Anda di halaman 1dari 96

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sistem Bilangan Real


1.2 Sistem Koordinat

Bab ini memuat materi-materi dasar yang diperlukan dalam mempelajari kalkulus. Beberapa materi
yang disampaikan hanyalah merupakan review, namun demikian ada pula beberapa yang relative masih
baru.

1.1 Sistem Bilangan Real


Pada bagian ini, pembaca diingatkan kembali pada konsep tentang himpunan. Himpunan adalah
sekumpulan obyek/unsur dengan kriteria/syarat tertentu. Unsur-unsur dalam himpunan S disebut anggota
(elemen) S. Himpunan yang tidak memiliki anggota disebut himpunan kosong, ditulis dengan notasi
atau { }.
Jika a merupakan anggota himpunan S, maka dituliskan a S dan dibaca a elemen S. Jika a
bukan anggota himpunan S, maka dituliskan a S dan dibaca a bukan elemen S.
Pada umumnya, sebarang himpunan dapat dinyatakan dengan 2 cara. Pertama, dengan mendaftar
seluruh anggotanya. Sebagai contoh, himpunan A yang terdiri atas unsur-unsur 1,2,3,4,5,6,7,8,9 dapat
dinyatakan sebagai:
A {1, 2, 3, 4, 5, 6,7, 8, 9}

Cara yang kedua, yaitu dengan menuliskan syarat keanggotaan yang dimiliki oleh seluruh anggota suatu
himpunan tetapi tidak dimiliki oleh unsur-unsur yang bukan anggota himpunan tersebut. Apabila
himpunan A di atas dinyatakan dengan cara ini, maka dapat ditulis:

A {x x bilangan bulat positif kurang dari10}

Himpunan A disebut himpunan bagian himpunan B, ditulis A B , jika setiap anggota A


merupakan anggota B. Kiranya tidaklah sulit untuk dipahami bahwa A untuk sebarang himpunan A.
Selanjutnya, akan disampaikan beberapa himpunan bilangan yang dipandang cukup penting.
Himpunan semua bilangan asli adalah N 1, 2, 3, ... . Himpunan ini tertutup terhadap operasi
penjumlahan dan operasi pergandaan, artinya x y N dan x. y N untuk setiap x, y N . Oleh karena
itu, himpunan semua bilangan asli membentuk suatu sistem dan biasa disebut sistem bilangan asli. Sistem
bilangan asli bersama-sama dengan bilangan nol dan bilangan-bilangan bulat negatif membentuk Sistem
Bilangan Bulat, ditulis dengan notasi Z,

Z ..., 3, 2, 1, 0,1, 2, 3, ...


Bilangan rasional adalah bilangan yang merupakan hasil bagi bilangan bulat dan bilangan asli.
Himpunan semua bilangan rasional ditulis dengan notasi Q,
a

Q : a Z dan b N
b

Dalam kehidupan nyata seringkali dijumpai bilangan-bilangan yang tidak rasional. Bilangan yang
tidak rasional disebut bilangan irasional. Contoh-contoh bilangan irasional antara lain adalah
Bilangan

2 dan .

2 adalah panjang sisi miring segitiga siku-siku dengan panjang sisi-sisi tegaknya masing-

masing adalah 1 (lihat Gambar 1.1.1).

1
1

Gambar 1.1.1

Sedangkan bilangan merupakan hasil bagi keliling sebarang lingkaran terhadap diameternya (Gambar
1.1.2).

l1

l2
d2

d1

l1
l
2
d1 d 2

Gambar 1.1.2

Himpunan semua bilangan irasional bersama-sama dengan Q membentuk himpunan semua bilangan real
R. Seperti telah diketahui, untuk menyatakan sebarang bilangan real seringkali digunakan cara desimal.
3 5
7
masing-masing dapat dinyatakan dalam desimal sebagai
, , dan
4 3
66

Sebagai contoh, bilangan-bilangan

0,75, 1,666..., dan

0,1060606.... Dapat ditunjukkan bahwa bentuk desimal bilangan-bilangan rasional

adalah salah satu dari 2 tipe berikut:


3 5 1
i. berhenti ( , , dst. ), atau
4 2 8
5 7
ii. berulang beraturan ( ,
, dst. ).
3 66

Apabila bentuk desimal suatu bilangan tidak termasuk salah satu tipe di atas, maka bilangan tersebut
adalah irasional. Sebagai contoh, bilangan-bilangan:
2 1,414213...

3,14159...

1.1.1 Sifat-sifat Sistem Bilangan Real


Pembaca diingatkan kembali kepada sifat-sifat yang berlaku di dalam R. Untuk sebarang bilangan
real a, b, c, dan d berlaku sifat-sifat sebagai berikut:
1. Sifat komutatif
(i). a b b a

(ii). a.b b.a

2. Sifat asosiatif
(i). a b c a b c a b c
(ii). a.b.c a.b .c a.b.c

3. Sifat distibutif

a.(b c) (a.b) (a.c)

4. (i).

a
1
a. ,
b
b

b0

(ii).

a c (a.d ) (b.c)

, b 0, d 0
b d
b.d

(iii).

a c a.c
.
, b 0, d 0
b d b.d

5. (i). a.(b) ( a ).b (a.b)


(ii). ( a ).(b) a.b
(iii). ( a ) a
6. (i).

0
0 , untuk setiap bilangan a 0 .
a

(ii).

a
tak terdefinisikan.
0

(iii).

a
1 , untuk setiap bilangan a 0 .
a

7. Hukum kanselasi
(i). Jika a.c b.c dan c 0 maka a b .
(ii). Jika b, c 0 maka

a.c a
.
b.c b

8. Sifat pembagi nol


Jika a.b 0 maka a 0 atau b 0 .

1.1.2 Relasi Urutan


Himpunan semua bilangan real dapat dibagi menjadi 3 himpunan bagian tak kosong yang saling
asing: (i). Himpunan semua bilangan real positif; (ii). Himpunan dengan bilangan 0 sebagai satu-satunya
anggota; dan (iii). Himpunan semua bilangan real negative.

Untuk sebarang bilangan real a dan b, a dikatakan kurang dari b (ditulis a b) jika b a positif.
Bilangan a dikatakan lebih dari b (ditulis a b ) jika b a . Sebagai contoh, 2 5 dan 3 1 . Mudah
ditunjukkan bahwa:
a. Bilangan a positif jika dan hanya jika a 0 .
b. Bilangan a negatif jika dan hanya jika a 0 .
Jika a kurang dari atau sama dengan b, maka ditulis a b . Jika a lebih dari atau sama dengan b, maka
ditulis a b . Sedangkan a b c dimaksudkan sebagai a b dan b c . Artinya b antara a dan c.
Berikut ini adalah beberapa sifat yang sangat penting untuk diketahui. Untuk sebarang bilangan real a, b,
dan c:
1. Jika a b maka a c b c untuk setiap bilangan real c.
2. Jika a b dan b c maka a c .
3. a. Jika a b dan c 0 maka a.c b.c .
b. Jika a b dan c 0 maka a.c b.c .
4. a. Jika a 0 maka

1
0.
a

b. Jika 0 a b maka

1 1
.
b a

5. Untuk sebarang bilangan real a dan b berlaku tepat satu:


a b, a b, atau a b

6. Jika a, b 0 maka: a b a 2 b 2 a b .

1.1.3 Garis Bilangan


Secara geometris, sistem bilangan real R dapat digambarkan dengan garis lurus. Mula-mula diambil
sebarang titik untuk dipasangkan dengan bilangan 0. Titik ini dinamakan titik asal (origin), ditulis dengan
O. Pada kedua sisi dari O dibuat skala sama (segmen) dan disepakati arah positif disebelah kanan O
sedangkan arah negatif disebelah kiri O. Selanjutnya, bilangan-bilangan bulat positif 1, 2, 3, dapat
dipasangkan dengan masing-masing titik di kanan O dan bilangan-bilangan 1, 2, 3, ... dengan titik-titik

di sebelah kiri O. Dengan membagi setiap segmen, maka dapat ditentukan lokasi untuk bilangan-bilangan
1 2
, , 2, dst. (Perhatikan Gambar 1.1.3)
2 3

12

Gambar 1.1.3

Dengan cara demikian, maka setiap bilangan real menentukan tepat satu titik pada garis lurus dan
sebaliknya setiap titik pada garis lurus menentukan tepat satu bilangan real. Oleh sebab itu, garis lurus
sering disebut pula Garis Bilangan Real.

1.1.4 Pertidaksamaan
Perubah (variable) adalah lambang (symbol) yang digunakan untuk menyatakan sebarang anggota
suatu himpunan. Jika himpunannya R maka perubahnya disebut perubah real. Selanjutnya, yang
dimaksudkan dengan perubah adalah perubah real.
Pertidaksamaan (inequality) adalah pernyataan matematis yang memuat satu perubah atau lebih
dan salah satu tanda ketidaksamaan (<, >, , ).

Contoh 1.1.1
a. 2 x 7 x 1
b.

2x 1
1
x3

c. x 2 y 2 9
d. x 2 x 12 0

Menyelesaikan suatu pertidaksamaan memiliki arti mencari seluruh bilangan real yang dapat dicapai oleh
perubah-perubah yang ada dalam pertidaksamaan tersebut sehingga pertidaksamaan tersebut menjadi
benar.Himpunan semua bilangan yang demikian ini disebut penyelesaian. Sifat-sifat dan hukum dalam R
sangat membantu dalam mencari penyelesaian suatu pertidaksamaan.
Contoh 1.1.2 Tentukan penyelesaian pertidaksamaan 2 x 5 5 x 7 .

Penyelesaian:
2 x 5 5x 7
2 x 5 5x 5 5x 7 5x 5
3 x 12
3 x.( 1 3) 12.( 1 3)
x 4

Jadi, penyelesaian pertidaksamaan di atas adalah x R x 4 .

Pertidaksamaan tipe lain mungkin lebih sulit diselesaikan dibandingkan pertidaksamaanpertidaksamaan seperti pada contoh di atas. Beberapa contoh diberikan sebagai berikut.

Contoh 1.1.3 Tentukan penyelesaian pertidaksamaan: x 2 5 x 6 0 .


Penyelesaian: Dengan memfaktorkan ruas kiri pertidaksamaan, maka diperoleh:

x 2x 3 0
Telah diketahui bahwa hasil kali 2 bilangan real positif apabila ke dua faktor positif atau ke dua faktor
negatif. Oleh karena itu,
(i). Jika ke dua faktor positif maka:
x 2 0 dan x 3 0
x 2 dan x 3

Sehingga diperoleh: x 3 .
(ii).Jika ke dua faktor negatif, maka:
x 2 0 dan x 3 0
x 2 dan x 3

Diperoleh: x 2 .
Jadi, penyelesaian adalah x R x 2 atau x 3.
Penyelesaian pertidaksamaan di atas dapat pula diterangkan sebagai berikut: ruas kiri
pertidaksamaan bernilai nol jika x 2 atau x 3 . Selanjutnya, ke dua bilangan ini membagi garis
bilangan menjadi 3 bagian: x 2, 2 x 3, dan x 3 (Gambar 1.1.4).

x<2

2<x<3

x>3

Gambar 1.1.4

Pada bagian x 2 , nilai ( x 2) dan ( x 3) keduanya negatif, sehingga hasil kali keduanya positif. Pada
segmen 2 x 3 , ( x 2) bernilai positif sedangkan ( x 3) bernilai negatif. Akibatnya, hasil kali
keduanya bernilai negatif. Terakhir, pada bagian x 3 , ( x 2) dan ( x 3) masing-masing bernilai positif
sehingga hasil kali keduanya juga positif. Rangkuman uraian di atas dapat dilihat pada Tabel 1.1.1 di
bawah ini.
Tabel 1.1.1

Tanda nilai
x2
2 x3
x3

x2

x3

( x 2)( x 3)

Kesimpulan

Pertidaksamaan dipenuhi.

Pertidaksamaan tidak dipenuhi.

Pertidaksamaan dipenuhi.

Jadi, penyelesaian pertidaksamaan adalah x R x 2 atau x 3.

Metode penyelesaian seperti pada Contoh 1.1.3 di atas dapat pula diterapkan pada bentuk-bentuk
pertidaksamaan yang memuat lebih dari 2 faktor maupun bentuk-bentuk pecahan.

Contoh 1.1.4 Tentukan penyelesaian x 3 2 x 2 x 1 1 .


Penyelesaian: Apabila ke dua ruas pada pertidaksamaan di atas ditambah 1, maka diperoleh:

x3 2x 2 x 2 0
( x 1)( x 1)( x 2) 0

Jika ( x 1)( x 1)( x 2) 0 , maka diperoleh: x 1, x 1, atau x 2 . Selanjutnya, perhatikan table


berikut:
Tabel 1.1.2

Tanda nilai/nilai
x 1
1 x 1
1 x 2
x2
x 1
x 1
x2

x 1

x 1

x2

( x 1)( x 1)( x 2)

Kesimpulan

Pertidaksamaan dipenuhi.

Pertidaksamaan tidak dipenuhi.

Pertidaksamaan dipenuhi.

Pertidaksamaan tidak dipenuhi.

Pertidaksamaan dipenuhi.

Pertidaksamaan dipenuhi.

Pertidaksamaan dipenuhi.

Jadi, penyelesaian adalah x R x 1 atau 1 x 2.

Contoh 1.1.5 Selesaikan

2x 6
x 1.
x2

Penyelesaian: Apabila pada ke dua ruas ditambahkan ( x 1) maka diperoleh:


2x 8
2x 8 x 2 x 2
( x 1) 0
0
x2
x2
x 2 3 x 10
0
x2
( x 5)( x 2)

0
x2

Nilai nol pembilang adalah 2 dan 5 , sedangkan nilai nol penyebut adalah 2. Sekarang, untuk
mendapatkan nilai x sehingga

( x 5)( x 2)
0 diperhatikan tabel berikut:
x2

Tabel 1.1.3

Tanda nilai/nilai
x2

x2

x5

( x 2)( x 5)
x2

Kesimpulan

Pertidaksamaan tidak dipenuhi.

Pertidaksamaan dipenuhi.

Pertidaksamaan tidak dipenuhi.

Pertidaksamaan dipenuhi.

Pertidaksamaan dipenuhi.

tak terdefinisikan

Pertidaksamaan tidak dipenuhi.

Pertidaksamaan dipenuhi.

x 2
2 x 2
2 x5
x5
x 2
x2
x5

Jadi, penyelesaian adalah x R 2 x 2 atau x 5.

1.1.5 Nilai Mutlak (Absolute Value)


Nilai mutlak suatu bilangan adalah panjang/jarak bilangan tersebut dari bilangan 0. Jadi, nilai
mutlak 5 adalah 5, nilai mutlak 7 adalah 7, nilai mutlak 0 adalah 0, dan seterusnya.
Definisi 1.1.6 Nilai mutlak x R , ditulis dengan notasi x , didefinisikan sebagai:
x x2 .

Definisi di atas dapat pula dinyatakan sebagai:

x
x

, x0
, x0

Sebagai contoh, 8 (8) 8 ,

5 5
,
2 2

3 3 , dst. Selanjutnya, sifat-sifat nilai mutlak diterangkan

sebagai berikut.

10

Sifat 1.1.7 Jika x, y R maka:


a. x 0

x 0 x0

b. x. y x . y

x
x
, asal y 0
y
y

c. x y x y x y

(Ketaksamaan segitiga)

x y x y x y

Secara geometris, nilai mutlak x a dapat diartikan sebagai jarak dari a ke x. Sebagai contoh, jika

x 3 7 maka artinya x berjarak 7 unit di sebelah kanan atau di sebelah kiri 3 (lihat Gambar 1.1.5).

7 unit

7 unit


4
3
10
Gambar 1.1.5

Jadi, penyelesaian x 3 7 adalah 4,10 .

Dengan mengingat Sifat 1.1.7 (b), kiranya mudah dipahami sifat berikut:
Sifat 1.1.8 Jika a 0 , maka: x a x a atau x a .

Sebagai contoh,

x 4 berarti x 4 atau x 4

11

3 x 5 3 x 5 atau 3 x 5
x

5
5
atau x
3
3

Secara sama,
2 x 3 7 berarti 2 x 3 7 atau 2 x 3 7
2 x 10 atau

2 x 4

x 5 atau

x 2

Sifat 1.1.9 Jika a 0 , maka:


(a). x a a x a .
(b). x a x a atau x a .

Contoh 1.1.10 Selesaikan 2 x 3 7 .


Penyelesaian: Menggunakan Sifat 1.1.9 (b), diperoleh:
2 x 3 7 2 x 3 7 atau 2 x 3 7
2 x 4 atau 2 x 10
x 2 atau x 5

Jadi, penyelesaian adalah x R x 2 atau x 5.

Contoh 1.1.11 Tentukan semua nilai x sehingga

2x
3.
x2

Penyelesaian: Berdasarkan Sifat 1.1.9 (a), maka:

2x
2x
3 3
3
x2
x2
2x
2x

3 dan
3
x2
x2
Selanjutnya, karena:

12

(i).

2x
2x
3
3 0
x2
x2
5x 6

0
x2
6
x atau x 2
5

maka, diperoleh: x

(ii).

2x
2x
3
3 0
x2
x2
x6

0
x2
x 2 atau x 6

6
atau x 6 .
5

Contoh 1.1.12 Tentukan penyelesaian pertidaksamaan x 4 x 2 .


Penyelesaian:
(i). Apabila x 2 0 , maka selalu berlaku x 4 x 2 untuk setiap x. Sehingga diperoleh: x 2 .
(ii). Jika x 2 0 , maka:
x 4 x 2 x 4 x 2 atau x 4 x 2 , x 2
2 x 6, x 2
2 x3

Dari (i) dan (ii), diperoleh x 3 .

1.1.6 Selang (Interval)


Diberikan sebarang dua bilangan real a dan b, dengan a b . Berturut-turut didefinisikan:

[a, b] x a x b

(a, b) x a x b

[a, ) x x a

(a, ) x x a

[a, b) x a x b

(a, b] x a x b

(, a ] x x a

Contoh 1.1.13 Tentukan penyelesaian

(, a ) x x a

2x
3.
x2

Penyelesaian: Berdasarkan Sifat 1.6 maka diperoleh:

13

2x
3 2x 3 x 2 , x 2 0
x2

4x 2 9 x 2 4x 4 , x 2
5 x 2 36 x 36 0, x 2
5 x 6 x 6 0, x 2
6
x 6, x 2
5
6
Jadi, penyelesaian adalah ,2 2,6 .
5

Soal Latihan
Untuk soal 1 21 tentukan penyelesaiannya.
1. 4 x 5 2

2. 6 x 3 9 x 4

3. 3 x 5 2

4. x 2 5 x 14 0

5. x 2 3 x 10

6. x 3 2 x 1 0

7.

2x 1
1
x3

8.

2
5
x2

9.

x4
3x
2x 1

11.

2x
x
x5

12.

10.

13. x 3 4

14. 3 x 2 5

16.

1
2
x

17.

19.

2x 1
2
x 1

20. x 2 x 3

3
2

x x 1
3x 7
2
2x 1

15. 1 2 3x 7

2
3
x

18.

x 1
2
x

21. x 1 2 x

Untuk soal 22 24 tentukan x sehingga masing-masing pernyataan mempunyai arti.


22.

2 x 3x 5

23.

2x 1

24.

x 2 2x 8

25. Jika x a 1 2 dan y a 1 3 maka tunjukkan x y 5 6 .

14

x2 1
3

2x 3

26. Jika a b maka tunjukkan bahwa a

ab
ab
disebut rata-rata aritmatika dari
b . Bilangan
2
2

bilangan a dan b.
27. Jika 0 a b maka tunjukkan bahwa a ab b . Bilangan

ab disebut rata-rata geometri dari

bilangan a dan b. Tunjukkan pula bahwa rata-rata geometri dari bilangan a dan b kurang dari rata-rata
aritmatikanya.
28. Tunjukkan bahwa x y x y .
29. Jika a, b 0 dan a b maka tunjukkan

1 1
.
a b

30. Jika a b dan c 0 , tunjukkan ac bc .

1.2 Sistem Koordinat


Sistem koordinat adalah suatu cara/metode untuk menentukan letak suatu titik. Ada beberapa
macam system koordinat: Sistem Koordinat Cartesius, Sistem Koordinat Kutub, Sistem Koordinat Tabung,
dan Sistem Koordinat Bola. Pada bagian ini hanya akan dibicarakan Sistem Koordinat Cartesius dan
Sistem Koordinat Kutub saja.

1.2.1 Sistem Koordinat Cartesius


Diperhatikan 2 garis lurus, satu mendatar (horizontal) dan yang lain tegak (vertical). Selanjutnya,
garis mendatar ini disebut sumbu-x sedangkan garis yang tegak disebut sumbu-y. Perpotongan kedua
sumbu tersebut dinamakan titik asal (origin) dan diberi tanda O. Seperti biasanya, titik-titik disebelah
kanan O dikaitkan dengan bilangan-bilangan real positif sedangkan titik-titik di sebelah kiri O dengan
bilangan-bilangan real negatif. Demikian pula dengan titik-titik di sebelah atas O dan di sebelah bawah O
masing-masing dikaitkan dengan bilangan-bilangan real positif dan negatif.
Oleh ke dua sumbu, bidang datar (bidang koordinat) terbagi menjadi 4 daerah (kwadran), yaitu
kwadran I, kwadran II, kwadran III, dan kwadran IV (lihat Gambar 1.2.1).

15

Kwadran II
x 0, y 0

Kwadran I
x 0, y 0

Kwadran III
x 0, y 0

Kwadran IV
x 0, y 0

Gambar 1.2.1

Letak sebarang titik pada bidang dinyatakan dengan pasangan berurutan ( x, y ) . Titik P ( x, y )
mempunyai arti bahwa jarak titik P ke sumbu-x dan sumbu-y masing-masing adalah y dan x . Apabila
x 0 (atau y 0) maka titik P berada di sebelah kiri (atau sebelah bawah) titik asal O dan apabila
x 0 (atau y 0) maka titik P terletak di sebelah kanan (atau sebelah atas) titik asal O. Dalam hal ini, x

disebut absis titik P sedangkan y disebut ordinat titik P.

A(1,4)

P (5,2)

B (3,1)

Gambar 1.2.2

16

1.2.2 Sistem Koordinat Kutub (Polar)


Pada sistem koordinat Cartesius, letak titik pada bidang dinyatakan dengan pasangan ( x, y ) ,
dengan x dan y masing-masing menyatakan jarak berarah ke sumbu-y dan ke sumbu-x. Pada sistem
koordinat kutub, letak sebarang titik P pada bidang dinyatakan dengan pasangan bilangan real r , ,
dengan r menyatakan jarak titik P ke titik O (disebut kutub) sedangkan adalah sudut antara sinar yang
memancar dari titik O melewati titik P dengan sumbu-x positif (disebut sumbu kutub) (lihat Gambar 1.2.3).

P ( r , )
r
O

Gambar 1.2.3

Berbeda dengan sistem koordinat Cartesius, dalam koordinat kutub letak suatu titik dapat
dinyatakan dalam tak hingga banyak koordinat. Sebagai contoh, letak titik P(3, 3) dapat digambarkan
dengan cara terlebih dulu melukiskan sinar yang memancar dari titik asal O dengan sudut sebesar

radian terhadap sumbu mendatar arah positif. Kemudian titik P terletak pada sinar tadi dan berjarak 3
satuan dari titik asal O (lihat Gambar 1.2.4 (a)). Titik P dapat pula dinyatakan dalam koordinat

3,

3 2k , dengan k bilangan bulat (lihat Gambar 1.2.4 (b)). Mudah ditunjukkan pula bahwa koordinat

3, 4 3

pun juga menggambarkan titik P (lihat Gambar 1.2.4 (c)). Pada koordinat yang terakhir, jarak

bertanda negatif. Hal ini dikarenakan titik P terletak pada bayangan sinar OP .

17

P(3, 3)

P(3, 3 2k )
3

3 2k

3
(a)

(b)

P(3, 4 3)
3

4 3
O
3
P
(c)

Gambar 1.2.4 Berbagai pernyataan koordinat kutub untuk suatu titik.

Secara umum, jika r , menyatakan koordinat kutub suatu titik maka koordinat titik tersebut
dapat pula dinyatakan sebagai berikut:

r , 2k

atau

r , (2k 1)

dengan k bilangan bulat.

Kutub mempunyai koordinat (0, ) dengan sebarang bilangan.

18

1.2.3 Hubungan Antara Sistem Koordinat Cartesius dan Sistem Koordinat Kutub
Suatu titik P berkoordinat ( x, y ) dalam sistem koordinat Cartesius dan (r , ) dalam sistem
koordinat kutub. Apabila kutub dan titik asal diimpitkan, demikian pula sumbu kutub dan sumbu-x positif
juga diimpitkan, maka kedudukan titik dapat digambarkan sebagai berikut:

P ( x, y ) ( r , )

Gambar 1.2.5

Dari rumus segitiga diperoleh hubungan sebagai berikut:


x r cos

(1.1)

y r sin

atau:
y
x
arcsin arccos
r
r

r x2 y2

(1.2)

Contoh 1.2.1 Nyatakan ke dalam system koordinat Cartesius.


2
a. A 4,

b. B 5,
4

c. C 3,
6

Penyelesaian: Dengan menggunakan persamaan (1.1):


a.

x 4 cos

2
2
3

y 4 sin

2
2 3.
3

19

Jadi, A 2,2 3 .

x 5 cos

b.

2
4
2

y 5 sin

2.
4
2

5
5

Jadi, dalam system koordinat Cartesius B


2 ,
2.
2
2

5 3
x 3 cos
3

6 2

c.

5 3
y 3 sin
.
6 2

3
3
Jadi, C
2 , .
2
2

Apabila x 0 maka persamaan (1.2) dapat dinyatakan sebagai:


r 2 x2 y2

(1.3)

y
arctan , x 0
x

Hati-hati apabila menggunakan persamaan (1.3), karena arctan

y
akan memberikan 2 nilai yang
x

berbeda, 0 2 . Untuk menentukan nilai yang benar perlu diperhatikan letak titik P, apakah di
kwadran I atau II, ataukah dikwadran II atau IV. Apabila dipilih nilai yang lain, maka r x 2 y 2 .

Contoh 1.2.2 Nyatakan ke dalam sistem koordinat kutub:


a. P4,4

b. Q(4,4)

Penyelesaian: Dari persamaan (1.3), diperoleh:


a.

r 4 2 (4) 2 4 2
arctan

4
3
7

atau
4
4
4

Selanjutnya, karena letak titik P di kwadran IV, maka:

20

r 4 2 dengan

7
, atau
4

r 4 2 dengan

3
.
4

7
3

Jadi, P 4 2 ,
atau P 4 2 ,
4
4

b.

r (4) 2 4 2 4 2
arctan

4 3
7

atau
4
4
4

Selanjutnya, karena letak titik Q di kwadran II, maka:


r 4 2 dengan

3
, atau
4

r 4 2 dengan

7
.
4

3
7

Jadi, Q 4 2 , atau Q 4 2 ,
.
4
4

Contoh 1.2.3 Nyatakan persamaan r 2a sin ke dalam sistem koordinat Cartesius.


Penyelesaian: Jika ke dua ruas persamaan di atas dikalikan dengan r maka diperoleh:

r 2 2a (r sin )
Selanjutnya, karena r 2 x 2 y 2 dan r sin y maka:

x 2 y 2 2ay
x 2 y 2 2ay 0,
yaitu persamaan lingkaran dengan pusat (0, a ) dan jari-jari a .

Contoh 1.2.4 Nyatakan x 2 4 y 2 16 ke dalam system koordinat kutub.


Penyelesaian: Dengan substitusi x r cos dan y r sin maka diperoleh:

21

r 2 cos 2 4r 2 sin 2 16
r 2 (1 3 sin 2 ) 16.

Soal Latihan
Untuk soal 1 8, nyatakan masing-masing dengan dua koordinat yang lain, satu dengan r 0 dan yang
lain dengan r 0 .
1. 6, 3
5.

2 , 5 2

2. 3, 2 5

3. 5, 4

4. 5, 7 4

6. 7, 5 6

7. 6, 7 3

8. 4, 6 7

Untuk soal 9 16, nyatakan dalam sistem koordinat Cartesius.


9. 6, 2 3
13.

2 , 5 2

10. 4, 8

11. 5, 4

12. 6, 7 4

14. 7, 5 6

15. 6, 7 3

16. 4, 7 8

Untuk soal 17 23, ubahlah ke dalam sistem koordinat kutub.


17. 3,3

18. 2,2

21. 0,11

22. 3 3 ,3

23.

19. 2,2 3

20.

2 3, 6 3

3,1

Untuk soal 24 29, nyatakan masing-masing persamaan ke dalam sistem koordinat Cartesius.
24. r 3 cos

25. r 2 1 sin

27. r 4

28.

26. r

7
4

4
1 cos

29. r 2

Nyatakan persamaan pada soal 30 32 ke dalam sistem koordinat kutub.


30. x y 0

31. y 2 1 4 x

32. xy 1

33. Tunjukkan bahwa jarak titik P (r , ) dan Q ( R, ) adalah:

d r 2 R 2 2rR cos( )

22

BAB II
FUNGSI DAN GRAFIK FUNGSI
2.1 Fungsi
2.2 Grafik Fungsi
2.3 Barisan dan Deret
2.4 Irisan Kerucut

2.1 Fungsi
Dalam berbagai aplikasi, korespondensi/hubungan antara dua himpunan sering terjadi. Sebagai
4
contoh, volume bola dengan jari-jari r diberikan oleh relasi V r 3 . Contoh yang lain, tempat
3

kedudukan titik-titik ( x, y ) yang jaraknya 1 satuan dari titik pangkal O adalah x 2 y 2 1 . Ada hal
penting yang bisa dipetik dari contoh di atas. Misalkan X menyatakan himpunan semua absis lebih dari
atau sama dengan 1 dan kurang dari atau sama dengan 1, sedangkan Y himpunan ordinat lebih dari atau
sama dengan 1 dan kurang dari atau sama dengan 1. Maka elemen-elemen pada X berkorespondensi
dengan satu atau lebih elemen pada Y. Selanjutnya, korespondensi x 2 y 2 1 disebut relasi dari X ke Y.
Secara umum, apabila A dan B masing-masing himpunan yang tidak kosong maka relasi dari A ke B
didefinisikan sebagai himpunan tak kosong R A B .

A
a1
a2
a3

B
b1
b2
b3
b4

Gambar 2.1.1 Relasi dari himpunan A ke B

23

Jika R adalah relasi dari A ke B dan x A berelasi R dengan y B maka ditulis:


( a, b) R

atau

aRb

atau

b R(a)

Apabila diperhatikan secara seksama, ternyata dua contoh di atas mempunyai perbedaan yang
mendasar. Pada contoh yang pertama setiap r 0 menentukan tepat satu V 0 . Sementara pada contoh
yang ke dua, setiap x [1,1] berelasi dengan beberapa (dalam hal ini dua) nilai x [1,1] yang berbeda.
Relasi seperti pada contoh pertama disebut fungsi.

Definisi 2.1.1 Diketahui R relasi dari A ke B. Apabila setiap x A berelasi R dengan


tepat satu y B maka R disebut fungsi dari A ke B.

Jadi, relasi R dari A ke B disebut fungsi jika untuk setiap x A terdapat tepat satu y B sehingga
b R (a ) .

Sebagai contoh, misalkan X 1, 2 dan Y 3, 6. Himpunan (1, 3), (2, 3) merupakan fungsi dari
X ke Y, karena setiap anggota X berelasi dengan tepat satu anggota Y. Demikian pula, himpunan

(1, 6), (2, 3)

merupakan fungsi dari X ke Y. Sementara himpunan (1, 3), (1, 6), (2, 3) bukan merupakan

fungsi dari X ke Y, karena ada anggota X, yaitu 1, yang menentukan lebih dari satu nilai di Y.
Fungsi dinyatakan dengan huruf-huruf: f, g, h, F, H, dst. Selanjutnya, apabila f merupakan fungsi
dari himpunan A ke himpunan B, maka dituliskan:
f:AB
Dalam hal ini, himpunan A dinamakan domain atau daerah definisi atau daerah

asal, sedangkan

himpunan B dinamakan kodomain atau daerah kawan fungsi f. Domain fungsi f ditulis dengan notasi
Df, dan apabila tidak disebutkan maka disepakati bahwa domain fungsi f adalah himpunan terbesar di
dalam R sehingga f terdefinisikan atau ada. Jadi:

D f x R : f ( x) ada ( terdefinisikan )
Himpunan semua anggota B yang mempunyai kawan di A dinamakan
fungsi f, ditulis R f atau Im(f) (Perhatikan Gambar 2.1.2).

24

range atau daerah hasil

Rf

Gambar 2.1.2

Jika pada fungsi f : A B , sebarang elemen x A mempunyai kawan y B, maka dikatakan


y merupakan bayangan x oleh f atau y merupakan nilai fungsi f di x dan ditulis y = f(x).
A

B
f

Gambar 2.1.3 f fungsi dari himpunan A ke B.

Selanjutnya, x dan y masing-masing dinamakan variable bebas dan variabel tak bebas. Sedangkan y
= f(x) disebut rumus fungsi f.

Contoh 2.1.2 Tentukan domainnya.


a. f ( x)

1
x2

b. f ( x)

c. f ( x)

x2 1

1
ln( x 2 x 6)
x5

Penyelesaian:
a. Suatu hasil bagi akan memiliki arti apabila penyebut tidak nol. Oleh karena itu,
1

D f x R :
terdefinisikan x R : x 2 0 R {2}
x2

b. Karena akar suatu bilangan ada hanya apabila bilangan tersebut tak negatif, maka:

25

x
x
D f x R :
ada x R :
0
x2 1
x2 1


x R : 1 x 0 atau x 1 (1,0] (1, ).

c. Suatu jumlahan memiliki arti apabila masing-masing sukunya terdefinsikan. Sehingga:

D f x R :
ln( x 2 x 6) ada
x5

x R :
ada dan ln( x 2 x 6) ada
x5

x R : x 5 0 dan ( x 2 x 6) 0
x R : x 5 dan ( x 2 atau x 3)
x R : x 5 dan x 2 atau x R : x 5 dan x 3)
= (,5) (5,2) (3, ) .

Contoh 2.1.3 Jika f ( x) 3 x 2 (1 x) , maka tentukan:


a. f (1)

b. f ( x 2)

c. f (1 x)

d. f ( x x)

Penyelesaian:
a. f (1) 3.(1) 2 (1 1) 2 .
b. f ( x 2) 3( x 2) 2 1 ( x 2) 3 x 2 12 x 12 1 ( x 2) .
c. f (1 x) 3.(1 x) 2

1
3 x2 x .
1x

d. f ( x x) 3.( x x) 2 1 ( x x) 3 x 2 6 x. x ( x) 2 1 ( x x) .

2.1.1 Fungsi Surjektif, Fungsi Injektif, dan Fungsi Bijektif


Berikut diberikan beberapa fungsi yang memenuhi syarat-syarat tertentu . Diberikan fungsi
f :AB.

(i).

Apabila setiap anggota himpunan B mempunyai kawan anggota himpunan A, maka f disebut
fungsi surjektif atau fungsi pada (onto function).

26

A
a1
a2
a3
a4

B
b1
b2
b3

Gambar 2.1.4 f fungsi surjektif dari himpunan A ke himpunan B

(ii). Apabila setiap anggota himpunan B mempunyai yang kawan di A, kawannya tunggal, maka f disebut
fungsi injektif atau fungsi 1-1 (into function).

B
b1

a1
a2
a3

b2
b3
b4
b5

Gambar 2.1.5 Fungsi injektif dari A ke B

(iii). Jika setiap anggota himpunan B mempunyai tepat satu kawan di A maka f disebut fungsi bijektif atau
korespodensi 1-1. Mudah dipahami bahwa korespondensi 1-1 adalah fungsi surjektif sekaligus
injektif.

A
a1
a2
a3
a4

B
b1
b2
b3
b4

Gambar 2.1.6 Korespondensi 1 1.

27

2.1.2 Operasi Pada Fungsi


Diberikan skalar real dan fungsi-fungsi f dan g. Jumlahan f g , selisih f g , hasil kali skalar
f , hasil kali f .g , dan hasil bagi f g masing-masing didefinisikan sebagai berikut:
( f g )( x) f ( x) g ( x)

( f g )( x) f ( x) g ( x)

( f )( x) f ( x)

( f .g )( x) f ( x).g ( x)

f
f ( x)
( )( x)
, asalkan g ( x) 0
g
g ( x)
Domain masing-masing fungsi di atas adalah irisan domain f dan domain g, kecuali untuk f g ,

D f g x D f D g : g ( x) 0 .

Contoh 2.1.4 Jika f dan g masing-masing:


f ( x) x 1

g ( x)

1
x5

maka tentukan: f g , f g , f .g , dan f g beserta domainnya.


Penyelesaian:

g ( x) x 1

1
x5
f .g ( x) x 1. 1
x5

f
f

g ( x) x 1
g ( x)

1
x5

x 1
x5

Karena D f [1, ) dan D g R {5} , maka f g , f g , f .g , dan f g masing-masing mempunyai


domain: [1, ) .

2.1.3 Fungsi Invers


Diberikan fungsi f : X Y . Kebalikan (invers) fungsi f adalah relasi g dari Y ke X. Pada
umumnya, invers suatu fungsi belum tentu merupakan fungsi. Sebagai contoh, perhatikan Gambar 2.1.7 di
bawah ini.

28

B
f

Gambar 2.1.7

Apabila f : X Y merupakan korespondensi 1 1, maka mudah ditunjukkan bahwa invers f juga


merupakan fungsi. Fungsi ini disebut fungsi invers, ditulis dengan notasi f 1 . Perhatikan Gambar 2.1.8
berikut.

Y
y

f 1
Gambar 2.1.8

Jadi:

x f 1 ( y )

y f ( x)

dengan

x 1
Contoh 2.1.5 Tentukan f 1 jika diketahui f ( x) 1
.
3x 2

29

D f 1 R f dan R f 1 D f

Penyelesaian:
y f ( x) 1

1 y

x 1
3x 2

x 1
3x 2

(1 y )(3 x 2) x 1
3 x 3 xy 2 y 2 x 1

2 x 3 xy 2 y 3
2y 3

x
f 1 ( y )
2 3y
2x 3
Jadi, f 1 ( x)
.
2 3x

Contoh 2.1.6 Tentukan inversnya jika diketahui:


x

1
f ( x)

1
x 1

jika x 0
jika x 0
jika x 0

Penyelesaian: (i). Untuk x 0 , y f ( x) x 0 . Sehingga:

x y f 1 ( y )

y0

(ii). Untuk x 0 , f (0) 1 . Sehingga, diperoleh: 0 f 1 (1) .


(iii).Untuk x 0 ,
y f ( x)

1
1

1
x 1 0 1

atau:

1
1 y
1
f 1 ( y )
y
y

Selanjutnya, dari (i), (ii), dan (iii) diperoleh:

30

y 1

1
f ( x)

1 x
x

jika x 0
jika x 1

jika x 1

2.1.4 Fungsi Komposisi


Perhatikan

fungsi

y x2 1 .

Apabila

didefinisikan

y f (u ) u

dan

u g ( x) x 2 1 maka dengan substitusi diperoleh y f (u ) f ( g ( x)) x 2 1 , yaitu rumus fungsi


yang pertama disebutkan. Proses demikian ini disebut komposisi. Secara umum dapat diterangkan sebagai
berikut. Diketahui f dan g sebarang dua fungsi. Ambil sebarang x D g . Apabila g ( x) D f maka f dapat
dikerjakan pada g (x) dan diperoleh fungsi baru h( x) f ( g ( x)) . Ini disebut fungsi komposisi dari f dan g,
ditulis f g .
Definisi 2.1.7 Fungsi komposisi dari f dan g, ditulis f g , didefinisikan sebagai:
f g ( x) f ( g ( x)) ,
dengan domain D f g x D g : g ( x) D f .

f g

y g (x)

z f ( g ( x))

Gambar 2.1.9 Fungsi komposisi

31

f g

Contoh 2.1.7 Jika f(x) = x2 dan g(x) = x1 maka tentukan fungsi-fungsi berikut beserta domainnya.
a. f g

b. g f

c. f f

d. g g

Penyelesaian:
a. f g ( x) f ( g ( x)) f ( x 1) ( x 1) 2 , dengan domain D f g R .
b. g f ( x) g ( f ( x)) g ( x 2 ) x 2 1 , dengan domain D g f R .
c. f f ( x) f ( f ( x)) f ( x 2 ) x 4 , dengan domain D f f R .
d. g g ( x) g ( g ( x)) g ( x 1) ( x 1) 1 x 2 , dengan domain D g g R .

Contoh 2.1.8 Jika f ( x) 1 x 2 dan g ( x) 2 x 2 maka tentukan fungsi-fungsi berikut ini beserta
domainnya.
a. f g

b. g f

Penyelesaian:
a.

f g ( x)

f ( g ( x)) f (2 x 2 ) 1 (2 x 2 ) 2 1 4 x 4 , dengan domain:

D f g x D g : g ( x) D f x R : 1 2 x 2 1

1
1

.
x R : 0 x 2 1 2 x R :
2x
2
2
2

b.

g f ( x) g ( f ( x)) g (

1 x 2 ) 2(1 x 2 ) , dengan domain:

D g f x D f : f ( x) D g x R : 1 x 1 .

Contoh 2.1.9 Tentukan f g jika diketahui:

1 x

f ( x)
1 x

jika x 0
jika x 0

x
x 1

g ( x)
2 x 1

32

jika x 1
jika x 1

Penyelesaian:
(i). Untuk x 1 , g ( x)

x
x 11
1

1
1 0 . Sehingga:
x 1
x 1
x 1

( f g )( x) f ( g ( x)) 1 g ( x) 1

x
x 1

(ii).Untuk x 1 , g ( x) 2 x 1 2.1 1 1 . Karena g ( x) 1 , maka dapat dibedakan menjadi 0 g ( x) 1


dan g ( x) 0 . Selanjutnya,
(a). 0 g ( x) 1 apabila 0 2 x 1 1 atau 1 2 x 1 . Hal ini berakibat, untuk 1 2 x 1 ,
( f g )( x) f ( g ( x)) 1 g ( x) 1 (2 x 1) 2 x

(b). g ( x) 0 apabila 2 x 1 0 atau x 1 2 . Jadi, untuk x 1 2 diperoleh:

( f g )( x) f ( g ( x)) 1 g ( x) 1 (2 x 1)
Dari (i) dan (ii), diperoleh:
x

1 x 1

2x

( f g )( x)

1
2x 1

2.2 Grafik Fungsi

jika x 1
jika 1 2 x 1
jika x 1 2

Diberikan fungsi f. Himpunan ( x, y ) : y f ( x), x D f

disebut grafik fungsi f.

2.2.1 Grafik Fungsi Dalam Sistem Koordinat Kartesius


Dalam sistem koordinat kartesius fungsi dapat dibagi menjadi:
(a). Fungsi Aljabar

(b). Fungsi Transenden

Fungsi f disebut fungsi aljabar jika f dapat dinyatakan sebagai jumlahan, selisih, hasil kali, hasil
bagi, pangkat, ataupun akar fungsi-fungsi suku banyak. Sebagai contoh, fungsi f dengan rumus:

33

f ( x)

3 x x 2 ( x 1) 2 3
x2 1

merupakan fungsi aljabar. Fungsi yang bukan fungsi aljabar disebut fungsi transenden. Beberapa contoh
fungsi transenden adalah fungsi trigonometri, fungsi logaritma, dsb.

Fungsi Aljabar
Fungsi Aljabar meliputi :
(1). Fungsi rasional :
a. Fungsi bulat (fungsi suku banyak)
b. Fungsi pecah.
(2). Fungsi irasional.

Fungsi Suku Banyak


Fungsi suku banyak berderajat n mempunyai persamaan
f(x) = Pn(x) = a0 + a1x + . . . + an xn
dengan n bilangan bulat tak negatif , a1, . . . , an bilangan-bilangan real dan an 0.
(a). Fungsi konstan: f ( x) c .
Grafik fungsi ini berupa garis lurus sejajar sumbu X.
Y
3

f(x) = 3

a0

f(x) = a0

X
f(x) = 1

1
Gambar 2.2.1

34

(b). Fungsi linear: f(x)= mx + n


Grafik fungsi ini berupa garis lurus dengan gradien m dan melalui titik (0, n) .

y=x+2
y=x
2
2

y=x3
3

y = x

Gambar 2.2.2

(c). Fungsi kuadrat: f ( x) ax 2 bx c, a 0 .


Grafik fungsi kuadrat berupa parabola. Diskriminan: D b 2 4ac . Secara umum, grafik fungsi
kuadrat ini dapat digambarkan sebagai berikut:

35

D>0
a>0
D>0
a<0
(a)

(b)

D=0
a>0
D=0
a<0
(c)

(d)

D<0
a>0
D<0
a<0
(e)

(f)

Gambar 2.2.3

Perhatikan pula gambar berikut ini.

36

y = x2
y = x2

X
4
y = 4x x2

Gambar 2.2.4

(d). Fungsi kubik: f ( x) a3 x 3 a 2 x 2 a1 x a0 , a3 0 .

y = x3

1
1

Gambar 2.2.5

37

y = (x1)3

Fungsi Pecah
Fungsi f(x) yang dapat dinyatakan sebagai hasil bagi dua fungsi suku banyak

f ( x)

a0 a1 x ... a n x n
b0 b1 x ... bm x m

disebut fungsi pecah. Grafik beberapa fungsi pecah sederhana, seperti:


f(x) =

1
x

f ( x)

dan

x
x 1

diperlihatkan dalam gambar berikut.

y=

x
x 1

y=1
y = 1/x

x=1

Gambar 2.2.6

Fungsi Irasional
Beberapa contoh fungsi irasional beserta grafiknya diperlihatkan pada gambar berikut ini.

38

y x

(a)

y a x2
a

y a x2
a
(c)

(b)

Gambar 2.2.7

Fungsi Transenden
Fungsi transenden meliputi: Fungsi Trigonometri, Fungsi Siklometri, Fungsi Eksponen, dan Fungsi
Logaritma.
(a). Fungsi trigonometri
Ditinjau titik sebarang P(x,y) pada bidang koordinat seperti terlihat dalam gambar berikut ini.

39

P(x,y)

y
Q

Gambar 2.2.8

Apabila r menyatakan jarak titik P ke O dan menyatakan besar sudut antara OP dengan sumbu X
(arah berlawanan dengan jarum jam), maka berturut-turut didefinisikan sebagai berikut:
sin = y/r

cos = x/r

tan = y/x

cot = x/y

sec = r/x

csc = r/y

Dari definisi mudah ditunjukkan hubungan-hubungan berikut:


tan =

sin
cos

, cos

cos
sin

sec =

1
cos

, csc

1
sin

dan:
sin2 + cos2 = 1

1 + tan2 = sec2

1 + cos2 = csc2

Berbeda halnya dengan geometri yang biasanya besar sudut diukur dalam derajat, maka dalam
kalkulus besar sudut dinyatakan dalam radian. Besar sudut satu radian sama dengan besar sudut pusat
juring lingkaran OPQ yang panjang busurnya sama dengan jari-jari lingkaran (perhatikan Gambar 2.2.9).

40

Q
r
O

Gambar 2.2.9 Besar sudut POQ 1 radian

Oleh karena itu,


2 radian = 360o

atau

180
1 radian =
derajat.

Selanjutnya, dapat dibentuk fungsi-fungsi trigonometri. Beberapa grafik fungsi trigonometri dapat
digambarkan sebagai berikut (lihat Gambar 2.2.10 dan Gambar 2.2.11):

Gambar 2.2.10 (a) Grafik

y sin x

Gambar 2.2.10 (b) Grafik

y cos x

Untuk x 2, grafik y = sin x dan y = cos x berpotongan di x = /4 dan x = 5/4.

41

Gambar 2.2.11 (a) Grafik

y tan x

Gambar 2.2.11 (c) Grafik

Gambar 2.2.11 (b) Grafik

y sec x

y cot x

Gambar 2.2.11 (d) Grafik

y csc x

(b). Fungsi Siklometri


Untuk domain tertentu invers fungsi trigonometri juga merupakan fungsi. Invers fungsi
trigonometri dikenal dengan nama fungsi siklometri. Invers fungsi sinus ditulis dengan sin1 atau arcsin dan
didefinisikan sebagai berikut:

42

y = sin1 x = arcsin x

x = sin y

y [/2, /2]

Demikian pula untuk invers fungsi trigonometri yang lain.


y = cos1x = arccos x

x = cos y

y [0, ]

y = tan 1x = arctan x

x = tan y

y (/2, /2)

y = cot 1x = arccot x

x = cot y

y (0, )

y = sec 1x = arcsec x

x = sec y

y (/2, /2)

y = csc1 x = arccsc x

x = csc y

y (0, )

Selanjutnya, grafik fungsi siklometri dapat dilihat pada Gambar 2.2.12 di bawah ini.

Gambar 2.2.12 (a)

y arcsin x

Gambar 2.2.12 (a)

Gambar 2.2.12 (b)

y arctan x

43

y arccos x

(c) Fungsi Eksponensial


Untuk a 0, a 1 , fungsi f dengan rumus:
f(x) = ax
disebut fungsi eksponensial. Grafik fungsi eksponensial diperlihatkan pada gambar berikut:

y ax, a 1
y ax, 0 a 1

Gambar 2.2.13

(d). Fungsi Logaritma


Untuk a 0, a 1 , y a log x x a y . Sebagai contoh:
2
13

log 8 3

karena

log 27 3

karena

23 8

1 3 3 27

Selanjutnya, fungsi f dengan rumus:

f ( x) a log x
disebut fungsi logaritma. Dalam hal ini D f x R : x 0. Grafik fungsi logaritma diperlihatkan pada
gambar dibawah.

44

y a log x, a 1

y a log x, 0 a 1

Gambar 2.2.14

2.2.2 Grafik Fungsi Dalam Sistem Koordinat Kutub


Seperti telah diterangkan di muka, dalam sistem koordinat kutub, koordinat suatu titik dapat
diekspresikan dengan tak hingga banyak cara. Oleh karena itu, untuk menggambarkan grafik fungsi dalam
sistem koordinat kutub, diperlukan kehati-hatian yang lebih dibanding ketika menggambar dalam sistem
koordinat Kartesius.
Grafik fungsi yang disajikan dalam sistem koordinat kutub r f ( ) adalah himpunan semua titik P
sehingga paling sedikit satu representasi titik P, yaitu (r , ) , memenuhi persamaan tersebut.

Contoh 2.2.1 Gambarlah grafik r = 2.


Penyelesaian: Titik-titik (r , ) yang memenuhi persamaan r=2 adalah titik-titik yang berjarak 2 satuan
dari kutub (O). Jadi, kumpulan titik-titik ini akan membentuk lingkaran berjari-jari 2. Dengan cara lain,
karena r x 2 y 2 2 maka x 2 y 2 4 . Grafik diberikan pada Gambar 2.2.15.

45

(2, /2)
(2, /4)
(2, 0)
(2, 2)

(2, )

Gambar 2.2.15

Contoh 2.2.2 Gambarl grafik r = 2 sin dan r = 2 + 2 sin .


Penyelesaian: Tabel di bawah memberikan beberapa titik yang memenuhi kedua persamaan fungsi di atas
untuk 0 2
Tabel 2.2.1

0
6
4
3

2
2 3
3
5

7
5
4

4
6
6
4
3

3 2
5 3
7 4

r = 2 sin
0
1

r = 2 + 2 sin
2
3

2
3
2

2+ 2
2+ 3
4

2+

2
1
0
1

2+

2
3
2
1

2
3
2

2 2
2 3
0

2 3

2 2

46

Berdasarkan hasil pada Tabel 2.2.1, grafik dapat dilihat pada Gambar 2.2.16.

Gambar 2.2.16 (a) r 2 sin

Gambar 2.2.16 (a) r 2 2 sin

Contoh 2.2.3 Gambarlkan daerah yang berada di dalam kurva r = 2 2 cos tetapi di luar lingkaran
r = 2 sin .
Penyelesaian: Untuk beberapa nilai , maka titik-titik yang dilalui oleh kurva di atas dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 2.2.2

0
6

r = 2 2 cos
4
2+2 3

r = 2 sin
0
1

4
3

2+ 2
3

3 2
2

2
0
2
4

2
3
2
0
2
0

Selanjutnya, gambar daerah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

47

Gambar 2.2.17

Soal Latihan
Untuk soal 1 12, diberikan persamaan dalam x dan y. Tentukan persamaan yang mana y merupakan
fungsi x.
1. 2 x 3 y 6

2. xy 1

3. x 2 y 4

4. x y 2 4

5. x 2 4 y 2 4

6.

7. y 3 x 0

8.

10. x 2 xy 1 0

11. y ( x 1) x 1

2x y 1

9. y x

x
1
y

12. x 2 9 y 2 9

Untuk soal 13 21, tentukan domain dan range fungsi f.


13. f ( x) 2 x 5

14. f ( x)

1
x2

48

15. f ( x) x

x 1
x3

16. f (t ) t 2 1

17. f ( x)

19. f ( x) ln 1 x

20. f ( s ) 2 s

18. f (u )

x3 1

22. Tentukan f (0), f (2), dan f ( x h) jika f ( x)

u 1
u 1

x2

21. f ( x) ln
2
2x 1

s
s 1
x5
.
x 1

23. Tentukan f (1), f (16), dan f ( x h) jika f ( x) x x


24. Diberikan f ( x) x . Jika h 0 , tunjukkan:

f ( x h) f ( x )

h
25. Untuk sebarang bilangan real h 0 , tentukan

1
xh x

f ( x h) f ( x )
jika f ( x) sin x .
h

Untuk soal 26 31, diberikan fungsi f dan g. Tentukan f g , f g , f .g , dan f g beserta dengan
masing-masing domainnya.
26. f ( x) x 3, g ( x) x

27. f ( x) x 1, g ( x) 2 x

28. f ( x) x 2 1, g ( x) 1 x

29. f ( x) 1 x , g ( x) 1 x 3

30. f ( x)

x
2

x 3x 2

,. g ( x) x 2 1

31. f ( x)

x
,
x 1

g ( x)

x 1
x2

Untuk soal 32 41, tentukan f g dan g f serta masing-masing domainnya.


32. f ( x) x 3, g ( x) x
34. f ( x)
36. f ( x)

x
,
x 1

g ( x)

x
2

x 3x 2

x 1
x2

,. g ( x) x 2 1

33. f ( x) x , g ( x) x
35. f ( x) 1 x , g ( x) x 1
37. f ( x) x 2 1, g ( x) 1 x

49

39. f ( x) x 2 1, g ( x) 1 x

38. f ( x) x 1, g ( x) 2 x

x,

40. f ( x)
3 x,

41. f ( x) x 1 ,

x0
,
x0

2 x ,

g ( x)
5 x,

x 1
x ,

g ( x)
2x ,

x0
x0

x0
x0

Untuk 42 46, tentukan inversnya beserta domainnya.


43. f ( x)

42. f ( x) 2 x 3
x 1
x ,

45. g ( x)
2x ,

2x
3x 1

44. g ( x) 1

2 x 1,

46. f ( x)

1
1 x ,

x0
x0

x 1
x2

x0
x0

2.3 Barisan dan Deret


Perhatikan himpunan tak hingga berikut ini.
1 1 1 1
A 1, , , , , ...
3 9 27 81

Apabila fungsi f didefinisikan sebagai:


f ( n)

1
3 n 1

nN

maka himpunan A dapat pula dinyatakan sebagai:

A f ( n) : n N
Dalam hal ini, fungsi f disebut barisan. Secara umum, dapat didefinisikan pengertian barisan sebagai
berikut.

50

Definisi 2.3.1 Barisan bilangan real adalah fungsi bernilai real dengan domain sistem
Pada bagian ini akan dibicarakan fungsi dengan domain sistem bilangan asli. yang
bilangan asli. Nilai fungsi di n disebut suku ke-n.
Jadi, barisan bilangan real adalah fungsi f : N R . Untuk seterusnya, barisan bilangan real cukup
disebut sebagai barisan. Suku ke-n suatu barisan, yaitu

f (n) , biasa dinyatakan dengan an, n N.

Selanjutnya, barisan dengan suku-suku an, n N, ditulis dengan notasi a n .

Contoh 2.3.2 Berikut adalah contoh-contoh barisan:

1
c. a n
n!

a. a n 1 n

b. a n

d. a n sin n

n
e. a n

n 1

f. a n (1) n

Definisi 2.3.3 Diberikan barisan a n . Jumlahan tak hingga:

k a1 a 2 ... a n ...

k 1

disebut deret tak hingga atau deret untuk singkatnya.


Untuk setiap bilangan asli n didefinisikan:
S1 = a1

S2 = a1 + a2

Sn = a1 + a2 + + an

Sn, nN, disebut jumlahan parsial.

Contoh 2.3.4 Bilangan 1 3 dapat ditulis sebagai:


1 3 0,333333 0,3 0,03 0,003 ...

Ruas terakhir pada persamaan di atas adalah suatu deret.

51

3
3
3
3

...
...
10 100 1000
10 n

2.4 Irisan Kerucut


Diketahui luasan berbentuk kerucut tegak dengan setengah sudut puncak dan titik puncak P.
Apabila kerucut tersebut diiris dengan bidang W tidak melalui P dan membentuk sudut terhadap sumbu
kerucut maka irisannya akan berbentuk suatu kurva, yang selanjutnya disebut irisan kerucut. Bentuk irisan
kerucut ini tergantung pada besar sudut . Apabila:
(a). maka irisan kerucut berupa eilips. Perhatikan gambar di bawah.

Gambar 2.4.1

(b.). maka irisan kerucut yang terjadi berbentuk parabola (lihat Gambar 2.4.2).

Gambar 2.4.2

52

(c.). 0 maka terjadi kelas hiperbola

Gambar 2.4.3

Irisan kerucut juga dapat didefinisikan sebagai himpunan semua titik yang perbandingan jaraknya
ke suatu titik tertentu dan kesuatu garis tertentu tetap. Selanjutnya, titik tertentu tersebut dinamakan titik
fokus yang dinyatakan dengan F, garis tertentu tersebut dinamakan garis arah yang dinyatakan dengan d,
dan perbandingan yang tetap tersebut dinamakan eksentrisitas yang ditulis . Berdasarkan eksentrisitasnya
irisan kerucut dapat dibedakan menjadi:
a. Kelas ellips jika 0 1
b. Kelas parabola jika 1
c. Kelas hiperbola jika 1
Diambil fokus F berimpit dengan titik asal O dan garis arah d mempunyai persamaan x + p = 0
dengan p > 0.

53

x+ p=0
OF

Gambar 2.4.4

Jika P(x,y) sebarang titik pada irisan kerucut maka perbandingan jarak P ke F dan P ke d sama
dengan , yaitu:
PF

PD

atau

x2 y2

x p
x 2 y 2 2 x p 2

1 2 x 2 y 2 2 2 px 2 p 2
(i). Untuk 1 diperoleh parabola dengan persamaan:
y2 = 2px + p2 = 2p (x +
Jika diambil substitusi x* x

p
)
2

p
maka persamaan parabola menjadi y2 = 2px*. Selanjutnya, y2 = 2px
2

p
p
merupakan persamaan parabola dengan fokus F( ,0) , garis arah d: x + 0 , titik puncak O (0,0), dan
2
2

sumbu simetris garis y = 0 atau sumbu X.

54

P(x,y)

x+ p=0

OF

Gambar 2.4.5

(ii).Untuk 1 diperoleh elips atau hiperbola dengan persamaan:


2

2 2 p
1 2

x p

1 2

y2
1 2

2 p2
1 2

2 p2
4 p2
y

1 2 1 2 1 2 2

2p
y2
2 p2 1 2 4 p2
x

2
1 2 1 2
1 2

2 p2

2 2

2 p2
Selanjutnya, dengan menggambil x = x
diperoleh:
1 2
**

y2
2 p2
(x ) +

2
1 2
1 2
** 2

x * *2

y2

1 2 2 p 2 1
1 2 2 1 2 2
2 p2

55

x * *2
2 p2

1 2 2
2

(a). Untuk 0 1 diambil: c

y2
2 p2

1 2

2 p2
1 2

dan a
2

x * *2
a2
Karena

2 p2

2 2

y2
b2

, maka diperoleh:

2 p2
c
1 2 a 2 b 2 , dan , maka: b2 + c2 = a2 . Secara umum, persamaan ellips
2
1
a

dengan pusat O(0,0), sumbu simetris garis y = 0 dan x = 0, fokus F( c,0) , dan garis arah d dengan
persamaan x =

a2
diberikan oleh:
c
x2 y2

1
a 2 b2

Jika a = b maka ellips mempunyai persamaan:


x2 + y2 = a2
Ini adalah persamaan lingkaran dengan pusat O dan berjari-jari a. Jadi, lingkaran adalah ellips
dengan titik fokus dan titik pusat O.

P(x,y)

Gambar 2.4.6

56

(b). Untuk 1 , diambil a


2

dan

2 p2

2 2

2 p2
dan
a 2 1 2 = b2 maka diperoleh c2 = a2 + b2
2
1

c
dan:
a

x * *2

a2

y2
b2

Jadi, persamaan hyperbola dengan pusat O(0,0) , sumbu simetris garis y = 0 dan x = 0, titik fokus
F( c,0) , dan garis arah d : x =

a2
diberikan oleh:
c

x2
a2

y2
b2

b
x
a
(0,b)

(c,0)

(a,0)

(a,0)
(0,b)

Gambar 2.4.7

57

(c,0)

b
x
a

BAB III
LIMIT DAN FUNGSI KONTINU
3.1 Pengertian Limit
3.2 Teknik Aljabar Untuk Menghitung Limit
3.3 Limit Satu Sisi
3.4 Limit Tak Hingga dan Limit Menuju Tak Hingga
3.5 Limit Fungsi Trigonometri
3.6 Bilangan Alam
3.7 Fungsi Kontinu

Konsep limit mempunyai peranan yang sangat penting di dalam kalkulus dan berbagai bidang
matematika. Oleh karena itu, konsep ini sangat perlu untuk dipahami. Meskipun pada awalnya konsep
limit sukar untuk dipahami, tetapi dengan sedikit bantuan cara numeris kemudian konsep ini bisa
dimengerti. Dan kenyataannya, setelah dipraktekkan masalah hitung limit relative mudah. Mengingat hal
itu, maka pada bagian pertama Bab ini limit diterangkan secara intuitive (numeris). Kemudian pada bagian
selanjutnya, dikembangkan teknik penghitungan limit.

3.1 Pengertian Limit


Terlebih dahulu diperhatikan fungsi f ( x) x 2 3 . Grafik y f (x) diberikan pada Gambar 3.1.1
di bawah ini.

58

Gambar 3.1.1

Apa yang terjadi dengan f (x) apabila x cukup dekat dengan 2? Perhatikan table 3.1.1 berikut.

Tabel 3.1.1

f ( x) x 3

f ( x) x 2 3

x
12 1,5

5,25

2,05

7,2025 1,95

6,8025

2,001

7,004001 1,999

2,0001

7,00040001 1,9999

6,996001
6,99960001

Dari table terlihat bahwa apabila x cukup dekat dengan 2, maka f (x) mendekati 7. Hal ini tidak
mengherankan, karena apabila dihitung f (2) 2 2 3 7 . Dalam hal ini dikatakan bahwa limit f(x) x
mendekati 2 sama dengan 7, ditulis:
lim f ( x) 7

x2

Selanjutnya, perhatikan fungsi f yang ditentukan oleh rumus:

59

f ( x)

x2 1
x 1

Fungsi f tersebut tidak terdefinisikan di x = 1 karena di titik ini f(x) berbentuk

0
. Tetapi masih dapat
0

dipertanyakan apa yang terjadi pada f(x) bilamana x mendekati 1 tetapi x 1 . Untuk x 1 ,

x 2 1 ( x 1)( x 1)

x 1 g ( x)
x 1
x 1

f ( x)

(a). f ( x )

x 1

, D

R {1}

(b). g ( x ) x 1, D g R

Gambar 3.1.2

Dari table 3.1.2 di bawah terlibat bahwa apabila x cukup dekat dengan 1, maka nilai f (x) mendekati 2.
Jadi,

x2 1
2
x1 x 1
lim

60

Tabel 3.1.2

f ( x)

x 1
x 1
x 1

x2 1
x 1
x 1

3 0,5

1,05

1,5

2,05 0,99

1,001
1,00000017

f ( x)

1,99

2,001 0,999975
2,00000017 0,9999999

1,999975
1,9999999

Dari beberapa uraian di atas, berikut diberikan definisi limit.

Definisi 3.1.1 Limit f(x) x mendekati c sama dengan L, ditulis:


lim f ( x) L

x c

jika untuk setiap x yang cukup dekat dengan c, tetapi x c , maka f(x) mendekati L.

Secara matematis definisi di atas dapat ditulis sebagai berikut.

lim f ( x) L jika untuk setiap bilangan > 0 yang diberikan (berapapun kecilnya) terdapat bilangan

x c

> 0 sehingga untuk setiap x D f dengan 0 x c berlaku f ( x) L .

Catatan: Pada definisi limit di atas, fungsi f tidak perlu terdefinisikan di c. Limit f(x) untuk x mendekati c
mungkin ada walaupun f tidak terdefinisikan di c.

Contoh 3.1.2 Buktikan bahwa lim (2x 5) = 3.


x 4

61

Penyelesaian:
|(2x 5) 3| = |2x 8| = |2(x 4)| = |2| |x 4| = 2|x 4|
Diberikan bilangan > 0 sebarang. Apabila diambil = /2, maka untuk setiap x di dalam domain f yang
memenuhi 0 <|x 4| < berlaku:
|(2x 5) 3| = 2 |x 4| < 2 = 2./2 = .

Contoh 3.1.3 Buktikan bahwa untuk c > 0, lim

x c

x c.

Penyelesaian:
(3.1.1)

x c

Ditinjau x >0 dengan sifat x c

x c

x c
x c

xc

x c

c
. Menurut ketidaksamaan segitiga:
2

x x c xc c

c c

2 2

Hal ini berakibat:


(3.1.2)

c
2

Selanjutnya, dari (3.1.1) dan (3.1.2) diperoleh:

x c

xc
x c

2 xc
3c

c 3c
untuk setiap x>0. Diberikan bilangan > 0 sebarang. Apabila diambil min ,
maka untuk
2
2

setiap x>0 dengan 0 x c berlaku:

x c

xc
x c

62

2 xc
3c

Jadi, untuk setiap > 0 terdapat >0 sehingga untuk setiap x>0 dengan 0 x c berlaku:

x c

xc
x c

2 xc
3c

Agar bisa lebih mendalami hitung limit, berikut diberikan sifat-sifat dasar limit.
Teorema 3.1.4 Jika lim f ( x) ada maka nilainya tunggal.
x c

Bukti: Misalkan lim f ( x) L dan lim f ( x) K . Akan ditunjukkan bahwa L K .


x c

x c

Diberikan 0 sebarang, maka terdapat 1 , 2 0 sehingga:


i.

f ( x) L

,
2

untuk setiap x D f dengan 0 x c 1 .

ii.

f ( x) K

,
2

untuk setiap x D f dengan 0 x c 2 .

Apabila diambil min 1 , 2 maka untuk setiap x D f dengan 0 x c berlaku:

L K L f ( x) f ( x) K
Hal ini berarti L K .

Contoh 3.1.5 Tunjukkan bahwa lim

x 0 x

tidak ada.

Penyelesaian: Untuk x 0 ,

lim

x 0 x

x
1
x 0 x

lim

Sementara, untuk x 0 ,

lim

x 0 x

x
1
x 0 x

lim

63

Karena nilai limit tidak tunggal maka lim

x 0 x

tidak ada.

3.2 Teknik Aljabar Untuk Menghitung Limit


Sifat-sifat dasar limit yang dinyatakan dalam beberapa teorema berikut ini sangat diperlukan dalam
hitung limit. (Dengan berbagai pertimbangan bukti teorema tidak disertakan dalam buku ini).
Teorema 3.2.1 (i). lim A A , A, c R .
x c

(ii). lim x c .
x c

Teorema 3.2.2 Jika lim f ( x) dan lim g ( x) keduanya ada dan k R maka berlaku pernyataanx c

x c

pernyataan berikut:
i.
ii.
iii.

iv.

lim

x c

f ( x) g ( x)

lim f ( x) lim g ( x)

x c

x c

lim kf ( x) k lim f ( x)

x c

x c

lim f ( x) g ( x) lim f ( x). lim g ( x)

x c

x c

x c

lim f ( x)
f ( x) x c
lim

, asalkan lim g ( x) 0
lim g ( x)
x c
x c g ( x)
x c

v.

Untuk n N : (a). lim

x c

f ( x) n lim

(b). lim

f ( x) n lim

(c). lim

f ( x) 1 n lim

x c

x c

f ( x)
x c

f ( x)
x c

1n

f ( x)
x c

, asalkan lim f ( x) 0
x c

, asalkan untuk n genap lim f ( x) 0


x c

64

Contoh 3.2.3
(a). lim (2 x 2 7 x 6)
x2

lim 2 x 2 lim 7 x lim 6

2 lim x 2 7 lim x lim 6

3 .2 .2 ( i ) x 2

x2

x2

3.2.2 (ii )

x2

x2

x2

2 lim x 7 lim x lim 6


3.2.2 ( v.a ) x 2
x2
x2
2.2 2 7.2 6 0

3.2.1

(b). lim 7 x 2 x 1
x 1

lim 7 x. lim 2 x 1

3.2.2 (iii ) x 1

x 1

7 lim x lim (2 x 1) 7.1 2.1 1 7


3.2.2 (ii) & (v.c) x 1 x 1

lim (2 x 3)
2x 3
2.(1) 3
1
x 1

(c). lim
.
x 1 5 x 2 3.2.2 (iv ) lim (5 x 2) 5.( 1) 2 3
x 1

Contoh 3.2.4 Hitung lim

x2

x 2 3x 2
x2 4

Penyelesaian: Karena limit penyebut sama dengan 0, maka Teorema 3.2.2 (iv) tidak dapat digunakan.
Akan tetapi, hal ini bukan berarti limit di atas tidak ada. Pada soal di atas, yang akan dihitung adalah nilai
limit untuk x mendekati 2, bukan nilai untuk x sama dengan 2. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan
teknik-teknik aljabar, untuk x 2 diperoleh:

x 2 3x 2
x2 4

( x 2)( x 1) x 1

( x 2)( x 2) x 2

Sehingga:

lim

x2

x 2 3x 2
2

x 4

x 1
2 1 1

.
x 2 x 2 3.2.2 (iv ) 2 2 4

lim

65

x 1

Contoh 3.2.5 Tentukan lim

x 1

x 1

Penyelesaian:

lim

x 1

x 1

x 1

Contoh 3.2.6 Tentukan lim

x 2

lim

x 4 16

x 2

x3 8
x 4 16

lim

x 2

lim

x 2

x3 (2)3
x 4 (2) 4

x 1 1 1 2 .

x (2) x 2 x.(2) (2)2


x 2 x ( 2) x3 x 2 .( 2) x.( 2) 2 ( 2)3

lim

x2 2 x 4
3

x 1

Penyelesaian:
lim

lim

x 1

x 1

x 1

x3 8

x 1

2x 4x 8

444
3
.
8888
8

Pada contoh-contoh di atas telah digambarkan bagaimana teknik-teknik aljabar dapat digunakan
untuk menyelesaikan soal hitung limit. Namun demikian tidak semua soal limit dapat diselesaikan dengan
sin x
.
x 0 x

cara demikian. Sebagai contoh, misalnya lim

Dalam berbagai hal, teorema di bawah ini sangat membantu dalam penyelesaian soal hitung limit.
Teorema 3.2.7 (Teorema Apit) Misalkan f, g, dan h fungsi-fungsi sehingga f ( x) g ( x) h( x)
untuk semua x di dalam interval terbuka yang memuat c, kecuali mungkin di c. Jika
lim f ( x) lim h( x) L maka lim g ( x) L .

x c

x c

x c

Contoh 3.2.8 Tentukan lim x sin .


x
x 0

66

Penyelesaian: Untuk x 0 , sin

1
1 . Oleh karena itu, untuk x 0 berlaku:
x
x sin

1
1
x sin x
x
x

Hal ini berakibat:


x x sin

1
x
x

Selanjutnya, karena lim x lim x 0 maka lim x sin 0 .


x
x 0
x 0
x 0

Soal Latihan
Untuk soal 1 6, tunjukkan pernyataan berikut dengan definisi limit.
1 1

2
x2 x

1. lim ( x 2) 3
x 1

x2
2
x 0 x 1

5. lim

4. lim

1,

7. Jika f ( x)
1,

3. lim x 2 1

2. lim

x4

x 1

x 2

x2 1
2
x 1 x 1

6. lim

x0
, tunjukkan bahwa lim f ( x) tidak ada.
x 0

x0

Untuk soal 8 20, hitunglah masing-masing limit jika ada.


8. lim ( x 2 20)
x 5

11. lim

x2

x 2 2x 8
x2 4

9. lim ( x 2 3 x 1)
x 2

12. lim

x 1

x 1

x2
x 0 x 3

10. lim

13. lim

x 1

x2

67

x 6 64
x3 8

14. lim

s4 1

s 1 s 3

17. lim

x2

20. lim

h0

x2 4
3 x2 5
xh x
h

u3 2 1
u 1 1 u

16. lim

xn an
xa x a

19. lim

(1 x) (1 2)
x2
x2

22. lim

15. lim

2 x2 3

x 1

1 x2

xn an
x a x a

18. lim

21. lim

x 0

1 x 1
x

3.3 Limit Satu Sisi


Kiranya mudah dipahami bahwa lim

x 0

Namun demikian, apabila x 0 maka lim

x 0

x tidak ada, karena

x tidak terdefinisikan untuk x 0 .

x ada dan nilainya sama dengan 0. Hal ini membawa kita

kepada definisi berikut ini.

Definisi 3.3.1 (i). Misalkan f(x) terdefinisikan pada suatu interval (c, c ) . Apabila untuk x di
dalam (c, c ) yang cukup dekat dengan c, nilai f(x) mendekati L, maka dikatakan bahwa L
merupakan limit kanan f(x) untuk x mendekati c, ditulis:

lim f ( x) L

x c

(ii). Misalkan f(x) terdefinisikan pada suatu interval (c , c) . Apabila untuk x di dalam (c , c)
yang cukup dekat dengan c, nilai f(x) mendekati L, maka dikatakan bahwa L merupakan limit kiri f(x)
untuk x mendekati c, ditulis:

lim f ( x) L

x c

Secara matematis, definisi di atas dapat dituliskan sebagai berikut:

68

(i).

lim f ( x) L jika dan hanya jika untuk setiap 0 ada 0 sehingga untuk setiap x (c, c )

x c

berlaku f ( x) L .
(ii). lim f ( x) L jika dan hanya jika untuk setiap 0 ada 0 sehingga untuk setiap x (c , c)
x c

berlaku f ( x) L .

L
L

L
L

c+

c-

(a)

(b)
Gambar 3.3.1

x 0

Contoh 3.3.2 (a). lim

x 0

dan

lim

x 0

x tidak ada.

(b). Untuk bilangan bulat n,

lim

x n

x n

dan

lim

x n

x n 1

Contoh 3.3.3 Tentukan lim f ( x), lim f ( x), lim f ( x), dan lim f ( x) jika diketahui:
x 0

x 0

x 1

69

x 1


2 x 1,

f ( x)
x 1
2 ,
x 1

x 1
x 1

Penyelesaian:
(a). Untuk x cukup dekat dengan 0 (baik x < 0 maupun x > 0), f ( x) 2 x 1 . Oleh karena itu,
lim f ( x) lim (2 x 1) 1

x 0

x 0

lim f ( x) lim (2 x 1) 1

x 0

x 0

(b). Untuk x cukup dekat dengan 1 dan x < 1, f ( x) 2 x 1 . Sehingga:

lim f ( x) lim (2 x 1) 1

x 1

x 1

Tetapi, untuk x cukup dekat dengan 1 dan x > 1, f ( x)


lim f ( x) lim

x 1

x 1

x 1
2

x 1

x 1
x2 1

. Sehingga:

x 1
1
1
lim
.

x 1 ( x 1)( x 1) x 1 x 1 2

lim

Dari beberapa contoh di atas, diperoleh beberapa kenyataan. Limit kiri suatu fungsi ada tetapi limit
kanannya tidak ada (atau sebaliknya), limit kiri dan kanan suatu fungsi ada tetapi nilainya tidak sama, dan
limit kiri dan kanan suatu fungsi ada dan nilainya sama. Selanjutnya, karena ketunggalan limit maka
diperoleh pernyataan berikut.
Teorema 3.3.4 lim f ( x) L jika dan hanya jika lim f ( x) lim f ( x) L .
x c

x c

x c

Sebagai akibat langsung dari Teorema di atas, diperoleh:


Akibat 3.3.5 Jika lim f ( x) lim f ( x) maka lim f ( x) tidak ada.
x c

x c

xc

Pada Contoh 3.3.3 di atas, karena lim f ( x) lim f ( x) maka lim f ( x) tidak ada.
x 1

x 1

70

x1

Contoh 3.3.6 Diberikan:

2 x 1,

f ( x)
x3 ,

x 1
x 1

Karena untuk x 1 , f ( x) 2 x 1 , maka:

lim f ( x) lim (2 x 1) 1 .

x 1

x 1

Secara sama,

lim f ( x) lim x3 1 .

x 1

x 1

Selanjutnya, karena lim f ( x) 1 lim f ( x) maka: lim f ( x) 1 .


x 1

x 1

x 1

Contoh 3.3.7 Tentukan lim f ( x) jika diketahui:


x 2

x,

f ( x)
x ,

x2
x2

Penyelesaian:

lim f ( x) lim x 2

lim f ( x) lim x 2

x 2

x 2

x 2

x 2

Jadi, lim f ( x) 2 .
x2

3.4 Limit Tak Hingga dan Limit Menuju Tak Hingga


Terlebih dahulu diperhatikan masalah hitung limit berikut: lim
x0

cukup dekat dengan 0, maka nilai-nilai f ( x)

1
x2

1
x2

. Untuk nilai-nilai x yang

diberikan pada table berikut ini.

71

Tabel 3.4.1

1
x

x2

1 1

0,5

4 0,5

0,01
0,0001
0,000005

10.000 0,01

10.000

100.000.000 0,0001

100.000.000

40.000.000.000 0,000005

40.000.000.000

Dari Tabel 3.4.1 di atas dapat dilihat bahwa apabila nilai x semakin dekat dengan 0, maka nilai f ( x)
menjadi semakin besar. Bahkan nilai f ( x)

1
x2

1
x2

akan menjadi besar tak terbatas apabila x mendekati 0,

baik dari sisi kiri maupun dari sisi kanan. Grafik fungsi f ( x)

f ( x)

1
x2

Gambar 3.4.1

72

1
x2

dapat dilihat pada Gambar 3.4.1.

Dalam hal ini, dikatakan bahwa limit f(x) x menuju nol sama dengan tak hingga, ditulis:
lim f ( x)

x 0

Secara sama mudah diperlihatkan:

lim

x 0

x2

Selanjutnya, diperoleh definisi berikut:

Definisi 3.4.1 (i). lim f ( x) jika untuk setiap x cukup dekat dengan c, tetapi x c , maka f(x)
x c

menjadi besar tak terbatas arah positif.


(ii). lim f ( x) jika untuk setiap x cukup dekat dengan c, tetapi x c , maka f(x) menjadi besar
x c

tak terbatas arah negatif.

Secara matematis, Definisi di atas dapat ditulis sebagai:

lim f ( x) (atau ) jika untuk setiap bilangan real M 0 terdapat bilangan real 0

x c

sehingga untuk setiap x D f dengan sifat 0 x c berlaku f ( x) M (atau f ( x) M )

Contoh 3.4.2

x 1 x 1

(a). lim

(b). lim

x 0

1
3

x x

1 1

.
x 0 x 2 x 1

lim

Di atas telah diterangkan pengertian limit untuk x c , dengan c suatu bilangan berhingga. Akan
tetapi, dalam berbagai aplikasi sering ditanyakan bagaimana nilai f (x) apabila nilai x cukup besar.

73

Sebagai contoh, bagaimana nilai

f ( x)

1
apabila nilai x cukup besar? Tabel 3.4.2 di bawah
x

memperlihatkan nilai f untuk berbagai nilai x. Ternyata semakin besar nilai x (arah positif), nilai f (x)
semakin kecil mendekati nol. Dalam hal ini dikatakan:
1
0
x x
lim

Tabel 3.4.2
(a)

(b)

1
f ( x)
x

x
10

x
0,1

f ( x)

1
x

1.000.000

0,000001

1.000.000

0,000001

5.000.000

0,0000002

5.000.000

0,0000002

100.000.000

0,00000001

100.000.000

0,00000001

Secara sama, apabila x besar tak terbatas arah negative ternyata berakibat f (x) mendekati nol, yaitu:

lim

Kemudian dapat diturunkan pengertian limit menuju tak hingga. Hal itu dituliskan dalam definisi
berikut.
Definisi 3.4.3 (i). lim f ( x) L jika f (x) terdefinisikan untuk setiap nilai x cukup besar (arah positif)
x

dan jika x menjadi besar tak terbatas (arah positif) maka f (x) mendekati L.
(ii). lim

f ( x) jika f (x) terdefinisikan untuk setiap nilai x cukup besar (arah negatif) dan jika x

menjadi besar tak terbatas (arah negatif) maka f (x) mendekati L.

74

Secara matematis, Definisi 3.4.3 dapat ditulis sebagai:

(i).

lim f ( x) L jika untuk setiap bilangan real 0 terdapat bilangan M 0 sehingga untuk

setiap x M berlaku f ( x) L .
(ii). lim

f ( x) L jika untuk setiap bilangan real 0 terdapat bilangan M 0 sehingga untuk

setiap x M berlaku f ( x) L .

Mudah ditunjukkan bahwa:


1
0
x x

1
0
x x

dan

lim

Contoh 3.4.4 Tentukan lim

1
3

x 9

lim

Penyelesaian: Untuk x 0 , x3 9 x . Sehingga 0

1
3

x 9

1
1
0 maka
. Selanjutnya, karena lim
x
x x

dengan Teorema Apit diperoleh:

lim

1
3

x 9

Contoh 3.4.5 Hitung lim

0 .

x2 2x 3

x 2 x 2 4 x 7

Penyelesaian: Karena:

lim x 2 2 x 3 lim x( x 2) 3

lim 2 x 2 4 x 7

maka sifat limit perbagian tidak dapat digunakan. Namun demikian apabila pembilang dan penyebut samasama dibagi dengan x 2 maka:

75

lim

x2 2x 3 x2
x 2 x 2 4 x 7 x 2

x2 2 x 3

lim

2 x2 4 x 7

2 3
2 3
lim 1 2
2
x x 1 0 0 1
x
x x
lim

.
4 7

4 7 200 2
x
2 2
lim 2 2
x x
x x
x
1

x3 7 x 6

Contoh 3.4.6 Tentukan lim

x x5 2 x3 7 x 10

Penyelesaian: Dengan membagi pembilang dan penyebut dengan x5 , diperoleh:

x3 7 x 6
lim

x3 7 x 6
x5 2 x3 7 x 10

x5
x x5 2 x3 7 x 10

lim

x5
7
6
1
lim


2
4
x x
x
x5 0 0 0 0 .

2
7 10 1 0 0 0

lim 1


2
x
x
x 4 x5

Contoh 3.4.7 Hitung lim

x 6 2 x3 7 x 6

x x5 2 x3 7 x 10

Penyelesaian: Dengan membagi pembilang dan penyebut dengan x5 , diperoleh:

x 6 2 x3 7 x 6
lim

x 6 2 x3 7 x 6
x5 2 x3 7 x 10

x5
x x5 2 x3 7 x 10

lim

x5

76

2
7
6

lim x


2
4
x
x
x
x5 0 0 0 .

1 0 0 0
2
7 10

lim 1


x
x 2 x 4 x5

Soal Latihan
Untuk soal 1 20, tentukan nilai limitnya jika ada. Jika tidak ada limitnya, terangkan alasannya!
1. lim

2 x

4. lim

1
( x 2) 2

x2

x2

10. lim
x

xa

x 2

11. lim

2x 5
3x 2

14. lim
x

x3 2x 3

19. lim x x 2 2 x

6. lim

x2
x2

9. lim

x 3

x 1

x 2

7 x 2 5 x 11
3 x 5 4 x 2 11x 21

1 x 2 2x

12. lim
x

15. lim
x

x2
x2

17. lim
x
2x 1 2x 1

x 3 2 5x 2

16. lim

xa
( x a) 2

8. lim

3x 3 5 x 2 7
8 2 x 5x 3

13. lim

5. lim

1 x2

x 1

3. lim

x 1

7. lim

x 1

2. lim

20. lim

2 x 5x

18. lim
x 1

21. Tentukan lim f ( x) , lim f ( x) , dan lim f ( x) jika diberikan:


x 1

x0

x3

2 x 1,

2
x 3x ,

f ( x) x 2 3x

5 x 1,

77

x0
0 x3
x3

1
3 x

x
1 x2
x2
x2
3x 2 x
1 x

x7
x 7x 5
2

x2 x
x x2

22. Fungsi f yang terdefinisikan pada [ a, a ] dikatakan genap (atau ganjil) jika f ( x) f ( x) (atau
f ( x) f ( x) ) untuk setiap x [ a, a ] . Jika lim f ( x) L maka tentukan lim f ( x) jika: (a). f
x 0

genap,

x 0

(b). f ganjil.

3.5 Limit Fungsi Trigonometri


Dengan memanfaatkan Teorema Apit, dapat ditunjukkan teorema di bawah ini.

sin x
x
lim
1.
x 0 x
x 0 sin x

Teorema 3.5.1 (i). lim

tan x
x
lim
1.
x 0 x
x 0 tan x

(ii). lim

sin 5
.
0 tan 3

Contoh 3.5.2 Hitung lim


Penyelesaian:

sin 5
sin 5
3
1
sin 5
3
5
lim
5
lim
. lim
. lim
tan 3 3 0 5
0 tan 3
0 5
0 tan 3 0 3
lim

Tetapi untuk 0 berakibat 3 0 dan 5 0 , sehingga:


sin 5
sin 5
3
5
5 5
lim
. lim
. lim
1.1. .
3 3
0 tan 3
5 0 5
3 0 tan 3 0 3
lim

Soal Latihan
Untuk soal 1 12, hitunglah nilai limitnya.
1. lim
x 0

4. lim

sin 5 x
tan 2 x

x 0

x3
2

3 sin 2 x

2. lim

x 2

sin 2 4 x
x 0 x tan 3 x

cos x
x 2

3. lim

1 cos x
x 0 x sin 3 x

sin( a x)
xa
xa

5. lim

6. lim

78

2x
x 0 sin 3 x sin 4 x

x tan 5 x
x 0 cos 2 x cos 7 x

7. lim

sin x sin a
xa
xa

8. lim

9.

1
1
11. lim

x 0 sin x tan x

10. lim

1 sin x
x 2 cos x
lim

1
1
12. lim

x 0 x x cos x

3.6 Bilangan Alam


Pada bagian ini, pembaca diingatkan kembali pada rumus binomium Newton. Untuk sebarang
a, b R dan n N :
n n

nk k
n(n 1) n 2 2
b a n n a n 1 b
a
b ... b n
a
2
!
k 1 k

a b n

(3.6.1)

Apabila diambil a 1 dan b

1
, maka dari (3.6.1) diperoleh:
n

n n
n
2
n
n k 1 k
n(n 1) 1
1
1
1

...


2!
n
n
n
n
k 1 k

1 1 1 1 2
1 1 2 n 2 n 1
1 1 1 ... 1 1 ...1
1

2! n 3! n n
n! n n
n
n

1
1
Karena 1 1 3 maka menurut Teorema Apit nilai lim 1 ada. Berdasarkan perhitungan,
n
n
n
untuk n diperoleh:
n

1 1 1
1
lim 1 2 ... 2,718... e
n
2! 3! 4!
n
Selanjutnya, e disebut bilangan alam. Secara sama dapat ditunjukkan:
(3.6.2)

1
lim 1
n
n

Mudah ditunjukkan bahwa untuk n m berlaku:

79

1
1

1 1
n
m

Selanjutnya, apabila diberikan sebarang bilangan real positif x maka dapat dicari bilangan asli m dan n
sehingga n x m . Hal ini berakibat:
n

1
1
1

1 1 1
x
n

m
n

1
1

dan karena lim 1 lim 1


n
m
n
m

e maka sekali lagi dengan Teorema Apit diperoleh:


x

1
lim 1 e
x
x

(3.6.3)

Berdasarkan (3.6.2), tentunya mudah dipahami bahwa:


x

1
lim 1 e
x
x

(3.6.4)

Selanjutnya, apabila diambil substitusi u

1
, maka untuk u 0 berakibat x . Sehingga, dari
x

(3.6.3) dan (3.6.4) diperoleh:

lim 1 u

1u

(3.6.5)

u 0

Contoh 3.6.1 Hitung lim 1

1 x
x

1
lim 1 e
x
x

3 x 5

Penyelesaian: Apabila diambil substitusi

.
2
1
maka berturut-turut diperoleh:
1 x y

(i). x 1 2 y , sehingga 3 x 5 6 y 2 .
(ii). Karena y

1 x
maka untuk x berakibat y .
2

Selanjutnya, berdasarkan (3.6.4):

80

lim 1

1 x
x

3 x 5

1
lim 1
y
y

6 y 2

1 y

lim 1
y
y

1
lim 1
y y

1
lim 1
y
y

1
lim 1
y
y

6 y

1
1
y

1
lim 1
y y

e 6 .1 e 6 .

Contoh 3.6.2 Tentukan lim 2 x 1 x 1 .


x 1

Penyelesaian: Soal dapat ditulis:

lim 2 x 1 x 1 lim 1 (1 x) 1 x 1

x 1

x 1

Diambil substitusi y 1 x . Jika x 1 maka y 0 . Selanjutnya, menurut (3.6.5) diperoleh:


1 x 1

lim 2 x

x 1

1 x 1

lim 1 (1 x)
x 1

lim 1 y

1 y

y 0

lim 1 y 1
y 0

1
.
e

Teorema berikut ini sangat bermanfaat untuk menyelesaikan soal-soal hitung limit yang berkaitan
dengan bilangan alam. Bukti diserahkan kepada pembaca sebagai latihan.
Teorema 3.6.3 Apabila lim f ( x) 0 dan lim g ( x) (atau ) maka:
x c

x c

lim f ( x ).g ( x )

lim 1 f ( x) g ( x ) e x c

x c

x 1
Contoh 3.6.4 Tentukan lim

x
x 1

3 x2

Penyelesaian: Soal dapat ditulis:

81

x 1
lim

x
x 1

Apabila berturut-turut diambil f ( x)

3 x2

lim 1

x
x 1

3 x2

2
dan g ( x) 3 x 2 maka:
x 1

lim f ( x) 0

lim g ( x)

dan

Selanjutnya, menurut Teorema 3.6.3:


x 1
lim

x
x 1

3 x2

lim 1

x
x 1

3 x2

lim

2
(3 x 2)
x 1

e 6 .

Contoh 3.6.5 Hitung lim x

x 2 3 x 2

x 1

Penyelesaian:
x

lim x x

3 x 2

x 1

lim 1 x 1

x 2 3 x 2

x 1

Selanjutnya, jika diambil f ( x) x 1 dan g ( x)


lim f ( x) 0

x
maka:
x 3x 2
2

lim g ( x)

dan

x 1

x 1

Sehingga menurut Teorema 3.6.3:


x

lim x

x 3 x 2
2

x 1

lim 1 x 1
x 1

lim

x 1

x ( x 1)
( x 2 )( x 1)

x 2 3 x 2

lim ( x 1).
x 1

x
x 2 3 x 2

e 1 .

2 x 3x
Contoh 3.6.6 Selesaikan lim
.
x 0
3x
Penyelesaian: Tulis:

2 x 3x
2 x 1 1 3x
2x 1
3x 1
lim
lim
lim
lim
x 0
x 0
x 0
x 0
3x
3x
3x
3x
Berturut-turut diambil substitusi:

82

u 2x 1

v 3x 1

dan

maka:
(i). lim
x 0

2x 1
u
1
1
1
lim 2

1
u
2
u 0 3. log(1 u )
3x
3 lim log1 u
3

u 0

(ii). lim
x 0

log lim 1 u

1u

u 0

1 1
1
.2
ln 2
3 log e 3

3x 1
u
1
1
1
1
1 1
1
lim 3

3
.3
ln 3
1
u
1
u
3
u 0 3. log(1 u )
3x
3 lim log1 u
3 log lim 1 u
3 log e 3
u 0

u 0

Selanjutnya, dari (i) dan (ii) diperoleh:

lim
x 0

2 x 3x 1
ln 2 ln 3 .
3x
3

Soal Latihan
Untuk soal 1 10, hitunglah nilai limitnya.

1. lim 1

x 2
x
x 1
3. lim

x x 2

3 x 1

2. lim x 11 ( x 2)
x2

2 x

4. lim x 2 3 x 3 1 ( x 1)
x 1

3 2 x 1 2 x 1
2x
x 0

2x 1
x
x 0

5. lim

6. lim

x 1
7. lim
x 1 ln x

3x 1
8. lim

x 3x 1
1 x2

x2 1

9. lim
x 0 x 2 2 x 1

7 x 5

1 ( x 2 7 x)

x 1

10. lim
x 0 x3 x 1

83

3.7 Fungsi Kontinu


Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, kadang-kadang nilai lim f ( x) sama dengan
x c

f (c) , kadang pula tidak sama. Pada kenyataannya, meskipun f (c) tidak terdefinisikan akan tetapi

lim f ( x) mungkin ada. Apabila lim f ( x) = f (c) maka dikatakan fungsi f kontinu di c.
x c

x c

Definisi 3.7.1 Fungsi f dikatakan kontinu di a D f jika lim f ( x) f (a ).


xa

Definisi 3.7.1 di atas secara implisit mensyaratkan tiga hal agar fungsi f kontinu di a, yaitu:
(i). f(a) ada atau terdefinisikan,
(ii). lim f x ada, dan
x a

(iii). lim f x f a
xa

Secara grafik, fungsi f kontinu di x a jika grafik fungsi f pada suatu interval yang memuat a tidak
terpotong di titik (a, f (a )) . Jika fungsi f tidak kontinu di a maka dikatakan f diskontinu di a. Pada
Gambar, f kontinu di x1 dan di setiap titik di dalam (a, b) kecuali di titik-titik x2, x3, dan x4. Fungsi f
diskontinu di x2 karena lim f ( x) tidak ada, diskontinu di x3 karena nilai lim f ( x) tidak sama dengan nilai
x x2

x x3

fungsi di x3 (meskipun keduanya ada), dan diskontinu di x4 karena nilai fungsi di titik ini tidak ada.

y f x

x1

x2

x3

x4

Gambar 3.7.1

84

Fungsi f dikatakan kontinu pada interval I jika f kontinu di setiap titik anggota I.

Contoh 3.7.2

x 2 1
(a). Fungsi f dengan rumus f x
diskontinu di x = 1 karena f (1) tidak terdefinisi.
x 1
(b). Fungsi Heavyside H yang didefinisikan oleh

0 jika x 0
H x
1 jika x 0
diskontinu di x = 0 sebab lim H x tidak ada.
x0

(c). Fungsi g dengan definisi:


x2 4

x2
g x

jika x 2
jika x 2

x2 4
diskontinu di x = 2 sebab g(2) = 3 sedangkan lim g x lim
lim x 2 4 . Namun demikian
x 2
x2 x 2
x2
fungsi g kontinu di x = 1 sebab lim g x 3 g 1 .
x 1

Berikut sifat-sifat dasar fungsi kontinu.

Teorema 3.7.3

Jika fungsi f dan g kontinu di a, dan k sebarang konstanta real, maka f+g,

f g, kf, dan fg kontinu di a. Demikian pula,

f
kontinu di a asalkan g a 0 .
g

85

Seperti halnya pada hitung limit, dalam kekontinuan juga dikenal istilah kontinu satu sisi. Hal itu
diberikan pada definisi berikut ini.
Definisi 3.7.4 (i). Fungsi f dikatakan kontinu dari kiri di a jika lim f a .
x a

(ii). Fungsi f dikatakan kontinu dari kanan di c jika lim f x f c .


x c

Contoh 3.7.5 Diberikan f x 1 x 2 . Selidikilah kekontinuan fungsi f.


Penyelesaian:
Jelas f tidak kontinu pada , 1 dan pada 1 , sebab f tidak terdefinisi pada interval tersebut.
Untuk nilai-nilai a dengan 1 < a <1 diperoleh:
lim f x lim

x a

xa

1 x 2

lim 1 x 2 1 a 2 f a

xa

Jadi, f kontinu pada (1, 1). Dengan perhitungan serupa didapatkan:


lim

x 1

f x 0 f 1

dan

lim f x 0 f 1

x 1

sehingga f kontinu dari kanan di x = 1 dan kontinu dari kiri di x = 1. Jadi, f kontinu pada 1,1 .

Teorema 3.7.6 Fungsi polinomial, fungsi rasional, fungsi akar, fungsi logaritma, fungsi eksponen, dan
fungsi trigonometri kontinu pada domainnya masing-masing.

Contoh 3.7.7
(a). f x x 2 x 1 kontinu pada R .
(b). f x

x3 5x
x 2 1

kontinu pada x R ; x 1 , x 1

(c). f x x 1 kontinu pada 1, .

86

Hubungan antara fungsi kontinu dan hitung limit dinyatakan dalam teorema berikut.
Teorema 3.7.8 Jika f kontinu di b dan lim g x b, maka lim f g x f b . Dengan kata lain
x a

xa

lim f g x f lim g x
x a
xa

Contoh 3.7.9 Hitung lim ln 1 x .


x 1

Penyelesaian: Namakan f x ln x dan g x 1 x . Karena

lim g x 2 dan f kontinu di x = 2 maka

x 1

lim ln 1 x lim f g x f lim g x ln lim g x ln 2 .


x 1
x 1
x 1

x 1

Soal Latihan
Untuk soal 1 8, tentukan titik-titik di mana fungsi berikut diskontinu.
1. h( x) x

3
x

4. g ( x) x tan x
3 x 2 1, x 3

7. g ( x) 5 , 1 x 3
3x 2 , x 1

9. Selidiki kontinuitas f ( x)

2. f ( x) 3 x 2 1

5. f ( s )

2s
s2 3

x,

8. f ( x) 2 x,
3 x 2 ,

1
pada [1, 5]
1 x

87

3. f ( x)

x2
x3 1

t2 4
6. h(t )
t2
x0
0 x 1 3
x 1 3

2x ,
10.Jika f ( x)
2
15 x ,

0 x 3
3 x 7

maka tunjukkan bahwa f kontinu pada [0,7] .

Untuk soal 11 13, tentukan nilai a dan b agar fungsi-fungsi berikut kontinu untuk pada R.

ax 2 3
,

11. f ( x) x 5

bx 2 ,

x5
x 5

tan ax
tan bx ,

4 ,

12. f ( x)

ax b ,

88

x0
x 0
x0

Fungsi Bernilai Vektor


By: Dr. Ch. Rini Indarti
Note:Sedang dikembangkan seiring dengan kuliah
Diperhatikan fungsi r dengan dengan perubah (parameter) t, yaitu r( t) .
Fungsi r : R Rn memetakan t R ke vektor r( t) = (f1(t), f2(t), ..., fn(t)) Rn,
dengan
f1 : R R, f2 : R R, ...., fn : R R fungsi.

Fungsi Bernilai Vektor di R2


Dalam ruang berdimensi 2 , fungsi bernilai vektor mempunyai bentuk
r( t) = f( t) , g( t)
Vektor r( t) = f( t) ,g( t) untuk t [ a,b] membentuk kurva dengan arah sesuai
kenaikan nilai parameternya Titik (f(a), g(a)) disebut titik asal (initial point) dan titik
(f(b), g(b)) disebut titik akhir (terminal point).

r(t+t)

Fungsi r( t) = f(t) ,g( t) , t [ a,b] , disebut parameterisasi kurva, dan untuk


keperluan membuat sketsa kurva, digunakan
x = f( t) ,

y = g( t) ,

t [ a,b]

Kemudian parameter t dieliminasi untuk mendapat x dan y.


Contoh 1 Sketsa kurva dengan parameterisasi r(t) = 1t2,2t2t4 untuk t di dalam
[ 0,1] .

Jawab: Perhatikan bahwa x = 1t2, berarti t2 = 1x. Karena y = 2t2t4, diperoleh


y = 2( 1x) ( 1x) 2

(1)

Yaitu y = 1x2. lebih lanjut, titik asal dan titik akhirnya adalah
Titik asal: ( t = 0)

x = 102 = 1, y = 2004 = 0

Titik akhir ( t = 1)

x = 112 = 0, y = 2114 = 1

Grafik r( t) = 1t2,2t2t4 untuk t [ 0,1] adalah kurva bagian y = 1x2 dengan


titik asal (1,0) dan titik akhir ( 0,1) .

Fungsi Bernilai Vektor di R3


Fungsi bernilai vector di R3 dalam perubah t berbentuk
r( t) = f( t) , g( t), h( t) ,

t [ a,b]

Vektor posisi r( t) = f( t) ,g( t) ,h( t) , t [ a,b] , membentuk kurva C dan r( t )


disebut parameterisasi kurva C.
Contoh 1: Buatlah sketsa kurva r(t) = cos( t) , sin( t), t untuk t [0,4].

Definisi: Diberikan fungsi r : R Rn, dengan r( t) = (f1(t), f2(t), ..., fn(t)) Rn.
Vektor L = (L1, L2, ..., Ln) dikatakan limit r( t) untuk t to, dituliskan lim r( t) = L
tt o

jika untuk setiap bilangan > 0, terdapat > 0 sehingga untuk setiap t dengan
0 t t o berlaku
r( t) - L < .

Teorema: Diberikan fungsi r : R Rn, dengan r( t) = (f1(t), f2(t), ..., fn(t)) Rn dan
vektor L = (L1, L2, ..., Ln) Rn. lim r( t) = L jika dan hanya jika lim f i (t ) Li untuk
t t o

tt o

i = 1, 2, ..., n.
Bukti: Diberikan bilangan > 0 sebarang.
() Diketahui lim r( t) = L. Berarti terdapat > 0 sehingga untuk setiap t dengan
tt o

0 t t o berlaku
r( t) - L < .
Perhatikan bahwa r( t) - L =

f1 (t ) L1 f 2 (t ) L2 f n (t ) Ln
2

Untuk setiap i (i = 1, 2, ..., n),

f i (t ) Li

f1 (t ) L1 f 2 (t ) L2 f n (t ) Ln
2

Dengan demikian, dengan mengambil i = untuk i = 1, 2, ..., n, maka untuk setiap t


dengan 0 t to i berlaku

f i (t ) Li < .
Berarti, untuk i = 1, 2, ..., n, lim f i (t ) Li .
t t o

() Diketahui untuk i = 1, 2, ..., n, lim f i (t ) Li


t t o

Berarti untuk setiap i = 1, 2, ..., n, terdapat i > 0 sehingga untuk setiap t dengan
0 t to i berlaku

f i (t ) Li <

.
n

Perhatikan bahwa dengan mengambil = min{i : i = 1, 2, 3, ..., n} > 0, maka untuk


setiap t dengan 0 t to berlaku
r( t) - L =

<

f1 (t ) L1 f 2 (t ) L2 f n (t ) Ln
2

f1 (t ) L1

f 2 (t ) L2

++

f n (t ) Ln

+
++
= .
n
n
n

Definisi: Diberikan fungsi r : R Rn, dengan r( t) = (f1(t), f2(t), ..., fn(t)) Rn.
Fungsi bernilai vektor r( t) dikatakan kontinu di to jika untuk setiap bilangan > 0,
terdapat > 0 sehingga untuk setiap t dengan t to berlaku
r( t) - r( to) < .
Teorema: Jika t titik limit di dalam domain fungsi bernilai vektor r : R Rn,
dengan r( t) = (f1(t), f2(t), ..., fn(t)), maka r( t) kontinu di to jika dan hanya jika

lim r( t) = r( to).
tt o

Teorema: Diberikan fungsi r : R Rn, dengan r( t) = (f1(t), f2(t), ..., fn(t)) Rn


vektor r( t) kontinu di to jika dan hanya jika fi kontinu di to untuk i = 1, 2, ..., n.
Bukti: PR dikumpulkan Selasa, 8 Maret 2005.

Diberikan r( t) = f( t) ,g( t) ,h(t) .

lim r( t) =

lim f( t) , lim g( t), lim h( t)

t p

t p

t p

(2)

t p

Asalkan masing-masing komponen limitnya ada .


Selanjutnya, derivatif r( t) = f( t) ,g( t),h( t) dapat dinyatakan
dr
r(t+t) r( t)
= lim
dt t 0
t
asalkan nilai limit ada.
dr
=
dt

f( t+t) f( t)

lim
t 0

, lim

g(t+t) g( t)

t 0

, lim

h( t+t) h(t)

t 0

Selanjutnya, dr/dt dinyatakan dengan v dan disebut vektor laju kecepatan dari r( t) .
Seterusnya, derivatif dari v( t) disebut percepatan (acceleration) r( t).
Teorema: Vektor kecepatan v( t) dari r( t) = f( t),g( t) ,h( t) adalah
v( t) =

dr
= f ( t) ,g( t) ,h( t)
dt

Percepatan dari r( t) diberikan


a( t) =

dv
= f ( t) ,g( t) ,h( t)
dt

Antiderivatif (integral tak tentu) dari r(t) = f( t) ,g( t) ,h(t) diberikan dengan
r( t) dt =

f( t) dt,

g( t) dt,

h( t) dt +C1,C2,C3

dengan C1,C2,C3 konstanta.

Contoh 2

Diberikan r( t) = t2,e2t,t3

Jawab:

v( t) =

a( t) =

d 2 d 2t d 3
t,
e ,
t
dt
dt
dt

d
d 2t d 2
2t,
2e ,
3t
dt
dt
dt

= 2t,2e2t,3t2
= 2,4e2t,6t

Vektor laju kecepatan sebagai vector singgung


Jika r( t) merupakan vektor posisi dari obyek yang bergerak saat t Vektor
r( t+t) r( t)
t

untuk t mendekati 0,

mendekati vektor singgung.


Theorem: Vektor laju kecepatan v = dr/dt merupakan vektor singgung r( t) .

Suatu kurva yang mempunyai vektor singgung di setiap titiknya disebut kurva licin
(smooth curve), dan parameterisasi r(t), t anggota [a,b], dikatakan smooth jika
merupakan parameterisasi kurva licin. Jika, r(t), t anggota [a,b], smooth jika v(t) ada
dan tidak nol nol untuk setiap t anggota [a,b].
Contoh 3

Buatlah sketsa v(1) dari r( t) = t3,t2 .

Jawab:
v( t) =

dr
= 3t2,2t
dt

Untuk t = 1 diperoleh
v( 1) = 3,2

Contoh 4

Buatlah sketsa v( 5/2) dari kurva heliks r( t) = 4cos( t), 4sin( t) ,t .

Jawab:
v( t) = 4 sin( t), 4 cos(t) ,1
Saat t = 5/2 adalah


=
2

4 sin



, 4 cos
,1
2
2

= 4,0,1