Anda di halaman 1dari 2

Ascites adalah terjadinya akumulasi cairan serous/serosanguinous pada ruang/rongga

peritoneum suatu kondisi dimana dijumpainya cairan berlebihan di dalam perut yang bisa
mengakibatkan gangguan fisiologis pada kucing penderita berupa ketidaknyamanan,
terganggunya aktivitas, penurunan nafsu makan, gangguan pernafasan, gangguan pencernaan
dan sistem organ lainnya. Menurut Price (2005) ascites adalah akumulasi cairan dalam
rongga peritoneal yang disebabkan karena perbedaan tekanan hidrostastik. Sedangkan
menurut Smeltzer (2008) ascites adalah akumulasi cairan, umumnya cairan serosa yang
merupakan cairan berwarna kuning pucat dan jelas dalam rongga (peritoneal) perut.
Penyebab terjadinya ascites disebabkan oleh dampak dari beberapa penyakit seperti
penyakit gagal jantung, sirosis hati yang bersifat kronis, adanya infeksi dan tumor ganas,
penurunan tekanan osmotik darah dan peningkatan tekanan hidrostatik vena. Rendahnya
protein dalam darah berakibat pada dua hal yaitu rendahnya daya ikat air serta penurunan
osmolaritas darah. Menurut Sood R (2015) penyebab terjadinya ascites adalah pertama, dapat
disebabkan karena terjadinya hipertensi vena. Penyakit yang umumnya menyebabkan
hiperensi vena yaitu sirosis hati, gagal jantung kongestif, perikarditis konstriktif, obstruksi
aliran vena hepatika, dan trombosis pembuluh vena hepatika. Kedua, penyebab terjadinya
ascites yaitu hipoalbuminemia. Penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya
hipoalbuminemia diantaranya adalah sirosis hati, gagal ginjal, dan malnutrisi. Ketiga,
penyebab terjadinya ascites yaitu infeksi seperti infeksi parasit (strongyloides, dan
entamoeba), tuberkolosis, dan feline infectious peritonitis (Arimbi, 2010). Terakhir, penyebab
terjadinya ascites yaitu adanya tumor ganas seperti peritoneal carcinomatosis, lymphomas
and leukaemias, primary mesothelioma. Karakteristik biokimia dan sitologi dari cairan
ascites dapat membantu membedakan penyebabnya. Untuk lebih memsatikan penyebab dari
terjadinya ascites dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan darah lengkap,
pemeriksaan urin, pemeriksaan radiografi, USG, dan pemeriksaan cairan ascites tersebut.
Pada kasus gagal jantung, ascites terjadi karena atrium kanan yang berfungsi sebagai
penampung darah dari vena cava yang berasal dari seluruh tubuh mengalami gangguan.
Akibatnya, terjadi penimbunan darah pada jantung kanan dan aliran darah di vena cava
tertahan yang menyebabkan terjadinya kongesti pada vena cava. Kondisi ini menyebabkan
peningkatan tekanan hidrostatik pada vena sebelum vena cava dan kapiler. Terjadinya
kongesti pada vena porta dan vena-vena yang terdapat didalam abdomen menyebabkan
keluarnya cairan plasma sehingga terjadi akumulasi cairan plasma kedalam ruang abdomen.
Pada kasus serosis hati dapat menyebabkan terjadinya hipertensi porta. Hipertensi porta
selain disebabkan oleh serosis hati dapat disebabkan pula oleh adanya trombosis pada vena
porta dan tumor pada hati. Terjadinya hipertensi porta akibat tingginya resistensi terhadap
aliran darah yang melewati hati maka aliran darah dialihkan ke pembuluh-pembuluh darah
mesentarika, sehingga menyebabkan peningkatan hidrostatik pada kapiler-kapiler di
peritoneum. Meningkatnya tekanan hidrostatik pada pembuluh kapiler menyebabkan cairan
plasma keluar dari pembuluh dan terakumulasi di ruang peritoneum. Pada keadaan
hipoproteinemia yaitu menurunnya jumlah protein di dalam darah. Menurunnya kadar protein
dalam darah menyebabkan rendahnya daya ikat air protein plasma, sehingga cairan plasma
merembes keluar pembuluh darah dan terakumulasi di ruang peritoneum. Hipoproteinemia
dapat disebabkan oleh terjadinya serosis hati, gagal ginjal, dan malnutrisi. Hipoproteinemia
yang disebabkan oleh serosis hati, karena terganggunya produksi albumin oleh hati. Pada
keadaan gagal ginjal atau terganggunya fungsi ginjal berdampak keluarnya protein darah/
albumin bersama urin (albuminuria/proteinuria). Jika terjadi dalam waktu yang lama maka
terjadi kondisi hipoproteinemia. Hipoprotemia yang disebabkan malnutrisi dikarenakan
kurangnya asupan protein yang kurang. Ascites yang disebabkan oleh adanya pelepasan

mediator infamasi yang menyebabkan permeabilitas sel endotel kapiler meningkat sehingga
cairan palsma darah merembes keluar kapiler dan terjadi akumulasi di dalam ruang
peritoneum. Keluarnya cairan plasma yang diakibatkan oleh infeksi terjadi karena pada
jaringan yang mengalami inflamasi, sel endotel pada pembuluh darah memproduksi lubang
dimana molekul besar seperti protein dapat keluar (Tilley dan Smith, 2011).