Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS KINERJA PENGONTROL TEMPERATUR

PADA AGEING FURNACE


1)
Dwi Mahadiyan, V. Vekky. R. Repi, Dwi Mahadiyan, Mustiko Bagyo dan Bapak Wahyudi
1
Teknik Fisika, Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Nasional, Jl. Sawo Manila No.61 Pejaten, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12520

Abstrak - Statistical process control (SPC) adalah suatu teknik penyelesaian masalah yang digunakan untuk
memonitor, menganalisa serta memperbaiki produk dan proses, menggunakan metode statistik.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pengontrol temperatur pada ageing furnace terkontrol
secara statistik, ini dapat dilihat bahwa tidak ada data yang keluar dari batas kontrol atas (UCL) maupun
batas kontrol bawah (LCL) pada peta kontrol individual.

Kata Kunci : Kontrol, Ageing Furnance

I. Pendahuluan

Penggunaan peralatan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan merupakan salah satu
cara untuk menghasilkan produk yang berkualitas disamping elemen pendukung lainnya.
Untuk itu diperlukan suatu cara atau metode yang dapat memonitor dan mengevaluasi
kinerja pengontrol apakah bekerja dengan baik atau tidak, dalam hal ini metode yang
digunakan adalah statistical process control (SPC). Penggunaan SPC tidak secara langsung
memberikan solusi permasalahan, melainkan hanya memberi informasi yang berupa data
statistik yang ada pada permasalahan tersebut. Dari informasi ini diharapkan ada tindak lanjut
untuk mengatasi permasalahan yang ada. Metode SPC dapat digunakan untuk mengevaluasi
kinerja sistem kontrol berdasarkan data statistik dan dapat dijadikan referensi untuk
melakukan evaluasi dan perbaikkan kualitas kontrol. Statistical process control memiliki
beberapa keunggulan misalnya, dapat digunakan secara in-line, artinya proses tidak perlu
dimatikan pada saat pengambilan data, selain itu mudah dalam penggunaan.

II. Metode Penelitian

2.1 Sistem Kontrol


2.1.2 Feedback Control System
Sistem kontrol umpan balik merupakan sistem yang menggunakan hubungan
antara output dan input yang diinginkan. Set point adalah nilai yang diinginkan dari
variabel yang dikontrol ( controlled variable ) dan harus memiliki dimensi yang
sama seperti variabel yang dikontrol. Input elemen menyediakan fungsi konversi
dari sinyal input set point ke dalam mode operasi dari kontroler, misalnya dalam
milivolt, miliamper dan sebagainya.
Gambar feedback control system dapat dilihat seperti yang terdapat pada gambar
dibawah ini.

Gangguan
Set Point

1
Controller Control Valve Process

Sensor

Gambar 2.1 Feedback Control System

2.1.2 Respon Sistem


Grafik respon sistem berfungsi untuk mengetahui performansi sistem dengan cara
memberi input yang berupa fungsi step, impuls dan sebagainya.
Pada gambar dibawah ini menunjukkan grafik respon sistem orde 1untuk unit
step.

C(t)

Gambar 2.3 Grafik Respon Sistem Orde 1

Pada gambar 2.4 dibawah ini menunjukkan grafik respon sistem orde 2 untuk fungsi step.

C(t)

ζ=0,4

ζ =0,7
ζ=2,0

ωnt
Gambar 2.4 Grafik Respon Sistem Orde 2

2
2.2 Statistical Process Control ( SPC )
Statistical process control merupakan teknik penyelesaian masalah yang digunakan
untuk memonitor, menganalisa, dan memperbaiki produk dan proses menggunakan metode
statistik. Dengan menggunakan SPC dapat dilakukan analisis dan minimalisasi
penyimpangan atau kesalahan yang disebabkan oleh variasi atau kesalahan proses. Selain itu
juga bertujuan untuk mendeteksi adanya penyebab khusus (assignable cause) dalam variasi
atau kesalahan proses melalui analisis data.

2.2.1 Alat-Alat SPC


Alat-Alat yang digunakan dalam SPC terdiri dari 2 jenis yaitu histogram dan
peta kontrol, alat-alat ini memiliki fungsi dan peranan masing-masing sesuai
dengan penggunaannya.

2.2.1.1 Histogram
Histogram merupakan diagram berupa grafik balok yang dibentuk
dari distribusi frekuensi untuk menggambarkan penyebaran / distribusi data
yang ada, selain itu dapat juga untuk memperkirakan kemampuan proses.
Penggunaan histogram bertujuan untuk memberikan petunjuk dan informasi
terhadap reduksi dari variasi, yang dapat diketahui dari identifikasi dan
interpretasi dari gejala variasi tersebut.

2.2.1.2 Peta Kontrol


Peta kontrol adalah metode statistik yang membedakan adanya
variasi atau penyimpangan karena sebab umum dan sebab khusus. Pada
proses pengendalian peta kontrol mendeteksi adanya sebab khusus dalam
ketidaksesuaian yang terjadi.

2.2.2 Kurva Distribusi Normal


Kurva distribusi normal mempunyai bentuk seperti lonceng dan
simetris terhadap rata-rata . Bentuk kurva normal sangat dipengaruhi oleh besar
kecilnya rata-rata dan simpangan baku s.

Pada gambar dibawah ini menunjukkan kurva distribusi normal :


Frekuensi

3
1

X skor

Gambar 2.5 Kurva Distribusi Normal

2.2.3 Pengujian Chi Square


Pengujian chi square digunakan untuk menguji distribusi pengamatan
terhadap distribusi lain dengan menggunakan hipotesa nol (H0). Dengan cara
membandingkan harga X2 perhitungan dengan X2 tabel.

2.2.4 Ukuran Tendensi Sentral


Ukuran tendensi sentral dapat memberikan gambaran tentang pemusatan
nilai-nilai observasi sampel atau untuk mengetahui kapan proses berada di bagian
tengah.

2.2.5 Ukuran Dispersi


Ukuran dispersi digunakan untuk menggambarkan bentangan dari suatu proses.

2.2.6 Kapabilitas Proses


Kapabilitas proses atau kemampuan proses menyatakan layak atau tidaknya
suatu proses jika dibandingkan dengan spesifikasi yang ditetapkan. Proses yang ideal
^
adalah proses yang memiliki nilai kemampuan proses (6
s ) yang lebih kecil dari
^
range spesifikasi (6
s < USL-LSL).

III. Analisa Data Pengontrol Temperatur dan Pembahasan

3.1 Analisa Data Pengontrol Temperatur


3.1 Uji Kenormalan

Data yang akan dianalisa dengan SPC harus terdistribusi normal. Distribusi
normal merupakan merupakan distribusi teoritis dari variabel random yang kontinu.
Uji kenormalan digunakan untuk mengetahui seberapa jauh data menyimpang dari
distribusi ssecara toeritis. Cara pengukuran tendensi sentral terdiri dari rata-rata
(mean), median dan modus. Apabila data terdistribusi normal maka nilai-nilai
tersebut adalah sama.
Berdasarkan pengolahan data hasil uji kenormalan variabel chi square hasil
perhitungan (X2perhitungan) lebih kecil dari harga X2 tabel. Maka Ho diterima dan
data terdistribusi normal.

X2 perhitungan = 5,8007
X2 tabel = 13,277

4
Apabila data terdistribusi normal maka frekuensi yang diamati tidak menyimpang
jauh dengan frekuensi yang diharapkan.

3.2 Uji Histogram


Histogram merupakan grafik balok yang dibentuk dari distribusi frekuensi
untuk menggambarkan penyebaran / distribusi data yang ada.
Untuk bentuk histogram ideal seperti pada gambar 4.1 dibaw/ah, bentangan
proses berada dalam bentangan spesifikasi (spesifikasi atas dan spesifikasi bawah)
dan letaknya terpusat, artinya pusat distribusi datanya berada di sekitar set value.
Untuk histogram yang demikian ini memiliki variability yang kecil.
Frekuensi

V a lu e
Lower Upper
R e q u ire m e n t R e q u ire m e n t

Gambar 4.4 Histogram Ideal

Berdasarkan hasil pengolahan data temperatur pada ageing furnace pada bab
sebelumnya diperoleh histogram dari pengontrol temperatur, dimana seluruh datanya
berada dalam batas spesifikasi dan distribusi datanya berada disekitar set pointnya
185°C, yaitu tepatya di 185,15°C. Jadi dapat dikatakan prosesnya berjalan sesuai
dengan yang diharapkan.

3.3 Analisa Peta Kontrol


Dalam metode SPC peta kontrol digunakan untuk menentukan apakah suatu
proses berada dalam pengendalian statistik. Dimana semua nilai rata-rata dan range
dari subgroup berada dalam batas pengendalian (control limit), sehingga variasi dari
penyebab khusus menjadi tidak ada dalam proses. Jika didalam proses terdapat
variasi, maka cara untuk mengoreksi permasalahan atau dengan memperbaiki kinerja
pengontrol proses sehingga nilai keluaran pengontrol mendekati set point. Dalam hal
ini peta kontrol digunakan untuk menguji data keluaran pengontrol.

3.4 Analisa kemampuan proses

5
Analisa kemampuan proses merupakan suatu tahapan yang harus dilakukan
dalam SPC. Analisa ini menguji variabilitas dalam karakteristik proses dan apakah
proses mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan spesifikasi.
Kemampuan proses dinyatakan dengan variabel Cp dan Cpk. Indeks
Kapabilitas (Cp) menyatakan perbandingan antara bentangan spesifikasi dan
kemampuan proses atau dengan kata lain menyatakan kemampuan kinerja alat untuk
memenuhi spesifikasi proses. Sedangkan Indeks Kapabilitas Minimum (Cpk)
menyatakan perbandingan antara bentangan spesifikasi minimum terhadap rata-rata
(mean) dengan setengah bentangan proses.

3.2 Pembahasan
3.2.1 Uji Kenormalan
Berdasarkan pengolahan data hasil uji kenormalan variabel chi square hasil
perhitungan (X2perhitungan) lebih kecil dari harga X2 tabel. Maka Ho diterima dan
data terdistribusi normal.

X2 perhitungan = 5,8007
X2 tabel = 13,277
Apabila data terdistribusi normal maka frekuensi yang diamati tidak
menyimpang jauh dengan frekuensi yang diharapkan.

3.2.2 Uji Histogram


Berdasarkan hasil pengolahan data temperatur pada ageing furnace pada bab
sebelumnya diperoleh histogram dari pengontrol temperatur, dimana seluruh datanya
berada dalam batas spesifikasi dan distribusi datanya berada disekitar set pointnya
185°C, yaitu tepatya di 185,15°C. Jadi dapat dikatakan prosesnya berjalan sesuai
dengan yang diharapkan.

3.2.3 Analisa Peta Kontrol


Peta kontrol yang digunakan untuk menganalisa pengontrol temperatur di
Ageing Furnace menggunakan peta kontrol data variabel yaitu peta kontrol variabel
individu ( X ) dan moving range (MR). Dari peta kontrol X terlihat bahwa tidak ada
data yang keluar dari limit kontrol, sehingga dapat dikatakan bahwa proses terkontrol
secara statistik. Begitu juga dengan peta kontrol MR, tidak ada data yang berada
diluar dari limit kontrol ini berarti proses terkontrol secara statistik.

3.2.4 Analisa Kemampuan Proses


Perhitungan kemampuan proses dari data temperatur yang diperoleh,
didapatkan harga sebagai berikut :
Nilai Cp = 1,97
Nilai Cpk = 1,891

Dari nilai tersebut dapat diketahui bahwa pengontrol memiliki indeks


kapabilitas lebih besar dari 1,33 sehingga sistem kontrolnya dapat memenuhi
kebutuhan proses, sehingga prosesnya layak dan sesuai dengan spesifikasi. Untuk
mengetahui variability proses dari set point dapat dilakukan dengan cara menghitung
selisih antara UCL dan LCL, dan diperoleh harga sebesar 2,543. Sedangkan batas

6
spesifiksinya adalah selisih USL dan LSL, diperoleh harga sebesar 5. Sehingga
pengontrol memiliki variability yang kecil, ini dapat dilihat dari nilai bentangan
prosesnya lebih kecil dari batas spesifikasi.

IV. Kesimpulan

Dari perhitungan kemampuan proses diperoleh nilai indeks kapabilitas proses (Cp)
sebesar 1,97 dan nilai indeks kapabilitas minimum (Cpk) sebesar 1,891. Harga ini lebih besar
dari 1,33 , dimana untuk kondisi ideal Cp>1,33. Ini berarti prosesnya memiliki kapabilitas
yang sangat baik, dan pengontrolnya capable.

V. Daftar Pustaka

1. Dajan Anto. ”Pengantar Metode Statistik ” jilid 1, Penerbit PT Pustaka LP3ES.


Indonesia 1986.
2. Hasan, M.M, Ir. Iqbal. “Pokok-pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif), Edisi ke-
2. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta 2003.
3. I Nyoman Susila, Gunawan Ellen. ”Statistki” jilid 1, Penerbit Erlangga 1986.
4. Nasoetion Ardi Hakim. ”Metode Statistika untuk Penarikan Kesimpulan”, Edisi yang
disempurnakan. 1998.
5. Ronald E Wal Pole, ”Pengantar Statistika Edisi Ke-3” PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta 2000.
6. 8051 Code Library - More of the above including many math functions.
7. Asharani, Kajian Desain Pengendali Kebisingan Pada Sumber Statis, Skripsi Jurusan
Teknik Lingkungan, Universitas Trisakti, Jakarta, 2006.