Anda di halaman 1dari 3

KEGIATAN PENYULUHAN KESEHATAN HIV & AIDS

I.

LATAR BELAKANG
Indonesia termasuk negara dengan jumlah penduduk yang besar. Penduduk yang
besar, sehat dan produktif merupakan potensi dan kekuatan efektif bangsa. Begitu
pula sebaliknya penduduk yang besar tetapi sakit-sakitan, tidak sehat, dan tidak
produktif akan menjadi beban negara. Kesehatan tidak saja penting untuk
kesejahteraan hidup individu akan tetapi lebih penting lagi untuk kelangsungan
hidup bangsa. Kesehatan bukanlah komoditi yang bisa dilayankan oleh seseorang
kepada orang lain, kesehatan dapat diperoleh dengan usaha yang nyata, serta
keterlibatan aktif dari individu. Di banyak negara berkembang seperti Indonesia
upaya kesehatan lebih mengutamakan pelayanan kesembuhan penyakit dari pada
upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Indonesia sebagai negara berkembang dihadapkan pada lingkungan yang terus
menerus berubah yang menuntut penyesuaian diri yang terus menerus pula.
Perubahan masyarakat agraris ke masyarakat industrial diwarnai perkembangan
teknologi dan perubahan sosial tersebut berpengaruh terhadap fisik atau mental yang
berkaitan dengan penyakit spesifik dan perilaku perilaku bermasalah misalnya
perilaku pergaulan bebas yang beresiko terhadap penularan penyakit HIV/AIDS.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa pada tahun 2008 terjadi laju
peningkatan kasus baru AIDS yang semakin cepat terutama dalam 3 tahun terakhir
ini. Berdasarkan laporan situasi perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia sepuluh
tahun terakhir sampai dengan 30 Juni 2011, secara kumulatif jumlah kasus AIDS
yang dilaporkan adalah 26.483 kasus AIDS yang berasal dari 33 provinsi. Tidak satu
provinsipun yang luput. Kasus yang terbanyak terdapat di DKI Jakarta, Papua, Jawa
Barat, Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, DIY,
Sulawesi Utara, Sumatera Utara. Kasus tertinggi pada kelompok umur 2029 tahun
(46,4%), kelompok umur 3039 tahun (31,5%), kelompok umur 4049 tahun tahun
(9,8%). Sedangkan cara penularan kasus AIDS kumulatif dilaporkan melalui
hubungan seks heteroseksual (54,8%), Injecting Drug User atau IDU (36,2%),
hubungan seks sesama lelaki (2,9%), dan perinatal (2,8%).

II.

PERMASALAHAN DI MASYARAKAT

Kecamatan Bua merupakan salah satu kecamatan di Luwu dengan jumlah penduduk
yang cukup banyak. Dimana kebanyakan penduduknya pada usia sekolah. Meskipun
selama

bertugas di puskesmas kasus mengenai penyakit HIV/AIDS jarang

ditemukan akan tetapi bukan berate bahwa dalam hal ini untuk mencegah penyakit
menular seksual. Hal ini mungkin diakibatkan karena masyrakat malu berobat
apabila mempunyai masalah pada alat reproduksinya. penyakit menular seksual
merupakan ancaman yang serius bagi anak usia sekolah mengingat kurang
pengetahuan akan bahaya seks bebas dan akibat sperti Penyakit menular seksual
serta timbul rasa ingin tahu dan ketertarikan terhadap lawan jenis yang sering kali
dipahami dengan keliru. Belum lagi pengaruh dari lingkungan dimana diketahui
disekitar wilayah Kecamatan Bua terdapat tempat yang memberikan pelayanan seks
komersil yang akan memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat. Pengaruh
perkembangan teknologi informasi juga memberikan efek yang tidak baik bagi
kesehatan reproduksi anak usia sekolah yang akan berdampak pada munculnya
penyakit menular seksual. Munculnya penyakit menular seksual dikalangan anak
usia sekolah ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang bahaya penyakit
menular seksual dan tentang kesehatan reproduksi.
III.

PEMILIHAN INTERVENSI
Oleh Karena permasalahan yang terjadi di atas, maka kami bermaksud
mengadakan penyuluhan kesehatan tentang Penyakit Menular Seksual

IV.

PELAKSANAAN
Kegiatan ini dilakukan di SMP/SMP Kecamatan Bua pada tanggal 8 April sampai 13
april 2013
1. Tahap Perkenalan dan Penggalian Pengetahuan Peserta
Setelah memberi salam dan perkenalan pemateri terlebih dahulu menyampaikan
maksud dan tujuan diberikan penyuluhan sebelum materi disampaikan.
2. Tahap Penyajian Materi

Penyajian materi sesuai dengan materi penyuluhan (jadwal materi penyuluhan


terlampir). Disela-sela materi yang disampaikan, pemateri memberikan kesempatan
pada peserta untuk bertanya langsung apabila ada materi yang tidak dimengerti.
V.

EVALUASI

Evaluasi Struktur
Penyuluhan dilakukan di SMA/SMP Kecamatan Bua .

Evaluasi Proses
Peserta yang hadir kurang lebih 30 orang. Pelaksanaan penyuluhan berjalan
sebagaimana yang diharapkan dimana peserta antusias menjawab pertanyaan yang
diajukan pemateri dan hampir sebagian besar peserta aktif melontarkan pertanyaan.

Evaluasi Hasil
Lebih dari 75% dari siswa yang hadir mampu menjawab pertanyaan dari
Dokter tentang materi yang disampaikan. Hal ini membuktikan bahwa peserta
memperhatikan materi yang disampaikan.
PENDAMPING

dr.H.Bunadi,M.Kes