Anda di halaman 1dari 413

IKHTISAR PERKEMBANGAN SASTRA JAWA MODERN PERIODE KEMERDEKAAN

Sanksi Pelanggaran Pasal 44:

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta Sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, di-pidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, meng-edarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

© copyrights reserved 2001, Kalika, Yogyakarta

IKHTISAR PERKEMBANGAN SASTRA JAWA MODERN

PERIODE KEMERDEKAAN

Tim Peneliti BALAI BAHASA YOGYAKARTA

Penanggung Jawab Kepala Balai Bahasa Yogyakarta

Koordinator

Sri Widati

Anggota Slamet Riyadi Tirto Suwondo Dhanu Priyo Prabowa Pardi Herry Mardianto Imam Budi Utomo

Pembantu Teknis Agung Tamtama

Kata Pengantar Sapardi Djoko Damono

Kalika Press

Jalan Wachid Hasjim No. 99 Yogyakarta 55262 e-mail: kalikasih@yahoo.com

BEKERJA SAMA DENGAN

YAYASAN ADIKARYA IKAPI DAN FORD FOUNDATION

IKHTISAR PERKEMBANGAN SASTRA JAWA MODERN PERIODE KEMERDEKAAN

Tim Peneliti

BALAI BAHASA YOGYAKARTA

Penanggung Jawab Kepala Balai Bahasa Yogyakarta Koordinator Sri Widati

Anggota

Slamet Riyadi Tirto Suwondo Dhanu Priyo Prabowa Pardi Imam Budi Utomo Herry Mardianto Pembantu Teknis Agung Tamtama Kata Pengantar Sapardi Djoko Damono

Editor

Herry Mardianto Dyah Tavipa Pracetak Wiwib, Anis, Agus Sinandar

Desain Sampul

Anis

Cetakan Pertama, Juli 2001 ISBN: 979 9420 07 5

Penerbit

Kalika Press

Jalan Wachid Hasjim No. 99 Yogyakarta 55262 e-mail: kalikasih@yahoo.com Telp./Fax. (0274) 418312

Daftar Isi

Daftar Isi

Pengantar Sapardi Djoko Damono

Sekapur Sirih

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengantar 1

vi

xi

1.2 Pokok-Pokok Pikiran

1.3 Sistematika

18

1

17

vii

BAB II DINAMIKA PERUBAHAN SOSIAL-BUDAYA

21

BAB III LINGKUNGAN PENDUKUNG SASTRA JAWA MODERN PERIODE KEMERDEKAAN

43

3.1 Pengarang dan Kepengarangan

43

3.1.1 Pengarang dan Kepengarangan Masa Orde Lama

48

3.1.2 Pengarang dan Kepengarangan Masa Orde Baru

63

3.2 Pengayom dan Kepengayoman

 

91

3.2.1 Lembaga-Lembaga Pemerintah

 

92

3.2.2 Lembaga-Lembaga Swasta

 

98

3.3 Penerbit dan Penerbitan

103

3.4 Pembaca

147

Kritik

3.5 198

3.5.1

Kritik Sastra pada Masa Orde Lama

202

3.5.2

Kritik Sastra pada Masa Orde Baru

 

216

BAB IV KARYA-KARYA SASTRA JAWA MODERN 246

4.1 Jenis Karya

246

4.1.1 Prosa

247

4.1.2 Puisi

268

4.1.3 Drama

290

4.1.4 Cerita Bergambar

295

4.2 Beberapa Karya Penting

298

4.3 Perkembangan Bahasa

315

4.4 Perkembangan Tema

347

BAB V PENUTUP

386

Daftar Pustaka

393

Pengantar

------------------------------------------------------------

Sapardi Djoko Damono

Karya sastra adalah benda budaya; ia diciptakan oleh manusia. Konon manusia adalah makhluk sosial, yang perkem- bangan jiwanya tidak ditentukan sejak lahir tetapi dibentuk oleh lingkungannya. Lingkungan manusia itu, yang disebut kebuda- yaan, sulit ditentukan batasnya. Manusia adalah produk kebuda- yaan sekaligus pencipta kebudayaan sebab setiap sosok manusia merupakan hasil pengaruh sosok lain yang sekaligus juga mem- pengaruhinya. Dalam kaitannya dengan struktur atau hubungan- hubungan antara kebudayaan dan perkembangan masyarakat ada dua pandangan yang perlu disebutkan. Pandangan pertama me- nyatakan bahwa proses perubahan budaya itu terjadi secara alamiah sesuai dengan cara berpikir orang-orang yang membentuk masyarakat itu. Pandangan ini tidak memberikan tekanan pada hubungan-hubungan antara proses tersebut dengan faktor-faktor lingkungan manusia. Pandangan kedua menyatakan bahwa per- kembangan kultural masyarakat tergantung sama sekali pada kondisi material hidupnya, yakni sumber energi, teknologi, dan sistem produksi yang ada dalam kelompok-kelompok masyarakat itu. Jelas bahwa menurut pandangan kedua ini kebudayaan dan berbagai faktor yang disebut itu merupakan suatu struktur. Pan- dangan kedua itu juga menekankan pentingnya keadaan geografis dan iklim ke dalam struktur tersebut, di samping kepercayaan dan ideologi dalam artian yang sempit. Hubungan-hubungan antara iklim, keadaan geografis, sumber energi, teknologi, dan organisasi produksi dengan demi- kian sangat menentukan perannya dalam perkembangan kebuda- yaan. Dan karena karya sastra adalah benda budaya, untuk meng- hayati dan memahaminya dengan lebih baik diperlukan penge-

tahuan tentang latar belakang kebudayaan yang telah mengha- silkannya. Tentu saja karya sastra bisa saja didekati sebagai suatu benda budaya yang otonom, yang penghayatan dan pema- hamannya tergantung sama sekali pada dirinya sendiri dan penga- laman serta pengetahuan pembaca. Dengan demikian jelas bahwa kedudukan sastra dalam masyarakat memang rumit; meskipun konon ia bisa saja dihayati lepas dari lingkungannya, tetapi toh pembaca tidak bisa melepaskan dirinya dari kebudayaan yang telah menghasilkannya. Sastra Jawa modern adalah hasil kebu- dayaan orang Jawa, namun bisa saja ia dihayati dan dipahami oleh siapa pun yang non-Jawa tidak peduli apakah ia memiliki pengetahuan tentang kebudayaan yang telah menghasilkan ba- caannya itu. Apa pun yang terjadi, pengarang dan pembaca karya sastra seperti halnya karya sastra itu sendirimerupakan produk kebudayaan, yang mungkin saja berbeda-beda. Dengan demikian sastra Jawa modern adalah produk kebudayaan Jawa modern, yang keberadaannya ditentukan ber- bagai faktor yang sudah disebut sebelumnya. Jika ia ditulis oleh pengarang yang tinggal di Jawa, maka berbagai faktor yang ber- kaitan dengan tempat tinggalnya itu akan berpengaruh terha- dapnya. Keadaan geografis, iklim, organisasi sosial, dan teknologi yang ada dalam masyarakat itu memiliki andil dalam pencip- taannya. Pendekatan terhadap sastra berdasarkan pandangan itu biasa dikenal sebagai pendekatan makro. Sastra Jawa modern, jika ditulis oleh pengarang yang tinggal di Pulau Jawa, diciptakan berdasarkan berbagai faktor tersebut. Jawa hanya memiliki dua musim, di Jawa perkembangan teknologi pencetakan tidak se- canggih seperti di beberapa tempat lain, di Jawa penghargaan masyarakat terhadap karya sastra berbeda dari negeri lain pula, organisasi sosial di Jawa berbeda dari yang kita temui di daerah lain, dan seterusnya. Kita tidak bisa membayangkan penghayatan dan pemahaman yang baik atas haiku, misalnya, jika kita sama sekali tidak mengetahui bahwa ada empat musim di Jepang; orang juga tidak akan bisa mengapresiasi tembang Jawa yang sangat ketat bentuknya itu jika tidak pernah mengenal perkembangan

pemikiran estetik orang Jawa. Berdasarkan pendekatan inilah rupanya buku ini disiapkan untuk kita. Sudah dikatakan sebelumnya bahwa lingkungan manusia itu sulit ditentukan batasnya, dan salah satu tugas yang harus dilaksanakan oleh penyusun buku ini adalah menentukan batas- batas itu apa saja yang dianggap penting dalam penciptaan karya sastra. Yang paling dekat dengan penciptaan karya sastra tentu saja adalah pengarang, penerbit, pembaca (yang menyangkut juga pengayom), dan tanggapan atau kritik atasnya. Lingkungan itulah yang dicoba digambarkan dan diuraikan dalam buku ini. Hasilnya adalah karaangan yang memberikan gambaraan serta uraian menyeluruh mengenai lingkungan sastra Jawa modern di samping tentang benda budaya itu sendiri. Dalam melakukan tugasnya, penyusun buku ini pantas telah melakukan tugasnya dengan baik. Dengan membaca buku ini kita bisa mengetahui fungsi dan kedudukan sastra Jawa modern dalam masyarakat, di samping hubungan-hubungannya yang rumit dengan berbagai faktor lain yang mempengaruhinya. Pandangan masyarakat tentang sastra- wan diulas dengan jelas, fungsi dan kedudukan sastrawan dalam perkembangan masyarakat digambarkan dengan baik, berbagai organisasi sosial, misalnya sistem reproduksi sastra, yang mem- bantu penulisan dan penerbitannya juga diuraikan dengan runtut. Buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia, oleh sebab itu pem- bacanya tentu saja juga menjangkau khalayak non-Jawa. Kha- layak semacam itu perlu mendapat gambaran dan uraian mengenai kebudayaan yang telah menghasilkan karya sastra Jawa modern. Siapa tahu kemudian ada yang berminat mempelajari bahasa dan sastra Jawa, atau membaca terjemahan sastra Jawa dalam bahasa Indonesia. Buku ini pasti akan membantu mereka. Karya sastra adalah rekaman perkembangan pemikiran masyarakat. Sastra Jawa yang ditulis selama puluhan tahun sejak kemerdekaan jelas merekam perubahan-perubahan yang paling subtil dalam pemikiran masyarakat Jawa yang tidak saja berdiri sendiri tetapi juga berada di lingkungan pemikiran masyarakat lain. Pembaca buku ini tentu bisa mengambil inti sari gambaran

dan uraian yang ada untuk kemudian membayangkan suatu kebu- dayaan Jawa modern. Kebudayaan itulah yang telah menghasilkan sastra Jawa modern, benda budaya yang sekaligus juga ikut mengembangkan kebudayaan Jawa modern. Di samping itu, buku ini menawarkan ruang bagi siapa pun yang berniat mengadakan penelitian mengenai sastra Jawa modern. Di situlah antara lain letak pentingnya buku ini. Itulah jasanya yang harus kita catat. ***

Sekapur Sirih

Setelah buku Ikhtisar Perkembangan Sastra Jawa Modern Periode Prakemerdekaan diterbitkan oleh Gadjah Mada Univesity Press (2001), keinginan untuk menerbitkan buku Ikhtisar Pekem- bangan Sastra Jawa Modern Periode Kemerdekaan ini pun muncul. Keinginan ini sangat mendasar karena sebuah sejarah sastra seyogianya memang dibaca secara berkelanjutan dari periode ke periode. Oleh sebab itu, penerbitan sejarah sastra Jawa modern seyogianya tidak berhenti pada periode prakemerdekaan saja, tetapi berlanjut hingga periode kemerdekaan agar persepsi pembaca tentang perkembangan sastra Jawa modern menjadi utuh, bulat, tidak terbelah. Periode berikutnya ini adalah periode yang disebut sebagai periode baru karena periode ini adalah periode republik yang diasumsikan terbebas dari pengaruh kolo- nial Belanda dan Jepang. Dengan demikian, pada periode ini diasumsikan tergambar sistem sastra Jawa modern periode kemerdekaan yang eksklusif. Sistem itu didukung oleh berbagai elemen pendukung dan dinamika lingkungannya. Dengan adanya komunikasi antarelemen sistem internal dan eksternal sastra itu dapat dipastikan bahwa sistem sastra Jawa adalah sistem yang dinamik yang pengarangnya selalu bergerak dalam dinamika rege- nerasi, populasi, dan proses kepengarangan yang lain. Demikian juga dengan sistem penerbit dan pembaca. Diasumsikan bahwa penerbit dan pembaca membangun dinamika seiring dengan perkembangan pemerintahan di sepanjang periode kemerdekaan (19451997). Dengan kata lain, dalam dua masa pemerintahan (Orde Lama dan orde Baru) ini sastra Jawa modern tetap hidup walaupun tidak berjalan mulus. Komunikasi antara elemen- elemen sistem sastra pada periode kemerdekaan itu secara implisit menggambarkan perjuangan lembaga-lembaga atau perorangan

yang dicatat di dalamnya selama harus berkomunikasi dengan faktor-faktor dari luar dirinya yang tidak dapat dielakkan. Seperti halnya buku I, buku II ini adalah hasil kerja keras yang tanpa pamrih dari sebuah tim peneliti sastra Balai Bahasa Yogyakarta, yang terdiri atas Sri Widati (koordinator), Slamet Riyadi, Tirto Suwondo, Dhanu Priyo Prabowa, Imam Budi Utomo, Pardi, dan Herry Mardianto (anggota), dan Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (konsultan). Untuk itu, tidak ada kata lain yang pantas saya ucapkan selain terima kasih yang tulus kepada seluruh anggota tim. Khusus untuk Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, saya beserta seluruh anggota tim juga hanya dapat mengucapkan terima kasih yang amat dalam atas kesediaannya membimbing tim ini, membaca ulang naskah, dan memberikan kata pengantar. Akhirnya, yang tidak dapat saya lupakan adalah ucapan terima kasih kepada Drs. Suwadji, Kepala Balai Bahasa Yogyakarta, atas izin dan dorongannya kepada tim sehingga buku ini dapat terbit. Semoga, harapan saya beserta seluruh anggota tim, agar buku ini dapat dibaca oleh seluruh pencinta sastra Jawa, dan selanjutnya berdialog (membaca cermat) secara langsung dengan setiap unsur yang dipaparkan di dalam buku ini, terutama mengenai pengarang, karya-karya, dan sebagainyanya. Dari dialog itu niscaya akan terlihat secara lebih transparan perjalanan sejarah sastra Jawa modern periode kemerdekaan (1945--1997). Saya dan seluruh anggota tim sadar sepenuhnya bahwa buku ini masih banyak kekurangannya. Terlebih lagi, buku ini hanyalah sebuah "ikhtisar", sehingga dapat dipastikan akan terbayang sesuatu yang singkat dan kurang memuaskan. Oleh karena itu, kami berharap pembaca dapat memberikan masukan dan koreksi sehingga terbitan berikutnya akan lebih sempurna. Terima kasih.

Koordinator,

Sri Widati

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Pengantar Dalam buku I (Ikhtisar Perkembangan Sastra Jawa Modern Periode Prakemerdekaan) telah dipaparkan sejarah perjalanan sastra Jawa modern periode prakemerdekaan yang mencakupi masa peralihan (transisi) hingga tahun 1945. Periode tersebut amat penting karena di dalamnya tergambar suatu dinamika sastra Jawa modern dan lingkungannya, terutama ketika sastra Jawa mengubah konsep estetika sastra tradisional menjadi konsep estetika sastra baru yang meng- gunakan perangkat modern (Barat). Buku I secara implisit menggambarkan perkembangan elemen-elemen internal dan eksternal (elemen mikro dan makro-sastra) yang terjadi di sepanjang dua masa pemerintahan kolonial (Belanda dan Jepang). Pada periode kemerdekaan pun --seperti yang digarap di dalam buku II ini-- telah terjadi pergantian peme- rintahan yang melatari kehidupan sastra Jawa modern karena sejak tahun 1945 hingga tahun 1997 (sebelum masa Refor- masi) berlangsung dua masa pemerintahan (Orde Lama dan Orde Baru) yang tidak dapat dipisahkan dari dinamika sastra Jawa modern. Pada setiap kurun waktu yang dilalui oleh sastra Jawa modern di sepanjang periode kemerdekaan (19451997) diasumsikan tercatat sejumlah kenangan historis berbagai peristiwa sosial, ekonomi, politik, dan kultural, baik pada

masa pemerintahan Orde Lama maupun Orde Baru. Sebagian dari elemen-elemen peristiwa sosial dan politik tersebut menempel atau tersirat di dalam sejumlah karya sastra yang dihasilkan, atau dapat juga memotivasi munculnya perge- seran dan inovasi dalam unsur internal karya-karya sastra yang dihasilkan. Jenis-jenis utama sastra Jawa (yang telah ada pada periode prakemerdekaan) yang berkembang men- jadi ragam-ragam baru yang lebih merenik pada periode kemerdekaan ini tidak dapat dilepaskan juga dari dinamika sosial dan politik waktu itu. 1 Refleksi dan dampak perubahan sosial-kultural di dalam sejumlah karya sastra Jawa modern periode kemer- dekaan sesungguhnya merupakan suatu gambaran mata rantai

1 Kenangan-kenangan historis yang tersimpan di dalam karya-karya sastra Jawa yang terbit pada setiap periode tidak dapat dilepaskan dari latar belakang pengarang yang selalu terlibat dalam berbagai situasi di sekitarnya. Dengan kata lain, pengarang tidak dapat terbebas dari berbagai faktor yang melingkunginya, termasuk berbagai elemen ekstrinsik yang menyangga proses penghadiran karya-karya sastra. Adapun kenangan struktural yang terpateri di dalam karya sastra Jawa adalah kaidah atau pola intrinsik yang acuan konvensionalnya menjadi kerangka acuan estetik suatu jenis sastra pada masyarakat Jawa tradisional. Seperti kita ketahui bahwa pola estetik sastra tradisional, baik jenis puisi maupun prosa, terletak pada kemapanan unsur-unsur pendukungnya. Di dalam puisi, misalnya, pola struktur tradisional yang hingga saat ini masih melekat dalam kenangan masyarakat adalah kemapanan konvensi tembang macapat. Demikian pula di dalam prosa, keindahan struktur wayang dan babad tetap kuat dalam ingatan masyarakat Jawa sehingga tidak aneh jika struktur alur dan tokoh novel- novel Jawa masih menunjukkan ciri tradisional. Kenangan struktural itu merupakan bagian dari sejarah sastra Jawa modern karena sejarah sastra tidak hanya dilihat dari perkembangan lingkungannya (sistem makro), tetapi juga dari perkembangan sastra itu sendiri (sistem mikro) sebagai sebuah bentuk karya seni.

dari periode sebelumnya (prakemerdekaan). Hal itu sekaligus menggambarkan bahwa periode kemerdekaan tidak datang dari situasi kekosongan budaya. Bukti literer lainnya dapat pula dilihat dari misi yang dibawa oleh para pengarang Jawa periode kemerdekaan, misalnya penolakan unsur budaya priayi, emansipasi, dan pergeseran etos kerja dalam masya- rakat merupakan tema-tema yang pernah (telah) digarap oleh para pengarang periode prakemerdekaan, bahkan telah dirintis sejak masa transisi. Hal itu ditegaskan oleh Damono (1993:58) bahwa beberapa novel Balai Pustaka tahun 1950- an merupakan sastra Jawa periode sebelum perang. Beberapa masalah yang telah digarap pada periode terdahulu ada yang mendapat tekanan lebih banyak pada periode kemerdekaan walaupun setiap dekade dimungkinkan memiliki visi yang berbeda. Perkembangan yang tampak menonjol pada dekade awal kemerdekaan adalah tema-tema yang menyangkut masalah kemiskinan dengan berbagai dampaknya pada masyarakat, masalah perang (dalam rangka) mempertahankan kemerdekaan dan dampaknya bagi manusia, dan masalah- masalah politik pada awal era keterbukaan periode kemer- dekaan. Masalah-masalah tersebut tidak bersifat permanen karena pada masa Orde Baru, terutama sejak awal dekade 1970-an, ada masalah lain yang dianggap lebih penting, yaitu masalah politik, keamanan dan ketertiban (nasional), transmigrasi, pendidikan, keluarga berencana, dan program- program pembangunan lima tahun lainnya, baik di kota maupun di desa. Dampak dari berbagai program pemerintah terhadap masyarakat itu sering digunakan sebagai acuan sastra walaupun hal itu tidak terlalu menonjol karena sastra memang tidak harus berkaitan erat dengan perkembangan

sosial di sekitarnya. Periode kemerdekaan yang berlandaskan UUD 1945 mendapatkan acuan tentang hak-hak masyarakat, terutama dalam hal kebebasan berpendapat dan atau kebebasan memperoleh pendidikan, sehingga mendorong para penerbit swasta untuk berpartisipasi dalam pengadaan (penerbitan) buku, termasuk buku-buku sastra (berbahasa) Jawa. Kebe- basan itu juga didukung oleh gerakan nasional mengenai pemberantasan buta huruf karena hingga tahun 1965 masyarakat yang melek huruf baru mencapai sekitar 46,7%. Hal itu terutama disebabkan oleh kondisi sosial-ekonomi negara yang amat buruk. Jumlah tersebut mengalami kena- ikan sejak pemerintahan Orde Baru; hal itu terbukti, Biro Pusat Statistik mencatat bahwa pada tahun 1971 jumlah melek huruf naik menjadi sekitar 60% (Ricklefs, 1991:433). Perkembangan penerbit pada masa Orde Lama lebih didominasi oleh penerbit swasta. Akan tetapi, seperti tampak pula pada periode prakemerdekaan, misi penerbit swasta memang berbeda dengan penerbit pemerintah (RI)--yang jumlahnya sedikit--sehingga dapat diramalkan bahwa arah sastra Jawa modern pada masa Orde Lama mengacu kepada selera penerbit swasta yang lebih mementingkan profit. 2 Dengan demikian, terlihat bahwa perkembangan tema pada karya-karya hasil terbitan dua penerbit itu (swasta dan pemerintah) juga akan berkaitan dengan kondisi pengarang dan karyanya yang pada gilirannya juga berpengaruh pada pembaca yang dituju.

2 Pada periode kemerdekaan pemerintah hanya memiliki tiga buah penerbit, yaitu Balai Pustaka, Kementerian PPK Jakarta yang menerbitkan majalah Medan Bahasa, dan Kanwil dan K Jawa Tengah (di Semarang) yang menerbitkan Pustaka Candra.

Masa atau era Orde Lama adalah kurun waktu yang amat penting karena pada masa itu berbagai kebijakan yang benar-benar baru (pada masa republik) mulai dijalankan. Sementara itu, masyarakat Jawa --sebagai bagian dari masya- rakat Indonesia-- sedang melanjutkan suatu proses mengin- donesia dengan melepaskan beberapa unsur budaya tradi- sional (selain pergeseran ragam bahasa krama) untuk menjadi budaya baru di tengah masyarakat Indonesia yang amat plural. Berbagai perubahan dalam elemen internal sastra secara tersirat menunjukkan bahwa sistem sastra di ling- kungan masyarakat Jawa sebenarnya merupakan sistem yang terbuka. Penanda keterbukaan pada sistem sastra Jawa modern itu juga dapat dilihat melalui jenis-jenis sastra yang berkembang pesat ke arah prosa modern dengan munculnya variasi-variasi baru, terutama jenis fiksi. Berbeda dengan sastra klasik, sastra modern (termasuk sastra Jawa modern) pada umumnya bukan merupakan sastra penggerak atau penyebab situasi, melainkan merupakan sastra yang hanya mendukung dan menggambarkan akibat dari situasi atau peristiwa yang telah terjadi (Darma, 1998). Dalam karya-karya yang bervariasi itu tersirat dengan jelas bahwa jatidiri pengarang generasi baru periode kemerdekaan memperlihatkan jarak estetika yang berbeda dengan karya-karya sebelumnya, baik dalam hal jenis (genre) sastra, tema, maupun bahasa pengantar (narasi) yang digu- nakan. Dengan demikian, kelompok muda yang aktivitas kepengarangannya sebagian besar didukung oleh pers men- coba (bereksperimen) menggeser kedudukan sekaligus duduk berdampingan dengan kelompok tua (kasepuhan). Berbagai tema yang diambil menunjukkan keterlibatan pengarang secara aktif dalam mobilitas sosial pada masa itu. Munculnya

cerita detektif, cerita bergambar, dan bentuk-bentuk cerpen pendek (crita sakaca dan roman sacuwil) atau cerpen panjang (long short-story) merupakan bukti keter-libatan kondisi sosial dan penerbitan. Perkembangan dalam hal bahasa pengantar yang digunakan dalam karya sastra Jawa modern sebenarnya merupakan kelanjutan dari karya-karya prakemerdekaan, terutama sejak tahun 1930-an. Hal demikian tidak hanya tampak pada adanya kecenderungan menggunakan bahasa ragam ngoko (yang dirasa lebih egaliter) dalam narasi, tetapi juga tampak pada semakin tidak dapat bertahannya bahasa Jawa dari pengaruh kosakata Indonesia dan asing (Belanda, Inggris, Arab, dan Mandarin). Karena sejak kemerdekaan dunia pers demikian maju, di samping meningkatnya pendi- dikan dan profesi (pekerjaan) para pengarang, kedudukan pengarang sastra Jawa pada periode kemerdekaan bergeser; mereka tidak lagi ekabahasawan, tetapi dwibahasawan atau bahkan multibahasawan (tidak hanya fasih berbahasa ibu, tetapi juga fasih berbahasa Indonesia dan asing). Fakta-fakta kepengarangan itu mendorong eksodus sastrawan Jawa (yang berbahasa Jawa) ke dalam penulisan sastra berbahasa Indonesia; atau mereka menulis sastra dalam dua bahasa secara bergantian. Sejak tahun 1975, misalnya, Grup Diskusi Sastra Blora yang beranggotakan guru-guru bahasa Jawa aktif mengikuti diskusi sastra dan kebudayaan di berbagai kesempatan sehingga mereka mengembangkan pe- nulisan fiksi dalam dwibahasa. Pergeseran tersebut semakin jelas pada dekade selanjutnya, terutama sejak didirikannya Sanggar Sastra Triwida (1980) di Tulungagung. Itulah sebabnya, pada tahun 1980-an bermunculan pengarang- pengarang baru dari Jawa Timur, di antaranya Jayus Pete,

Bonari Nabonenar, dan Sri Purnanto. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta pun pengaruh keberadaan sanggar amat men- colok. Krishna Mihardja dan A.Y. Suharyono, misalnya, pada mulanya aktif di Yoga Sastra asuhan Ragil Suwarno Prago- lapati dan Kembang Brayan pimpinan Kusfandi, demikian juga Turiyo Ragilputra melalui Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY). Melalui pergaulan lintas sastra semacam itu pengarang sastra Jawa setelah tahun 1970-an melakukan adaptasi dan belajar secara autodidak dengan berbagai informasi dari luar sehingga mereka memperkenalkan jenis fiksi Jawa eksperimental yang surealistis. Perkembangan lain yang mulai tampak adalah dalam hal penggarapan elemen sastra, seperti tokoh dan latar, yang menunjukkan penguasaan (imaji) kehidupan riil dalam masyarakat. Dalam jenis puisi, sejumlah nama seperti St. Iesmaniasita, Ngalimu Anna Salim, Poer Adhie Prawoto, Susilomurti, Trim Sutidja, Muryalelana, Anie Sumarno, Suripan Sadi Hutomo, Lesmanadewa Purbakusuma, Moch. Nursyahid Purnomo, Anjrah Lelana Brata, Turiyo Ragilputra, dan Jaimin K. muncul dengan guritan-guritannya yang mengindonesia atau yang kembali kepada jiwa Jawa. Para penggurit itu sebagian besar berprofesi sebagai guru atau wartawan, dan beberapa di antaranya adalah dosen. Fakta dalam sistem pengarang itulah yang kemudian memberikan kemungkinan (peluang) pada pengembangan struktur, teknik penceritaan, dan pengembangan kosakata. Dalam hal penerbitan dan penyebarluasan karya- karya sastra Jawa modern, periode kemerdekaan tetap bersandar pada kehadiran dan aktivitas majalah. Dapat terjadi demikian karena pada periode kemerdekaan tidak banyak penerbit yang berminat menerbitkan karya-karya sastra Jawa

modern akibat kebijakan pemerintah yang berubah-ubah. Bahkan, kebijakan yang berubah-ubah itu tidak hanya berdampak pada pengajaran bahasa dan sastra Jawa di sekolah, tetapi juga pada sistem-sistem lain yang berkaitan (sistem pengarang, pengayom, pembaca, dan kritik sastra). Keberadaan sastra Jawa di tengah rubrik-rubrik ma- jalah atau pers umum (berbahasa Jawa) yang populer itu mendorong perkembangan sastra ke arah selera massa. Karena pers, terutama pers swasta, bertujuan khusus mencari keuntungan melalui luas kolom dan durasi penerbitan, hal itu berpengaruh pada kebijakan internal dan eksternal penerbit sehingga karya-karya yang dimuat lebih diarahkan pada tujuan mencari keuntungan (uang) daripada menjaring pem- baca. Betapa pun, pada periode kemerdekaan tampak bahwa kreativitas sastra Jawa modern yang dihasilkan merupakan kelanjutan dari kreativitas sastra periode prakemerdekaan. Keberlanjutan sastra Jawa modern dalam majalah itu membuktikan bahwa pers masih menjadi pengayom bagi sastra Jawa karena berkat lembaga-lembaga itu sastra Jawa masih dapat beredar di tengah masyarakat. Buku II (Ikhtisar Perkembangan Sastra Jawa Modern Periode Kemerdekaan) ini disusun sebagai suatu mata rantai yang melanjutkan sejarah perkembangan sastra Jawa modern periode prakemerdekaan. Oleh karena itu, buku ini meru- pakan mata rantai baru bagi sejarah sastra Jawa sesudah proklamasi kemerdekaan karena pada periode ini terbayang suatu era baru di bawah pemerintahan yang berdaulat penuh atas negaranya. Di samping itu, komunikasi sistem sastra dengan beberapa sistem sosial yang terdekat dan berpengaruh bagi perkembangan sastra Jawa menjadikan sastra sebagai sesuatu (bentuk) yang kompleks. Kekompleksan itu menun-

jukkan pula keberadaannya yang riil di tengah sistem sosial yang rumit dan luas. Berkaitan dengan hal itu, secara beru-

rutan di dalam buku ini dibicarakan berbagai peristiwa dalam

sastra Jawa modern periode kemerdekaan, baik yang ber- kaitan dengan perkembangan unsur internal yang berupa konsep-konsep sistem formal (elemen-elemen sistem mikro) maupun perkembangan unsur-unsur eksternal atau sistem konkret (elemen-elemen sistem makro), seperti pengarang, pengayom, penerbit, pembaca, dan kritik. Periode kemerdekaan yang mencakupi dua masa pemerintahan, yaitu Orde Lama (1945--1965) dan Orde Baru (1966--1997), menyimpan banyak peristiwa literer yang

berkaitan dengan dinamika sastra Jawa modern. Di sepanjang

masa

pemerintahan Orde Lama telah terjadi beberapa peris-

tiwa

historis yang penting bagi kehidupan sastra Jawa.

Peristiwa penting pertama adalah pergantian pengarang yang

disebabkan oleh adanya peralihan pemerintahan (dari peme- rintahan kolonial, Belanda dan Jepang, ke pemerintahan RI). Peralihan pemerintahan pada awal kemerdekaan bersifat amat krusial karena pemerintahan baru terpaksa harus bekerja keras “membersihkan” unsur-unsur kolonial dalam berbagai bidang kehidupan. Pembersihan “kenangan masa lalu” tersebut menandai adanya keinginan untuk mengganti iklim politik kolonial. Sastra Jawa modern yang disangga oleh kekuatan bahasa dan budaya etnis Jawa dipengaruhi oleh perubahan sosial politik pemerintah walaupun kedudukannya sebagai sastra modern sudah dirintis sejak masa transisi (dari abad

XIX ke abad XX). Perkembangan sistem internal dan

eksternal yang sudah tampak pada periode prakemerdekaan diasumsikan mengalami guncangan juga. Hal tersebut di-

mungkinkan karena faktor-faktor makro-sastra merupakan sistem yang dinamis. Perubahan yang terjadi dalam kondisi internal dan eksternal sastra Jawa modern pada periode kemerdekaan justru menunjukkan fakta bahwa kehadiran sastra Jawa modern tidak begitu saja jatuh dari langit. Sastra merupakan bagian dari sistem komunikasi yang luas dan konkret. Dengan demikian, elemen-elemen struktural bebe- rapa jenis sastra yang terjadi pada periode sebelumnya pasti berhadapan dengan berbagai perubahan lingkungan yang terdekat (pengarang, pengayom, penerbit, pembaca, dan kritik). 3 Hubungan timbal-balik antarsistem itu amat penting artinya bagi perkembangan sastra Jawa modern karena tanpa komunikasi semacam itu sistem sastra Jawa pasti tidak akan berfungsi (tertutup). Sejak awal kemerdekaan (sebagai lanjutan dari masa Jepang) dinamika sastra Jawa modern terus bergulir. Seperti diketahui bahwa--walaupun hanya berlangsung tiga tahun

3 Istilah pengayom (patron, maecenas) yang bersinonim dengan pelindung atau penyokong adalah orang atau lembaga yang turut berperan dalam melindungi dan mendukung proses kehadiran sastra (The New Oxford Encyclopedic Dictionary Vol.V, 1987:1232; The Glorier International Dictionary Vol. 2, 1988:961; Encyclopedia Americana Vol. 16, 1991:74). Penerbit (publisher) adalah lembaga yang berfungsi menerbitkan dan menyebarluaskan sastra. Pembaca (reader) adalah kelompok masyarakat yang menjadi “penerima” kehadiran sastra. Dalam pengertian “penerima” ini terdapat dua kelompok pembaca, yaitu pembaca yang sungguh-sungguh pembaca (real reader) dan pembaca kritis atau kritikus (sophisticated reader atau ideal reader) (Iser, 1987:27--38; bdk. Riffaterre, 1973:46). Masing-masing elemen di luar sistem sastra itu juga menjadi elemen terdekat dari sistem mikro- sastra periode tertentu sehingga elemen-elemen itu dapat dilihat sebagai bagian sistem yang menunjang kehadiran sastra Jawa pada periode itu.

dan sangat restriktif--kehadiran kolonialisme Jepang memi- liki arti yang cukup penting. Dikatakan penting karena masa (Jepang) itu berfungsi menyiapkan kehadiran sebuah periode baru kesastraan Jawa modern. 4 Tiga orang pengarang yang disiapkan pada masa Jepang adalah pengarang yang benar- benar baru sehingga mereka disebut generasi perintis periode kemerdekaan. Mereka adalah Soebagijo I.N., Poerwadhie Atmodihardjo, dan Any Asmara. Mereka disebut generasi perintis bukan hanya karena waktu kehadirannya saja, melainkan juga--yang lebih penting--karena mereka mem- bawa wacana sastra yang benar-benar baru dan “mem- bangkitkan” sehingga oleh Hutomo (1975) masa itu disebut sebagai masa kebangkitan. Kenyataan menunjukkan bahwa periode awal kemer- dekaan memang dapat disebut periode vakum yang tidak memungkinkan kelanjutan sejarah secara langsung. Keva- kuman yang disebabkan oleh kekacauan suasana sosial- politik sejak tahun 1945 itu baru berakhir pada tahun 1949 (kedaulatan bangsa kembali di tangan RI). 5 Namun, dengan kehadiran tiga pengarang di masa Jepang itu kevakuman dapat dikatakan tidak terjadi. Kehadiran kembali mereka seiring dengan kehadiran kembali Panjebar Semangat (1949)

4 Periode zaman Jepang yang dalam kesastraan Indonesia dikenal dengan nama Angkatan ’45, setidak-tidaknya, telah melahirkan sebuah generasi baru sastra Jawa modern. Generasi tersebut menawarkan aspirasi baru bagi sastra, konsep puisi baru dari luar (soneta), dan model sastra propaganda yang tendensius.

5 Menurut Damono (1993:5859) hal seperti itu juga dialami oleh sastra Indonesia.

walaupun masih berisi rubrik-rubrik yang sederhana. 6 Sebenarnya, masalah kehadiran kembali sastra Jawa dalam majalah telah diawali oleh sebuah majalah berbahasa Jawa milik Veteran di Kediri (1945) bernama Djaja Baja (selanjutnya diubah ejaannya menjadi Jaya Baya) 7 . Dengan demikian, kevakuman total sastra Jawa pada awal periode kemerdekaan dapat dikatakan hampir tidak ada karena pada tahun 1955 terbit dua majalah khusus sastra Jawa, yaitu Tjrita Tjekak (selanjutnya ditulis Crita Cekak) dan Pustaka Roman asuhan Soebagijo I.N. 8 Dengan demikian, usaha itu mem- berikan peluang bagi bangkitnya suatu generasi pengarang dan pembaca baru, termasuk di dalamnya pembaca kritis (kritikus). Sistem kritik yang diperkirakan tidak berjalan, ternyata dapat hidup melalui rubrik "Sorotan” dalam majalah

6 Majalah tersebut milik dr. Soetomo, pendiri Budi Utomo, telah berdiri sejak tahun 1933. Pada saat itu majalah tersebut bersaing ketat dengan majalah berbahasa Jawa milik kolonial, Kadjawen (selanjutnya ditulis Kajawen) yang telah berdiri lebih dahulu (1926).

7 Majalah yang telah terbit tahun 1945 di Kediri ini pada tahun 1950-- 1954 pernah berganti menggunakan media bahasa Indonesia, dan baru kembali menggunakan bahasa Jawa setelah pindah ke Surabaya. Di samping itu, penataan rubrik, terutama rubrik kesastraan, belum menunjukkan kemantapan. Setelah kembali menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa, barulah majalah ini mulai menata dan melengkapi rubrik-rubrik sastra dengan lebih baik, misalnya dengan membuka rubrik “cerkak”, “cerbung”, “geguritan”, dan “cergam”.

8 Menurut Damono (1993:65--66), kehadiran majalah sastra (berbahasa) Jawa diilhami oleh majalah berbahasa Indonesia yang sejenis, yaitu Kisah. Majalah-majalah khusus yang diilhami oleh semangat membangun kelompok pembaca baru diharapkan mampu menerima konsep sastra yang baru.

Crita Cekak. Rubrik kritik seperti itu diasumsikan masih berlanjut hingga sekarang walaupun diperkirakan tetap tidak berjalan lancar karena tidak didukung oleh tradisi. Harapan kebangkitan pengarang baru memang dimo- titivasi oleh pers, seperti kehadiran majalah Panjebar Se- mangat, Jaya Baya, Crita Cekak, Pustaka Roman, Kuman- dhang, Gotong Royong, dan Tjederawasih (selanjutnya ditulis Cenderawsih). Di samping menampung jenis sastra khusus seperti cerkak dan roman, majalah-majalah itu juga memuat rubrik kritik dan puisi modern (guritan) 9 . Pada dekade 1960-an, kedua rubrik itu menunjukkan gejala perkembangan literer yang disusul semakin berkembangnya model-model penulisan realistis dan roman-roman populer. Dengan melihat berbagai perubahan internal--sebagai kelan- jutan dari kebangkitan sebuah generasi pengarang Jawa-- dapat dikatakan bahwa mata rantai sastra Jawa modern tidak terhenti pada masa mempertahankan kedaulatan negara (di sepanjang tahun 19451949), tetapi terus berlanjut. Pemba- ruan dalam sisi internal juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan lingkungan yang mendukung dan memperluas wawasan, profesi, dan pendidikan pengarang angkatan baru, terutama sejak berdirinya Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) tahun 1966 di Yogyakarta. Kehadiran organisasi pengarang sastra Jawa tersebut diasumsikan berpengaruh pula terhadap sistem pengarang, pengayom, penerbit dan penyebarluasan, pembaca yang diharapkan, dan kritik sastra. Dengan adanya perkembangan jumlah majalah (umum dan khusus) dan semakin jelasnya pergantian generasi

9 Kedua ragam sastra itu juga menjadi bagian atau mata rubrik dalam majalah Panjebar Semangat.

(yang diawali sejak zaman Jepang) dapat dikatakan bahwa sastra Jawa modern mampu belajar dan beradaptasi dengan berbagai perubahan dari elemen-elemen pendukung di sekitarnya. Perkembangan sastra Jawa modern itu setidaknya dimotivasi oleh tiga aspek pokok. Pertama, masyarakat Jawa bukan lagi masyarakat monolingual karena sebagian dari mereka adalah dwilingual atau multilingual akibat semakin banyaknya pengarang yang mengenyam pendidikan tinggi. Kedua, fakta empirik tersebut memberikan kemungkinan bagi mereka untuk dapat berkomunikasi secara lebih luas sehingga berdampak pada berbagai aspek kesastraan sastra Jawa yang dihasilkan. Ketiga, sejak dilepaskannya dari patron kerajaan, sastra Jawa menikmati kebebasannya menjadi sastra indi- vidual (milik masyarakat). Dengan demikian, sastra Jawa modern benar-benar harus mandiri dan harus mencari penyangga hidupnya sendiri. Di sepanjang periode kemer- dekaan memang ada beberapa lembaga yang menunjukkan kepengayomannya secara terbuka. Pers, misalnya, merupakan lembaga di luar sastra yang sejak awal (sejak periode pra- kemerdekaan) telah menunjukkan simpatinya kepada sastra Jawa. Selanjutnya, beberapa lembaga pemerintah dan nonpe- merintah juga menjadi pengayom sastra Jawa modern. Dengan kondisi demikian, walaupun kurun waktu 1945-- 1965 relatif pendek, perkembangan apa pun yang terjadi pada periode itu menjadi fondasi bagi perkembangan sastra Jawa selanjutnya. 10

10 Beberapa fondasi penting yang dibangun bagi perkembangan sastra Jawa adalah munculnya model sastra realis yang dirintis oleh Poerwadhie Atmodihardjo. Selain itu, timbul rintisan model sastra simbolik. Demikian pula diperkenalkan penulisan sastra panglipur wuyung, yakni ragam fiksi yang sudah dirintis oleh Soebagijo I.N. melalui majalah Pustaka Roman yang merupakan salah satu ragam fiksi

Perjalanan sejarah sastra Jawa modern periode kemer- dekaan memang harus membahas kurun waktu Orde Lama yang hanya berjarak waktu pendek (1945--1965). Masa itu sama pentingnya dengan masa Jepang karena pada masa itu bangsa Indonesia--dari berbagai kalangan dan etnis--sedang bersiap-siap untuk menegakkan dasar-dasar sebuah peme- rintahan baru melalui penataan kebijakan politik, ekonomi, dan kebudayaan. Proses perubahan itu diikuti oleh perubahan sistem-sistem penyangga lainnya, yaitu sistem pengarang, sistem pegayom, sistem penerbit dan penyebarluasan, sistem pembaca, dan sistem kritik. Hal itu terlihat pada berbagai kondisi sastra dari periode ke periode sehingga sastra menjadi bagian dari sistem komunikasi sosial yang kompleks dan rumit. 11 Dari komunikasi tersebut terlihatlah beberapa aspek kesastraan yang penting. Pertama, tumbuhnya generasi pengarang baru yang membawa perkembangan baru. Ke- lompok pengarang baru memiliki keberanian untuk meng- garap berbagai jenis sastra dengan tema yang beragam. Selain itu, sejak akhir tahun 1960-an mulai tampak ada sejumlah pengarang sastra Jawa yang beralih ke penulisan sastra Indonesia. Di antara mereka ada yang kemudian tetap menulis dalam dua bahasa (Jawa dan Indonesia), misalnya Suparto Brata, Poerwadhie Atmodihardjo, dan Prijana winduwinata. Kedua, seperti ditunjukkan oleh Ras (1979:2), sejak akhir tahun 1960-an berkembang beberapa ragam puisi

yang diterima oleh sebagian besar pembaca sastra Jawa.

11 Pembahasan tentang pengarang, penerbit, dan pembaca akan diuraikan lebih lengkap dan mendalam pada bab III.

dan fiksi. Dalam hal fiksi, muncul cerita detektif dan cerita berlatar perang. Sejak tahun 1980-an, perkembangan itu semakin tampak terutama dalam hal bentuk pengucapan. Misalnya, bentuk pengucapan realistis bergeser ke surealistis atau sastra yang berkolaborasi dengan gambar (cergam) berkembang menjadi jenis komik. Ketiga, pergeseran tersebut menandai adanya perkembangan internal sastra Jawa pada masa Orde Baru. 12 Dalam hal puisi, sejak tahun 1970-an, puisi realisme berkembang ke arah puisi imajisme, di samping berkembang pula puisi-puisi balada yang kemudian disusul dengan bentuk-bentuk puisi tipografis. Selain itu, berkembang pula berbagai bentuk sastra fiksi, misalnya (1) cerita bergambar dan (2) cerita pendek, seperti cerita pendek yang pendek (short short-story) dan cerita pendek yang panjang (long short-story) yang berdampingan dengan puisi modern (guritan). 13 Ras (1979:2) menjelaskan bahwa pada tahun 1970-an terjadi eksodus pengarang sastra Jawa ke

12 Khusus tentang tema berlatar perang, sebagai negara yang baru merdeka, masalah perang mempertahankan kedaulatan negara diasumsikan merupakan bagian dari masalah pokok waktu itu dan mampu menciptakan sekelompok pengarang yang mengangkat tema- tema perjuangan. Penelitian berjudul Struktur Cerita Rekaan Jawa Modern Berlatar Perang (Widati-Pradopo dkk., 1988) menunjukkan bahwa tema-tema perang sangat menonjol karena sebagian besar pengarang pada periode itu adalah pelaku atau saksi sejarah. Hal itu dapat dibuktikan oleh akrabnya sebagian besar pengarang dengan berbagai situasi dan masalah pertempuran.

13 Berkembang pesatnya jenis puisi modern, baik dari segi tema maupun bentuk, bukan berarti berhentinya jenis puisi tradisional (macapat) dalam kancah sastra Jawa. Kedua jenis puisi tersebut dapat berdam- pingan secara harmonis.

sastra Indonesia, di antaranya Sapardi Djoko Damono, Satyagraha Hoerip, dan Arswendo Atmowiloto. Arus eksodus itu terjadi sebagai akibat adanya kesadaran baru di kalangan masyarakat yang merasa bahwa mereka merupakan warga bangsa yang besar (bangsa Indonesia), bukan lagi warga sebuah etnis. Keempat, munculnya berbagai penerbitan swastasebagai upaya untuk mengimbangi keterbatasan penerbitan pemerintah--memberi kemungkinan bagi lahirnya pengayom baru. Karena tidak diimbangi oleh kontrol yang baik, termasuk tidak didukung oleh masyarakat pembaca kritis, kebijakan pemerintah dalam pers dan kemudahan izin penerbitan buku berdampak ke arah suburnya penulisan dan penerbitan panglipur wuyung. 14 Kelima, perkembangan kelompok pembaca baru di kota dan di desa berkorelasi dengan munculnya generasi pengarang sastra Jawa dan tumbuhnya penerbitan swasta. Dalam hal tema dan jenis sastra yang dipilih oleh pengarang (baru), secara umum, tersirat pula adanya arah pembaca yang berbeda-beda sesuai dengan missi penerbit(an).

1.2 Pokok-Pokok Pikiran Dalam buku I (Ikhtisar Perkembangan Sastra Jawa Modern Periode Prakemerdekaan) telah disebutkan bahwa perkembangan sastra Jawa modern periode prakemerdekaan tidak hanya didukung oleh sejumlah pengarang yang andal, tetapi juga oleh adanya kenyataan bahwa sastra merupakan suatu institusi yang kompleks yang di dalamnya tersirat adanya komunikasi antara pengarang dan berbagai sistem di luar sastra. Hal tersebut menggarisbawahi pandangan bahwa

14 Tanpa diduga, kebijakan pemerintah tersebut menciptakan dampak negatif baru bagi sastra Jawa modern pada periode selanjutnya.

karya sastra memang tidak dapat hadir secara sendiri, tetapi selalu didukung oleh beberapa elemen yang berada di luarnya (Tanaka,1976:1). Dengan demikian, elemen-elemen yang terlibat dalam penghadiran sastra adalah elemen atau sub- elemen dari suatu sistem yang kompleks. Elemen-elemen “luar” sastra (sistem makro) dan elemen-elemen “dalam” sastra (sistem mikro) masing-masing memiliki sistem sendiri- sendiri yang mengatur dirinya sendiri (Ackoff dalam Tanaka, 1976:8--11). Akan tetapi, seperti halnya sebuah organisasi, bagian dari masing-masing sistem sastra yang luas itu saling berkomunikasi dan semuanya mendukung satu tujuan (Ackoff dalam Tanaka, 1976:9). Dari sudut pandang tersebut, kedudukan sastra dapat dilihat dari dua arah, yaitu (1) sebagai sistem yang luas yang terbangun oleh sejumlah elemen pendukung dan (2) sebagai subjek dirinya sendiri yang spesifik (Tanaka, 1976:1). Dengan demikian, di samping dapat ditinjau dari sisi elemen- elemen di luarnya, sastra dapat pula ditinjau dari dirinya sendiri, yaitu sebagai karya imajinatif yang menggunakan media bahasa dengan unsur estetik dominan (Wellek dan Warren, 1956:25). Oleh karena itu, di dalam buku ikhtisar perkembangan sastra Jawa periode kemerdekaan ini, selain dipaparkan elemen-elemen sistem makro (pengarang, peng- ayom, penerbit, pembaca, dan kritik), diuraikan pula elemen- elemen sistem mikro karya-karya sastra Jawa modern periode kemerdekaan, khususnya sejak tahun 1945 hingga 1997.

1.3 Sistematika Sebagai kelanjutan buku I, buku II yang memaparkan ikhtisar perkembangan sastra Jawa modern periode kemer- dekaan ini disusun dengan sistematika berikut.

Bab pertama (pendahuluan) berisi pengantar dan uraian latar belakang sastra Jawa modern periode kemer- dekaan. Dalam bab ini dibicarakan secara ringkas beberapa aspek pokok, yaitu pertautan historis antara periode prake- merdekaan dan periode kemerdekaan, informasi kondisi internal (sistem mikro) dan kondisi eksternal (sistem makro) yang mendukung kehadiran sastra Jawa periode kemer- dekaan, dan masalah-masalah lain yang perlu dibahas dalam uraian inti. Selain itu, dibicarakan pula landasan penalaran yang menjelaskan berbagai masalah substansial mengenai ikhtisar perkembangan sastra Jawa modern periode kemer- dekaan.

Bab kedua (dinamika perubahan sosial-budaya) berisi uraian tentang berbagai peristiwa sosial-politik-ekonomi- budaya yang langsung atau tidak langsung mempengaruhi keberadaan atau eksistensi sastra Jawa modern periode kemerdekaan, terutama pada masa pemerintahan Orde Lama (1945--1965) dan Orde Baru (19661997). Bab ketiga (lingkungan pendukung sastra Jawa modern periode kemerdekaan) berisi uraian berbagai elemen sistem makro yang mencakupi kondisi pengarang dan kepengarangan, pengayom dan kepengayoman, penerbit dan penerbitan, pembaca, dan kondisi kritik sastra yang menjadi lingkungan (terdekat) pendukung keberadaan sastra Jawa modern periode kemerdekaan. Bab keempat (karya-karya sastra Jawa modern periode kemerdekaan) berisi uraian mengenai elemen-elemen sistem mikro sastra Jawa modern periode kemerdekaan yang meliputi jenis-jenis (genre) karya sastra yang berkembang, beberapa karya yang dianggap penting, perkembangan pemakaian bahasa, dan perkembangan tema.

Bab kelima (penutup) berisi rangkuman atau gene- ralisasi dari seluruh uraian dalam bab-bab sebelumnya, di samping uraian mengenai masalah-masalah yang mungkin menjadi kendala, baik dalam proses penelusuran data maupun dalam proses penyajian (penulisan) buku ini.

BAB II DINAMIKA PERUBAHAN SOSIAL-BUDAYA

Sastra Jawa mengalami perubahan-perubahan menda- sar yang perlu dicermati keberadaannya. Perubahan itu seti- daknya tercermin dari pergeseran kecenderungan penulisan yang semula bersifat “sejarah”, didaktis (ajaran moral), atau jurnalisme ke karya-karya kreatif-imajinatif yang lebih inovatif. Perubahan kecenderungan tersebut tidak begitu saja terjadi tanpa adanya perubahan-perubahan di luar sastra. 15 Hal yang turut membentuk situasi itu adalah meluasnya kesempatan mendapatkan pendidikan bagi masyarakat Jawa dan menguatnya rangsangan kreatif ke arah masyarakat modern. Sinyalemen ini sejalan dengan apa yang diungkap- kan Ras (1985:1) bahwa peristiwa-peristiwa terpenting yang berpengaruh terhadap masyarakat Jawa adalah (1) pesatnya pertambahan jumlah penduduk dan (2) terjadinya pening- katan taraf pendidikan. Sesungguhnya perubahan corak di dalam karya sastra tidak hanya terjadi pada sifat dan bentuknya, tetapi juga menyangkut pandangan pengarang tentang berbagai hal yang

15 Ras (1985:1) menyatakan bahwa sastra Jawa merupakan hamparan objek studi yang rumit dan sangat menarik, baik ditinjau dari isinya maupun dari konteks “pengarang-pembaca” atau “produsen-konsumen”, terutama karena masyarakat Jawa telah mengalami perubahan- perubahan penting sejak permulaan abad ke-20.

melingkupinya. 16 Grebstein (Damono, 1978:4) menyatakan bahwa karya sastra tidak akan dapat dipahami selengkap- lengkapnya jika dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan (peradaban) yang menghasilkannya. Sastra harus dipelajari dalam konteks seluas-luasnya karena merupakan hasil pengaruh timbal-balik yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural. Boleh dikatakan bahwa tidak ada karya sastra besar yang diciptakan berdasarkan gagasan sepele dan dangkal. Dalam sastra Jawa, transformasi perubahan itu seti- daknya tercermin dalam pembagian sastra keraton, sastra priayi, dan sastra masyarakat kebanyakan (luar keraton). Kategori tersebut dibedakan dengan titik tolak konteks kedudukan pengarang, motivasi kepengarangan, pengejawan- tahan ide, dan hal-hal yang tergambarkan dalam karya sastra. Kenyataan ini memiliki korelasi dengan pemikiran Kunto- wijoyo (Prawoto, 1991:54) bahwa sastra keraton memiliki ciri-ciri (1) mistisisme, (2) mengedepankan etika satria, dan (3) memiliki cita-cita nggayuh utami 'meraih keutamaan'. 17

16 Kenyataan membuktikan bahwa sastra bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri atau terpisah dari masyarakat yang melahirkan dan menikmatinya. Sastra mempunyai kedudukan, peran, dan kegunaan dalam masyarakat; dan semua itu selalu mengalami pergeseran dari waktu ke waktu dan perbedaan antara satu masyarakat dan masyarakat lain.

17 Kemajuan sastra keraton terdorong oleh beberapa faktor yang meliputi (1) menurunnya peran keraton sebagai pusat kekuatan politik dan ekonomi karena campur tangan pihak Belanda dalam pemerintahan sehingga keraton lebih banyak berfungsi sebagai pusat kesenian dan (2) kuatnya kedudukan raja dalam masyarakat Jawa. Raja merupakan legitimasi dari segala kekuasaan karena raja adalah gung binathara bau dhendha anyakrawati ‘memiliki kekuasaan dewa, pemelihara hukum

Ketiga ciri tersebut oleh Kuntowijoyo dipertentangkan dengan eksistensi sastra priayi yang tidak lagi didominasi oleh mistisisme, etika satria digantikan oleh etika priayi, dan nilai-nilai sosial keraton (untuk nggayuh utami) digantikan oleh cita-cita mobilitas sosial dalam arti mencari tempat dalam masyarakat baru. Apabila sastra priayi memuat petuah-petuah, petuah tersebut lebih menekankan bagaimana orang dapat meraih kedudukan sebagai priayi meskipun ia berasal dari golongan wong cilik. Jadi, kesadaran tentang perubahan sosial dan adanya mobilitas vertikal sangat disa- dari oleh pengarang sastra priayi. Sementara itu, ciri sastra masyarakat kebanyakan (luar keraton) tidak lagi mempunyai patron keraton sentris dan tidak terkungkung oleh pengagungan terhadap jagad priayiisme. Asumsi tersebut bertolak dari hipotesis bahwa pembentukan kesusastraan merupakan pembangunan sebuah wilayah sastra yang di dalamnya para sastrawan mereali- sasikan diri sebagai subjek yang bebas dan mandiri. Dengan demikian, pembentukan kesusastraan Jawa (juga) berfungsi sebagai sarana bagi penyebaran gagasan mengenai dunia ideal; dalam arti orang Jawa secara keseluruhan dapat mere- alisasikan diri dengan cara yang sama, bebas, dan mandiri. Dari kenyataan tersebut pada akhirnya dapatlah dipahami mengenai dinamika perubahan tema-tema sastra Jawa dari keraton atau istana sentris (tahun 1800--1900-an), tema keluarga dan kawin paksa (tahun 1920-an), tema pendidikan,

dan penguasa dunia’. Oleh karena itu, raja adalah wenang wisesa ing nagari ‘memegang kekuasaan tertinggi di seluruh negeri’ (bdk. Suwondo, 1990:35). Keinginan sastra keraton untuk nggayuh utami setidaknya tercermin dalam Serat Wedha Tama,Serat Tripama,Serat Wulang Reh, dan sebagainya.

tema perjuangan (tahun 1930--1950-an), dan tema-tema sosial dengan beragam persoalan (tahun 1960-an--1997). Perubahan besar yang terjadi di Indonesia dapat dicermati dari tumbangnya Orde Lama--sebuah rentang waktu yang selalu dikaitkan dengan situasi merajalelanya korupsi, cepatnya pertumbuhan penduduk yang menciptakan banyak pengangguran, merebaknya tindak kejahatan, dan tidak tercukupinya pangan bagi masyarakat--serta berkua- sanya Orde Baru 18 yang eksistensinya selalu dikaitkan dengan pembangunan, perbaikan ekonomi, dan berbagai program pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Sebelum memasuki era Orde Baru, terdapat dua sistem politik yang berkembang di Indonesia, yaitu demo- krasi liberal parlementer dan demokrasi terpimpin. Sistem politik demokrasi liberal parlementar memiliki spesifikasi adanya pembagian kekuasaan pada setiap institusi yang ada, yaitu kekuasaan legislatif (DPR), kekuasaan eksekutif (Perdana Menteri atau kabinet), dan kekuasaan yudikatif (Mahkamah Agung) (Setiawan, 1998:98). Dengan adanya pembagian dan pelaksanaan kekuasaan seperti itu berarti tidak terjadi sentralisasi kekuasaan. Sementara itu, sistem politik demokrasi terpimpin muncul setelah lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 (pembubaran konstituante pembuat UUDS dan berlakunya kembali UUD 1945). Pada masa demokrasi terpimpin, setelah DPR hasil pemilu 1955 dibubarkan, terjadi sentralisasi kekuasaan:

18 Pengertian Orde Baru banyak mengalami perubahan. Pada awalnya Orde Baru selalu diartikan sebagai pendukung new power, kekuatan baru yang muncul pada akhir tahun 1965 dan awal tahun 1966, melawan apa yang disebut sebagai Orde Lama; sisa-sisa kekuatan lama yang terpusat di sekitar Soekarno, PKI, dan beberapa partai lainnya.

seluruh kekuasaan, baik kekuasaan legislatif, eksekutif, maupun yudikatif berada di tangan Presiden (Soekarno). Partai-partai politik yang ada pada waktu itu sebagian dibu- barkan (membubarkan diri) karena tidak bersedia menerima konsep Nasakom. Partai yang tetap berdiri adalah PNI, NU, PSII, PERTI, Partai Murba, PKI, IPKI, Partai Kristen Indonesia, Partai Katolik Indonesia, dan Partindo. Pada waktu itu fungsi-fungsi partai, baik yang dilakukan oleh partai-partai agama maupun partai nasional, tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya kecuali partai komunis (Setiawan, 1998:103). Konsekuensi dari sentralisasi kekua- saan itu adalah keterbatasan masyarakat dalam menyalurkan kreativitas dan kritik-kritik kepada pemerintah. Tidak meng- herankan jika majalah, koran, siaran radio, dan berbagai media lain dikendalikan secara sempurna sehingga tidak lagi mampu menyuarakan suara rakyat, baik mengenai kepen- tingan politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan pula jika karya-karya sastra (terma- suk karya sastra Jawa) yang lahir pada waktu itu adalah karya-karya dengan latar perang atau romantisme yang sifatnya menghibur (tidak berurusan dengan politik). 19 Hal ini tampak jelas jika disimak, misalnya Serat Gerilya Sala (1957) karya Sri Hadidjojo, Kembang Kanthil (1957) karya Senggono, Kumpule Balung Pisah (1957) karya A. Saerozi A.M., Kemandhang (1958) antologi susunan Senggono, dan Kidung Wengi ing Gunung Gamping (1958) antologi karya St. Iesmaniasita.

19 Pengecualian untuk Dongeng Sato Kewan (1952) karya Prijana Winduwinata yang secara simbolis berisi kritik sosial politik yang cukup tajam.

Kelanjutan dari situasi tersebut adalah tumbuh subur- nya karya-karya panglipur wuyung yang diterbitkan dalam bentuk buku saku. Karya sastra yang diterbitkan dalam bentuk buku saku ditandai oleh beberapa ciri, antara lain (1) ditulis dengan media bahasa yang mudah dipahami khalayak luas, (2) cerita yang disajikan tidak berbelit-belit, (3) kisah yang ditampilkan umumnya dibumbui dengan peristiwa- peristiwa sensasional erotik, dan (4) sampul novel menge- depankan gambar natural realisme yang eksotis. Dua ciri terakhir dapat dikaitkan dengan judul-judul yang memberi sugesti “suram” kepada pembaca terhadap unsur-unsur erotik yang dikandung oleh sebuah karya sastra, misalnya Gara- Gara Rok Mepet Rambut Sasak, Randha Teles, Asmara Tanpa Weweka, Godhane Prawan Indo, dan Prawan Kaosan. Kurangnya nilai sastra yang dikandung novel-novel saku tersebut menyebabkan banyak pemerhati sastra “mengejek” novel-novel itu sebagai cerita picisan atau panglipur wuyung ‘pelipur lara’. Namun, eksistensi novel-novel saku tetap dipertahankan dengan kedok (sengaja dipasang sebagai “label” di bagian sampul dalam) bahwa karya-karya tersebut dihadirkan untuk nguri-uri basa lan kasusastran Jawa ‘melestarikan bahasa dan kesusasteraan Jawa’, nyengkuyung kiprah lan gregete revolusi ‘mendukung kiprah dan gerak revolusi’, dan dadiya tepa palupining para mudha ing samadyaning bebrayan ‘semoga menjadi teladan bagi generasi muda di tengah masyarakat’. Secara semiotik, “label” itu merupakan sebuah anti- tesis untuk mempertahankan eksistensi sastra Jawa. Dengan membangun idealisme bagi pembaca diharapkan novel-novel itu dapat dipasarkan dan memberi kehidupan bagi pengarang. Kesederhanaan novel-novel saku berkorelasi dengan terpu-

ruknya perekonomian Indonesia tahun 1960-an, yang ditandai oleh terjadinya inflasi, bangkrutnya pengusaha-pengusaha pribumi, dan sulitnya mendapatkan kertas. Dalam situasi sulit tersebut masyarakat membutuhkan hiburan, dan media hi- buran yang mudah terjangkau adalah bacaan berbentuk novel saku: mudah dibuat, berharga murah, bersifat meng-hibur, dan tidak memerlukan banyak bahan baku (kertas); di samping munculnya beberapa percetakan kecil yang bersedia menerbitkan karya sastra dalam bentuk buku saku. Novel saku (panglipur wuyung) mulai tersendat penerbitannya sejak tahun 1970-an karena tumbuh kesadaran membangun ideologi yang memiliki komitmen terhadap kenyataan, bukan menghindar dari kenyataan dengan mem- bangun dunia romantisme untuk sekadar memberi hiburan. Hal ini ditunjang pula oleh munculnya berbagai sanggar sastra Jawa. Arah pembentukan sastra Jawa yang berkualitas mulai terlihat sejak didirikannya OPSJ setelah terlaksananya sarasehan pengarang Jawa oleh Sanggar Bambu, Yogyakarta, pada 2427 Agustus 1966. Mundurnya penerbitan karya- karya panglipur wuyung juga disebabkan oleh pencabutan subsidi kertas dari pemerintah (Ras, 1985; Asmara, 1983:14), kurangnya pembaca yang berminat, dan turunnya produk- tivitas. Hal itu terjadi karena pembaca dan pengarang trauma terhadap Operasi Tertib Remaja (Opterma) yang menyita beberapa karya panglipur wuyung. Kemungkinan lain adalah karena pada awal tahun 1970-an pemerintah Orde Baru dapat memperbaiki ekonomi sehingga inflasi yang lebih parah dapat sedikit diatasi. Kondisi ekonomi yang semakin baik menyebabkan munculnya penerbitan koran dan majalah umum (bdk. Quinn, 1992:34) dengan kualitas yang lebih baik

dibandingkan dengan koran dan majalah yang terbit tahun 1950-an hingga pertengahan 1960-an. Ricklefs (1995:356357) memberi gambaran bahwa situasi setelah kemerdekaan merupakan kegagalan kelompok elite (pimpinan) dalam memenuhi harapan masyarakat luas. Beberapa faktor yang membangun situasi tersebut adalah lajunya pertumbuhan penduduk (dari tahun 1950-an hingga 1960-an), produksi pangan tidak mencukupi, adanya keku- asaan otoriter yang memusat, banyaknya rakyat buta huruf dan miskin. Ricklefs memperkirakan jumlah penduduk pada tahun 1950 mencapai 77,2 juta jiwa; pada tahun 1955 berjumlah 85,4 juta jiwa; dan menurut Sensus Penduduk 1961 jumlah penduduk meningkat menjadi 97,02 juta jiwa. Produksi pangan meningkat, tetapi tidak mencukupi kebu- tuhan. Produksi beras pada tahun 1956 setidaknya 26% lebih tinggi dibandingkan produksi tahun 1950, tetapi beras impor masih tetap diperlukan. 20 Dari sisi politik, pada masa itu Pulau Jawa lebih mendapat perhatian karena ibu kota negara berada di Pulau Jawa. Sebagian kota-kota besar lain di luar Jawa (yang dihuni oleh kaum politisi sipil) pada umumnya cenderung “dilupakan” oleh pemerintah pusat. Perkembangan

20 Kekurangan pangan dan kemiskinan beberapa daerah di Pulau Jawa terjadi sejak tahun 1930-an (Egbert de Vries, 1985:45). Di Jawa Tengah, misalnya, sebagian rakyat mengkonsumsi gaber (limbah ubi kayu untuk makanan babi), gelang (sagu dari pohon enau untuk makanan itik), bonggol (bagian bawah batang pisang untuk makanan babi), tlancang (semacam keong kecil yang setelah ditumbuk dengan kulitnya dapat dimakan), dedeg (dedak padi untuk makanan ternak), dan masih banyak makanan lain yang dicoba sebagai pengganti beras. Percobaan-percobaan tersebut menyebabkan banyak kematian karena keracunan.

sarana dan prasarana selalu diutamakan bagi kepentingan Pulau Jawa. Tindakan ini menurut Ricklefs (1995:357) menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi daerah-daerah di luar Jawa yang berperekonomian ekspor sehingga menimbulkan kekacauan dengan munculnya pasar-pasar gelap dan terjadi- nya penyelundupan. Beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi situasi sulit tersebut adalah dengan memperbaiki bidang pendidikan dan ekonomi. Di bidang pendidikan, jumlah lembaga pendidikan ditingkatkan. Tahun 19531960 jumlah anak didik sekolah dasar meningkat dari 1,7 juta menjadi 2,5 juta. 21 Sekolah-sekolah lanjutan, baik negeri maupun swasta

21 Mengenai perkembangan sistem sekolah (pendidikan) di Indonesia, publikasi resmi mencatat bahwa dari tahun 1900 sampai 1928 pelajar- pelajar dari pendidikan rendah bumiputera berlipat ganda kira-kira 12 kali lipat dari 125.444 orang menjadi 1.513.088 orang (Kartodirdjo, 1991:216). Dari jumlah murid yang terakhir ini 65.106 orang di sekolah-sekolah dengan bahasa Belanda sebagai pengantar. Dijelaskan lebih jauh bahwa kecepatan meluasnya sekolah-sekolah dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dan meluasnya sekolah-sekolah dengan bahasa bumiputera sebagai pengantar menunjukkan bahwa golongan sekolah yang pertama itu sangat dibatasi dan sejak semula sangat selektif; dan ini direncanakan untuk menjadi sekolah golongan elite atau standenschool dengan fasilitas pendidikan lebih mengun- tungkan golongan Eropa dan elite bumiputera daripada fasilitas-fasilitas untuk massa rakyat. Kualifikasi pendidikan ala Barat menjadi lambang prestise bagi masyarakat. Suparto Brata yang menguasai serba sedikit bahasa Belanda merasa beruntung dapat menikmati bacaan-bacaan berbahasa Belanda ketika pada tahun 1954 tidak ada cerita berbahasa Indonesia yang terbit. Adanya gerakan antibahasa Belanda (tahun 1956) menyebabkan orang-orang Belanda dan pemakai bahasa Belanda menyingkir. Kemudian, bahasa Inggris menjadi pilihan alternatif. Suparto Brata menyadari bahwa dengan kemampuannya berbahasa Belanda dan Inggris (berkat pendidikan Barat)--sehingga mampu

(umumnya sekolah dengan latar belakang agama), dan

lembaga-lembaga tingkat universitas bermunculan (terutama)

di Pulau Jawa. 22 Keuntungan dari perluasan bidang

pendidikan adalah (1) tahun 1930 jumlah orang dewasa

melek huruf tercatat 7,4%, sedangkan tahun 1961 jumlah tersebut mencapai 46,7% dari jumlah anak-anak di atas usia sepuluh tahun (56,6% di Sumatera dan 45,5% di Jawa) dan (2) meningkatnya jumlah penduduk melek huruf; hal itu tercermin dari oplah surat kabar harian yang melonjak hampir

dua kali lipat dari 500.000 eksemplar tahun 1950 menjadi di

atas 933.000 eksemplar tahun 1956. Sementara itu, oplah majalah meningkat tiga kali lipat menjadi di atas 3,3 juta eksemplar dalam kurun waktu yang sama. 23 Sejak pertumbuhan beberapa surat kabar dan majalah

itulah perkembangan sastra Jawa menjadi lebih subur. Keme- lekhurufan tersebut juga mendorong penerbit pemerintah (Balai Pustaka) menyediakan bahan bacaan bagi masyarakat

membaca karya-karya Agatha Christy, Hilda Lauwrence, dsb.--ia dapat menjadi pengarang pertama roman detektif berbahasa Jawa (Brata,

1991:93).

22 Beberapa universitas didirikan dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 57 tahun 1954 yang diberlakukan mulai tanggal 10 November 1954 (Ricklefs, 1995:357; Poesponegoro dkk., 1984:285).

23 Menurut Kementerian Penerangan bagian Sosial, Pers dan Grafika-- yang mengurus pembagian kertas untuk surat kabar dan majalah (lSoebagijo, 1977:110)--pada akhir tahun 1952 tercatat sejumlah 66 harian berbahasa Indonesia dengan oplah 369.000, yang berarti oplah rata-rata adalah 5.590 eksemplar. Pada akhir tahun 1953 meningkat menjadi 467.000 eksemplar. Adapun pada pertengahan tahun 1954 tercatat 70 harian dengan oplag 469.050 eksemplar.

luas dengan diterbitkannya O, Anakku…(1952) karya Th. Suroto, Jodho kang Pinasthi (1952) karya Sri Hadidjojo, Sri Kuning (1953) karya R. Hardjowirogo, Serat Gerilya Sala (1957) karya Sri Hadidjojo, Kembang Kanthil (1957) karya Senggono, Kumpule Balung Pisah (1957) karya A. Saerozi A.M., Kemandhang (1958) antologi susunan Senggono, dan Kidung Wengi ing Gunung Gamping (1958) karya St. Iesma- niasita. Di samping itu, ada pula beberapa penerbit swasta yang menerbitkan karya sastra, misalnya Taman Pustaka Kristen menerbitkan Mitrane Wong Buwangan (1955) karya S. Bratasoewignja dan Jaker menerbitkan Putri Gangga

(1961).

Pemulihan bidang ekonomi dimulai dengan meng- ubah struktur ekonomi dari ekonomi kolonial ke ekonomi nasional. 24 Langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah menumbuhkan kelas pengusaha. Pengusaha-pengu- saha bangsa Indonesia yang pada umumnya bermodal lemah

24 Ekonomi kolonial seharusnya tidak selalu dipandang dari sisi negatif (terjadinya sistem monopoli), tetapi juga harus dikaji sisi positifnya dari berbagai upaya yang dilakukan. Dilihat dari tujuan awalnya, ekonomi kolonial memiliki misi agar bangsa Indonesia tidak terlalu bergantung pada barang-barang impor dari Benua Eropa. Di bidang ekonomi pada umumnya kepentingan-kepentingan non-Indonesia tetap mempunyai arti penting (Ricklefs, 1995:356). Shell dan perusahaan-perusahaan Amerika (Stanvac dan Caltex) mempunyai posisi kuat di bidang industri minyak. Sebagian besar pelayaran antarpulau berada di tangan KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) milik Belanda. Perbankan didominasi oleh perusahaan-perusahaan Belanda, Inggris, dan Cina; orang-orang Cina juga menguasai jasa kredit di pedesaan. Dari gambaran ini jelas bahwa bangsa Indonesia secara ekonomis tidak merdeka dan situasi tersebut mendukung gerakan radikalisme yang muncul pada akhir tahun 1950-an.

diberi kesempatan untuk berpartisipasi membangun ekonomi nasional lewat program Benteng yang pada tahun 19501953 memberikan bantuan kredit terhadap 700 perusahaan bangsa Indonesia. Program pemerintah ini pada hakikatnya merupakan kebijakan untuk melindungi perusahaan pribumi. Kendati demikian, upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil yang diharapkan: pengusaha Indonesia lamban menjadi dewasa, bahkan banyak pihak menyalahgunakan kebijakan itu untuk mencari keuntungan. Banyak perusahaan baru didirikan, tetapi perusahaan baru itu hanya dijadikan kedok orang-orang Cina untuk meraup uang pemerintah. 25 Ketidakberhasilan program Benteng mengakibatkan defisit keuangan negara sehingga pada tahun 1952 terjadi krisis moneter. Namun, pemerintah tetap memberi perhatian kepada pengusaha dan pedagang nasional golongan ekonomi lemah. Langkah selanjutnya dilakukan oleh pemerintah dengan mewajibkan perusahaan asing memberikan pelatihan dan tanggung jawab kepada pekerja pribumi; mendirikan perusahaan-perusahaan negara; menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha swasta nasional dan memberikan perlin- dungan agar mereka mampu bersaing dengan perusahaan asing.

Situasi ekonomi pada masa Orde Lama semakin terpuruk karena pemerintah Indonesia membangun wacana anti-Barat, menolak liberalisme, kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme, termasuk kolonialisme dan imperialisme

25 Hal tersebut didahului oleh persetujuan-persetujuan antara para pendukung pemerintah dan orang-orang Cina--apa yang disebut perusahaan-perusahaan “Ali Baba”--, orang Indonesia (Ali) mewakili seorang pengusaha Cina (Babah) yang sebetulnya pemilik perusahaan tersebut (Ricklefs, 1995:371).

baru (neokolonialisme dan neoimperialisme). Upaya yang dilakukan pemerintah dengan mengambil jarak terhadap negara-negara Barat tersebut mempunyai dampak tidak mengalirnya bantuan (dana) dari negara-negara Barat. Kondisi tersebut diperburuk oleh politik luar negeri Indonesia yang memihak kepada negara-negara sosialis (Uni Soviet, RRC, dan negara-negara Eropa Timur). Ketika Orde Baru 26 mulai berkuasa, kebijakan eko- nomi mengarah kepada strategi yang berorientasi ke luar. 27 Strategi ini memberi peluang bagi pihak swasta untuk berperan aktif dalam sistem pasar bebas. Langkah itu

26 Kekuatan Orde Baru didukung oleh militer (ABRI) dibantu para teknorat (umumnya berpendidikan Barat), mahasiswa, intelektual, dan eksponen lepas lainnya. Selanjutnya kekuatan Orde Baru semakin meluas. Meskipun ABRI tetap diklaim sebagai kekuatan utama, hampir semua orang--dari pejabat, politisi, teknorat, sampai pegawai negeri-- tidak dapat melepaskan diri dari wacana kekuatan Orde Baru (bdk. Ali,

1986:120).

27 Meskipun demikian, sejak terjadinya peristiwa Malari pada tahun 1974, pemerintah Orde Baru menyadari secara serius dampak negatif dari strategi ekonomi dan pembangunan yang berorientasi ke luar, yang antara lain menimbulkan lonjakan kenaikan harga untuk setiap macam barang dan jasa, kemacetan sektor produksi, dan menimbulkan kebangkrutan di kalangan pengusaha pribumi. Sejak saat itu pemerintah berupaya melaksanakan program “Indonesianisasi” dan “pribuminisasi” kehidupan ekonomi nasional. Strategi ke arah nasionalisme ekonomi tersebut, menurut Mas’oed (1990:119), berorientasi pada (1) pengalihan modal dari penanaman modal asing ke warga negara Indonesia, (2) pengharusan bagi pemodal asing untuk mengurangi proporsi tenaga kerja non-Indonesia, (3) pembatasan bidang usaha perusahaan- perusahaan asing, dan (4) pemberian prioritas pada perusahaan- perusahaan pribumi dalam memperoleh kontrak kerja dari pemerintah.

diharapkan segera membuahkan hasil tanpa memerlukan perombakan radikal struktur sosial-ekonomi (Mas’oed, 1990:116117). Semua ini tidak lain berkat diberlakukannya peraturan 3 Oktober 1966 yang memuat pokok-pokok usaha, yaitu (1) penyeimbangan anggaran belanja, (2) pengekangan ekspansi kredit untuk usaha-usaha produktif, khususnya bidang pangan, ekspor, prasarana, dan industri, (3) penun- daan pembayaran utang luar negeri dan upaya mendapatkan kredit baru, dan (4) penanaman modal asing guna membe- rikan kesempatan negara lain untuk berpartisipasi membuka alam Indonesia, membuka kesempatan kerja, membantu usaha peningkatan kerja, dan membantu usaha peningkatan pendapatan nasional. 28 Pemilihan strategi tersebut memiliki dua alasan mendasar, yaitu (1) memberikan kepuasaan material bagi masyarakat luas dalam bentuk penyediaan kebutuhan sandang-pangan; strategi ini diterapkan Orde Baru untuk menarik simpati rakyat dalam melumpuhkan kekuatan Orde Lama dan (2) menumbuhkan kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia; alasan ini didasari oleh sikap Orde Lama di bawah komando Soekarno yang mencurigai penanaman

28 Untuk menanggulangi kemerosotan ekonomi, pada tanggal 10 Januari 1967 pemerintah mengesahkan berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 yang berkenaan dengan penanaman modal asing. Sebelumnya, untuk memberikan pelayanan di bidang ini, pada tanggal 9 Januari 1967 dibentuk Badan Pertimbangan Penanaman Modal Asing yang langsung dipimpin oleh Ketua Presidium Kabinet (Jenderal Soeharto) bersama dengan beberapa menteri sebagai anggota. Badan ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 1968 dibubarkan dan diganti dengan Panitia Teknis Penanaman Modal dengan tugas mengadakan penelitian dan penilaian terhadap syarat-syarat perizinan yang berkaitan dengan penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri (Poespo- negoro, 1984:434).

modal asing dan bantuan-bantuan negara Barat serta keti- dakmampuan pemerintah membayar utang luar negeri mempersulit pemerintah Orde Baru dalam mencari bantuan modal asing. Kondisi ini, menurut Mas’oed (1990:118), membuat pemerintah Orde Baru--agar mendapat dukungan dari pemilik dana di luar negeri--bersedia menerima anjuran International Monetary Fund (IMF) mengenai perlu diciptakannya iklim usaha yang loyal bagi beroperasinya modal asing dan diintegrasikannya kembali perekonomian Indonesia ke dalam sistem ekonomi kapitalis internasional. Hal itu mencerminkan adanya komitmen untuk melaksanakan pembangunan ekonomi yang merupakan landasan untuk merancang kehidupan politik yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru (bdk. Setiawan, 1998:108). Rehabilitasi ekonomi itu berkaitan dengan upaya memisahkan diri dari negara- negara komunis dan dijalinnya kembali hubungan dengan dunia nonkomunis. Perbaikan hubungan dengan Amerika dan Jepang merupakan langkah strategis bagi upaya rehabilitasi ekonomi tersebut. Ricklefs (1991:433) menandaskan bahwa sejak se- mula pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto berupaya menjalankan kebijakan-kebijakan stabi- lisasi dan pembangunan ekonomi, menyandarkan legitimasi pemerintah pada kemampuan meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi rakyat. Setidaknya, hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa pada tahun 1970--1980-an kondisi rakyat kelas bawah relatif lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi pada masa Orde Lama, lebih-lebih pada masa penjajahan Belanda; tingkat kesejahteraan bangsa Indonesia lebih memberi harapan jika dibandingkan dengan tingkat kesejahteraan yang telah dicapai sejak abad ke-18.

Ricklefs (1991:433) memperkuat asumsi tersebut dengan menunjukkan data bahwa pada masa pemerintahan kolonial (tahun 1930) hanya terdapat 1.030 orang dokter (yang memenuhi syarat) di Indonesia, padahal penduduk Indonesia pada waktu itu berjumlah 60,7 juta jiwa. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa untuk setiap 59.000 penduduk di seluruh Indonesia hanya tersedia satu orang dokter. Sementara itu, pada tahun 1974 terdapat 6.221 orang dokter. Dengan memperkirakan jumlah penduduk sebesar 130 juta jiwa (menurut sensus tahun 1971 berjumlah 118,4 juta jiwa), berarti bahwa seorang dokter harus melayani 20,9 ribu jiwa. Adapun Sensus Penduduk 1980 mencatat jumlah penduduk sebesar 147,3 juta jiwa dan jumlah dokter sebanyak 12.931 orang sehingga seorang dokter harus melayani 11,4 ribu jiwa. Data-data itu menunjukkan kemajuan drastis meskipun distribusi pelayanan medis tetap tidak merata dan masih jauh dari ideal. Di sisi lain, produksi pangan mengalami peningkatan secara mencolok karena tersedianya bibit berkualitas unggul dan melimpahnya persediaan pupuk. Oleh sebab itu, sikap pesimistis mengenai akan terjadinya kekurangan pangan di Indonesia tidak beralasan sama sekali. Keadaan itu meng- akibatkan kegiatan impor beras berkurang karena pemerintah mencapai kemandirian dalam pengadaan beras. Gambaran ini menunjukkan prestasi luar biasa sebagai akibat dari kemajuan teknologi, di samping adanya kebijakan ekonomi dan pening- katan pangan oleh pemerintah dan adanya inisiatif serta kerja keras petani. Meningkatnya kesejahteraan ekonomi masya- rakat mendorong pula meningkatnya sarana penyediaan pen- didikan. Penyediaan pendidikan meningkat jauh melebihi keadaan pada masa kolonial yang tercermin dari jumlah

penduduk melek huruf (Ricklefs, 1991: 434). 29 Pada tahun 1930, jumlah penduduk dewasa melek huruf hanya 7,4% (13,2% untuk pria dan 2,3% untuk wanita). Pada tahun 1971, angka-angka tersebut bertambah menjadi 72% untuk pria dan 50,3% untuk wanita, dan pada tahun 1980 masing-masing menjadi 80,4% dan 63,6%. Berbagai keuntungan dari pendidikan umum dalam bahasa Indonesia itu tidak hanya terlihat pada jumlah penduduk melek huruf, tetapi juga terlihat pada peningkatan jumlah penduduk yang dapat berbahasa nasional (Indonesia), yaitu dari 40,8% pada tahun 1971 menjadi 61,4% pada tahun 1980. Di wilayah pedesaan, dampak dari kemelekhurufan tersebut mampu mengubah hubungan sosial masyarakat dengan terbukanya komunikasi dengan dunia luar sehingga budaya lokal mengalami erosi oleh budaya nasional. Contoh baik mengenai pergeseran ini ditunjukkan Kuntowijoyo (1994:7475) dengan menyinggung masuknya lembaga- lembaga nasional ke wilayah pedesaan (pelembagaan demo- krasi). Hal itu mengisyaratkan bahwa pada tataran tertentu budaya lokal pedesaan, ritual sosial desa, festival, kesenian, mitologi, dan bahasa “desa” semuanya digantikan oleh simbol-simbol nasional. Ritual sosial-politik nasional, seperti perayaan 17 Agustus, menggantikan acara-acara desa seperti suran. Perayaan-perayaan desa dipenuhi oleh pesan-pesan nasional dari permasalahan kesehatan, penataan lingkungan, hingga Keluarga Berencana. Kesenian desa digantikan oleh

29 Di samping keadaan kesehatan dan situasi pangan yang buruk, buta huruf selalu dijadikan sebagai ciri daerah-daerah terkebelakang atau negara-negara berpenghasilan rendah. Dengan demikian, perluasan pendidikan merupakan salah satu sarana yang (secara tidak langsung) untuk menaikkan taraf hidup masyarakat.

TV dan nyanyian desa digeser oleh lagu-lagu--dan artis-artis- -nasional. Mitologi mengenai cikal bakal desa tidak lagi memenuhi pikiran anak-anak muda karena nama-nama pah- lawan nasional atau pahlawan revolusi memenuhi pikiran mereka. Pergeseran tersebut menimpa pula pada bahasa khas desa. Dialek dan intonasi khas (desa) hampir tidak dikenal lagi. Bahasa Indonesia menjadi makin populer di masyarakat karena kedekatan mereka dengan media massa--baik cetak maupun elektronik--berbahasa Indonesia dengan berbagai ragam tawaran yang lebih menarik. Keadaan itu diperburuk lagi oleh diberlakukannya Kurikulum 1975 yang menyi- sihkan bahasa (dan sastra) Jawa dari mata pelajaran wajib. Alasannya adalah bahasa dan sastra daerah tidak begitu penting (dianggap mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa) sehingga hanya dijadikan mata pelajaran tambahan (kokurikuler). Karena disisihkan dari mata pelajaran wajib, banyak sekolah akhirnya tidak memberikan mata pelajaran bahasa dan sastra daerah (Jawa). Dampak dari kebijakan tersebut adalah anak-anak semakin tidak mampu berbahasa dan bersastra Jawa sehingga banyak pihak mengecam bahwa Kurikulum 1975 merupakan sumber malapetaka bagi pembi- naan dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa (Riyadi dkk., 1995:132--138). Kebijakan pemberlakuan Kurikulum 1975 berten- tangan dengan kebijakan sebelumnya yang menetapkan berlakunya Pedoman Ejaan Bahasa Jawa yang Disempur- nakan mulai 18 Maret 1974. Kebijakan pemberlakuan pedoman ejaan bahasa Jawa itu seharusnya didukung oleh kebijakan yang relevan, yakni pemberlakuan kurikulum dengan tetap memberikan porsi bahasa dan sastra daerah

sebagai mata pelajaran wajib karena pengajaran bahasa dan sastra daerah sangat efektif untuk menyosialisasikan pe- doman ejaan tersebut. Hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa Orde Baru berhasil mendudukkan birokrasi sebagai agent of change, yaitu sebagai kekuatan efektif bagi pelak- sanaan pembangunan dan modernisasi. Dinamika perubahan sosial budaya yang terjadi terus- menerus--sejak masa Orde Lama hingga Orde Baru--itulah yang langsung atau tidak langsung mempengaruhi partum- buhan dan perkembangan sastra Jawa modern. Di tengah dinamika dan proses perubahan itu sastra Jawa modern tidak hanya terpengaruh dan sekaligus terlibat, tetapi juga mere- kam dan sekaligus mengabadikannya. Karena dinamika perubahan yang terjadi itu melahirkan berbagai macam persoalan (sosial, budaya, politik, ekonomi, kemanusiaan, dan sebagainya), sastra Jawa pada akhirnya juga mengungkap dan merefleksikan berbagai persoalan tersebut. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika tema dan masalah yang ditampilkan dalam karya-karya sastra Jawa modern sangat beragam. Pada tahun 1980-an, misalnya, karya-karya sastra Jawa tidak hanya menampilkan tema yang menyangkut berbagai persoalan domestik, tetapi juga merambah ke persoalan sosial-politik. Hal itu terjadi karena para pengarang (muda) tergugah kesadarannya untuk menghadirkan karya- karya berkualitas dengan titik pijak konteks kemasyarakatan. Kondisi itu tidak semata dipicu oleh lontaran Arief Budiman tentang sastra kontekstual dalam Sarasehan Kesenian di Surakarta tahun 1984, tetapi juga karena para pengarang Jawa sadar dan merasa perlu untuk menunjukkan komitmen sosialnya karena pada dekade itu peristiwa yang mengarah

pada proses dekadensi moral, sosial, dan politik terasa semakin kental dan nyata. Pada tahun 1990-an muncul pula fenomena menarik. Fenomena itu muncul dari suatu kenyataan bahwa masya- rakat, terutama rakyat bawah, semakin tersisih dari program- program pembangunan ekonomi nasional yang bersifat fisik. Hal itu terjadi barangkali tidak lepas dari kebijakan peme- rintah pada akhir tahun 1980-an--yang dikenal dengan Pakto 27 (Paket 27 Oktober) 1988--untuk menyongsong dibukanya “pasar global”. Kebijakan yang lebih memberi peluang kepa- da pengusaha besar daripada pengusaha kecil dan menengah itu mengakibatkan rakyat kecil tereduksi kesejahteraan dan kemerdekaannya. Oleh sebab itu, sebagai salah satu dokumen budaya yang lebih berpihak kepada aspek manusia dan kemanusiaan, karya-karya sastra Jawa pun kemudian menca- tat dan mengungkapkan berbagai peristiwa dan fenomena yang sedang terjadi (dan melanda) masyarakat. Beberapa cerpen karya Krishna Mihardja dalam antologi Ratu (Pustaka Nusatama, 1995), misalnya, dengan jelas mengungkapkan ironi dan kritik sosial yang cukup tajam. Beberapa cerpen dalam antologi tersebut berisi gu- gatan terhadap ke(pe)mapanan kekuasaan dan teralie-nasinya masyarakat dalam proses pembangunan. Hal ini terjadi karena peranan negara (Orde Baru) dalam penye-lenggaraan pembangunan (ekonomi) terlalu dominan sehingga masya- rakat tersisihkan. Secara signifikan, beberapa cerpen dalam Ratu mengedepankan retorika-retorika pem-bangunan yang ekspansif untuk mengakumulasikan loyalitas masyarakat terhadap negara (penguasa). Menguatnya arti-kulasi birokrasi dan terbungkamnya suara rakyat memper-lihatkan kekuasaan bercorak hegemonik dan tenggelamnya identitas masyarakat.

Dalam konteks ini harus dipertim-bangkan bagaimana posisi negara dan masyarakat menurut pemerintah rezim Orde Baru. Menurut Fatah (1999:6), ada empat aspek pokok dalam operasi pemerintah Orde Baru, yaitu (1) kekuasaan negara begitu luas sehingga benar-benar menenggelamkan masyarakat, (2) militer memainkan peranan politik sangat jauh dalam rangka represi yang relatif permanen, (3) biro- krasi didisfungsikan sehingga menjadi instrumen rezimentasi, dan (4) praktik ekonomi pragmatis yang melahirkan “cukong”, kolusi, dan korupsi. Menurut Muhaimin (1990:78), nilai paling sentral dalam pengendalian kekuasaan dan pembinaan demokrasi (Pancasila) adalah prinsip musya- warah. Dengan demikian, apabila nilai tersebut tidak diaktu- alisasikan secara wajar akan menjadi penyebab timbul-nya kekuasaan mutlak dan kesewenang-wenangan (otoriter). Dalam arti bahwa penguasa memiliki power sangat besar sehingga dapat memaksakan kehendak kepada warga atau kelompok. Bahkan, jika perlu, dengan menggunakan keke- rasan fisik, penguasa dapat memaksa masyarakat untuk patuh terhadap perintah-perintah yang dikeluarkan (bdk. Budiman,

1996:3).

Pernyataan-pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa informasi-informasi pembangunan dalam masyarakat didominasi oleh informasi yang bersumber dari birokrasi pemerintah melalui retorika politik yang meninabobokan. Pemerintah dan aparatnya melembagakan diri sebagai satu- satunya sumber informasi pembangunan, sedangkan infor- masi-informasi alternatif faktual dan objektif dari masyarakat cenderung direduksi dan diminimalisasi (Abar, 1990:xxii) dengan alasan demi stabilitas pembangunan (nasional). Kecenderungan yang muncul kemudian adalah tumbuhnya

sikap fatalistik di kalangan masyarakat. Pada tataran ini alienasi masyarakat terlihat dari ketidakberdayaan mereka melakukan koreksi terhadap pelaksanaan pembangunan yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Berbagai hal dan atau kecenderungan semacam itu pula yang kemudian mempengaruhi (dan sekaligus direkam oleh) para pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern. Sebagaimana diketahui bahwa apa yang mempengaruhi (dan sekaligus dicatat oleh) pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern tidak terbatas pada persoalan hubungan sosial dan politik seperti yang diungkapkan di atas, tetapi juga persoalan lain menyangkut hubungan manusia dengan sesama, dengan dirinya sendiri, dan dengan Tuhan. Persoalan mengenai keberadaan wanita, misalnya, juga menjadi per- hatian para pengarang Jawa. Hal ini setidaknya terlihat jelas, misalnya, dalam Dokter Wulandari (1987) karya Yunani, Sintru Oh Sintru (1993) karya Suryadi W.S., dan Astirin Mbalela (1995) karya Peni. Demikian juga dengan persoalan pendidikan. Oleh beberapa pengarang Jawa, persoalan pendidikan, antara lain, diabadikan dalam Dokter Wulandari karya Yunani dan Kembang Alang-Alang (1993) karya Margareth Widhy Pratiwi. Jadi, jelas bahwa bagaimanapun juga perkembangan sastra Jawa modern berhubungan erat dengan dinamika perubahan sosial budaya yang meling- kupinya.

BAB III LINGKUNGAN PENDUKUNG SASTRA JAWA MODERN PERIODE KEMERDEKAAN

Telah menjadi semacam “hukum alam” bahwa ke- beradaan karya sastra tidak mungkin dipisahkan dari ling- kungan pendukungnya; dan lingkungan terdekat yang men- jadi pendukung (penyangga) keberadaan karya sastra itu ialah pengarang, pengayom, penerbit, pembaca, dan kritik. Demi- kian halnya dengan karya sastra Jawa modern periode kemerdekaan (1945--1997). Keberadaan karya-karya sastra Jawa modern tersebut juga tidak mungkin dipisahkan dari para pengarang (yang memproduksi), pengayom (yang melindungi), penerbit (yang mereproduksi dan menyerbar- luaskan), pembaca (yang menikmati), dan kritik (yang menghubungkan karya sastra dengan pembaca) yang secara bersama-sama membangun sistem tertentu yang disebut sistem sastra Jawa modern periode kemerdekaan. Oleh sebab itu, sebelum karya-karya sastra Jawa modern periode kemer- dekaan itu dipaparkan secara lebih memadai (lihat Bab IV), di dalam bab ini (Bab III) terlebih dahulu dipaparkan pengarang dan kepengarangan, pengayom dan kepenga- yoman, penerbit dan penerbitan, pembaca, dan kritik.

3.1 Pengarang dan Kepengarangan Dalam pengamatannya terhadap lingkungan pendu- kung novel Jawa tahun 1950-an, khususnya mengenai asal- usul, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, status sosial, dan

pengalaman beberapa pengarang, Damono (1993) antara lain menyimpulkan bahwa bagi pengarang Jawa, profesi kepe- ngarangan hanyalah sebagai kerja sambilan yang dapat memberikan penghasilan tambahan, tetapi profesi itu tidak dapat dijadikan sebagai sandaran (hidup). Oleh karena itu, pengarang Jawa kemudian beranggapan bahwa di bidang kepengarangan, mereka dapat bekerja seenaknya. Memang ada sebagian pengarang yang merasa bahwa profesi kepe- ngarangannya dijalaninya dengan sungguh-sungguh dengan alasan agar bahasa dan sastra Jawa berkembang dengan baik sehingga mampu menunjang perkembangan kebudayaan Indonesia. Akan tetapi, kesungguhan dan kecintaan mereka terhadap sastra Jawa ternyata tidak jelas sumbernya karena kenyataan menunjukkan bahwa--meskipun imbalan materi bukan tujuan utamanya--di antara mereka tidak ada yang merasa menjadi pejuangnya; mereka tidak berusaha mati- matian untuk mempertahankannya ketika sastra Jawa tidak berkembang seperti yang diharapkan. Kendati simpulan Damono hanya ditarik dari peng- amatannya terhadap pengarang Jawa tahun 1950-an, dapat diduga bahwa gambaran tersebut tidak hanya sesuai dengan kondisi pengarang tahun 1950-an, tetapi juga sesuai dengan kondisi pengarang pada masa sebelum dan sesudahnya. Dugaan tersebut dilandasi oleh suatu kenyataan bahwa pengarang yang aktif berkarya pada tahun 1950-an juga berkarya pada masa sebelum dan sesudahnya. Memang sejak tahun 1960 banyak lahir pengarang baru--yang oleh Hutomo (1975) dikelompokkan sebagai “angkatan penerus”--, tetapi jika dilihat asal-usul, posisi sosial, pendidikan, pekerjaan, dan lingkungannya, kondisinya tidak jauh berbeda dengan kondisi pengarang tahun 1950-an. Dengan demikian, dapat dinya-

takan bahwa bagi pengarang sastra Jawa modern, profesi kepengarangan hanyalah sekedar sebagai kerja sambilan. Artinya, kerja kepengarangan tidak dianggap sebagai profesi yang mapan karena kenyataan membuktikan bahwa dunia karang-mengarang memang belum--bahkan tidak--dapat dija- dikan sebagai jaminan untuk hidup. Ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa kondisi tersebut dapat terjadi. Pertama-tama adalah karena pengarang sastra Jawa modern tidak lagi memiliki otoritas sebagai "pekerja sastra" yang karena tugas dan kewajibannya memperoleh hak perlindungan dan pengayoman dari lembaga tertentu seperti halnya Jasadipura yang menjadi juru tulis keraton atau Ranggawarsita yang menjadi pujangga ketika Pakubuwana VII, VIII, dan IX berkuasa di keraton Surakarta. Sebagai juru tulis atau pujangga, kedua tokoh yang menulis dan mempersembahkan karyanya kepada penguasa tersebut dijamin hidupnya oleh keraton: dicukupi sandang, pangan, papan, dan keperluan batiniah lainnya (Brata, 1993). Oleh sebab itu, dalam situasi masyarakat modern seperti sekarang ini, keberadaan pengarang Jawa sepenuhnya bergantung pada sebuah "lembaga (pengayom)" yang oleh Damono (1993) disebut “pasar”. Padahal, selama era pascapujangga terakhir Ranggawarsita (yang meninggal pada tahun 1873), terutama setelah Indonesia merdeka, karya sastra Jawa modern tidak mampu menjadi komoditas yang laku di pasaran. Itulah sebabnya, langsung atau tidak, kondisi tersebut berpengaruh bagi mata pencaharian pengarang. Akibatnya, di masyarakat pengarang Jawa tidak memperoleh penghormatan yang layak karena dunia karang-mengarang yang digelutinya masih dipandang sebelah mata dan tidak dianggap sebagai kerja profesional. Dengan demikian, karena terbelenggu oleh

keadaan, para pengarang Jawa kemudian cenderung bekerja semau mereka sehingga mereka--sadar atau tidak--benar- benar menempatkan profesinya itu hanya sebagai kerja sampingan. Di samping hal tersebut, hal yang cukup signifikan ialah bahwa para pengarang Jawa pada era kemerdekaan bukan merupakan satu-satunya kelompok sastrawan yang menjadi pemegang kendali pertumbuhan kesusastraan di Indonesia. Dalam menjalankan profesinya mereka hidup berdampingan dengan sastrawan lain yang mengarang dalam bahasa Indonesia; bahasa yang telah didengungkan sebagai bahasa persatuan sejak 28 Oktober 1928. Selain itu, masya- rakat yang menjadi sasaran pembaca karya mereka juga bukan lagi masyarakat yang hanya menguasai bahasa Jawa, melainkan masyarakat yang--sebagai akibat adanya kemajuan di bidang pendidikan--sedikit banyak telah menguasai bahasa Indonesia, bahkan juga bahasa Belanda dan Inggris, sehingga mereka kemungkinan besar berminat pula membaca karya sastra Indonesia dan atau karya sastra dunia. Kenyataan demikian memperkuat anggapan bahwa tidak salah apabila profesi kepengarangan Jawa dikatakan hanya sebagai kerja sambilan karena bukti menunjukkan banyak pengarang yang "menyeberang" atau, menurut istilah Damono (1993), melakukan perjalanan "ulang-alik" antara sastra Jawa dan sastra Indonesia. Bahkan, hampir seluruh pengarang Jawa memiliki profesi lain yang tidak berhubungan langsung dengan dunia karang-mengarang; dan justru dari profesi lain itulah mereka menggantungkan hidupnya. Hal lain yang juga menyebabkan kurang dihargainya pengarang Jawa oleh masyarakat adalah karena kualitas karya sastra Jawa modern cenderung mengarah ke selera massa,

picisan, atau seringkali hanya stereotip saja. Karya semacam itulah yang--dengan meminjam istilah Umberto Eco, seorang ahli semiotik Italia--disebut karya kitsch atau karya yang mengemban "sebuah dosa struktural" (Zaidan, 1991). Hal tersebut berbeda, misalnya, jika dibandingkan dengan karya- karya klasik seperti karya Ranggawarsita, Mangkunegara IV, atau Jasadipura yang dianggap adiluhung karena mengan- dung ajaran atau bimbingan luhur bagi rakyat banyak. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di tengah kegamangan dan kemenduaan masyarakat Jawa--sebagai akibat adanya keharusan untuk menjadi warga negara yang diikat oleh sumpah persatuan (tanah air, bahasa, dan bangsa) Indonesia-- , banyak orang Jawa yang semula menjadi pembaca setia karya sastra Jawa beralih ke sastra Indonesia. Kenyataan ini pula yang semakin memperumit kondisi atau lingkungan pendukung kesusastraan Jawa modern sehingga, bagaima- napun juga, sastra Jawa tetap mengalami kesulitan atau bahkan tidak mampu menempatkan pengarangnya pada posisi yang mapan dan profesional. Untuk mengetahui lebih jauh dan sekaligus membuk- tikan pernyataan di atas, berikut digambarkan secara agak rinci kondisi pengarang dan kepengarangan sastra Jawa periode kemerdekaan, khususnya sejak tahun 1945 (prok- lamasi kemerdekaan) hingga 1997 (menjelang era Orde Reformasi). Akan tetapi, karena di dalam rentang waktu itu telah berlangsung dua masa pemerintahan, yakni Orde Lama (1945--1965) dan Orde Baru (1966--1997), gambaran menge- nai pengarang dan kepengarangan berikut dipilah menjadi dua sesuai dengan pembagian dua pemerintahan tersebut. Sebenarnya, sistem pengarang dan kepengarangan pada dua masa pemerintahan tersebut sulit dipisah-pisahkan karena

banyak pengarang yang aktif pada masa Orde Lama ternyata aktif pula pada masa Orde Baru. Akan tetapi, karena dua pemerintahan itu memiliki kebijakan (politik dan ekonomi) yang berbeda-beda--yang langsung atau tidak langsung berpengaruh pada keseluruhan sistem sastra Jawa modern--, gambaran pengarang dan kepengarangan pada dua masa pemerintahan itu dipisahkan walaupun singgungan keduanya tidak dapat dihindarkan.

3.1.1 Pengarang dan Kepengarangan pada Masa Orde

Lama Realitas membuktikan bahwa pada tahun 1940-an Indonesia masih dilanda oleh adanya gejolak revolusi fisik (sejak pendudukan Jepang, 1942, hingga berakhirnya Perang Kemerdekaan, 1949). Kenyataan tersebut membawa akibat pada tenggelam dan terkuburnya segala bentuk kegiatan sastra di Indonesia, tidak terkecuali kegiatan sastra Jawa. Oleh karena itu, para pengarang yang berasal dari periode prakemerdekaan--yang oleh Hutomo (1975) dikelompokkan sebagai “angkatan tua”--baru dapat mempublikasikan karya- karyanya pada tahun 1950-an bersamaan dengan lahirnya karya para pengarang baru--yang oleh Hutomo (1975) dikelompokkan sebagai “angkatan perintis”--pada periode kemerdekaan. Hal tersebut terjadi karena tahun 1950-an merupakan masa dimulainya perubahan sosial yang penting sejalan dengan (1) terbebasnya bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, (2) meningkatnya jumlah melek huruf, dan (3) semakin tersosialisasikannya suatu demokrasi. Hanya saja, apabila dibuat perbandingan--meskipun semua karya sastra dicetak dengan huruf Latin--, kecenderungan umum yang

tampak ialah bahwa corak dan gaya penulisan sastra angkatan tua masih senada dengan gaya penulisan sastra tradisi sebelum kemerdekaan, sedangkan corak dan gaya penulisan sastra para pengarang baru cenderung bebas. Hal tersebut barangkali tidak lepas dari lembaga yang menerbitkan karya- karya mereka: sebagian besar karya pengarang yang telah tampil sejak sebelum kemerdekaan diterbitkan oleh Balai Pustaka, kecuali sebagian karya Sri Hadidjojo yang diter- bitkan oleh Panjebar Semangat, sedangkan karya para pengarang baru lebih banyak diterbitkan oleh penerbit di luar Balai Pustaka. Kiprah pengarang yang tampil pada tahun 1950-an terus berlangsung berdampingan dengan kiprah para pengarang baru yang tampil pada awal tahun 1960-an--yang oleh Hutomo (1975) dikelompokkan sebagai “angkatan penerus”--yang karya-karyanya banyak dipublikasikan oleh penerbit swasta. Apalagi pada saat itu banyak pers berbahasa Jawa yang aktif menerbitkan cerita bersambung. Dapat disebutkan, misalnya, harian Expres menerbitkan “Saminah” (1954) karya Ny. Suhartien; Panjebar Semangat menerbitkan “Rubedaning Donya” (1957) karya Widi Widajat, “Nelly Yansen” (1957--1958) karya Satim Kadarjono, “Warisan kang Elok” (1958) dan “Candikala” (1960) karya Sri Hadidjojo, “Benang-Benang Teles” (1965) karya Poerwadhie Atmodihardjo; Jaya Baya menerbitkan “Dara Kapidara” (1964) karya Poerwadhie Atmodihardjo; dan sebagainya. Di antara beberapa penerbitan tersebut yang paling aktif adalah Panjebar Semangat. Dari tangan para pengarang baru itulah kemudian sejak akhir tahun 1950-an hingga pertengahan tahun 1960-an tumbuh subur bacaan populer yang disebut roman panglipur wuyung. Kondisi tersebut didukung pula

oleh dua faktor penting, yaitu (1) terbitnya Pustaka Roman di Surabaya dan (2) mulai berkembangnya subjenis sastra populer (di antaranya cergam) dalam majalah-majalah berbahasa Jawa yang pada akhirnya menciptakan pengarang dan pembaca populer (Triyono dkk., 1997). Bersamaan dengan merebaknya roman panglipur wuyung, pada saat itu berkembang pula cerita detektif dengan para penulisnya, antara lain, Sukandar S.G., Suparto Brata, dan Esmiet (Prawoto, 1991). Para pengarang yang telah tampil pada periode sebelum kemerdekaan yang mempublikasikan karya-karya- nya pada periode kemerdekaan, antara lain Th. Surata (O,

, 1952); Hardjowirogo (Sri Kuning, 1953, dan Sapu

Anakku

Ilang Suhe, 1960); Prijana Winduwinata (Dongeng Sato Kewan, 1952); Sunarno Sisworahardjo (Sinta, 1957); A. Saerozi (Kumpule Balung Pisah, 1957, “Katresnan lan

Kuwajiban”, PS, 1957); Senggono (Kembang Kanthil, 1957, Wahyu Saka Kubur”, JB, 1957, kumpulan cerpen Kemandang, 1958); dan Sri Hadidjojo (Jodho kang Pinasti, 1952, Serat Gerilya Solo, 1957, “Priyayi saka Transmigrasi”, “Tugas Luhur”, “Wahyuning Wahyu Jatmika”, dan “Warisan kang Elok”, PS, 1956, 1957, dan 1958). Di antara para pengarang tersebut yang paling produktif adalah Sri Hadidjojo karena hingga awal Orde Baru masih menulis dan menerbitkan novel. Novel karangannya yang terbit tahun 1960-an, antara lain, Ir. Winata (1963), Napak Tilas (1963), Asmara lan Kuwajiban (1965), Dewi Anjar Merah (1965), O, Anakku (1966), Sala dadi Ler-Leran (1966), Setan Gundhul

(1966), Kudhi Pacul Dhinga Landhepe

(1966), Putri Prembun (1966), dan Tut Wuri Andayani

Balekambang

(1966).

Kenyataan membuktikan bahwa para pengarang angkatan tua lebih banyak menulis dan mempublikasikan novel dan cerbung daripada cerpen (cerkak) dan puisi (guritan). Hal itu terjadi karena mereka masih dipengaruhi oleh sikap dan keyakinan--yang berlaku pada masa sebelum kemerdekaan, terutama pada tahun 1920-an--bahwa genre sastra yang berupa novel dianggap sebagai sarana pernyataan sastra yang paling representatif dibandingkan dengan cerpen atau puisi; di samping karena pada masa itu majalah berbahasa Jawa yang menjadi media utama publikasi cerpen dan puisi belum leluasa berkembang. Sikap dan keyakinan itulah yang--sadar atau tidak--"memaksa" para pengarang generasi tua untuk tetap menulis novel meskipun pada periode kemerdekaan telah banyak majalah berbahasa Jawa yang menyediakan ruang publikasi untuk cerkak dan guritan. Terlebih lagi, menurut pengakuan Suparto Brata (1993), pada awal tahun 1960-an pers berbahasa Jawa menduduki posisi paling depan yang diwakili oleh Panjebar Semangat. Pada waktu itu Panjebar Semangat dicetak 80.000 eksemplar per minggu, sementara harian berbahasa Indonesia hanya 20.000 dan majalahnya hanya sekitar 7.000 eksemplar per minggu. Kondisi tersebut akhirnya membawa pengaruh bahwa pertumbuhan cerpen dan puisi pada periode kemerdekaan, khususnya pada masa Orde Lama, didominasi oleh pengarang generasi perintis; dan sebagian pengarang generasi ini, di antaranya Soebagijo I.N. dan Poerwadhie Atmodihardjo, telah menulis sejak sebelum kemerdekaan lewat Panji Pustaka, Kajawen, dan Panjebar Semangat. Namun, generasi perintis yang menurut Ras (1985) dipimpin oleh Soebagijo I.N. ini ternyata tidak hanya mendominasi penulisan cerpen dan puisi, tetapi juga novel dan cerbung.

Apalagi, pada masa itu, selain Panjebar Semangat dan Jaya Baya tetap aktif mempublikasikan cerbung--yang kelak diterbitkan menjadi buku (novel)-- banyak pula pengusaha swasta yang berminat menerbitkan novel. Di antara penerbit itu ialah Jaker, Dua-A, Lawu, Habijasa, KR, Merapi, Taman Pustaka Kristen, Muria, Lukman, Sinta Riskan, Nefos, Puspa Rahayu, Ganefo, Berdikari (Yogyakarta), Fa. Nasional, Gunung Lawu, Keluarga Subarno, Selamat, Burung Wali, Mutiara Press, Fa. Trijasa, Sehat Asli, Sasangka, Kantjil, Pembina, Sri Cahya, Muara (Sala), Dharma, Keng, Djaja, Dawud (Semarang), UK, Marfiah, Kencana, Pustaka Sari, dan Arijati (Surabaya). Aktivitas dan produktivitas sastra generasi perintis (1950-an) ini kemudian diteruskan oleh atau berjalan bersamaan dengan generasi penerus (awal 1960-an) baik dalam penulisan cerpen, puisi, maupun novel. Aktivitas mereka semakin berkembang karena pada waktu itu (1955) muncul Sanggar Seniman di Madiun yang dipimpin oleh Sahid Langlang, seorang penyair Jawa Timur yang kini tidak lagi diketahui aktivitasnya. Beberapa anggota “sanggar seniman”, seperti Susilomurti (Pacitan), Moeljono Sudarmo, Rakhmadi Kustirin (Purwodadi), Muryalelana (Ungaran), St. Iesmaniasita (Mojokerto), Sukandar S.G. (Madiun), Poerwa- dhie Atmodihardjo (Ngawi), dan Soebagijo I.N. (Surabaya) itulah yang kelak aktif pada masa Orde Baru. Beberapa di antara pengarang pada masa Orde Lama yang paling produktif adalah Any Asmara (Achmad Ngu- baeni Ranusastraasmara). Pada masa Orde Lama itu ia telah menerbitkan tidak kurang dari 70 novel/cerbung dan 750 cerpen, baik karangan sendiri maupun karya orang lain yang dibeli dan diterbitkan atas namanya sendiri. Selain diterbitkan oleh penerbit miliknya sendiri, yakni Dua-A (di Yogyakarta),

novel-novelnya yang antara lain dibeli dari Kussudyarsono

(Hutomo, 1975) juga diterbitkan oleh penerbit lain. Beberapa

di antara karyanya itu ialah Grombolan Gagak Mataram

(1954), Gandrung Putri Sala (1962), Korbaning Katresnan

(1962), Grombolan Nomer 13 (1963), Panglipur Wuyung (1963), Anteping Tekad (1964), Donyaning Peteng (1964), Kumandhanging Katresnan (1964), Pangurbanan (1964), Peteng Lelimengan (1964), Tangise Kenya Ayu (1964), dan Lelewane Putri Sala (1965). Sebagian besar karya pengarang kelahiran Banjar- negara (Banyumas, Jawa Tengah) tanggal 13 Agustus 1913

itu berupa novel saku yang cenderung secorak; dan karya-

karya itu, menurut Quinn (1995), merupakan roman moral- istik yang dibumbui berbagai peristiwa sensasional atau sadistis dan diwarnai dengan gelitikan yang agak erotis dan adikodrati. Novel-novel saku karangan Any Asmara itulah

yang antara lain ikut membangun tumbuh suburnya roman panglipur wuyung sekitar tahun 1964--1966 (menjelang Orde Baru). Namun, hal itu tidak berarti Any Asmara tidak me- nulis novel yang baik karena kenyataan menunjukkan bahwa karyanya yang berjudul Putri Tirta Gangga memperoleh hadiah sebagai roman terbaik ketiga dari majalah Panjebar Semangat (1959). Produktivitas Any Asmara dibarengi oleh pengarang produktif lain dari generasi penerus, di antaranya Widi Widajat (lahir di Imogiri, Yogyakarta, 10 Mei 1928) dan Soedharma K.D. (lahir di Ngawen, Wonosari, Yogyakarta, 31 Juli 1934). Sejak akhir tahun 1950-an hingga awal Orde Baru setidaknya Widi Widajat telah menerbitkan sekitar 30 novel,

di antaranya Kapilut Godhaning Setan (1963), Lelana ing

Negara Sakura (1963), Priya kang Golek-Golek (1963), Asih

Murni Darma (1964), Asih Sejati (1964), Dhawet Ayu (1964), Godhane Prawan Ayu (1964), Sunaring Asmara (1964), Nistha Nggayuh Tresna (1964), dan Ngrungkebi Tresna Suci (1965). Sementara itu, Soedharma K.D. telah menerbitkan tidak kurang dari 15 novel, di antaranya Swarga Tundha Sanga (1964), Asmara Sinayutan (1964), Aryani (1964), Katresnan 100 Tahun (1965), dan Anteping Katresnan

(1965).

Di samping menulis novel, dua pengarang tersebut juga banyak menulis cerpen di berbagai majalah berbahasa Jawa. Namun, seperti halnya karya Any Asmara, sebagian karya Widi Widajat juga cenderung mengorbankan isi dan kualitas; hal ini berbeda dengan karya-karya Soedharma K.D. yang di antaranya tampak dalam kumpulan cerpen Asmara ing Ballet Ramayana (1960). Karena pertimbangan kualitas itu pula, menurut Suparto Brata (1981), Soedharma K.D. berhasil menjadi salah seorang di antara dua pengarang Jawa yang novelnya (Tanpa Daksa, 1977) diterbitkan oleh Pustaka Jaya, yang biasanya menerbitkan karya sastra Indonesia. Sementara itu, pada periode kemerdekaan, khususnya pada masa Orde Lama, sulit dilacak siapa sebenarnya pengarang yang paling produktif menulis cerpen. Hal itu terjadi karena hampir semua novelis pada masa itu juga menulis cerpen; dan biasanya cerpen yang mereka tulis jauh lebih banyak dibandingkan novel. Dengan terbitnya kumpulan cerpen Kemandhang (1958) susunan Senggono dapat diketahui bahwa beberapa cerpenis yang tampil pada masa itu adalah Argarini, Any Asmara, Basuki Rachmat, Dwiprasodjo (Soedharma K.D.), Hadi Kaswadhi, Liamsi (Ismail), Noegroho, Poerwadhie Atmodihardjo, Satim Kadar- jono, Soebagijo I.N., Soekandar S.G., Soemarno, dan St.

Iesmaniasita. Namun, beberapa di antara cerpenis itu kemu- dian tenggelam dan tinggal beberapa nama saja yang masih aktif. Bersamaan dengan aktivitas mereka muncul pula beberapa cerpenis baru, di antaranya Rakhmadi K., Tamsir A.S., Esmiet, Susilomurti, Anie Soemarno, Trim Sutidja, Muryalelana, Lesmanadewa Purbakusuma, Hardjana Hp., Maryunani Purbaya, Is Jon, Herdian Sarjono, Widi Widajat, dan Suparto Brata. Karya-karya mereka umumnya dipubli- kasikan di berbagai majalah berbahasa Jawa yang terbit pada masa itu. Seperti telah dikatakan, beberapa di antara cerpenis baru itu juga menulis novel (dan puisi). Bidang kepengarangan puisi (kepenyairan) agaknya sedikit berbeda dengan bidang kepengarangan cerpen. Ber- dasarkan pengamatan dapat diketahui siapa penyair (pang- gurit) yang tergolong produktif di antara sekitar 60 penyair yang berkarya pada masa Orde Lama. Beberapa penyair produktif yang menulis sejak tahun 1940-an di antaranya Soebagijo I.N. dan yang produktif pada tahun 1950 dan 1960- an di antaranya Moeljono Soedarmo, St. Iesmaniasita, Rachmadi K., dan Kuslan Budiman. Karya-karya Soebagijo I.N. (lahir di Blitar, Jawa Timur, 5 Juli 1924) banyak diterbitkan di majalah Api Merdika, Panjebar Semangat, dan Jaya Baya; karya Moeljono Soedarmo (lahir di Kanoman, Pacitan, Jawa Timur, 17 Juli 1929) dan Rachmadi K. (lahir di Kulonprogo, Yogyakarta, 29 Oktober 1932) banyak terbit melalui Jaya Baya; karya St. Iesmaniasita (lahir di Terusan, Mojokerto, Jawa Timur, 18 Maret 1933) banyak muncul dalam Panjebar Semangat dan Jaya Baya; dan karya-karya Kuslan Budiman banyak terbit dalam Jaya Baya dan Waspada. Sebagaimana diketahui bahwa di antara para penyair itu sebagian juga menulis cerpen dan novel.

Kenyataan di atas membuktikan bahwa dalam dunia kepengarangan Jawa predikat pengarang sulit ditentukan:

apakah ia seorang novelis, cerpenis, ataukah penyair. Hal itu terjadi karena sebagian pengarang Jawa adalah sastrawan "serba bisa"; selain menulis novel, mereka juga menulis cerpen (Any Asmara, Widi Widajat, Soedharma K.D., dll.), menulis puisi (Soebagijo I.N., St. Iesmaniasita, dll.), bahkan juga menulis dongeng, cergam, esai, dan sebagainya. Akibat dari ke-"serbabisa"-annya itulah, pengarang Jawa kemudian "terpaksa" menggunakan nama samaran (sesinglon) agar pembaca tidak bosan; karena ada kecenderungan bahwa pembaca akan "berpraduga tidak baik" jika melihat satu nama seolah-olah menguasai segalanya. Jika dikaitkan dengan kondisi sosial-politik tahun 1960-an (menjelang Orde Baru), arti nama samaran boleh jadi sangat penting untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa di antara pengarang yang menggunakan nama samaran adalah Soebagijo I.N. (SIN, Satrio Wibowo, Anggajali, Damayanti, Endang Murdiningsih), Poerwadhie Atmodihardjo (Hardja Lawu, Ki Dalang Denglung, Laharjingga, Prabasari, Habra Markata, Sri Ningsih, Harinta, Sri Djuwariyah, Abang Istar, Kenthus), Widi Widajat (Yuwida, Taryadi W., H. Suwito), Tamsir A.S. (Tio An Swie, Tantri Ansoka, Tasta, Titi Asih, Tantri Aswatama, Sari St.), Imam Supardi (Sebul, Man Jamino, Besut), Soedharma K.D. (Dwi Prasodjo, SKD, Pini A.R., Amradus, Karto Dwidjo), dan St. Iesmaniasita (Lies Djojowisastro). Nama samaran ini juga "terpaksa" digunakan karena, menurut Damono (1993), jumlah pengarang pada masa itu tidak banyak sehingga tidak mampu melayani beberapa penerbitan berkala yang terbit secara rutin. Selain itu, nama samaran, lebih-lebih nama samaran wanita, oleh

pengarang (laki-laki) juga digunakan sebagai upaya untuk “mencuri hati” pembaca, di samping agar para pembaca lebih objektif melihat dan menilai karya sastra, bukan melihat pengarangnya (Brata, 1981). Ditinjau dari segi jumlah karya yang ditulis dan diterbitkannya, sesungguhnya sebagian besar pengarang Jawa sangat profesional, dan keprofesionalan mereka, langsung atau tidak, seharusnya berpengaruh pada kemapanan status sosial dan ekonominya. Namun, mengapa kenyataan menun- jukkan sebaliknya? Hal itu terjadi, seperti telah dikatakan di atas, tidak lain karena satu-satunya maecenas atau lembaga pengayomnya (“pasar”) tidak mampu memberi jaminan yang layak kepada pengarang. Ketidakmampuan “pasar” membe- rikan jaminan yang layak itu bukanlah suatu kebetulan karena memang hampir seluruh sendi kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi Indonesia pada masa Orde Lama, terutama pada masa percobaan demokrasi parlementer (1950- -1959) dan demokrasi terpimpin (1959--1965), berada dalam ambang kehancuran (Ricklefs, 1994). Oleh karena itu, langsung atau tidak, pengarang Jawa terkena imbasnya; karya-karya mereka kurang dihargai dan tidak mempunyai nilai ekonomi. Hal itu terbukti, menurut pengakuan Senggono, Widi Widajat, dan Soebagijo I.N. kepada Damono (1993), harga sebuah cerpen yang dimuat di majalah Jawa hanya berkisar antara Rp25,00 dan Rp40,00; cerbung dua belas nomor sekitar Rp300,00; dan royalti sebuah novel yang dicetak 3000 eksemplar hanya sekitar Rp200,00; padahal harga satu liter beras sekitar Rp7,50. Bahkan, menurut pengakuan Suparto Brata, banyak pula karya yang telah dimuat tetapi tidak memperoleh imbalan honorarium.

Kondisi demikianlah yang pada akhirnya "memaksa" sebagian besar pengarang Jawa untuk melakukan kerja rangkap; selain menjadi pengarang, mereka juga menjadi guru, redaktur/wartawan, karyawan swasta, pegawai negeri, pengusaha, dan sebagainya. Bahkan banyak di antara mereka yang cenderung berpindah-pindah pekerjaan. Mereka yang aktif di bidang penerbitan, pers, dan kewartawanan antara lain Hardjowirogo (redaktur bahasa Jawa di Balai Pustaka), Senggono (guru, kemudian menjadi editor Balai Pustaka), Soebagijo I.N. (redaktur Panjebar Semangat, pendiri dan redaktur majalah cerita cekak Pustaka Roman dan Keka- sihku), Poerwadhie Atmodihardjo (redaktur Jaya Baya dan Crita Cekak), Imam Supardi (redaktur/pendiri Panjebar Semangat), Satim Kadarjono (redaktur Panjebar Semangat dan selanjutnya Jaya Baya), dan Widi Widajat (wartawan Dwiwarna, Sin Po, Antara, redaktur beberapa majalah Jawa). Mereka yang merangkap kerja di bidang pendidikan (guru) di antaranya Soedharma K.D., St. Iesmaniasita, Titik Sukarti (Argarini), Moeljono Soedarmo, Rachmadi K., Tamsir A.S., Trim Sutidja, Muryalelana, dan Priyanggana. Mereka yang merangkap jadi pegawai negeri atau karyawan dan pengusaha swasta adalah Sunarno Siswarahardjo (pegawai Kementerian Dalam Negeri), Suparto Brata (pegawai kantor telegraf), Any Asmara (direktur penerbit Dua A), Bambang Sudjiman (pegawai Kementerian Penerangan), dan masih banyak lagi. Hanya saja, jika diperbandingkan, yang paling dominan (banyak) adalah pengarang yang merangkap sebagai guru dan wartawan. Dalam kasus kerja rangkap tersebut, agaknya profesi yang dapat dijadikan sandaran hidup bukan profesi kepenga- rangannya, melainkan profesi yang lain. Hal itu terjadi karena

dari segi ekonomi profesi lain lebih mengun-tungkan; mereka secara rutin menerima gaji tiap bulan sehingga hidupnya relatif terjamin. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan menulis sastra yang penuh ketidakpastian pemuatan dan honornya. Bahkan, gaji tiap bulan yang diterima dari profesi lain sering lebih besar daripada honor cerbung yang dimuat selama tiga bulan seperti yang dialami oleh Widi Widajat ketika menjadi koresponden Sin Po tahun 1956. Dari Sin Po ia menerima gaji Rp500,00 tiap bulan, sementara dua belas nomor cerbungnya hanya dibayar Rp300,00. Atau, menurut Suparto Brata (1981), ketika novelnya Kaum Republikkemudian berganti judul Lara Lapane Kaum Republik-- menjadi pemenang pertama dalam sayembara mengarang di Panjebar Semangat (1959), ia hanya menerima hadiah Rp1.000,00; jumlah itu tentu tidak jauh berbeda dengan gaji tiap bulan yang diterima dari kantor telegraf sebesar Rp600,00. Jika kenyataan membuktikan demikian, sangat wajar apabila pengarang Jawa tidak bertahan pada sastra Jawa sehingga kerja kepengarangannya hanya merupakan profesi sampingan meskipun dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kalau di antara mereka ada yang berusaha bertahan pada sastra, umumnya mereka mengalihkan perha- tiannya ke sastra Indonesia karena jaminan ekonomi dan khalayak pemba-canya lebih besar. Hal ini misalnya dilaku- kan oleh Widi Widajat yang hingga kini masih aktif menulis di Suara Merdeka atau Suparto Brata yang menulis di Kartini, Sarinah, Jawa Pos, atau Kompas. Berbicara tentang status sosial-ekonomi pengarang agaknya Any Asmara merupakan satu-satunya pengarang Jawa modern yang perlu diberi perhatian khusus. Perhatian perlu diberikan kepadanya bukan karena kualitas karya-

karyanya, melainkan karena selain sebagai pengarang paling produktif, ia juga seorang pengusaha penerbitan yang "paling pintar" menangkap kehendak pasar. Melalui penerbit milik- nya, yaitu Dua-A, pengarang otodidak ini telah menulis, membeli, memeriksa, menerbitkan, dan menjual sendiri karya-karyanya sehingga ia tidak mengalami hambatan dalam meraih pembacanya. Hal itu dilakukan karena ia secara psikologis melihat peluang bisnis yang sangat menjanjikan:

di tengah krisis ekonomi yang terjadi pada masa demokrasi terpimpin (1959--1965), yang ditandai oleh semakin melajunya angka inflasi dan harga barang melambung tinggi; padahal jutaan rakyat telah memiliki kepandaian baca-tulis, ia mampu memproduksi barang dagangan (berupa novel saku) yang harganya relatif murah. Oleh sebab itu, sangat wajar jika hasil terbitannya--bersama-sama dengan karya para pengarang lain--laku keras di pasaran, bahkan ada yang dicetak ulang sampai empat lima kali karena memang isinya memenuhi harapan massa yang saat itu memerlukan hiburan hati (panglipur manah) di tengah kecarutmarutan ekonomi. Hanya sayangnya, secara sosial-politis, pada awal Orde Baru (tahun 1966) sebagian roman panglipur wuyung dibabat oleh Komres 951 Sala dalam rangka Opterma (Operasi Tertib Remaja). Namun, dapat diduga, berkat kreativitas dan kiat bisnisnya Any Asmara telah meraup keuntungan besar dan cukup untuk hidup pada waktu itu. Fakta membuktikan bahwa kiprah Any Asmara dalam bersastra tidak diikuti oleh pengarang-pengarang lain. Sean- dainya ada sebagian pengarang Jawa yang mampu mema- dukan antara "sastra" dan "bisnis" seperti dia, barangkali pertumbuhan dan perkembangan sastra Jawa modern tidak akan seperti yang hingga kini dikeluhkan banyak orang.

Hanya persoalannya, tentu saja, hal itu harus diikuti oleh upaya peningkatan kualitas, bukan sekedar menuruti selera massa, sehingga harapan mereka untuk ikut memperkaya eksistensi kebudayaan nasional (Indonesia) dapat tercapai. Apalagi, upaya yang dilakukan Any Asmara itu sah dan bukan merupakan suatu pelanggaran; dan itu dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa terikat oleh bidang pendidikan atau pekerjaan khusus yang berhubungan dengan sastra. Bukankah kerja kepengarangan, seperti disimpulkan Damono (1993), merupakan profesi yang longgar? Artinya, siapa pun dapat menjadi pengarang tanpa ijazah khusus. Bukti nyata adalah Any Asmara; meskipun selama hidup tidak pernah menye- lesaikan pendidikan sekolah dasar (Quinn, 1995), atau pada tahun 1927 hanya belajar di Tweede Inlandsche School (Dojosantoso, 1990), ternyata secara relatif ia mampu menempatkan profesi kepengarangannya sebagai sandaran hidup.

Hal tersebut berarti bahwa pengarang-pengarang lain- -yang tingkat pendidikannya relatif beragam--dapat juga melakukan hal yang sama, asal mereka mau. Apalagi, pengarang umumnya merupakan tipe orang yang kreatif, berkemauan keras, dan luas pengetahuan serta bacaannya, baik bacaan yang berupa buku maupun bacaan kehidupan. Oleh karena itu, tidak menjadi hambatan yang berarti meskipun Hardjowirogo tidak lulus ELS (kemudian menjadi carik desa di Klaten dan akhirnya menjadi redaktur Balai Pustaka); Soenarno Sisworahardjo hanya belajar di Normaal- school (kemudian jadi guru Taman Siswa di Surabaya dan pindah ke Kementerian Dalam Negeri di Jakarta); Senggono hanya berpendidikan CVO (kemudian jadi editor Balai Pustaka); atau Widi Widajat hanya tamat SMA-C (kemudian

banyak berkecimpung di bidang pers). Selain itu, juga tidak terlalu istimewa meskipun Soebagijo I.N. seorang sarjana (lulus Fakultas Sastra UI, kemudian aktif di bidang pers) atau Moeljono Soedarmo, St. Iesmaniasita, Tamsir A.S., Trim Sutidja, dan Muryalelana berpendidikan tinggi (akhirnya menjadi guru, wartawan, redaktur, dan sebagainya). Mereka semua adalah orang-orang yang sesungguhnya mampu menjadi pengarang (Jawa) profesional jika segala aspek kehidupan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan sastra saat itu tidak dalam keadaan memprihatinkan. Demikian gambaran kondisi pengarang dan kepenga- rangan Jawa pada periode kemerdekaan, khususnya pada masa pemerintahan Orde Lama (1945--1965). Dari gambaran demikian--untuk sementara--dapat disimpulkan bahwa dari segi apa pun, dunia sastra Jawa modern pada masa Orde Lama itu tetap belum mampu menjamin kehidupan yang layak bagi pengarang. Oleh sebab itu, sekian banyak karya sastra yang mereka tulis dan terbitkan tidak lebih hanya sebagai "bukti" kecintaan mereka terhadap salah satu bagian kebudayaan etnisnya; yang meskipun proses kerjanya mereka lakukan dengan sungguh-sungguh, hal itu ternyata tetap tidak mampu mengubah status sosial, ekonomi, dan professional- isme mereka yang tidak pernah menduduki posisi penting dan utama. Hal ini barangkali tidak lepas dari kedudukan sastra Jawa modern itu sendiri sebagai sastra etnik--sehingga sering disebut sebagai “sastra ndesa”--yang pengarang dan pembaca sasarannya adalah masyarakat desa; padahal, pada masa itu, masyarakat desa identik dengan “masyarakat yang tersingkir” baik secara sosial, politik, maupun ekonomi. Namun, hal ini dapat dipahami karena segala aspek kehidupan pada masa Orde Lama memang sedang dalam keadaan kritis. Apakah

hal yang sama masih melanda kondisi pengarang dan kepengarangan sastra Jawa modern pada masa Orde Baru? Jawaban atas pertanyaan ini dipaparkan dalam sajian berikut.

3.1.2 Pengarang dan Kepengarangan pada Masa Orde

Baru Telah dikatakan bahwa keberadaan pengarang dan kepengarangan sastra Jawa modern pada masa Orde Baru tidak dapat dipisahkan secara tegas dari keberadaan penga-

rang dan kepengarangan pada masa Orde Lama. Hal itu disebabkan oleh suatu kenyataan bahwa para pengarang yang telah aktif pada masa (setidak-tidaknya pada akhir) Orde Lama aktif pula pada masa Orde Baru. Any Asmara, misalnya, sebelum tahun 1966 telah menerbitkan sekitar 70 novel/cerbung dan 750 cerpen, dan produktivitasnya masih terus berlanjut hingga awal Orde Baru, bahkan sampai

dengan tahun 1970-an. Pada masa sesudah tahun 1966 dari tangannya lahir sekitar 20 novel, baik diterbitkan oleh penerbit miliknya sendiri di Yogyakarta maupun penerbit lain di Surabaya dan Surakarta. Beberapa karyanya yang terbit pada masa Orde Baru adalah Duraka (1966), Kraman (1966), Kumandhanging Dwikora (1966), Maju Terus Sutik Mundur

(1966), Nyaiku (1966), Pangurbanan (1966), Sssst

Aja

Kandha-Kandha (1966), Ambyar Sadurunge Mekar (1967), Tangise Kenya Ayu (1967), Singalodra (1968), Sri Panggung Maerakaca (1968), Tekek Kok Lorek (1968), Tante Lies (1969), Tetesing Waspa (1969), Jagade Wis Peteng (1970), Ni Wungkuk (1970), Tatiek Indriani Putri Sala (1972), Telik

Sandi (1974), dan Tilas Buwangan Nusa Kambangan (1976). Hanya saja, jika dibandingkan dengan karya yang ditulis sebelum tahun 1966, corak karya Any Asmara pada masa

Orde Baru tidak banyak mengalami perubahan; sebagian besar tetap bercirikan panglipur wuyung. Di samping menulis sekian banyak novel, pada masa Orde Baru Any Asmara juga banyak menulis cerpen. Sejauh dapat diamati, Any Asmara tidak pernah menulis puisi (guritan). Selain Any Asmara, Widi Widajat juga termasuk pengarang yang tetap aktif pada masa Orde Baru. Sebelum tahun 1966 (masa Orde Lama) ia telah menerbitkan tidak kurang dari 20 novel, dan sejak tahun 1966 hingga tahun 1970-an ia menerbitkan sekitar 13 novel melalui penerbit Keng, Kondang, Jaya, Dawud (Semarang), Kantjil Mas, Kuda Mas, Keluarga Subarno (Surakarta), dan Sinta-Riskan (Yogyakarta). Menurut beberapa sumber, hingga tahun 1980- an Widi Widajat telah mempublikasikan sekitar 70 novel/ cerbung. Beberapa karyanya yang terbit pada masa Orde Baru ialah Dukun Sawelas (1966), Kalung kang Nyalawadi (1966), Kena ing Paeka (1966), Mursal (1966), Ngenger Ipe Musibat (1966), Paukumaning Pangeran (1966), Penganten Wurung (1966), Prawan Keplayu (1966), Tambel Nyawa (1966), Wasiyating Biyung (1966), Aja Dumeh Mundhak Kaweleh (1967), Mertobat Wis Kliwat (1967), Ngundhuh Wohing Tumindak (1971), dan Prawan Kaosan (1973). Selain menulis novel, pada masa ini pengarang yang aktif pula menulis cerita berbahasa Indonesia, di antaranya berupa cerita silat di harian Suara Merdeka (Semarang) dan Surabaya Post (Surabaya), juga banyak menulis cerpen. Soedharma K.D. termasuk juga sebagai salah seorang pengarang yang aktif baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru. Beberapa karyanya yang terbit pada masa Orde Baru adalah Asmara ing Taman Paradiso (1966), Asmara Tanpa Soca (1966), Kautamaning Kautaman (1966), Pelor

Tanda Mata (1966), Swarga Tunda Sanga (1966), Srikandi Edan Tenan (1966), Sukwati Telu (1966), Partini (1977), Tanpa Daksa (1977), dan Tumbal Kreteg Somaulun (1977). Kecuali novel Tanpa Daksa yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya (1977), karya-karya tersebut diterbitkan oleh penerbit Kondang (Semarang), Burung Wali, dan Firma Nasional (Sala). Sampai menjelang ajal akibat kecelakaan di daerah Wedi, Klaten, pada tanggal 2 Mei 1980, Soedharma K.D. tetap aktif menulis cerpen di berbagai majalah berbahasa Jawa.

Di samping tiga pengarang tersebut, Suparto Brata (lahir di Surabaya, 1932) aktif pula berkarya pada masa sebelum dan sesudah tahun 1966. Sebelum tahun 1966, Suparto Brata yang sering menggunakan nama samaran Peni dan Eling Jatmiko itu telah menulis beberapa novel, di antaranya Tanpa Tlacak (1963), Emprit Abuntut Bedug (1964), Kadurakan ing Kidul Dringu (1964), Katresnan kang Angker (1963), Asmarani (1964), Pethite Nyai Blorong (1965), dan Nyawa 28 (1963). Selanjutnya, karya-karyanya yang terbit pada masa Orde Baru antara lain Tretes Tintrim (1966), Lara Larane Kaum Republik (1966), Sanja Sangu Trebela (1966), Lintang Panjer Sore (1967), Jaring Kalamangga (1967), Kamar Mandi (1968), Garuda Putih (1974), Nglacak Ilange Sedulur Ipe (1973), dan Ngingu Kutuk ing Suwakan (1975). Sebagian dari karya-karyanya yang terbit dalam majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya itu berupa cerita detektif. Selain menulis novel/cerbung, Suparto Brata juga banyak menulis cerpen di majalah- majalah berbahasa Jawa. Bahkan, ia termasuk penulis cerpen yang andal. Hal itu terbukti, beberapa kali ia menjadi juara dalam sayembara penulisan cerpen. Dalam sayembara penu-

lisan cerpen yang diselenggarakan oleh majalah Jaya Baya tahun 1969, misalnya, Suparto Brata dinobatkan sebagai juara pertama berkat cerpennya yang berjudul “Jam Malam”. Di samping menulis cerpen dan novel, Suparto Brata juga menulis buku bacaan populer untuk perguruan tinggi, yaitu Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa (1981). Buku pemenang sayembara penulisan buku bacaan populer untuk perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Proyek Penulisan dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum dan Profesi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tersebut mengungkapkan riwayat dan pengalamannya sendiri selama bergulat (jatuh bangun) dengan sastra Jawa. Bahkan, Suparto Brata masih tetap rajin menulis cerita berbahasa Indonesia-- sebagian berupa cerita detektif--yang dimuat dalam majalah dan surat kabar, seperti Kartini, Kompas, Sinar Harapan, Surabaya Post, Suara Karya, dan Suara Merdeka. St. Iesmaniasita tergolong pula sebagai pengarang yang aktif baik sebelum maupun sesudah tahun 1966. Pengarang yang nama sesungguhnya adalah Sulistyo Utami itu lebih dikenal sebagai cerpenis dan penyair kendati ia juga menulis sekitar 13 novel/cerbung (Dojosantoso, 1993). Bersama rekan-rekan seprofesinya, penyair lulusan IKIP jurusan Antropologi Budaya itu telah menerbitkan beberapa cerpen dan puisi dalam antologi Kidung Wengi ing Gunung Gamping (Balai Pustaka, 1958). Sementara itu, buku karangannya sendiri berjudul Kringet saka Tangan Prakosa (antologi cerpen, diterbitkan oleh Yayasan Jaya Baya, 1974) dan Kalimput ing Pedhut (antologi cerpen dan puisi, diterbitkan oleh Balai Pustaka, 1976). Dalam jagad kesu- sastraan Jawa modern, pengarang yang juga seorang guru ini disebut-sebut sebagai pengarang wanita pertama yang berani

tampil ke depan dengan ciri khasnya, terutama dalam hal penggunaan bahasa Jawa yang “tidak baku”. Demikian gambaran beberapa pengarang Jawa yang telah berkiprah pada masa Orde Lama (sebelum 1966), tetapi masih aktif pada masa Orde Baru (setidaknya hingga tahun 1970-an). Sebenarnya masih banyak pengarang lain yang perlu dibeberkan nama dan kiprah kepengarangannya, missal- nya Hardjana H.P., Satim Kadarjono, Achmad D.S., Moel- jono Soedarmo, Rakhmadi Kustirin, Lesmanadewa Purba- kusuma, Esmiet, Tamsir A.S., Imam Supardi, Purwono P.H., dan Prijanggana. Namun, pembeberan demikian tidak begitu penting karena dilihat kiprah dan latar belakang kehidupannya (asal- usul, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan sejenisnya), tingkat profesionalisme pengarang Jawa pada masa awal Orde Baru tidak jauh berbeda dengan tingkat profesionalisme pengarang Jawa pada masa Orde Lama. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika bagi pengarang Jawa, profesi kepenga- rangan bukan merupakan sesuatu yang pokok karena kenyataan membuktikan bahwa kerja mengarang memang tidak dapat dijadikan sebagai jaminan (untuk) hidup. Profesi kepengarangan mereka hanyalah sebagai kerja sampingan; dan kerja semacam itu tidak lebih sebagai suatu pertang- gungjawaban moral yang berhubungan dengan idealisme dan tujuan luhur, yaitu mengembangkan dan melestarikan bahasa, sastra, dan kebudayaan Jawa. Itulah sebabnya, untuk meno- pang kehidupannya, pengarang Jawa “terpaksa” harus kerja rangkap, misalnya menjadi guru, redaktur, wartawan, pega- wai kantor, wiraswastawan, koreografer, atau menjadi penulis berbahasa Indonesia.

Kondisi tersebut tercipta bukanlah tanpa sebab. Sebab yang paling utama adalah--kendati kondisi sosial politik telah berubah dari Orde Lama ke Orde Baru--keadaan ekonomi Indonesia (termasuk Jawa) pada masa itu masih sangat memprihatinkan. Oleh sebab itu, berbagai aspek yang berhu- bungan dengannya, termasuk aspek pendukung keber-adaan sastra Jawa, mengalami nasib yang juga menyedihkan. Lilitan ekonomi tersebut membawa akibat lebih jauh, yaitu masya- rakat tidak menaruh minat terhadap karya sastra sehingga para penerbit tidak berani berspekulasi menerbitkan dan memasarkan karya sastra Jawa. Akibatnya, kalau ada penerbit yang berani menerbitkan karya sastra, usaha mereka tidak lebih hanya demi tujuan sesaat dan cenderung hedonis--hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi--sehingga persoalan kualitas dan nilai etika diabaikan. Itulah sebabnya, pengarang idealis terpaksa harus berhenti berkarya karena kreativitasnya seolah “dipasung” oleh lingkungannya. Dalam kondisi demikian, jika masih ada pengarang yang berhasil menulis dan menerbitkan karya-karyanya, hal tersebut tidaklah berarti bahwa status sosial-ekonomi penga- rang terjamin. Dikatakan demikian karena honor yang disediakan oleh penerbit kepada pengarang juga sangat jauh dari harapan. Pada tahun 1974, misalnya, oleh majalah berbahasa Jawa sebuah cerpen hanya dihargai Rp1.000,00 (Brata, 1981). Hal ini tidak jauh berbeda dengan keadaan tahun 1950-an; harga sebuah cerpen Jawa hanya berkisar antara Rp25,00 dan Rp40,00; atau hadiah pertama lomba penulisan cerbung hanya Rp1.000,00 (Damono, 1993:78). Keadaan demikian membuktikan bahwa kerja mengarang memang tidak menjanjikan secara materi sehingga pantas jika pengarang Jawa menganggap profesinya itu hanya sebagai

pengabdian. Kendati demikian, masyarakat Jawa patut berbangga karena dalam kondisi yang tidak kunjung mem- baik itu masih ada beberapa pengarang--di antaranya Suparto Brata dan St. Iesmaniasita (Brata, 1981:83; Widati dkk., 1986:30)--yang tetap optimis dan senantiasa berjuang demi perkembangan sastra Jawa modern. Bahkan, optimisme Suparto Brata tidak pernah padam hingga sekarang ini. Sejarah telah mencatat bahwa pada bulan Maret 1966 di negeri ini telah terjadi pergantian orde atau kekuasaan, yaitu dari Orde Lama di bawah rezim Soekarno ke Orde Baru di bawah rezim Soeharto yang sentralistis-militeristik. Pergantian rezim itu serta merta berdampak pada berbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali kehidupan sastra Jawa. Di samping muncul ekses-ekses negatif seperti yang telah dikemukakan, di balik itu muncul pula dampak positif yang memacu perkembangan sastra Jawa modern. Akibat dari adanya sikap hedonis masyarakat Jawa sekitar tahun 1965-- 1967, yang terbukti dengan meluapnya peredaran novel saku (panglipur wuyung) yang bebas dan tidak terkendalikan-- sebelum akhirnya beberapa di antaranya dilarang beredar oleh Komres 951 Surakarta dalam rangka Opterma--, dalam diri pengarang muncul pandangan bahwa bukan kebebasan seperti itulah yang diharapkan. Memang benar sebagian pengarang telah berhasil membebaskan diri dari kesulitan penerbitan, tetapi kalau kebebasan itu tidak lagi terkendalikan (kebablasan) dan banyak diboncengi oleh unsur-unsur yang mengabaikan nilai moral dan etika, hal demikian--menurut Suparto Brata--dinilai akan “sangat membahayakan”. Kondisi “sangat membahayakan” itulah yang kemu- dian melahirkan niat para pengarang Jawa untuk mendirikan berbagai organisasi (paguyuban, grup, sanggar, atau bengkel

sastra) sebagai tempat “berkumpul dan berjuang” demi pertumbuhan dan perkembangan sastra Jawa modern. Oleh sebab itu, selama Orde Baru (1966--1997)--sejauh dapat diidentifikasikan--telah muncul sekitar 22 organisasi penga- rang yang tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Berikut daftar lengkap organisasi pengarang tersebut.

No

 

Nama

Tempat,

Thn

Pemrakarsa, Pendiri , Ketua, Pendukung

Organisasi

Sekretariat

0

1.

Sanggar

Madiun

1955

Sahid Langlang, Susilomurti, Moeljono Soedarmo, Rakhmadi K., Muryalelana,

Seniman

 

St.

Iesmaniasita, Sukandar

2.

Puspita

Tulung-

1955

S.G., Poerwadhie Atmo- dihardjo, Soebagijo I.N. Para pelajar (Tamsir A.S. dkk.)

Mekar

agung

1

Organisasi

Yogyakarta

27

Susilomurti, Soedharmo K.D., Moh Tahar, S. Wisnusubroto, E.

Pengarang

Agus

Sastra Jawa

tus

(OPSJ)

1966

Suharjendro, Enny Sumargo, Sjamsi Tamami, Kussudyarsono, Hardjana H.P., Wakidjan, Muryalelana, Suparto Brata, Suwariyun, Sudarmadji, Any Asmara, Utomo D.S., S.H. Mintardja, Ki Adi Samidi, Soetarno, Karkono Partokusumo, Hadiwidjono, Siswo-harsojo, Sudjono, Trim Sutidja, N. Sakdani, Esmiet

 

1. Komda

Baluwerti

16

N.

Sakdani, Hoedaja Mz.,

Jateng

RT 14/29,

Okto

Achmad D.S., Marginingsih, Soetomo S.D., Suyatno,

Surakarta

ber

1966

Tjoes Mardiani, Widi

     

Widayat, Sri Hadidjojo, Oemar Ma’roef Moedjiana, Slamet Soetarso, W. Tedja Samsudjin P., Tatik Tjokrosoesastro, Prawira- soebrata, Goenawan Soeroto, M.T. Soepardi, Kho Ping Hoo.

2. Komda Jatim

Rangkah

20

Esmiet, Satim Kadarjono, Suparto Brata, Basuki

5/25a,

Nov.

Surabaya

1966

Rakhmat, Ki Sumadji

3. Komda DIY

Yogyakarta

1966

M. Tahar

4. Komda

Bandung/Ja

1966

Trim Sutidja, Sukardo Hadisukarno

Jabar/DKI

karta

2 Sanggar Sastra

Jln. Mawar

1970

Moch. Nursyahid P.

Nur Praba

2/007,

Palur,

Surakarta

3 Bengkel Sastra

Bangsal

1971

Arswendo Atmowiloto, Ruswardiyatmo, Su-kardo Hadisukarno, Sulianto, Efix Mulyadi, Yoyok Mugiyatno, Jaka Lelana, Ardian Syam- suddin, S. Warsa Warsidi, Moch. Nursyahid P., dan Sarwoko Tesar

Sasanamulya

Sasana-

mulya,

Keraton

Surakarta

4 Grup Diskusi

Ds. Sido-

1

Ngalimu Anna Salim, Poer Adhie Prawoto, Anjrah

Sastra Blora

mulyo,

April

Sambong,

1972

Lelana Brata, Suripan Sadi Hutomo, Jayus Pete, J.F.X. Hoery, T. Susilo Utomo, Sukarman Sastrodiwiryo, Moch. Syarobah, Yus Dono, Sri Setyo Rahayu, Tjuk Suwarsono, Mg. Afiadi, Sudarno Wiwoho

Cepu, Blora

5 Sanggar

Kalisetail,

1974

Esmiet, Sukanthi E.S., Rosidi Rahman, Sukardi, M. Tojib Murjanto, Prijanggono, Ramdhani, Armanoe, Dahroni, Hasan Ali Senthot

Parikuning

Genteng,

Banyuwangi

6 Sanggar Sastra

Jalan

1976

Utomo D.S., A.Y. Suharyono, Ragil Suwarno P.

Brayan

Malioboro,

Muda (Prada)

Yogyakarta

 

7 Sanggar Sastra

Tepi Kali

1976

Sujadi Madinah

Sujadi

Code,

Madinah

Yogyakarta

8 Sanggar Sastra

Yogyakarta

1976

Suharyanto B.P.

Buana Patria

9 Himpunan Pamarsudi Sastra Jawa di Jakarta

Jakarta

1976

Susatyo Darnawi

10 Paguyuban

Surabaya

31

Suripan Sadi Hutomo, Suharmono K., Suparto

Pengarang

Juli

Sastra Jawa

1977

Brata, Satim Kadarjono, Ismoe Riyanto, Setyo Yuwono Sudikan, Slamet Isnandar, W. Santoso, Soenarto Timoer, Srijono, Susi Parto Sudarmo, Purwita, Yudi Aseha, Rahadi Purwanto

Surabaya

11 Sanggar Bening

Jln.Bongsari RT IV/ 8, No. 7, Semarang

1978

Wawan Setiawan, Anggoro Soeprapto, Ragil Priyatno, Priyonggo

Penulis

Muda Semarang

12 Sanggar Sastra

Tulung-

18

Tamsir A.S., Tiwiek S.A, Susiati Martowiryo, Eko

Triwida

agung

Mei

1980

Heru Saksono, Yudi Triantoro, Tarmuji Astro, Endah Sri Sulistyorini, Titah Rahayu

1.

Komisariat

Tulung-

10

Suwignyo Adi (Tiwiek S.A.), Giman Mustopo, Susiati Martowiryo, Sunarko

Tulungagung

agung

Okto

ber

1983

Budiman, Ary Suharno

2.

Komisariat

Trenggalek

10

Sita T. Sita (Titah Rahayu), Lamji Budi W., Paulus Suryanto, Bambang P.

Trenggalek

Okto

ber

1983

Handoko

3.

Komisariat

Blitar

10

Yudhi Triantoro, Wahyudi, Sri Nuryundari, Piet Sewoyo, Hariwisnu Harwimuka

Blitar

Okto

ber

1983

 

13 Pamarsudi

Jln. P. Su- dirman 27, Bojonegoro

16

Moh. Maklum, J.F.X. Hoery, Yusuf Susilo Hartono,

Sastra Jawi

Juli

Bojonegoro

1982

Lasimin, Yes Ismie Suryaatmaja, Jayus Pete, Sunawan, Sajilin, Hadi Mulyono

14 Sanggar Sastra

Terban,

13

Andrik Purwasito, A. Nugroho, Aloys Indrat-mo,

Rara Jonggrang

Yogyakarta

Juni

1982

Titah Rahayu, Y. Sarworo Soeprapto, S. Budi Rahardjo, Trias Yusuf, Christanto P. Rahardjo, Khrisna Mihardja, dll.

15 Sanggar Sastra

Godean,

1986

Muhammad Yamin, Suryanto Sastroatmojo

Gambir

Yogyakarta

Anom

 

16 Sanggar Gurit

Godean,

1988

Muhammad Yamin, Suryanto Sastroatmojo

Gumuruh

Yogyakarta

17 Sanggar

Kutoarjo,

1990

Sukoso D.M., Ustadji Pw.

Kalimasada

Purworejo

18 Sanggar Sastra

Loram Kulon RT I/1, No. 34, Jati, Kudus

1991

Yudhi M.S., Mukti Sutarman, Timur Suprabana

“Penulis

Muda Kudus”

 

Kelompok

Kudus/

1991

Aryono K.D., Teguh Munawar, Samijoso

Pengarang

Jepara

Sastra Jawa

 

Gunung Muria

20 Sanggar Sastra

Balai

12

Sri Widati, Ratna Indriani, Slamet Riyadi, Adi Triyono, Herry Mardianto, Harwi

Jawa Yogya-

Bahasa,

Janu

karta (SSJY)

Jalan I

ari

Dewa

1991

Mardiyanto, Dhanu Priyo Prabowo, Pardi, Risti Ratnawati, A.Y. Suharyono, Suwardi Endraswara, dll.

Nyoman

Oka 34,

Yogyakarta

21 Sanggar Sastra

Tegal

1991

Lanang Setiawan, Endhy Kepanjen, Ki Bagdja, Moch Hadi Utomo, Turah Untung

Tabloid

Tegal

22 Sanggar Sastra

Jakarta

1994

Diah Hadaning

Diha

Sebagaimana diketahui bahwa sebenarnya pada masa awal periode kemerdekaan telah ada dua buah organisasi pengarang (dan pemerhati) sastra Jawa, yaitu Gerombolan Kasusastran Mangkunegaran dan Paheman Radyapustaka (Hutomo, 1988). Akan tetapi, dua organisasi yang berdiri sejak sebelum kemerdekaan dan hingga sekarang masih ada tersebut tidak memfokuskan perhatian pada sastra Jawa modern, tetapi pada (bahasa dan) sastra Jawa lama. Orga- nisasi pengarang yang benar-benar memperhatikan “nasib” sastra Jawa modern baru dimulai oleh Sanggar Seniman di Madiun yang didirikan oleh Sahid Langlang dan para penulis muda (pelajar) yang tergabung dalam Puspita Mekar asuhan Tamsir A.S. di Tulungagung tahun 1955 (periksa daftar lengkap organisasi pengarang). Bermula dari Sanggar Seni- man dan Puspita Mekar itulah kemudian pada masa Orde Baru berbagai organisasi pengarang bermunculan. Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ), dalam hal ini, merupakan

organisasi yang paling awal dan paling depan dalam upaya memacu pertumbuhan dan perkembangan sastra Jawa modern. Harus diakui bahwa OPSJ merupakan suatu gerakan baru dalam sastra Jawa modern karena memang organisasi tersebut dimaksudkan sebagai suatu upaya untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan sastra Jawa modern, di samping sebagai sarana untuk memperjuangkan nasib para pengarang dan karyanya. Dikatakan demikian karena orga- nisasi yang lahir dari sarasehan (tanggal 24--27 Agustus 1966) di Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Sanggar Bambu 59 pimpinan Sunarto Pr. itu bertujuan untuk menjaga mutu dan mengendalikan banjirnya novel-novel saku (roman picisan) yang sejak sebelum 1966 telah menguasai pasar, di samping untuk mengembalikan independensi atau kebebasan para pengarang agar mereka tidak dijadikan sebagai “alat propaganda” oleh kelompok politik tertentu. Sebagai sebuah organisasi profesi, OPSJ memiliki dasar, sifat, dan tujuan tertentu. Dasar OPSJ adalah Pancasila. Sifatnya adalah sebagai organisasi karyawan pengarang yang tidak terikat oleh salah satu partai politik. Sementara itu, tujuannya adalah (1) memelihara dan meningkatkan nilai karang-mengarang dalam bahasa dan sastra Jawa; (2) mem- berikan sumbangan dan pengabdian konkret dalam menye- lesaikan revolusi nasional Indonesia; (3) melindungi dan memperjuangkan kepentingan dan taraf penghidupan para pengarang sastra Jawa; dan (4) menggali kehidupan rakyat sebagai sumber cipta yang tidak pernah kering. Seperti diketahui bahwa OPSJ dibentuk sebagai sebuah organisasi profesi tingkat nasional. Mengingat wila- yahnya cukup luas, di samping karena tempat tinggal para

pengarang Jawa saling berjauhan, untuk memperlancar gerak OPSJ secara nasional perlu dibentuk komisariat daerah (komda). Oleh karena itu, pada saat itu dibentuk pula komisariat di tiga daerah dan pengelolaan masing-masing daerah dipercayakan kepada N. Sakdani (Jawa Tengah), Esmiet (Jawa Timur), M. Tahar (Yogyakarta), dan Trim Sutidja (Jawa Barat). Untuk merealisasikan langkah dan tujuan OPSJ tingkat pusat, tidak berselang lama mereka yang diserahi tanggung jawab (N. Sakdani, Esmiet, M. Tahar, dan Trim Sutidja) kemudian segera membentuk pengurus dan segera pula mengadakan berbagai kegiatan. Langkah nyata tampaknya segera dilakukan oleh Komda Jawa Tengah. Setelah pengurus berhasil dibentuk (16 Oktober 1966), mereka kemudian (pada 19--20 November 1966) mengadakan musyawarah kerja di Surakarta. Dari musyawarah itu lahirlah berbagai keputusan “bidang opera- sional, bidang organisasi, dan bidang peningkatan mutu”. Di dalam musyawarah itu berhasil pula dirumuskan kode etik pengarang (Sad Marga Pengarang) yang berisi sumpah para pengarang terhadap profesinya. Bunyi Sad Marga Pengarang tersebut sebagai berikut.

Kami, pengarang sastra Jawa, dalam cipta, karya, dan sikapnya mengejawantahkan keluhuran budi budaya bangsa yang ber-Tuhan. Kami, pengarang sastra Jawa, senantiasa menghayati karyanya dengan jiwa PANCASILA. Kami, pengarang sastra Jawa, adalah juru bicara bangsa untuk cita- citanya. Kami, pengarang sastra Jawa, berkewajiban untuk me-numbuhkan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Kami, pengarang sastra Jawa, menolak paksaan dan perkosaan dalam segala bentuk dan manifestasinya.

Kami, pengarang sastra Jawa, menyadari bahwa plagiat adalah perbuatan yang amoral.

Tidak lama setelah musyawarah, Komda Jawa Tengah kemudian menyelenggarakan berbagai kegiatan sastra, di antaranya (1) menerbitkan mingguan Andika yang di dalamnya muncul rubrik “Pisungsung” asuhan N. Sakdani dan Hudoyo Mz.; (2) mengadakan kursus kesusastraan dan bahasa asing yang dikelola oleh M.T. Supardi; (3) bekerja sama dengan CV Sasongko untuk menerbitkan majalah Gumregah dan pengasuhnya adalah Widi Widajat, N. Sakdani, dan M.T. Supardi; dan (4) mendorong mingguan Gelora Berdikari untuk membuka ruang bagi sastra Jawa sehingga di dalam mingguan itu muncul rubrik “Sekar Rinonce”. Selain itu, meski berselang cukup lama (1981), Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Tengah menerbitkan majalah Pustaka Candra dengan redakturnya Muryalelana. Sementara itu, sejak Desember 1982, harian Kartika (edisi Minggu) juga membuka ruang bahasa Jawa dengan nama rubrik “Sekar Wijaya Kusuma” asuhan Bandrio H.D. Dalam berbagai penerbitan itulah, kreativitas para pengarang yang tergabung dalam OPSJ tersalurkan, di samping mereka aktif berkarya untuk majalah yang telah ada sebelumnya: Mekar Sari, Djaka Lodang (Yogyakarta), Jaya Baya, dan Panjebar Semangat (Surabaya). Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan diben- tuknya pengurus Komda Jawa Tengah, Esmiet yang diper- caya untuk mengelola OPSJ Komda Jawa Timur juga segera mengadakan pertemuan (pada 20 November 1966). Dalam pertemuan yang dilaksanakan di Kalisetail, Genteng, Banyu- wangi dan dihadiri antara lain oleh Esmiet, Satim Kadarjono, Suparto Brata, Basuki Rachmat, dan Ki Soemadji itu dise-

pakati bahwa ketua komda dipegang oleh Esmiet. Hanya saja, setelah pengurus komda terbentuk, OPSJ Komda Jawa Timur tidak pernah melakukan kegiatan formal; dan kegiatan yang mereka lakukan lebih banyak bersifat personal seperti kon- sultasi atau diskusi intern antarpengarang. Hal yang sama tampak pula pada Komda Jawa Barat. Bahkan, di antara tiga komda yang ada, Komda Jawa Barat termasuk organisasi yang paling “tidak terdengar gaungnya”; dan gaung tersebut baru terdengar setelah ketua komda Trim Sutidja digantikan oleh Sukardo Hadisukarno dan mengadakan kegiatan pem- bacaan guritan di TIM tanggal 4 Juli 1983. Harus diakui bahwa pada awal-awal kelahirannya OPSJ merupakan organisasi “favorit” bagi para pengarang sastra Jawa; dan berkat organisasi tersebut sebagian keinginan dan cita-cita para pengarang terpenuhi. Akan tetapi, satu hal yang tidak dapat dihindari ialah bahwa ternyata untuk mempertahankan dan memupuk sebuah organisasi sangat sulit. Hal itu terbukti, meski kepengurusan baik di pusat maupun di daerah telah terbentuk, hingga beberapa tahun OPSJ tidak menunjukkan aktivitasnya. Kenyataan tersebut diakui oleh N. Sakdani bahwa memang benar OPSJ tidak pernah menyelenggarakan kegiatan, bahkan rapat pengurus pun, baik di pusat maupun komisariat, tidak pernah dilakukan. Namun, menurut N. Sakdani, secara perorangan para anggota OPSJ sering bertemu dalam ber- bagai forum sarasehan (di Sala, Jakarta, Surabaya, Yogya- karta, dan Semarang) sehingga--langsung atau tidak--mereka tetap menjalin komunikasi sehubungan dengan profesi kepengarangannya. Sementara itu, secara perorangan para anggota OPSJ kadang-kadang juga melakukan aktivitas sastra. Di Jakarta, misalnya, selain mengadakan sarasehan

sastra Jawa di Fakultas Sastra UI tanggal 12--14 November 1976, Susilomurti juga membidani lahirnya koran mingguan yang kemudian berubah menjadi majalah bernama Kuman- dhang dan Sekarjagad. Atau, di Surakarta, para pengarang seperti N. Sakdani, Arswendo Atmowiloto, Moch. Nursyahid P., Poer Adhie Prawoto, dan lain-lain juga sering membantu kegiatan (sayembara, sarasehan, dan sebagainya) yang diselenggarakan oleh PKJT pimpinan S.D. Humardani. Karena selama beberapa tahun OPSJ tidak menun- jukkan aktivitasnya, muncullah kemudian beberapa organi- sasi lain (sanggar, grup, paguyuban) baik yang dibentuk oleh pengarang yang semula menjadi anggota OPSJ maupun tidak. Dalam kurun waktu tahun 1970-an, setidaknya telah muncul sepuluh organisasi pengarang (periksa daftar di depan). Pada tahun 1970, misalnya, di Surakarta muncul Sanggar Nur Praba yang diprakarsai dan diketuai oleh Moch. Nursyahid Purnomo. Menurut pengakuan ketuanya, hingga sekarang sanggar yang memiliki anggota 15 orang itu masih aktif walaupun aktivitas itu sama sekali tidak pernah terdengar. Pada mulanya, katanya, anggota sanggar tersebut hanya terdiri atas para pengarang yang tinggal di Sala, tetapi kemudian ada pula beberapa pengarang dari luar Sala yang bergabung dengannya. Setahun kemudian (1971), di Surakarta lahir Bengkel Sastra Sasanamulya (1971) yang diprakarsai dan diketuai oleh Arswendo Atmowiloto. Melalui sanggar tersebut Arswendo Atmowiloto memiliki cara yang unik dalam mem- bina dan membangkitkan semangat kreatif para anggota. Dalam setiap pertemuan rutin selalu diadakan diskusi mengenai buku-buku sastra yang disediakannya dan sebe- lumnya harus selesai dibaca, dan di dalam diskusi itu para

anggota diminta untuk memberikan penilaian terhadap karya baik kelebihan maupun kekurangannya. Selanjutnya, ditekan- kan bahwa kelebihan itulah yang harus diambil, sementara kekurangannya harus dihindari. Setelah itu, para anggota diwajibkan untuk mengarang dan hasilnya (yang baik) dipajang di majalah dinding yang disediakan. Namun, majalah dinding itu kemudian tidak mampu menampung hasil karya mereka sehingga, pada tahun 1975, Arswendo mener- bitkan bulletin Taman Sari (berisi guritan dan cerita pendek) atas bantuan PKJT, di samping majalah berkala stensilan Baluwerti. Berangkat dari bengkel inilah, para pengarang seperti Ardian Syamsudin, Warsa Warsidi, Jaka Lelana, Sukardo Hadisukarno, Moch. Nursyahid, Efix Mulyadi, dan Yoyok Mugiyatno sering tampil sebagai juara dalam berbagai lomba penulisan puisi, cerpen, novel, dan drama, di samping aktif menulis di surat kabar Dharma Kandha dan Dharma Nyata.

Pada tahun 1972, di Blora berdiri Grup Diskusi Sastra Blora. Berdirinya grup ini diprakarsai oleh Ngalimu Anna Salim dan Poer Adhie Prawoto. Seperti tampak pada namanya, kegiatan utama grup ini adalah diskusi mengenai sastra Jawa yang dilaksanakan secara bergantian di rumah para anggota; dan yang paling sering bertempat di rumah Poer Adhie Prawoto. Berangkat dari latihan dan diskusi itu pula, para anggota kemudian aktif menulis di berbagai media massa, di samping sering memenangkan lomba penulisan sastra. T. Susilo Utomo, misalnya, menjadi juara 3 lomba penulisan puisi PKJT (1973), Sri Setyo Rahayu dan Ngalimu Anna Salim menjadi juara 3 lomba penulisan cerpen dan puisi DKS (1974), dan Poer Adhie Prawoto menjadi juara 1 lomba penulisan puisi PKJT (1980). Sepanjang sejarahnya,

grup tersebut telah menerbitkan dua buah antologi guritan, yaitu Napas-Napas Tlatah Cengkar (1973) atas biaya sendiri dan Tepungan karo Omah Lawas (1973) atas biaya PKJT. Namun, sejak Ngalimu Anna Salim (ketua) meninggal (1976) dan Poer Adhie Prawoto (sekretaris) pindah ke Sala (1980, dan sekarang juga sudah meninggal), grup yang pada awalnya hanya beranggotakan 10 orang itu kemudian bubar. Dua tahun kemudian (1974), di Banyuwangi ter- bentuk pula sebuah sanggar, bernama Sanggar Parikuning. Sanggar yang beranggotakan 10 orang itu diketuai oleh Esmiet. Sanggar tersebut tidak pernah menyelenggarakan kegiatan formal, misalnya seminar, sarasehan, atau dikusi bersama. Kegiatan yang sering dilakukan hanyalah konsul- tasi. Para anggota diminta untuk terus menulis secara bebas di rumah masing-masing, dan jika menemui kesulitan, para anggota disarankan untuk berkonsultasi dengan ketua (Esmiet). Hanya sayangnya, para anggota sanggar ini tidak banyak yang “jadi”, kecuali Prijanggono, Armanoe, Sukanthi E.S., dan Esmiet sendiri. Konon, hingga kini Esmiet telah menulis lebih dari 1.500 cerpen, 120 cerita bersambung, dan sekian banyak artikel di media massa berbahasa Jawa. Bahkan, berkali-kali Esmiet menjadi juara dalam berbagai lomba penulisan cerpen dan novel yang antara lain dise- lenggarakan oleh PKJT (1971), Panjebar Semangat (1974), Jaya Baya (1974), dan PKJT (1978). Sementara itu, cerpen Armanoe memperoleh hadiah dari Lembaga Javanologi Yogyakarta (1984). Pada tahun 1976, di Yogyakarta sekaligus berdiri tiga buah sanggar, yaitu Sanggar Sastra Brayan Muda, Sanggar Sastra Sujadi Madinah, dan Sanggar Sastra Buana Patria, sedangkan di Fakultas Sastra UI Jakarta muncul Himpunan

Pamarsudi Sastra Jawa. Walaupun tidak secara rutin, sanggar-sanggar dan himpunan pengarang tersebut juga sering mengadakan diskusi antaranggota mengenai buku- buku sastra yang telah terbit atau karya yang telah dimuat di media massa. Dari diskusi itu para anggota kemudian mulai memperlihatkan eksistensinya, dan hal itu mereka buktikan lewat karyanya yang dimuat dalam mingguan Kembang Brayan, majalah Djaka Lodang (di Yogyakarta), dan Kunthi (di Jakarta). Hanya sayang sekali, hingga sekarang sanggar- sanggar itu tidak menghasilkan buku antologi cerpen atau puisi. Kendati demikian, berangkat dari sanggar tersebut, beberapa pengarang di Yogyakarta, di antaranya A.Y. Suhar- yono dan Suharyanto B.P., kini telah menunjukkan jati- dirinya.

Setahun kemudian (1977), di Surabaya muncul Pagu- yuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya atas prakarsa Suripan Sadi Hutomo. Paguyuban yang diketuai oleh Ismoe Riyanto tersebut didirikan dengan alasan bahwa di Surabaya terdapat sejumlah pengarang handal dan dua majalah yang ada, yaitu Panjebar Semangat dan Jaya Baya, dianggap sebagai majalah terpenting dan menjadi barometer bagi penerbitan pers (dan sastra) Jawa. Dalam sejarah perjalan-annya, paguyuban yang mencakupi wilayah Gresik, Bang-kalan, Mojokerto, Sura- baya, Sidoarjo, dan Lamongan (Gerbang Kertosusila) itu telah mengadakan berbagai kegiatan, di antaranya seminar, diskusi, dan siaran pembinaan bahasa dan apresiasi sastra Jawa di RRI Surabaya. Hanya sayangnya, cukup lama paguyuban tersebut tidak aktif, dan baru pada November 1991, bekerja sama dengan tabloid Jawa Anyar, mereka mengadakan lomba baca guritan yang memperebutkan hadiah thropi Menteri Penerangan. Setelah jabatan ketua dipegang

oleh Suharmono Kasiyun (1990), paguyuban tersebut tampak vakum, kecuali semnggu sekali mengadakan siaran apresiasi sastra dan budaya di RRI Surabaya. Menjelang akhir tahun 1970-an, tepatnya pada tahun 1978, di Semarang lahir Sanggar Bening “Penulis Muda Semarang” (1978). Akan tetapi, karena sebagian pengelo- lanya (Wawan Setiawan, Anggoro Suprapto, Ragil Priyatno, dll.) adalah para wartawan Suara Merdeka yang lebih memfokuskan pada sastra Indonesia, akhirnya kegiatan mereka terhadap sastra Jawa tersisihkan. Bahkan, tidak berselang lama, sanggar tersebut kembali bergabung dengan induknya, yakni KPS (Keluarga Penulis Semarang) yang lebih banyak berkiprah pada sastra Indonesia. Kendati demikian, berkat sanggar tersebut, karya-karya mereka sempat menghiasi media massa berbahasa Jawa seperti Panjebar Semangat, Jaya Baya, Cenderawasih (Jawa Timur), Parikesit (Jawa Tengah), Mekar Sari, Djaka Lodang, Kembang Brayan (Yogyakarta), dan Kunthi (Jakarta). Demikian kiprah para pengarang Jawa melalui berbagai organisasi yang muncul pada tahun 1970-an. Menu- rut Brata (1981:70), dari berbagai organisasi itu lahirlah beberapa pengarang muda potensial, di antaranya Jaka Lelana, Arswendo Atmowiloto, Moch. Nursyahid Poernomo, Sri Setya Rahayu, Ardian Syansuddin, Totilawati, Muji- manto, J.F.X. Hoery, Astuti Wulandari, dan Jayus Pete. Dikatakan demikian karena karangan-karangan mereka pada umumnya sudah mantap, terutama dalam penggarapan tema dan penggunaan bahasa. Jika diamati lewat karya-karyanya, sejumlah pengarang itu memiliki ciri-ciri yang khas, yaitu (1) berakar dari buku-buku dan pengalaman masa kini; (2) memiliki bakat yang kuat; (3) membawa kepribadian daerah

atau lingkungan hidupnya, dan (4) melewati pengalaman menulis yang cukup. Seperti diketahui bahwa berbagai organisasi penga- rang tersebut pada umumnya tidak bertahan lama (mati) dan mereka yang mangaku masih hidup jarang--bahkan tidak pernah--melakukan kegiatan; alasan utamanya adalah karena minimnya dana, di samping karena anggotanya memiliki kesibukan yang berbeda-beda. Akan tetapi, hal yang cukup menggembirakan ialah bahwa tradisi kepengarangan tersebut terus berlangsung hingga dekade 1980-an. Hanya sayangnya, dari lima organisasi yang muncul pada dekade 1980-an (periksa daftar di depan), tampaknya hanya Sanggar Sastra Triwida (1980) di Tulungagung dan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (1982) di Bojonegoro yang terlihat aktif. Semen- tara itu, Sanggar Sastra Rara Jonggrang (1982), Sanggar Sastra Gambir Anom (1986), dan Sanggar Gurit Gumuruh (1988), kurang terdengar gaungnya. Memang benar ketiga sanggar yang berdomisili di Yogyakarta itu juga mengadakan kegiatan, di antaranya diskusi, latihan teater, latihan baca dan tulis puisi bagi siswa dan guru di sekolah, tetapi kegiatan itu hanya dilakukan sesekali saja, dan sesudah itu tidak terdengar lagi gaungnya. Hal tersebut berbeda dengan Sanggar Sastra Triwida yang didirikan oleh Tamsir A.S. pada tahun 1980.Sanggar yang dimaksudkan sebagai wadah kreatif pengarang dari “tri- wilayah daerah” (Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar) tersebut aktif mengadakan diskusi, menyelenggarakan per- pustakaan, karya wisata, menyelenggarakan sayembara, mengadakan sarasehan, pelatihan penulisan sastra, dan seba- gainya. Dalam setiap diskusi yang diselenggarakan, misalnya, biasanya dibahas beberapa karangan para anggota untuk

mencapai target layak muat di media massa cetak, di samping dibahas pula karya-karya yang telah dimuat. Sementara itu, di setiap perayaan ulang tahun, di antaranya pada tahun 1981, 1982, dan 1983, diselenggarakan pula sarasehan. Pada tahun 1984, sanggar yang lahirnya diilhami oleh Keputusan Sara- sehan Sastra Jawa di Sala bulan Februari 1980 itu juga menyelenggarakan bengkel penulisan kreatif bagi para ang- gota khususnya dalam hal penulisan novel dengan tutor Suripan Sadi Hutomo. Pada tahun yang sama (1984), sanggar yang memiliki tiga komisariat (Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar) dan kini memiliki anggota aktif sekitar 42 orang tersebut juga mengadakan sayembara mengarang cerpen untuk siswa sekolah menengah se-Jawa Timur. Bermula dari kegiatan sanggar yang menurut Hutomo (1988) memiliki “hubungan batin” dengan OPSJ Komda Jawa Timur itulah, kemudian banyak karangan para anggota yang dimuat di berbagai media massa berbahasa Jawa; dan beberapa anggotanya pun sering menjadi juara dalam berbagai lomba penulisan sastra. Dalam lomba penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh majalah Djaka Lodang (1983), misalnya, juara I, II, dan III diraih oleh tiga orang anggota Sanggar Sastra Triwida (Tiwiek S.A., Yudhet, dan Mas Kastana atau Kasmidja). Dalam sepanjang sejarahnya, sanggar yang telah membentuk “Yayasan Triwida” dengan Akte Notaris No. 89, tanggal 22 Maret 1990 itu telah menghasilkan antologi guritan dan cerpen berjudul Wetan Rantak-Rantak (stensilan, 1983). Berkat peran serta aktif sanggar Triwida itulah kemudian sejak dekade 1980-an dunia kepengarangan sastra Jawa relatif bergairah kembali. Keadaan ini bertambah semarak karena dua tahun kemudian (1982) muncul kelom-

pok Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro atas prakarsa Yusuf Susilo Hartono, J.F.X. Hoery, dan Jayus Pete. Dikatakan demikian karena hampir berbarengan dengan aktivitas Triwida, kelompok Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro juga aktif mengadakan berbagai kegiatan, di antaranya diskusi, sarasehan, dan lomba penulisan sastra. Diskusi tentang cerpen-cerpen Jayus Pete didiskusikan pada tanggal 6 Desember 1982; puisi-puisi Moch. Maklum dikupas pada 9 Januari 1983; dan bersamaan dengan itu diselenggarakan lomba penulisan puisi dan macapat. Pada tahun 1984, kelompok yang menyatakan diri sebagai bagian dari OPSJ Komda Jawa Timur itu juga mengadakan Sarasehan Jati Diri Sastra Daerah di Bojonegoro. Setahun sebelumnya (1983) para anggota kelompok tersebut telah menerbitkan antologi berjudul Kabar saka Tlatah Jati. Bermula dari aktivitas kelompok (organisasi) itu pula, selanjutnya muncullah beberapa pengarang handal, salah satu di antaranya Jayus Pete.

Memasuki dekade 1990-an, kondisi pengarang dan kepengarangan sastra Jawa agaknya sedikit berubah. Kalau pada dekade 1980-an aktivitas sastra secara dominan berada di wilayah Jawa Timur berkat Sanggar Sastra Triwida dan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro, pada dekade 1990-an aktivitas sastra Jawa bergeser ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hal itu terbukti, sejak tahun 1990, di Jawa Tengah dan Yogyakarta muncul lima sanggar, yaitu Sanggar Kalimasada (1990) di Kutoarjo, Sanggar Sastra Penulis Muda Kudus (1991) di Kudus, Kelompok Pengarang Sastra Jawa Gunung Muria (1991) di Kudus dan Jepara, Sanggar Sastra Tabloid Tegal (1991) di Tegal, dan Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (1991) di Yogyakarta. Selain itu, pada dekade ini

muncul pula sebuah sanggar, yakni Sanggar Sastra Diha (Diah Hadaning) (1994) di Jakarta. Sebagaimana diketahui bahwa dari enam sanggar tersebut, yang agaknya paling aktif adalah Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY) yang berkantor (sekretariat) di Balai Penelitian Bahasa, Jalan I Dewa Nyoman Oka 34, Yogyakarta 55224. Dikatakan demi- kian karena sanggar-sanggar lainnya lebih memfokuskan perhatian pada sastra Indonesia daripada sastra Jawa. Namun, dapat dicatat bahwa Sanggar Sastra Tabloid Tegal telah melahirkan dua buah antologi puisi Jawa dialek Tegal, yakni Roa (terjemahan dari puisi Indonesia) (1994) dan Ruwat Desa (1998). Pada bulan Desember 1990 di Yogyakarta diseleng- garakan Temu Pengarang, Penerbit, dan Pembaca Sastra Jawa atas prakarsa Balai Penelitian Bahasa bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta. Di dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa di Yogyakarta perlu dibentuk sebuah sanggar sastra sebagai wadah kreativitas pengarang sastra Jawa. Oleh karena itu, pada 12 Januari 1991 terbentuklah SSJY (Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta) dengan susunan pengurus yang diketuai oleh Sri Widati Pradopo, peneliti sastra pada Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta. Sejak awal kelahirannya SSJY telah aktif menga- dakan kegiatan, di antaranya sarasehan atau diskusi rutin dua bulanan dengan menghadirkan para pembicara baik dari kalangan akademisi, praktisi, maupun pers. Selain itu, melalui kerja sama dengan Balai Penelitian Bahasa dan Dewan Kesenian Yogyakarta, SSJY juga beberapa kali mengadakan kegiatan lomba penulisan cerkak, guritan, dan macapat; lokakarya penulisan cerpen dan puisi; dan Bengkel Sastra Jawa bagi siswa, guru, dan para sastrawan. Sejak April

1992, dengan dana sumbangan dari Balai Bahasa, SSJY secara rutin menerbitkan sebuah majalah sastra, bernama Pagagan. Majalah yang memuat puisi, cerpen, dan esai tersebut terbit dua bulan sekali, oplahnya sekitar 150 eksemplar, dan diluncurkan bersamaan dengan diadakannya sarasehan atau diskusi rutin dua bulanan. Melalui majalah Pagagan dan berbagai kegiatan--baik rutin maupun insidental--itulah, pada masa-masa selanjutnya, SSJY tampil sebagai sebuah organisasi pengarang yang sedikit banyak mampu menumbuhkan semangat dan kreativitas para pengarang Jawa di Yogyakarta. Terlebih lagi, dalam beberapa tahun belakangan SSJY juga memberikan penghargaan “Sinangling” kepada karya-karya yang bermutu. Hal tersebut tidaklah berlebihan karena memang SSJY merupakan suatu wadah yang bertujuan membangun dan mengembangkan sastra Jawa modern yang sampai saat ini masih kurang mendapat apresiasi yang memadai dari orang-orang Jawa. Sejak awal berdirinya, SSJY menam- pakkan harapan baru yang lebih konkret karena lewat sanggar itu muncul para pengarang baru, di antaranya Rita Nuryanti, Whani Darmawan, dan Yan Tohari. Di samping melahirkan para pengarang baru, SSJY juga semakin “mendewasakan” para pengarang lain di wilayah Yogyakarta (Djaimin K., A.Y. Suharyono, Turiyo Ragilputra, Krishna Mihardja, Suhindriyo, Margareth Widhy Pratiwi, Suwardi Endraswara, dan seba- gainya). Turiyo Ragilputra, misalnya, lewat puisi-puisi dan cerpennya sangat kuat menggambarkan sosok manusia yang tertindas; Yan Tohari lewat puisi-puisinya mengaktuali- sasikan kembali filosofi Jawa untuk mengantisipasi makin melunturnya semangat kejawaan di tengah zaman yang

berubah (bdk. Soedjatmoko, 1984:115); dan Krishna Mihar- dja melalui novel dan cerpen-cerpennya mencoba mengkritik sistem nilai budaya priayi yang ingin dihadirkan kembali sebagai salah satu kebanggaan kultural pamong desa (bdk. Suhartono, 1993:15). Hal demikian menunjukkan bahwa dunia kepengarangan Jawa pada dekade terakhir ini telah terjadi perkembangan yang signifikan, terutama dalam hal pandangan yang mampu menepis anggapan buruk tentang sastra Jawa modern. Seperti diketahui bahwa hingga awal tahun 1990-an jumlah pengarang sastra Jawa modern mencapai sekitar 173 orang (Prawoto, 1990:2). Jumlah itu terdiri atas guru/dosen (73 orang), wartawan/redaktur (27 orang), pegawai negeri non-guru (14 orang), dan selebihnya karyawan swasta, pengarang murni, wiraswasta, petani, dan ABRI. Menurut Prawoto (1990:3), profesi guru dan wartawan tetap paling dominan karena mereka (1) senantiasa dituntut untuk banyak membaca, menimba pengetahuan, merenung, dan melontar- kan humor-humor untuk dituangkan dalam karya sastra dan (2) mempunyai waktu yang cukup untuk menjalin pergaulan dengan anak didik, kerabat, dan kawan-kawan (bdk. Soeprapto, 1989:27). Sementara itu, pengarang yang berprofesi sebagai pegawai non-guru juga cukup banyak; hal ini dimungkinkan oleh (1) tingkat intelektual mereka cukup baik karena didukung pendidikan yang cukup, (2) kesempatan mereka menulis terkait dengan informasi yang mereka peroleh lewat institusi tempat mereka bekerja, dan (3) tersedianya waktu untuk berpikir dan merenung karena tersedianya gaji bulanan mereka. Butir (3) erat berkaitan dengan sejarah yang sudah terbentuk dalam budaya Jawa bahwa para bangsawan dan

atau punggawa (pegawai) berperan aktif dalam dunia sastra. Menurut Indriani (1990:4), di berbagai penjuru dunia tampak ada suatu kesemestaan ciri, yaitu bahwa sastra pada mulanya adalah milik raja-raja dan kaum bangsawan. Hal ini dimungkinkan karena dalam memahami sesuatu mereka (raja dan bangsawan) sudah tidak merisaukan masalah kebutuhan makan, sandang, dan papan. Kenyataan inilah yang dapat dipakai sebagai suatu penegasan tentang cukup banyaknya pegawai negeri non-guru yang juga aktif menjadi pengarang sastra Jawa modern. Pengarang Jawa yang berprofesi murni (sebagai pengarang) ternyata sangat sedikit; hal demikian disebabkan oleh suatu kenyataan--seperti telah dikatakan pula di depan-- bahwa pengarang bukan profesi yang menjanjikan baik secara materi maupun popularitas. Gambaran ini memberikan pemahaman bahwa dunia kepengarangan Jawa tidak dapat diandalkan sebagai suatu kerja profesional. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa sastra Jawa modern sebetulnya hanyalah sebuah karya budaya yang kurang mengakar karena profesi ini tidak dapat dipergunakan untuk mencari nafkah yang layak. Sastra Jawa dapat bertahan hidup tidak lebih karena peran patron-patron atau pengayom (maecenas) yang masih ada, baik lembaga profesi maupun pers, baik pemerintah maupun swasta. Itulah sebabnya, profesi pengarang Jawa hanya sebagai sampingan karena mereka umumnya memiliki profesi lain. Bahkan, lewat profesi lain itu mereka justru mempertahankan sastra Jawa agar terus dapat hidup. Demikian gambaran umum pengarang dan kepenga- rangan sastra Jawa modern periode kemerdekaan (1945-- 1997). Dari gambaran tersebut akhirnya dapat dikatakan

bahwa sebagai salah satu komponen penting dalam sistem sastra Jawa modern secara keseluruhan, keberadaan penga- rang sastra Jawa sangat bergantung pada komponen-kom- ponen lain yang melingkupinya. Oleh karena itu, profesi kepengarangan mereka belum mampu menjamin status sosial (dan ekonomi) mereka karena lingkungannya memang tidak memberi harapan akan kemandiriannya.

3.2 Pengayom dan Kepengayoman Sebagaimana dikatakan di depan (lihat subbab 3.1) bahwa keberadaan pengarang sastra Jawa modern tidak lagi ditentukan oleh para pengayom dan kepengayoman keraton seperti halnya para pujangga, tetapi sepenuhnya ditentukan oleh “pasar”. Oleh karena itu, para pengarang sastra Jawa modern tidak menganggap profesi kepengarangannya sebagai suatu kerja yang mapan dan profesional karena pada kenyataannya “pasar” tidak mampu memberikan jaminan sosial-ekonomi yang layak kepada para pengarang. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa sejak awal kemerdekaan hingga sekarang, karya-karya sastra Jawa modern belum memperoleh penghargaan yang semestinya dari masyarakat sehingga para pengarang pun tidak memperoleh jaminan hidup yang layak. Kendati berada dalam kondisi demikian, satu hal yang perlu dicatat ialah bahwa hingga sekarang sastra Jawa modern masih tetap hidup. Hal itu tidak lain berkat uluran tangan pihak-pihak tertentu--baik pemerintah maupun swasta--yang menganggap bahwa sastra Jawa modern meru- pakan bagian dari kebudayaan Jawa yang harus dilindungi, dikembangkan, dan dilestarikan. Sejauh dapat dicatat, pihak- pihak tertentu yang pada periode kemerdekaan memberikan

pengayoman kepada pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern adalah berikut.

3.2.1 Lembaga-Lembaga Pemerintah Dalam penjelasan UUD 1945, Bab XV, Pasal 36, telah ditegaskan bahwa “Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik- baik (misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan seba- gainya), bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara.” Penegasan tersebut berarti bahwa secara yuridis-formal keberadaan (bahasa dan) sastra Jawa modern akan memperoleh perlindungan dari pemerintah. Akan tetapi, karena sistem pemerintahan di Indonesia--baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru--lebih diarahkan pada konsep “persatuan dan kesatuan”, di samping ditopang oleh sebuah slogan plotitis yang berbunyi “nasionalisme”, pada akhirnya upaya perlindungan pemerintah terhadap sastra Jawa modern yang dijamin oleh undang-undang itu cenderung terabaikan. Memang harus diakui bahwa lembaga-lembaga peme- rintah, baik lembaga profesi maupun penerbitan (dan pers), telah memberikan peluang bagi pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern untuk hidup di tengah masyarakatnya (Jawa). Akan tetapi, peluang yang diberikan itu seolah “hanya setengah hati” karena tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Memang diakui bahwa hal ini tidak lepas dari situasi dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Indonesia yang “selalu berada di bawah garis layak sejah- tera”, terutama pada masa atau era Orde Lama, tetapi karena kecenderungan untuk ber-”Bhinneka Tunggal Ika” demikian kuat, dan ini berlangsung terus hingga masa Orde Baru, akhirnya sarana dan prasarana yang memadai yang diharap-

kan akan menjadi penopang kehidupan dan kesuburan sastra Jawa modern tidak terwujud. Sejak awal kemerdekaan, misalnya, Balai Pustaka telah diarahkan pada upaya mendukung program-program pengembangan kebudayaan Indonesia, termasuk di dalamnya sastra. Oleh sebab itu, program-program pengembangan kebudayaan daerah (termasuk sastra Jawa modern) tersi- sihkan. Hal ini terbukti, selama masa pemerintahan Orde Lama, sebagai penerbit pemerintah Balai Pustaka hanya menerbitkan beberapa buah buku karya sastra Jawa modern. Dapat disebutkan, misalnya, Nayaka Lelana (1949) karya Soesanta Tirtapradja, Ca Blaka (1956) karya Kyai Anoraga, Dongeng Sato Kewan (1952) karya Prijana Winduwinata, Sri Kuning (1953) karya R. Hardjowirogo, Jodho kang Pinasthi

(1952) dan Serat Gerilya Sala (1957) karya Sri Hadijaya, O,

(1952) karya Th. Soerata, Sinta (1957) karya Soe-

narna Siswarahardja, Ayu ingkang Siyal (1957) karya Sugeng Cakrasuwignya, Kembang Kanthil (1957) karya Senggono, Kumpule Balung Pisah (1957) karya Saerozi, dan Keman- dang (1958) karya Iesmaniasita. Sementara itu, selama masa pemerintahan Orde Baru, Balai Pustaka masih berada dalam kondisi yang sama. Buku- buku sastra Jawa modern yang diterbitkannya juga hanya beberapa buah, di antaranya Putri Djohar Manik (1968) karya Soewignya, Kalimput ing Pedhut (1976) karya Iesmaniasita, Anteping Tekad (1975) dan Mendhung Kesaput Angin (1980) karya Ag. Suharti, Kembang saka Parsi (1985), Seroja Mekar (1986), dan Putri Messalina (1989) karya Soebagijo I.N., Kridhaning Ngaurip (1986) dan Trajumas (1986) karya Imam Sardjono, Daradasih (1988) karya Hadisutjipto, Dokter Wulandari (1987) karya Yunani, Angin

Anakku

Sumilir (1988) karya Suripan Sadi Hutomo, Usada kang Pungkasan (1987) karya Sukardo Hadisukarno, dan Paseksen (1989) karya Wieranta. Di samping Balai Pustaka, sesungguhnya lembaga- lembaga pemerintah lain yang turut mengayomi pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern cukup banyak, misalnya lembaga-lembaga profesi atau proyek-proyek yang berinduk pada instansi tertentu atau perguruan tinggi. Bentuk atau jenis kepengayoman yang diberikan pun bermacam-macam, misalnya penyediaan dana untuk penerbitan majalah dan buku atau untuk penyelenggaraan kegiatan pementasan dan sayembara penulisan atau pembacaan sastra Jawa. Akan tetapi, upaya tersebut baru berlangsung sejak masa awal pemerintahan Orde Baru; sementara pada masa Orde Lama, lembaga-lembaga itu boleh dikatakan sama sekali tidak berperan membina dan mengayomi pengarang dan karya- karya sastra Jawa modern. Balai Penelitian Bahasa di Yogyakarta, misalnya, sejak tahun 1970-an telah berpartisipasi aktif dalam pem- binaan dan kepengayoman sastra Jawa modern (di samping sastra Indonesia). Selain melakukan berbagai kegiatan penelitian sastra Jawa modern--melalui Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah--, Balai Penelitian Bahasa yang sering bekerja sama dengan instansi lain seperti Taman Budaya (Dewan Kesenian) Yogyakarta dan perguruan tinggi (Fakultas Sastra UGM dan FPBS IKIP) juga telah memberikan fasilitas tertentu (dana dan sarana-sarana lain) untuk kegiatan diskusi, sarasehan, lomba, bengkel sastra, dan sebagainya bagi para pengarang sastra Jawa modern. Di samping memberikan dana untuk penerbitan buku antologi karya para peserta bengkel sastra, di antaranya Rembuyung

(1997) yang memuat guritan dan macapat, sejak tahun 1992 Balai Penelitian Bahasa juga menjadi penyangga tetap kehidupan SSJY (Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta), yakni dengan memberikan dana untuk penerbitan majalah sastra Pagagan. Di samping Balai Penelitian Bahasa, Dewan Kesenian dan Taman Budaya Yogyakarta juga cukup berperan dalam memberikan kepengayoman bagi pengarang dan karya sastra Jawa modern. Lewat kegiatan Festival Kesenian yang dise- lenggarakan sejak tahun 1988, misalnya, Dewan Kesenian Yogyakarta selalu mengalokasikan dana untuk pelaksanaan kegiatan sastra Jawa modern. Bahkan, kegiatan itu tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan diskusi, pementasan, atau pemberian hadiah sastra, tetapi juga penerbitan buku antologi puisi dan cerpen. Dapat disebutkan, misalnya, Antologi Geguritan lan Cerkak (1991), Rembulan Padhang ing Ngayogyakarta (1992), Cakra Manggilingan (1993), Pangilon (1994), dan Pesta Emas Sastra Jawa (1995). Sementara itu, walaupun tidak begitu aktif, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) juga menunjukkan peranannya dalam kepengayoman sastra Jawa modern. Kegiatan yang pernah dilakukan oleh DKS yang bekerja sama dengan Jaya Baya adalah lomba penulisan cerpen dan puisi (1974). Sejauh dapat diamati, bentuk kepengayoman FPBS IKIP Surabaya ter- hadap para pengarang Jawa dan karya-karyanya belum dapat diketahui, walaupun memang ada beberapa buku kumpulan esai yang diterbitkan, di antaranya Problematik Sastra Jawa (1988) karangan Suripan Sadi Hutomo dan Setya Yuwono Sudikan. Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Proyek Pem- binaan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Tengah, keduanya di

Semarang, dan Pusat Pengembangan Kebudayaan Jawa Tengah (PPKJT) di Surakarta, agaknya juga berperan menjadi pengayom para pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern. Pada tahun 1996, misalnya, DKJT menye- lenggarakan lomba penulisan novel Jawa dengan para pemenangnya (1) Sindhen karya Khrisna Mihardja, (2) Suket Teki karya Suwardi Endraswara, dan (3) Sumarni Prawan saka Wonogiri karya Widi Widajat. Sementara itu, sejak akhir tahun 1970-an, Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Tengah juga menyediakan dana untuk pener- bitan novel Titi (1978) karya Soedharma K.D., Antologi Gegurit (Sewindu Pustaka Candra) (1988/1989), dan penerbitan majalah dua bulanan Pustaka Candra (sejak 1981). Selain itu, sejak awal tahun 1970-an, di samping sering menyediakan dana untuk hadiah lomba penulisan puisi, cerpen, dan novel, PKJT di Surakarta juga memberikan dukungan dan pengayoman bagi para pengarang yang tergabung dalam Sanggar Sastra Sasanamulya. Bahkan, PKJT telah menerbitkan buku antologi Sajak-Sajak Jawi (1975) suntingan St. Iesmaniasita, Kidung Balada (1980) karya Suripan Sadi Hutomo, novel Penganten (1979/1980) karya Suryadi W.S., antologi guritan Tilgram (1982) karya Bambang Sadono S.Y., Kertas Karbon Ireng (1982) karya Indrasto, dan Guritan-Guritan (1982) karya Ruswardiyatmo Hs. Di wilayah Jawa Tengah, kehadiran UNDIP dan IKIP juga cukup penting. Pada tahun 1983, misalnya, Fakultas Sastra UNDIP telah mendanai penerbitan antologi guritan Lintang-Lintang Abyor suntingan Susatya Darnawi. Semen- tara itu, lembaga penerbitan di IKIP Negeri Semarang, yakni IKIP Semarang Press, telah menerbitkan kumpulan puisi,

cerpen, dan novelet Anak Lanang (1993) karya Bu Titis (Raminah Baribin). Di samping lembaga-lembaga seperti telah disebut- kan, keberadaan pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern juga ditopang oleh media elektronik, terutama radio. Bentuk pembinaan dan kepengayoman yang mereka berikan adalah dengan penyelenggaraaan siaran sandiwara berbahasa Jawa dan pembacaan buku sastra. Sebagaimana diketahui bahwa walaupun rutinitasnya tidak dapat dijamin, setidaknya RRI Semarang, RRI Surakarta, RRI Purwokerto, RRI Nusantara II Yogyakarta, bahkan juga RRI di hampir seluruh karesidenan (dan kabupaten?) di Jawa Tengah dan Jawa Timur telah berperan memberikan ruangan yang cukup bagi pembinaan dan pengembangan sastra Jawa modern. Demikian antara lain lembaga-lembaga pemerintah, baik lembaga profesi maupun lembaga penerbitan (dan pers), yang selama ini memberikan pembinaan dan pengayoman pada para pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern. Hanya saja, pada umumnya, berbagai lembaga tersebut sering mengalami pasang-surut karena keberadaannya bergantung sepenuhnya pada kondisi sosial, politik, dan ekonomi pemerintah (negara); dalam arti bahwa jika kondisi politik sedang “tidak beres” atau kondisi ekonomi dan kekuangan negara sedang “tidak baik”, secara otomatis kapasitas perlin- dungan mereka juga mengalami kemacetan. Hal demikian misalnya akan tampak pada hilang atau menurunnya jumlah dana yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan sastra Jawa modern. Kendati demikian, masyarakat Jawa sebagai pemilik sah sastra Jawa modern perlu bersyukur karena sampai saat ini pemerintah masih membuka peluang bagi upaya

pembinaan dan pengembanngan kebudayaan Jawa umumnya dan sastra Jawa modern khususnya.

3.2.2 Lembaga-Lembaga Swasta Dibandingkan dengan lembaga-lembaga pemerintah, lembaga-lembaga swasta baik lembaga profesi maupun penerbitan buku dan pers tampaknya relatif lebih menjan- jikan. Di tengah ketidakmampuan penerbit Balai Pustaka menerbitkan buku-buku karya sastra Jawa modern, beberapa penerbit swasta justru berlomba-lomba untuk mencetak dan menerbitkan karya sastra Jawa modern. Dapat disebutkan, misalnya Jaker, Kedaulatan Rakyat, PT Lawu, Keluarga Subarno, Fa. Nasional, Dua-A, Fa. Triyasa, Kondang, Kancil Mas, Sasongko, Kuda Mas, Sinta Riskan, Puspa Rahayu, Djaja, Dharma, Keng, dan Dawud. Berkat para penerbit swasta inilah, pada sekitar tahun 1960-an, terjadi eksplosi novel panglipur wuyung. Bahkan, pada tahun 1977, penerbit swasta seperti Pustaka Jaya, yang biasanya hanya menye- diakan dana untuk penerbitan buku-buku berbahasa Indo- nesia, juga menerbitkan dua buah novel Jawa, yaitu Tunggak- Tunggak Jati karya Esmiet dan Tanpa Daksa karangan Soedharma K.D. Sejak tahun 1980-an, pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern agaknya juga memperoleh pengayoman yang cukup baik dari para penerbit swasta profesional. Penerbit Sinar Wijaya Surabaya, misalnya, telah bersedia menerbitkan Antologi Puisi Jawa Modern: 1940--1980 (1984) suntingan Suripan Sadi Hutomo, Sintru Oh Sintru (1993) karya Suryadi W.S., Kembang Alang-Alang (1993) karya Margareth Widhy Pratiwi, Nalika Prau Gonjing (1993) karya Ardini Pangastuti, Kerajut Benang Ireng (1993) karya

Harwimuka, dan Kubur Ngemut Wewadi (1993) karya A.Y. Suharyono. Kedaulatan Rakyat, selain memberikan dana khusus untuk penerbitan majalah berbahasa Jawa Mekar Sari, juga menerbitkan beberapa buku sastra Jawa, antara lain Sandiwara Jenaka KR karangan Kus Sudyarsana. Sementara itu, CV Citra Jaya Surabaya menerbitkan Suromenggolo Warok Ponorogo (1983, 3 jilid) karangan Purwowijoyo; CV Fajar Harapan Surabaya menerbitkan sandiwara Pamor Keris Empu Gandring (1983, 1985) karya Tamsir A.S.; Bina Ilmu Surabaya menerbitkan Pawestri Telu (1983) dan Asmarani (1983) karya Peni, Ombak Sandyakalaning, Wong Wadon Dinarsih, dan Pacar Gading (1991) karya Tamsir A.S.; Adhigama Semarang menerbitkan Nalika Srengenge Durung Angslup (1996) karya Ardini Pangastuti; dan Pusaka Nusatama di Yogyakarta menerbitkan Kristal Emas (1994) dan Jangka (1994) karya Suwardi Endraswara, Lintang saka Padhepokan Gringsing (1994) karya A.Y. Suharyono, dan Ratu (1995) karya Krishna Mihardja. Di antara sekian banyak lembaga penerbitan yang ada, agaknya peran kepengayoman Yayasan Penerbitan Djojo Bojo di Surabaya dapat dikatakan paling penting. Di samping menerbitkan majalah berbahasa Jawa Jaya Baya yang sampai sekarang masih eksis, yayasan tersebut juga telah mener- bitkan beberapa novel Jawa, di antaranya Sumpahmu Sumpahku (1993) karya Fc. Pamuji, Timbreng (1994) karya Satim Kadarjono, Pethite Nyai Blorong (1996) dan Sanja Sangu Trebela (1996) karya Peni (Suparto Brata), Mawar- Mawar Ketiga (1996) karya St. Iesmaniasita, dan Nalika Langite Obah (1997) karangan Esmiet. Sementara itu, Pustaka Pelajar Yogyakarta, yang biasanya lebih sering menerbitkan buku-buku berbahasa Indonesia, juga turut andil

menerbitkan sastra Jawa, di antaranya Rembulan Padhang ing Ngayogyakarta (1992), Pesta Emas Sastra Jawa (1995), dan Pisungsung (1997). Di samping lembaga-lembaga penerbitan buku,

pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern sebagian juga memperoleh pengayoman dari kelompok-kelompok, forum kajian, bengkel, dan sanggar. Bengkel Muda di Surabaya, misalnya, telah menerbitkan antologi Gurit Panantang (1993) karangan Widodo Basuki; Forum Kajian Kebudayaan Sura- baya telah menerbitkan antologi Pisungsung (1995) karya enam penggurit Surabaya; Kelompok Seni Rupa Bermain Surabaya menerbitkan antologi puisi Lading (1994) karya Bene Sugiarto; dan Sanggar Sastra Triwida mener-bitkan antologi cerpen Esuk Rantak-Rantak (1986), antologi esai Bayar (1992), dan Antologi Geguritan Festival Penyair Sastra Jawa Modern (1995). Sebagaimana diketahui bahwa bentuk kepengayoman sastra Jawa modern oleh lembaga penerbitan dan pers swasta tidak hanya berupa penerbitan dan penyebarluasan karya- karya sastra, tetapi juga berupa penyelenggaraan lomba dan pemberian hadiah kepada para pengarang. Panjebar Semangat

di Surabaya, misalnya, yang telah berperan sejak masa

sebelum kemerdekaan, selain rutin menerbitkan majalah, juga

sering mengadakan lomba dan memberikan hadiah sastra. Pada tahun 1958, hadiah sastra diberikan kepada Suparto Brata, Basuki Rakhmat dan Any Asmara sebagai pemenang

lomba penulisan novel. Tahun 1989, hadiah diberikan kepada

Sri Purnanto sebagai novelis terbaik. Tahun 1990 dan 1991,

hadiah diberikan kepada Turiyo Ragilputra sebagai penyair dan esais terbaik. Tahun 1992, hadiah diberikan kepada Suharmono Kasiyun sebagai penulis novel terbaik. Sementara

itu, pada tahun 1993, 1995, dan 1996, hadiah diberikan kepada Djajus Pete sebagai cerpenis terbaik, Suryanto Sastroatmojo sebagai penyair terbaik, dan Jayus Pete sebagai cerpenis terbaik. Di samping Panjebar Semangat, majalah lain seperti Mekar Sari, Djaka Lodang, Jaya Baya, Candrakirana, dan Jawa Anyar juga berbuat hal yang sama. Pada umumnya, bentuk perlindungan dan kepengayoman yang mereka lakukan adalah dengan menyelenggarakan lomba penulisan sastra sekaligus memberikan hadiahnya. Perlu dicatat bahwa ada beberapa lembaga swasta profesi yang berperan pula dalam memberikan perlindungan kepada pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern. Lembaga-lembaga profesi itu antara lain Javanologi, Lem- baga Studi Jawa, Yayasan Triwida, dan Yayasan Rancage. Namun, di antara lembaga-lembaga tersebut, yang paling menarik perhatian publik sastra Jawa adalah Yayasan Rancage pimpinan Ajip Rosidi, seorang penyair Indonesia asal Sunda yang kini tinggal di Jepang. Di samping secara rutin (sejak 1993) memberikan Hadiah Sastra Rancage kepada pengarang terbaik dan atau tokoh (pejuang) yang paling berjasa bagi sastra Sunda dan Jawa, belakangan Yayasan Rancage juga memberikan hadiah kepada pengarang sastra Bali. Beberapa pengarang dan pejuang sastra Jawa yang telah memperoleh Hadiah Sastra Rancage di antaranya adalah Soebagijo I.N. dan H. Karkono Kamajaya (1994), Pamudji (1994), Muryalelana (1995), Satin Kadarjono (1996), Djaimin K. (1997), Esmiet dan Anjar Any (1998), dan St. Iesmaniasita (1999). Pada umumnya, para pengarang (pemenang) ini memperoleh hadiah uang sebesar dua hingga dua setengah juta rupiah.

Sementara itu, bentuk kepengayoman yang diberikan oleh Javanologi di Yogyakarta juga berupa hadiah sastra, tetapi jumlah nominalnya relatif kecil. Hal demikian sama dengan bentuk kepengayoman yang diberikan oleh Yayasan Triwida di Tulungagung, Jawa Timur. Sejak tahun 1990, misalnya, Yayasan Triwida secara rutin menyeleksi puisi, cerpen, dan novel terbaik yang telah dimuat di berbagai majalah berbahasa Jawa. Pada waktu itu, hadiah diberikan kepada Suryadi W.S. sebagai penulis novel terbaik, Agus Priyadi, Turiyo Ragilputra, dan Djaimin K. sebagai penulis puisi terbaik. Untuk jenis cerpen, hadiah diberikan kepada Suryadi W.S. dan Tamsir A.S. Pada tahun 1995, hadiah juga diberikan oleh Yayasan Triwida kepada Hari Lamongan dan Turiyo Ragilputra sebagai penyair terbaik dan kepada Djajus Pete sebagai cerpenis terbaik. Hal tersebut berbeda dengan Lembaga Studi Jawa yang berdomisili di Tembi, Bantul, Yogyakarta. Lembaga ini tidak memberikan hadiah sastra, tetapi hanya menerbitkan beberapa karya sastra Jawa, di antaranya novel Astirin Mbalela (1995) karya Suparto Brata dan antologi puisi Siter Gading (1996) karya Djaimin K. Seperti halnya media-media radio milik pemerintah seperti RRI, media elektronik radio swasta turut pula memberikan ruang bagi pembinaan dan pemasyarakatan sastra Jawa modern, terutama dalam bentuk penyiaran sandiwara berbahasa Jawa atau pembacaan buku sastra Jawa. Berbagai radio swasta yang biasa menyiarkan acara sandi- wara dan pembacaan buku sastra Jawa modern adalah Radio Retjo Buntung (Yogyakarta), Radio Sumasli (Banyumas), Radio Konservatori (Surakarta), Radio Indah (Sragen), Radio Swara Kranggan Persada, dan masih banyak lagi. Materi siaran biasanya diambil dari cerbung atau cerpen Jawa yang

dimuat di majalah Jaya Baya, Djaka Lodang, Panjebar Semangat, atau Mekar Sari. Di samping itu, ada juga karya para pengarang yang tidak dipublikasikan di majalah tetapi disiarkan lewat media tersebut. Bahkan, banyak para pendengar yang mengirimkan karyanya untuk dibacakan di radio. Hal ini, misalnya, di jumpai di Retjo Buntung Yogyakarta (Mardianto dkk., 1999). Demikianlah beberapa lembaga pengayom (maece- nas) yang selama ini telah memberikan perlindungan dan kepengayoman kepada para pengarang, karya-karya, dan sanggar-sanggar atau organisasi pengarang sastra Jawa modern. Dengan hadirnya berbagai lembaga pengayom ter- sebut, baik lembaga pemerintah maupun swasta, baik lem- baga profesi maupun penerbitan buku dan pers, sesung- guhnya terbuka peluang bagi para pengarang dan karya-karya sastra Jawa modern untuk lebih berkembang baik secara kualitas maupun kuantitas. Akan tetapi, kenyataan menun- jukkan bahwa pada umumnya bentuk kepengayoman yang diberikan oleh berbagai maecenas tersebut hanyalah bersifat temporer sehingga tidak mengherankan jika berbagai organi- sasi pengarang cepat mati, kegiatan sastra mengalami stag- nasi, dan berbagai majalah berbahasa Jawa pun jarang mampu bertahan lebih lama. Oleh karena itu, dapat dimak- lumi jika para pengarang sastra Jawa tidak dapat bekerja secara profesional akibat adanya berbagai macam kendala dan hambatan.

3.3 Penerbit dan Penerbitan Sesuai dengan pokok-pokok pikiran yang dikemu- kakan di dalam bab pendahuluan, pembicaraan mengenai penerbit dan penerbitan ini mencakupi cara-cara yang ditem-

puh oleh penerbit dalam mendapatkan, mengubah, meng- ganti, atau mengontrol informasi yang diprosesnya. Yang dimaksud dengan informasi adalah apa yang disam-paikan oleh pengarang dan diterima oleh pembaca karya sastra. Pokok pembicaraan itu penting karena cara-cara penerbitan dan penyebarluasan karya sastra mempengaruhi makna, bentuk, dan kegunaannya dalam masyarakat (Damono, 1993:

56). Oleh sebab itu, pembicaraan berikut dipusatkan pada cara-cara penerbitan dan penyebarluasan karya-karya sastra Jawa modern periode kemerdekaan (1945--1997). Situasi dan kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia yang berantakan sejak pendudukan Jepang dan berlanjut dengan terjadinya inflasi dan krisis ekonomi sampai dengan tahun 1952 akibat perang kemerdekaan (Poespo- negoro dan Notosusanto, 1990:89--175) menyebabkan keti- dakmampuan penerbit untuk memproduksi buku. Balai pustaka --sebagai penerbit pemerintah-- kala itu juga meng- alami hal yang sama meskipun tetap mengadakan aktivitas (Quinn, 1995:29). Terbitnya buku Karti Basa (tata bahasa Jawa) dan Kasusastran Jawi jilid I (kesusastraan Jawa) oleh Kementerian PP dan K (1946) sebagai konsumsi sekolah guru dan sekolah-sekolah yang sederajat merupakan prestasi tersendiri bagi pemerintah dalam era perang kemerdekaan tersebut. Di samping itu, terbitnya kisah perjalanan modern dalam bentuk macapat berjudul Nayaka Lelana (1949) karya Susanto Tirtoprodjo oleh Sari Pers, Jakarta, dan dongeng Kancil Kepengin Mabur (1951) karya Surjosubroto dan Arjoputranto oleh B.P. Nasional, Yogyakarta, merupakan sumbangsih yang sangat berharga bagi sejarah sastra Jawa. Sesuai dengan instruksi Menteri PP dan K tanggal 16 Desember 1950, buku Nayaka Lelana berhuruf Latinitu

dipakai sebagai bahan bacaan bagi siswa SR, SGB, SGA, SGTK, dan SMA (Sastro, 1949:34). Sementara itu, kehadiran majalah Jaya Baya (1 Desember 1945) di Kediri, Api Merdika (1945) dan Praba (8 September 1949) di Yogyakarta, dan terbitnya kembali Panjebar Semangat (1 Maret 1949) di Surabaya yang, antara lain, memuat puisi Jawa modern (guritan) dan cerita pendek Jawa (Hutomo, 1975:38--62) tidak mampu membangkitkan sastra Jawa. Upaya Koesoema Soetan Pamoentjak selaku pimpinan Balai Pustaka (1948--1950) dengan program lima pasalnya, yaitu (1) mengakhiri ketertinggalan akibat keva- kuman selama enam tahun (sejak zaman Jepang) dengan mencetak ulang buku-buku yang berguna bagi masyarakat, (2) memperkenalkan sastra dunia kepada masyarakat, (3) mengemukakan berbagai pendapat para ahli dalam dan luar negeri tentang kebudayaan, (4) menerbitkan karya-karya baru para pengarang (sastra, ilmu pengetahuan, dan budaya), serta (5) mengupayakan bacaan untuk pemuda dan anak-anak (Harahap, 1997:36), juga belum berhasil menerbitkan karya baru sastra Jawa. Ketika pendidikan formal mulai ditertibkan tahun 1950, ada titik-titik terang ke arah penerbitan buku sastra Jawa sebagai sarana penunjang kegiatan belajar-mengajar. Namun, sayang bahwa sarana penunjang--yang berupa buku- buku ajar dan buku-buku bacaan yang sesuai dengan alam kemerdekaan--itu tidak dapat dipenuhi oleh Balai Pustaka karena lembaga tersebut dipecah menjadi dua bidang sehing- ga kehilangan otoritasnya secara langsung dari Kementerian PP dan K (Harahap, 1997:42). Dengan hilang-nya otoritas itu, sampai dengan tahun 1952, hanya ada dua judul karya baru sastra Jawa modern yang dapat diterbitkan oleh Balai

Pustaka, yaitu novel O, Anakku …! karangan Th. Suroto dan Jodho kang Pinasthi karangan Sri Hadidjojo, serta cerita satire Dongeng Sato Kewan karangan Prijana Winduwinata. Setelah dua bidang tersebut disatukan kembali dalam wadah Balai Pustaka tahun 1953, lembaga itu menerbitkan novel Sri Kuning karangan Hardjowirogo (1953). Pening- katan penerbitan karya sastra Jawa modern terjadi ketika lembaga itu dikembalikan fungsinya sebagai penerbit buku- buku sastra dan kebudayaan. Di bawah kendali Sudira (1955- -1963), pada tahun 1957 Balai Pustaka menerbitkan novel Ayu ingkang Siyal karangan Soegeng Tjakarasoewignja, Kembang Kanthil karangan Senggono, Kumpule Balung Pisah karangan A. Saerozi A.M., dan Ngulandara (cetakan III) karangan Margana Djajaatmaja, disusul dengan pener- bitan antologi cerita pendek Kidung Wengi ing Gunung Gamping karangan Iesmaniasita (1958) dan antologi cerita pendek (17 judul) dan guritan (5 buah) Kemandhang sun- tingan Senggono (1958), serta kumpulan Dongeng Lucu gubahan Suwignyo dkk. (1958). Di samping itu, Balai Pustaka juga menerbitkan karya tembang macapat. Misalnya, Nayaka Lelana edisi II (Susanto Tirtoprodjo, 1955) dengan aksara Jawa, Sapu Ilang Suhe edisi II (Hardjowirogo, 1960) yang dianggap sebagai novel oleh Subalidinata (1984:32), Cablaka karangan Kyai Anoraga (1960), dan Raden Kamandaka (anonim, 1961). Sesudah kedudukan Sudira digantikan oleh M. Hoetaoeroek (1963--1967), kemudian Soejatmo (1967--1974), dengan perubahan status Balai Pustaka dari dinas menjadi perusahaan negara (PN) sejak 27 Juli 1963, karya sastra Jawa modern terbitan Balai Pustaka hanya bertambah dua judul novel cetak ulang (edisi II) Kembang Kanthil (Senggono, 1965) dan

Kumpule Balung Pisah (Saerozi, 1966), dua judul roman mancanegara Putri Parisade dan Putri Johar Manik saduran Soewignja (1968), dan karya tradisional berbentuk macapat Serat Jakasura-Tresnawati karangan Prijana Winduwinata (1966). Dengan demikian, selama hampir 30 tahun (1945-- 1974), Balai Pustaka hanya menerbitkan (sekitar) 17 judul karya sastra Jawa modern (termasuk 4 judul cetak ulang, 2 judul roman saduran, 1 judul cerita satire), dan beberapa judul cerita tradisional. Jumlah itu jelas jauh tidak seimbang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk etnik (penutur bahasa) Jawa tahun 1961 yang mencapai 45% dari sekitar 97,02 juta jiwa penduduk Indonesia. Dari sekitar 97,02 juta jiwa itu ada kira-kira 46,7% jumlah penduduk usia di atas 10 tahun yang melek huruf dengan rincian 59,8% untuk pria dan 34,1% untuk wanita, pada tahun 1971 meningkat menjadi 72% untuk pria dan 50,3% untuk wanita, serta pada tahun 1974 lebih meningkat lagi di samping terjadi peningkatan jumlah penduduk menjadi sekitar 130 juta jiwa (Ricklefs, 1995:356--369; 433--434). Di samping menerbitkan buku, sejak tahun 1951 Balai Pustaka diserahi tugas untuk mencetak majalah bulanan Medan Bahasa yang dikelola oleh Balai Bahasa, Direktorat Kebudayaan, Kementerian PP dan K. Ketika masih bernama Medan Bahasa dan kemudian berkembang dengan penerbitan edisi khusus Medan Bahasa Bahasa Jawa mulai bulan Januari 1954 (sebagai penjelmaan suplemen stensilan masalah bahasa dan sastra Jawa sejak bulan Agustus 1952), karya sastra Jawa modern, seperti guritan dan cerita pendek, belum mendapat perhatian oleh majalah tersebut. Baru setelah Medan Bahasa Bahasa Jawa diubah namanya menjadi Medan Bahasa Basa Jawi, guritan mulai mendapat tempat meskipun masih ter-

batas. Namun, majalah-majalah yang dikelola oleh Balai Bahasa itu hanya mampu bertahan sampai dengan tahun 1960 akibat krisis ekonomi dan moneter. Berikut contoh majalah Medan Bahasa Basa Jawi.

sampul majalah Medan Bahasa Basa Jawi

Tersisihnya karya sastra Jawa modern dari penerbitan Balai Pustaka tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang menekankan peningkatan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara serta fungsinya sebagai bahasa resmi demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai contoh, pemerintah daerah di Yogyakarta sejak awal kemerdekaan telah mengambil pra- karsa untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi resmi menggantikan bahasa Jawa di kalangan pemerintahan (Ricklefs, 1995:330) padahal kota Yogyakarta merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa. Kebijakan tersebut menyebabkan semakin terpuruk- nya posisi bahasa Jawa, seperti diungkapkan oleh Sumirat (1952:41) dalam tembang Megatruh bahwa wak-ngong ‘diriku’ (yang dimaksud adalah “bahasa Jawa”) bernasib buruk sejak zaman kolonial.

Ing samangke jaman republik linuhung, datan ana ingkang nolih, mring wak-ngong kang lagi kojur, wiwit dhek jaman koloni, tetep manggih lakon awon. (Medan Bahasa Nomor 8, 1952:41)

‘ Sekarang ini zaman republik termasyur, tidak ada yang menoleh, pada diriku yang sedang terpuruk, sejak zaman kolonial, tetap mengalami penderitaan.’

Bahasa Jawa yang bernasib buruk itu sampai-sampai diratapi, ditangisi oleh Siswamartana (1958:34) melalui sonetanya ”Nangis Ngglolo” ‘Menangis Keras’ dalam Medan Bahasa Basa Jawi, Nomor 12, tahun III, 1958, seperti tercermin dalam kutipan penggalan awal bait berikut.

Genea kowe basa Jawa Dhek sewu taunan kepungkur Kondhang kombul kawentar kasuwur Saiki surem tanpa cahya.

‘ Kenapa kamu bahasa Jawa Ketika seribu tahunan yang lalu Tersohor terunggul terkenal termasyur Kini suram tanpa cahaya.’

Semakin terpuruknya posisi bahasa Jawa memang tidak dapat dihindarkan karena situasi dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung dan tidak menguntungkan. Situasi dan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya menjelang tahun 1960, misalnya, amat rawan akibat terjadinya persaingan elit politik (Quinn, 1995:32) dan merajalelanya korupsi yang berdampak terhadap ketidakstabilan pemerintahan. Setelah selama tujuh tahun (1950--1957) para elit politik gagal membangun demokrasi, sejak awal era “demokrasi terpim- pin“ (1959) terjadi lagi krisis ekonomi. Dampaknya, pada tahun 1960 timbul gelombang inflasi yang serius. Keadaan

yang semakin gawat terjadi pada tahun-tahun berikutnya-- karena rongrongan PKI dan ormas-ormasnya--sehingga menimbulkan ketidakstabilan pemerintahan. Akibatnya, pere- konomian terperosok ke dalam hiperinflasi (yang mencapai 134 % pada bulan Februari 1964) dan bangsa Indonesia hanyut ke dalam radikalisme. Bahkan, pada tahun 1965 struktur sosial, politik, dan ekonomi hampir runtuh dan mencapai puncaknya secara tragis ketika terjadi pemberon- takan G 30 S/PKI (Poesponegoro dan Notosusanto, 1990:

366--386; Ricklefs, 1995:380--430). Dalam suasana perekonomian yang amat buruk tersebut banyak penerbit besar yang biasa memproduksi buku-buku dan majalah yang mahal sulit bertahan (Quinn, 1995:32). Sebagai penerbit pemerintah, Balai Pustaka juga terkena imbasnya sehingga mengalami pasang surut, terutama dengan kebijakan yang membatasi penerbitan buku-buku berbahasa daerah. Pembatasan itu lebih diperburuk oleh sikap penerbit Balai Pustaka--sebagai suatu sistem--yang cende- rung pasif, yakni menanti karangan yang masuk, kemudian menimbang dan--kalau perlu--menyensornya untuk selanjut- nya menerbitkan jika tidak bertentangan dengan kebijak- sanaannya (Damono, 1993:56). Hal itu dapat diketahui dari minimnya terbitan karya sastra Jawa modern selama hampir 40 tahun (1945--1974) yang hanya berjumlah (sekitar) 17 judul.

Sementara itu, kehadiran majalah Jaya Baya, Api Merdika (yang tidak berumur panjang), Praba, dan Panjebar Semangat--ketika Balai Pustaka mengalami kevakuman dalam penerbitan sastra Jawa modern (1945--1950)--diikuti dengan terbitnya Caraka (Januari 1950) di Semarang, Waspada (Februari 1952) dan Mekar Sari (Maret 1957) di

Yogyakarta, Pustaka Roman (1954), Crita Cekak (Agustus 1955), Cenderawasih (awal tahun 1957), Gotong Royong (1963), dan Kekasihku di Surabaya, serta Candrakirana (Januari 1964) di Surakarta (Hutomo, 1975:16--17; Triyono dkk., 1988:19--42), turut menyemarakkan kehidupan sastra Jawa. Ada 17 cerita pendek dan 5 guritan dalam Panjebar Semangat, Waspada, dan Crita Cekak tahun 1949--1956 yang dipilih dan diambil oleh Senggono untuk diterbitkan dalam bentuk buku antologi berjudul Kemandhang (1958). Khusus Pustaka Roman dan Crita Cekak, sesuai dengan isinya, merupakan majalah sastra dengan pemimpin redaksi Soebagijo I.N. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika karya-karya redaktur itu menghiasi majalah yang dipimpinnya. Di samping itu, karya Any Asmara dan Poerwadhie Atmodihardjo banyak pula tampil dalam majalah tersebut karena mereka merupakan pengarang yang produktif dan secara kebetulan menjadi anggota redaksi Pustaka Roman. Sesuai dengan slogan yang terpampang dalam sam- pulnya, Pustaka Roman merupakan majalah “wacan minang- ka panglipur wuyung” ‘bacaan sebagai pelipur lara’, ‘bacaan sebagai penghibur duka’. Slogan itu--yang kemudian diper- kuat oleh sepuluh roman serial karya Any Asmara berjudul Panglipur Wuyung terbitan Jaker (1961--1965)--pada gilirannya dipakai untuk memberikan predikat atau sebutan kepada roman-roman tipis ukuran saku yang terbit tahun 1950-an hingga tahun 1970-an. Seiring dengan terbitnya beberapa majalah berbahasa Jawa tersebut, terbit pula roman-roman tipis (sekitar 40 halaman) berukuran kecil (rata-rata 11x15 cm) yang kemudian diidentifikasi sebagai roman panglipur wuyung ‘penglipur lara’. Buku-buku kecil dan tipis--dengan kualitas

dan mutu cetakan yang rendah sehingga harganya murah, serta tema cerita yang cenderung mengeksploitasi masalah percintaan sehingga mutu sastranya dianggap rendah--itu juga disebut roman picisan (Hutomo, 1975:70; Ras, 1985:23). Hadirnya roman picisan itu berbarengan dengan pemben- tukan wadah pengarang sastra Jawa bernama Sanggar Seniman di Madiun tahun 1955. Sangar itu dikelola oleh, antara lain, Sahid Langlang (ketua), Susilomurti, Murya- lelana, St. Iesmaniasita, dan Poerwadhie Atmodihardjo. Secara historik, roman-roman pelipur lara (berbentuk buku) sudah hadir sejak tahun 1953 dengan terbitnya Gerombolan Gagak Mataram karangan Any Asmara (yang sebelumnya berupa cerita bersambung dalam Panjebar Semangat tahun 1951--1952) dan Sawunggaling karangan Poerwadhie Atmodihardjo produksi penerbit Panyebar Semangat. Tahun-tahun berikutnya, roman-roman serupa ber- munculan sehingga terjadi eksplosi (peledakan) sampai dengan tahun 1968 yang mencapai puncaknya pada tahun 1966 (Ras, 1985:27). Sampai dengan tahun 1970-an, produksi roman pelipur lara mencapai jumlah lebih dari 300 judul (bandingkan Quinn, 1995:38) dengan rekor produk- tivitasnya dipegang Any Asmara (72 judul) dan disusul Widi Widajat (sekitar 60 judul) (Cantrik Banyumas, 1983:19--28; Dojosantoso, 1990:38). Ketika roman picisan itu sedang menjamur, Trim Sutidja berhasil membukukan kumpulan guritan yang diberi judul Pupus Cindhe (1966). Pupus Cin- dhe merupakan buku pertama yang khusus berisi kumpulan guritan.

Melimpahnya roman pelipur lara atau roman picisan tahun 1960-an erat kaitannya dengan munculnya para penga- rang kala itu. Selain pengarang-pengarang yang sudah ada

sebelumnya seperti Any Asmara, Poewardhie Atmo-dihardjo, Widi Widajat, dan Soedarma K.D., pengarang baru ber- munculan bagai cendawan tumbuh di musim hujan (Cantrik Banyumas, 1983:14). Bahkan, Sri Hadidjaja--yang semula menulis novel cukup baik berjudul Jodho kang Pinasthi (1952) dan Serat Gerilya Sala (1957)--ikut larut menye- marakkan kehadiran roman picisan dengan karyanya, antara lain, Ir. Winata (1963), Napak Tilas (1963), dan Dewi Anjar Mirah (1965), sehingga grafik kualitas karya-karyanya menunjukkan penurunan (Darusuprapta, 1969:25; Ras,

1985:25).

Bermunculannya para pengarang yang menghasilkan ratusan roman picisan tersebut diikuti dan dibarengi oleh kehadiran penerbit-penerbit kecil di beberapa kota. Dari hasil survei tahun 1994--1995 dapat dicatat 72 penerbit roman picisan yang tersebar di Surakarta (31 penerbit), Yogyakarta (21 penerbit), Surabaya (18 penerbit), Semarang (10 pener- bit), Bandung (1 penerbit), dan Tasikmalaya (1 penerbit). Penerbit yang berdomisili (1) di kawasan Surakarta adalah Aneka Buku, Bacaan Buku, Burung Wali, Dahan Lima, Ejema, Firma Nasional, Gunung Lawu, Indah Jaya, Kancil Mas, Kartika, Keluarga Subarno (KS), Kuda Mas, Kusuma Jaya, Lauw, Maju Mas, Muria Press, Rilan, Romantika, Sasongko, Sehat Asli, Selamat, Sri Cahya, Subur, TJT, Tri Aksara, Trikarsa, Triyasa, UK, Utama SD (milik Utama D.S.), dan Widi; (2) di kawasan Yogyakarta adalah Berdikari, Dewaruci, Dua-A (milik Any Asmara), Ganefo, Habiyasa, Hanindita, Jaker, Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Lukman, Mataram, Muria, Nasional, Nefos, Puspa Rinonce, Putra, Rahayu, Rini, Sinta-Riskan, Taman Pustaka Kristen, dan USA; (3) di kawasan Surabaya adalah Ariyati (milik Suparto

Brata), Ariwarti, Ekspres, Cermin, Jaya Baya, Karya, Karya Anda, Kencana, Marfiah, MK, Muawiyah, Mutiara Press, Panyebar Semangat, Rangkah Mas, Tembok Mas, Tri Murti, Tulada, Usaha Baru, dan Usaha Modern; (4) di kawasan Semarang adalah Adi Jaya, Dawud, Dharma, Jaya, Keng, Kondang, Loka Jaya, Panca Setya, Ramadhani, dan Usaha Tama; (5) di kawasan Bandung adalah Lembaga Literatur Baptis; dan (6) di kawasan Tasikmalaya adalah Girimas (Riyadi dkk., 1995:17). Terjadinya ledakan roman picisan dan menjamurnya penerbit kecil tahun 1960-an berhubungan dengan situasi dan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya ketika itu. Seperti telah dikemukakan bahwa dalam era demokrasi terpimpin (1957--1965) terjadi persaingan elit politik--yang dipicu oleh ulah PKI dan ormas-ormasnya--yang menye- babkan ketidakstabilan pemerintahan sehingga perekonomian terjerumus ke dalam inflasi yang melambung tinggi. Suhu politik dalam negeri kala itu dalam keadaan panas sehingga segala aktivitas diawasi secara ketat. Penerbitan roman picisan, misalnya, harus mendapat izin dari kepolisian seba- gai bukti bahwa roman itu bebas dari pengaruh kebu-dayaan Barat yang sedang gencar-gencarnya ditentang. Dalam situasi dan kondisi demikian, gairah membaca masya-rakat terhadap buku-buku sehat mengalami kemunduran karena daya beli mereka rendah (Harahap, 1997:55). Akibatnya, banyak pe- nerbit besar menghentikan usahanya untuk menghindari beban yang semakin berat. Di sisi lain, situasi politik yang panas dan kondisi perekonomian yang mence-maskan mendorong sebagian masyarakat yang melek huruf untuk mencari hiburan segar berupa buku-buku bacaan yang murah dan mudah dicari. Peluang yang amat menjan-jikan keun-

tungan itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para penerbit kecil untuk memproduksi roman-roman picisan meskipun harus melalui sensor kepolisian. Hasil produksi mereka mendapat sambutan yang luar biasa oleh masyakat (pembaca) sehingga keuntungan yang besar dapat diraih dan royalti yang tinggi dapat diberikan kepada penga-rangnya. Keuntungan yang menggiurkan tersebut mendorong obsesi Any Asmara untuk membuka sendiri usaha penerbitan (dan percetakan). Dengan modal royalti yang diperoleh dari 13 judul roman picisannya, ia mendirikan penerbit “Dua-A” (dari AA, kependekan dari Any Asmara) tahun 1960 (Cantrik Banyumas, 1983:13). Hal serupa dilakukan oleh Utomo D.S. dengan mendirikan penerbit “Utama SD” dan Suparto Brata mendirikan penerbit “Ariyati”. Bahkan, ada badan usaha yang bergerak dalam bidang perdagangan, transportasi, dan industri ikut terjun ke dunia penerbitan. Badan usaha itu, di antaranya, bernama CV Dewaruci, beralamat di Jalan Suroto 7, Kotabaru, Yogyakarta. Buku terbitannya, antara lain, berupa roman serial berjudul Crita-crita Sapanginang ‘cerita- cerita (tamat dibaca) selama mengunyah daun sirih’, yakni cerita-cerita yang tamat dibaca dalam waktu singkat. Selain disebabkan oleh kemunduran minat masyarakat pembaca terhadap buku-buku bacaan sehat dan kebutuhan masyarakat (etnik Jawa yang melek huruf) akan bacaan yang segar dengan biaya murah, melimpahnya roman picisan ditandai oleh menghilangnya majalah Crita Cekak, Cendra- wasih, Kekasihku, Gotong Royong, dan Pustaka Roman, serta dibredelnya majalah Waspada yang berhaluan komunis akibat pemberontakan G 30 S/PKI. Selain Waspada, kelima majalah tersebut tidak berumur panjang karena biaya operasional amat tinggi dan jatah kertas sangat dibatasi

(Quinn, 1995:32; Kusumayuda dkk., 1995:77--79). Semen- tara itu, meskipun sulit memperoleh kertas, apalagi setelah subsidi kertas dicabut pada tahun 1966, majalah Panjebar Semangat, Jaya Baya, Mekarsari, dan Praba masih mampu bertahan. Bahkan, pada tahun 1960-an, pers berbahasa Jawa menduduki posisi terdepan. Jika majalah berbahasa Indonesia setiap terbit hanya bertiras 7.000 eksemplar, berbeda halnya dengan majalah mingguan Panjebar Semangat yang setiap terbitnya bertiras 99.000 eksemplar dan Jaya Baya bertiras 65.000 eksemplar, serta dwimingguan Mekar Sari bertiras 23.000 eksemplar dan Praba bertiras 14.000 eksemplar (bandingkan Brata, 198:68; Utomo dkk., 2000:58--59). Telah diungkapkan sebelumnya bahwa roman picisan produksi tahun 1950-an--1970-an--yang mencapai 300 judul lebih--pada umumnya bermutu rendah. Hal itu menunjukkan bahwa dalam perjalanannya selama berabad-abad (abad IX-- XX) sastra Jawa mengalami masa suram. Setelah eksplosi roman picisan mencapai puncaknya tahun 1966, setidak- tidaknya ada tiga peristiwa penting yang berkaitan dengan sastra Jawa sebagai berikut. Pertama, tidak lama setelah Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) terbit sebagai titik awal zaman Orde Baru (Poesponegoro dan Notosusanto, 1990:413), dalam suasana berlangsungnya operasi keamanan dan ketertiban (termasuk pemeriksaan buku-buku bacaan yang dianggap tidak men- didik), sarasehan pengarang sastra Jawa diselenggarakan oleh Sanggar Bambu di Yogyakarta tanggal 24--27 Agustus 1966. Dalam sarasehan itu, antara lain, diputuskan terben-tuknya OPSJ tingkat pusat dan tingkat daerah. OPSJ tingkat pusat diketuai Soedharma K.D.; sedangkan OPSJ tingkat daerah yang terdiri atas OPSJ Komisariat Daerah Istimewa Yogya-

karta diketuai M. Tahar, OPSJ Komisariat Jawa Timur diketuai Esmiet, OPSJ Komisariat Jawa Tengah diketuai N. Sakdani, dan OPSJ Komisariat Jawa Barat (termasuk DKI Jakarta) diketuai Trim Sutidja. Alasan dibentuknya OPSJ, antara lain, untuk mengembalikan independensi pengarang agar tidak dijadikan alat oleh kelompok tertentu. Dengan dibentuknya OPSJ, jagat kesastraan Jawa diharapkan dapat meningkat dan lebih cerah. Sehubungan dengan itu, OPSJ dapat dipandang sebagai “gerakan baru” dalam sastra Jawa yang berguna untuk memacu pertumbuhan dan perkem- bangan sastra Jawa sekaligus sebagai alat untuk memper- juangkan nasib para pengarang dan karyanya (Hutomo,

1997:5--6).

Kedua, pada tahun 1967 terjadi penyitaan 57 judul roman picisan, termasuk 21 judul roman picisan berbahasa Jawa, oleh tim Opterma Surakarta. Penyitaan itu dilakukan karena roman-roman tersebut dianggap dapat merusak moral generasi muda, meskipun telah lolos sensor dari pihak yang berwajib. Berita tentang penyitaan roman-roman picisan itu dimuat dalam Mekar Sari nomor 23/X/1 Februari 1967. Roman picisan berbahasa Jawa yang disita adalah Asmara tanpa Weweka, Cahyaning Asmara, Godhane Prawan Indho, Jeng Any Prawan Prambanan, Aboting Kecanthol Kenya Sala, Asmara ing Warung Lotis, Pangurbanan, Kabuncang ing Sepi, Tape Ayu, Tumetesing Luh, Sih Katresnan Jati,Wanita Methakil, Ketangkep Teles, Grombolan Gagak Mataram, Peteng Lelimengan, Rebutan Putri Semarang, Lara Brata, Macan Tutul, Lagune Putri Kasmaran, Gara-Gara Rok Mepet, dan Nyaiku. Akibat penyitaan itu, para pengarang lebih berhati-hati dalam berkarya dan penerbit lebih selektif dalam memproduksi buku-buku bacaan, apalagi subsidi

kertas dicabut pada tahun 1966. Dampaknya, pada tahun 1967 produksi roman picisan mulai menurun dan mencapai tahap penurunan secara drastis sejak tahun 1969. Jika sebelumnya penerbit “Dua-A”, misalnya, mampu mempro- duksi 30.000 eksemplar per judul dan terjual habis dalam waktu setengah bulan, setelah mengalami kelesuan penerbit itu hanya berani memproduksi 5.000 eksemplar per judul (Cantrik Banyumas, 1983:14). Penurunan produksi roman picisan itu pada gilirannya berdampak pada semakin berkurangnya jumlah penerbit (termasuk penerbit “Dua-A” yang gulung tikar tahun 1972 dengan terbitan terakhirnya Titiek Indriany Putri Sala karangan Any Asmara) seiring dengan merosotnya jumlah konsumen pembaca akibat disitanya sejumlah roman picisan. Sebagai antisipasi atas penyitaan roman-roman picisan itu, OPSJ Komisariat Jawa Tengah--yang bermarkas di Surakarta--menerbitkan majalah Gumregah (Januari 1967) dan majalah anak-anak Si Glathik. Sesuai dengan sesanti ‘moto’-nya, majalah Gumregah diha- rapkan menjadi “puspita kasusastran Jawa” ‘bunga kesusas- traan Jawa’. Namun, sayang bahwa kedua majalah itu tidak berumur panjang, senasib dengan majalah Merdika yang terbit di Jakarta (1967). Ketiga, tahun 1966 merupakan awal menguatnya media massa cetak berbahasa Jawa sebagai saluran publikasi sastra Jawa (Hutomo, 1972). Di samping majalah Penjebar Semangat, Jaya Baya, dan Mekar Sari yang masih beredar, serta majalah Gumregah, Si Glathik, dan Merdika yang hanya hidup sebentar, mulai tahun 1969 bermunculan majalah dan surat kabar baru, yaitu Kembang Brayan (yang hanya mampu bertahan selama 3 tahun, 1969--1971), Djaka Lodhang (1971), dan Cendrawasih (1975) di Yogyakarta; Dharma

Kanda (1970), Dharma Nyata (1971), dan Parikesit (1972) di Surakarta; serta Kunthi (Agustus 1972) dan Kumandhang (1973) di Jakarta (Hutomo, 1975:17; Ras, 1985:27; Quinn, 1995:34--35; Triyono dkk., 1988:45--57); sedangkan Praba sejak tahun 1968 menggunakan bahasa Indonesia (90 %) dan bahasa Jawa (10 %). Majalah Kumandhang (terbit tahun 1973) dan Cendrawasih (terbit tahun 1975) adalah majalah khusus sastra Jawa. Untuk menarik simpati konsumen (pembaca) yang semakin tidak menggemari roman picisan, media massa berbahasa Jawa tersebut mengadakan pembenahan, di antaranya dengan meningkatkan mutu cetakannya. Pembe- nahan itu juga sekaligus sebagai antisipasi terhadap pengarang yang mengalihkan profesinya menjadi pengarang sastra Indonesia karena bahasa Jawa kurang dihargai dan ngambek ‘enggan’-nya pengarang yang berbakat, seperti Soedharma K.D., akibat karangannya ditolak oleh redaksi (Cantrik Banyumas, 1983:2; Brata, 1981:58). Alasan peno- lakan itu adalah perusahaan (media massa) tidak mau merugi hanya karena menampilkan karangan yang bermutu yang tidak disukai oleh konsumen (Brata, 1981:88--89). Perlakuan redaksi yang dianggap tidak proporsional itu menimbulkan kegusaran para pengarang berbakat yang mengakibatkan sastra Jawa dan pengarangnya lesu darah (Soedharma K.D. dalam Brata, 1981:58 dan 84). Dengan demikian, kualitas sastra Jawa yang tersebar di media massa cetak--yang mendapat predikat sebagai “sastra koran dan sastra majalah” (Hutomo, 1975:16) atau “sastra magersari” ‘sastra menebeng’ (Riyadi dkk., 1996:14)--tidak jauh berbeda dengan kualitas roman-roman picisan.

Keadaan sastra Jawa yang lesu darah menunjukkan bahwa sastra daerah yang pernah dikagumi itu belum terentas dari jurang keterpurukannya. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk membangkitkannya. Upaya-upaya itu, antara lain, berupa pembentukan grup-grup atau sanggar sastra akibat tidak berfungsinya secara organisatoris OPSJ yang dibentuk tahun 1966. Grup-grup atau sanggar itu, misalnya Sanggar Nur Praba (1970) yang diprakarsai Moch. Nursyahid P. dan Sanggar Sastra Sasanamulya (1971) yang diprakarsai Arswendo Atmowiloto di Surakarta; Grup Diskusi Sastra Blora (1972) yang diprakarsai Poer Adhi Prawoto dkk. di Blora; Sanggar Sastra Parikuning (1974) pimpinan Esmiet di Banyuwangi; Paguyuban Pengarang Muda--disingkat Prada-- (1976) di bawah naungan Kembang Brayan, Sanggar Brayan Muda--disingkat Sanggar Sabda--, Sanggar Sastra Soedjadi Madinah yang diprakarsai Moch. Soedjadi Madinah, dan Sanggar Sastra Buwana Pratria pimpinan Suharjanto B.P. (staf Redaksi Djaka Lodang) di Yogyakarta; Sanggar Sastra Triwida (18 Mei 1980) yang diprakarsai Tamsir A.S. dkk. di Tulungagung; dan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (31 Juli 1977) yang diprakarsai Suripan Sadi Hutomo dkk. di Surabaya (Widati dkk., 1999:29--44). Selain mengadakan diskusi kepengarangan, para anggota grup dan sanggar itu menghasilkan karangan-karangan yang menghiasi media massa cetak dan di antaranya ada yang menghasilkan antologi cerita pendek dan guritan Taman Sari (1975) atas prakarsa anggota Sanggar Sastra Sasanamulya dengan ban- tuan Pusat Pengembangan Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) serta antologi guritan Napas-napas Tlatah Cengkar (1973) dan Tepungan karo Omah Lawas (1973) karya para anggota Grup Diskusi Sastra Blora.

Untuk memberikan dorongan dan motivasi agar para pengarang tetap bersemangat dalam berkarya (mengarang), berbagai pertemuan diselenggarakan. Misalnya, Sarasehan Basa Jawi tanggal 12--13 Juni 1971 yang diselenggarakan majalah Kunthi di Jakarta, sarasehan Pengarang Sastra Jawa tanggal 23--25 Maret 1973 dan sarasehan serupa pada tahun- tahun berikutnya yang diselenggarakan PKJT di Surakarta, serta Sarasehan Pengarang Sastra Jawa tanggal 12--14 No- vember 1975 yang diselenggarakan oleh Susilomurti selaku pimpinan majalah Kumandhang bekerja sama dengan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di samping diskusi dan sarasehan, kegiatan sayem- bara mengarang diselenggarakan untuk membangkitkan sastra Jawa. Kegiatan yang diadakan, misalnya, berupa sayembara mengarang cerita pendek dan guritan oleh Pusat Kebudayaan Jawa Tengah tahun 1971, 1972, dan 1973; sayembara serupa juga diadakan oleh Dewan Kesenian Surabaya bekerja sama dengan majalah Jaya Baya tahun 1974; dan sayembara mengarang cerita pendek oleh majalah Djaka Lodang tahun 1972. Akan tetapi, berbagai upaya tersebut ternyata tidak berhasil mendongkrak sastra Jawa menjadi sastra yang dapat dibanggakan. Upaya-upaya itu baru dapat membangkitkan pengarang untuk menulis di media massa cetak, tetapi belum berhasil mendongkrak penerbit untuk memproduksi karya sastra Jawa atau membangkitkan konsumen untuk membeli karya sastra (dan karya berbahasa) Jawa (Riyadi dkk., 1996:16). Fungsi sastra Jawa sebagai hiburan secara berangsur-angsur juga tergusur oleh sarana informasi yang berupa radio dan televisi dengan suguhan hiburan yang lebih menarik.

Keadaan sastra Jawa yang amat memprihatikan tersebut lebih diperburuk oleh pemberlakuan kurikulum 1975 yang menyisihkan bahasa (dan sastra) daerah dari mata pelajaran wajib. Alasannya, bahasa (dan sastra) daerah di- anggap tidak penting (dan menghambat terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa) sehingga hanya dijadikan mata pelajaran tambahan atau kokurikuler. Akibatnya, banyak sekolah tidak memberikan pelajaran bahasa dan sastra daerah. Hal itu berdampak pada munculnya kecaman bahwa kurikulum 1975 merupakan sumber malapetaka bagi pem- binaan dan pengembangan bahasa dan sastra daerah (Riyadi,

1955a:131--138).

Kebijakan pemerintah memberlakukan kurikulum 1975 amat bertentangan dengan kebijakan sebelumnya yang menetapkan berlakunya Pedoman Ejaan Bahasa Jawa yang Disempurnakan mulai tanggal 18 Maret 1974. Akan lebih bijaksana apabila kebijakan pemberlakuan Pedoman Ejaan Bahasa Jawa itu didukung oleh kebijakan yang relevan, yakni pemberlakuan kurikulum yang tetap memberikan porsi bahasa dan sastra daerah sebagai mata pelajaran wajib karena pengajaran bahasa dan sastra daerah merupakan sarana yang amat efektif untuk menyosialisasikan pedoman ejaan tersebut. Keadaan bahasa dan sastra Jawa yang amat buruk itu lebih diperburuk lagi oleh adanya kebijakan Politik Bahasa Nasional (1976) yang oleh beberapa pemerhati bahasa dan sastra Jawa dianggap sebagai upaya “peng- Indonesia-an” (Indonesiasi) secara sistematik sehingga posisi bahasa dan sastra daerah semakin terpojokkan dan marginal (bandingkan Utomo dkk., 2000:44). Itulah sebabnya, erosi penggunaan bahasa Jawa oleh generasi muda cukup drastis dari waktu ke waktu (bandingkan Alwi, 1998:13). Kenyataan

itu, antara lain, didasarkan atas kegagalan Dharma Kanda, Parikesit, Kunthi, dan Kumandhang, serta Cendrawasih (hanya sekali terbit) untuk bertahan hidup, serta beralihnya Dharma Nyata menggunakan bahasa Indonesia, Praba tetap mempertahankan 90% berbahasa Indonesia dan 10% berbahasa Jawa, dan beralihnya beberapa pengarang sastra Jawa menjadi pengarang sastra Indonesia. Oleh karena itu, dalam berbagai sarasehan bahasa dan sastra Jawa, banyak penyesalan dan kekecewaan dilontarkan, di samping banyak usulan, saran, dan imbauan kepada pemerintah (lembaga- lembaga yang terkait) agar kebijakan-kebijakan seperti pemberlakuan kurikulum 1975 dan Politik Bahasa Nasional ditinjau kembali. Sebagai reaksi atas ketidakpuasan para pemerhati

bahasa dan sastra Jawa tersebut, beberapa lembaga meng- ambil inisiatif untuk mencari solusi, setidak-tidaknya untuk mengurangi kekecewaan mereka. Misalnya, untuk meman- tapkan pembinaan dan pengembangan, Pusat Pembi-naan dan Pengembangan Bahasa (kini bernama Pusat Bahasa), antara lain, menyelenggarakan Seminar Pengem-bangan Sastra Daerah (13--16 Oktober 1975), Seminar Bahasa Daerah (19--

22

Januari 1976), Konferensi Bahasa dan Sastra Daerah (24--

27

Januarai 1977), dan mendanai penelitian (dan penerbitan)

bahasa dan sastra daerah melalui Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (kemudian bernama Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Sementara itu, Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta (kini bernama Balai Bahasa), sebagai kepanjangan tangan Pusat Bahasa, --yang paling sering menjadi jujugan ‘tujuan (mendadak)’ pengaduan--bekerja sama dengan instansi dan lembaga-lembaga lain, mulai tahun 1976 mengadakan sara-

sehan bahasa dan sastra Jawa setiap selapan ‘tiga puluh lima’ hari sekali dengan menghadirkan tokoh-tokoh bahasa dan sastra Jawa sebagai pembicara. Di antara para tokoh sastra Jawa modern yang pernah diundang untuk berbicara (berceramah) adalah Soedharma K.D., Widi Widajat, dan E. Suharjendra.

Di Surakarta, Pusat Kebudayaan Jawa Tengah--yang

sebelumnya aktif mengadakan sarasehan dan sayembara mengarang serta pernah membiayai penerbitan Guritan:

Antologi Sajak-sajak Jawi himpunan Iesmaniasita (1975), kumpulan cerita pendek dan guritan Taman Sari (1975), dan kumpulan guritan Tepungan karo Omah Lawas (1979)--tetap eksis dengan menyelenggarakan sayembara penulisan novel, drama, dan pakeliran (tahun 1979). Naskah pemenang I, II, dan III dalam sayembara itu kemudian diterbitkan dalam jumlah yang terbatas pada tahun 1980. Novel pemenang sayembara itu adalah Penganten karya Suryadi W.S., Ing Pojok-pojok Desa karya Tamsir A.S., dan Tumusing Panalangsa karya Ny. Syamsirah; sedangkan drama dime- nangkan oleh Pangurbanan karya Aryono K.D., Kali Ciliwung karya Moch. Nursyahid P., dan Secuwil Ati lan Wengi karya Suliyanto.

Di kalangan penerbit, setelah 6 tahun (1969--1974)

tidak memproduksi karya sastra Jawa modern, mulai tahun 1975 Balai Pustaka--yang diberi hak istimewa untuk menerbitkan buku “Proyek Paket Buku” sejak tahun 1976 (Harahap, 1997:59)--hanya dapat menerbitkan novel Anteping Tekad karya Ag. Suharti (1975), kumpulan cerita pendek dan guritan Kalimput ing Pedhut karya Iesmaniasita (1976), novel (edisi III) Kumpule Balung Pisah karya A.

Serozi A.M. (1978), dan Mendhung Kesaput Angin karya Ag. Suharti (1980). Sementara itu, di luar Balai Pustaka terbit kumpulan cerita pendek Langite Isih Biru suntingan Susilomurti dan M. Nuhsin (1975) produksi Koperasi Karyawan Pers Adijaya (KKPA) dan Kringet saka Tangan Prakosa karya Iesma- niasita (1975) terbitan Yayasan “Djojo Bojo”. Pada tahun 1976, Pustaka Jaya membuat kejutan dengan menerbitkan novel Tanpa Daksa karangan Soedharma K.D. dan Tunggak- tunggak Jati karangan Esmiet meskipun oleh penerbit tersebut kedua novel itu merupakan terbitan pertama dan terakhir (hingga sekarang) bagi karya sastra Jawa modern. Jumlah novel Jawa bertambah dengan hadirnya novel Titi karangan Soedharma K.D. (1978) terbitan Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah (PPBSD) Jawa Tengah. Di samping itu, pada tahun 1970-an masih ada sejumlah penerbit yang memproduksi roman picisan. Misalnya, “Dua A” menerbitkan Ni Wungkuk (1970), Tetesing Waspa (1970), dan Titiek Indriani Putri Sala (1972), Adi Jaya menerbitkan Adiling Pangeran (1971), dan Indah Jaya menerbitkan Telik Sandi (1974), seluruhnya karya Any Asmara; USA mener- bitkan Jagade wis Peteng karya Any Asmara (1970) dan Gudheg Ayu Digondhol Thuyul karya Moch. Soedjadi Madinah (1970); Keluarga Subarno menerbitkan Prawan Kaosan karya Widi Widayat (1973) dan Tilas Buwangan Nusakambangan karya Any Asmara (1976); Muria mener- bitkan Neng Artati Putri Sunda karya Any Asmara (1972) dan Dhayoh Bengi Sangu Maesan karya Esmiet (1975); Lembaga Literatur Baptis menerbitkan Isih Ana Kaelokan (1974) dan Kasrimpet ing Srawung (1975) karya Ny. Andy; serta Puspa Rinonce menerbitkan Titising Kadurakan,

Durjana Alas Setra, dan Gandaruwel Siwar Modar karya Ragil Suwarno Pragolapati (1975). Penerbit Muria juga memproduksi roman sejarah Jaka Sangkrip karya Any Asmara (1979). Sementara itu, Trim Sutidja membukukan kumpulan guritannya yang kedua berjudul Kabar saka Paran (1976); sedangkan Diah Hadaning mereproduksi sendiri antologi guritannya yang diberi judul Jangkah Patang Puluh Telu (1977). Dari hasil pendataan (sementara) dapat diketahui bahwa dalam kurun waktu 1970--1980 terdapat 6 penerbit (Balai Pustaka, Yayasan “Djojo Bojo”, Pustaka Jaya, KKPA, PKJT, dan PPBSD) yang memproduksi 9 novel, 3 drama, dan 4 kumpulan cerita pendek dan atau guritan, serta 8 penerbit (Adi Jaya, “Dua-A”, Indah Jaya, Keluarga Subarno, Lembaga Literatur Baptis, Muria, Puspa Rinance, dan USA) mener- bitkan 16 roman picisan. Dengan demikian, selama 11 tahun (1970--1980) hanya ada kira-kira 14 penerbit yang mem- produksi sekitar 32 judul karya sastra Jawa modern. Jumlah itu jauh lebih sedikit daripada jumlah penerbit dan terbitan dalam satu dasawarsa sebelumnya (1960--1969) yang mencapai sekitar 70 penerbit dan 200 judul buku karya sastra Jawa modern. Minimnya terbitan buku sastra Jawa modern tahun 1970--1980 itu menimbulkan keheranan seorang ilmuwan asing sehingga ia berkomentar bahwa “sastra Jawa kala itu bagai pohon tanpa daun”. Maksudnya, sastra Jawa dalam kurun waktu 1970--1980 itu masih hidup, tetapi sulit ditemukan terbitan karya sastra Jawa modern dalam bentuk buku (Riyadi, 1995b:492). Nasib buruk penerbitan yang menimpa karya-karya sastra Jawa modern tahun 1970--1980 juga menimpa pener- bitan majalah berbahasa Jawa kala itu. Sejak tahun 1969, tiras

beberapa majalah berbahasa Jawa mengalami penurunan secara drastis. Mingguan Penjebar Semangat itu hanya bertiras 35.000 eksemplar setiap terbit dan Jaya Baya bertiras 4.500 eksemplar, serta dwimingguan Mekar Sari bertiras 4.500 eksemplar dan Praba bertiras 5.000 eksemplar. Sementara itu, mingguan Djaka Lodang yang ketika itu masih berbentuk tabloid bertiras 5.000 eksemplar setiap terbit dan setelah berubah menjadi majalah tahun 1977 bertiras 15.000 eksemplar (Triyono dkk., 1988:52). Sedikitnya jumlah penerbit dan terbitan karya sastra Jawa modern serta ketidakberdayaan majalah berbahasa Jawa untuk mengembalikan kejayaannya tahun 1960-an menun- jukkan bahwa komunitas etnik (berbahasa) Jawa tahun 1980- an yang berjumlah 56.357.040 jiwa (40,44%) (Alwi, 1996:4) tidak mampu mengangkat bahasa dan sastra Jawa sebagai kekayaan budaya yang dapat dibanggakan. Namun, karena sudah terbiasa menghadapi tantangan yang cukup berat, para pemerhati bahasa dan sastra Jawa (termasuk lembaga dan institusi yang terkait) tidak jera untuk membangkitkan bahasa dan sastra Jawa dari keterpurukannya. Untuk memperbaiki bidang pendidikan dan pengajaran, misalnya, Badan Pene- litian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menyelenggarakan Seminar Pengajaran Bahasa Daerah (18--20 Agustus 1980) di Denpasar, Bali. Melalui Proyek Javanologi di Yogyakarta, badan tersebut juga menyelenggarakan Sarasehan Pengajaran Bahasa dan Sastra Jawa (14--15 Desember 1982), sarasehan tentang kebudayaan Jawa secara rutin, serta memberikan penghargaan terhadap majalah berbahasa Jawa sebagai pem- bina bahasa dan sastra Jawa, dan memberikan penghargaan

terhadap karya sastra Jawa dan esai bahasa dan sastra Jawa (28 Oktober 1982 dan 28 Oktober 1983). Seiring dengan penyelenggaraan berbagai kegiatan oleh Proyek Javanologi tersebut, sejumlah pengarang muda di Yogyakarta, di antaranya Andrik Purwasito, A. Nugroho, dan Titah Rahayu, membentuk organisasi yang disebut Kelompok Pengarang Sastra Jawa “Rara Jonggrang” (13 Juni 1982). Kelompok itu pada tahun 1983 menerbitkan buletin Rara Jonggrang (Hutomo, 1997:13--14), tetapi tidak dapat berlanjut. Setelah itu, pada tanggal 16 Juli 1982 didirikan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro yang diketuai oleh Moh. Maklum. Kelompok Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro itu sempat menyelenggarakan Sarasehan Jati Diri Sastra Daerah tanggal 24 Desember 1984. Sementara itu, Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Tengah menyelenggarakan Sarasehan Penga- rang Sastra Jawa tanggal 1214 November 1982 di Unga- ran. Dalam sarasehan itu, antara lain, diputuskan terbentuk- nya OPSJ antarwaktu yang mempunyai masa kerja sampai dengan diselenggarakannya Kongres Istimewa Orga-nisasi Pengarang Sastra Jawa. Akan tetapi, pada Kenya-taannya, organisasi tersebut bubar sebelum kongres dilak-sanakan. Balai Bahasa Yogyakarta tetap eksis seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Setidak-tidaknya setahun sekali lembaga itu menyelenggarakan sarasehan, seminar, loka- karya, atau simposium, di samping kegiatan lain, seperti lomba dan pemberian penghargaan. Kegiatan yang langsung menyentuh sistem penerbitan, antara lain, berupa pemberian penghargaan terhadap cerita pendek dalam majalah berbahasa Jawa terbitan tahun 1980 (1982), lomba mengarang cerita pendek (1984) dan esai sastra Jawa (1985) yang diikuti

pemublikasian naskah pemenang lomba itu dalam Widya- parwa nomor 28/1 Maret 1986, sarasehan dengan menam- pilkan sastrawan Satim Kadaryono (pemimpin redaksi Jaya Baya) sebagai pembicara (27 Agustus 1986), Temu Penga- rang, Penerbit, dan Pembaca Sastra Jawa (14--15 Desember 1990), serta pemberian penghargaan kepada tokoh sastra dan tokoh bahasa Jawa berkenaan dengan penerbitan karya-karya mereka. Kegiatan Temu Pengarang, Penerbit, dan Pembaca-- yang mendapat dukungan dari Taman Budaya Yogyakarta-- itu menjadi jembatan terbentuknya Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY) yang didirikan pada tanggal 12 Januari 1991. Kegiatan lain yang amat penting untuk pembinaan kepengarangan sastra Jawa adalah penyeleng-garaan Bengkel Sastra Jawa (BSJ) mulai tahun 1997. Dari kegiatan itu dapat diterbitkan kumpulan guritan dan macapat karya peserta bengkel yang diberi judul Rembuyung. Kehadiran SSJY setidak-tidaknya menjadi penyejuk hati para pengarang sastra Jawa yang telah lama menahan kekesalan karena merindukan tempat berteduh yang tahan hempasan badai. Kekesalan mereka disebabkan oleh kegagalan sanggar-sanggar sastra Jawa pra-1982--termasuk OPSJ antarwaktu bentukan Sarasehan Pengarang Sastra Jawa (12--14 November 1982) di Ungaran--untuk mempertahan- kan diri, kecuali Sanggar Sastra Triwida di Tulungagung yang masih aktif, serta tidak berdayanya beberapa sanggar yang lahir pada pasca-1982, seperti Sanggar Gurit Gumuruh (1988) pimpinan Muhammad Yamin di Yogyakarta, Sanggar Kalimasada (1990) pimpinan Sukoso D.M. di Kutoarjo, Purworejo, Sanggar Sastra “Penulis Muda Kudus” (1991) pimpinan Yudhi M.S. dan Kelompok Pengarang Sastra Jawa Gunung Muria (1991) pimpinan Aryono K.D. di Kudus, dan

Sanggar Sastra Tabloid Tegal (1991) pimpinan Lanang Setiawan di Tegal. Dalam aktivitas dua bulanannya, SSJY menerbitkan majalah sastra Jawa Pagagan meskipun hanya bertiras ± 150 eksemplar setiap terbit dengan ketebalan rata- rata 30 halaman, dan mengadakan diskusi kepengarangan. Sampai dengan akhir Desember 1997, Pagagan sudah mencapai nomor 34. Kegiatan SSJY lainnya berupa pemberian penghar- gaan “Sinangling” terhadap karya terbaik para anggota sanggar serta sarasehan dan pentas seni dalam peringatan hari ulang tahunnya. Berkat peran serta SSJY, sejak tahun 1991 hingga 1997 Panitia Festifal Kesenian Yogyakarta (FKY) dapat menerbitkan kumpulan guritan dan cerita pendek hasil sayembara mengarang, yaitu Antologi Guritan dan Crita Cekak (1991), Rembulan ing Ngayogyakarta (1992), Cakra Manggilingan (1993), Pangilon (1994), Pesta Emas Sastra Jawa (1995), dan Pisungsung (1997). Selanjutnya, untuk menyongsong Kongres Bahasa Jawa II (22--26 Oktober 1996) di Malang, SSJY dapat menyuguhkan kumpulan cerita pendek dan guritan Pemilihan Lurah (1996). Sebagaimana diketahui, dalam salah satu butir kepu- tusan Kongres Bahasa Jawa I yang diselenggarakan di Semarang pada tanggal 15--20 Juli 1991, disebutkan bahwa “bahasa dan susastra Jawa pada jenjang pendidikan dasar dan lanjutan harus dimasukkan sebagai pelajaran tersendiri dalam kelompok muatan lokal”. Putusan itu berdampak terhadap pemberlakuan kurikulum baru tahun 1994 yang memberikan peluang bagi bahasa (dan sastra) Jawa sebagai mata pelajaran muatan lokal wajib (di DIY). Pemberlakuan kurikulum 1994 itu agak melegakan pemerhati bahasa dan sastra Jawa yang hampir 20 tahun menunggu pengembalian bahasa dan sastra

Jawa sebagai mata pelajaran wajib. Akan tetapi, mereka belum sepenuhnya lega karena kedudukan kurikulum itu mengindikasikan adanya unsur diskriminatif dengan dipergu- nakannya istilah “muatan lokal”. Di samping itu, mereka meragukan apakah alokasi waktu yang disediakan--yang hanya 2--3 jam pelajaran per minggu--dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai target yang telah ditentukan. Keberhasilan penyelenggaraan Kongres bahasa Jawa I dengan putusan yang dihasilkan tersebut ikut mendorong para pengarang sastra Jawa untuk menulis karya yang berkualitas dan memberikan motivasi kepada penerbit untuk mempro- duksi karya sastra Jawa. Dorongan dan motivasi itu kemudian terpacu oleh kebesaran hati Yayasan Kebudayaan “Ran- cange” yang memberikan penghargaan sangat menarik kepada karya sastra Jawa modern. Yayasan yang sebelumnya khusus memberikan penghargaan kepada karya dan tokoh pengembang bahasa dan sastra Sunda itu mulai tahun 1994 juga memberikan penghargaan kepada karya dan tokoh pengembang bahasa dan sastra Jawa. Sampai dengan tahun 1997, karya sastra Jawa modern yang diberi penghargaan adalah novel Sumpahmu-Sumpahku (Naniek P.M., 1993) untuk tahun 1994 dan Timbreng (S. Kadarjono, 1994) untuk tahun 1996, keduanya terbitan Yayasan “Djojo Bojo”, dan kumpulan guritan Siter Gadhing (Djaimin K., 1996) terbitan Lembaga Studi Jawa untuk tahun 1997. Sementara itu, penerima penghargaan jasa adalah Karkono Kamajaya untuk tahun 1995, Muryalelana untuk tahun 1996, dan Tadjib Ermadi untuk tahun 1997. Dorongan dan motivasi yang juga dilandasi oleh sikap ketidakjeraan itu--sebagaimana telah dikemukakanmeru- pakan modal utama bagi pemerhati bahasa dan sastra Jawa.

Oleh karena itu, sesudah tahun 1980 muncul beberapa penerbit di Surabaya yang menerbitkan karya-karya sastra Jawa modern. Beberapa penerbit itu, di antaranya Bina Ilmu, Citra Jaya, Pusat Pengabdian pada Masyarakat IKIP Sura- baya, Yayasan “Djojo Bojo”, Sinar Wijaya, Fajar Harapan, dan Kelompok Seni Rupa Bermain. Penerbit Bina Ilmu menerbitkan roman sejarah Kadurakan ing Arya Blitar (Djuhari, 1981) dan Jago saka Bang Wetan: Sawunggaling (Tamsir A.S., 1981), novel Sapecak Bumi kang Kobong (1984), Ombak Sandyakalaning (1991), Pacar Gadhing (1991), dan Wong Wadon Dinarsih (1991) karangan Tamsir A.S., serta cerita anak-anak Putri Rembulan (Tantri Angsoka, 1981) dan Panunggang si Mega (Sari Sr., 1981); Citra Jaya menerbitkan roman sejarah Jaka Mandar (Trimo Sumo- diwiryo, 1983) dan Suromenggolo Warok Ponorogo (Purwowijoyo, 1983), serta cerita anak-anak Uwi Maratuwa (Yoodin, 1982), Wong Agung Wilis (Sri Adi Oetomo, 1983), Panji Laras (Yunani, 1984), dan Dewi Tanjung Sedhayung (Soenarto Timoer, 1984); Pusat Pengabdian pada Masyarakat IKIP Surabaya menerbitkan antologi guritan penyair wanita Kalung Barlean suntingan Suripan Sadi Hutomo (1988); Yayasan “Djojo Bojo” menerbitkan novel Sumpahmu- Sumpahku (Naniek P.M., 1993), Timbreng (S. Kadarjono, 1994), dan Nalika Langite Obah (Esmiet, 1997); Sinar Wijaya menerbitkan novel Kembang Alang-alang (Widi Pratiwi, 1993), Nalika Prau Gonjing (Ardini Pangastuti, 1993), Sintru, Oh Sintru (Suryadi W.S., 1993), Kerajut Benang Ireng (Harwimuka, 1993), dan Kubur Ngemut Wewadi (AY. Suharyono, 1993); Fajar Harapan menerbitkan cerita anak-anak Dewi Sanggalangit (Tantri Angsoka, 1983),

dan Kelompok Seni Rupa Bermain menerbitkan antologi guritan Lading (Bene Sugiarto, 1994). Sementara itu, di Semarang tercatat ada 3 penerbit yang memproduksi karya sastra Jawa modern, yaitu penerbit Yayasan Adhigama, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, dan IKIP Semarang Press. Penerbit Yayasan Adhigama menerbitkan kumpulan guritan Kidung Jaman (1987), kumpulan cerita pendek Nalika Srengenge durung Angslup (1996), dan novel Lintang (1997) karangan Ardini Pangas- tuti; Fakultas Sastra Universitas Diponegoro menerbitkan kumpulan guritan Lintang-lintang Abyor suntingan Soesatyo Darnawi (1993), dan IKIP Semarang Press menerbitkan kumpulan guritan dan novelet Anak Lanang (Bu Titis, 1993). Di Yogyakarta tercatat ada 7 penerbit yang mempro- duksi karya sastra Jawa modern, yaitu penerbit Wirofens Group, Yayasan Pustaka Nusatama, Lembaga Studi Jawa (LSJ), Keluarga Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa (KJBSJ) FPBS IKIP Yogyakarta, Panitia Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY), dan Balai Bahasa Yogyakarta. Wirofens Group menerbitkan antologi guritan Kala Bendu karangan Mohammad Yamin (1991); Yayasan Pustaka Nusatama menerbitkan novel Lintang saka Padhepokan Gringsing (AY. Suharyono, 1994), antologi guritan Kristal Emas (1994) dan antologi cerita pendek Jangka (1995) karangan Suwardi Endraswara; dan Ratu (1995) karangan Krishna Mihardja, serta kumpulan cerita anak-anak Ajisaka (Ki Hadisukatno, 1994); Lembaga Studi Jawa menerbitkan novel Astirin Mbalela (Peni, 1995) dan kumpulan guritan Siter Gadhing (Djaimin K., 1996); Keluarga Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa (KJBSJ) FPBS IKIP Yogyakarta menerbitkan kumpulan cerita pendek

Mutiara Sagegem suntingan Suwardi Endraswara (1993); Panitia Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) menerbitkan kumpulan guritan dan cerita pendek Antologi Guritan dan Crita Cekak (1981), Rembulan ing Ngayogyakarta (1992), Cakra Manggilingan (1993), Pangilon (1994), Pesta Emas Sastra Jawa (1995), Pisungsung (1997); Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY) menerbitkan antologi guritan dan cerita pendek Pemilihan Lurah (1996); dan Balai Bahasa Yogyakarta menerbitkan antologi guritan dan macapat Rembuyung (1997). Surakarta yang pernah memegang rekor terbanyak penerbitan tahun 1960-an dengan 31 penerbit, pada tahun 1981--1997 hanya mempunyai jumlah penerbit sastra Jawa modern yang amat minim. Misalnya, penerbit Jagalabilawa yang menerbitkan roman sejarah Manggalayuda Gunturgeni (Any Asmara, 1982) dan Pandhawa Karya yang menerbitkan novelet (roman picisan) Ni Luh Lestari Putri Bali (Any Asmara, 1983). Dalam kurun waktu 1981--1997, penerbit di Jakarta yang memproduksi karya sastra Jawa modern, antara lain, Balai Pustaka dan Keluarga Jurusan Bahasa Jawa (KJBJ) Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Balai Pustaka--yang pernah diberi hak istimewa untuk menerbitkan buku “Proyek Paket Buku” (sejak tahun 1976)--mengadakan peningkatan apresiasi sastra bagi karyawan (1981), membentuk Dewan Pertimbangan Perbukuan Nasional (31 Oktober 1986) dengan tugas (1) memberikan pertimbangan dan pendapat tentang masalah perbukuan, (2) memperoleh naskah yang bermutu, (3) mengadakan temu sastra/budaya, dan (4) menyusun rencana kerja perbukuan Balai Pustaka, serta statusnya--sejak 28 Desember 1985--ditingkatkan dari perusahaan negara

(PN) menjadi perusahaan umum (Perum) sehingga ber- dampak pada perubahan orientasi manajemen untuk meningkatkan kinerja sejak akhir September 1994 (Harahap, 1997 : 59--111). Dalam kurun waktu 1981--1997 Balai Pustaka hanya dapat menerbitkan sekitar 11 judul karya sastra Jawa modern. Karya sastra yang diterbitkan itu adalah novel Trajumas dan Kridhaning Ngaurip (Imam Sardjono, 1986), Dokter Wulandari (Yunani, 1987), dan Krikil-krikil Pesisir (Tamsir A.S., 1988), roman sejarah Nyi Ageng Serang (S. Sastroatmodjo, 1982), Prabu Suryakantha-Dewi Anang- garaga (saduran L. Mardiwarsita, 1987), dan Putri Messalina (saduran Soebagijo I.N., 1989), kumpulan guritan Warisan Geguritan Macapat (Suwardi, 1983), Guritan: Antologi Puisi Jawa Modern (1940--1980) dan Angin Sumilir himpunan Saripan Sadi Hutomo (1985 dan 1988), kumpulan cerita pendek Usada kang Pungkasan (Sukardo Hadisukarno, 1987), dan cerita anak-anak Mitos Rakyat Cirebon (Manto D.G., 1986). Sementara itu, Keluarga Jurusan Sastra Jawa FS UI menerbitkan kumpulan guritan Cuwilan Urip Jro Tembung (1996). Berdasarkan uraian tersebut, selama 17 tahun (19811997) terdapat (kira-kira) 18 penerbit yang memproduksi sekitar 58 judul buku karya sastra Jawa modern. Rinciannya adalah 7 penerbit di Surabaya memproduksi 24 judul, 3 penerbit di Semarang memproduksi 4 judul, 7 penerbit di Yogyakarta memproduksi 17 judul, 2 penerbit di Surakarta memproduksi 2 judul, dan 2 penerbit di Jakarta memproduksi 11 judul. Sementara itu, di dalam kehidupan modern yang serba canggih pada tahun 1980-an masih ada karya sastra Jawa yang diterbitkan dalam bentuk stensilan. Penerbitan itu,

antara lain, dilakukan oleh Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) dan Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa (JBSI) FPBS IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya). Dalam edisi Baluwarti, Pusat Kebudayaan Jawa Tengah menerbitkan kumpulan guritan “Yen Aku Nyawang Mripatmu” karya Moch. Nursyahid P. (1981), “Kidung Baladha” karya Suripan Sadi Hutomo (1981), “Kembang Cengkeh” karya Titah Rahayu (1982), dan “Sot” karya Anjrah Lelanabrata dkk. (1983); sedangkan Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FPBS IKIP Surabaya bekerja sama dengan PPIA menerbitkan kumpulan guritan (tanpa diberi judul) tahun 1983. Di samping itu, ada karya sastra Jawa modern tulisan Suryanto Sastroatmodjo yang dipublikasikan dalam jumlah yang terbatas oleh penerbit Wirofens. Karya itu, misalnya Gora Gurnita Kagiri-giri: Rangkuman Prosa Liris (1977), Jangkah Saklimah: Impunen Lampahan Sandiwara Basa Jawi (1981), Cemara Sore (1982), dan Gambir Anom:

Antologi Geguritan (1991). Di kalangan pers berbahasa Jawa, sejak tahun 1980 terbit beberapa tabloid dan majalah. Sebelum Pagagan hadir (April 1992), pada tanggal 15 Februari 1980 di Yogyakarta terbit tabloid Kandha Raharja, mingguan koran masuk desa (KMD) di bawah naungan grup perusahaan “Kedaulatan Rakyat”, tempat bernaungnya majalah Mekar Sari. Pada tahun berikutnya (Januari 1981), terbit majalah Pustaka Candra di Semarang yang dikelola oleh Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Daerah Jawa Tengah. Setelah tabloid Parikesit berhenti tahun 1987, pada tahun 1988 di Surakarta terbit majalah Mbangun Tuwuh--yang lebih banyak menam- pilkan ulasan dan kutipan karya-karya klasik--yang dikelola oleh Paguyuban Tridarma M.N. Di kota yang sama terbit

tabloid Panakawan (1 Juli 1990) yang hanya mampu bertahan sampai tahun 1992. Tabloid itu kemudian digantikan oleh Jawa Anyar (5 Januari 1993) di bawah kendali Jawa Pos. Pada tanggal 5 November 1993 di Surabaya terbit majalah anak-anak Prasasti, tetapi tidak berumur panjang. Sementara itu, pada tahun 1985 majalah Penjebar Semangat menambah suplemen (berukuran 14,50 x 21 cm dengan tebal 16 halaman) dengan menampilkan cerita pendek dan kamus Jawa-Indonesia. Namun, suplemen itu juga bernasib sama dengan Prasasti, tidak berumur panjang. Tabloid berbahasa Prancis La Revue terbitan Lembaga Indonesia Prancis di Yogyakarta itu tidak segan-segan memberikan penghormatan terhadap karya sastra Jawa modern. Dalam edisi September- Oktober 1992, misalnya, tabloid itu menampilkan cerita pendek “Jiret” karya A.Y. Suharyono, salah seorang aktivis SSJY yang bekerja di lembaga tersebut. Gambaran keberlangsungan hidup tabloid Panakawan dan majalah Prasasti yang tidak lama bertahan menunjukkan bahwa kegigihan para pengelola media massa cetak ber- bahasa jawa selalu menghadapi tantangan berat sehingga tidak mampu mempertahankan usahanya. Hal serupa juga terjadi setelah krisis ekonomi dan moneter menimpa negara dan bangsa Indonesia sejak Juli 1997. Beberapa bulan setelah krisis itu terjadi, tabloid Kandha Raharja dan Jawa Anyar gulung tikar, sedangkan majalah Penjebar Semangat, Jaya Baya, Mekar Sari, Djaka Lodang, dan Praba tetap bertahan dengan cara “mengencangkan ikat pinggang”. Di samping ada yang mengurangi jumlah halaman, tiras majalah-majalah itu juga mengalami penurunan cukup fantastis akibat banyak pelanggan mengundurkan diri. Tiras Penjebar Semangat turun menjadi 25.000 eksemplar setiap terbit, Jaya Baya

turun menjadi 17.000 eksemplar, Djaka Lodang turun menjadi 7.500 eksemplar, dan Praba turun menjadi 4.000 eksemplar, sedangkan Mekar Sari untuk sementara terbit triwulanan dengan tiras 5.000 eksemplar. Telah dikemukakan bahwa kehadiran media massa cetak berbahasa Jawa sebagai saluran publikasi sastra Jawa menyebabkan sastra Jawa diwarnai oleh sastra majalah dan sastra koran atau sastra magersari. Sastra magersari itu sudah ada sejak awal terbitnya media massa cetak berbahasa Jawa. Sejak tahun 1945 sampai dengan 1997, misalnya, setidak- tidaknya ada 30 media massa cetak berbahasa Jawa yang menampilkan karya sastra Jawa modern. Dari jumlah itu, sampai dengan 1997 hanya tinggal 7 majalah yang masih bertahan hidup, yaitu Penjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, Mekar Sari, Pustaka Candra, Mbangun Tuwuh, dan Pagagan, sedangkan Praba lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Di samping beberapa majalah berbahasa Jawa, ada sejumlah media massa cetak berbahasa Indonesia dan berbahasa asing yang ikut berperan menampilkan karya sastra Jawa modern. Pada tahun 1980-an, misalnya, sejumlah media massa cetak berbahasa Indonesia dan berbahasa asing yang ikut berperan serta itu adalah Birawa, Kedaulatan Rakyat, Surabaya Post, Widyaparwa, dan La Revue; sedangkan sebelum tahun 1980-an adalah Andika dan Gelora Berdikari. Meskipun media massa cetak berbahasa Jawa seba- gian besar tidak berumur panjang, jumlah karya sastra Jawa modern yang pernah ditampilkan jauh lebih banyak daripada jumlah karya sastra Jawa modern yang dicetak dalam bentuk buku. Sebagai contoh, sampai dengan tahun 1980-an, cerita pendek dan cerita bersambung karya Any Asmara yang

tampil dalam media massa cetak sudah mencapai 775 judul (Doyosantosa, 1990:34), sedangkan karya yang terbit dalam bentuk buku hanya 75 judul (Cantrik Banyumas, 1983:19-- 29). Jika ditambah dengan karya para pengarang lain (yang berjumlah 100 orang lebih), jumlah karya sastra Jawa modern (yang magersari) dalam media massa cetak dapat mencapai lebih dari 10.000 judul. Sementara itu, dalam waktu yang sama (1945--1997), karya sastra Jawa modern yang terbit dalam bentuk buku hanya ada sekitar 375 judul, termasuk cetak ulang, dan sekitar 300 judul berupa roman picisan. Hal demikian menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 1990-an, penutur bahasa Jawa--sesuai dengan sensus penduduk 1990-- yang mencapai 60.267.461 jiwa, yang 48.946.554 jiwa tinggal di tiga wilayah utama penutur bahasa Jawa, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (Alwi, 1996:5--7), tidak mampu membangkitkan sastra Jawa karena tidak semua sistem pendukung sastra Jawa dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya, sastra Jawa modern diwarnai oleh sastra magersari sehingga dianggap sebagai sastra murahan. Penerbitan karya sastra Jawa modern, baik yang berbentuk buku maupun yang masih berbentuk sastra magersari, berkaitan erat dengan pengarang sebagai produsen atau pencipta dan pembaca sebagai konsumen. Dalam upaya memperoleh karya sastra Jawa modern, ada beberapa cara dan kiat yang dapat ditempuh oleh penerbit untuk menyeleksi karangan yang masuk. Penerbit Balai Pustaka, misalnya, telah lama mempunyai jaringan untuk memperoleh karangan dan mempunyai tim redaksi yang tangguh untuk menyeleksi karangan yang masuk. Sastrawan Jawa Hardjawiraga dan Senggono, misalnya, ditarik untuk bergabung di lembaga

tersebut, untuk menangani penerbitan sastra Jawa. Setelah diadakan peningkatan apresiasi sastra bagi karyawan (1981), peningkatan status kelembagaan dari perusahaan negara (PN) menjadi perusahaan umum perseroan terbatas (Perum PT) sejak 28 Desember 1985, dan pembentukan Dewan Pertim- bangan Perbukuan Nasional (DPPN) tanggal 31 Oktober 1986, layaklah jika Balai Pustaka lebih bersikap aktif dan responsif untuk memperoleh karangan dengan sistem jemput bola sehingga sinyalemen bahwa lembaga itu bersifat pasif (Damono, 1993:56) tidak akan terjadi. Penerbit lain yang mempunyai jaringan untuk mem- peroleh karya sastra Jawa modern yang berkualitas adalah Pustaka Jaya dan Lembaga Studi Jawa (LSJ). Melalui pembaca canggih (pemerhati, peneliti, kritikus) yang ditugasi, Pustaka Jaya dapat menerbitkan novel Tanpa Daksa (Sudhar- ma K.D., 1976) dan Tunggak-tunggak Jati (Esmiet, 1976) serta cerita (prosa) tradisional Babad Tanah Jawa jilid I dan II (Sugiarta Sriwibawa, 1976). Pada halaman terakhir kedua novel itu, antara lain, dinyatakan bahwa roman Jawi gagrag enggal punika sampun angsal kawigatosan saha pangalem- bana dening kalangan pers basa Jawi 'roman Jawa mutakhir ini telah mendapatkan perhatian dan penghargaan dari kalangan pers bahasa Jawa'. Sementara itu, Lembaga Studi Jawa di Yogyakarta dapat menerbitkan novel Astirin Mbalela (Peni, 1995) yang sebelumnya merupakan cerita bersambung dalam Djaka Lodang edisi 1993, dan kumpulan guritan Siter Gadhing (Djaimin K., 1996) yang sebelumnya dimuat di berbagai media massa cetak tahun 19871995. Pada tahun 1997, Siter Gadhing mendapatkan hadiah Rancage. Cara yang dilakukan penerbit “Dua-A” dan Ariyati untuk memperoleh karangan berbeda dengan cara yang

dilakukan oleh tiga penerbit di atas. Penerbit “Dua-A” yang didirikan oleh Any Asmara, misalnya, memperoleh karangan dari pemiliknya sendiri. Dengan sistem monopoli, penerbit itu berhasil memproduksi 30 judul dari 75 judul roman picisan karya Any Asmara. Karya terbitan “Dua-A” itu, antara lain Peteng Lelimengan (1962), Tangise Kenya Ayu (1964), Kuburan sing Angker (1965), Kumandhanging Dwikora