Anda di halaman 1dari 22

Fisika Farmasi | Annisyah Wiradika (201310410311036)

UNIVERSITAS
MUHAMMADI
YAH MALANG

KOLOID

[KOLOID] Fisika Farmasi


DAFTAR ISI
Daftar isi..........................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN.........................................................................................
BAB II PEMBAHASAN MATERI.............................................................................
A.
Definisi Koloid..........................................................................................
B.
Jenis-jenis Kolid........................................................................................
C.
Sifat-sifat Koloid.......................................................................................
D.
Kestabilan Koloid......................................................................................
E.
Pembuatan Sistem Koloid..........................................................................
F.
Pemurnian Koloid......................................................................................
BAB III PENUTUP......................................................................................................
`
A. Kesimpulan................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................

G.

Universitas Muhammadiyah Malang

1
2
3
3
3
5
14
15
17
19
19
20

[KOLOID] Fisika Farmasi


BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari kita sering bersinggungan dengan
sistem koloid sehingga sangat penting untuk dikaji. Sebagai contoh, hampir semua bahan
pangan mengandung partikel dengan ukuran koloid, seperti protein, karbohidrat, dan
lemak. Emulsi seperti susu juga termasuk koloid. Dalam industri cat, semen, dan industri
karet untuk membuat ban semuanya melibatkan sistem koloid. Semua bentuk seperti spray
untuk serangga, cat, hair spray, dan sebagainya adalah juga koloid. Dalam bidang
pertanian, tanah juga dapat digolongkan sebagai koloid.
Didalam farmasi sistem koloid banyak digunakan dikebanyakan produk berupa
koloid, misalnya krim, dan salep yang termasuk emulsi. Beberapa senyawa misalnya :
perak koloid/argentum proteinum dugunakan membunuh mikroorganisme dalam tetes mata
merah. Kelebihan sistem koloid dalam farmasi mempunyai sifat tidak mengiritasi karena
sebetulnya tidak larut. Plasma protein merupakan protein yang dapat mengikat obat
didalam darah sehingga obat dapat aktif. Beberapa bahan alam membentuk dispersi koloid
dapat digunakan untuk membuat sistem bentuk sediaan obat. Jadi sistem koloid sangat
berguna bagi kehidupan manusia.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai koloid. Mulai dari pengertian, sifat-sifat,
jenis dan yang berhubungan dengan koloid yang akan tertuang dalam BAB II yaitu ISI.
Tujuan dari pembuatan makalah ini agar baik penulis maupun siapa saja yang membaca
makalah ini mengerti mengenai koloid.

Universitas Muhammadiyah Malang

[KOLOID] Fisika Farmasi


BAB II
PEMBAHASAN MATERI
A. Definisi Koloid
Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di
mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar
secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid
berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar,
maupun tebal dari suatu partikel. Contoh lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang
terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat
banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll.
Sistem koloid, suspensi koloid, larutan koloid atau suatu koloid adalah suatu
campuran berfasa dua yaitu fasa terdispersi dan fasa pendispersi dengan ukuran partikel
terdispersi berkisar antara 10-7 sampai dengan 10-4 cm. Besaran partikel yang terdispersi,
tidak menjelaskan keadaan partikel tersebut. Partikel dapat terdiri atas atom, molekul kecil
atau molekul yang sangat besar. Koloid emas terdiri atas partikel-partikel dengan bebagai
ukuran, yang masing-masing mengandung jutaan atom emas atau lebih. Koloid belerang
terdiri atas partikel-partikel yang mengandung sekitar seribu molekul S8. Suatu contoh
molekul yang sangat besar (disebut juga molekul makro) ialah haemoglobin. Berat molekul
dari molekul ini 66800 s.m.a dan mempunyai diameter sekitar 6 x 10-7.

B. Jenis-Jenis Koloid
Sistem koloid tersusun dari fase terdispersi yang tersebar merata dalam medium
pendispersi. Fase terdispersi dan medium pendispersi dapat berupa zat padat, cair, dan gas.
Jenis-jenis sistem koloid berdasarkan jenis fasa terdispersi dan medium dispersi seperti
yang tertera pada tabel di bawah ini.
No.

Zat

Medium

Nama

Contoh

1.

terdispersi
Gas

dispersi
Cairan

Tipe
Busa

Krim kocok, busa bir, busa


sabun

2.

Gas

Padat

Busa padat

Batu apung, karet busa

3.

Cairan

Gas

Aerosol

Kabut, awan

cair
4.

Cairan

Cairan

Emulsi

Mayones, susu

5.

Cairan

Padat

Emulsi

Keju, mentega

Universitas Muhammadiyah Malang

[KOLOID] Fisika Farmasi


padat
6.

Padat

Gas

Aerosol

Asap, debu di udara

7.

Padat

Cair

Sol

Pati dalam air, selai

gel

Agar-agar dingin

Sol padat

Intan hitam, kaca rubi

8.

Padat

Padat

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa tidak ada koloid yang terbentuk dari
campuran antara gas-gas. Hal ini disebabkan campuran gas-gas tercampur secara merata
sehingga disebut juga sebagai larutan.
1.

Aeresol
Aerosol ada yang berupa aerosol cair dan aerosol padat. Aerosol cair merupakan
koloid yang fase terdispersinya zat cair dan medium pendispersinya gas. Contoh
aerosol cair hasil industri adalah pembasmi serangga dalam bentuk spray, hair
spray, dan parfum. Jika disemprotkan di udara, titik-titik zat cair akan tersebar di
udara membentuk koloid aerosol. Aerosol cair yang terjadi secara alami.
Contohnya kabut dan awan.
Kabut merupakan titik-titik yang tersebar di udara secara merata. Aerosol padat
merupakan koloid yang fase terdispersinya zat padat dan medium pendispersinya
gas. Aerosol padat contohnya asap dan debu. Berbagai asap sebenarnya berupa
partikelpartikel padat sangat halus yang tersebar di udara. Asap berbahaya yang
terjadi di rumah atau di ruangan adalah asap obat nyamuk dan asap rokok yang
berlebihan. Debu juga merupakan partikel-partikel padat sangat halus, yang
tersebar di udara. Debu dapat berada di rumah karena terbawa angin dari luar.

2.

Busa
Busa ada yang berupa buih dan busa padat. Buih atau busa cair merupakan koloid
yang fase terdispersinya gas dan medium pendispersinya zat cair. Buih yang
paling banyak ditemukan yaitu busa sabun. Contoh lainnya yaitu putih telur yang

Universitas Muhammadiyah Malang

[KOLOID] Fisika Farmasi


dikocok. Udara sebagai fase terdispersi dan putih telur sebagai medium
pendispersi.
Di bidang industri kosmetik ada bahan untuk pengeras rambut yang berupa busa
cair atau foam. Sedangkan di industri makanan contoh bahan berupa busa cair
yaitu krem untuk kue tart. Krem ini dikemas dalam tube seperti pasta gigi.
Busa padat, fase terdispersinya gas, medium pendispersinya zat padat. Produk
busa padat yang banyak digunakan untuk kemasan barang yang mudah pecah atau
rusak adalah styrofoam. Styrofoam salah satu contoh dari polimer sintetis.
3.

Emulsi
Emulsi merupakan koloid yang fase terdispersinya dan medium pendispersinya
zat cair, contohnya campuran minyak dan air. Campuran ini cenderung untuk
terpisah sehingga untuk menstabilkan campuran biasanya ditambahkan emulgator.
Bahan yang merupakan emulsi misalnya cat, pasta gigi, kosmetik (cleansing milk,
foundation), dan salad dressings. Padasalad dressings untuk menyatukan minyak
dan air digunakan emulgator kuning telur. Sabun juga merupakan emulgator untuk
menyatukan lemak/minyak pada tubuh dengan air saat membersihkan badan.
Emulsi padat fase terdispersinya zat cair, medium pendispersinya zat padat.
Contoh mentega, keju, dan jelli.

C.

Sifat-sifat Koloid
a. Gerak brown
Gerka brown adalah gerak tidak beraturan atau gerak acak atau gerak zig-zag
partikel koloid. Hal ini terjadi karena adanya benturan tidak teratur daari partikel
koloid denga medium pendispersi. Dengan adanya gerak Brown ini maka partikel
koloid terhindar dari pengendapan karena terus-menerus bergerak, sehingga
koloid menjadi stabil. Gerak zig-zag partikel koloid disebut gerak Brown, sesuai
dengan nama penemunya Robert Brown seorang ahli biologi berkebangsaan
Inggris.

Universitas Muhammadiyah Malang

[KOLOID] Fisika Farmasi

Jika kita amati koloid dibawah


mikroskop ultra, maka kita akan melihat
bahwa partikel-partikel tersebut akan
bergerak membentuk zigzag. Pergerakan
zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu zat senantiasa
bergerak. Gerakan tersebut
dapat bersifat acak seperti pada
Gambar Robert Brown dan gerak brwon.

zat cair dan gas( dinamakan gerak brown), sedangkan pada zat padat
hanya beroszillasi di tempat ( tidak termasuk gerak brown ).

Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikelpartikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri.
Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel
cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga
terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel
sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi.
Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown
yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan
dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat
(suspensi).
Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka
semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium
pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya
semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid,
maka gerak Brown semakin lambat.
b. Efek tyndall
Efek tindal yaitu efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid. Efek tyndall ini
ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh
karena itu sifat itu disebut efek tyndall. Efek Tyndall adalah efek yang terjadi jika
Universitas Muhammadiyah Malang

[KOLOID] Fisika Farmasi


suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan
cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan
pada sistem koloid (gambar kanan), cahaya akan dihamburkan.
Hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang
relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan
sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya
sedikit dan sangat sulit diamati.

Gambar hamburan cahaya oleh air santan kelapa (koloid) dan larutan gula yang
bukan koloid
Contoh efek tindal dapat dilihat pada kedua contoh berikut

Gambar penghamburan cahaya oleh sistem koloid (gambar kiri)

Contoh efek tindal dalam kehidupan sehari:

Jika sinar matahari masuk melalui celah ke dalam ruangan, pada sinar tsb
terlihat debu beterbangan (daerah ini terlihat leih terang).

Universitas Muhammadiyah Malang

[KOLOID] Fisika Farmasi

Jika koen liat film di bioskop, trus ada org ngrokok. Keplaken ae wong iku
pek asap rokok yg mengepul ke atas mengakibatkan cahaya proyektor
terlihat lebih terang dan gambar pada layar menjadi buram.

Sorot lampu mobil pada malam hari yg berkabut terlihat lebih jelas, tetapip
jalan kelihatan tidak jelas.

c.

Adsorpsi
Adsorpsi yaitu penyerapan pada permukaan partikel koloid oleh adanya gaya
adhesi zat-zat asing. Daya adsorpsi koloid sangat besar karena permukaan partikel
koloid yang sangat luas bila dibandingkan permukaan zat padat dengan jumlah
yang sama.
Partikel koloid sol tersebut tidak selalu mengadsorpsi ion yang sama. Hal itu
tergantung pada muatan yang berlebih dari medium pendispersinya. Misalnya,
jika sol AgCl terdapat pada medium pendispersi dengan kation Ag+ berlebih, maka
AgCl akan bermuatan positif. Sedangkan jika AgCl terdapat pada medium
pendispersi dengan anion Cl- berlebih, maka sol AgCl akan bermuatan negatif.
Koloid yang berbeda akan mengadsorpsi zat-zat yang berbeda pula. Sifat adsorpsi
koloid ini umumnya digunakan untuk mengadsorpsi/membuang kotoran/warna
dan bau, memisahkan campuran, memekatkan bijih tambang, dan proses
pemurnian lainnya.

Gambar penyerapan

suatu zat oleh zat pengadsorbsi

Contoh : Koloid

Fe(OH)3 bermuatan positif

karena

permukaannya menyerap ion

H+. Sedangkan

koloid As2S3 bermuatan negatit

karena permukaannya menyerap ion S2. Perhatikan gambar.

Universitas Muhammadiyah Malang

[KOLOID] Fisika Farmasi

Gambar Absorbsi pada permukaan koloid


Adsorbsi berbeda dengan absorbsi, absorpsi penyerapan yg terjadi di seluruh
bagian. Sifat adsorpsi partikel koloid dalam kehidupan sehari digunakan pada
proses-proses berikut.

Penjernihan air

Penghilangan kotoran pd proses pembuatan sirup

Proses menghilangkan bau badan

Pengguanaan arang aktif d. Koagulasi

Koagulasi yaitu penggumpalan partikel koloid yang terjadi karena kerusakan


stabilitas sistem koloid atau karena penggabungan partikel yg berbeda muatan
sehinggas membentuk partikel koloid yg lebih besar. Koagulasi dapat dilakukan
dengan cara mekanik dan kimiawi:
Cara mekanik : pemanasan, pendinginan dan pengadukan.
Cara kimiawi : penetralan silang atau menghilangkan muatan dan penambahan
elektrolit.
Contoh proses-proses yang memanfaatkan sifat koagulasi dari koloid :
a) Pengolahan karet dari bahan mentahnya ( lateks ) dengan koagulan berupa
asam format.
b) Proses penjernihan air dengan menambahkan tawas. Tawas aluminium sulfat
(mengandung ion Al3+) dapat digunakan untuk menggumpalkan lumpur koloid
atau sol tanah liat dalam air (yang bermuatan negatif).
Universitas Muhammadiyah Malang

[KOLOID] Fisika Farmasi


c) Jika sol Fe(OH)3 yang bermuatan positif ditambah sol As2S3 yang bermuatan
negatif, maka akan terjadi koagulasi.

d) Proses terbentuknya delta di muara sungai. Terjadi karena koloid tanah liat
dalam air sungai mengalami koagulasi ketika bercampur dengan elektrolit
dalam air laut.
e) Asap atau debu pabrik dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik
( pesawat Cottrel ). Metode ini dikembangkan oleh Frederick Cottrel ( 1877
1948 ).
f) Proses yang dilakukan oleh ion Al3+ atau Fe3+ pada penetralan partikel
albuminoid yang terdapat dalam darah, mengakibatkan terjadinya koagulasi
sehingga dapat menutupi luka.Pengolahan Air Bersih

Pengolahan air bersih didasarkan pada sifat-sifat koloid, yaitu koagulasi dan
adsorpsi. Air sungai atau air sumur yang keruh mengandung lumpur yang
merupakan partikel koloid. Selain itu terdapat pula zat-zat warna, zat pencemar,
seperti limbah detergen, dan pestisida. Bahan-bahan yang diperlukan untuk
pengolahan air adalah tawas biasanya aluminium sulfat, pasir, klorin atau kaporit,
kapur tohor, dan karbon aktif. Tawas berguna untuk menggumpalkan lumpur agar
lebih mudah disaring. Tawas juga membentuk koloid Al(OH)3 yang dapat
mengadsorpsi zat-zat warna atau zat-zat pencemar, seperti detergen dan pestisida.
Apabila tingkat kekeruhan air yang diolah terlalu tinggi, maka digunakan karbon
aktif di samping tawas. Pasir berfungsi sebagai penyaring. Klorin atau kaporit
berfungsi sebagai pembasmi hama (desinfektan), sedangkan kapur tohor berguna
untuk menaikkan pH, yaitu untuk menetralkan keasaman yang terjadi karena
penggunaan tawas.
Universitas Muhammadiyah Malang

10

[KOLOID] Fisika Farmasi


Pengolahan air bersih di kota-kota besar pada prinsipnya sama dengan pengolahan
air sederhana yang dijelaskan di atas. Mula-mula air sungai dipompakan ke dalam
bak prasedimentasi. Di sini lumpur dibiarkan mengendap karena pengaruh
gravitasi. Lumpur dibuang dengan pompa, sedangkan air selanjutnya dialirkan ke
dalam bak ventury. Pada tahap ini dicampurkan tawas dan gas klorin
(preklorinasi).
Pada air baku yang kekeruhan dan pencemarannya tinggi, perlu dibubuhkan
karbon aktif yang berguna untuk menghilangkan bau, warna, rasa, dan zat organik
yang terkandung dalam air baku. Dari bakventury, air baku yang telah dicampur
dengan bahan-bahan kimia dialirkan ke dalam accelator. Di dalam
bak accelator ini terjadi proses koagulasi, lumpur dan kotoran lain menggumpal
membentuk flok-flok yang akan mengalami sedimentasi secara gravitasi.
Selanjutnya, air yang sudah setengah bersih dialirkan ke dalam bak saringan pasir.
Pada saringan ini, sisa-sisa flok akan tertahan. Dari bak pasir diperoleh air yang
sudah hampir bersih.
Air yang sudah cukup bersih ini ditampung dalam bak lain yang disebut siphon, di
mana ditambahkan kapur untuk menaikkan pH dan gas klorin (postklorinasi)
untuk mematikan hama. Dari bak siphon, air yang sudah memenuhi standar air
bersih selanjutnya dialirkan ke dalam reservoar, kemudian ke konsumen.
d.

Elektroforesis
Peristiwa elektroforesis adalah peristiwa mengalirnya partikel-partikel koloid
menuju elektroda, bergeraknya partikel koloid ke dalam satu elektroda
menunjukkan bahwa partikel-partikel koloid bermuatan listrik. Gejala ini dapat
diamati dengan menggunakan alat sel elektroforesis seperti pada gambar.

Universitas Muhammadiyah Malang

11

[KOLOID] Fisika Farmasi


Gambar sel elektrolisis

Dispersi koloid dimasukkan ke dalam tabung U kemudian dicelupkan elektroda


pada mulut tabung. Apabila kawat dihubungkan dengan sumber arus listrik searah
dan arus listrik mengalir lewat elektroda positif dan negatif maka partikel koloid
akan bergerak ke salah satu elektroda. Partikel dispersi koloid yang bermuatan
negatif akan bergerak menuju elektroda bermuatan negatif.
Dengan menggunakan sel elektroforesis dapat ditentukan muatan dari partikel
koloid. Elektroforesis dapat dipakai untuk memisahkan protein-protein dalam
larutan. Muatan pada protein berbeda-beda, tergantung pH. Dengan membuat pH
larutan tertentu (misalnya dalam larutan penyangga), pemisahan molekul-molekul
protein yang berlainan jenis terjadi.
e.

Koloid Pelindung
Koloid pelindung adalah koloid yang bersifat melindungi koloid lain agar tidak
mengalami koagulasi sehingga koloid menjadi lebih stabil. Koloid pelindung akan
membentuk lapisan di sekeliling partikel koloid yang lain. Lapisan ini akan
melindungi muatan koloid tersebut sehingga partikel koloid tidak mudah
mengendap atau terpisah dari medium pendispersinya.
Contohnya:

Pada pembuatan es krim digunakan gelatin untuk mencegah pembentukan


kristal besar es atau gula.

Zat-zat pengemulsi ( sabun dan deterjen ).

Butiran-butiran halus air dalam margarin distabilkan dengan lesitin.

Partikel-partikel karbon dalam tinta dilindungi dengan larutan gom.

Warna-warna dalam cat distabilkan dengan oksida logam dengan


menambahkan minyak silikon.
Universitas Muhammadiyah Malang

12

[KOLOID] Fisika Farmasi

Pada industri susu, kasein digunakan untuk melindungi partikel-partikel


minyak atau lemak dalam medium cair.

f.

Koloid Liofil dan Koloid Liofob


Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel koloid terhadap medium pendispersinya,
dikenal dua macam koloid yaitu: koloid liofil dan koloid liofob
a.

Koloid liofil yaitu koloid yang senang cairan (bahasa Yunani : liyo = cairan;
philia = senang). Partikel koloid akan mengadsorpsi molekul cairan, sehingga
terbentuk selubung di sekeliling partikel koloid itu. Contoh koloid liofil adalah
kanji, protein, dan agar-agar.
Ciri-cirinya Sol Liofil
1.

Dapat dibuat langsung dengan mencampurkan fase terdispersi dengan


medium terdispersinya

2.

Mempunyai muatan yang kecil atau tidak bermuatan

3.

Partikel-partikel sol liofil mengadsorpsi medium pendispersinya. Terdapat


proses solvasi/ hidrasi, yaitu terbentuknya lapisan medium pendispersi
yang teradsorpsi di sekeliling partikel sehingga menyebabkan partikel sol
liofil tidak saling bergabung

4.

Viskositas sol liofil > viskositas medium pendispersi

5.

Tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit

6.

Reversibel, artinya fase terdispersi sol liofil dapat dipisahkan dengan


koagulasi, kemudian dapat diubah kembali menjadi sol dengan
penambahan medium pendispersinya.

7.

Memberikan efek Tyndall yang lemah

8.

Dapat bermigrasi ke anode, katode, atau tidak bermigrasi sama sekali.

Universitas Muhammadiyah Malang

13

[KOLOID] Fisika Farmasi


b.

Koloid liofob yaitu koloid yang benci cairan (phobia = benci). Partikel
koloid tidak mengadsorpsi molekul cairan. Contoh koloid liofob adalah sol
sulfida dan sol logam.
Ciri-ciri Sol Liofob
1.

Tidak dapat dibuat hanya dengan mencampur fase terdispersi dan medium
pendisperinya

2.

Memiliki muatan positif atau negative

3.

Partikel-partikel sol liofob tidak mengadsorpsi medium pendispersinya.


Muatan partikel diperoleh dari adsorpsi partikel-partikel ion yang
bermuatan listrik

4.

Viskositas sol hidrofob hampir sama dengan viskositas medium pendispersi

5.

Mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit karena mempunyai


muatan

6.

Irreversibel artinya sol liofob yang telah menggumpal tidak dapat diubah
menjadi sol

D.

7.

Memberikan efek Tyndall yang jelas

8.

Akan bergerak ke anode atau katode, tergantung jenis muatan partikel

KESTABILAN SISTEM KOLOID


Koloid gas dan kebanyakan koloid cairan tidak mengendap dalam waktu yang sangat

lama. Hal ini menunjukan koloid stabil. Kestabilan koloid ini disebabkan karena adanya
gerak Brown. Meskipun telah sampai ke dasar wadah, partikel koloid dapat naik kembali
dan terus bergerak dalam mediumnya. Penyebab lainnya karena umumnya partikel koloid
mengadsorpsi ion. Partikel koloid yang sama akan mengadsorpsi ion-ion yang sejenis,
sehingga partikel-partikel koloid itu saling tolak-menolak karena pengaruh ion sejenis yang
telah diadsorpsi.
Universitas Muhammadiyah Malang

14

[KOLOID] Fisika Farmasi


Partikel koloid sebenarnya tidak bermuatan listrik (netral). Peristiwa elektroforesis
dapat digunakan untuk mengetahui jenis muatan ion yang diadsorpsi koloid. Jika koloid
mengumpul pada elektroda negatif, berarti koloid telah mengadsorpsi ion positip, dan
sebaliknya.
Kestabilan koloid dapat juga disebabkan adanya adsorpsi molekul atau koloid yang
lain (koloid protektif/pelindung). Misalnya gelatin sebagai penstabil es krim. Emulsi dapat
terbentuk karena adanya koloid lain (emulgator/pengemulsi) sebagai pengadsorpsi.
Misalnya sabun sebagai pengemulsi minyak/lemak dan air.
Pengemulsi yang lain misalnya kasein dalam susu, dan kuning telur dalam
pembuatan mayones. Jika partikel-partikel koloid saling bergabung dan terkumpul menjadi
partikel yang semakin besar, maka koloid akan terkoagulasi (menggumpal) dan akhirnya
akan mengendap.
Secara kimia koagulasi partikel koloid dapat terjadi karena ion-ion yang telah
diadsorpsi partikel koloid dilucuti atau dinetralkan. Misalnya dengan cara elektrolisis atau
dicampurkan elektrolit/ion yang muatannya berlawanan. Cara lain yaitu dicapur dengan
koloid lain yang telah mengadsorpsi ion yang muatannya berlawanan. Ion-ion itu akan
saling tarik menarik dengan membawa serta partikel koloid yang mengadsorpsinya. Secara
fisika koagulasi koloid dapat terjadi karena pemanasan atau pendinginan. Misalnya telur
atau santan kelapa dapat menggumpal jika dipanaskan. Es lilin bisa menjadi keras karena
didinginkan.
E.

PEMBUATAN SISTEM KOLOID


Terdapat dua cara pembuatan koloid yaitu cara kondensasi dan cara dispersi.

1. Cara Kondensasi
a.

Reaksi dekomposisi rangkap.

Misalnya:

koloid As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan perlahan-lahan


melalui larutan As2O3dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning
terang.
Universitas Muhammadiyah Malang

15

[KOLOID] Fisika Farmasi


As2O3(aq) + 3H2S(g) As2O3 (koloid) + 3H2O(l)
Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2

sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dan larutan HCl
encer. Reaksinya:
AgNO3(ag) + HCl(aq) AgCl (koloid) + HNO3(aq)

b.

Reaksi redoks.
Misalnya: sol emas atau sol Au dapat dibuat dengan mereduksi larutan garamnya
dengan melarutkan AuCl3 dalam pereduksi organik formaldehida HCOH. Reaksi
yang terjadi:
2AuCl (aq) + HCOH(aq) + 3H2O(l) 2Au(s) + HCOOH(aq) + 6HCl(aq)
Sedangkan sol belerang dapat dibuat dengan mereduksi SO2 yang terlarut dalam
air dengan mengalirinya gas H2S. Reaksi kimia yang terjadi:
2H2S(g) + SO2(aq) 3S(s) + 2H2O

c.

Reaksi hidrolisis.
Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Misalanya: sol Fe(OH)3 dapat
dibuat dengan hidrolisis larutan FeCl3 dengan memanaskan larutan FeCl3 atau
reaksi hidrolisis garam Fe dalam air mendidih.
FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3 (koloid) + 3HCl(aq)
(Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+).
Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam Al dalam air mendidih.
AlCl3(aq) + 3H2O(l) Al(OH)3 (koloid) + 3HCl(aq)

d.

Reaksi pergantian pelarut

Universitas Muhammadiyah Malang

16

[KOLOID] Fisika Farmasi


Cara ini dilakukan dengan mengganti medium pendispersi sehingga fasa
terdispersi yang semulal arut setelah diganti pelarutanya menjadi berukuran
koloid. Misalnya: untuk membuat sol belerang yang sukar larut dalam air tetapi
mudah larut dalam alkohol seperti etanol dengan medium pendispersi air,
belarang harus terlebih dahulu dilarutkan dalam etanol sampai jenuh. Baru
kemudian larutan belerang dalam etanol tersebut ditambahkan sedikit demi
sedikit ke dalam air sambil diaduk. Sehingga belerang akan menggumpal
menjadi pertikel koloid dikarenakan penurunan kelarutan belerang dalam air.
Sebaliknya, kalsium asetat yang sukar larut dalam etanol, mula-mula dilarutkan
terlebih dahulu dalam air, kemudianbaru dalam larutan tersebut ditambahkan
etanol maka terjadi kondensasi dan terbentuklah koloid kalsium asetat.
2.

Cara Dispersi
a.

Cara Mekanik
Cara mekanik adalah penghalusan partikel-partikel kasar zat padat dengan
proses penggilingan untuk dapat membentuk partikel-partikel berukuran koloid.
Alat yang digunakan untuk cara ini biasa disebut penggilingan koloid, yang
biasa digunakan dalam:

Industri makanan untuk membuat jus buah, selai, krim, es krim,dsb.

Industri kimia rumah tangga untuk membuat pasta gigi, semir sepatu,
deterjen, dsb.

b.

Industri kimia untuk membuat pelumas padat, cat dan zat pewarna.

Industri-industri lainnya seperti industri plastik, farmasi, tekstil, dan kertas.

Cara Peptisasi
Cara peptisasi adalah pembuatan koloid/sistem koloid dari butir-butir kasar atau
dari suatu endapan/proses pendispersi endapan dengan bantuan suatu zat
pemeptisasi (pemecah). Zat pemecah tersebut dapat berupa elektrolit khususnya
yang mengandung ion sejenis ataupun pelarut tertentu. Contoh:
Universitas Muhammadiyah Malang

17

[KOLOID] Fisika Farmasi

Agar-agar dipeptisasi oleh air, karet oleh bensin

Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S, endapan Al(OH)3 oleh AlCl3

Sol Fe(OH)3 diperoleh dengan mengaduk endapan Fe(OH)3 yang baru


terbentuk dengan sedikit FeCl3. Sol Fe(OH)3 kemudian dikelilingi
Fe+3 sehingga bermuatan positif

Beberapa zat mudah terdispersi dalam pelarut tertentu dan membnetuk sistem
koloid. Contohnya: gelatin dalam air.

c.

Cara Busur Bredig


Cara busur Bredig ini biasanya digunakan untuk membuat sol-sol logam, sperti
Ag, Au, dan Pt. Dalam cara ini, logam yang akan diubah menjadi partikelpartikel kolid akan digunakan sebagai elektrode. Kemudian kedua logam
dicelupkan ke dalam medium pendispersinya (air suling dingin) sampai kedua
ujungnya saling berdekatan. Kemudian, kedua elektrode akan diberi loncatan
listrik, seperti gambar.

Gambar Cara busur listrik Bredig


Panas yang timbul akan menyebabkan logam menguap, uapnya kemudian akan
terkondensasi dalam medium pendispersi dingin, sehingga hasil kondensasi tersebut
berupa pertikel-pertikel kolid. Karena logam diubah jadi partikel kolid dengan proses
uap logam, maka metode ini dikategorikan sebagai metode dispersi.
F.

PEMURNIAN KOLOID
Universitas Muhammadiyah Malang

18

[KOLOID] Fisika Farmasi


1) Dialisis
Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut
proses dialisis. Yaitu dengan mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid
melalui membran semipermeabel yang berfungsi sebagai penyaring. Membran
semipermeabel ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga
koloid dan cairan akan berpisah.
Salah satu pemanfaatan proses dialysis adalah alat pencuci darah (Haemodialisis).
Pada proses ini darah kotor dari pasien dilewatkan dalam pipa-pipa yang terbuat dari
membran semipermeable. Pipa semipermeable ini dialiri cairan yang berfungsi
sebagai pencuci (biasanya plasma darah), ion-ion dalam darah kotor akan terbawa
aliran plasma darah.
2) Penyaring Ultra
Partikel-partikel kolid tidak dapat disaring biasa seperti kertas saring, karena poripori kertas saring terlalu besar dibandingkan ukuran partikel-partikel tersebut. Tetapi,
bila kertas saring tersebut diresapi dengan selulosa seperti selofan, maka ukuran poripori kertas akan sering berkurang. Kertas saring yang dimodifikasi tersebut disebut
penyaring ultra.
Proses pemurnian dengan menggunakan penyaring ultra ini termasuk lambat, jadi
tekanan harus dinaikkan untuk mempercepat proses ini. Terakhir, partikel-pertikel
koloid akan teringgal di kertas saring. Partikel-partikel kolid akan dapat dipisahkan
berdasarkan ukurannya, dengan menggunakan penyaring ultra bertahap.

Universitas Muhammadiyah Malang

19

[KOLOID] Fisika Farmasi

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di
mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah)
tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah)
2. Sistem koloid tersusun dari fase terdispersi yang tersebar merata dalam medium
pendispersi

Universitas Muhammadiyah Malang

20

[KOLOID] Fisika Farmasi

DAFTAR PUSTAKA

http://blognyapakarilmu.blogspot.com/2012/12/sifat-sifat-koloid-sistem-koloidkimia.html

http://blognyapakarilmu.blogspot.com/2012/12/pengertian-koloid-sistem-koloidkimia.html

http://blognyapakarilmu.blogspot.com/2012/12/jenis-jenis-koloid.html

Universitas Muhammadiyah Malang

21