Anda di halaman 1dari 9

Laporan Kasus

PULPEKTOMI VITAL PADA GIGI 37 dan 36

Oleh :

Erlis Marisa
0910343048
Pembimbing :
Drg. Deli Mona, Sp.KG

UNIVERSITAS ANDALAS
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI
2014

A. Data Pasien

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia
Alamat
No. Rekam Medik
Elemen Gigi

: 17 tahun
: Jl. Jati Rawang no.42
: 001
: 3.7 dan 3.6

B. Pemeriksaan Subjektif
Chief Complaint :
Pasien datang dengan keluhan tembalan gigi nya lepas dan gigi tersebut terasa sakit
Present Illness :
Gigi geraham tersebut ditambal sejak 3 tahun lalu, dan sekarang tambalan tersebut lepas.
Pasien menggeluh sakit ketika makan dan menyikat gigi.
Past Dental History :
Pasien pernah kedokter gigi untuk menambal giginya
Past Medical History :
Tidak ada kelainan sistemik
Family History :
ibu

: sehat

ayah

: sehat

Social history :
Pasien adalah seorang pelajar
C. Pemeriksaan Objektif
1. Tidak terdapat pembengkakan pada gigi dan disekitar gigi tersebut.
2. Tes sondasi (+), palpasi (-), perkusi (+), chlor etil (+), MOB (-)

Gambar 2. Radiografi gigi 11 preoperatif

D. Pemeriksaan Radiografis
E. Diagnosis
Pulpitis Ireversible
F. Rencana perawatan
1. Pulpektomi vital

G. Prognosis
Baik, masih banyak struktur jaringan gigi tersisa, tidak terdapat fraktur horizontal
maupun vertikal pada akar gigi. Pasien kooperatif untuk datang berulang dan oral
hygiene pasien cukup baik.
H. Penatalaksanaan
Alat

Bahan

Diagnostic Set

Ca(OH)2

Bur Set

Cotton Roll

Jarum Miller

Cotton Pelet

Jarum Ekstirpasi

Spuit

Reamer

Eugenol

File

NaOCL dan H202

Spreader

Endometason

Spuit irigasi

Gutta Perca

Plugger

Cotton Roll

Lentulo

Cotton Pellet

Mistar

Paper point

Lampu Spiritus

Caviton

Korek Api

GIC Lining

Glass Slab
Semen Spatel

Kunjungan I
Pemeriksaan Subjektif, objektif, foto intra oral, foto rontgen periapikal, diagnosis, penentuan rencana
perawatan gigi 1.1 dan informed consent.

1. Preparasi Buka Atap Pulpa

Bentuk sesuai outline gigi

Akses dari palatal (singulum)

Straight line akses

Pertahankan struktur gigi yang sehat

2. Membuka atap kamar pulpa dengan bur bundar dan cari orifis dengan jarum miller.
3. Preparasi Biomekanis

Menentukan panjang kerja dengan pengukuran panjang mahkota klinis(b)


dengan mahkota pada rontgen foto(c) serta panjang gigi pada rontgen foto(a).
Foto rontgen digunakan untuk melihat kondisi gigi dan menghitung panjang
kerja.
Panjang gigi sebenarnya = a x b

= 23x

= mm

9,5

keterangan :
a = panjang gigi pada rontgen foto = 23 mm
b = panjang mahkota klinis = mm
c = panjang mahkota pada rontgen foto = 9,5 mm

Panjang gigi

Panjang kerja

mm

Melakukan ekstirpasi jaringan pulpa pada saluran akar sesuai panjang kerja
menggunakan barbed broach/jarum ekstirpasi yang diberi stopper dengan cara
memutar alat searah jarum jam kemudian ditarik ke atas. Ini dilakukan untuk
membuang semua bakteri, jaringan pulpa, dentin nekrotik dan debris.

Menenentukan IAF (Initial Apical File). Ini dilakukan untuk menentukan


nomor reamer dan file yang pertama kali masuk pada saluran akar. Selalu
gunakan stopper agar jarum tidak mencapai foramen apical.

Setelah IAF didapat, naikkan ukuran reamer dan file sebanyak 3 nomor di atas
IAF untuk mendapatkan MAF (Master Apical File) atau MAC (Master Apical
Cone).

Preparasi Step Back

Setelah MAF/MAC didapat, naikkan lagi ukuran reamer dan file sebanyak 3
nomor di atas MAF/MAC. Setiap menaikkan ukuran reamer dan file dikurangi 1
mm.

Setiap pergantian ukuran reamer dan file diselingi dengan irigasi


menggunakan NaOCl dan H2O2 yang dimasukkan ke dalam spuit yang
jarumnya dibengkokkan untuk mencegah tekanan berlebihan

Reamer dipakai dengan gerakan - putaran searah jarum jam

File dipakai dengan gerakan menarik

Keringkan saluran akar dengan paper point ukuran MAF/MAC. Lakukan


sampai saluran akar benar-benar kering dengan melihat paper point. Jika paper
point yang dikeluarkan dari saluran akar tidak basah lagi, berarti saluran akar
sudah benar-benar kering.

4. Pada dinding saluran akar diaplikasikan Ca(OH)2. Tutup dengan cotton pellet
kering steril.
5. Tutup kembali dengan caviton.

Kunjungan Ke II
1. Kunjungan kedua dilakukan 7 hari setelah kunjungan I.
2. Tes perkusi.
3. Bongkar tambalan sementara dengan bur diamond.
4. Keluarkan cotton pellet dan Ca(OH)2 dari saluran akar
5. Cek bau cotton pellet dan konsistensi Ca(OH)2
6. Irigasi kembali saluran akar dengan NaOCl dan H2O2
7. Keringkan dengan paper point.
8. Jika cotton pellet masih belum bau obat dan Ca(OH)2 belum kering rotasi kembali
dengan Ca(OH)2

9. Kavitas ditutup kembali dengan caviton.

Kunjungan Ke III
1. Kunjungan ketiga dilakukan 7 hari setelah kunjungan II.
2. Tes perkusi.
3. Bongkar tambalan sementara dengan bur diamond.
4. Keluarkan cotton pellet dan Ca(OH)2 dari saluran akar
5. Cek bau cotton pellet dan konsistensi Ca(OH)2
6. Irigasi kembali saluran akar dengan NaOCl dan H2O2
7. Keringkan dengan paper point.
8. Jika cotton pellet masih belum bau obat dan Ca(OH)2 belum kering rotasi kembali
dengan Ca(OH)2
9. Kavitas ditutup kembali dengan caviton.

Kunjungan Ke IV
1. Kunjugan keempat dilakukan sekitar 7 hari setelah kunjugan ketiga.
2. Dilakukan tes perkusi, jika tidak ada rasa sakit (-), dan saat dibandingkan dengan gigi
lain yang sehat, hasil tes perkusi sama dengan gigi lain dan palpasi (-), hal ini
menandakan bahwa saluran akar sudah bisa diobturasi dengan gutta percha.
3. Bongkar tambalan sementara dengan bur diamond.
4. Keluarkan cotton pellet dan Ca(OH)2 dari dinding saluran akar.
5. Cek nomor terakhir file yang digunakan. Apakah file masih bisa masuk atau tidak.
6. Irigasi dengan NaOCl dan H202.

7. Keringkan dengan paper point sampai benar-benar kering dengan cara mengecek
paper point terakhir.
8. Masukkan paper point ukuran MAC sebagai trial sebelum obturasi.
9. Lakukan rontgen foto.
10. Jika telah pas, lanjutkan dengan obturasi.
11. Aduk pasta sealer. Pada kasus ini digunakan endometason. Endometason diaduk
dengan eugenol di atas glass lab. Konsistensi tidak terlalu cair.
12. Aplikasikan pasta sealer pada dinding saluran akar dengan menggunakan lentulo.
13. Persiapkan gutta percha. Gutta percha pertama yang digunakan sesuai dengan ukuran
dan panjang MAC. Sebelum aplikasi, oleskan dulu guttap dengan pasta sealer.
14. Sebagai guttap aksesoris, digunakan guttap dengan ukuran 1/2 nomor dibawah
ukuran MAC. Setiap guttap yang akan dimasukkan ke dalam saluran akar, terlebih
dulu harus diolesi dengan pasta sealer untuk menutup bagian-bagian kecil yang
kosong.
15. Setiap guttap yang masuk pada saluran akar harus ditekan dengan spreader kearah
samping sampai padat untuk mendapatkan ruangan bagi guttap aksesoris. Teknik ini
dinamakan Kondensasi Lateral.
16. Setelah terisi penuh, padatkan guttap dengan cara menekan menggunakan plugger.
17. Kelebihan guttap dipotong dengan plugger yang dipanaskan dengan lampu spiritus.
18. Buang seluruh kelebihan guttap sampai orifis. Jangan sampai pada kamar pulpa
masih tersisa guttap. Karena lama-kelamaan, guttap akan mempengaruhi warna gigi.
19. Tutup dengan cotton pellet kering dan caviton.

20. Lakukan rontgen foto kembali. Hal ini untuk melihat apakah obturasi hermetis atau
tidak.
21. Jika hasil rontgen menunjukkan obturasi yang hermetis, buka tambalan sementara
dan cotton pellet dibuang.
22. Beri lining selapis tipis di atas guttap/ pada kamar pulpa.

Kunjungan Ke V
1. Kunjungan kelima dilakukan 1 minggu setelah obturasi.
2. Cek kembali perkusi.
3. Lakukan rontgen foto kembali sebagai rontgen control.

Kunjungan Ke VI
1. Kunjungan keenam dilakukan beberapa minggu setelah kunjungan kelima.
Hal ini dilakukan karena rencana perawatan pasca perawatan endodontic adalah post
and core crown.
2. Cek perkusi kembali. Biasanya setelah 3 minggu, sudah bisa dilakukan prosedur post
and core crown.