Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................
..

KATA
PENGANTAR................................................................................................. ii
DAFTAR
ISI

...........................................................................................................iii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.................................................................................... 1


1.2. Tujuan.................................................................................................. 2
1.3. Manfaat................................................................................................. 3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Teoritis....................................................................... 4


2.1.1.

Definisi ............................................................................ 4

2.1.2. Etiologi............................................................................... 4
2.1.3.

Manifestasi Klinis........................................................... 5

2.1.4.

WOC................................................................................. 6

2.1.5.

Patofisiologi..................................................................... 7

2.1.6.

Pemeriksaan penunjang............................................... 7

2.1.7.

Penatalaksanaan........................................................... 7

2.1.8.

Komplikasi....................................................................... 9

BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


3.1. Pengkajian........................................................................................14
3.2. Diagnosa....................................................................................... .... 26
3.3. Intervensi dan Implementasi.......................................................... 28
3.4. Evaluasi............................................................................................. 30

BAB IV PENUTUP
4.1.
Kesimpulan ........................................................................................ 32
4.2.
Saran................................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sindrom koroner akut (acute coronary syndrome/ACS) meliputi spektrum
penyakit dari infark miokard akut (MI) sampai angina tak stabil ( unstable angina).
Penyebab utama penyakit ini adalah trombosis arteri koroner yang berakibat pada
iskemi dan infark miokard. Derajat iskemik dan ukuran infark ditentukan oleh
derajat dan lokasi trombosis.
Sejak 1960an, ketika terapi standard menjadi istirahat penuh ( bed rest) dan
defibrilasi (jika diperlukan), angka kematian infark miokard akut menurun terus.
Sindrom

koroner

akut

(SKA)

merupakan

keadaan

darurat

jantung

dengan

manifestasi klinis rasa tidak enak didada atau gejala lain sebagai akibat iskemia
miokardium. SKA terdiri atas angina pektoris tidak stabil, infarct myocard
acute (IMA) yang disertai elevasi segmen ST .Penderita dengan infark miokardium
tanpa elevasi ST.3 SKA ditetapkan sebagai manifestasi klinis penyakit arteri
koroner. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan manifestasi utama proses
aterosklerosis. 3
The American Heart Association memperkirakan bahwa lebih dari 6 juta
penduduk Amerika, menderita penyakit jantung koroner (PJK) dan lebih dari 1 juta
orang yang diperkirakan mengalami serangan infark miokardium setiap tahun.
Kejadiannya lebih sering pada pria dengan umur antara 45 sampai 65 tahun, dan
tidak ada perbedaan dengan wanita setelah umur 65 tahun.46 Penyakit jantung
koroner juga merupakan penyebab kematian utama (20%) penduduk Amerika.
1.2 Tujuan
1.

Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari makalah ini adalah Untuk Mengetahui dan Memahami
Tentang Konsep Dasar Teori dan Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Pasien
dengan Sindrom Koroner Akut.

2.

Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari makalah ini antara lain adalah :

1.
2.

Untuk mengetahui konsep dasar teori dari Sindrom Koroner Akut.


Untuk mengetahui konsep dasar Askep teoritis pada pasien dengan Sindrom

Koroner Akut dengan meliputi Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Intervensi,


implementasi dan evaluasi.
1.1 Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini antara lain :
1.

Untuk meningkatkan pengetahuan tentang Sindrom Koroner Akut

2.

Untuk meningkatkan pengetahuan Asuhan Keperawatan Gawat Darurat dari

Sindrom Koroner Akut


3.

Untuk menambah referensi pustaka bagi mahasiswa Keperawatan UMI

tentang Sindrom Koroner Akut

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Teoritis
2.1.1 Defenisi
Sindrom koroner akut (SKA) adalah sekumpulan gejala yang di akibatkan
oleh pengganggunya aliran darah pada pembuluh darah koroner di jantung secara
akut. Gangguan pada aliran darah tersebut disebabkan oleh thrombosis (pembekuan
darah) yang terbentuk di dalam pembuluh darah sehingga menghambat alirah darah.
SKA terbagi atas 2 bagian yakni angina tidak stabil dan infark miokard
akut.

Angina

tidak

stabil

adalah

dimana

pembekuan

darah

tidak

sampai

menyebabkan sumbatan total pada pembuluh darah, sedangkan infark miokard akut
terjadi jika pembekuan darah menyebabkan aliran darah tersumbat total.
a.

Angina Pectoris
Angina pectoris adalah suatu sindrom klinis berupa serangan sakit dada yang
khas, yaitu ditekan atau terasa berat di dada yang sering kali menjalar ke lengan
kiri. Hal ini bisa timbul saat pasien melakukan aktivitas dan segera hilang apabila
aktivitas di hentikan.
Ciri khas tanda dan gejala angina pectoris dapat dilihat dari letaknya (daerah
yang terasa sakit), kualitas sakit hubungan timbulnya sakit dengan aktivitas dan
lama serangannya, sakit biasanya timbul di daerah sterna atau dada sebelah kiri, dan
menjalar ke lengan kiri. Kualitas sakit yang timbul beragam dapat seperti di tekan
benda berat di jepit atau terasa panas. Sakit dada biasanya timbul saat melakukan
aktivitas dan hilang saat berhenti dengan lama serangan berlangsung antara 1-5
menit.

b.

Infark Miokard Akut


Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard darah ke otot jantung.
Nyeri dada serupa dengan angina tetapi lebih insentif dan menetap lebih dari 30
menit, tidak sepenuhnya menghilang dengan istirahat ataupun pemberian nitro

gliserin nausea berkeringat dan sangat menakutkan pasien, pada saat pemeriksaan
fisik didapatkan muka pucat karti kardi dan bunyi jantung 3 (bila disertai gagal
jantung kongestif).
2.1.2

ETIOLOGI
Masalah yang sesungguhnya pada SKA terletak pada penyempitan pembuluh
darah jantung (vasokontriksi). Penyempitan ini diakibatkan oleh 4 hal yaitu :

a)

Adanya timbunan lemak (aterosklerosis) dalam pembuluh darah akibat konsumsi


kolesterol yang tinggi.

b)

Sumbatan (trombosit) oleh sel bekuan darah (thrombus)

c)

Vasokontriksi (penyempitan pembuluh darah akibat kejang terus menerus.

d)

Infeksi pada pembuluh darah


Terjadinya SKA dipengaruhi oleh beberapa keadaan yakni :

a)

Aktivitas atau latihan fisik yang berlebihan (tidak terkondisikan)

b)

Stress atau emosi dan terkejut.

c)

Udara dingin, keadaan-keadaan tersebut ada hubungannya dengan peningkatan


aktivitas simpatis sehingga tekanan darah meningkat, frekuensi debar meningkat dan
kontra aktivitas jantung meningkat.

2.1.3

MANIFESTASI KLINIK
Rasa tertekan, teremas, terbakar yang tidak nyaman, nyeri atau rasa penuh
yang sangat terasa dan menetap di bagian tengah dada dan berlangsung selama
beberapa menit (biasanya lebih dari 15 menit).

Nyeri yang memancar sampai ke bahu, leher, lengan, atau rahang, atau nyeri di
punggung diantara tulang belikat.

Pening atau pusing

Berkeringat

Mual

Sesak napas

Keresahan atau firasat terhadap malapetaka yang akan dating

2.1.4

PATOFISIOLOGI
Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat
suplei darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang. Penyebab
penurunan

suplai

darah

mungkin

akibat

penyempitan arteri

koroner

karena

aterosklerosis atau penyumbatan total arteri oleh emboli (plak) atau thrombus.
Penurunan aliran darah koroner juga bisa diakibatkan oleh syok atau perdarahan.
Pada setiap kasus ini selalu terjadi ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen jantung.
Iskemia yang terjadi berlangsung cukup lama (>30-45menit) menyebabkan
kerusakan seluler yang irreversibel. Plak aterosklerosis menyebabkan bekuan darah
atau trombus yang akan menyumbat pembuluh darah arteri, jika bekuan terlepas
dari tempat melekatnya dan mengalir ke cabang arteri koronaria yang lebih perifer
pada arteri yang sama.
Dua jenis kelainan yang terjadi pada IMA adalah komplikasi hemodinamik
dan

aritmia.

Segera

setelah

terjadi

IMA

daerah

miokard

setempat

akan

memperlihatkan penonjolan sistolik (diskinesia) dengan akibat penurunan ejection


fraction, isi sekuncup (stroke volume) dan peningkatan volume akhir distolik
ventrikel kiri. Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri naik dengan akibat tekanan
atrium kiri juga naik. Peningkatan tekanan atrium kiri di atas 25 mmHg yang lama
akan menyebabkan transudasi cairan ke jaringan interstisium paru (gagal jantung).
Miokard yang masih relatif baik akan mengadakan kompensasi, khususnya
dengan bantuan rangsangan adrenergeik, untuk mempertahankan curah jantung,
tetapi dengan akibat peningkatan kebutuhan oksigen miokard. Kompensasi ini jelas
tidak akan memadai bila daerah yang bersangkutan juga mengalami iskemia atau
bahkan sudah fibrotic. Sebagai akibat IMA sering terjadi perubahan bentuk serta
ukuran ventrikel kiri dan tebal jantung ventrikel baik yang terkena infark maupun
yang non infark.

Perubahan tersebut menyebabkan remodeling ventrikel yang nantinya akan


mempengaruhi fungsi ventrikel dan timbulnya aritmia. Bila IMA makin tenang
fungsi jantung akan membaik walaupun tidak diobati. Hal ini disebabkan karena
daerah-daerah yang tadinya iskemik mengalami perbaikan. Daerah-daerah diskinetik
akibat IMA akan menjadi akinetik, karena terbentuk jaringan parut yang kaku.
Miokard sehat dapat pula mengalami hipertropi.
Terjadinya penyulit mekanis seperti ruptur septum ventrikel, regurgitasi
mitral akut dan aneurisma ventrikel akan memperburuk faal hemodinamik jantung.
Aritmia merupakan penyulit IMA tersering dan terjadi terutama pada menit-menit
atau jam-jam pertama setelah serangan. Hal ini disebabkan oleh perubahanperubahan masa refrakter, daya hantar rangsangan dan kepekaaan terhadap
rangsangan.
2.1.6

Pemeriksaan diagnostic

EKG

Pemeriksaan Laboratori

Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan Enzim Serum

2.1.7

Penatalaksanaan
Tindakan pencegahan penyakit jantung
Menurunkan

atau

mengurangi

faktor

resiko

yang

dapat

diubah

olahraga,merokok, dan pembatasan makanan berlemak.


Individu mengalami stres, dan terutama yang memiliki riwayat penyakit
jantung

dalam

keluarga,

harus

diajarkan

menurunkan

resiko

dan

mencari

pertolongan medis segera jika terjadi tanda-tanda lain.


Untuk pasien SKA, pandua terapi menggunakan pertolongan akronim ABCDE.
a.

Untuk

terapi antiplatelet,

antikoagulan, penghangat

enzim

pengubah

angiotensin, dan penyakit reseptor angiotensin.


b.

Untuk penyakit beta dan pengendalian TD (blood pressu pressure).

c.

Untuk terapi kolesterol (cholesterol dan menghentikan rokok) cigarette smoking


cessation.

d.

Untuk penatalaksanaan diabetes dan diet.

e.

Untuk exercise atau olahraga.

Bagi penderita angina tidak stabil dan NSTEMI, penanganannya juga


meliputi :

a)

Perintang beta-andrenergik untuk mengurangi beban jantung yang berlebihan dan


kebutuhan oksigen.

b)

Hiparin dan inhibitor glikoprotein IIb/IIIa untuk meminimalkan agregasi keping


darah dan bahaya oklusi koroner pada pasien berisiko-tinggi (pasien yang
menggunakan kateterisasi dan troponin positif),

c)

Nitrogliserin I.V. untuk mendilasi arteri koroner dan meringankan nyeri di dada.

d)

Bedah angioplasti koroner transluminal perkutaneus atau graf bypass arteri


koroner untuk lesi obstruktif.

e)

Antilipemik untuk menurunkan kenaikan tingkat kolesterol seum atau trigliserida.


Bagi penderita STEMI, penanganannya meliputi intervensi awal seperti di
atas dan juga:

a)

Terapi trombolitik (kecuali bila ada kontraindikasi) dlam waktu 12 jam setelah
serangan gejala untuk mengembalikan kepatenan dan meminimalkan nekrosis.

b)

Heparin I.V. untuk meningkatkan kepatenan di arteri koroner yang diserang.

c)

Inhibitor glikoprotein IIb/IIIa untuk meminimalkan agregasi keping darah.

d)

Inhibitor enzim pengkonversi-angiotensin (angiotensin - converting enzyme


ACE) untuk menurunkan afterload dan preload dan mencegah pembentukan kembali
(dimulai 6 jam setelah adanya admisi atau jika kondisi pasien stabil)

e)

PTCA, penempatan stent, atau bedah CABG untuk membuka arteri yang
mengalami rintangan atau menyempit.

2.1.8

Komplikasi

Dapat terjadi tromboembolus akibat kontraktilitas miokard berkurang.

Dapat terjadi gagal jantung kongestif apabila jantung tidak dapat memompa keluar
semua darah yang diterimanya.
Distrimia adalah komplikasi tersering pada infark.
Distrimia adalah syok kardiogenik apabila curah jantung sangat berkurang dalam
waktu lama.
Dapat terjadi ruptur miokardium selama atau segera setelah suatu infark besar.
Dapat terjadi perikarditis, peradangan selaput jantung (biasanya berapa hari setelah
infark).
Setelah IM sembuh, terbentuk jaringan parut yang menggantikan sel-sel miokardium
yang mati.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
3.1 PENGKAJIAN
-

Data dasar tentang info status terkini pasien

Pengkajian sistematis berhubungan dengan gambaran gejala : nyeri dada, sulit


bernafas (dispneu), palpitasi, pingsan (sinkop), atau keringat dingin (diaphoresis)
Masing-masing

harus

di

evaluasi

waktu

dan

durasinya

serta

factor

yang

mencetuskan dan yang meringankan


-

Pengkajian fisik

Tingkat kesadaran

Nyeri dada

Frekuensi dan irama jantung

Bunyi jantung

Tekanan darah

Denyut nadi perifer

Tempat infuse intravena

Warna kulit dan suhu

Paru

Nafas pendek

Fungsi gastrointestinal

Status volume cairan


3.2 DIAGNOSA

a.

Gangguan rasa tak nyaman nyeri akut


Gangguan rasa tak nyaman dan nyeri akut dapat terjadi sehubungan dengan
kurangnya suplai oksigen ke otot jantung sekunder karena oklusi arteri coronaria.
Kondisi ini di tandai dengan rasa nyeri dada hebat dengan menjalar ke leher,

punggung belakang, dan epigastrium. Di samping itu, ekspresi wajah tampak


kesakitan, kelelahan, lelah, perubahan kesadaran nadi dan tekanan darah.
Intervensi
1)

Monitor dan catat karakteristik nyeri; lokasi nyeri, intensitas nyeri, durasi nyeri,
kualitas dan penyebaran nyeri

2)

Kaji apakah pernah ada di rawayat nyeri dada di sebelumnya

3)

Atur lingkungan tenang nyaman, jelaskan bahwa pasien harus istirahat

4)

Ajarkan teknik relaksasi seperti nafas,

5)

Periksa tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pengobatan analgetik


Kolaborasi

1.

Pemberian tambahan oksigen dengan nasal canule atau masker.

2.

Pemberian obat-obatan sesuai indikasi, anti angina (nitrogyserin seperti; nitrodisk, nitro bid),
Beta blokers; propanorol ( indera ), pindolol (vietlen), atenol (tenormin),
analgesic ( seperti; morphin / meperidine/demoral ), cantagonis (seperti nifedipine /
adalat ).

b.

keterbatasan aktivitas fisik


Keterbatasan aktivitas fisik terjadi sehubungan dengan suplai oksigen dan
keburukan oksigen yang tidak seimbang, iskemik/ kematian otot jantung. Kondisi
ini ditandai dengan kelelahan, perubahan nadi dan tekanan darah aktivitas,
perubahan warna kulit.
Intervensi

1)

Catat nadi, irama, dan tekanan darah sebelum saat aktivitas dan setelah aktivitas.

2)

Anjurkan dan jelaskan bahwa pasien harus istirahat sampai keadaan stabil.

3)

Anjurkan pasien supaya tidak mengedan jika buang air besar

4)

Hindarkan pasien kelelahan di tempat duduk

5)

Rencanakan aktifitas bertahap jika telah bebas nyeri; duduk di tempat tidur,
berdiri, duduk di kursi 1 jam sebelum makan

6)

Ukur tanda vital sebelum dan setelah aktivitas.


Kolaborasi

Merujuk ke ASAS untuk program tindak lanjut dan rehabilitasi.

c.

Rasa Cemas
Rasa cemas dapat terjadi berkaitan dengan perubahan status menjadi sakit,
ancaman kematian, kegagalan berhaji. Kondisi ini di tandai dengan tekanan
darah meningkat, wajah tampak cemas, perhatian hanya pada diri sendiri.
Intervensi

1)

Lakukan komunikasi terapeutik dengan cara membina hubungan saling percaya


dan dengarkan keluhan pasien dengan sabar.

2)

Dampingi pasien, cegah tindakan destruktif dan konfrontatif

3)

Jelaskan tindakan-tindakan yang akan dilkukan

4)

Jawab pertanyaan pasien dengan konsisten

5)

Bantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari


Kolaborasi
Pemberian sedative misalnya diazepam (valium), flurazepam hydrochloride
(dalmane), lorazepam (ativan) Potensial penurunan cardiac out put

d.

Potensial Penurunan cardiac out Put


Penurunan cardiac out put dapat terjadi sehubungan dengan perubahan nadi,
aliran konduksi, dan penurunan preload/peningkatan SVR.
Intervensi

1)

Ukur tekanan darah , evaluasi kualitas nadi

2)

Kaji adanya murmur, S3 dan S4.

3)

Dengarkan bunyi nafas

4)

Siapkan alat-alat atau obat-obatan emergensi.


Kolaborasi

1)

Pemberian oksigen tambahan

2)

Pemasangan infuse

3)

Rekam EKG

4)

Pemeriksaan Rontgen thoraks ulang

e.

Potensial penurunan perfusi jaringan


Ini terjadi sehubungan dengan vasokontrinsik hipovolemia.
Intervensi

1)

Awasi perubahan emosi secara mendadak misalnya bingung, cemas, lemah dan
penurunana kesadaran

2)

Awasi adanya sianosis, kulit dingin dan nadi perifer

3)

Kaji adanya tanda-tanda homans ; nyeri pada pergelangan lutut, eritema dan
edema

4)

Monitor pernafasan

5)

Kaji fungsi pencernaan; ada tidaknya mual , penurunan bunyi usus, muntah,
distensi abdomen dan konstipasi

6)

Monitor pemasukan cairan; ada tidaknya perubahan dalam produksi urine.


Kolaborasi

1)

Pemeriksaan laboratorium; astrup, creatinin, dan elektrolit

2)

Pengobatan; heparin, panitidine dan antasida.

f.

Perubahan Volume Cairan


Perubahan volume cairan yang berlebahan terjadi sehubungan dengan penurunan
perfusi organ dari renal, peningkatan retensi sodium dan air, serta peningkatan
tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma.
Intervensi

1)

Kaji bunyi nafas, ada tidaknya cracles

2)

Kaji JVD (distensi vena jugularis) dan edema ada atau tadak ada

3)

Keseimbagan cairan

4)

Timbang berat badan setiap hari

5)

Jika memungkinkan berikan cairan 2000 cc/ 24 jam


Kolaborasi
Pemberian garam/ minum dan diuretic misalnya Furosemid (lasix)
3.4 IMPLEMENTASI
Pada tahap implementasi atau pelaksanaan dari asuhan keperawatan meninjau
dari apa yang telah di rencanakan atau intervensi sebelumnya dengan tujuan

utamanya penghilangan nyeri dada, tidak ada kesulitan bernafas, pemeliharaan atau
pencapaian perfusi jaringan yang adekuat, mengurangi kecemasan, mematuhi
program asuhan diri, dan tidak adanya komplikasi.
3.5 EVALUASI
Hasil yang diharapkan
a.

Pasien menunjukkan pengurangan nyeri.

b.

Tidak menunjukkan kesulitan dalam bernafas

c.

Perfusi jaringan terpelihara secara adekuat

d.

Memperihatkan berkurangnya kecemasan

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Infark jantung adalah nekrosis sebagian oto jantung akibat berkurangnya suplai
darah ke bagian otot tersebut akibat oklusi atau thrombosis arteria koronaria atau
dapat juga akibat keadaan syok atau anemia akut. Apabila seseorang mengalami
Nyeri dada tiba-tiba berlangsung terus menerus, terletak dibagian bawah sternum
dan perut atas harus dilakukan tindakan segera yaitu EKG, Pemeriksaan Laboratori,
Pemeriksaan Darah, Pemeriksaan Enzim Serum. Setelah diagnosis infark miokard
akut ditegakkan maka selanjutnya dilakukan observasi dngan cermat.
Berdasarkan materi yang ada tentang sindrom koroner akut asuhan keperawatan
yang dilakukan yaitu :
-

Melakukan pengkajian

Menganalisa data

Merumuskan diagnosa keperawatan

Merencanakan tujuan dan intervensi

Mengimplemetasi rencana keperawatan

Mengevaluasi

4.2 Saran

Bagi klien yang mempunyai gejala-gejala yang tampak seperti Nyeri yang
memancar sampai ke bahu, leher, lengan, atau rahang, atau nyeri di punggung
diantara tulang belikat dan gejala sebelumya maka perlu dilakukan dignosis dini
karena dapat dicurigai mengalami penyakit sindrom koroner akut terutama infark
miokard akut. Dengan diagnosis yang tepat dan dengan tindakan yang cermat dan
tepat maka kita akan menyelamtkan nyawa penderita.

Dalam upaya meningkatkan asuhan keperawatan klien dengan penyakit infark


miokard akut, hendaknya :
-

Klien diberi support agar dapat mempercepat penyembuhan

Memberi perawatan dan perhatian kepda klien dalam proses perawatan

Penigkatan dan penyedian sarana dan prasarana serta kerja sama antara pihak
rumah sakit dengan keluarga
Diharapkan kepada keluarga kiranya dapat merawat klien apabila dilakukan
perawatan dirumah.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Corwin J. Elizabeth (2009). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Krisanty Paula, S.Kep, Ns, dkw (2009). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta :
TIM
Koroner-akut-infarkmiokard_obat_hosppharm.pdf-adobe reader