Anda di halaman 1dari 18

TERBATAS

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMSOS BABINSA DALAM MENDUKUNG


TUGAS POKOK KODIM GUNA MENGHADAPI
TANTANGAN TUGAS KE DEPAN

a.

1. UMUM
Pertahanan Negara yang mantap merupakan wujud dari stabilitas nasional atau
stabilitas wilayah yang melibatkan seluruh komponen bangsa, sumber daya
nasional, sarana dan prasarana secara optimal, menyeluruh, terpadu, terarah, adil
dan merata guna menangkal dan meniadakan setiap ancaman baik dari dalam
maupun dari luar. Komunikasi sosial budaya masyarakat Indonesia tiap wilayah
mempunyai sifat yang sangat heterogen, yang pada saat sekarang ini dipengaruhi
oleh globalisasi segala bidang yang berdampak pada pertumbuhan dan percepatan
pembangunan, hal ini tentunya akan mempengaruhi stabilitas keamanan dan kondisi
sosial serta berpengaruh terhadap pola pikir dan tingkat sosial masyarakat,
kemudahan mengakses informasi dari luar maupun dalam negeri melalui internet
dan media elektronik yang bisa menimbulkan kemungkinan hakekat ancaman baik
dari dalam maupun dari luar negeri, sehingga perlu antisipasi terhadap penyiapan
satuan TNI AD, terutama satkowil

b.

sebagai ujung tombak dalam pemberdayaan

wilayah dihadapkan dengan tantangan tugas di masa mendatang.


Pemberdayaan Wilayah Pertahanan sebenarnya sudah dijalankan oleh satkowil,
terutama Babinsa sebagai unsur terbawah dari satkowil yang langsung berinteraksi
dengan wilayah, namun bila dihadapkan dengan perkembangan situasi saat ini perlu
adanya suatu peningkatan Pemberdayaan Wilayah Pertahanan khususnya dalam
meningkatkan potensi sumber daya nasional (sumber daya manusia, sumber daya
alam dan sumber daya buatan) menjadi kekuatan ruang, alat, dan kondisi juang yg
tangguh melalui pembinaan teritorial yang melibatkan seluruh komponen bangsa
melalui metoda bakti TNI dan pembinaan ketahanan wilayah dan komunikasi sosial.
Metode

komsos

pemberdayaan

adalah

wilayah

metode
karena

yang
semua

paling
metode

tepat

dalam

pembinaan

melaksanakan
teritorial

letak

kekuatannya adalah bermuara pada peran komsos, misalnya metode bakti TNI atau
ketahanan wilayah tidak akan berjalan tanpa terjadinya komunikasi sosial yang baik
c.

terlebih dahulu dengan komponen yang terlibat didalamnya.


Komsos tidak akan beradaya guna dan tepat sasaran bila masih terdapat Babinsa
yang kurang mampu dalam melaksanakan komsos dikarenakan kurang mendalami
materi yang akan disampaikan sehingga penyampaiannya belum dapat dimengerti
dan dipahami oleh masyarakat, hal ini dikarenakan kurangnya keinginan untuk
TERBATAS

menambah wawasan dan ilmu pengetahuan melalui internet, media cetak dan
elektronik yang berkaitan erat dengan perkembangan situasi dan kondisi yang
sedang berlaku guna mendukung pelaksanaan tugas, selain itu masih terdapat dan
Babinsa yang belum dapat memilah dan membatasi materi yang akan disajikan serta
kurang mendalami suatu materi, sehingga keluar dari lingkup bahasa, serta masih
terdapat Babinsa yang belum memiliki kemampuan ilpengtek (komputerisasi,
teknologi dan lain-lain), sehingga dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
d.

teknologi Babinsa tertinggal jauh.


Dengan peningkatan kemampuan komsos Babinsa, maka secara langsung maupun
tidak langsung akan sangat bermanfaat untuk Kodim khususnya dan TNI umumnya,
sehingga diharapkan dengan upaya peningkatan kemampuan komsos Babinsa akan
dapat melaksanakan pemberdayaan wilayah dihadapkan tantangan tugas yang
sangat berat di masa mendatang.
2. Maksud dan Tujuan.
a.

Maksud.

upaya

Untuk memberikan gambaran bagi Komando Atas tentang

Meningkatan

Kemampuan

Komsos

Bintara

Pembina

Desa

dalam

Memberdayakan Wilayah Pertahanan Guna Menghadapi Tantangan Tugas ke


Depan.
b.

Tujuan. Sebagai bahan masukan bagi unsur pimpinan TNI didalam mengambil
langkah-langkah

guna

meningkatkan

kemampuan

komsos

Babinsa

dalam

Pemberdayaan Wilayah Pertahanan untuk mendukung Tugas Pokok Kodim


dihadapkan dengan tantangan tugas ke depan.
3.

Ruang Lingkup dan Tata Urut.

Pokok bahasan tulisan ini mencakup masalah

Kemampuan komsos Babinsa dalam Pemberdayaan Wilayah Pertahanan yang


dilaksanakan oleh satkowil dihadapkan dengan tantangan tugas ke depan. Adapun tulisan
ini disusun dengan tata urut sebagai berikut :
a.

Pendahuluan.

b.

Latar Belakang Pemikiran.

c.

Kondisi Kemampuan Komsos Babinsa Saat Ini

d.
e.
f.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi.


Kondisi Kemampuan Komsos Babinsa yang Diharapkan.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Komsos Babinsa

dalam

Rangka

Mendukung Tugas Pokok Kodim.


g.
Penutup.
4. Pendekatan.
Menggunakan pendekatan deskripsi analisis dan empiris untuk dapat
diaplikasikan dalam upaya peningkatan kemampuan komsos Babinsa dalam rangka
pemberdayaan wilayah pertahanan.
5. Pengertian.

a. Komunikasi Sosial sebagai kemampuan. Adalah kemampuan prajurit TNI AD


dalam berkomunikasi dengan komponen masyarakat dan aparat pemerintah terkait
lainnya guna terwujudnya saling pengertian dan kebersamaan yang memungkinkan
timbulnya keinginan masyarakat untuk berpartisipasi pada kepentingan bidang
pertahanan Negara.
b. Komsos sebagai Metoda. Yaitu suatu cara yang diselenggarakan oleh satuan
jajaran TNI AD yang berhubungan dengan perencanaan dan kegiatan untuk
memelihara serta meningkatkan keeratan hubungan dengan segenap komponen
bangsa guna terwujudnya saling pengertian dan kebersamaan yang memungkinkan
timbulnya keinginan masyarakat untuk berpartisipasi pada kepentingan bidang
pertahanan.1
c. Tugas Pokok Kodim. Adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan
gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. 2
d. Sistem Pertahanan Negara.
Adalah sistem pertahanan yang bersifat
semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya nasional
lainnya

serta

dipersiapkan

secara

dini

oleh

pemerintah

pemerintah

dan

diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan berlanjut untuk menegakkan


kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa dari segala
ancaman.3
e. Pemberdayaan Wilayah Pertahanan. Adalah tugas yang harus dilaksanakan oleh
TNI AD sebagai sarana dan metode guna mewujudkan kemanunggalan TNI-Rakyat
untuk mendukung keberhasilan tugas pokok memberdayakan NKRI. 4

1
2
3

Himpunan Diktat Pembinaan teritorial, Pusat pendidikan teritorial, Komsos Hal.-3 .


Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI,BAB
PasalII7 Ayat (1)

LATAR
PEMIKIRAN
Undang-Undang No. 3 Tahun 2002
tentangBELAKANG
Pertahanan Negara,
Pasal 1 Ayat (2)

Naskah
Departemen, Nomor : 52-07-B1-C.1102, Lampiran A pada Rendal Binter, Hal-2.
6.
Umum.

a. Dalam Doktrin TNI AD Kartika Eka Paksi dijabarkan dijabarkan bahwa Binter
merupakan fungsi utama TNI AD dalam rangka menyiapkan ruang, alat dan kondisi

juang yang tangguh dan diselenggarkan untuk menunjang keberhasilan tugas pokok
TNI AD, khususnya didalam penerapan sistem pertahanan semesta yang tidak lepas
dari kegiatan pembinaan komunikasi sosial antara aparat kowil dan masyarakat
maupun hubungan yang sinergi dengan Aparat Pemerintah.
b. Penyiapan dan penyelenggaraan sistem pertahanan semesta memerlukan kerja
sama dan koordinasi secara terpadu dengan segenap komponen bangsa lainnya,
oleh karena itu Komunikasi Sosial dilaksanakan secara berkesinambungan dan
dilaksanakan secara terus menerus baik sebelum, selama dan sesudah terjadinya
perang.

Dalam pelaksanaannya Komunikasi sosial mutlak diperlukan adanya

kesamaan visi, misi dan persepsi dalam membangun dan menyiapkan potensi
kekuatan masyarakat secara menyeluruh bagi pertahanan Negara terhadap segala
bentuk ancaman.
c. Pembinaan Komunikasi sosial merupakan fungsi yang dapat didayagunakan dalam
upaya penyiapan dan pemberdayaan, potensi nasional yang bersifat kewilayahan
untuk dijadikan ruang, alat dan kondisi juang yang tangguh bagi bagi kepentingan
pertahanan pertahanan Negara di darat.

Hal tersebut dilaksanakan secara

berencana, berkesinambungan dan konsisten berdasarkan kebijakan dan strategi


baik yang dikembangkan melalui jalur pembinaan maupun jalur pengendalian
operasi agar terwujud ketahanan nasional yang memiliki daya tangkal strategis
dalam penyelenggaraan Sistem Pertahanan Semesta.
d. Babinsa dalam melaksanakan tugasnya telah

berusaha

melaksanakan

penyelenggaraan komsos secara maksimal akan tetapi pelaksanaannya belum


memberikan hasil yang signifikan dalam implementasinya adapun salah satu
penyebabnya adalah kemampuan Babinsa yang masih lemah dalam berkomunikasi
dan koordinasi dengan seluruh komponen yang ada di wilayahnya.
7.

Landasan Pemikiran.
a.

Landasan Idiil. Pancasila sebagai landasan idiil seluruh bangsa Indonesia

diyakini sebagai alat pemersatu bangsa, walaupun Pancasila telah berulangkali


mengalami berbagai ancaman terutama dari pihak-pihak yang ingin merubah dan
menggantikan Pancasila dengan ideologi lain, namun sampai dengan saat ini
Pancasila telah diyakini kebenarannya dalam sejarah perjuangan bangsa dalam
mengejar dan mewujudkan cita-cita nasional yaitu masyarakat adil dan makmur
yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
b.

Landasan Konstitusional.

UUD

1945

sebagai

landasan

konstitusional

mempunyai kekuatan hukum terutama yang terdapat pada pembukaan UUD 1945
yang memuat cita-cita nasional serta perwujudan bela negara bangsa Indonesia,
sehingga dengan demikian dapat dijadikan landasan yang kuat sebagai cita-cita

bangsa Indonesia kedepan yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan turut serta dalam ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.5
c.

Landasan Visioner.

Wawasan Nusantara sebagai cara pandang bangsa

Indonesia yang bersumber pada falsafah hidup bangsa tentang jati diri dan
lingkungannya yang bernilai strategis, cara pandang tersebut secara utuh bahwa
wilayah Indonesia dan segala isinya sangat berpengaruh terhadap penerapan sistem
pertahanan negara dengan mempunyai maksud dan tujuan yang sama, yang
melibatkan seluruh warga negara serta seluruh sumber daya nasional lainnya.
d.
5.

Landasan Historis. Perpaduan kemampuan dan kekuatan nasional

diberdayakan
Pembukaan
Undang dalam
Undangkerangka
Dasar 1945,sistem
Alinea IV.pertahanan

perlu

negara dengan menyiapkan

komponen cadangan dan pendukung, sehingga dalam pelaksanaannya memerlukan


pembinaan secara terencana dan terpadu guna kepentingan ketahanan nasional.
e.

Landasan Yuridis.

Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Dalam

undang-undang No. 34 tahun 2004 tentang TNI dinyatakan pada pasal 7 ayat (1)
tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan
gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. 6 Maka sesuai dengan penjelasan
pada pasal 7 adalah membantu pemerintah menyiapkan rakyat sebagai kekuatan
pendukung. Dikaitkan dengan letak geografis negara Indonesia yang terdiri dari
beberapa pulau besar dan pulau kecil merupakan hal yang sangat rawan terhadap
kemungkinan ancaman baik yang datang dari luar negeri maupun dari dalam negeri.
Dalam Konteks ini maka bila dihubungkan dengan sistem pertahanan negara perlu
memberdayakan wilayah pertahanan beserta kekuatan pendukungnya agar mampu
menagkal setiap ancaman yang mungkin timbul.
8.

Permasalahan.

Dengan

adanya

tantangan

tugas

ke

depan

untuk

memantapkan sistem pertahanan negara masih terdapat kelemahan dan kekurangan


terutama mengenai pelaksanaan pemberdayaan wilayah pertahanan yang dilaksanakan
oleh Komando Kewilayahan baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama
penyiapan komponen cadangan dan komponen pendukung serta kurang dipahaminya
Undang-Undang No. 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara. Oleh karena itu perlu
adanya suatu upaya guna meningkatkan kemampuan komsos Babinsa dalam

Pemberdayaan Wilayah Pertahanan dalam pemantapan sistem pertahanan negara, maka


langkah-langkah yang harus dilakukan adalah dengan menginventarisir kekurangankekurangan tersebut diatas agar dapat dijadikan acuan dan pedoman guna perbaikan
kedepan, mensosialisasikan Undang-Undang No. 3 tahun 2002 tentang pertahanan
negara yang dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan pemerintah daerah. Dengan
langkah tersebut diharapkan peran komsos dalam Pemberdayaan Wilayah Pertahanan
akan dapat memantapkan sistem pertahanan negara.

6.

Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI pasal 7 ayat (1)

BAB III
KONDISI KEMAMPUAN KOMSOS BABINSA SAAT INI
9.

Umum.

Secara umum

Babinsa masih belum mampu secara maksimal

mendayagunakan komsos didalam memberdayakan wilayah pertahanan, masih bersifat


rutinitas dan tanpa tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam penyelenggaran komsos.

10. Kemampuan Komsos Babinsa. Pelaksanaan komsos Babinsa saat ini dapat
ditinjau dari beberapa aspek antara lain :
a. Ditinjau dari Komsos sebagai metoda.

Belum dapat dilaksanakan secara

maksimal oleh Babinsa karena belum ada pedoman, format yang terdapat dalam
Bujuknik

Komsos,

contohnya

ceramah

dan

seminar, sehingga

pelaksanaannya, sehingga tidak terkonsep dengan baik,

didalam

dalam pelaksanaan

komsos terhadap pemerintah, tokoh masyarakat dan komunikasi dengan KB TNI


secara formal masih terbatas hanya pada penyelenggaraannya.
b. Ditinjau dari Komsos sebagai kemampuan. Dalam penyampaian sesuatu materi
komsos, Babinsa harus mampu menguasai materi yang akan disampaikannya,
sehingga Babinsa harus mempunyai ilmu pengetahuan yang luas, mengikuti
perkembangan keadaan situasi wilayah dan para unsur komandan satkowil harus
mampu mendidik bintara atau tamtamanya dalam kemampuan berkomunikasi sosial
dengan seluruh komponen, serta mampu memberikan perintah sesuai dengan
c.

kemampuan anggotanya dalam berkomunikasi sosial.


Ditinjau dari pengorganisasian. Babinsa belum mampu mengorganisasi dan
menguasai manajemen teritorial yang baik, sehingga hasil yang diperoleh belum

begitu maksimal dalam mendukung tugas pokok Kodim.


d. Ditinjau dari sarana dan prasarana. Babinsa belum mampu menyiapkan dan
menggunakan sarana dan prasarana sejak dini guna mendukung materi yang akan
disajikan dalam penyelenggaran komsos, seperti buku, internet, media informasi dan
media lainnya. Selain itu juga harus dapat memanfaatkan sarana dan prasarana
yang

terdapat di wilayahnya dalam menyelenggarakan Komsos yang dapat

dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung.


e. Ditinjau menyelenggarakan kegiatan Binkomsos.

Pelaksanaan Binkomsos

belum dilakukan secara maksimal. Untuk itu perlunya koordinasi dan komunikasi
yang baik antara Babinsa dan komponen bangsa guna penyelenggaraan
Binkomsos..
11. Pelaksanaan Pemberdayaan Wilayah Pertahanan. Dalam rangka mewujudkan
sistem pertahanan negara terutama dalam pemberdayaan wilayah pertahanan belum
dapat dilaksanakan secara optimal oleh Komando Kewilayahan, hal ini dapat dilihat dalam
pelaksanaan tugas sehari-hari. TNI melalui Komando Kewilayahan telah melakukan
pembenahan terdapat berbagai kelemahan, khususnya implementasi Pelaksanaan
Komando Kewilayahan sesuai UU No 3 tahun 2002, namun secara keseluruhan
pelaksanaan tersebut saat ini masih dinilai belum maksimal.

a.

Kondisi

RAK

Juang.

Komando

Kewilayahan

didalam

melaksanakan

pemberdayaan wilayah pertahanan masih mengalami banyak kendala dan


hambatan terutama dalam pembinan pemberdayaan bidang geografi, demografi,
sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosbud dan hankam.
1)

Geografi. Ditinjau dari kondisi geografi wilayah NKRI yang sangat luas

sehingga kurang maksimal dalam melaksanakan pembinaan disebabkan


jumlah personel Kowil yang ada belum cukup bila dihadapkan dengan wilayah
tanggung jawabnya yang sangat luas sehingga mengakibatkan kesiapan
wilayah pertahanan masih belum terwujud dengan baik.
2)

Demografi. Jumlah penduduk Indonesia yang besar yang terdiri dari

berbagai suku, agama dan budaya yang berbeda mengakibatkan rentan


terhadap kerawanan yang berbau SARA sehingga dapat memecah belah
persatuan dan kesatuan bangsa.
3)

Sumber Daya Alam. Keberadaaan sumber daya alam yang dapat

disiapkan dan diberdayakan dalam rangka pertahanan negara baik ditinjau dari
aspek penyiapan, pemeliharaan maupun penggunaan belum dilaksanakan
secara maksimal sehingga dapat mengakibatkan kecemburuan antar daerah
yang relatif kaya dengan daerah yang sumber daya alamnya minim.
4)

Ideologi. Dibidang ideologi masih terdapat ideologi lain selain Pancasila

yang berusaha merongrong serta merubah ideologi Pancasila dengan ideologi


yang mereka anut baik yang berhaluan kiri maupun kanan sehingga dapat
berpengaruh terhadap keutuhan bangsa dan negara yang dapat menjadi
benturan kepentingan golongan dari partai politik.
5)

Politik. Kesadaran berpolitik masyarakat masih rendah, hal tersebut dapat

dilihat dari kegiatan para elit politik yang cenderung mementingkan kelompok
dan pribadinya serta cenderung dalam menyampaikan aspirasi politiknya
bersifat kedaerahan sehingga dapat menimbulkan disintegrasi bangsa.
6)

Ekonomi. Situasi ekonomi masih diwarnai berbagai masalah akibat dari

keterpurukan dibidang ekonomi serta merebaknya budaya KKN yang dapat


memporak-porandakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegera.
7)

Sosial Budaya. Dampak dari era globalisasi dengan kemajuan dibidang

teknologi dan komunikasi dapat memberikan peluag masuknya budaya asing


yang langsung diserap oleh generasi muda sehingga berakibat terhadap
memudarnya budaya nasional.
8)

Hankam. Gangguan keamanan dari dalam negeri berupa pemberontakan

bersenjata, ancaman kerusuhan dan kekerasan seperti aksi massa yang

anarkhis, perkelahian antar etnis, kerusuhan akibat pilkada, gangguan


terorisme dapat menimbulkan stabilitas keamanan yang kurang kondusif
b.

Permasalahan.

Aspek

yang

menjadi

kendala

dalam

meningkatkan

kemampuan komsos adalah :


1)

Bidang

Kualitas

Personil.

Pada

umumnya

Personel

Komando

Kewilayahan terutama Bintara dan Tamtama mempunyai bekal pendidikan


yang minim, bila dihadapkan dengan tugas dan tanggung jawab yang dikaitkan
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang belum dapat
menjawab tantangan tugas yang dihadapi baik sekarang maupun yang akan
datang. Demikian juga dengan masih terbatasnya jumlah Babinsa yang
memiliki spesialisasi Teritorial seperti Susbater serta masih banyak yang belum
berpengalaman tugas di Komando Kewilayahan sehingga belum mewadahi
kebutuhan untuk tugas yang dihadapi.
3)

Motivasi Kerja. Kenyataan yang dihadapi saat ini masih banyak ditemukan

Babinsa yang memiliki motivasi kerja dan semangat kerja yang rendah baik
dilihat dari aktivitas kegiatan sehari-hari dari segi penampilan, sikap, tingkah
laku serta disiplin, ini ditandai dengan macam pelanggaran mulai dari
pelanggaran disiplin sampai pelanggaran yang bersifat kriminal. Sehingga dari
kondisi yang demikian merupakan cermin dari motivasi kerja Aparat Komando
Kewilayahan yang masih rendah, sehingga sangat berpengaruh bagi upaya
untuk mengoptimalkan pelaksanaan tugas.
4)

Kesejahteraan Prajurit. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan prajurit

sehingga sangat berpengaruh terhadap rendahnya kinerja dan motivasi kerja


sebagian besar aparat Komando Kewilayahan di wilayah.

BAB IV
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
12. Umum. Berdasarkan kondisi kemampuan komsos Babinsa dalam pemberdayaan
wilayah Pertahanan sebagaimana yang diuraikan diatas, tidak terlepas dari faktor-faktor
yang mempengaruhinya. Dimana faktor-faktor tersebut bisa berasal dari luar (eksternal)
maupun dari dalam (internal), sehingga dengan demikian dari faktor-faktor yang
mempengaruhi tersebut dapat dijadikan acuan dalam meningkatkan kemampuan komsos

Babinsa dalam pemberdayaan wilayah Pertahanan dalam pemantapan sistem pertahanan


negara sesuai dengan UU Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan negara.
13. Faktor Internal.
a.

Kekuatan.
1)

Tugas pokok TNI sudah jelas dan tegas seperti tertuang dalam UU No. 34

tahun 2004 tentang TNI,

dapat dijadikan pedoman bagi setiap Personel

Komando Kewilayahan dalam melaksanakan komsos untuk memberdayakan


wilayah pertahanan dalam rangka membantu pemerintah menyiapkan potensi
nasional menjadi kekuatan pertahanan guna mewujudkan sistem pertahanan
Negara.
2)

Loyalitas dan dedikasi yang dimiliki oleh Babinsa dapat menjadi kekuatan

untuk memberdayakan potensi wilayah guna kepentingan pertahanan negara


dan masih banyak hal yang dapat diberdayakan bagi peningkatan profesional
prajurit.
3)

Sumber Daya Nasional merupakan modal dasar bagi pemberdayaan

kekuatan pertahanan wilayah apabila dikelola dan disiapkan dimana sebagian


masyarakat dapat menjadi komponen utama (TNI), komponen cadangan serta
komponen pendukung.
b.

Kelemahan.
1)

Sumber Daya Manusia (SDM). Para Babinsa tidak mampu mengimbangi

tingkat pendidikan masyarakat yang relatif tinggi, sehingga dapat menjadi


kendala dalam melaksanakan komsos di lapangan sehingga secara umum
kualitas Personel yang ada di Komando Kewilayahan masih belum sesuai
dengan yang diharapkan sehingga perlu peningkatan kemampuan terutama
dibidang komunikasi sosial dan pengetahuan umum.
2)

Kondisi sarana dan prasarana. Kondisi sarana dan prasarana yang

sangat terbatas yang ada di Komando Kewilayahan seperti terbatasnya piranti


lunak, media internet, sarana transportasi dan komunikasi serta tingkat latihan
personel Kowil masih belum sesuai dengan yang diharapkan.
14. Faktor Eksternal.
a.

Peluang.
1)

Banyaknya website atau situs TNI yang bisa diakses di media internet

sehingga memudahkan Babinsa mendapatkan referensi dalam melaksanakan


komsos dengan seluruh komponen masyarakat.

2)

Perkembangan situasi dan kondisi bangsa Indonesia akibat dari

keterpurukan yang dialami dimulai dari bergulirnya reformasi sampai dengan


saat ini, dapat dijadikan momentum guna meningkatkan semangat bangsa
Indonesia untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik demi
kepentingan bangsa dan Negara.
3)

Sebagian besar masyarakat masih mempercayai TNI sebagai alat

pertahanan negara mempunyai tugas untuk menjaga dan melindungi


kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan segenap bangsa
dari segala bentuk ancaman.
b.

Kendala.
1)

Kekurang mampuan Babinsa dalam mengikuti perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat sekarang ini yang menjadi
kendala bagi personil babinsa dalam dalam melaksanakan komsos.
2)

Sikap

masyarakat

yang

apatis

terhadap

situasi

dan

kondisi

lingkungannya sehingga Babinsa kesulitan melaksanakan komsos dengan


masyarakat yang sebagian apatis dan tidak peduli.
3)

Media informasi yang sekarang ini sangat terbuka dalam menyampaikan

informasi, yang berakibatkan

komsumsi publik beraneka ragam terhadap

kebijakan pemerintah maupun unsur pemerintahan sehingga masyarakat


rentan anonim terhadap segala kebijakan.

BAB - V
KONDISI KEMAMPUAN KOMSOS BABINSA YANG DIHARAPKAN
15. Umum. Komunikasi Sosial sebagai salah satu metoda binter sangat mendukung
keberhasilan pelaksanaan tugas pokok TNI AD, kegiatan komsos yang dilaksanakan
meliputi upaya untuk meningkatkan pemahaman bagi segenap komponen bangsa

terhadap pertahanan Negara, ketahanan wilayah dan program bakti TNI. Untuk itu perlu
adanya tolak ukur bagaimana seharusnya Babinsa melaksanakan komsos guna
pemberdayaan wilayah pertahanan, dengan memanfaatkan peluang dan kendala yang
ada maka kondisi yang diharapkan dapat digambarkan seperti uraian dibawah ini.
16.

Kemampuan Komsos Babinsa. Sejalan dengan Visi Binter yakni keterpaduan,

kebersamaan dan berkesinambungan serta sesuai dengan implementasi Binter ke depan,


dimana Binter merupakan fungsi pemerintahan yang dilaksanakan seluruh komponen
bangsa sesuai dengan bidang masing-masing, maka untuk mensinergikan peran dari tiaptiap komponen bangsa tersebut diperlukan metode komsos dan bujuknik komsos yang
telah disusun agar komsos TNI AD dapat dilaksanakan secara terarah dan mencapai
sasaran yang diharapkan. Sehingga dalam penyelenggaran komsos diharapkan ke depan
sebaga berikut :
a. Ditinjau dari Komsos sebagai metoda.

Penyelenggaran

komsos harus

dilaksanakan secara maksimal, terarah dan mendapatkan hasil atau target yang
ingin dicapai dalam penyelenggaraan komsos tersebut dan penyelenggaran komsos
tersebut harus sesuai pedoman, format yang terdapat dalam Bujuknik Komsos,
sehingga didalam pelaksanaannya terkonsep dengan baik.
b. Ditinjau dari Komsos sebagai kemampuan. Belum ada pedoman format, dalam
bujuknik

komsos,

contohnya,

ceramah

dan

pidato,

sehingga

di

dalam

pelaksanaannya tidak terkonsep dengan baik dalam pelaksanaannya para perwira


masih bersifat adu bako, sehingga dalam forum tertentu belum dapat terkonsep
dengan baik, sedangkan para Bintara dan Tamtama dalam melaksanakan
anjangsana maupun kegiatan lainnya masih ada kelemahan dalam berbicara dan
masih menonjolkan egoismenya hal ini di karenakan belum adanya penerangan
maupun penjelasan terpadu terhadap pemahaman tentang Binkomsos dari Satuan
Komando atas.
c. Ditinjau dari pengorganisasian. Didalam komunikasi sosial secara kesatuan
tentunya diperlukan pengorganisasian, contohnya : seminar, diskusi dan dialog
interaktif, namun dalam bujuknik belum dapat dijabarkan secara terperinci, di dalam
materi tertentu, komunisasi memerlukan pengorganisasian yang lebih luas dengan
mengadakan kerjasama dan koordinasi dengan instansi yang terkait.
d. Ditinjau dari sarana dan prasarana. Masih terbatasnya sarana dan prasarana
guna mendukung materi yang akan disajikan.

Selain itu

juga belum dapat

memanfaatkan sarana dan prasarana yang terdapat di wilayahnya dalam


menyelenggarakan Komsos yang dilaksanakan secara langsung maupun tidak
langsung.

e. Ditinjau menyelenggarakan kegiatan Binkomsos.

Belum seluruhnya dapat

menyelenggarakan Binkomsos secara maksimal. Hal ini dikarenakan belum adanya


koordinasi dan komunikasi yang baik antara

dan komponen bangsa guna

penyelenggaraan Binkomsos, serta belum mengertinya Babinsa tentang kegiatan


Binkomsos yang tepat.

BAB - VI
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMSOS BABINSA
DALAM MENUNJANG TUGAS POKOK KODIM GUNA
MENGHADAPI TANTANGAN TUGAS KE DEPAN
17. Umum.

Guna menjawab tantangan tugas masa yang akan datang perlunya

memantapkan pemberdayaan wilayah pertahanan yang dilaksanakan oleh Babinsa dalam


rangka mewujudkan pertahanan Negara, sehingga terwujud kemanunggalan TNI Rakyat, terwujudnya kesadaran berbangsa dan bernegara, berwawasan kebangsaan dan
kesadaran bela negara serta cinta tanah air. Komando Kewilayahan sebagai pembina

wilayah dalam pelaksanaannya menggunakan seluruh potensi nasional yang tersedia


secara total dan integral dalam rangka menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan
keutuhan wilayah NKRI dengan upaya meningkatkan peran komonikasi sosial dengan
seluruh komponen bangsa supaya tewujudnya pertahanan negara.
18. Upaya Meningkatkan Kemampuan Komsos Babinsa. Kemampuan komsos
Babinsa dapat ditingkatkan dengan menentukan langkah serta upaya yang diambil
dengan memperhatikan perkembangan lingkungan saat ini, maka upaya yang
dilaksanakan adalah :
a. Dalam kegiatan pertahanan wilayah di dalam bujuknik komsos Perlu mencantumkan
materi

Geografi,

Demografi

dan

Komsos,

sehingga

Babinsa

bisa

mengaktualisasikannya di lapanga, antara lain : geografi, contohnya : penghijauan,


irigrasi, pertanian, perkebunan dan lain-lain, Demografi, contohnya : KB, urbanisasi,
Transmigrasi dan lain-lain dan kondisi sosial, contohnya : partai, wasbang, kesenian
dan lain-lain sehingga perlu adanya pengklasifikasian tentang kegiatan pertahanan
wilayah agar dapat dipahami dan dimengerti oleh Babinsa dalam pelaksanaannya di
lapangan.
b. Perlunya pedoman, format serta pengorganisasian di dalam bujuknik komsos, antara
lain : ceramah yang memerlukan suatu konsep yang mendasar yang menggunakan
referensi agar dapat disampaikan secara jelas, tepat dan dapat diterima oleh para
peserta. Seminar memerlukan organisasi secara berdiri sendiri maupun bersamasama/adanya keterlibatan dengan instansi terkait guna menyampaikan suatu materi
secara konsepsional kepada peserta.
c. Dalam pelaksanaan komsos terhadap pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama
dan KB TNI tidak hanya dengan secara formal dan secara administrasi tetapi
dilaksanakan terus menerus secara berkesinambungan.
d. Menerapkan pedoman, format dalam bujuknik komsos, antara lain : format dan
materi ceramah bagi perorangan, adu bako, anjangsana serta kegiatan lainnya
dengan tetap memperhatikan etika, sopan santun dalam berbicara sehingga dalam
forum tertentu belum dapat dilaksanakan secara maksimal.
e. Dalam menyelenggarakan komunikasi sosial dibutuhkan sarana dan prasarana
piranti lunak maupun piranti keras yang disesuaikan dengan materi yang diberikan
serta memperhatikan personel yang akan mengikuti kegiatan penyelenggaran
komsos, yang perlu dilakukan untuk keberhasilan dalam komsos adalah :
1) Perlunya Pusterad selaku LKT (Lapangan kekuasaan teknik) referensi bujuknik
komsos nomor skep/480/XII/2006 tanggal 18 Desember 2006 di mana bujuknik
komsos sebagai metode belum menjelaskan secara terperinci kegiatan komsos
baik secara satuan maupun perorangan, sebagaimana yang di jelaskan di atas.

2) Perlunya perlunya koordinasi yang baik antara kowil dengan instansi


pemerintah

dalam

menyelenggarakan

kegiatan

binkomsos

ke

dalam

lingkungan masyarakat.
3) Perlunya komsos terhadap masyarakat tentang fungsi dan peran TNI AD baik
Satkowil maupun Satnon kowil yang terdapat di wilayah agar tidak dapat
kesalahpahaman tentang tugas tugas TNI taerhadap masyarakat .
19. Upaya Pelaksanaan Pemberdayaan Wilhan. Kegiatan pemberdayaan wilayah
pertahanan yang dilaksanakan oleh Satuan Komando Kewilayahan dalam rangka
membina seluruh potensi wilayah yang meliputi potensi geografi, demografi maupun
sumber daya alam dan buatan agar dapat menjadi ruang, alat dan kondisi juang yang
tangguh. Pencapaian kondisi tersebut harus dapat dilaksanakan secara maksimal.
20. Upaya mewujudkan RAK Juang yang Tangguh. Komando Kewilayahan dalam
melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan diharapkan dapat menyiapkan
keadaan geografi, demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosbud dan
hankam sehingga dapat mewujudkan RAK Juang yang tangguh guna kepentingan
pertahanan negara sesuai dengan UU No. 3 tahun 2002 tentang Hanneg.
1)

Geografi. Agar kondisi geografi dapat dibina dengan baik maka Komando

Kewilayahan harus dapat melaksanakan pembinaan secara maksimal walaupun dari


segi jumlah personel Kowil yang terbatas diharapkan pembinaan bidang geografi
terus ditingkatkan melalui kegiatan Bhakti TNI sehingga wilayah tersebut dapat
dijadikan wilayah pertahanan untuk kebutuhan pertahanan negara.
2)

Demografi. Pembinaan dibidang demografi adalah untuk membina masyarakat

agar menjadi komponen cadangan dan pendukung yang siap dimobilisasi guna
kepentingan pertahanan negara dengan meningkatkan pembinaan komunikasi sosial
diharapkan timbul kesadaran masyarakat dalam meningkatkan bela negara.
3)

Sumber Daya Alam. Sumber Daya Alam diharapkan dapat disiapkan dan

diberdayakan dalam rangka pertahanan Negara baik ditinjau dari aspek penyiapan,
pemeliharaan maupun penggunaan agar dilaksanakan secara maksimal guna
mendukung kepentingan pertahanan negara.
4)

Ideologi. Dengan memantapkan kondisi mental bangsa Indonesia yang

berdasarkan Ideologi Pancasila dengan melakukan komunikasi sosial diharapkan


tumbuh kesadaran masyarakat untuk menangkal pengaruh ideologi lain yang dapat
berpengaruh terhadap keutuhan bangsa dan negara.

5)

Politik. Pembinaan dibidang politik diharapkan dapat mengajak masyarakat

agar melaksanakan kegiatan politik secara sehat guna kepentingan bangsa dan
negara.
6)

Ekonomi. Dengan melaksanakan kegiatan pembinaan ketahanan wilayah

diharapkan tumbuh kesadaran masyarakat dalam mewujudkan perekonomian


secara mandiri dan dapat mengatasi gejolak sosial ekonomi akibat dari keterpurukan
ekonomi.
7)

Sosial Budaya. Dengan melaksanakan kegiatan pembinaan ketahanan wilayah

dan kegiatan komunikasi sosial diharapkan tumbuh kesadaran masyarakat untuk


menangkal masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa
Indonesia.
8)

Hankam. Diharapkan dengan melaksanakan Bhakti TNI dan komunikasi sosial

dapat meningkatkan kesadaran bela Negara untuk meningkatkan perlawanan rakyat


terhadap setiap ancaman yang dapat membahayakan keutuhan NKRI.

BAB - VII
PENUTUP
21.

Kesimpulan.
a.

Perlunya pedoman dan Bujuknis tentang pelaksanaan penyelenggaran komsos

dalam rangka Pemberdayaan Wilayah Pertahanan untuk meningkatkan sistem


pertahanan negara, yang sampai saat ini sudah dilaksanakan, namun belum
terpadu, terarah dan berkesinambungan serta belum dilengkapi dengan kemampuan
penguasaan

materi

komsos

oleh

Babinsa

guna

mewujudkan

peningkatan

Pemberdayaan Wilayah Pertahanan yang meliputi pembinaan geografi, demografi


dan kondisi sosial agar menjadi ruang alat dan kondisi juang yang tangguh dengan

memberdayakan Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Buatan,
Sarana dan Prasarana serta Piranti Lunak agar menjadi komponen utama,
komponen cadangan dan komponen pendukung guna kepentingan sistem
pertahanan negara.
b. Pemberdayaan Wilayah Pertahanan yang dilaksanakan oleh Personel Komando
Kewilayahan bila dihadapkan dengan situasi dan kondisi saat ini harus mampu
memberikan kontribusi dalam pamantapan Sistem Pertahanan Negara, maka dalam
meningkatkan Pemberdayaan Wilayah Pertahanan guna mencapai sasaran tugas
diperlukan personel yang memadai ditinjau dari kuantitas maupun kualitas maka
peran kemampuan komunikasi sosial Babinsa harus ditingkatkan dengan segala
upaya.
c. Bintara Pembina Desa dalam melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan
harus mempunyai kemampuan teritorial dengan baik, kemampuan yang dimiliki
tersebut bila dihadapkan kepada tugas pokok TNI yang demikian kompleks belum
maksimal, maka setiap aparat teritorial dituntut untuk mempunyai kualitas dan
kemampuan teknis yang dapat diandalkan. Hal tersebut dapat dicapai apabila setiap
Babinsa dilatih secara terencana dan dilaksanakan dengan baik dan benar sehingga
dapat mendukung tugas pokok Kodim sehingga tantangan tugas ke depan akan
lebih ringan untuk dihadapi.
22. Saran.
a.

Untuk meningkatkan kemampuan komsos Babinsa dalam memberdayakan

Wilayah Pertahanan maka perlunya Komando Kewilayahan membuka kesempatan


seluas-luasnya

kepada

Babinsanya

untuk

mengikuti

Dikbangspes

serta

melaksanakan pendidikan dan latihan dalam satuan dengan titik berat pengetahuan
tentang kemampuan komsos dan Pemberdayaan Wilayah Pertahanan sehingga
Kowil mampu membantu pemerintah daerah dalam menyiapkan wilayah pertahanan
guna kepentingan pertahanan negara.
b.

Perlu ditingkatkan kerjasama antara Satuan Komando Kewilayahan dengan

pemerintah daerah serta unsur terkait sehingga dalam menyelenggarakan


pembinaan komunikasi sosial dapat dilaksanakan secara sinergi, sehingga
mencerminkan adanya tanggung jawab bersama dalam upaya meningkatkan
Pemberdayaan wilayah.
23. Penutup. Demikianlah karya tulis ini dibuat, besar harapan kami semoga karya tulis
ini bermanfaat bagi pembaca, terimakasih.

Bogor,

Mei 2016

Penulis

Lalu Saefullah, S.Si


Kapten Inf NRP 11020005180174