Anda di halaman 1dari 8

STUDI KASUS MOTIVASI KERJA PERAWAT DALAM MENINGKATKAN

PELAYANAN KEPERAWATAN DI RUANGAN RAWAT INAP RSU HAJI


SURABAYA
Oleh : ahmad afandi1 , Ratna Agustin2 , Nur Mukarromah3
Program Studi Ners
Abstrak
Motivasi merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat kinerja dari para
bawahan serta mencerminkan kualitas dari pencapaian tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dengan memberikan motivasi kerja dapat menggerakkan perawat pelaksana
untuk melaksanakan kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan dengan baik, sebab perawat
pelaksana yang termotivasi akan lebih cepat menyelesaikan tugas yang diberikan sehingga
menghemat biaya, dan hasilnya lebih berkualitas. Salah satu penilaian motivasi kerja perawat
yaitu meggunakan kuisoner yang berisi tentang pertanyaan yang meliputi tanggung jawab,
pngakuan, komitmen pemimpin, insentif,kondisi kerja.tujuan untuk mengetahui motivasi
kerja perawat dalam meningkatkan pelayanan di rumah sakit. Metode penelitian ini yaitu
desain deskriptif kualitatif dengan studi kasus motivasi kerja terhadap dua rungan Shofa 4A
dan Shofa 3A di Di Ruangan Rawat Inap RSU Haji Surabaya. Hasil penelitian menyatakan
ruang Shofa 4A masih memiliki rasa tanggung jawab dengan kriteria motivasi sedang dan
ruang Shofa 3A masih memiliki rasa tanggung jawab dengan kriteria motivasi sedang dan
komitmen pemimpin dengan kriteria motivasi rendah. Manfaat dari pemberian kuisoner
motivasi kerja dapat mengetahui dimana letak kurangnya motivasi kerja perawat dalam
bekerja serta dapat menjadi evaluasi bagi ruangan dan rumah sakit akan pentingnya motivasi
kerja dalam melayani kebutuhan pasien secara maksimal
Kata Kunci : motivasi kerja, Ruang Shofa 4A, Ruang Shofa 3A
ABSTRACT
Motivation is an important factor in determining the level of performance of subordinates and
reflect the quality of the achievement of predetermined objectives. Poviding motivation to
work can drive nurses to conduct the service and nursing well, because nurses are motivated
to be more quickly accomplish a given task thus saving costs, and get better quality as a
result. One way to assess the work motivation of the nurses is by questionnaire that contains
questions covering responsibility, admision, committed leadership, incentives, working
conditions. The purpose of this is to know the motivation of nurses in improving services at
the hospital. This research method is descriptive qualitative case study work motivation on
two rooms Shofa 4A and Shofa 3A in the Inpatient room of RSU Haji Surabaya. The study
states 4A Shofa room still had a sense of responsibility to the criteria and motivation. While
Shofa 3A room still have a sense of responsibility to the criteria of motivation and
commitment to be a leader with the criteria of low motivation. The benefits of the provision
of work motivation questionnaire can know where the location of the nurses' lack of
motivation in the work as well as can be for the evaluation of the hospital room and the
importance of work motivation in serving the needs of the patient maximally.
Keywords: work motivation, Shofa Room 4A, Shofa 3A

hampir semua kebutuhan dasar pasien


dilakukan oleh mahasiswa praktek atau
dibantu oleh keluarga pasien, jarang
perawat memperhatikan dan menyediakan
waktu untuk membicarakan tentang
kondisi kesehatan pasien lebih dalam dan
mau mendengarkan segala keluhan yang
dirasakan pasien, sehingga pasien lebih
banyak akrab dan dekat dengan mahasiswa
yang sedang praktek.
Motivasi merupakan energi yang
mendorong seseorang untuk bangkit
menjalankan tugas pekerjaan mencapai
tujuan yang telah ditetapkan (Suyanto
2009, h. 56). Kerja merupakan sesuatu
yang dikeluarkan oleh seseorang sebagai
profesi, yang sengaja dilakukan untuk
mencapai tujuan tertentu. Motivasi kerja
adalah suatu kondisi yang berpengaruh
untuk membangkitkan, mengarahkan, dan
memelihara perilaku yang berhubungan
dengan lingkungan kerja (Mangkunegara
dalam Suarli 2009, hh. 36-37). Menurut
hasil penelitian Magfiroh (2010) motivasi
kerja perawat merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi kinerja perawat,
hal tersebut juga dapat terjadi pada
pelaksanaan peran perawat sebagai
edukator. Rowland dalam Nursalam (2012,
hh. 92) menyebutkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi kinerja perawat
adalah motivasi kerja, lingkungan kerja
dan peran manajer.
Berdasarkan fenomena diatas, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul Motivasi Kerja Perawat
Dalam
Meningkatkan
Pelayanan
Keperawatan Di Ruang Rawat Inap RSU
Haji Surabaya.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Motivasi merupakan faktor penting
dalam menentukan tingkat kinerja dari
para bawahan serta mencerminkan kualitas
dari pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan
sebelumnya.
Dengan
memberikan
motivasi
kerja
dapat
menggerakkan perawat pelaksana untuk
melaksanakan kegiatan pelayanan dan
asuhan keperawatan dengan baik, sebab
perawat pelaksana yang termotivasi akan
lebih cepat menyelesaikan tugas yang
diberikan sehingga menghemat biaya, dan
hasilnya lebih berkualitas (Thoha, 2006).
Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan
kinerja perawat bukan hanya dipengaruhi
oleh kemampuan kepala ruangan dalam
memotivasi kerja perawat baik motivasi
internal maupun eksternal.
Nursalam (2008) mengungkapkan
bahwa banyak perawat bekerja secara
rutinitas dengan tidak mempunyai motivasi
yang
kuat
untuk
meningkatkan
kemampuan mereka dan memberikan
pelayanan yang terbaik bagi klien.
Motivasi ini berhubungan erat dengan
produktifitas dari pelayanan yang terbaik
bagi klien. Thoha (2006) yang mengutip
hasil penemuan Barrow mengungkapkan
produktifitas kerja sangat dipengaruhi oleh
upaya dan usaha dari pemimpin.
Studi pendahuluan yang dilakukan di
ruang shofa 3A dan shofa 4A berdasarkan
observasi yang peneliti lakukan, perawat
yang ada saat bertugas lebih banyak
tinggal di ruang kerja perawat (Nurse
Station). Pada saat ada panggilan dari
klien, perawat pelaksana yang ada
cenderung meminta mahasiswa yang
sedang melakukan praktek belajar di ruang
tersebut untuk menemui klien, kecuali jika
ada dokter yang akan melakukan visite,
biasanya perawat pelaksana mendampingi
visite dokter. Peneliti juga melakukan
wawancara dengan 20 pasien tentang
perhatian dan perilaku perawat selama
pasien dirawat dan hasilnya menunjukkan
sekitar 14 pasien (70%) mengatakan

Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana Motivasi Kerja Perawat
Dalam Meningkatkan Pelayanan
Keperawatan Di Ruang Rawat Inap
RSU Haji Surabaya?
Objektif
1.
Mengidentifikasi
Karakteristik
Responden Di Ruang Rawat Inap
RSU Haji Surabaya.
2

2.

Mengidentifikasi Motivasi kerja


Perawat Dalam Meningkatkan
Pelayanan Keperawatan Di Ruang
Rawat Inap RSU Haji Surabaya.
ANALISIS KASUS
Deskripsi Kasus
RSU Haji Surabaya merupakan
Rumah Sakit Pemerintah Provinsi Jawa
Timur tipe B yang berada di surabaya yang
sangat memperhatikan sekali kinerja
perawat dalam meningkatkan pelayanan
terhadap pasien. Ruang shofa 4A dan shofa
3A merupakan salah satu ruang rawat inap
dewasa yang berfokus pada pelayanan
pasien medikal bedah.
RSU
Haji
Surabaya
dalam
meningkatkan motivasi kerja perawatnya
sudah melakukan prinsip-prinsip dalam
memotivasi pegawainya yang sesuai
dengan teori (mangkunegara, 2000; dalam
nursalam)
yang
meliputi
prinsip
partisipatif, prinsip komunikasi, prinsip
mengakui
andil
bawahan,
prinsip
pendegelegasian
wewenang,
prinsip
memberi perhatian. Namun kenyataanya
masih ada kekurangan seperti kurangnya
komunikasi
antar
perawat,
pendegelegasian
wewenang
dari
pemimpin, insentif, pengakuan (cognition),
sehingga tidak menutup kemungkinan bisa
mempengaruhi motivasi kerja perawat
dalam meningkatkan pelayanan terhadap
pasien.
Desain penelitian
Desain penelitian yang digunakan
pada karya tulis ilmiah ini adalah studi
kasus. Studi kasus merupakan rancangan
penelitian yang mencakup pengkajian pada
motivasi kerja perawat di RSU Haji
Surabaya tepatnya di Ruang Shofa 4A dan
Ruang Shofa 3 A.
Rancangan ini akan menggambarkan
motivasi
kerja
perawat
dalam
meningkatkan pelayanan keperawatan di
ruang Shofa 4A dan Ruang Shofa 3A.
Peneliti akan memberikan kuisoner
pertanyaan tentang motivasi kerja perawat
pelaksana dalam meningkatkan pelayanan
keperawatan,
pengumpulan
data
dilaksanakan selama 6 hari.

Unit Analisis dan Kriteria Interpretasi


Studi kasus motivasi kerja perawat
dalam
meningkatkan
pelayanan
keperawatan di ruang Shofa 4A dan Shofa
3A RSU Haji Sarabaya. Unit analisis
dalam penelitian ini adalah perawat
pelaksana dalam motivasi kerja untuk
meningkakan pelayanan keperawatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Identifikasi Karakteristik Responden
Tabel 4.3 Hasil identifikasi
karakteristik responden di ruang SHOFA
4A RSU Haji Surabaya pada Tanggal 19
November 2015

Hasil penelitian berdasarkan tabel


2.3 didapatkan bahwa mayoritas perawat
pelaksana berada pada rentang usia 28-33
tahun sebesar 43% yang berarti perawat
berada pada usia rentan produktif dengan
mayoritas berjenis kelamin perempuan
sebesar 79% dengan tingkat pendidikan
perawat mayoritas D III keperawatan
sebesar 86% dan lama kerja mayoritas 1-5
tahun sebesar 36%.
Tabel
4.3
Hasil
identifikasi
karakteristik responden di ruang SHOFA
3A RSU Haji Surabaya pada Tanggal 19
November 2015

Hasil penelitian berdasarkan tabel


2.4 didapatkan bahwa mayoritas perawat
pelaksana berada pada rentang usia 22-27
tahun dan 28-33 tahun sebesar 40% yang
berarti perawat berada pada usia rentan
produktif dengan mayoritas berjenis
kelamin perempuan sebanyak 12 orang
sebesar 80% dengan tingkat pendidikan
perawat mayoritas D III keperawatan
sebesar 80% dan lama kerja mayoritas 610 tahun sebesar 40%.

Tabel 4.5 Hasil identifikasi Motivasi


Kerja Perawat di ruang SHOFA 3A RSU
Haji Surabaya pada Tanggal 19 November
2015

Identifikasi
Hasil Pertanyaan
Motivasi
Kerja
Perawat
Dalam
Meningkakan Pelayanan Keperawatan
Di Ruangan
Tabel 4.5 Hasil identifikasi Motivasi
Kerja Perawat di ruang SHOFA 4A RSU
Haji Surabaya pada Tanggal 19 November
2015

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa


nilai terendah dalam motivasi kerja
perawat saat melakukan tanggung jawab
sebanyak 8 responden memiliki nilai
sebesar 57% (sedang) dan 6 responden
memiliki nilai sebesar 43% (tinggi),
kondisi kerja menempati nilai terendah
selanjutnya sebanyak 11 responden
memiliki nilai sebesar 78% (sedang) dan 3
responden memiliki nilai sebesar 21%
(tinggi), untuk pengakuan, komitmen
pemimpin dan insentif memiliki nilai ratarata yang sama sebanyak 12 responden
85% (sedang) dan 2 responden memiliki
nilai sebesar 14% (tinggi).

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa


nilai terendah dalam motivasi kerja
perawat yaitu komitmen pemimpin yang
kurang sebanyak 11 responden memiliki
nilai sebesar 73% (sedang) dan sebanyak 4
responden memiliki nilai sebesar 27%
(rendah), tanggung jawab menempati nilai
terendah
selanjutnya
sebanyak
11
responden memiliki nilai sebesar 73%
(sedang) dan 4 responden memiliki nilai
sebesar 27% (tinggi), untuk kondisi kerja
sebanyak 12 responden memiliki nilai
sebesar 80% (sedang) dan 3 responden
sebesar 20% (tinggi), insentif sebanyak 14
responden memiliki nilai sebesar 93%
(sedang) dan 1 responden sebesar 7%
(tinggi), untuk pengakuan sebanyak 15
responden sebesar 100% (sedang).
Pembahasan
Mengidentifikasi
karakteristik
responden Perawat Di Ruang Rawat
Inap RSU Haji Surabaya
A. Ruang Shofa 4A
Hasil penelitian menunjukkan sebagian
responden berada pada rentang usia 28-33
tahun sebesar 43% yang sebagian besar
berjenis kelamin perempuan 11 sebesar
79% dengan rata-rata pendidikan D III 12
sebesar 86%, dengan lama bekerja 1-5
tahun sebesar 36%. Usia ini menurut
Robbin (2003) semakin matang usia
seseorang biasanya pengetahuan dan
tingkat
kedewasaannya
cendrung
4

meningkat, kemampuan mengendalikan


emosi psikisnya dapat mengurangi
terjadinya kecelakaan sehingga kinerjapun
meningkat. Produktifitas seseorang akan
menurun dengan semakin bertambahnya
usia, karna dengan bertambahnya usia
maka terjadi penurunan kecepatan,
kecekatan dan adanya kebosanan berlarutlarut.
Robbin (2003) menyatakan bahwa
semakin lama staf bekerja pada suatu
organisasi semakin berpeluang untuk
menerima
tugas-tugas
yang
lebih
menantang, otonomi yang lebih besar, dan
keleluasaan bekeja. Individu yang masa
kerjanya lebih lama akan mendapatkan
pengetahuan yang lebih banyak dari pada
individu yang masih baru
Menurut pendapat saya perawat di
ruangan yang memiliki masa kerja yang
lebih dari 5 tahun mempunyai peranan
yang sangat penting dalam melakukan
tindakan asuhan keperawatan kepada
pasien karena semakin lama seseorang
bekerja semakin banyak kasus yang
ditanganinya sehingga meningkatkan
motivasi dalam bekerja serta memberikan
rasa tangung jawab yang lebih.
B. Ruang Shofa 3A

Robbin (2003) menyatakan bahwa


semakin lama staf bekerja pada suatu
organisasi semakin berpeluang untuk
menerima
tugas-tugas
yang
lebih
menantang, otonomi yang lebih besar, dan
keleluasaan bekeja. Individu yang masa
kerjanya lebih lama akan mendapatkan
pengetahuan yang lebih banyak dari pada
individu yang masih baru.
Menurut pendapat saya perawat di
ruangan yang memiliki masa kerja yang
lebih dari 5 tahun mempunyai peranan
yang sangat penting dalam melakukan
tindakan asuhan keperawatan kepada
pasien karena semakin lama seseorang
bekerja semakin banyak kasus yang
ditanganinya sehingga meningkatkan
motivasi dalam bekerja serta memberikan
rasa tangung jawab yang lebih.
Mengidentifikasi Motivasi kerja
Perawat
Dalam
Meningkatkan
PelayananKeperawatan
Di
Ruang
Rawat Inap RSU Haji Surabaya
A. Ruang Shofa 4A
Setelah dilakukan penilaian motivasi
kerja di ruangan menggunakan kuisoner
yang disediakan peneliti, di dapatkan hasil
bahwa faktor tanggung jawab yang
memiliki nilai terendah dengan rata-rata
prosentase 57% (sedang) Hal ini di
karenakan sebagian perawat masih
melaksanakan tugas tidak sesuai jadwal
yang telah diberikan sebagai contoh, saat
jadwal injeksi obat pasien yang seharusnya
dilakukan pada jam 08.00 baru bisa
dilaksankan pada jam 08.30-09.00 di
karenakan perawat masih berkumpul di
nurse station, selain itu beban kerja saat di
ruangan dengan pasien yang ada kurang
seimbang contoh saat jaga dinas ada 1
perawat primer dan 3 perawat pelaksana,
padahal untuk standart kelolaan pasien 1
petugas kesehatan menangani 6-7 orang,
total bed pasien ada 28 pasien dengan
rata2 BOR perhari 98% jadi untuk
menutupi kekosongan pasien yang belum
teratasi secara maksimal perawat primer
harus turun tangan membantu untuk
observasi pasien dan injeksi, sehingga

Hasil penelitian menunjukkan sebagian


responden berada pada rentang usia 22-27
tahun dan 28-33 tahun sebesar 40% yang
sebagian
besar
berjenis
kelamin
perempuan 12 sebesar 80% dengan ratarata pendidikan D III 12 sebesar 80%,
dengan lama bekerja 6-10 tahun sebesar
40%%. Usia ini menurut Robbin (2003)
semakin matang usia seseorang biasanya
pengetahuan dan tingkat kedewasaannya
cendrung
meningkat,
kemampuan
mengendalikan emosi psikisnya dapat
mengurangi
terjadinya
kecelakaan
sehingga
kinerjapun
meningkat.
Produktifitas seseorang akan menurun
dengan semakin bertambahnya usia, karna
dengan bertambahnya usia maka terjadi
penurunan kecepatan, kecekatan dan
adanya kebosanan berlarut-larut.

dalam hal melaksanakan tugas sesuai


jadwal perawat masih memiliki rasa
tanggung jawab dengan motivasi sedang.
Untuk faktor pengakuan, komitmen
pemimpin, dan insentif memiliki nilai
tertinggi dengan rata-rata prosentase 85%
(sedang) hal ini dikarenakan sebagian
perawat mengakui adanya tugas pokok dan
fungsi perawat yang jelas dalam
menjalankan
tugas,
atasan
selalu
menjelaskan tentang perkembangan ilmu
keperawatan,
selalu
memberikan
bimbingan serta arahan dalam melakukan
proses keperawatan.
Hal ini sesuai teori prinsip motivasi
kerja (mangkunegara, 2000; dalam
nursalam) dalam prinsip pendegelegasian
wewenang Pemimpin akan memberikan
otorias atau wewenang kepada pegawai
bawahan
untuk
dapat
mengambil
keputusan terhadap pekerjaan yang
dilakukannya sewaktu-waktu. Hal ini akan
membuat pegawai yang bersangkutan
menjadi termotivasi unuk mencapai tujuan
yang diharapkan oleh pemimpin.
Dalam hal ini peneliti sudah
menghimpun semua komponen yang
dibutuhkan tentang kewenangan tugas
perawat dalam kuisoner yang diberikan
oleh peneliti yang menurut pendapat saya
peranan penting dalam melakukan
kegiatan suatu tindakan di ruangan yang
diberikan pemimpin sesuai tugas masingmasing akan sangat membantu seorang
perawat dalam bekerja untuk memiliki rasa
tanggung jawab dan motivasi kerja.

diberikan sebagai contoh, saat jadwal


injeksi obat pasien yang seharusnya
dilakukan pada jam 08.00 baru bisa
dilaksankan pada jam 10.00 di karenakan
pada saat ditanya perawat mengatakan
tindakan dilakukan sekalian berbarengan
dengan observasi ke pasien, selain itu
beban kerja saat di ruangan dengan pasien
yang ada kurang seimbang contoh saat
jaga dinas ada 1 perawat primer dan 3
perawat pelaksana, untuk standart kelolaan
pasien 1 petugas kesehatan menangani 6-7
orang, total bed pasien ada 28 pasien
dengan rata2 BOR perhari 100%, dan jika
di lihat dari komitmen pemimpin kepala
ruangan
lebih
banyak
melakukan
kegiatannya hanya di dalam ruangan dan
sesekali keluar ruangan dengan alasan ada
rapat, kepala ruangan juga belum pernah
membicarakan dan mendiskusikan dengan
perawat tentang perkembangan ilmu
terbaru, dan tidak pernah melakukan
evaluasi kerja perawat dalam hal tindakan
setiap harinya di ruangan. Untuk faktor
pengakuan memiliki nilai tertinggi dengan
rata-rata prosentase 100% (sedang) hal ini
dikarenakan sebagian perawat mengakui
selalu memperhatikan hasil kerjanya,
adanya tugas pokok dan fungsi perawat
yang jelas dalam menjalankan tugas.
Hal ini sesuai teori prinsip motivasi
kerja (mangkunegara, 2000; dalam
nursalam) dalam prinsip pendegelegasian
wewenang, Pemimpin akan memberikan
otorias atau wewenang kepada pegawai
bawahan
untuk
dapat
mengambil
keputusan terhadap pekerjaan yang
dilakukannya sewaktu-waktu.
Hal ini akan membuat pegawai yang
bersangkutan menjadi termotivasi unuk
mencapai tujuan yang diharapkan oleh
pemimpin. Prinsip komunikasi, Pemimpin
mengkomunikasikan segala sesuatu yang
berhubungan dengan usaha pencapaian
tugas. Informasi yang jelas akan membuat
kerja pegwai lebih mudah dimotivasi
Dari hasil observasi kepala ruangan
seharusnya selalu mengkomunikasikan
seegala sesuatu yang berhubungan dengan
pencapaian tugas dan membuat rincian

B. Ruang Shofa 3A
Setelah dilakukan penilaian motivasi
kerja di ruangan menggunakan kuisoner
yang disediakan peneliti, di dapatkan hasil
ada 2 faktor nilai terendah yaitu faktor
tanggung jawab yang memiliki nilai ratarata prosentase 73% (sedang) dan
komitmen pemimpin yang memiliki nilai
rata-rata prosentase 73% (sedang), 27%
(rendah) Hal ini di karenakan karenakan
sebagian perawat masih melaksanakan
tugas tidak sesuai jadwal yang telah
6

tugas masing-masing perawat pelaksana


dengan jelas pada setiap anggota dan
menilai kinerja setiap perawat, sehinggan
dengan adanya informasi yang jelas dari
kepala ruangan akan membuat rasa
tanggung jawab dan kerja pegawai lebih
mudah di motivasi.

motivasi kerja perawat dalam


meningkatkan pelayanan
keperawatan.
3. Bagi institusi pendidikan
Dengan adanya hasil penelitian
inidiharapkan bagi institusi
pendidikan dapat bekerjasama
dengan masyarakat untuk
mengoptimalkan peran mahasiswa
kesehatan melalui mata kuliah
management keperawatan dalam
memotivasi kerja perawat dalam
meningkatkan pelayanan
kesehatan. Serta penelitian ini di
harapkan dapat memberikan
manfaat untuk menambah
kepustakaan Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surabaya.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
1. Karakteristik responden Ruang
Shofa 4A berada pada rentang usia
produktif 28-33 tahun dengan masa
kerja 1-5 tahun dimana usia dan
lama kerja tersebut dapat
meningkatkan motivasi kerja dan
rasa tanggung jawab lebih.
Karakteristik responden Ruang
Shofa 3A berada pada rentang usia
produktif 28-33 tahun dengan masa
kerja 6-10 tahun dimana usia dan
lama kerja tersebut dapat
meningkatkan motivasi kerja dan
rasa tanggung jawab lebih.
2. Ruang Shofa 4A saat diberikan
kuisoner dan wawancara tentang
motivasi kerja, masih memiliki rasa
tanggung jawab dengan kriteria
motivasi sedang. Ruang Shofa 3A
saat diberikan kuisoner dan
wawancara tentang motivasi kerja,
masih memiliki rasa tanggung
jawab dengan kriteria motivasi
sedang dan komitmen pemimpin
dengan kriteria motivasi rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S (2006). Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek, PT
Rineka Cipta, Jakarta.
Hanafi, M.M, (2007). Manajement, Unit
Penerbit
Dalam
Percetakan
Akademi Manajement Perusahaan
YPKN, Yogya.
Monica, EL (2006). Kepemimpinan dan
Manajement
Keperawatan,
Pendekatan
Berdasarkan
Pengalaman, Alih Bahasa Elly
Nurrahman dkk, Penerbit EGC,
Jakarta.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan Pedoman Skripsi,
Tesis, dan Istrumen Penelitian
Keperawatan. Salemba Medika.
Jakarta.
Nursalam dan Pariani, S. (2008)
Pendekatan Praktis Metodologi
Riset Keperawatan. CV. Agung
Seto. Jakarta.
Nursalam, (2012). Manajemen : Apikasi
Dalam Keperawatan Profesional.
Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Saran
1. Bagi profesi
Hasil penelitian ini meningkatkan
pengetahuan dan profesionalisme
perawat dalam memberikan
motivasi kerja sehingga bisa
meningkatkan mutu pelayanan di
masyarakat maupun di Rumah
Sakit.
2. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai bahan masukan bagi
kelanjutan penelitian. Dan untuk
kesempurnaan penelitian tentang
7

Notoatmodjo,
soekidjo.
(2005).
Merodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta
Olet, B (2006). Peranan, Motivasi Dalam
Kepemimpinan, CV. Akademi
Prassindo Radar Jaya, Jakarta.
Robbins, S.P. (2003) Perilaku Organisasi.
Jakarta . PT Indeks Kelompok
Gramedia
Siswanto, B, (2008). Manajement Tenaga
Kerja Dalam Pendayagunaan

Dan
Pengembangan
Unsur
tenaga Kerja, Penerbit Sinar Bara,
Bandung.
Thoha, M, (2006). Kepemimpinan Dalam
Manajement, Suatu Pendekatan
Perilaku, PT. Raja Bratindo
Persada, Jakarta.
Tappen RM (2005), Nursing Leadership
and manajement : Concept And
Practic, FA Davis Company,
Philledelphia.