Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Menopause adalah berhentinya menstruasi secara permanen karena hilangnya
fungsi ovarium. Menopause spontan adalah hilangnya fungsi ovarium yang
berhubungan dengan proses penuaan. Menopause yang diinduksi adalah penghentian
fungsi ovarium karena ooforektomi bilateral (menopause pembedahan) atau dari
kemoterapi atau

radiasi panggul. Menopause prematur adalah menopause yang

terjadi sebelum usia 40 tahun. (1, 2, 3)


Menopause adalah proses biologis alami, dan tidak didefinisikan sebagai
penyakit defisiensi estrogen. Menopause secara retrospektif didefinisikan sebagai
final menstruation period (FMP). FMP hanya dapat ditentukan bila diikuti dengan
amenore selama 1 tahun. Penghentian menstruasi menggambarkan pengurangan
produksi estrogen dari ovarium ke tingkat yang tidak mencukupi untuk menghasilkan
proliferasi lapisan dinding endometrium. (4, 5, 6)
Menstruasi biasanya berhenti secara spontan antara usia 40 dan 58 tahun, usia
rata-rata menopause adalah 51,4 tahun, dengan 90 persen menjadi menopause antara
usia 45 hingga 55 tahun. Kronologis usia merupakan indikator yang buruk karena
adanya berbagai usia untuk menopause spontan. Usia menopause rata-rata telah stabil
di seluruh dunia secara berabad-abad, meskipun jangka hayat manusia telah
meningkat. Namun, usia menopause dapat dipengaruhi oleh faktor merokok dan
genetik. (7, 8, 9)
Perimenopause atau menopause transisi merujuk kepada periode sebelum
menopause. Hal ini berakhir dengan FMP. Periode ini ditandai dengan variasi panjang
siklus dan aliran menstruasi, yang menggambarkan kenaikan kadar folliclestimulating hormone (FSH). Usia rata-rata onset gangguan menstruasi adalah pada
usia 47,5 tahun, transisi berlangsung rata-rata 4 tahun. Namun demikian, 10 persen
wanita tiba-tiba berhenti menstruasi tanpa adanya gangguan siklus haid.

Postmenopause dimulai dengan FMP dan berterusan selama kehidupan wanita itu.

(4, 9,

10)

Selama masa transisi ke menopause, dimana kadar estrogen menurun maka


frekuensi gangguan seksual meningkat. Akibat berkurangnya hormon estrogen, aliran
darah ke vagina berkurang, cairan vagina berkurang, dan sel epitel vagina menjadi
tipis dan mudah cedera. Gejala dari gangguan seksual antara lain : berkurangnya
lubrikasi vagina, menurunnya libido, dispareuni, dan vaginismus.(3,18,19)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Menopause berasal dari bahasa yunani yaitu men

(month)

dan pausis

(cessation). Masa peralihan antara siklus ovarium yang normal menuju kemunduran
fungsi ovarium disebut sebagai masa perimenopause. ProdukZsi estrogen berkurang
dan haid tidak terjadi lagi. Setelah memasuki usia menopause selalu ditemukan kadar
FSH yang tinggi (>35 mIU/ml). Pada awal menopause kadang-kadang kadar estrogen
rendah. Bila seorang wanita tidak haid selama 12 bulan dan dijumpai kadar FSH >35
mIU/ml dan kadar estradiol < 30 pg/ml, maka wanita tersebut dapat dikatakan telah
mengalami menopause.
Menopause menurut WHO didefinisikan sebagai berhentinya siklus menstruasi
untuk selamanya bagi wanita yang sebelumnya mengalami menstruasi sebagai akibat
dari hilangnya aktivitas folikel ovarium. Menopause diartikan sebagai tidak
dijumpainya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut dimana

ovarium secara

progresif telah gagal dalam memproduksi estrogen. Jumlah folikel yang mengalami
atresia terus meningkat, hingga pada suatu ketika tidak tersedia lagi folikel yang
cukup. Selama transisi menopause, wanita mengalami berbagai perubahan
diantaranya fisik, psikologis, dan sosial yang dapat mempengaruhi kualitas hidup
mereka.

Menopause menimbulkan beberapa gejala yaitu : hot flushes, keringat

malam, kekeringan vagina, depresi, mudah tersinggung, sakit kepala, dan gangguan
tidur.1, 4, 5, 6
Menopause adalah keaadan dimana ovarium manusia menjadi tidak responsif
terhadap gonadotropin seiring dengan pertambahan usia, dan fungsinya menurun
sehingga daur seksual menghilang. Menopause terjadi pada usia kurang lebih 51
tahun. Klimakterium adalah suatu masa yang sifatnya fisiologis peralihan antara
masa reproduksi dan masa senium. Masa klimakterium terdiri dari masa
pramenopause, menopause dan pascamenopause. Pramenopause yaitu 4-5 tahun

sebelum menopause, mulai ada keluhan klimakterium tetapi estrogen masih dibentuk.
Pascamenopause yaitu 3-5 tahun setelah menopause.4, 5, 7
B. FISIOLOGI MENOPAUSE
Klimakterik merupakan periode peralihan dari fase reproduksi menuju fase
usia tua (senium) yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif maupun
endokrinologik dari ovarium. Selama menopause terjadi penurunan dari hormon
ovarium dan peningkatan dari hormon pituitary gonadotropin. Hormon ovarium
sendiri dibagi menjadi 2 yaitu hormon steroid (estradiol dan progesteron) serta
peptida (inhibin dan aktivin). Estradiol dan hormon peptida dihasilkan oleh ovarian
granulosa cell sedangkan progesterone adalah produk dari corpus luteum. Inhibin
berfungsi untuk mensupresi sintesis dari FSH sedangkan aktivin menstimulasi sekresi
dari FSH. [3]
Pada umumnya orang lebih senang menggunakan istilah menopause, meskipun
istilah tersebut kurang tepat, karena menopause hanya merupakan kejadian sesaat
saja, yaitu perdarahan haid yang terakhir. Yang paling tepat digunakan adalah
klimakterik, yaitu fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. Disebut
pascamenopause bila telah mengalami menopause 12 bulan sampai menuju ke
senium. Senium adalah pascamenopause lanjut yaitu setelah usia 65 tahun. Bila
ovarium tidak berfungsi lagi pada usia <40 tahun disebut klimakterium prekok. Fase
klimakterik dibagi menjadi :
1. Pramenopause
Fase pramenopause adalah fase antara usia 40 tahun dan dimulainya
fase klimakterik. Fase ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur,
dengan perdarahan haid yang memanjang dan jumlah darah haid yang relatif
banyak, dan kadang disertai nyeri haid. Pada wanita tertentu telah timbul
keluhan vasomotorik dan keluhan sindrom premenstrual. Perubahan
endokrinologik yang terjadi adalah fase folikuler yang memendek, kadar
estrogen yang tinggi, kadar FSH yang biasa tinggi namun bisa juga normal.

Fase luteal tetap stabil. Akibat kadar FSH yang tinggi ini dapat terjadi
perangsangan ovarium yang berlebihan sehingga dijumpai kadar estrogen
yang sangat tinggi. [3]
2. Perimenopause
Perimenopause merupakan fase peralihan antara pramenopause dan
pascamenopause, dimana kondisi tubuh menyesuaikan diri dengan masa
menopause yang berkisar antara 2-8 tahun setelah periode terakhir menstruasi.
Beberapa ahli menyatakan bahwa perimenopause terdiri dari beberapa tahap,
yaitu : tahap awal perimenopause, dapat terjadi pada wanita usia 30 tahun
namun umumnya dimulai antara usia 40-44 tahun dan ditandai dengan adanya
perubahan siklus dan lama menstruasi; tahap pertengahan ditandai dengan
siklus menstruasi menjadi tidak teratur, tapi tetap terjadi setiap bulan; dan
tahap akhir saat siklus menstruasi mulai menghilang sampai akhirnya berhenti
sama sekali. Sekitar 6 bulan sebelum menopause, level estrogen turun secara
drastis. [3]
3. Menopause
Jumlah folikel yang mengalami atresia semakin meningkat, sampai
suatu ketika tidak tersedia lagi folikel yang cukup. Produksi estrogen pun
berkurang dan tidak terjadi haid lagi yang berakhir dengan terjadinya
menopause. Oleh karena itu, menopause diartikan sebagai haid alami terakhir,
dan hal ini tidak terjadi bila wanita menggunakan kontrasepsi hormonal pada
usia perimenopause. Perdarahan masih terus terjadi selama wanita masih
menggunakan pil kontrasepsi secara siklik dan wanita tersebut tidak
mengalami keluhan klimakterik. Kita tidak pernah tahu kapan wanita tersebut
memasuki usia menopause. Untuk menentukan diagnosis menopause, pil
kontrasepsi harus segera dihentikan dan satu bulan kemudian dilakukan
pemeriksaan FSH dan estradiol. Bila pada usia perimenopause ditemukan
kadar FSH dan estradiol yang bervariasi, maka setelah memasuki usia
menopause akan selalu ditemukan kadar FSH yang tinggi (> 40 mlU/ml).
kadar estradiol pada awal menopause dijumpai rendah hanya pada sebagian

wanita, sedangkan pada sebagian wanita lain apalagi wanita gemuk kadar
estradiol dapat tinggi. Hal ini terjadi akibat proses aromatisasi androgen
menjadi estrogen dalam jaringan lemak. Diagnosis menopause yaitu apabila
seorang wanita tidak haid selama 12 bulan, dan dijumpai kadar FSH darah
>40 mlU/ml dan kadar estradiol < 30 pg/ml. [3]
4. Pascamenopause
Ovarium sudah tidak berfungsi sama sekali, kadar estradiol berada
antara 20-30 pg/ml, dan kadar hormon gonadotropin biasanya meningkat.
Peningkatan hormon gonadotropin ini disebabkan oleh terhentinya produksi
inhibin akibat tidak tersedianya folikel dalam jumlah yang cukup. Pada usia
reproduksi, folikel memproduksi inhibin dalam jumlah yang cukup dan
inhibin inilah yang menekan sekresi FSH. Akibat rendahnya kadar estradiol,
endometrium menjadi atropik dan tidak mungkin muncul haid lagi. Pada
wanita pascamenopause masih saja dapat dijumpai jenis steroid seks lain
dengan kadar normal dalam darah. Ternyata, ovarium wanita pascamenopause
masih memiliki kemampuan untuk menyintesis steroid seks. Sel-sel hilus dan
korteks ovarium masih dapat memproduksi androgen, estrogen, dan
progesterone dalam jumlah tertentu. Selain itu, jaringan tubuh tertentu seperti
lemak, uterus, hati, otot, kulit, dan rambut memiliki kemampuan
mengaromatisasi androgen menjadi estrogen. Kelenjar adrenal merupakan
sumber

androgen

utama

bagi

wanita

pascamenopause.

Normalnya

pascamenopause berlangsung kira-kira 10-15 tahun dan diikuti oleh masa


senium sekitar usia 65 tahun sampai akhir kehidupan. [3]
5. Senium
Seorang

wanita disebut senium bila telah memasuki usia pasca

menopause lanjut sampai usia > 65 tahun.

Williams Gynekology stadium Reproductive Aging Workshop - Stages of


Reproductive Aging Workshop (STRAW).
C.

KLASIFIKASI MENOPAUSE
Berdasarkan waktu terjadinya, menopause dapat dibagi menjadi tiga jenis
yaitu:
1. Menopause alami (normal). Menopause alami terjadi seiring dengan
bertambahnya usia, ovarium akan mengalami penurunan fungsi yang
mengakibatkan terjadinya penurunan produksi hormon estrogen dan
progesterone. Sebagai kompensasinya, tubuh pun bereaksi dengan
melakukan

penyesuaian-penyesuaian,

diantaranya

adalah

dengan

berhentinya menstruasi. Menopause alami biasa terjadi pada usia 45-55


tahun.
2. Menopause dini (Surgical menopause/Premature menopause) dapat
terjadi karena buatan, akibat operasi seperti pada pengangkatan
ovarium atau akibat obat-obatan seperti pada terapi radiasi maupun
kemoterapi untuk pengobatan tumor pada perempuan yang masih

berovulasi. Atau karena kegagalan ovarium premature pada usia 40,


30, bahkan 20 tahun. Angka kejadian dari premature menopause
meningkat karena perkembangan dari treatment kanker pada anak,
remaja, ataupun wanita usia reproduktif. Hal yang sama juga terjadi
pada peningkatan insiden dilakukannya histerektomi.
3. Menopause terlambat. Bila seorang perempuan masih mendapatkan
haid di atas usia 52 tahun maka disebut dengan menopause terlambat.
Pada menopause terlambat diperlukan penelusuran yang lebih lanjut..
Kemungkinan penyebab bisa berupa konstitusional, fibroma uteri, dan
tumor yang menghasilkan estrogen. Pada perempuan dengan
karsinoma endometrium, sering dijumpai adanya menopause yang
terlambat.8,9
D. ETIOLOGI MENOPAUSE
Penyebab menopause adalah matinya (burning out) ovarium. Sepanjang
kehidupan seks seorang wanita, kira-kira 400 folikel primordial tumbuh menjadi
folikel matang dan berovulasi, dan ratusan ribu ovum berdegenerasi. Pada usia sekitar
45 tahun, hanya tinggal sedikit folikel primordial yang harus dirangsang oleh FSH
dan LH. Produksi esterogen dari ovarium menurun saat jumlah folikel primordial
mendekati nol. Ketika produksi esterogen turun dibawah nilai kritis, esterogen tidak
dapat lagi menghambat produksi gonadotropin FSH dan LH. Sebaliknya,
gonadotropin FSH dan LH (terutama FSH) diproduksi sesudah menopause dalam
jumlah besar dan kontinu, tetapi ketika folikel primordial yang tersisa menjadi atretik,
produksi esterogen oleh ovarium benar-benar turun menjadi nol.2,3
Sistem hormonal mengatur komposisi tubuh, deposisi lemak, massa otot,
kekuatan otot, metabolism, berat badan, dan keadaan fisik. Perubahan hormonal akan
menyertai perkembangan usia seseorang. Beberapa manifestasi dari proses
menopause disebabkan oleh defisiensi hormonal yang diakibatkan oleh menurunnya
produksi hormone estrogen ovarium karena berkurangnya jumlah folikel yang aktif
sampai menghilangnya produksi estrogen ovarium akibat sudah tidak ada sama sekali

folikel yang masih aktif di ovarium. Keadaan defisiensi estrogen ini dapat berakibat
pada munculnya keluhan jangka pendek ataupun keluhan jangka panjang.1, 9
E. PATOFISIOLOGI
Pada wanita menopause hilangnya fungsi ovarium secara bertahap akan
menurunkan kemampuannya dalam menjawab rangsangan hormon-hormon hipofisis
untuk menghasilkan hormon steroid. Saat dilahirkan wanita mempunyai kurang lebih
750.000 folikel primordial. Dengan meningkatnya usia, jumlah folikel tersebut akan
semakin berkurang. Pada usia 40-44 tahun rata-rata jumlah folikel primordial
menurun sampai 8300 buah, yang disebabkan oleh adanya proses ovulasi pada setiap
siklus juga karena adanya apoptosis yaitu proses folikel primordial yang mati dan
terhenti pertumbuhannya. Proses tersebut terjadi terus-menerus selama kehidupan
seorang wanita, hingga pada usia sekitar 50 tahun fungsi ovarium menjadi sangat
menurun. Apabila jumlah folikel mencapai jumlah yang kritis, maka akan terjadi
gangguan sistem pengaturan hormon yang terjadinya insufisiensi korpus luteum,
siklus haid anovulatorik dan pada akhirnya terjadi oligomenore.
Perubahan-perunahan dalam sistem vaskularisasi ovarium sebagai akibat
proses penuaan dan terjadinya sklerosis pada sistem pembuluh darah ovarium
diperkirakan sebagai penyebab gangguan vaskularisasi ovarium. Terjadinya proses
penuaan dan penurunan fungsi ovarium menyebabkan ovarium tidak mampu
menjawab rangsangan hipofisis untuk menghasilkan hormon steroid. memproduksi
estradiol, kelenjar hipofise berusaha merangsang ovarium untuk menghasilkan
estrogen, sehingga terjadi peningkatan produksi FSH. Terdapat peningkatan 10-20
kali lipat pada kadar FSH dan 3 kali lipat pada kadar LH, yang mencapai kadar
maksimal 1-3 tahun setelah menopause. Peningkatan kadar FSH dan LH saat ini
dalam kehidupan adalah bukti

dari terjadinya

kegagalan ovarium. Meskipun

perubahan ini mulai terjadi 3 tahun sebelum menopause, penurunan produksi estrogen
oleh ovarium baru

tampak sekitar 6 bulan

sebelum

menopause. Pada pasca

menopause kadar LH dan FSH meningkat, FSH biasanya akan lebih tinggi dari LH
sehingga rasio FSH/LH menjadi lebih besar dari satu. Hal ini disebabkan oleh

hilangnya mekanisme umpan balik negatif dari steroid ovarium dan inhibin terhadap
pelepasan gonadotropin.
Diagnosis menopause dapat ditegakkan bila kadar FSH lebih dari 30 mIU/ml.
Kadar estradiol pada wanita pascamenopause lebih rendah dibandingkan dengan
wanita usai reproduksi pada setiap fase dari siklus haidnya. Pada wanita
pascsamenopause estradiol dan estron berasal dari konversi androgen adrenal di hati,
ginjal, otak, kelenjar adrenal, dan jaringan adipose. Proses aromatisasi yang terjadi di
perifer berhubungan dengan berat badan wanita. Wanita yang gemuk mempunyai
kadar estrogen yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita kurus karena
meningkatnya aromatisasi perifer. Kadar estradiol sirkulasi setelah menopause adalah
sekitar 10-20 pg / mL, yang sebagian besar berasal dari konversi perifer dari estrone,
yang pada gilirannya terutama berasal
Perubahan Metabolisme Hormonal Pada Menopause
Pada wanita dengan siklus haid normal, estrogen terbesar adalah estradiol
yang berasal dari ovarium. Disamping estradiol terdapat pula estron yang berasal dari
konversi androstenedion di jaringan perifer. Selama siklus haid pada masa reproduksi,
kadar estradiol berkisar antara 40-80 pg/ml, pada pertengahan fase folikuler berkisar
antara 60-100 pg/ml, pada akhir fase folikulerberkisar antara 100-400 pg/ml dan pada
fase luteal berkisar antara 100-200 pg/ml. Kadar rata-rata estradiol selama siklus haid
normal adalah 80 pg/ml sedangkankadar estron berkisar antara 40-400 pg/ml.
Memasuki masa perimenopause aktivitas folikel dalam ovarium mulai
berkurang. Ketika ovarium tidak menghasilkan ovum dan berhenti memproduksi
estradiol, kelenjar hipofise berusaha merangsang ovarium untuk menghasilkan
estrogen, sehingga terjadi peningkatan produksi FSH. Terdapat peningkatan 10-20
kali lipat pada kadar FSH dan 3 kali lipat pada kadar LH, yang mencapai kadar
maksimal 1-3 tahun setelah menopause. Peningkatan kadar FSH dan LH saat ini
dalam kehidupan adalah bukti

dari terjadinya

kegagalan ovarium. Meskipun

10

perubahan ini mulai terjadi 3 tahun sebelum menopause, penurunan produksi estrogen
oleh ovarium baru

tampak sekitar 6 bulan sebelum menopause. Pada pasca

menopause kadar LH dan FSH meningkat, FSH biasanya akan lebih tinggi dari LH
sehingga rasio FSH/LH menjadi lebih besar dari satu. Hal ini disebabkan oleh
hilangnya mekanisme umpan balik negatif dari steroid ovarium dan inhibin terhadap
pelepasan gonadotropin.
Diagnosis menopause dapat ditegakkan bila kadar FSH lebih dari 30 mIU/ml.
Kadar estradiol pada wanita pascamenopause lebih rendah dibandingkan dengan
wanita usai reproduksi pada setiap fase dari siklus haidnya. Pada wanita
pascsamenopause estradiol dan estron berasal dari konversi androgen adrenal di hati,
ginjal, otak, kelenjar adrenal, dan jaringan adipose. Proses aromatisasi yang terjadi di
perifer berhubungan dengan berat badan wanita. Wanita yang gemuk mempunyai
kadar estrogen yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita kurus karena
meningkatnya aromatisasi perifer.
Kadar estradiol sirkulasi setelah menopause adalah sekitar 10-20 pg / mL,
yang sebagian besar berasal dari konversi perifer dari estrone, yang pada gilirannya
terutama berasal dari konversi perifer dari androstenedione. Kadar estrone sirkulasi
pada wanita menopause lebih tinggi dari estradiol, sekitar 30-70 pg / mL. Rata-rata
tingkat produksi estrogen pascamenopause adalah sekitar 45g/24 jam, hampir
semua, namun tidak semua, karena estrogen berasal dari konversi perifer dari
androgen. Rasio androgen / estrogen berubah drastis setelah menopause karena
penurunan yang lebih tajam dalam estrogen, dan terjadinya hirsutisme ringan adalah
umum, yang mencerminkan pergeseran yang bermakna dalam rasio hormon.
Ovarium mengeluarkan terutama androstenedion dan testosteron. Setelah
menopause, kadar sirkulasi androstenedion adalah sekitar satu-setengah dari yang
terlihat sebelum menopause. Sebagian besar androstenedion menopause ini berasal
dari kelenjar adrenal, dengan hanya sejumlah kecil yang dikeluarkan dari ovarium,

11

meskipun androstenedion adalah steroid utama yang disekresi oleh ovarium


pascamenopause. Dehydroepiandrosterone ( DHA ) dan sulfat-nya (DHAS), yang
berasal dari kelenjar adrenal, menurun tajam dengan penuaan, dalam dekade setelah
menopause kadar sirkulasi DHA dimana kadarnya adalah menurun sampai 70 % dan
kadar DHAS menurun sampai 74 % dibandingkan kadar dalam kehidupan masa
reproduksi.
Produksi testosteron

menurun sekitar 25 % setelah menopause, tetapi

ovarium pada masa pascamenopause mensekresikan lebih lebih banyak testosterone


dibandingkan dengan ovarium pada masa premoenopause dimana hal ini setidaknya
terjadi

pada tahun-tahun pertama periode pascamenopause . Dengan hilangnya

folikel dan estrogen, gonadotropin yang tinggi mendorong jaringan di ovarium yang
tersisa ke level peningkatan sekresi testosteron.

Supresi gonadotropin dengan

pengobatan agonis atau antagonis gonadotropin - releasing hormone (GnRH) pada


wannita pascamenopause menghasilkan penurunan yang signifikan dalam kadar
testosteron yang bersirkulasi, yang menunjukkan ovarium menopause tergantung
gonadotropin. Jumlah testosteron total yang dihasilkan setelah menopause,
bagaimanapun, menurun karena jumlah sumber utama, konversi perifer dari
androstenedion, berkurang.
Kadar androstenedion sirkulasi pascamenopause awal menurun sekitar 62 %
dari kehidupan dewasa muda. Penurunan kadar sirkulasi testosteron menopause tidak
besar, dari tidak ada perubahan pada banyak wanita hingga sebanyak 15 % pada
wanita lainnya. Dalam sebuah penelitian longitudinal yang sangat baik di Australia
dari 5 tahun sebelum menopause hingga 7 tahun setelah menopause, kadar sirkulasi
testosteron tidak berubah. Memang, karena penurunan hormon seks yang mengikat
globulin, penelitian Australia menghitung suatu peningkatan dalam androgen bebas.
Selanjutnya pada masa pascamenopause, kadar androgen yang beredar hampir semua,
namun tidak semua, berasal dari kelenjar adrenal. Sebuah penelitian yang cermat bisa
mendeteksi tidak adanya androgen sirkulasi pada wanita pascamenopause ( rata-rata

12

12 tahun setelah menopause ) dengan insufisiensi adrenal lengkap, dan tidak ada
testosteron atau androstenedion intraovarium.
Dengan bertambahnya usia menopause, penurunan dapat diukur dalam kadar
dehydroepiandrosterone sulfate

( DHAS ) dan dehydroepiandrosterone

(DHA)

sirkulasi, sedangkan kadar androstenedion, testosteron, dan estrogen sirkulasi


pascamenopause tetap relatif konstan.
Singkatnya, gejala yang sering terlihat dan terkait dengan penurunan
kompetensi folikel ovarium dan kemudian hilangnya estrogen dalam masa
klimakterik yaitu:
1. Gangguan dalam pola menstruasi, termasuk anovulasi dan penurunan
fertilitas, penurunan aliran atau hipermenorrhea, frekuensi menstruasi tidak
teratur, dan kemudian, akhirnya, amenore.
2. Ketidakstabilan vasomotor ( hot flushes dan berkeringat ).
3. Kondisi atrofik: atrofi epitel vagina, pembentukan karunkel uretra,
dispareunia dan pruritus karena atrofi vulva, introitus, dan vagina, atrofi kulit
umum, kesulitan berkemih seperti urgensi dan uretritis abakterial dan sistitis.
4. Masalah kesehatan akibat kekurangan estrogen jangka panjang: konsekuensi
dari osteoporosis dan penyakit kardiovaskular.

13

Williams Gynecology: bagaimana estrogen mempengaruhi suhu tubuh


F. TANDA DAN GEJALA KLINIK
1. Perubahan pola haid
Gejala paling umum pada wanita perimenopause adalah perubahan
dari pola haid. Lebih dari 90% wanita perimenopause akan mengalami
perubahan dalam siklus haid. Siklus yang memendek antara 2-7 hari sangatlah
khas. Sebagai contoh, wanita dengan siklus haid yang teratur antara 25-35 hari
selama usia 20-30 tahun akan mengalami siklus haid lebih sering terutama
disebabkan oleh memendeknya fase folikel. Siklus haid yang sebelumnya
menetap tiap 28 hari akan menjadi siklus 25 atau 26 hari dan pada waktu
terjadi perimenopause kejadian oligomenorea meningkat.

14

Perdarahan tidak teratur dapat terjadi karena tidak adekuatnya fase


luteal atau sesudah puncak estradiol yang tidak diikuti ovulasi dan
pembentukan korpus luteum. Banyak juga wanita yang mengalami perubahan
dalam banyaknya perdarahan. Perdarahan biasanya lebih banyak pada awal
perimenopause yang disebabkan oleh siklus anovulasi, kemudian menjadi
sedikit. Beberapa wanita dilaporkan mengalami spotting 1 atau 2 hari segera
sebelum haid. Kombinasi dari spotting, siklus haid yang memendek dan
perdarahan yang banyak memberikan kesan secara subyektif wanita tersebut
selalu berdarah.
Meskipun perdarahan tidak teratur sangat umum dan dianggap normal
selama perimenopause, berat dan lamanya perdarahan atau perdarahan
diantara siklus haid bukanlah hal yang normal. Apabila ditemukan perdarahan
makan harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti biopsi endometrium
2. Keluhan vasomotorik
Keluhan yang muncul berupa perasaan panas yang muncul tiba-tiba
disertai keringat banyak. Keluhan tersebut pertama kali muncul pada malam
hari atau menjelang pagi, dan lambat laun juga akan dirasakan pada siang
hari. Keluhan vasomotor dapat terjadi baik pada kadar estrogen rendah,
normal, maupun tinggi. Semburan panas dirasakan mulai dari daerah dada dan
menjalar ke leher dan kepala. Kulit di daerah tersebut akan terlihat
kemerahan. Meskipun terasa panas, suhu badan tetap normal. Semburan panas
ini akan diikuti sakit kepala, perasaan kurang nyaman, dan peningkatan
frekuensi nadi. Hal ini disebabkan oleh peningkatan hormon adrenalin. Selain
itu terjadi pula penurunan sekresi hormon noradrenalin sehingga terjadi
vasodilatasi pembuluh darah kulit, temperatur sedikit meningkat dan timbul
perasaan panas. Akibat vasodilatasi dan keluarnya keringat, terjadi
pengeluaran panas tubuh sehingga kadang-kadang wanita akan merasa
kedinginan. Rata-rata lamanya semburan panas adalah 3 menit dan dapat

15

berfluktuasi antara beberapa detik sampai satu jam. Beberapa kali semburan
panas muncul per harinya dapat berbeda pada setiap individu. Pada keadaan
berat, semburan panas tersebut dapat muncul sampai 20 kali per hari.
Semburan panas dan berkeringat yang muncul pada malam hari dapat
menyebabkan gangguan tidur, cepat lelah, dan cepat tersinggung. Munculnya
keluhan semburan panas akan diperberat dengan adanya stress, alkohol, kopi,
dan makanan minuman panas.
3. Keluhan somatic
Estrogen memicu pengeluaran endorfin dari susunan saraf pusat.
Kekurangan estrogen menyebabkan pengeluaran endorfin berkurang,
sehingga ambang sakit juga berkurang. Oleh karena itu, tidak heran kalau
wanita peri/pascamenopausec sering

mengeluh

sakit pinggang atau

mengeluh nyeri pada daerah kemaluan, tulang, dan otot. Nyeri tulang dan otot
merupakan

keluhan

yang

paling

sering

peri/pascamenopause. Pemberian TSH dapat

dikeluhkan

wanita

usia

menghilangkan keluhan

tersebut.
Pemberian estrogen dan progesterone dapat memicu pengeluaran
endorfin, dan endorfin ini dapat mengurangi aktivitas usus halus sehingga
mudah terjadi obstipasi. Pada fase luteal dimana kadar estrogen rendah,
wanita mudah terkena diare. Selain itu, stress juga dapat menimbulkan
berbagai jenis keluhan. Stress meningkatkan pengeluaran endorfin, dan zat
ini memicu pengeluaran ACTH. endorfin dan ACTH berasal dari precursor
yang sama yaitu Propiomelanocortin (POMC), yang banyak ditemukan
didalam nucleus arkuatus. POMC ini merupakan suatu peptida. Dari peptida
ini terbentuklah endorfin di hipotalamus dan ACTH serta lipotropin di
hipofisis bagian depan. endorfin dapat meningkatkan nafsu makan sehingga
selama pemberian TSH banyak wanita mengeluh berat badannya bertambah.
4. Keluhan psikologi

16

Steroid seks sangat berperan terhadap fungsi susunan saraf pusat, terutama
terhadap perilaku, suasana hati, serta fungsi kognitif dan sensorik seseorang.
Dengan demikian, tidak heran apabila terjadi penurunan sekresi steroid seks
maka timbul perubahan psikis yang berat dan perubahan fungsi kognitif.
Akibat kekurangan hormon estrogen pada wanita pascamenopause, timbullah
keluhan seperti depresi, mudah tersinggung, cepat marah, dan merasa
tertekan. Penyebab depresi diduga akibat berkurangnya aktivitas serotonin di
otak. Estrogen menghambat aktivitas enzim monoamin oksidase (MAO).
Enzim ini mengakibatkan serotonin dan noradrenalin menjadi tidak aktif.
Kekurangan estrogen menyebabkan terjadinya peningkatan enzim MAO.
a) Gangguan Suasana Perasaan & Depresi
Stereotip budaya wanita menopause seperti murung dan mudah
tersinggung mungkin berasal dari kepercayaan umum yang sama di
kalangan wanita dan dokter bahwa menopause menyebabkan depresi
dan suasana hati yang negatif. Namun, bukti hubungan langsung antara
status menopause dan depresi tampaknya bertentangan dalam literatur
ini, dengan beberapa penelitian yang mendukung adanya keterkaitan,
orang lain menemukan hanya sedikit peningkatan dalam depresi dan
studi lebih lanjut menyimpulkan bahwa dari awal hingga akhir untuk
menopause transisi, perbaikan suasana hati yang negatif dan suasana
hati yang positif tidak berubah.
Analisis data dari Studi Kesehatan Perempuan Massachusetts
(Massachusetts Womens Health Study-MWHS), sebuah studi prospektif
dari 2.565 wanita berusia 45-55 tahun, menunjukkan bahwa depresi
yang sudah ada sebelumnya merupakan variabel yang paling prediktif
dari depresi berikutnya pada saat menopause. Kesimpulan ini didukung
oleh temuan dari Women's Midlife Health Project (MWMHP), studi
prospektif yang signifikan dari 438 wanita berusia 45-55 tahun, yang

17

menyimpulkan bahwa besarnya suasana hati yang negatif di menopause


ditentukan oleh pengalaman suasana hati sebelumnya yang negatif.
Faktor-faktor lain yang ditunjukkan menjadi hal prediktif dari depresi
pada menopause meliputi gejala berat menopause, stres berat dan
kerepotan sehari-hari, negatif terhadap pasangan mereka, merokok,
olahraga yang kurang dan kesehatan diri yang buruk.
5. Gangguan Tidur
Beratnya gangguan tidur bervariasi dan sering dikeluhkan oleh wanita pada
masa perimenopause. Gangguan tidur bervariasi secara luas dan dapat
menjadi kronik atau sementara. Beberapa pola umum gangguan tidur
diataranya:
a) susah untuk jatuh tidur
b) terbangun tengah malam dan sukar untuk kembali tidur
c) bangun lebih awal dan tidak mampu untuk tidur kembali
Kesulitan

tidur

dapat

mempengaruhi

kualitas

hidup

secara

serius,

mengakibatkan kelelahan, insomnia, depresi, iritabilitas dan ketidakmampuan


untuk berkonsentrasi. Estrogen memiliki efek terhadap kualitas tidur. Reseptor
estrogen telah ditemukan di otak yang mengatur tidur. Penelitian
menunjukkan bahwa wanita yang diberi estrogen equin konjugasi memiliki
periode rapid eye movement yang lebih panjang dan tidak memerlukan waktu
lama untuk tidur.
6. Gangguan seksual
Sebagaimana diuraikan sebelumnya, keluhan seksual yang paling
umum terjadi di sekitar waktu onset menopause adalah kurangnya hasrat
seksual atau libido, kurangnya gairah seksual dan kekeringan vagina. Respon
seksual wanita merupakan hal yang kompleks dan belum sepenuhnya
dipahami, tetapi perubahan hormonal menopause telah diyakini mampu

18

memengaruhi respon seksual melalui berbagai mekanisme, beberapa di


antaranya lebih ditekankan daripada yang lain.
Estrogen bertanggung jawab untuk memelihara kolagen, serat elastis
dan pembuluh darah saluran urogenital yang sangat penting untuk integritas
struktural dan fungsional. Hormon ini juga menjaga pH dan tingkat
kelembaban vagina, menjaga jaringan terlubrikasi dan terlindungi. Defisiensi
estrogen berkepanjangan, seperti yang terjadi pada menopause menyebabkan
atrofi, fibrosis dan berkurangnya aliran darah ke saluran urogenital,
menyebabkan gejala kekeringan vagina, nyeri yang terkait dengan hubungan
seksual (dispareunia).
Dennerstein et al. meninjau kadar serum estradiol dari 226 wanita
Australia berusia 45-55 tahun, yang masih menstruasi pada awal dan transisi
menopause lalu dibandingkan dengan kadar estradiol dengan menggunakan
skor yang menunjukkan fungsi seksual. Mereka menemukan bahwa wanita
dengan skor fungsi seksual yang rendah memiliki tingkat estradiol lebih
rendah dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang lebih tinggi,
terutama dalam hal kekeringan vagina dan dispareunia.
Peran androgen dalam respon seksual wanita belum jelas dan
kontroversial. Gejala yang kekurangan androgen pada wanita termasuk
penurunan libido, kelelahan dan rasa kebahagian/kepuasan berkurang.
Beberapa studi mendukung hubungan antara kadar freetestosterone yang
rendah dengan libido yang rendah, sedangkan yang lain tidak menunjukkan
korelasi antara tingkat testosteron dan fungsi seksual.
Davis et al. Membandingkan kadar testosteron serum total dan bebas,
androstenedion dan DHEAS dalam kelompok 1.021 wanita berusia 18-75
tahun terhadap pengukuran fungsi seksual yang tervalidasi Penelitian ini
menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan secara klinis antara
memiliki serum testosteron total yang rendah, testosteron bebas atau
androstenedion dengan fungsi seksual. Namun, ada kemungkinan meningkat

19

secara signifikan antara kadar serum DHEAS yang rendah dengan respon
seksual yang buruk pada wanita yang lebih tua.
Gracia et al. menemukan hubungan yang sama antara penurunan kadar
serum DHEAS dan penurunan fungsi seksual. Studi Alternatif telah
menemukan korelasi antara DHEAS dan fungsi seksual.
7. Gangguan urogenital
a) Ovarium
Pada usia > 30 tahun ovarium mulai mengecil dan jumlah kista
fungsional bertambah, yang mencapai puncaknya pada usia 40-45 tahun.
Pada usia ini tidak jarang ditemukan hyperplasia stroma ovarium, dan
setelah menopause akan berkurang dimana stroma ovarium akan menjadi
fibrotic.
b) Uterus
Begitu memasuki usia premenopause, panjang kavum uteri mulai
berkurang. Pasca menopause terjadi involusi miometrium, sehingga
apabila terdapat mioma uteri maka akan mengalami regresi. Hal ini
disebabkan oleh rendahnya estrogen dalam darah. Endometrium menjadi
atrofi dan ketebalannya <5 mm. Dinding pembuluh darah menjadi tipis
dan rapuh. Hal inilah yang menjelaskan mengapa kadang terjadi
perdarahan pada wanita menopause.
c) Serviks
Pada usia perimenopause, serviks juga mengalami proses involusi,
serviks berkerut, serta epitelnya menipis. Kelenjar endoservikal juga
atrofi sehingga lendir serviks berkurang. Kekurangan estrogen tidak
begitu berpengaruh terhadap epitel serviks dibandingkan terhadap epitel
vagina.
d) Vulva
Involusi vulva terjadi karena usia tua, sedangkan atrofi, hilangnya
turgor, dan

elastisitas

sangat

dipengaruhi

oleh

estrogen.

Pada

pascamenopause, rambut pubis mulai berkurang, labia mayora dan


klitoris mengecil, dan introitus vagina menjadi sempit dan kering. Kulit

20

vulva menjadi atrofi, lemak subkutan berkurang, terjadi perubahan dalam


pembentukan epitel. Pasien akan mengeluh gatal, nyeri, dan sepertinya
ada benda asing di vagina. Gatal yang kronis sulit diobati, dan
menyebabkan perasaan tidak nyaman.
e) Vagina
Pascamenopause terjadi involusi vagina dan vagina kehilangan rugae.
Epitel vagina atrofi dan mudah cedera. Vaskularisasi dan aliran darah ke
vagina berkurang sehingga lubrikasi berkurang yang mengakibatkan
hubungan seks menjadi sakit. Atrofi vagina menimbulkan rasa panas,
gatal, serta kering pada vagina. Begitu wanita memasuki usia
perimenopause, pH vagina meningkat dan pascamenopause pH vagina
akan terus meningkat hingga mencapai nilai 5-8. Vagina mudah terinfeksi
dengan tikomonas, kandida albikan, stafilokokus dan streptokokus, serta
bakteri coli dan gonokokus.
f) saluran kemih
Kekurangan estrogen menyebabkan atrofi pada sel-sel uretra dan
berkurangnya aliran darah ke jaringan. Dengan adanya perubahan ini
menyebabkan berkurangnya turgor dan tonus dari otot polos uretra dan
detrusor vesika dan mengganggu mekanisme kerja jaringan-jaringan ikat.
Akibatnya pada usia tua mudah terjadi kelemahan pada dasar panggul dan
berpengaruh terhadap integritas sistem neuromuscular.
Gangguan miksi berupa disuri, polakisuri, nikturi, rasa ingin berkemih
hebat, atau urin yang tertahan, sangat erat kaitannya dengan atrofi mukosa
uretra. Iritabel vesika dan urge inkontinensia juga berhubungan dengan
atrofi dari uretra dan mukosa vesika, sedangkan stress inkontinensia lebih
erat kaitannya dengan perubahan degeneratif dari sistem neuromuskuler
dan jaringan ikat.
8. Gangguan organ lain
a) Kulit

21

Kulit terdiri dari dua lapisan, bagian luar yaitu epidermis dengan
keratinosit dan melanositnya, dan bagian dalam yaitu dermis yang
mengandung kolagen tinggi. Kolagen dan serat elastin berperan untuk
mempertahankan stabilitas dan elastisitas kulit. Turgor kulit dapat
dipertahankan oleh proteoglikan yang dapat menyimpan air dalam jumlah
besar. Estrogen mempengaruhi terutama kadar kolagen, jumlah
proteoglikan, dan kadar air dari kulit. Estrogen mempengaruhi aktivitas
metabolic sel-sel epidermis dan fibroblas, serta aliran darah. Kekurangan
estrogen dapat menurunkan mitosis kulit sampai atrofi, menyebabkan
berkurangnya sintesis kolagen, dan meningkatkan penghancuran kolagen.
Tulang dan kulit merupakan organ yang kandungan kolagennya cukup
banyak. Hilangnya kandungan kolagen kulit pada wanita pascamenopause
mencapai rata-rata 2% per tahun dan pada lima tahun pertama dapat
mencapai 30%. Kehilangan kolagen ini berjalan parallel dengan
hilangnya massa tulang.
b) Mulut, hidung, dan telinga
Seperti pada kulit, kekurangan estrogen juga menyebabkan perubahan
pada mulut dan hidung. Selaput lendir menjadi berkerut, aliran darah
berkurang, terasa kering, dan mudah terkena gingivitis. Kandungan air
liur juga mengalami perubahan. Pemberian estrogen dapat mengurangi
keluhan tersebut.
c) Payudara
Payudara merupakan organ sasaran utama bagi estrogen dan
progesterone. Kekurangan estrogen mengakibatkan involusi payudara.
Pada pascamenopause, payudara mengalami atrofi, terjadi pelebaran
saluran air susu, dan fibrotic. Saluran air susu yang melebar ini berisi
cairan, salurannya menjadi lebar, timbul laserasi, dan payudara terasa
sakit. Kelainan jinak pada payudara berupa fibrosistik mastopatia
merupakan kelainan yang paling sering dijumpai, dan kejadiannya

22

meningkat dengan meningkatnya usia. Pada sebagian wanita, kelainan


tersebut disertai dengan mastodini (nyeri payudara) yang disebabkan oleh
penumpukan cairan, sehingga volume payudara bertambah. Pada
sepertiga wanita dengan fibrosistika mastopatia terjadi pengeluaran secret
dari putting susu. Galaktorea dapat terjadi sampai awal menopause dan
kadar prolaktin tidak jarang normal. Fibrosistika mastopatia merupakan
perubahan fibrotic atau sistik pada jaringan payudara yang secara
histologis dibagi menjadi tiga stadium, yaitu :
i.
stadium I. Displasia jinak dari parenkim. Tidak ditemukan
proliferasi epitel intraduktal, fibrotic stroma sedang, mulai
ii.

pengerasan jaringan, mastodinia prahaid


stadium II. Displasia jinak dari parenkim dengan proliferasi
epitel intraduktal, tidak ditemukan sel atipik, jaringan fibrotic
bertambah banyak, terbentuk kista dan pengerasan, dan

iii.

mastodini
stadium III. Displasia parenkim, dengan proliferasi epitel
intraduktal, dengan atipik sedang, jaringan fibrotic dominan,
tumor fibrotic kistik.

9. Osteoporosis
Kekurangan

hormon estrogen akan dapat menyebabkan hilangnya

massa tulang. Akibatnya dapat terjadi osteoporosis yang akhirnya akan


membuat tulang mudah patah. Setelah mencapai puncak massa tulang peak
bone mass pada usia antara 25 sampai 35 tahun, lambat laun tulang akan
mengalami penyusutan 0,3-0,5 % per tahun. Pada wanita yang memang
memiliki massa tulang yang rendah dibandingkan laki-laki, penyusutan massa
tulang terjadi lebih awal. Patah tulang meningkat pada wanita usia > 45 tahun,
sedangkan pada laki-laki patah tulang baru meningkat pada usia > 75 tahun.

23

Penyusutan massa tulang akibat kekurangan estrogen terlihat pertama kali


pada spongiosa sedangkan pada tulang trabekula belum terlihat penyusutan.
Penyusutan massa tulang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara
resorpsi tulang dan formasi tulang. Osteoklas menyebabkan penghancuran
tulang sedangkan osteoblas membangun tulang. Pada osteoporosis terjadi
aktivitas berlebihan oleh osteoklas. Estrogen menghambat aktivitas osteoklas
dan dengan sendirinya menghambat resorpsi tulang dan secara bersamaan
estrogen mengaktifkan osteoblas, sehingga laju penggantian tulang menjadi
normal. Estrogen bekerja baik secara langsung melalui reseptor yang berada
di tulang maupun secara tidak langsung dengan bantuan sitokin dan faktor
pertumbuhan. Estrogen memicu pengeluaran kalsitonin dan membantu kerja
paratiroid hormon terhadap tulang. Estrogen meningkatkan aktivitas 1 alfahidroksilase di ginjal, yang mengubah vitamin D yang tidak aktif menjadi
vitamin D3 bentuk aktif, sehingga resorpsi kalsium melalui usus meningkat,
dan akibat peningkatan aliran darah ke otot, nyeri otot dan sendi berkurang.
10. Penyakit kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian utama pada
laki-laki dan perempuan. Infark miokard jarang ditemukan pada wanita muda,
tetapi meningkat tajam setelah menopause.

[2]

Berdasarkan penelitian

epidemiologic terbukti bahwa kekurangan estrogen sangat berperan pada


terjadinya iskemik. Estrogen memiliki sifat antioksidatif, sehingga pada
kekurangan estrogen oksidasi LDL oleh radikal bebas di intima meningkat.
Akibatnya, terjadi pembentukan sel-sel busa dalam jumlah besar. Proses
pembentukan ini dipicu oleh kadar LDL serum yang tinggi dan peningkatan
pembentukan molekul pelekat oleh endotel, sehingga mempermudah migrasi
monosit dan makrofag. Kekurangan estrogen juga menurunkan HDL. Padahal
HDL sangat penting dalam mencegah penyakit jantung koroner. HDL
menstabilkan prostasiklin, berperan sebagai vasodilator, menghambat reaksi
radang endotel, bekerja antioksidatif, mengurangi aktivitas koagulatorik, dan

24

menekan proliferasi sel-sel otot polos. Kekurangan estrogen menyebabkan


disfungsi endotel yang terlihat dari berkurangnya produksi dan pengeluaran
zat yang memiliki sifat vasodilator yaitu NO dan prostasiklin. Akibatnya
terjadi penyempitan arteri, resistensi pembuluh darah meningkat, dan aliran
darah berkurang. Kerusakan endotel menyebabkan spasme pembuluh darah.
Asetilkolin dan serotonin yang pada endotel normal memiliki sifat vasodilator,
pada disfungsi endotel akan menyebabkan vasokonstriksi atau spasme arteri.
Akibatnya, terjadi aktivasi trombosit dan pengeluaran zat seperti tromboksan
yang memiliki efek vasokonstriksi sehingga meningkatkan resiko penyakit
iskemik. [3]
G. DAMPAK LAIN MENOPAUSE PADA PSIKOSOSIAL
Suatu studi awal yang berbasis pasien dengan skala kecil telah
menunjukkan bahwa wanita merasa kualitas hidup mereka yang terancam oleh
gejala menopause dan studi lebih lanjut menyimpulkan bahwa menopause
membawa penurunan yang signifikan dalam kualitas hidup yang independen
dari faktor-faktor lain, seperti usia, perkawinan status dan variabel
sosiodemografi lainnya. Penelitian dari MWMHP mengungkapkan penurunan
sementara dalam kesejahteraan terkait dengan peningkatan status menopause,
dengan kesejahteraan terendah tercatat pada wanita 1-2 tahun postmenopause.
Ini hanya sementara, dengan kembali ke peningkatan tingkat kesejahteraan
yang tercatat pada mereka lebih dari 2 tahun postmenopause.
Penelitian alternatif dari populasi berbasis praktis, menggunakan
instrumen tervalidasi dan desain cross sectional, telah menunjukkan bahwa
kualitas hidup terutama dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya,
bukan menopause itu sendiri.
Penelitian longitudinal prospektif yang dilakukan sebagai bagian dari
Studi Kesehatan Perempuan Di Bangsa (SWAN) menunjukkan bahwa status
dan gejala menopause tidak memengaruhi kualitas hidup, prediktor terkuat

25

untuk kualitas hidup adalah stres dan status perkawinan, dengan sikap
terhadap penuaan merupakan faktor yang berkontribusi(3,18,19)
Aspek Psikososial Dari Menopause, Setengah Baya & Berusia Lanjut
Selain harus bersaing dengan gejala yang berpotensi mengganggu
menopause, banyak wanita mengalami perubahan pribadi dan sosial pada
usia paruh baya, yang muncul, seperti yang telah ditunjukkan memengaruhi
kualitas hidup dan kesejahteraan seksual untuk tingkat yang lebih besar
daripada kehadiran gejala menopause atau masalah seksual. Aspek
psikososial setengah baya dan penuaan memengaruhi kualitas kehidupan
seksual termasuk sikap pribadi dan budaya terhadap menopause dan
penuaan, faktor masalah psikologis dan hubungan. (3,18,19)
H. DIAGNOSIS
1. Penilaian sendiri
Harus ditanyakan kapan seorang wanita pertama kali merasakan
gejala-gejala menopause. Hal ini harus berdasarkan persepsi mereka dengan
adanya kekhawatiran akibat perubahan pada tubuh mereka.
2. Gejala
Gejala klimakterik terutama merupakan keluhan vasomotor seperti hot
flashes dan keringat malam. Gejala lain adalah akibat berfluktuasinya kadar
hormon estrogen dan progesteron seperti vaginal dryness, keinginan seksual
yang berubah, inkontinensia urine, depresi, ketegangan syaraf dan iritabilitas
serta gangguan tidur.
3. Riwayat medis dan riwayat keluarga
a) Usia menopause orang tua
Faktor genetic tampaknya menjadi faktor predisposisi bagi wanita
untuk mengalami menopause lebih cepat. Pada penelitian ditemukan
bahwa wanita dengan riwayat keluarga yang mengalami menopause
sebelum usia 46 tahun beresiko tinggi untuk terjadi menopause yang lebih
cepat.

26

b) Status histerektomi
Wanita dengan conservation ovarium pada histerektomi mengeluh
adanya gangguan vasomotor lebih banyak, vaginal dryness, dan keluhan
lain dibandingkan dengan wanita yang tidak menjalani histerektomi.
4. Tanda fisik
a) Indeks maturasi
Penilaian terhadap defisiensi estrogen vagina adalah evaluasi
terhadap indeks pematangan epitel vagina. Prosedur ini dilakukan dengan
cara pengambilan sel pada batas atas dan sepertiga tengah dinding
samping vagina menggunakan sikat. Dibuat slide dan dilakukan
pengecatan dengan tehnik Papanicolaou kemudian persentase dari sel
parabasal, intermediat dan superfisialis dihitung. Meskipun indeks
maturasi berubah secara bermakna setelah terapi pengganti estrogen,
diagnosis

tidak

dapat

membandingkan

indeks

maturasi

dengan

karakteristik siklus haid.


b) pH vagina
Beberapa peneliti mengatakan bahwa peningkatan pH vagina (6,07,5) dimana tidak ditemukan bakteri patogen menjadi alasan adanya
penurunan kadar estradiol serum. Uji ini dilakukan secara langsung
dengan kertas pH pada dinding lateral vagina. Perubahan pH dapat
diakibatkan oleh berubahnya komposisi dari sekresi vagina yang
menyertai atropi.
Ketebalan kulit
Estrogen menstimulasi

pertumbuhan

epidermal,

pembentukan

kolagen, dan asam hialuronik sehingga turgor dan vaskularisasi kulit


bertambah.

Selama

klimakterik,

berkurangnya

kadar

estrogen

mengakibatkan epidermis menjadi tipis dan atrofi.

27

5. Uji laboratorium
a) Pengukuran FSH
Pengukuran kadar plasma FSH telah dilakukan untuk mencoba
mengidentifikasi wanita perimenopause dan postmenopause. Kadar FSH
yang tinggi menunjukkan telah terjadi menopause yang terjadi pada
ovarium. Ketika ovarium menjadi kurang responsif terhadap stimulasi
FSH dari kelenjar pituitari (produksi estrogen sedikit), kelenjar pituitari
meningkatkan produksi FSH untuk mencoba merangsang ovarium
menghasilkan estrogen lebih banyak.

b) Estradiol
Penelitian melaporkan bahwa wanita dengan early perimenopause
(perubahan dalam frekuensi siklus) kadar estradiol premenopause terjaga
sedangkan pada

perimenopause lanjut (tidak haid dalam 3-11 bulan

sebelumnya) dan wanita postmenopause

terjadi penurunan secara

bermakna dari kadar estradiol. Estradiol dapat diukur dari plasma, urine
dan saliva. Seperti halnya FSH, kadar estradiol mempunyai variasi yang
tinggi selama perimenopause.
I. PENATALAKSANAAN
Semua wanita harus memahami bahwa pemberian Terapi Sulih Hormon
(TSH) bukan bertujuan untuk memperlambat menopause atau untuk mencegah
agar tidak tua, melainkan bertujuan untuk mengurangi, menghilangkan, dan
mencegah keluhan ataupun penyakit akibat kekurangan estrogen. Seorang wanita
harus memahami untung rugi penggunaan TSH dan penggunaannya pun harus
berdasarkan indikasi yang jelas. Wanita yang direkomendasikan untuk diberikan
TSH adalah :

28

a) semua wanita, tanpa kecuali, yang ingin menggunakan TSH


untuk pencegahan
b) semua wanita yang memiliki resiko penyakit kardiovaskuler,
osteoporosis, dan kanker usus
c) semua wanita dengan keluhan klimakterik
Penyakit yang sedang dialami pasien dan riwayat penyakit keluarga sangat penting
untuk mengenal faktor-faktor resiko yang mungkin ada. Pemeriksaan yang secara
umum dilakukan adalah tekanan darah, berat badan, tinggi badan, pemeriksaan
ginekologik, palpasi payudara sampai pemeriksaan mamografi, palpasi kelenjar
tiroid, dan papsmear. Sedangkan pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan indikasi
adalah uji kehamilan, uji progesterone, kadar hormon progesterone, estradiol, FSH
dan prolaktin, USG transvaginal, dilatasi dan kuretase, metabolisme karbohidrat dan
lemak, hemostasis, osteodensitometer, dan fungsi kelenjar tiroid.
Bila akan mulai dengan TSH, hal-hal berikut ini perlu diperhatikan :
i.

Jelaskan kegunaan TSH. Berikan informasi terutama terhadap :


a) lamanya TSH yang harus digunakan.
b) Dapat terjadi perdarahan
c) Pemberian TSH dapat menimbulkan beberapa efek samping
d) Hubungan TSH dengan kanker payudara.

ii.

Pemeriksaan dasar
Pada saat pasien datang, perlu dilakukan pemeriksaan seperti :
a) pemeriksaan panggul : perlu diketahui ada tidaknya mioma
uteri. TSH memicu pertumbuhan mioma uteri
b) palpasi payudara : adanya benjolan pada payudara merupakan
indikasi mutlak untuk dilakukan mamografi/ USG payudara dan
kalau perlu dilanjutkan dengan biopsy. Kecurigaan akan kanker
payudara merupakan kontraindikasi pemberian TSH.
c) Pemeriksaan tekanan darah : hipertensi bukan merupakan
kontraindikasi pemberian TSH, tetapi pasien memerlukan
pengawasan dan TSH diberikan bersamaan dengan obat
antihipertensi.

29

d) Pemeriksaan densitometer tidak mutlak dilakukan dan lebih


diutamakan bagi pasien dengan faktor resiko osteoporosis
iii.

Tindak lanjut
Satu bulan kemudian pasien diminta datang untuk mengetahui hasil
pemberian TSH dan kemungkinan munculnya efek samping. Perdarahan
bercak umumnya terjadi pada 6 bulan pertama pemberian TSH dan lambat
laun akan hilang. Bila pada bulan pertama tidak ada masalah maka pasien
diminta datang 3 bulan kemudian. Lalu pasien diminta untuk datang rutin
setiap 6 bulan

Kontraindikasi Pemberian TSH


Kontraindikasi untuk estrogen :
1. Kanker payudara
Kanker payudara merupakan kontraindikasi absolut untuk estrogen. Riwayat
kanker payudara dalam keluarga bukan merupakan kontraindikasi pemberian
TSH, asalkan pasien berada dibawah pengawasan dokter dan dapat melakukan
kontrol secara rutin.
2. Perdarahan dari vagina yang belum diketahui penyebabnya. Kanker
endometrium merupakan kontraindikasi absolut untuk estrogen.
3. Kerusakan hati yang berat.
4. Porfiria. Merupakan gangguan salah satu enzim yang diperlukan untuk
sintesis heme pada pembentukan hemoglobin. Estrogen dapat memberikan
efek negatif terhadap enzim ini.
5. Menderita penyakit tromboemboli
Kontraindikasi untuk progesterone
1. Meningioma. Pasien dengan meningioma boleh diberi estrogen saja
Pemberian Estrogen saja sebagai TSH
Pada wanita yang telah diangkat rahimnya cukup diberi estrogen saja, tidak
perlu dikombinasikan dengan progesterone.

[5]

Pemberian estrogen saja pada wanita

30

yang masih memiliki rahim meningkatkan resiko kanker endometrium, sehingga pada
wanita yang belum diangkat rahimnya, estrogen harus selalu dikombinasikan dengan
progesterone. Estrogen diberikan secara kontinyu. Pada pasien yang tidak tahan
terhadap efek samping dari progesterone, maka pasien bisa diberikan estrogen saja
namun dengan dosis rendah dan setiap 3-6 bulan dilakukan pengawasan ketebalan
endometrium dengan USG. Berikut terdapat jenis estrogen, dosis, dan cara
pemberiannya.
Oral

Transdermal
Semprotan hidung
Vaginal krem
Intramuskuler

17- estradiol
Estradiol valerat
Estrogen equin konjugasi
Estriol
Estropipete
Estradiol (plester)
Estradiol (gel)
Estradiol hemihidrat
Estriol
Estradiol
Estradiol valerat

1-2 mg
1-2 mg
0.3 0.625 mg
1-4 mg
0.625- 1.25 mg
0.05-0.1 mg
0.5-1 mg
150-450 ug
0.5 mg
0.025 mg
4 mg

Pemberian Gestagen saja sebagai TSH


Gestagen saja sangat jarang digunakan sebagai TSH karena memang
kebanyakan keluhan klimakterik jangka panjang atau jangka pendek disebabkan oleh
kekurangan estrogen. Pada umumnya gestagen diberikan bersamaan dengan estrogen.
Namun bagi wanita yang memiliki kontraindikasi pemberian estrogen atau bagi
wanita yang tidak tahan terhadap estrogen akan diberikan gestagen saja. Tibolon,
yang merupakan sediaan turunan noretinodrel merupakan alternatif bagi wanita yang
tidak tahan terhadap estrogen atau pemberian estrogen merupakan kontraindikasi.
Tibolon memiliki sifat estrogenic, progestogenik, dan androgenic, serta sangat efektif
menghilangkan keluhan vasomotorik. Tibolon memiliki pengaruh yang sangat sedikit
terhadap payudara dan endometrium. Berikut terdapat jenis gestagen, dosis, dan cara
pemberiannya.
Oral

Progesterone

200-300 mg

31

Transdermal
Intrauterine

Medroksiprogesteron asetat
Klormadinon asetat
Siproteron asetat
Medrogeston
Didrogesteron
Levonorgestrel
Noretisteron (sintetik)
Norgestrel (sintetik)
Dienoges (sintetik)
Noretisteron asetat (sintetik)
Levonorgestrel

5-10 mg
2 mg
1 mg
5 mg
10-20 mg
0.075 mg
0.7-1 mg
150 ug
2 mg
0.25 mg
0.02 mg

Pemberian Estrogen-Progesteron Sekuensial


Pemberian secara sekuensial adalah pemberian estrogen secara kontinyu dan
gestagen secara sekuensial. Pemberian secara sekuensial diutamakan pada wanita
yang masih menginginkan datangnya haid setiap bulan. Ada beberapa cara pemberian
seperti :
a. cukup diberikan estrogen saja 3 minggu kemudian 1 minggu istirahat. Masa
istirahat ini untuk melihat ada tidaknya keluhan. Bila keluhan hilang maka
dosis dapat diturunkan
b. pemberian estrogen selama 4 minggu, ditambah progesterone pada hari ke 114
c. pemberian estrogen hari 1-21 dan ditambah progesterone hari ke 10-21
d. pemberian estrogen selama 4 minggu dan ditambah progesterone hari ke 1225
e. pemberian estrogen hari 1-14 dilanjutkan pemberian progesterone hari ke 1521
Pemberian Estrogen-Progesteron Kombinasi Secara Kontinyu
Wanita pascamenopause umumnya tidak menyukai perdarahan lucut
(withdrawal bleeding) sehingga pemberian estrogen-progesteron kombinasi secara
kontinyu merupakan pilihan yang tepat. Tujuan pemberian cara ini adalah agar terjadi
amenorea. Karena gestagen diberikan terus menerus maka tidak terjadi proliferasi

32

endometrium. Dosis harian gestagen yang dianjurkan baik pada pemberian secara
sekuensial maupun kontinyu kombinasi adalah sebagai berikut :
Gestagen
Medroksi

Sekuensial
progesterone 10 mg

asetat
Didrogesteron
Siproteron asetat
Progesteron
Levonorgestrel
Noretisteron

10-20 mg
1 mg
300 mg
0.075 mg
0.7-1 mg

Kontinyu Kombinasi
2.5 mg
10 mg
1 mg
100 mg
0.030 mg
1.35 g

Apabila timbul perdarahan bercak maka dapat diatasi dengan meningkatkan


dosis gestagen. Namun bila setelah 9 bulan pengobatan atau setelah peningkatan
dosis masih saja terjadi perdarahan maka perlu dicari tahu penyebab terjadinya
perdarahan. Apabila timbul perdarahan banyak maka perlu dilakukan kuretase dan
pemeriksaan PA untuk menyingkirkan keganasan. Bila hasil PA menunjukkan
hyperplasia maka pengobatan dilanjutkan dengan pemberian progesterone dengan
dosis 2x50 mg selama 3 bulan. Setelah 3 bulan dilakukan kuretase ulang, bila sembuh
pengobatan dilanjutkan selama 3 bulan lagi untuk mencegah residif. Bila ternyata
kambuh lagi maka sebaiknya pertimbangkan histerektomi. [3]

Terapi tambahan
Terdiri dari diet dan olahraga. Sebagian besar pasien dengan sindroma
klimakterium mengalami hipokalsemia, hiperkolesterolemia serta memiliki risiko
terjadinya kanker endometrium. Untuk mencegah hipokalsemia, perlu intake kalsium
1.000-1.500 mg/hari (setara dengan 1 liter susu perhari), olahraga rutin. Pemberian
preparat estrogen selama beberapa tahun akan menurunkan kejadian patah tulang 5060% dan mencegah penyakit kardiovaskuler 45-50%.5,6

33

Psikoterapi
Dua jenis psikoterapi sangat dianjurkan untuk depresi yang terkait dengan
menopause. Terapi Interpersonal berfokus pada pemahaman bagaimana mengubah
hubungan manusia dapat berkontribusi, atau mengurangi, depresi. Terapi kognitifperilaku berfokus pada identifikasi dan mengubah pikiran pesimis dan keyakinan
yang menyertai depresi. Ketika digunakan sendiri, psikoterapi biasanya bekerja lebih
secara bertahap dari obat-obatan, mengambil 2 bulan atau lebih untuk menunjukkan
efek penuh. Namun, manfaat mungkin tahan lama. Psikoterapi biasanya
dikombinasikan dengan obat dalam depresi besar. Hal ini tidak mungkin untuk
membantu depresi berat jika digunakan dengan sendirinya.(3,2,6,18)

34

BAB III
KESIMPULAN
Menopause merupakan salah satu fase kehidupan normal seorang wanita.
Pada masa menopause, reproduksi seorang wanita berhenti dan terjadi sejumlah
perubahan fisiologis. Perubahan fisiologis ini memang tidak mematikan namun dapat
mengganggu kualitas hidup sehari-hari. Menopause sendiri adalah masa berhentinya

35

haid yang permanen akibat dari hilangnya aktivitas folikuler ovarium dan terjadi
sesudah 12 bulan berturut-turut tidak mendapat haid dan tidak ada penyebab patologis
atau fisiologis lain yang nyata. Menopause alami biasa terjadi pada usia 45-55 tahun
dengan rata-rata usia wanita mengalami menopause yaitu usia 51 tahun.
Terdapat istilah klimakterik yaitu periode peralihan dari fase reproduksi
menuju fase usia tua (senium). Klimakterik ini dibagi menjadi pramenopause,
perimenopause, menopause, dan pascamenopause. Pada wanita yang mengalami
menopause, biasa terjadi perubahan-perubahan fisiologis seperti perubahan pola haid,
keluhan vasomotor, keluhan somatic, keluhan psikis, gangguan tidur, gangguan
seksual, gangguan urogenital, osteoporosis, dan penyakit kardiovaskular. Untuk
mendiagnosis menopause dapat dilakukan uji laboratorium seperti pengukuran FSH
dan estradiol.
Terapi yang dapat diberikan untuk wanita menopause yaitu Terapi Sulih
Hormon namun pemberian terapi ini bukan bertujuan untuk memperlambat
menopause melainkan untuk mencegah dan mengurangi keluhan ataupun penyakit
akibat kekurangan estrogen.

BAB IV
REFERENSI
1. Zieve, David. Menopause. PubMedHealth. September 2011.
2. Professor E. Barrett-Connor, Professor H. Burger, et al. Research on the
Menopause in the 1990s. WHO Scientific Group. Juni 1996.

36

3. Schoger,Schaffer,Halvorson. Williams

Gynecology.

United

States:

The

McGraw-Hill; 2008.
4. Shuster, Lynne T. Premature Menopause or Early Menopause. NIHPA.
February 2011.
5. Hickey M, Davison S, Elliot J. Hormone Replacement Therapy. BMJ. 2012;
Feb 16;344:e763.
6. Soewondo, Pradana. Menopause, Andropause dan Somatopause Perubahan
Hormonal Pada Proses Menua dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid
III Edisi V. Jakarta: Interna Publishing. 2010. Hal 2078-2082.
7. Guyton AC, Hall JE. Fisiologi Sebelum Kehamilan dan Hormon-Hormon
Perempuan dalam Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 12. Penterjemah: dr.
M. Djauhari Widjajakusumah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007.
Hal 1069-1085.
8. Sherwood, Lauralee. Sistem Reproduksi dalam Fisiologi Manusia dari Sel ke
Sistem Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2012. Hal 810-870.
9. Noerpramana, NP. Perempuan Dalam Berbagai Masa Kehidupan dalam Ilmu
Kandungan Edisi ke-3. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
2011. Hal 92-110.
10. Kim M-J, Cho J, Ahn Y, Yim G, Park H-Y. Association between physical
activity and menopausal symptoms in perimenopausal women. BMC
Womens Health. 2014. (Diakses 24 April 2015 pukul 19.00 WIB)
11. Shuster, Lynne T. et al. Premature Menopause or Early Menopause: LongTerm Health Consequences. Maturitas 65.2 (2010): 161. PMC. Web. 3 May
2015.

37

12. Li, Ying et al. Use Acupuncture to Relieve Perimenopausal Syndrome: Study
Protocol of a Randomized Controlled Trial. Trials 15 (2014): 198. PMC. Web.
29 Apr. 2015.
13. Burbos N, Morris EP. Menopausal symptoms. BMJ Clinical Evidence. 2011.
(Diakses 29 April 2015 pukul 17.00 WIB)
14. Aidelsburger, Pamela et al. Alternative Methods for the Treatment of PostMenopausal Troubles. GMS Health Technology Assessment 8 (2012):
Doc03. PMC. (Diakses 29 April 2015 pukul 17.30 WIB)
15. D. ASHLEY HILL, MD, Florida Hospital Graduate Medical Education
Program, Orlando, Florida SUSAN R. HILL, MD, Orlando, Florida.
Counseling Patients About Hormone Therapy and Alternatives for
Menopausal

Symptoms. Oct

1,

2010;

(82(7):801-807.):

http://www.aafp.org/afp/2010/1001/p801.html (accessed 20 May 2016).


16. TONI M. CUTSON, M.D., M.H.S., Durham Veterans Affairs Medical Center,
Durham, North Carolina EMILY MEULEMAN, M.S., R.N.C., University of
Michigan Chelsea Family Practice Center, Ann Arbor, Michigan. . Managing
Menopause 2000

Mar

1;

(61(5):1391-1400):

http://www.aafp.org/afp/2000/0301/p1391.html (accessed 20 May 2016)


17. David A. Kahn, MD, Margaret L. Moline, PhD, Ruth W. Ross, MA, Lori L.
Altshuler, MD, and Lee S. Cohen, MD. DEPRESSION DURING THE
TRANSITION TO MENOPAUSE: A Guide for Patients and Families. ; (): .
www.psychguides.com/index.php (accessed 20 May 2016).
18. Kate Jane Eden; Kevan Richard Wylie. Quality of Sexual Life and
Menopause. 2009;

(5(4):385396.):

http://www.medscape.com/viewarticle/708621_10 (accessed 22 April 2016).

38

19. Anggia Kargenti Evanurul Marettih. . KUALITAS HIDUP PEREMPUAN


MENOPAUSE 2008
20. Dessy Irwienna Putri, Dwi Martiana Wati, Yunus Ariyanto. .Kualitas Hidup
Wanita Menopause (Quality of Life Among Menopausal Women) Januari
2014; vol. 2 (no. 1)
21. Yumei

Astutik,Syaiful

Hadi.

. Pengaruh

Menopause

Terhadap

Kecenderungan Depresi Ibu-ibu PKK Desa Sidomulyo Kecamatan Batu Kota


Batu Agustus 2011; Vol. 1, No.12, Yumei Astutik,Syaiful Hadi. . Pengaruh
Menopause Terhadap Kecenderungan Depresi Ibu-ibu PKK Desa Sidomulyo
Kecamatan Batu Kota Batu Agustus 2011; Vol. 1, No.12,

39