Anda di halaman 1dari 21

Mata Pelajaran

: Teknik Sistem Pelumas Mesin

Subyek Didik

: Siswa SMK kelas 2, Semester 1

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Sistem pelumasan mesin pada mata pelajaran motor otomotif merupakan salah
satu kompetensi dasar yang harus dimiliki/ dikuasai oleh setiap siswa sekolah
menengah kejuruan jurusan teknik mekanik otomotif. Oleh sebab itu, hasil belajar
sebagai indikator kualitas pendidikan perlu ditingkatkan agar peserta didik yang
telah menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) cepat
terserap dalam dunia kerja. Suasana pembelajaran sistem pelumasan mesin pada
mata pelajaran motor otomotif dalam hal ini teori, sering dijumpai beberapa
masalah, misalnya: metode yang diterapkan oleh guru terkadang terlalu monoton
terutama dalam penggunaan metode pembelajaran, yang dominan digunakan oleh
guru adalah metode ceramah atau satu arah dan metode pemberian tugas.

Siswa belum terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran sehingga


nampaknya mereka tidak termotivasi, dan hasil perolehan belajar yang dicapai
sangat rendah. Kurangnya motivasi dan prestasi hasil belajar siswa telah menjadi
permasalahan selama ini. Berdasarkan pengamatan secara langsung pada kegiatan
pembelajaran sistem pelumasan mesin, umumnya siswa menampakkan sikap yang
kurang bergairah. Ketidakpastian siswa tersebut akan berpengaruh negatif
terhadap sasaran yang ingin dicapai karena akan mengakibatkan suasana kelas
menjadi kurang aktif dan interaktif timbal balik antara guru dan siswa tidak

terjadi. Siswa cenderung pasif dan hanya menerima apa saja yang diberikan oleh
guru. Hanya ada beberapa siswa saja yang merasa termotivasi untuk mengikuti
pembelajaran perbaikan sistem pendingin mesin dengan sungguh-sungguh.
Kenyataan menunjukkan bahwa data perolehan hasil belajar siswa, tentang
analisis gangguan dan cara mengatasi gangguan/ kerusakan sistem pelumasan
mesin pada tahun sebelumnya kurang memuaskan yaitu pada evaluasi akhir
semester genap tahun 2008/2009 hanya ada 22 orang dari 40 siswa yang mencapai
nilai standar kelulusan, berarti hanya (55 %) siswa yang mencapai nilai 7,00.
Sedangkan tuntutan Standar Kompetensi Belajar Minimal (SKBM), siswa harus
mencapai kompetensi 75% secara klaksikal. Perolehan hasil belajar siswa yang
berkaitan dengan keterampilan masih kurang efektif/berhasil yaitu tidak sesuai
dengan yang diharapkan. Siswa belum sepenuhnya mampu menganalisis dan
mengatasi gangguan/ kerusakan yang terjadi pada sistem pelumasan mesin.
Berangkat dari kesenjangan-kesenjangan pembelajaran dan kekurangan efektifan
hasil belajar, siswa tersebut di atas, maka penulis menilai dapat dipecahkan
dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri.
Penggunaan metode tersebut diharapkan ada sentuhan-sentuhan baru yang dapat
meningkatkan motivasi belajar dapat menggunakan kemampuan berpikir kritis,
dan siswa terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran, serta ikut
bertanggung jawab terhadap terjadinya proses pembelajaran yang efektif.
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah dengan menggunakan
metode inkuiri dapat meningkatkan mutu pembelajaran sistem pelumasan mesin
pada siswa kelas XI jurusan otomotif , SMK

C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui meningkatkan mutu pembelajaran
sistem pelumasan mesin dengan menggunakan metode inkuiri pada siswa kelas XI
jurusan otomotif , SMK
D. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut :
1. Seluruh siswa dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
2. Guru dapat memahami cara atau upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan sistem pembelajaran yang efektif, agar kelemahankelemahan yang ada dapat dikurangi sehingga iklim belajar yang kondusif
dapat diciptakan.
3. Dapat meningkatkan kualitas dan mutu pembelajaran.
4. Bagi peneliti, diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung dari
penggunaan metode inkuiri dalam proses pembelajaran tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A.STRATEGI PEMBELAJARAN SISTEM PELUMAS MESIN


Strategi Pembelajaran berasal dari kata cara belajar, yang memiliki arti yaitu
aktivitas perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku yang dimaksud itu nyata
memiliki arti yang sangat luas yaitu perubahan tingkah laku dari tidak tahu
menjadi tahu, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti.
Pengertian Pembelajaran adalah upaya untuk belajar. Kegiatan ini akan
mengakibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien.
Sebagaimana hal yang disebutkan oleh Nababan bahwasannya arti pembelajaran
adalah nominalisasi proses untuk membelajarkan. Seharusnya pembelajaran
bermakna proses membuat atau menyebabkan orang lain belajar.
Adapun menurut Oemar Hamalik, Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang
tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan
prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran, dalam
hal ini manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru dan
tenaga lainnya, materi meliputi; buku-buku, papan tulis dan lain-lainnya. Fasilitas
dan perlengkapan terdiri dari ruang kelas dan audiovisual. prosedur meliputi
jadwal dan metode penyampaian informasi, praktek belajar, ujian dan sebagainya.
Pembelajaran disebut juga sebagai proses perilaku dengan arah positif untuk

memecahkan masalah personal, ekonomi, sosial dan politik yang ditemui oleh
individu, kelompok dan komunitas.
Dalam hal ini perilaku diartikan sebagai sikap, ide, nilai ,keahlian dan minat
individu. Sedangkan arah positif merujuk kepada apa yang meningkatkan diri,
orang lain dan komunitas. Pembelajaran memungkinkan individu, kelompok, atau
komunitas menjadi entities yang berfungsi, efektif dan produktif di dalam
masyarakat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran (proses belajar
mengajar) adalah suatu aktifitas (upaya) seorang pendidik yang disengaja untuk
memodifikasi (mengorganisasikan) berbagai komponen belajar mengajar yang
diarahkan tercapainya tujuan yang ditentukan. Dari istilah proses belajar dan
mengajar terdapat hubungan yang sangat erat. Bahkan terjadi kaitan dan interaksi
saling pengaruh-mempengaruhi dan saling menunjang satu sama yang lain adapun
tujuan belajar merupakan kriteria untuk mencapai derajat mutu dan efisiensi
pembelajaran itu sendiri. Perbuatan belajar adalah proses yang komplek. Proses
itu sendiri sulit diamati, namun perbuatan atau tindakan belajar dapat diamati
berdasarkan perubahan tingkah laku yang dihasilkan oleh tindakan belajar
tersebut.
Pada kenyataannya pembelajaran adalah merupakan proses kegiatan belajar
mengajar yang dilakukan dimana saja tanpa ada ruang dan waktu, karena memang
pembelajaran biasa dilakukan kapan saja dan dimana saja, walaupun banyak
orang beranggapan bahwa pembelajaran hanya dilakukan disekolah atau lembaga
tertentu.
Dari uaraian diatas maka dapat ditarik benang merahnya yaitu pembelajaran
merupakan kegiatan perubahan tingkah laku secara kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran adalah suatu
kegiatan yang dilakukan oleh guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan
sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi

edukatif sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik untuk
mencapai tujuan pengajaran tertentu.
pembelajaran melalui pentahapan sebagai berikut:
1. Tahap Pra Instruksional, yakni tahap yang ditempuh pada saat memulai
sesuatu proses pembelajaran.
2. Tahap Instruksional, yakni tahap pemberian bahan pelajaran.
3. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut, tahap ini bertujuan untuk mengetahui
keberhasilan tahap intrusional.
B. Metode Inkuiri
a. Pengertian metode inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris Inquiry, yang secara harfiah berarti
penyelidikan, pertanyaan atau pemeriksaan. Metode inkuiri berarti suatu
rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan
siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis logis, analitis,
sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya
diri.
Metode inkuiri merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan
dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran
ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam
memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang
belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inkuiri adalah sebagai
pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu
disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa
masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah
menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah.

Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap


kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi .
Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inkuiri sangat
beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan
bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum
yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance
Evaluation, dan Variety of Resources .
1. Question,pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan
pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman
siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang
dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan
oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah
inti yang harus dipecahkan oleh siswa.
2. Student Engangement,dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa
merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai
fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada
kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku,
melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang
menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau
dalam melakukan sebuah investigasi.
3. Cooperative Interaction, siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja
berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan.
Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari
permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk,
dan mungkin saja semua jawaban benar.
4. Performance Evaluation,dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa
diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan
pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk

produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lainlain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.
5. Variety of Resources,siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber
belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara
dengan ahli, dan lain sebagainya.
Sasaran utama kegiatan mengajar pada strategi ini ialah :
1)

Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar.

2)

Keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pengajaran.

3)

Mengembangkan sikap percaya pada diri sendiri (self belief) pada diri siswa

tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.


Kondisi-kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri
bagi siswa yaitu :
1. Aspek sosial di dalam kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa
berdiskusi
2. Penggunaan fakta sebagai evidensi (di dalam dibicarakan validitas dan
reabilitas tentang fakta).
Agar kondisi seperti itu tercipta, maka peranan guru sangat menentukan. Guru
tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima
informasi, sekalipun itu sangat diperlukan peranan utama guru dalam menciptakan
kondisi inkuiri adalah sebagai berikut :
1. Motivator, yang memberi rangsangan supaya siswa aktif dan gairah
berpikir.

2. Facilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam


proses berpikir siswa.
3. Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat
dan memberi keyakinan pada diri sendiri.
4. Administrator, yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan di
dalam kelas.
5. Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang
diharapkan.
6. Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.
7. Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam
rangka peningkatan semangat heuristik pada siswa.
b. Keuntungan menggunakan metode inkuiri
Pembelajaran dengan inkuiri, siswa didorong untuk mengetahui, memotivasi
mereka untuk melanjutkan pekerjaannya sehingga menemukan jawaban. Siswa
juga belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki keterampilan
berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisis dan menangani informasi.
Pengajaran berbasis inkuiri membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti
metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
Inkuiri adalah seni ilmu bertanya serta menjawab. Inkuiri melibatkan observasi
dan pengukuran, pembuatan hipotesis dan interpretasi, pembentukan model dan
pengujian model. Inkuiri menuntut adanya eksperimen, refleksi, dan pengenalan
akan keunggulan dan kelemahan metode-metodenya sendiri.
Selama proses inkuiri berlangsung, seorang guru dapat mengajukan pertanyaan
atau mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan bersifat open-

ended, memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelidiki sendiri dan mencari
jawaban sendiri (tapi tidak hanya satu jawaban yang benar)
c. Manfaat metode inkuiri bagi siswa
Manfaat metode inkuiri bagi siswa diantaranya memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang nyata dan aktif kepada siswa. Siswa diharapkan
mengambil inisiatif. Mereka dilatih bagaimana memecahkan masalah, membuat
keputusan, dan memperoleh keterampilan. Inkuiri memungkinkan siswa dalam
berbagai tahap perkembangannya bekerja dengan masalah-masalah yang sama
dan bahkan bekerja sama mencari jawaban terhadap masalah-masalah. Setiap
siswa harus memainkan dan memfungsikan talentanya masing-masing.
Inkuiri memungkinkan terjadinya integrasi berbagai disiplin ilmu. Ketika siswa
melakukan eksplorasi, mereka akan mangajukan pertanyaan-pertanyaan yang
akan melibatkan sains dan matematika, ilmu sosial, bahasa, seni dan teknik.
Ketika menggunakan teknik inkuiri, guru tidak boleh terlalu banyak bertanya,
berbicara dan menjawab karena akan mengurangi proses belajar siswa melalui
inkuiri, dengan demikian untuk bertanggung jawab pada pendidikan mereka
sendiri. Guru yang menaruh perhatian, akan menemukan kegiatan-kegiatan yang
disukai siswa, juga hal-hal yang baik yang ada dalam diri siswa-siswanya, dan
kesulitan-kesulitan yang mengganggu siswa dalam proses belajar. Guru dituntut
menyesuaikan diri dengan gaya belajar siswa-siswanya.
d. Siklus inkuiri
Inkuiri dimulai dengan observasi yang menjadi dasar pemunculan berbagai
pertanyaan yang diajukan siswa. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut dikejar
dan diperoleh melalui siklus pembuatan prediksi, perumusan hipotesis,
pengembangan cara-cara pengujian hipotesis, pembuatan observasi lanjutan,
penciptaan teori-teori dan model-model konsep yang didasarkan pada data
pengetahuan. Inkuiri menciptakan berbagai kesempatan bagi guru untuk
mempelajari bagaimana otak siswa bekerja. Guru dapat memanfaatkannya untuk

menentukan situasi-situasi belajar yang tepat dan memfasilitasi siswa dalam


proses pencarian ilmu.
e. Inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis
Pada proses inkuiri siswa belajar dan dilatih bagaimana harus berpikir kritis.
Berpikir kritis merupakan salah satu tujuan pendidikan. Ketika siswa belajar
berpikir kritis, mereka akan memperlihatkan pikiran-pikiran dan proses-proses
sebagai berikut :
1)

Mengajukan pertanyaan seperti Bagaimana itu kita tahu? atau Apa

buktinya ?
2)

Mengetahui perbedaan antara observasi dan kesimpulan.

3)

Mengetahui bahwa semua gagasan ilmiah dapat berubah dan teori-teori

yang ada adalah teori-teori yang terbaik berdasarkan bukti yang dimiliki saat ini.
4)

Mengetahui bahwa diperlukan bukti yang cukup untuk menarik kesimpulan

yang kuat.
5) Memberi penjelasan atau interpretasi, melakukan observasi dan/atau prediksi.
6)

Selalu mencari konsistensi terhadap kesimpulan-kesimpulan yang diambil

dan memberikan penjelasan dengan rasa percaya diri.


Salah satu tujuan utama pendidikan adalah meningkatkan kemampuan siswa
untuk berpikir kritis, membuat keputusan rasional tentang apa yang diperbuat atau
yang diyakini. Belajar berpikir kritis memerlukan latihan. Siswa dapat diberikan
sejumlah dilema (dua pilihan yang sulit), argumen logis dan tidak logis (masuk
akal), iklan yang valid dan menyesatkan, dan sebagainya. Pengajaran efektif
tentang berpikir kritis bergantung pada penataan suasana kelas yang mendorong
penerimaanpandangan yang berbeda dan diskusi bebas. Tatanan itu seharusnya
lebih menekankan pada pemberian alasan atau pandangan dari pada hanya

memberikan jawaban benar. Keterampilan berpikir kritis paling balk dicapai bila
dihubungkan dengan topic-topik yang dikenal siswa. Tujuan pengajaran berpikir
kritis adalah menciptakan semangat berpikir kritis yang mendorong siswa
mempertanyakan apa yang mereka dengar dan mengkaji pikiran mereka sendiri
untuk memastikan tidak terjadi logika yang tidak konsisten atau keliru.
C. SISTEM PELUMASAN
Sistem pelumasan adalah suatu sistem pengaliran bahan pelumas pada komponenkomponen mesin yang saling bergesekan saat mesin mulai hidup, permukaan
komponen-komponen yang saling bergesekan itu dilapisi oleh pelumas sehingga
tidak terjadi kontak langsung pada komponen-komponentersebut.
Lima kondisi yang mengotori oli pelumas engine :
1. Kotoran karbon dari pembakaran engine.
2. Debu dan kotoran yang terbawa masuk ke engine oleh oleh udara atau
bahan bakar.
3. Bagian yang halus dari logam, merupakan hasil dari keausan engine,
menjadi bercampur dengan oli.
4. Bahan bakar liar dan pembakaran menghasilkan kebocoran melalui ringring piston kedalam ruang engkoll.
5. Kondensasi / pengembunan air dari udara yang melalui engine.
Bagian-bagian sistem pelumasan:
1. Karter atau panci oli terletak pada bagian bawah engine untuk menyimpan
oli yang diperlukan untuk pelumasan engine.

2. Tutup pengisi oli ketika dibuka, menyediakan sebuah ruang yang


memungkinkan oli dapat dimasukan kedalam engine.
3. Tongkat kedalaman merupakan batang yang dapat dicabut dengan mudah
yang digunakan untuk menjelaskan jumlah oli engine dengan benar.
4. Pompa oli mensirkulasikan oli engine ke komponen-komponen engine
untuk memberikan pelumasan kepada bagian-bagian yang bergerak
sehingga mecegah keausan akibat gesekan.
5. Katup pembebas tekanan oli memungkinkan takanan oli yang berlebihan
untuk kembali ke panci oli, termasuk ketika engine dingin (oli pekat),
untuk mengurangi kemungkinan kerusakan komponen-komponen sistem
pelumasan.
6. Saringan oli dipasangkan untuk menghalangi partikel-partikel kotoran
terbawa masuk oleh oli engine yang dapat menimbulkan kerusakan engine.
Katup By-pass dipasangkan yang memungkinkan oli tidak tersaring dan
masuk ke engine dengan jalan pintas ketika saringan buntu/ penuh
klotoran.
7. Saluran Serambi Utama dan pipa-pipa, sebagai dipelumas menuju engine.
8. Indikator tekanan oli dirancang untuk memberi sebuah peringatan jika
tekanan oli pelumas turun dibawah tekanan yang diperlukan untuk kerja
engine yang efektif.
9. Pendinginan oli sesuatu yang dipasang untuk mendinginkan oli pelumas
dengan memindahkan kelebihan panas dengan pendingin udara yang
dilewatkan pada inti pendingin.
10. Katup Ventilasi Ruang Engkol (Positif Crankcase Ventilation (PCV))
dirancang untuk membuang kebocoran asap yang dihasilkan oleh

pembakaran-pembakaran yang masuk keruang engkol. Asap ini dihasilkan


karena tekanan pada engine yang meningkat, dihasilkan karena kebocoran
perapat oli pada silinder.
a. KERANGKA BERPIKIR
Guru merupakan komponen yang memegang peranan penting dan utama dalam
proses pembelajaran. Kemampuan guru menciptakan lingkungan/ suasana yang
menarik dan menyenangkan bagi peserta didik akan menentukan kualitas dan
hasil pembelajaran. Pembelajaran harus memberikan pengalaman yang bervariasi
dengan metode yang efektif dan bervariasi, Serta harus minat dan kemampuan
peserta didik.
Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi
pembelajaran. Pembelajaran harus dilakukan dengan sedikit ceramah dan metodemetode yang berpusat pada guru, serta lebih menentukan pada interaksi peserta
didik. Dalam melaksanakan proses pembelajaran guru harus menggunakan
strategi sebagai salah satu komponen dari pembelajaran termasuk juga strategi
penggunaan metode inkuiri.
Keberhasilan guru dalam menyampaikan meteri yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efektivitas pembelajaran yang digunakan. Metode inkuiri dapat
menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan, karena dengan metode
inkuiri dapat memacu keinginan siswa untuk mengetahui lebih dalam tentang
materi pelajaran serta memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang nyata
dan aktif. Silswa diharapkan mengambil inisiatif dalam proses pembelajaran.
Mereka juga dilatih bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan dan
memperoleh teterampilan.
Pemilihan strategi pembelajaran inkuiri sosial untuk memecahkan masalah dalam
pembelajaran sosial karena:

1. Strategi ini khusus dirancang untuk meningkatkan kemampuan dan


keterampilan siswa dalam memecahkan masalah-masalah sosial.
2. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ini terbukti efektif
meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam memecahkan
masalah-masalah sosial.Strategi ini merupakan sinkronisasi antara teori
mengajar dan teori belajar, yang memiliki prosedur yang sistematis dan
mudah ditrapkan oleh pengajar.
b. HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan deskripsi teori sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini
adalah penerapan metode Inkuri dapat meningkatkan mutu pembelajaran sistem
pelumasan mesin pada siswa kelas XI Jurusan Otomotif SMK .
D. PELAKSANAAN TINDAKAN
1. Implementasi dan Observasi
Dalam tahap ini diawal pertemuan guru menjelaskan kepada siswa tentang metode
pembelajaran yang akan digunakan, kemudian memulai proses pembelajaran
sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya, sekaligus mengobservasi
berbagai fenomena/ kejadian yang terjadi selama proses pelaksanaan kegiatan.
Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Mencatat
setiap hal yang dialami oleh siswa, situasi dan kondisi belajar siswa berdasarkan
lembar observasi yang sudah dibuat, dalam hal ini mengenai kehadiran siswa,
perhatian dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Pada saat
observasi ini perlu membuat jurnal harian. Hasil pekerjaan beberapa siswa juga
perlu diamati.
2. Analisis dan Evaluasi

Dalam tahap ini dilaksanakan evaluasi secara keseluruhan baik hal-hal yang
terjadi selama proses pelaksanaan maupun aspek-aspek yang terkait dengan
perencanaan.
a. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian tindakan kelas ini adalah
sebagai berikut :
1. Observasi mengenai perubahan sikap, kehadiran, dan keaktifan siswa di
dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar yang diambil dengan cara
pengamatan dan observasi.
2. Evaluasi tentang hasil belajar sistem pelumasan mesin diambil dari hasil
tes akhir satu (1) dan tes akhir siklus dua (II).
3. Alat pengumpul data menggunakan format /Check lis, dan tes tertulis
dalam bentuk essay test.
b. Analisa Data.
Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis
kualitatif.
1. Analisis data kualitatif dilakukan dengan menyimpulkan intisari dari data
yang disajikan dan telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau
kalimat yang singkat.
2. Analisis kuantitatif, berupa tabulasi dan rata-rata hasil evaluasi siklus I dan
II.
Digunakan untuk data tunggal tanpa frekuensi.
-

Rata-rata

= data ke i

= banyaknya siswa yang diteliti

Modus (Mo) = frekuensi data terbanyak

Median (Me) = nilai tengah setelah data diurut

Simpangan baku (S) =

c. Evaluasi.
Hasil analisis Evaluasi dimaksudkan untuk memperoleh informasi atau balikan
dari proses kegiatan penelitian yaitu menilai tahap perencanaan, observasi dan
pelaksanaan tindakan. Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah sebagai berikut :
1. Apakah proses penelitian sudah berjalan secara efektif, sesuai dengan
indikator keberhasilan atau belum.
2. Apakah keterlaksanaan tindakan sudah memenuhi kriteria dan aspek-aspek
yang harus dilakukan oleh peneliti maupun siswa pada setiap siklus.
3. Apakah hasil belajar siswa yang dicapai pada setiap siklus sudah sesuai
dengan harapan yang diinginkan atau belum.
3. Refleksi
Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap refleksi adalah :
1. Merefleksikan setiap hal yang diperoleh melalui lembar observasi, yakni
keaktifan siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok dan tugas individu.
2. Menilai dan memperbaiki perkembangan hasil pekerjaan siswa dalam
bentuk kelompok dan individu yang diberikan selama siklus I, serta nilai
terkahir siklus II

3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat refleksi atau


tanggapan tertulis ataupun saran-saran perbaikan atas metode
pembelajaran yang diberikan dan kegiatan belajar mengajar yang mereka
alami. Untuk selanjutnya dibuat rencana perbaikan dan penyempurnaan
siklus I pada siklus berikutnya.

BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dalam strategi/metode Pembelajaran sistem pelumas mesin pada mata
pelajaran motor otomotif merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus
dimiliki/ dikuasai oleh setiap siswa sekolah menengah kejuruan jurusan teknik
mekanik otomotif.
Pengertian Pembelajaran adalah upaya untuk belajar. Kegiatan ini akan
mengakibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien.
Sebagaimana hal yang disebutkan oleh Nababan bahwasannya arti pembelajaran
adalah nominalisasi proses untuk membelajarkan. Seharusnya pembelajaran
bermakna proses membuat atau menyebabkan orang lain belajar.
- Metode Inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris Inquiry, yang secara harfiah
berarti penyelidikan, pertanyaan atau pemeriksaan.
- SISTEM PELUMASAN
Sistem pelumasan adalah suatu sistem pengaliran bahan pelumas pada
komponen-komponen mesin yang saling bergesekan saat mesin mulai hidup,
permukaan komponen-komponen yang saling bergesekan itu dilapisi oleh
pelumas sehingga tidak terjadi kontak langsung pada komponen-komponen.

- PELAKSANAAN TINDAKAN
Implementasi dan Observasi
Dalam tahap ini diawal pertemuan guru menjelaskan kepada siswa tentang
metode pembelajaran yang akan digunakan, kemudian memulai proses
pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya, sekaligus
mengobservasi berbagai fenomena/ kejadian yang terjadi selama proses
pelaksanaan kegiatan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1995. New step 1, Training Manual. Jakarta: PT. Toyota Astra Motor
http://dansite.wordpress.com/2009/03/28/ pengertian-efektifitas/
Darmawang. 2007. Modul Strategi Pembelajaran Kejuruan. Makassar: Penerbit
UNM
http://iwanps.wordpress.com/2008/04/17 metode-mengajar-inkuiri/
Buku Perencanaan pembelajaran.
Buku penelitian pembelajaran
Pareang, 2007. Meningkatkan efektifias pembelajaran system pendingin mesin
dengan menggunakan metode inkuiri di SMK .