Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan karunia-Nya makalah ini dapat diselesaikan tepat waktunya. Makalah ini kami
susun untuk menyelesaikan salah satu tugas Epidemiologi di Akademi Kebidanan
Bogor Husada Plus. Dengan bekal pengetahuan, pengarahan dan bimbingan yang
didapat sebelum dan selama kepanitraan ini, kami mencoba menyusun makalah yang
membahas tentang Screening Test.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1) Ketua yayasan Akademi Kebidanan Bogor Husada Plus, Bapak Drs. Slamet
Mulyono M.Kes.
2) Direktur Akademi Kebidanan Bogor Husada Plus, Ibu Riana Ulfah S. SiT. M. M.
Kes.
3) Dosen Pembimbing, Ns. Delpi Prima Apik, S. Kep.
4) Teman-teman yang memberi dukungan secara moril dalam penyusunan makalah
ini.
5) Dan semua pihak yang telah membantu kami baik secara langsung maupun tidak
langsung, sehingga penyusunan makalah ini dapat selesai pada waktunya.

Kami menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kesalahan. Kritik dan
saran yang membangun agar di masa mendatang kami dapat menyusun makalah lebih
baik lagi, kami berharap penyusunan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Akhir kata kami mohom maaf yang sebesar-besarnya, apabila dalam penyusunan
makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan baik yang disengaja maupun yang
tidak disengaja.

Bogor, Maret 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

1.2

Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum

1.2.2

Tujuan Khusus

1.3

Batasan Masalah

1.4

Metode Penulisan

1.5

Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Screening

2.2

Tujuan Screening

2.3

Cara Melakukan Screening

2.4

Test Diagnostik

2.5

Cara Menyimpulkan Hasil Screening

2.6

Peralatan Yang Digunakan Untuk Screening

BAB III PENUTUP


3.1

Kesimpulan

3.2

Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dalam kenyataan, jarang sekali kita dapat mengetahui dengan pasti
prevalensi suatu penyakit yang terdapat di masyarakat. Hal ini disebabkan
banyaknya penyakit yang timbul tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas atau
gejala yang ada masih belum timbul. Kondisi orang-orang tersebut mempunyai
potensi untuk menularkan penyakit.
Pengetahuan tentang prevalensi dibutuhkan untuk menilai hasil program
pemberantasan penyakit yang telah dilaksanakan. Untuk mengetahui dengan
pasti prevalensi suatu penyakit dapat dilakukan dengan mengadakan
pemeriksaan pada seluruh penduduk, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan.
Oleh karena itu, untuk mengetahui prevalensi suatu penyakit dibutuhkan suatu
pemeriksaan yang cepat dan efisien. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengadakan sceening test.
Secara garis besar, screeninng test adalah cara untuk mengidentifikasi
penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur
lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin
menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita.

1.2

Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memahami dan memiliki kemampuan dalam
screening test untuk mendeteksi suatu penyakit dan kemudian dapat
diaplikasikan untuk mengembangkan profesionalisme dalam bidang
kebidanan

1.2.2

Tujuan Khusus
Untuk memacu peningkatan kemampuan mahasiswa agar mereka
dapat lebih memahami mengenai screening test untuk mendeteksi suatu
penyakit sehingga mahasiswa akan lebih mudah mengaplikasikannya di
dalam proses pembelajaran dan dapat menjadi bekal dalam menjalankan
profesinya.

1.3

Batasan Masalah
Pada laporan makalah ini penulis hanya membahas tentang pengertian
screening, tujuan screening, cara melakukan screening, test diagnostik, dan cara
menyimpulkan screening, alat yang digunakan untuk screening.

1.4

Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode penyajian
materi secara deskripsi menggunakan sumber dari buku sehingga makalah ini
dapat disusun secara terperinci.

1.5

Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

1.2

Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
1.2.2 Tujuan Khusus

1.3

Batasan Masalah

1.4

Metode Penulisan

1.5

Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Screening

2.2

Tujuan Screening

2.3

Cara Melakukan Screening

2.4

Test Diagnostik

2.5

Cara Menyimpulkan Screening

2.6

Peralatan Yang Digunakan

BAB III PENUTUP


3.1

Kesimpulan

3.2

Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Screening
Screening adalah penerapan tes terhadap orang yang tidak menunujukan
gejala dengan tujuan mengelompokkan mereka ke dalam kelompok yang
mungkin menderita penyakit tertentu.
Screening adalah usaha untuk mengidentifikasi suatu penyakit yang secara
klinis belum jelas dengan menggunakan pemeriksaan tertentu atau prosedur lain
yang dapat digunakan secara tepat untuk membedakan orang-orang yang
kelihatannya sehat tapi mempunyai sakit atau betul-betul sehat (WHO
Regional Committee for Europe, 1957).
Screening adalah deteksi penyakit yang muncul pada populasi yang sehat
(orang sehat dan mereka dengan penyakit yang tak terdeteksi).
Menurut Mc.Keown (1968), screening adalah Investigasi kedokteran yang
dilakukan bukan atas kehendak penderita dalam menbdapatkan nasehat untuk
keluhan tertentu.

2.2

Tujuan Screening
1. Deteksi dini tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas terhadap orang-orang
yang tanpak sehat, tetapi mungkin menderita penyakit yaitu orang yang
mempunyai resiko tinggi untuk terkena penyakit (population at risk).
2. Dengan ditemukannya penderita tanpa gejala dapat dilakukan pengobatan
secara tuntas hingga mudah disembuhkan dan tidak membahayakan dirinya
maupun lingkungannya dan tidak menjadi sumber penularan hingga epidemi
dapat dihindari.

2.3

Macam-macam screening
1.

Mass screening

2.

Selective screening

3.

Single disease screening

4.

Multiphasic screening (general chek up)

5.

2.4

Case finding

Cara Melakukan Screening


Sebelum melakukan screening, terlebih dahulu harus ditentukan penyakit
atau kondisi medis apa yang akan dicari pada skrining. Kriteria untuk
menentukan kondisi medis yang akan dicari skrining. Kriteria untuk
menentukan kondisi medis yang akan dicari adalah:
-

Efektivitas pengobatan yang akan diberikan apabila hasil screening


positif.

Beban penderitaan yang ditimbulkan oleh kondisi tersebut.

Akurasi uji screening.


Setelah menentukan kondisis medis yang akan dicari, uji screening dapat

dilaksanakan dalam bentuk :


1.

Pertanyaan anamnesis, misalnya: apakah anda merokok?

2.

Bagian pemeriksaan fisik, misalnya pemeriksaan klinis payudara

3.

Prosedur, misalnya sigmoidoskopi

4.

Uji laboratorium, misalnya pemeriksaan Ht.

Yang perlu diperhatikan dalam screening yaitu :


1.

Populasi yang akan di screening harus di tentukan. Apakah PUS, balita


atau bumil

2.

Gejala dini dan faktor resiko dari masalah atau penyakit yang akan di
screening harus di ketahui terlebih dahul.

3.

Metode dari test atau pemeriksaan screening tersebut harus jelas

Kriteria bagi uji screening yang baik menyangkut antara lain :


1.

Sensitivitas dan spesifitas.

2.

Sederhana dan biaya murah.

3.

Aman.

4.

Dapat diterima oleh pasien dan klinikus.

4.

2.4

Test Diagnostik
Uji diagnostik adalah uji yang digunakan untuk membantu penentuan
diagnosis pasien dalam keadaan ketidakpastian. Penentuan diagnostik pasien
sendiri seringkali baru dapat dilakukan setelah melalui berbagai uji diagnostik.
Walaupun ada yang mengartikan uji diagnostik sebagai pemeriksaan yang
dilakukan di laboratorium, dalam pengertian epidemiologi klinik prinsip-prinsip
uji diagnostic berlaku bagi seluruh informasi klinik yang diperoleh melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan penunjang lainnya.

Table antara hasil uji diagnostik dengan kejadian penyakit

Hubungan antara hasil uji diagnostik dengan keberadaan penyakit yang


diperiksanya diperlihatkan pada table diatas tidak ada uji diagnostik yang
sempurna, dalam arti bahwa jika hasil ujinya positif, subjek yang menjalani uji
pasti menderita penyakit yang diperiksa, sebaliknya jika hasil ujinya negative,
subjek yang bersangkutan pasti bebas dari penyakit yang diperiksa.
Kualitas suatu uji diagnostik dinilai dengan dua perameter, yaitu
sensitifitas dan spesifisitasnya. Kedua parameter ini memiliki nilai yang
konstan, yaitu (diharapkan) bernilai sama dimanapun uji dilakukan. Selain itu
ada pula kuantitas yang dinamakan nilai prediksi positif dan nilai prediksi
negative. Kedua kuntitas terakhir memiliki nilai yang berbeda jika uji dilakukan
di tempat-tempat dengan prevalensi penyakit yang tidak sama.

Karakteristik dan definisi pada uji diagnostik

Keterangan :
Sensitivitas (Se): Proporsi yang hasil ujinya positif di antara yang sakit.
Spesifisitas (Sp): Proporsi yang hasil ujinya negative di antara yang tidak
sakit.
Nilai prediksi positif (PV+) : Proporsi yang sakit di antara yang hasil ujinya
positif.
Nilai prediksi negatif (PV-) : Proporsi yang tidak sakit di antara yang hasil
ujinya negatif
P : Prevalensi
Rasio likelihood positif (LR+):Sensitivitas
spesifisitas
-

Rasio likehood negatif (LR-): 1-Sensitivitas


spesifisitas

2.5

Cara Menyimpulkan Screening


Contoh Kasus :
1.

Screening test mengukur TB ibu hamil yang datang ke Puskesmas. Jumlah

ibu hamil yang melakukan test ada 622 orang. Bila TB < 146 cm memiliki
kemungkinan untuk di operasi, maka bumil yang punya risiko panggul sempit
sehingga saat melahirkan perlu Sectio Caesarea (SC) ada berapa persen?
Penyelesaiannya :

Didapatkan hasil test di Puskesmas :


- Mereka yang sakit dan dinyatakan positif berdasarkan hasil test = 19 orang.
- Mereka yang tidak sakit dan dinyatakan positif berdasarkan hasil test = 182
orang.
- Mereka yang sakit dan dinyatakan negative berdasarkan hasil test = 2 orang.
- Mereka yang tidak sakit dan dinyatakan negative berdasarkan hasil test = 419
orang.
Tabel
Tinggi Badan
< 146 cm
> 146 cm
Total

Sectio Caesarea
Ya
Tidak
19 (a)
182 (b)
2 (c)
419 (d)
601

201 (a+b)
421 (c+d)
622

21 (a+c)

(a+b+c+d)

(b+d)

Total

Jadi Cara Menyimpulkan Hasil Uji screeningnya adalah :


- Jadi sensitifitas =19/ (19+2)= 0.905x100%= 90,5%
(screening dengan pemeriksaan TB Bumil < 146cm, mengindentifikasi 90,5%
bumil yang dioperasi).
- Sedangkan spesifisitas = 419/(182+419)=0.697x100%=69,7%
(screening dengan pemeriksaan TB Bumil > 146cm, mengidentifikasi 69,7%
bulmil tidak dioperasi)

2.6

Peralatan Yang Digunakan


Alat yang digunakan dalam screening bermacam-macam tergantung
penyakit yang akan diuji, sehingga tidak menetap pada satu alat saja.
Contoh Kasus :
1.

Screening test karsinoma serviks yang dilakukan terhadap wanita berumur


29 tahun ke atas. Uji screening dilakukan dengan pemeriksaan:
1. Pap smear
2. Inspeksi Portio
3. Palpasi Ginekologi

Alat yang digunakan untuk test adalah Spekulum.


2.

Screening test karsinoma prostat dilakukan terhadap 811 orang lajut usia
yang dilakukan dengan pemeriksaan digital. Bila terdapat kecurigaan,
dilanjutkan dengan biopsi dan pemeriksaan patologi anatomi.

3.

Screening test penyakit AIDS dengan pemeriksaan antibodi HTLV III


menggunakan pemeriksaan ELIZA (Enzyme Linked Immunosorbent
Essay)

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Screening adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum
tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan
cepat memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang
mungkin tidak menderita penyakit. Dengan ditemukannya penderita tanpa gejala
dapat dilakukan pengobatan secara tuntas hingga mudah disembuhkan dan tidak
membahayakan dirinya maupun lingkungannya dan tidak menjadi sumber
penularan hingga epidemi dapat dihindari. Sebelum melakukan screening,
terlebih dahulu harus ditentukan penyakit atau kondisi medis apa yang akan
dicari pada skrining.
Uji diagnostik adalah uji yang digunakan untuk membantu penentuan
diagnosis pasien dalam keadaan ketidakpastian. Jika hasil ujinya positif, subjek
yang menjalani uji pasti menderita penyakit yang diperiksa, sebaliknya jika hasil
ujinya negative, subjek yang bersangkutan pasti bebas dari penyakit yang
diperiksa.

3.2

Saran
Setelah mengetahui dan memahami manfaat dari screening maka
diharapkan mahasiswa dapat menerapkan test screening sehingga dapat
diterapkan dalam proses pembelajaran dan dapat diaplikasikan dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Rianti, Emy. 2009. Buku Ajar Epidemiologi dalam Kebidanan. Jakarta : Trans Info
Media.
Budiarto, Eko. 2002. Buku Kedokteran. Jakarta : EGC
Azwar, Azrul. 1999. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : Binarupa Aksara