Anda di halaman 1dari 4

TUGAS KOAS ANAK RSUD BUDHI ASIH

KEPANITERAAN KLINIK 20 JUNI 3 SEPTEMBER 2016


1. Pemberian ATS secara IV
Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis yang dikeluarkan oleh IDAI tahun 2008, dan
Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo
tahun 2007 menyebutkan untuk terapi netralisasi toksin diberikan ATS 50.000100.000
IU, setengah dosis diberikan intramuskular dan setengahnya intravena, dengan dilakukan
uji kulit lebih dulu. Bila tersedia, dapat diberikan human tetanus immunoglobulin (HTIG)
3.000-6.000 IU intramuskular.

2. Indikasi dilakukannya transfusi tukar :

Semua keadaan dengan bilirubin dalam serum lebih dari 20 mg dengan albumin < 3,5
mg. misalnya pada inkompatibilitas golongan darah ( Rh, ABO, MNS ), sepsis,
hepatitis, ikterus fisiologis yang berlebihan, kelainan enzim (defisiensi G6PD, piruvat
kinase, glukoronil transverase), penyakit anemia hemolitik auto imun (pada anak

besar)
Kenaikan bilirubin indirek dalam serum yang sangat cepa pada hari pertama bayi batu

lahir ( 0,3-1 mg/jam ).


Polisitemia ( hematokrit 68% pada bayi yang baru lahir ).
Anemia sangat berat dengan gejala gagal jantung pada hydrops fetalis
Kadar Hb tali pusat rendah dari 14 g% dengan uji comb direk positif
Semua kelainan yang membutuhkan komplemen, opsonin / gamma globulin

3. Metode transfusi tukar

Peralatan
1. Radian warmer
2. Peralatan dan obat resusitasi
3. Alat monitor lengkap
4. Peralatan untuk pemasangan kateter arteri dan vena umbilikal
5. Orogastrik tube, dipasang ke bayi
6. Spuit 10 atau 20 cc
7. Ca glukonas
8. NaCl : heparin 1 IU/cc
9. Wadah untuk pembuangan darah yang telah dihubungkan dengan set infus makro

Darah yang digunakan


1. Tipe darah

a. Inkompatibilitas Rh. Gunakan darah tipe O-Rh negatif, dengan titer anti A dan anti B
rendah. Harus di cross matched dulu dengan darah ibu. Pada bayi dengan
inkompatibilitas Rhesus berat (seperti hidrops fetalis), darah harus tersedia sebelum
kelahiran
b. Inkompatibilitas ABO. Ginakan darah tiper O-Rh sesuai dengan ibu dan bayi atau Rh
negatif, dengan titer anti A dan anti B rendah. Darah harus di cross matched dulu
dengan darah ibu dan bayi
c. Inkompatibilitas golongan darah minor. Gunakan golongan darah yang sesuai dan
darah harus di cross matched dengan darah ibu
d. Hiperbilirubinemia karena sebab lain. Sepsis, gangguan metabolik ataupun hemolisis
lain yang tidak disebabkan oleh kelainan isoimunitas, gunakan golongan darah yang
sesuai dan darah harus di cross matched dengan darah bayi
2. Kesegaran penyimpanan darah
a. Dianjurkan unruk menggunakan darah segar (kurang dari 72 jam) yang diawetkan
dengan sitrat. Dua hal ini akan memastikan pH darah > 7,0
b. Hematokrit yang di kehendaki untuk bayi adalah 50 70%. Ini bisa diminta ke bank
darah. Selama prosedur darah harus digoyang pelan secara periodik, untuk menjaga
hematokrit tetap konstan
c. Kadar kalium darah donor harus diperiksa jika bayi asfiksia, sedang syok, atau ada
gangguan ginjal. Jika kadar kalium >7mEq/ L, ganti dengan darah yang lebih baru
atau gunakan washed eritrosit
3. Jumlah darah yang digunakan
a. Double volume
Darah yang ditransfusi tukar sebanyak dua kali lipat volume darah bayi. Bayi cukup
bulam mempunyai volume darah 80 ml/kgBB, sedangkan bayi prematur 95
ml/kgBB. Junlah ini dikali dua, menjadi jumlah darah yang harus ditransfusi tukar
b. Transfusi tukar parsial
Pada polisitemia, dilakukan transfusi tukar dengan NaCl 0,9% atau plasma,

sedangkan pada anemia digunakan PRC


Pelaksanaan
1. Jelaskan tentan prosedur dan minta informed consent kepada orang tua
2. Puasakan bayi selama 3-4 jam sebelum transusi tukar dimulai. Pasang OGT untuk
mengosongkan lambung dan alirkan (buka tutupnya) selama prosedur. Tindakan ini
berguna untuk dekompres, mencegah regurgitas, dan aspirasi cairan lambung
3. Tidurkan bayi terlentang dan tahan posisinya dengan baik. Jangan lupa pasang urun
collector
4. Lakukan pemasangan kateter kemudian pasang kateter vena umbilikal untuk teknik
push and pull, serta arteri atau vena umbilikul untuk teknik isovolumetrik
5. Siapkan unit darah. Pastikan bahwa darah tersebut memang benar untuk pasie

6. Selanjutnya, pasang transfusi di jalur vena dengan bantuan four way stopcock
pastikan botol posisi three way stopcock. Kalau tidan ada bisa diganti dengan
stopcock yang dipasang seri. Di outlet stopcock tersebut, dipasang satu buah spuit 10
atau 20cc, darah yang akan ditransfusikan dan set infus untuk darah kotor. Pasang
set transusi sedemikian rupa sehingga stopcock akan berotasi searah jarum jam
dengan urutan (1) tarik darah dari pasien (2) buang ke tempat darah kotor (3) ambil
darah baru dan (4) masukkan dengan perlahan. Jika vena umbilikal tidak bisa
digunakan, teknik pull-push boleh dilakukan di arteri umbilikal dengan syarat ujung
kateter berada di bagian bawah aorta (dibawah lumbal 3a0
b. Untuk teknik isovolumetrik, jslur vena dipasang atu buah three way stopcock yang
dihubungkan dengan satu buah spuit 20 atau 20cc dan darah yang akan
ditransfusikan, sedangkan di jalur arteri three way stopcock dihubungkan dengan
satu buah spuit 10 atau 20cc dan set infus untuk tempat darah kotor
c. Darah kotor. Jika jalur arteri tidak bisa ditemukan, alternatif dari teknik ini adalah
dengan penggunaan dua vena. Vena besar untuk menarik darah, sedangkan vena
perifer untuk memasukkan darah. Bilas jalur penarikan dengan NaCl-heparin 1
IU/cc tiap 20-25 menit sekali untuk mencegah bekuan.
7. Mulailah prosedur trasnfusi tukar dengan perlahan, volume keluar masuk darah
disesuaikan dengan berat badan bayi, rata-rata 5 ml/kgBB. Volume pertama kali,
minimal 5cc dan maksimal 20cc
8. Selama prosedur berlangsung operator harus berbicara tentang volume darah keluar
masuk, sehingga asisten bisa mendengar dan mencatat dengan baik.

4. Tatalaksana breast milk jaundice

Dilakukan penghentian ASI sementara. Penghentian ASI akan memberi kesempatan

hati mengkonjungasi bilirubin indirek yang berlebihan.


Apabila kadar bilirubin tidak turun maka penghentian ASI dilanjutkan sampai 18-24

jam dan dilakukan pengukuran kadar bilirubin setiap 6 jam.


Apabila kadar bilirubin tetap meningkat setelah penghentian ASI selama 24 jam, maka

jelas penyebabnya bukan karena ASI,


ASI boleh diberikan kembali sambil mencari penyebab hiperbilirubinemia yang lain.

Jadi penghentian ASI untuk sementara adalah untuk menegakkan diagnosis.


Apabila kadar bilirubin meningkat lebih dari kadar yang ditentukan berdasarkan BB
maka dilakukan fototerapy dengan tetap diberikan ASI.

5. Perbedaan antara ikterus karena hiperbilirubinemia dengan hepatitis A

Perbedaannya yang mendasari adalah etiologinya dimana ikterus pada kasus adalah
ikterus yang terjadi karena hemolisis sedangkan ikterus pada hepatitis A terjadi karena
virus hepatitis A menyebabkan kerusakan pada hepatoseluler sehingga terjadi ganggu

ekskresi bilirubin terkonjugasi


Pada hiperbilirubin yang meningkat adalah bilirubin unconjugated sedangkan pada
ikterus dengan hepatitis A yang meningkat adalah bilirubin conjugated

6. Jarak antara bayi dengan Lampu phototherapy

Energi yang diberikan kepada kuit bayi semakin berkurang dengan bertambahnya
jarak antara bayi dan sumber cahaya. Jaraknya tidak lebih dari 50cm(20 inch) atau
lebih kurang dari 10 cm