractinia dan subkelas Octocorallia (kelas Anthozoa
maupun kelas Hydrozoa). Terumbu karang (Coral reef) merupakan masyarakat organisme yang
hidup didasar perairan dan berupa bentukan batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat menahan gaya
gelombang laut. Setiap jenis karang memiliki bentuk koloni yang khas, ada yang bercabang,
pipih/lempengan, bulatan besar, dan lain sebagainya. Bentuk- bentuk koloni yang dibangun oleh
karang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik karang serta bebagai faktor lingkungan seperti arus,
kedalaman, cahaya matahari, dan lain-lain. Sehingga bentuk koloni saja tidak dapat dijadikan acuan
dalam mengidentifikasi jenis-jenis karang

Gambar 3. Rantai makanan pada ekosistem terumbu karang

V.

KAITAN ANTARA HUTAN BAKAU, PADANG LAMUN, DAN TERUMBU


KARANG
Ekosistem mangrove, terumbu karang, dan lamun mempunyai keterkaitan ekologis
(hubungan fungsional), baik dalam nutrisi terlarut, sifat fisik air, partikel organik, maupun migrasi
satwa, dan dampak kegitan manusia. Oleh karena itu apabila salah satu ekosistem tersebut
terganggu, maka ekosistem yang lain juga ikut terganggu. Interaksi yang harmonis antara ketiga

ekosistem ini harus dipertahankan agar tercipta sebentuk sinergi keseimbangan lingkungan.
Terdapat lima faktor yang memengaruhi hubungan ketiga ekosistem ini, yaitu:
1) Sifat fisik air
Hutan mangrove sejati biasanya tumbuh di daerah yang terlindung dari pengaruh
ombak dan arus yang kuat. Terumbu karang dan lamun disini berfungsi sebagai
penahan ombak dan arus yang kuat untuk memperlambat pergerakannya. Ini
merupakan salah satu interaksi fisik dari terumbu karang dan lamun terhadap
mangrove sehingga mangrove terlindungi dari ombak dan arus yang kuat.

2) Partikel organik
Partikel organik yang berasal dari serasah lamun dan mangrove dapat
mempengaruhi pertumbuhan dari terumbu karang. Tingginya partikel organik
yang tersuspensi diperairan dapat menurunkan fotosintesis dari lamun dan
zooxanthela di perairan. Partikel organik ini akan mengurangi intensitas cahaya
matahari yang dibutuhkan lamun dan zooxanthella untuk proses fotosintesis.
Selain itu partikel organik yang terbawa dari ekosistem mangrove ke ekosistem
lamun dan terumbu karang merupakan makanan bagi biota-biota perairan seperti
filter feeder dan detritus feeder. Khusunya ekosistem mangrove, arus dan
gelombang disekitarnya cukup kuat sehingga berfungsi menjernihkan perairan.
Sedangkan ekosistem lamun yang berdekatan dengan ekosistem mangrove yang
kaya sedimen, mempunyai rhizoma yang saling menyilang untuk menahan substrat
dasar.

3) Nutrien terlarut
Nutrien diperiaran penting bagi produsen primer untuk proses fotosintesis. Nutrien
di perairan dapat berasal dari batuan-batuan maupun serasah tumbuhan dan
organisme-organisme yang mati, dan kemudian didekomposisi oleh bakteri
menjadi zat anorganik yang diserap oleh produsen primer. Mangrove kaya akan
nutrien yang biasanya terbawa ke ekosistem lamun dan terumbu karang melalui
aliran sungai maupun efek pasang surut. Nutrien ini diserap langsung oleh lamun
melalui perakarannya, dimana zooxanthella juga memperoleh nutrient tersebut.
Batuan-batuan karang yang pecah juga merupakan nutrien yang dibutuhkan bagi
organisme yang ada disekitar mangrove yang bisanya membentuk cangkang.
Nutrien ini juga dapat dibawa oleh arus dan ombak untuk diserap oleh lamun.

4) Migrasi fauna
Migrasi fauna dapat disebabkan oleh meningkatnya predator pada suatu ekosistem,
berkurangnya

makanan,

reproduksi,

meningkatnya

persaingan

dalam

memperbutkan makanan, tempat persembunyian yang aman, dll. Ketika ekosistem


mangrove dalam keadaan rusak atau terganggu oleh aktivitas manusia maupun
oleh pengaruh alam, maka biota-biota atau fauna yang hidupnya disekitar
mangrove akan beralih tempat ke ekosistem lamun maupun terumbu karang untuk
memperoleh perlindungan.

5) Aktivitas manusia
Pengambilan terumbu karang sebagai bahan bangunan akan mengancam
ekosistem mangrove. Mengingat bahwa secara ekologis terumbu karang berfungsi
untuk menahan gelombang dan arus yang kuat, sehingga tanpa keberadaannya
akan mengamcam ekosistem mangrove yang biasanya terlindung dari ombak dan
arus yang kuat. Ikan di daerah terumbu karang yang memakan suatu spesies ikan
di sekitar daerah lamun lama kelamaan akan habis apabila terus menerus
dieksploitasi secara besarbesaran oleh manusia. Ikan di daerah terumbu karang
berkurang jumlahnya sedangkan ikan di daerah lamun meningkat jumlahnya

Gambar 4. Kaitan antara ekosistem mangrove, padang lamun,


dan terumbu karang

VI.

KESIMPULAN
Ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang pada hakikatnya hidup secara
berdampingan, apabila suatu ekosistem terganggu/rusak akan mengakibatkan efek domino pada
ekosistem lainnya, yakni kerusakan ekosistem lainnya. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem
yang sangat produktif dengan produktivitas primernya yang sangat tinggi daripada ekosistem

lainnya di perairan. Hutan mangrove mempunyai fungsi ekologis yang sangat penting, yaitu
sebagai salah satu penyerap karbondioksida di udara. Peningkatan kandungan karbondioksida di
udara dapat menyebabkan dampak pemanasan global. Jika terjadi pemanasan global oleh
penebangan hutan mangrove besar-besaran maka ini akan berpengaruh terhadap ekosistem terumbu
karang dan lamun. Zooxanthella pada terumbu karang akan keluar dari karang akibat meningkatnya
suhu perairan. Karang yang membutuhkan zooxanthella dalam memproduksi zat-zat penting bagi
pertumbuhannya akan mati sehingga terjadi pemutihan karang. Ekosistem terumbu karang
merupakan ekosistem yang dinamis, mengalami perubahan terus menerus dan tidak tahan terhadap
gangguan-gangguan alam yang berasal dari luar terumbu. Beberapa faktor yang membatasi
pertumbuhan karang adalah : cahaya, diperlukan oleh zooxanthella untuk melakukan fotosintesis
dalam

jaringan

karang.

Suhu dapat merupakan faktor pembatas yang umum bagi karang.

Pertumbuhan karang yang optimum terjadi pada perairan yang rata-rata suhu tahunannya berkisar
23 25oC, akan tetapi karang juga dapat mentoleransi suhu pada kisaran 20oC sampai dengan 36
40oC. Terumbu karang snagat rentan terhadap perubahan lingkungan maka dari

itu ekosistem

terumbu karang merupakan ekosistem paling rentan diantara ekosistem lainnya.

VII.

DAFTAR PUSTAKA
Arief, A. 2003. Hutan mangrove. Kanisius, Yogyakarta: 49 hlm.
Burrel, D. C dan Schubell J. R. 1977. Seagrass ecosystem oceanography di dalam Seagrass
Ecosystem: A Scientific Perspective. Ed. C. P. McRoy dan C. Helfferich, pp. 195-232,
Dekker, New York.
Fackler,C. 2015. Seagrass. http://www.oceanhealthindex.org/methodology/components/seagrass,
diakses 7 Juni 2016, pk. 15.07 WIB.
Green E.P & Short F.T. 2003. World Atlas of Seagrasses. UIMEP World Conservation
Monitoring Centre, University of California Press, Berkeley, USA.
Hannam, P. 2015. Paris UN Climate Conference 2015: Sea grass a potential solution in climate
fight. 1 hlm. http://www.smh.com.au/environment/un-climate-conference/paris-unclimate-conference-2015-the-surprising-appeal-of-the-humble-sea-grass-20151202gldyyh.html, Diakses 7 Juni 2016 pk. 2.48 WIB.
Hillman, K., Walker, D.J., Larkum, A.W.D. & Mc Comb, A.J. 1989. Productivity and nutrient
limitation of seagrasses. Di dalam: Larkum, A.W., McComb, D.A.J & Shepherd, S.A.
(eds). Biology of Seagrasses. Netherland: Elsevier Science Publishers.
Ibrahim, A.D. & D. Vernandes. 2016. Mangrove. 1 hlm. https://www.academia.edu/7644017
/MANGROVE/ Diakses 7 Juni 2016 pk. 20.38 WIB.

Larkum, Anthony W.D.; Duarte, Carlos; Orth, Robert J., eds. (2005). Taxonomy and
biogeorgraphy of seagrasses. Seagrasses: Biology, Ecology and Conservation. SpringerVerlag, New York
Ong, J. E & W. K. Gong. 2013. Structure, Function and Management of Mangrove Ecosystems.
ISME Mangrove Educational Book Series No. 2. International Society for Mangrove
Ecosystems (ISME), Okinawa, Japan, and International Tropical Timber Organization
(ITTO), Yokohama, Japan
Rengasamy, R.R.K., A. Radjassegarin & A. Perumal. Seagrass as potential source of medicinal
food ingredients: Nutritional analysis and multivariate approach. Biomedicine &
Preventive Nutrition 3(2013): 375--380.
Setyawan, A. D., & Kusumo W. 2006. Permasalahan Konservasi Ekosistem Mangrove di Pesisir
Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Biodiversitas. Vol 7 (2): 159-163.
Soeroyo. 1992. Sifat dan Fungsi Hutan Mangrove. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Oseanologi: Jakarta. 17 hlm.
Yuvaraj, N., Kanmani P., Satishkumar R., Paari A., Pattukumar V. & Arul V. Seagrass as a
potential source of natural antioxidant and anti-inflammatory agents. Pharmaceutical
Biology 50(4): 458--467.
Zimmerman RC, SooHoo JB, Kremer JN, DArgenio DZD. 1987. Evaluation of variance
approximation techniques for non-linear photosynthesis-irradiance models. Mar Biol
95:209215