Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wilayah (region) dapat merupakan suatu unit geografi yang membentuk suatu kesatuan.
Pengertian unit geografi adalah "ruang", sehingga bukan hanya merupakan aspek fisik tanah
saja, akan tetapi lebih dari itu meliputi aspek-aspek lain seperti biologi, ekonomi, sosial,
budaya dan lain sebagainya.
Deliniasi wilayah merupakan suatu proses penggambaran ruang untuk membatasi zona
wilayah/kawasan lain disekitarnya. Dalam menentukan deliniasi suatu wilayah diperlukan
suatu konsep untuk menjadi acuan dalam penentuan deliniasi suatu wilayah. Salah satu
konsep yang dapat digunakan yaitu konsep homogenitas. Penetapan deliniasi wilayah
berdasarkan konsep homogenitas ini dapat diukur dari kesamaan wilayah dalam aspek sosial
dan ekonomi, melalui proses identifikasi dan penelitian secara saksama.
Dalam makalah ini kami mengambil analisis deliniasi wilayah Kabupaten Kudus. adalah
sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Ibukota kabupaten ini adalah Kota Kudus,
terletak di jalur pantai timur laut Jawa Tengah antara Kota Semarang dan Kota Surabaya.
Kota ini berjarak 51 kilometer dari timur Kota Semarang. Kabupaten Kudus berbatasan
dengan Kabupaten Pati di timur, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak di selatan,
serta Kabupaten Jepara di barat. Kudus dikenal sebagai kota penghasil rokok (kretek) terbesar
di Jawa Tengah dan juga dikenal sebagai kota santri. Kota ini adalah pusat perkembangan
agama Islam pada abad pertengahan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Kudus adalah
dataran rendah. Di sebagian wilayah utara terdapat pegunungan (yaitu Gunung Muria),
dengan puncak Gunung Saptorenggo (1.602 m dpl), Gunung Rahtawu (1.522 m dpl), dan
Gunung Argojembangan (1.410 m dpl). Sungai terbesar adalah Sungai Serang yang mengalir
di sebelah barat, membatasi Kabupaten Kudus dengan Kabupaten Demak. Kudus dibelah
oleh Sungai Gelis di bagian tengah sehingga terdapat istilah Kudus Barat dan Kudus Timur.
Kabupaten Kudus terdiri atas 9 kecamatan, yang dibagi lagi atas 123 desa dan 9 kelurahan.
Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kota Kudus. Kudus adalah kabupaten dengan
wilayah terkecil dan jumlah kecamatan paling sedikit di Jawa Tengah,sehingga seharusnya
menjadi Kota bukan Kabupaten. Kabupaten Kudus terbagi menjadi 3 wilayah pembantu
bupati (kawedanan), yaitu: (1) Kawedanan Kota (Kec. Kota Kudus, Jati dan Undaan). (2)
1

Kawedanan Cendono (Kec. Bae, Dawe, Gebog dan Kaliwungu). (3) Kawedanan Tenggeles
(Kec. Mejobo dan Jekulo). Rencana kedepan, akan ada kecamatan baru yaitu Kecamatan
Kota Kudus Barat, Kota Kudus Timur dan Kecamatan Muria yang merupakan pemecahan
dari Kecamatan Dawe. Sedangkan untuk Kecamatan Jekulo, akan dipersiapkan sebagai
Ibukota Kabupaten Kudus, untuk Kota Kudus tetap beribukota di Kota Kudus.
1.2 Tujuan Makalah
Adapun tujuan pembuatan makalah ini, diantaranya :
1. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Perencanaan Pembangunan Pertanian dan
Perdesaan
2. Untuk mengetahui pengelompokan wilayah berdasarkan kesamaan kondisi sosial dan
ekonomi
3. Untuk mengetahui hasil dari analisis pemetaan wilayah

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Wilayah
Ilmu wilayah (regional science) merupakan kajian yang sangat penting bagi seorang
perencana untuk dapat menggunakan pendekatan dan strategi pembangunan wilayah dengan
tepat. Ilmu wilayah adalah ilmu yang mempelajari wilayah sebagai suatu sistem, khususnya
yang menyangkut hubungan interaksi dan interdependensi antara subsistem utama ecosystem dengan subsistem utama social-system, serta kaitannya dengan wilayah lain dalam
membentuk suatu kesatuan wilayah guna pengembangan, termasuk penjagaan kelestarian
wilayah tersebut (Sutami, 1977).
Wilayah dapat didefinisikan sebagai suatu daerah tertentu di permukaan bumi yang dapat
dibedakan dengan daerah tetangganya atas dasar kenampakan karakteristik atau properti yang
menyatu. Walaupun ada bermacam batasan pengertian wilayah, ada beberapa unsur kesamaan
yang bila disimpulkan akan menjadi tiga dasar penggolongan, yaitu: kelompok pertama
mendasarkan definisi pada gejala-gejala kemanusiaan (human phenomena), kelompok kedua
mendasarkan pada gejala-gejala alamiah (natural phenomena) dan kelompok ketiga
mendasarkan pada gejala-gejala geografi (geographical phenomena) dengan mengkaitkan
faktor alamiah dan manusiawi dalam jalinan yang harmonis. Dari pengertian tentang wilayah
tersebut, konsep wilayah dapat dikelompokkan dalam :

Konsep Wilayah Berdasarkan Tipe


Menyoroti arti dan eksistensi wilayah berdasarkan tipe, titik tolaknya ada pada ide-ide

homogenitas dan heterogenitas.


a. Ide Homogenitas Populer dengan istilah formal region/homogeneous region/uniform
region. Dalam hal ini yang penting adalah keseragaman dari properti yang ada pada
wilayah tersebut, baik secara individual maupun gabungan dari beberapa unsur.
Dengan kesukaran dalam delimitasinya maka muncul istilah wilayah inti/core region
(Alexander,1963). Wilayah dari segi homogenitas, yang dipentingkan bukan sematamata pengenalan sejauh mana batas-batas terluar wilayah tertentu, melainkan
mengenal bagian intinya. Mengingat karakter utama suatu wilayah tercermin dari
bagian intinya. Daerah inti adalah bagian dari suatu wilayah yang memiliki derajat
diferensiasi paling besar diantara wilayah lain, sedang batas-batas wilayah dalam

pandangan ide homogenitas merupakan bagian dengan derajat diferensiasi terkecil


atau nol dari wilayah tetangganya. Daerah peralihan semata-mata merupakan wilayah
tersendiri dengan ciri tersendiri.
b. Ide Heterogenitas Dalam ide ini tercermin pola interdependensi dan pola interaksi
antara subsistem utama ecosystem dengan subsistem utama social system. Penekanan
utamanya menyangkut segi-segi kegiatan manusia (mans activities). Dalam ide ini
tercermin pola unity in diversity dengan keberbagaian gejala dalam batas-batas
tertentu tercipta kesatuan hubungan dan pola ketergantungan. Biasanya sistem yang
ada dalam batas wilayah tersebut terkontrol oleh sebuah titik pusat. Selain
menekankan ide heterogenitas juga menekankan pandangan pada ide sentralitas.
Banyak cara dalam penentuan batas wilayah (delimitation of region), baik secara
kualitatif maupun kuantitatif, atau generalisasi maupun klasifikasi atau keduanya.
Titik berat pada hubungan fungsional maka disebut wilayah fungsional (functional
region).

Konsep Wilayah Berdasarkan Hierarki


Pengertian wilayah selalu ditekankan pada sifat khasnya (unique characteristic). Untuk

meninjau rank/hirarki suatu wilayah dapat bertitik tolak dari berbagai segi, seperti ditinjau
dari segi size (ukuran), form (bentuk), function (fungsi), faktor lain atau gabungan dari
faktor-faktor tersebut. Passarge (Jerman) mengemukakan ide mengenai rank of region.

Konsep Wilayah Berdasarkan Kategori


Wilayah berdasarkan katgorinya memiliki realisasi bermacam-macam. Penggolongan

yang umum digunakan adalah:


1. Single Topic Region (wilayah bertopik tunggal) Wilayah yang eksistensinya
didasarkan pada satu macam unsur saja. Bila ditinjau dari tipenya dapat berupa
wilayah formal atau wilayah fungsional. Contoh: delimitasi wilayah atas curah hujan.
2. Combined Topic Region (wilayah bertopik gabungan) Wilayah yang dibentuk
sebagai realisasi gabungan beberapa unsur yang masih satu topik. Contoh: delimitasi
regional berdasarkan beberapa topik seperti curah hujan, temperatur dan tekanan
udara, dalam jangka waktu panjang akan menghasilkan wilayah dengan iklim
berkarakteristik berbeda.

3. Multiple Topic Region (wilayah bertopik banyak) Wilayah yang eksistensinya


berdasarkan pada beberapa topik berbeda antara satu dengan yang lain tapi masih
berhubungan, tergantung tujuan. Contoh: delimitasi daerah pertanian, data yang
diperlukan iklim, keadaan tanah, geomorfologi dan lainnya yang dianggap penting.
4. Total Region (wilayah total) Delimitasi mencakup semua unsur dalam suatu
wilayah. Regionalisasi bersifat klasik dengan kesatuan politik sebagai dasar.
Keuntungan total region terletak pada pelaksanaannya, terutama ditinjau dari segi
administratic convenience. Akan tetapi kesulitan yang dihadapi lebih banyak karena
luasan masalah yang dicakup.
5. Compage Pertimbangan utama dalam delimitasi adalah menonjolnya aktivitas
manusia di suatu tempat, bukan banyak sedikitnya topik. Orientasi titik berat bukan
pada physical setting tapi bobot kegiatan manusia. Konsepsi wilayah berdasarkan
kategori ini tidak mengharuskan kita untuk menganut salah satu dari konsep tersebut
tapi juga dapat dilakukan kombinasi silang antara berbagai konsep. Hal ini tergantung
pada jenis kegiatan, lingkup usaha, masalah, luas daerah dan tujuan perancangan
program.
2.2 Tipologi Suatu Wilayah
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengambil suatu kebijakan pada kegiatan
perencanaan adalah dengan cara memanfaatkan metode tipologi. Sebagai contoh, suatu
wilayah dapat dibagi ke dalam tipe-tipe berdasarkan sumber daya alam misalnya kepadatan
penduduk

atau

daya

dukung

lahan.

Pembentukan

tipologi

ini

bertujuan

untuk

mengembangkan pendekatan kebijakan yang bersifat spesifik sesuai dengan tipe wilayah
tersebut.
Definisi tipologi itu sendiri adalah studi pengklasifikasian tipe-tipe dengan karakterisitik
tertentu. Selain itu tipologi dapat juga berarti suatu metode dimana orang atau benda dapat
diklasifikasikan sebagai suatu tipe tertentu. Gambaran tipologi suatu wilayah dapat dibagi
menjadi dua gambaran yaitu gambaran tunggal dan gambaran majemuk.
a. Gambaran Tunggal
Gambaran tunggal, yaitu persamaan suatu wilayah ditentukan oleh satu fenomena,
misalnya jenis tanah, agama, budaya, jenis komoditas pertanian dan sebagainya Wilayah
ini merupakan unit terkecil dan dapat ditentukan batas-batas unit area atau

unit

atomistic ruang.
5

b. Gambaran Majemuk
Gambaran Majemuk, yaitu suatu wilayah dengan fenomena yang kompleks dengan
beberapa persamaan di dalamnya. Gambaran ini dapat terdiri atas beberapa gambaran
tunggal dari suatu wilayah, tetapi bila terdapat fenomena yang kompleks yang diperlukan
oleh peneliti, maka wilayah ini dapat merupakan suatu wilayah yang kompak.

2.3 Batasan Wilayah


a.
Wilayah Homogen
Wilayah homogen ialah wilayah yang dipandang dari suatu aspek mempunyai sifat-sifat
dan ciri-ciri yang relatif sama, misalnya dalam hal ekonomi (struktur produksi atau pola
konsumsi sama, mata pencaharian sama, tingkat pendapatan masyarakat sama, dll), geografi
(topografi atau iklim sama), agama, suku, budaya dan sebagainya yang sama
Menurut Richardson (1977) dan Hoover (1977) Wilayah homogen dibatasiberdasarkan
keseragamannya secara internal (Internal Uniformity), contoh: Jalur Pantura dengan ciri
homogenitas lumbung padi. Jika terjadi perubahan terhadap aktivitas usaha tani padi
(teknologi, subsidi, harga) akan mempengaruhi bagian wilayah tersebut dengan proses yang
sama.
b.

Wilayah Nodal
Wilayah Nodal ialah wilayah yang secara fungsional mempunyai ketergantungan antara

pusat (center) dan daerah belakangnya (hinterland). Tingkat ketergantungan ini dapat dilihat
dari arus penduduk, arus faktor produksi, arus barang dan jasa, ataupun arus komunikasi dan
arus transportasi. Dalam konteks ini menurut Allen dan MacLellan (dalam Sukirno, 1976),
batasan wilayah nodal ditentukan oleh sejauhmana pengaruh dari suatu pusat kegiatan
ekonomi terhadap kegiatan ekonomi di daerah lain (Centre Periphery). Wilayah nodal
memperlihatkan hubungan saling ketergantungan secara fungsional antar pusat dan daerah
belakangnya. Contoh: Jabotabek (Jakarta sebagai centre; Bogor, Tangerang, Bekasi; sebagai
Hinterland).
Terdapat 4 unsur penting dalam suatu region nodal :
- Adanya arus barang, ide/gagasan dan manusia.
- Adanya node (pusat) yang menjadi pusat pertemuan arus tersebut secara terorganisir.
6

- Adanya wilayah yang makin meluas.


- Adanya jaring-jaring rute tempat berlangsungnya tukar menukar.
c. Wilayah Perencanaan
Wilayah perencanaan adalah wilayah yang batasannya didasarkan secara fungsional dalam
kaitannya dengan maksud perencanaan. Wilayah perencanaan mengalami perubahanperubahan penting dalam pengembangannya dan memungkinkan persoalan-persoalan
perencanaan sebagai suatu kesatuan. Wilayah perencanaan memiliki ciri-ciri yaitu masyarakat
mempunyai kesadaran terhadap permasalahan yang dihadapi daerah, memiliki kemampuan
untuk merubah industri yang dilaksanakan sesuai dengan tenaga kerja yang tersedia,
menggunakan salah satu model perencannaan, dan memiliki pusat pertumbuhan.
d.

Wilayah Administratif
Wilayah administrasi merupakan wilayah yang batasnya ditentukan berdasarkan

kepentingan administrasi pemerintahan atau politik, seperti propinsi, kabupaten, kecamatan,


desa atau kelurahan. Wilayah dalam pengertian administratif sering disebut juga daerah.
Wilayah administrasi berupa propinsi dan kabupaten atau kota merupakan daerah otonom dan
perundang-undangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengunaan wilayah administrasi
disebabkan oleh dua faktor, yakni berdasarkan satuan administrasi dalam melaksanakan
kebijakan dan rencana pembangunan wilayah, dan wilayah didasarkan pada satuan
adminstrasi pemerintahan untuk mempermudah dianalisis dalam pengumpulan data di
berbagai bagian wilayah.
2.4 Teori Teori Pengembangan Wilayah
Ada beberapa teori yang berbicara mengenai pengembangan wilayh, berikut diantaranya:
1. Teori Export Base
Teori ini dikembangkan oleh Douglas C.North pada tahun 1955. Teori ini
mengatakan bahwa pertumbuhan wilayah dalam jangka watu yang panjang
bergantung pada kegiatan ekspornya. Suatu wilayah dapat melakukan kegiatan ekspor
karena adanya potensi dan sumberdaya yang dimiliki yang kemudian diolah menajadi
suatu barang industri maupun jasa. Permintaan terhadap barang yang dihasilkan oleh
wilayah ini merupakan kekuatan utama dalam pengembangan wilayah.Adapun yang
7

menjadi penekanan pada teori ini adalah pentingnya keterbukaan wilayah yang dapat
meningkatkan aliran modal dan ekonomi yang dibutuhkan untuk kelanjutan
pembangunan wilayah.
2. Salah satu teori pembangunan wilayah adalah pertumbuhan tak berimbang
(unbalanced

growth)

yang

dikembangkan

oleh

Hirscham

dan

Myrdal.

Pengembangan wilayah merupakan proses perumusan dan pengimplementasian


tujuan-tujuan pembangunan dalam skala supra urban. Pembangunan wilayah pada
dasarnya dilakukan dengan menggunakan sumber daya alam secara optimal melalui
pengembangan ekonomi lokal, yaitu berdasarkan kepada kegiatan ekonomi dasar
yang terjadi pada suatu wilayah.
3. Teori Pentahapan
Teori ini disampaikan oleh Rostow. Teori ini menekankan pentingnya inovasi
dan investasi dalam pengembangan sutau wilayah. Suatu wilayah tumbuh dan
berkembang melalui tahapan yang sama yaitu, tradisional prakondisi tinggal landas
menuju kematangan sampai dengan konsumsi tingkat tinggi.
Konsep dasar pentahapan Rostow:

Setiap wilayah atau negara harus melalui tahapan pengembagan sebagai berikut:
Masyarakat tradisional Prasyarat takeoff Take off (didasari oleh sektor pertanian
dan industri) Tahap menuju kematangan (industri beranekaragam dan sudah terkait
dengan pasar internasional) Konsumsi Masal (pendapatan perkapita yang tinggi dan
persoalan telah beralih dari pertumbuhan industri ke kesejahteraan sosial yang lebih
tinggi.

Perlunya peran pemerintah dalam hal perencanaan.

2.5 Perencanaan
Perencanaan adalah suatu cara berpikir mengenai persoalan-persoalan sosial dan
ekonomi, terutama berorientasi pada masa mendatang, sangat berhubungan antara tujuan
dan keputusan-keputusan kolektif, dan mengusahakan kebijakan dan program yang
menyeluruh. (Friedman) atau dengan kata lain dapat dikatakan perencanaan merupakan
penyusunan rencana pembangunan sedemikian rupa secara tepat dan benar, efisien,
optimal untuk mencapai sasaran tujuan sesuai harapan yang direncanakan (Hasil
pembangunan belum ada, hanya harapan yang belum nampak, belum ada).
8

A. Tahapan Kegiatan Perencanaan Pembangunan Wilayah.


Secara umum setiap perencanaan apapun obyeknya, selalu diawali dengan
adanya ide gagasan untuk membangun, selanjutnya ide ini dituangkan ke dalam
konsep pembangunan. Berdasarkan konsep pembangunan dijabarkan ke dalam
program pembangunan. Setelah program pembangunan di buat barulah dilaksanakan.
Dalam proses pelaksanaan dilakukan monitoring dan pengawasan pembangunan
untuk mengetahui apakah kegiatan pelaksanaan sudah sesuai dengan program yang
ada. Sesudah pembangunan selesai dilakukan evaluasi, apakah hasil pembangunan
yang telah direncanakan sesuai dengan tujuan dan sasaran pembangunan yang
diharapkan tercapai, terhambat atau gagal.
B. Pentingnya Pengembangan Wilayah

Pertambahan penduduk yang pesat dan distribusi yang tidak merata antar
daerah

Kemajuan teknologi yang semakin cepat

Pertumbuhan ekonomi yang tidak

merata sehingga terjadi ketimpangan

pendapatan per kapita antar daerah.

Pertumbuhan antar sektor ekonomi yang tidak seimbang

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pengelompokan Wilayah Kabupaten Kudus Berdasarkan Kesamaan Kondisi Sosial


Ekonomi
Kabupaten Kudus terbagi menjadi 9 kecamatan atau 124 desa dan 7 kelurahan. Diantara
11036 dan 11056 Bujur Timur dan antara 651 dan 716 Lintang Selatan. Jarak terjauh
dari barat ke timur adalah 16 km dan dari utara ke selatan 22 km. Luas wilayah Kabupaten
Kudus 42.516 ha, terdiri dari 51,04% (21,704 ha) lahan sawah dan 48,96% (20,812 ha) bukan
sawah.Kabupaten Kudus terletak diantara 4 kabupaten, kedudukan dan orientasi pada wilayah
sekitarnya yaitu sebagai berikut :
Sebelah Barat

: Kabupaten Demak dan Kabupaten Jepara

Sebelah Timur

: Kabupaten Pati

Sebelah Selatan

: Kabupaten Grobogan dan Kabupate Pati

Sebelah Utara

: Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati

Wilayah Kabupaten Kudus dapat dikelompokan berdasarkan homogenitas kondisi sosial


dan ekonomi. Dalam hal ini pengelompokan wilayah berdasarkan kondisi sosial ekonomi
menyangkut beberapa variabel diantaranya kepadatan penduduk, pendapatan per kapita,
keberadaan fasilitas ekonomi (KUD dan NON KUD), mata pencaharian, fasilitas pendidikan
formal (TK,SD,SMP, dan SMA), fasilitas pertanian (luas lahan dan produksi padi sawah).
Pengelompokkan wilayah berdasarkan variabel-variabel diatas ini terdiri dari 3 kriteria yaitu
rendah, sedang, dan tinggi.

10

Berikut di bawah ini tabel Analisis Kondisi Sosial dan Ekonomi Kabupaten Kudus Tahun 2013 :
Tabel 02. Analisis Kondisi Sosial dan Ekonomi Kabupaten Kudus Tahun 2013
Fasilitas
Pendidikan

Kecamatan

Kaliwungu
Kota
Jati

Pendapatan
Perkapita (Rp)

4,779,128.41
10,137,894.8
5,312,445.00

Undaan

787,157.63

Mejobo

922,275.15

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

93018
96984
104978
73016
73813

Kepadatan
Penduduk
(orang/km2)

2843
9260
3992
1017
2008

Luas
Lahan
(Ha)

3217.28
1047.32
2629.8
7177.03
3676.57

Jumlah Sekolah
SD

SMP

SMA

43

59

13

51

40

47

2
1

Jumlah Murid

Ekonomi

Pertanian
Hasil Panen Padi
Sawah(Ton)

Pekerja

SD

SMP

SMA

KUD

Lahan
Sawah

5883

1 987

76

46

1984

14186

5211

11801

5 903

3,074

172

174

1790

241

6415

2 729

1,013

69

1027

6699

5823

4554

1 593

62

5805

49103

26044

780

2 153

1,075

28

1755

9815

9446

1,072

Jekulo

2,636,030.43

104596

1261

8291.67

64

8627

2 503

35

4307

29876

17645

Bae

1,583,053.79

70463

3021

2332.27

39

4421

3 680

1,953

46

881

4603

4375

Gebog

4,215,805.91

100303

1822

5505.97

59

6974

1 816

861

29

2052

6120

15696

Dawe

467,889.77

103965

1211

8583.73

66

6950

1 365

113

35

2668

2905

13797

Keterangan:
Rendah
Sedang
Tinggi

11

3.2 Berikut perhitungan pengelompokkan wilayah Kabupaten Kudus berdasarkan


beberapa variabel di bawah ini :

Variabel Jumlah Penduduk Penduduk (Jiwa)

Kriteria:

Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 70.463 s/d 81.967

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 81.968 s/d 93.472

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 93.473 s/d 104.977

Variabel Kepadatan Penduduk (Orang/

Kriteria:

Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 1.017 s/d 3764

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 3765 s/d 6511

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 6512 s/d 9259

Variabel Pendapatan per kapita (Rp)

12

Kriteria:
Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 467.889 s/d

3.691.224

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 3.691.225 s/d 6.914.559

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 6.914.560 s/d 10.137.894

Variabel Luas Lahan

Kriteria :

Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 2332 s/d 4415

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 4416 s/d 6499

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 6500 s/d 8583

Variabel Fasilitas Pendidikan


-

Sekolah Dasar (SD)


A. Jumlah Sekolah

Kriteria:
Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 39 s/d 47

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 48 s/d 56

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 57 s/d 65

B. Jumlah Murid

Kriteria:
Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 780 s/d 4453


13

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 4454 s/d 8126

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 8127 s/d 11800

Sekolah Menengah Pertama (SMP)


A. Jumlah Sekolah

Kriteria:
Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 4 s/d 6

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 7 s/d 9

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 10 s/d 12

B. Jumlah Murid

Kriteria:

Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 1362 s/d 2877

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 2878 s/d 4389

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 4390 s/d 5902

Sekolah Menengah Atas (SMA)


A. Jumlah Sekolah

Kriteria:
Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 1 s/d 2

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 3 s/d 4

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 5 s/d 6


14

B. Jumlah Murid

Kriteria:

Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 76 s/d 1074

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 1075 s/d 2074

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 2075 s/d 3073

Variabel Fasilitas ekonomi


-

KUD (Koperasi Unit Desa)

Kriteria:
Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 28 s/d 75

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 76 s/d 123

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 124 s/d 171

Variabel Pertanian
Mata Pencaharian (pekerja) di Bidang Pertanian

Kriteria :
Rendah (R)

= 241 sd 8.841

Sedang (S)

= 8.842 sd 17.442

Tinggi (T)

= 17.443 sd 26.043

15

Luas Lahan Pertanian Sawah

Kriteria:

Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 174 s/d 2050

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 2051 s/d 3927

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 3928 s/d 5804

Produksi Padi Sawah (Ton)

Kriteria:
Rendah (R)

= Angka Terendah s/d Angka Terendah + Range = 1790 s/d 17560

Sedang (S)

= R + 1 s/d (R + 1) + Range = 17561 s/d 33331

Tinggi (T)

= T + 1 s/d (T + 1) + Range = 33332 s/d 49102

3.3 Hasil Analisis Pemetaan Wilayah Berdasarkan Homogenitas Kondisi Sosial


Ekonomi
1) Berdasarkan variabel pendapatan perkapita

16

Berdasarkan variabel pendapatan perkapita masing-masing kecamatan yang


terdapat di Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan wilayah menjadi 3 kriteria ,
yaitu :
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria pendapatan perkapita
yang rendah berkisar antara Rp. 467.889 s/d Rp. 3.691.224. Adapun wilayah
Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria pendapatan perkapita rendah
diantaranya Kecamatan Undaan (Rp 787,157.63), Jekulo (Rp2,636,030.43),
Kecamatan Mejobo (Rp 922,275.15), Kecamatan Bae (Rp 1,583,053.79),
Kecamatan Dawe ( Rp 467,889.77).
2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria pendapatan perkapita
yang sedang berkisar antara Rp 3.691.225 s/d Rp.

6.914.559.

Adapun

wilayah Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria pendapatan perkapita


sedang diantaranya Kecamatan Kaliwungu (Rp. 4,779,128.41), Kecamatan Jati
(Rp.5,312,445.00), Kecamatan Gebog (Rp.4,215,805.91).
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria pendapatan perkapita
yang tinggi berkisar antara Rp 6.914.560 s/d Rp.10.137.894.

Adapun

wilayah

Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria pendapatan perkapita yang


tinggi diantaranya Kecamatan Kota (Rp.10,137,894.87).
2) Berdasarkan variabel kepadatan penduduk
Berdasarkan variabel kepadatan penduduk masing-masing kecamatan yang
terdapat di Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan wilayah menjadi 3 kriteria ,
yaitu :
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria kepadatan penduduk
yang rendah berkisar antara

1.017 s/d 3764 orang/km. Adapun wilayah

Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria kepadatan penduduk yang


rendah adalah Kecamatan Kaliungu (2843 orang/km), Kecamatan Undaan (1017
orang/km), Kecamatan Mejobo (2008 orang/km), Kecamatan Jekulo (1261
orang/km), Kecamatan Bae (3021 orang/km), Kecamatan Gebog (1822
orang/km), Kecamatan Dawe (1211 orang/km).

17

2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria kepadatan penduduk
yang sedang berkisar antara 3765 s/d 6511 km/jiwa. Adapun wilayah Kabupaten
Kudus yang termasuk ke dalam kriteria kepadatan penduduk yang sedang adalah
Kecamatan Jati (3992 orang/km)
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria kepadatan penduduk
yang tinggi berkisar antara 6512 s/d 9259 orang/km. Adapun wilayah Kabupaten
Kudus yang termasuk ke dalam kriteria kepadatan penduduk yang tinggi adalah
Kecamatan Kota (9260 orang/km).
3) Berdasarkan variabel Jumlah Penduduk
Berdasarkan variabel Jumlah Penduduk masing-masing kecamatan yang
terdapat di Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan wilayah menjadi 3 kriteria ,
yaitu :
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria Jumlah Penduduk yang
rendah berkisar antara 70.463 orang s/d 81.967 orang. Adapun wilayah Kabupaten
Kudus yang termasuk ke dalam kriteria Jumlah Penduduk rendah diantaranya
Kecamatan Undaan (73016 orang),

Kecamatan Mejobo (73813 orang),

Kecamatan Bae (70463 orang).


2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria Jumlah Penduduk yang
sedang berkisar antara81.968 orang s/d 93.472 orang. Adapun wilayah Kabupaten
Kudus yang termasuk ke dalam kriteria Jumlah Penduduk sedang diantaranya
Kecamatan Kaliwungu (93018 orang).
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria Jumlah Penduduk yang
tinggi berkisar antara 93.473 orang s/d 104.977 orang. Adapun wilayah Kabupaten
Kudus yang termasuk ke dalam kriteria Jumlah Penduduk yang tinggi diantaranya
Kecamatan Kota (96984 orang). Kecamatan Jati (104978 orang), Kecamatan
Jekulo (104596 orang), Kecamatan Gebog (100303 orang), Kecamatan Dawe
(103965 orang).

18

4) Berdasarkan variabel Luas Lahan


Berdasarkan variabel luas lahan masing-masing kecamatan yang terdapat di
Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan wilayah menjadi 3 kriteria , yaitu :
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria luas lahan yang rendah
berkisar antara 2332 ha s/d 4415 ha. Adapun wilayah Kabupaten Kudus yang
termasuk ke dalam kriteria luas lahan rendah diantaranya Kecamatan Kaliwungu
(3217.28 ha), Kecamatan Kota (1047.32 ha), Kecamatan Jati (2629.8 ha),
Kecamatan Mejobo (3676.57 ha), Kecamatan Bae (2332.27 ha).
2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria luas lahan yang sedang
berkisar antara 4416 ha s/d 6499 ha. Adapun wilayah Kabupaten Kudus yang
termasuk ke dalam kriteria luas lahan sedang diantaranya Kecamatan Gebog
(5505.97 ha).
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria luas lahan yang tinggi
berkisar antara 6500 ha s/d 8583 ha. Adapun wilayah Kabupaten Kudus yang
termasuk ke dalam kriteria luas lahan yang tinggi diantaranya Kecamatan Undaan
(7177.03 ha). Kecamatan Jekulo (8291.67 ha), Kecamatan Dawe (8583.73 ha).
5) Berdasarkan variable Fasilitas Pendidikan
- Sekolah Dasar (SD)
Berdasarkan variable pendidikan sekolah dasar (SD) masing-masing kecamatan
yang terdapat di Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan wilayah menjadi 3
kriteria, yaitu :
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah sekolah dasar
yang rendah berkisar antara 39 s/d 47 unit sekolah sedangkan jumlah murid
sekolah dasar (SD) yang rendah berkisar antara 780 s/d 4453 murid. Adapun
wilayah Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria jumlah sekolah dasar
yang rendah (sedikit) diantaranya kecamatan Kaliwungu (43 SD); Undaan (40
SD) ; Mejobo (47 SD) ; dan Bae (39 SD). Sedangkan yang termasuk ke dalam
kriteria jumlah murid SD paling sedikit atau rendah diantaranya hanya kecamatam
Bae (4421 murid) dan Mejobo (780 murid).
2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah sekolah dasar
yang sedang berkisar antara 48 s/d 56 unit sekolah sedangkan jumlah murid
19

sekolah dasar (SD) yang rendah berkisar antara 4454 s/d 8126 siswa. Adapun
wilayah Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria jumlah sekolah dasar
yang rendah sedang yaitu kecamatan Jati (51 SD). Sedangkan yang termasuk ke
dalam kriteria jumlah siswa SD yang tergolong sedang jumlahnya diantaranya
hanya kecamatam Kaliwungu (5883 siswa); Jati (6415 siswa); Undaan (4554
siswa); dan Jekulo (8627 siswa).
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah sekolah dasar
yang tinggi berkisar antara 57 s/d 65 unit sekolah sedangkan jumlah murid
sekolah dasar (SD) yang rendah berkisar antara 8127 s/d 11800 siswa. Adapun
wilayah Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria jumlah sekolah dasar
yang tinggi yaitu kecamatan kudus kota (59 SD) ; Jekulo (64 SD) ; Gebog (59 SD)
; dan Dawe (66 SD). Sedangkan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah siswa SD
yang tergolong tinggi jumlahnya diantaranya kecamatan: Kudus Kota (11801
siswa) ; Kecamatan Jekulo (8627 siswa).
-

Sekolah Menengah Pertama (SMP)


Berdasarkan variable pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) masingmasing kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan
wilayah menjadi 3 kriteria , yaitu :
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah SMP yang rendah
berkisar antara 4 s/d 6 unit sekolah sedangkan jumlah murid SMP yang rendah
berkisar antara 1362 s/d 2877 siswa. Adapun wilayah Kabupaten Kudus yang
termasuk ke dalam kriteria jumlah SMP yang rendah (sedikit) diantaranya
Kecamatan Kaliwungu (6 SMP) ; Jati (6 SMP) ; Undaan (4 SMP) ; Mejobo (5
SMP) ; Jekulo (5 SMP) ; Bae (4 SMP) ; Gebog (4 Ssmp) ; Dan Dawe (4 SMP).
Sedangkan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah murid SMP paling sedikit atau
rendah diantaranya hanya kecamatam Kaliwungu (1987 siswa) ; Jati (2729
siswa) ; Undaan (1593 siswa) ; Mejobo (2153 siswa) ; Jekulo (2503 siswa) ;
Gebog (1816 siswa) ; dan Dawe (1365 siswa).
2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah SMP yang sedang
berkisar antara 7 s/d 9 unit sekolah sedangkan jumlah murid SMP yang rendah
berkisar antara 2878 s/d 4389 siswa. Adapun wilayah Kabupaten Kudus tidak ada
SMPyang termasuk ke dalam kriteria sedang. Sedangkan yang termasuk ke dalam

20

kriteria jumlah siswa SMP yang tergolong sedang jumlahnya diantaranya hanya
kecamatan Bae (3680 siswa)
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah SMP yang tinggi
berkisar antara 10 s/d 12 unit sekolah sedangkan jumlah murid SMP yang rendah
berkisar antara 4390 s/d 5902 siswa. Adapun wilayah Kabupaten Kudus yang
termasuk ke dalam kriteria jumlah sekolah dasar yang tinggi yaitu hanya
kecamatan Kudus Kota sebanya 13 SMP. Sedangkan yang termasuk ke dalam
kriteria jumlah siswa SMP yang tergolong tinggi jumlahnya diantaranya hanya
kecamatan Kudus Kota sebanyak 5903 siswa
-

Sekolah Menengah Atas (SMA)


Berdasarkan variable pendidikan Sekolah Menengah Umum (SMU) masingmasing kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan
wilayah menjadi 3 kriteria , yaitu :
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah SMU yang
rendah berkisar antara 1 s/d 2 unit sekolah sedangkan jumlah murid SMU yang
rendah berkisar antara 76 s/d 1074 siswa. Adapun wilayah Kabupaten Kudus yang
termasuk ke dalam kriteria jumlah SMU yang rendah (sedikit) diantaranya
Kecamatan Kaliwung (1 SMU) ; Jati (2 SMU) ; Mejobo (2 SMU) ; Jekulo (1
SMU) ; Bae (2 SMU) ; Gebog (1 SMU) ; dan Dawe (2 SMU).Sedangkan yang
termasuk ke dalam kriteria jumlah murid SMU paling sedikit atau rendah
diantaranya hanya kecamatam Kaliwungu (76 siswa) ; Jati (1013 Jekulo (1072
siswa) ; Gebog (861 siswa) ; dan Dawe (113 siswa).
2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah SMU yang
sedang berkisar antara 3 s/d 4 unit sekolah sedangkan jumlah murid SMU yang
rendah berkisar antara 1075 s/d 2074 siswa. Adapun wilayah Kabupaten Kudus
tidak ada SMU yang termasuk ke dalam kriteria sedang. Sedangkan yang
termasuk ke dalam kriteria jumlah siswa SMU yang tergolong sedang jumlahnya
diantaranya Kecamatan Mejobo (1075 siswa) dan Bae (1953 siswa)
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah SMU yang tinggi
berkisar antara 5 s/d 6 unit sekolah sedangkan jumlah murid SMu yang rendah
berkisar antara 2075 s/d 3073 siswa. Adapun wilayah Kabupaten Kudus yang
termasuk ke dalam kriteria jumlah SMU yang tinggi yaitu hanya kecamatan
21

Kudus Kota sebanya 7 SMU. Sedangkan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah
siswa SMU yang tergolong tinggi jumlahnya diantaranya hanya kecamatan Kudus
Kota sebanyak 3074 siswa.
6) Berdasarkan variable Ekonomi
Berdasarkan variabel ekonomi (KUD) masing-masing kecamatan yang terdapat di
Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan wilayah menjadi 3 kriteria , yaitu :
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah fasilitas ekonomi
(KUD) yang rendah berkisar antara 28 sd 75. Adapun wilayah Kabupaten Kudus
yang termasuk ke dalam kriteria jumlah fasilitas ekonomi (KUD) rendah
diantaranya: Kecamatan Kaliwungu (46) ; Kecamatan Jati (69) ; Kecamatan
Undaan (62) ; Kecamatan Mejobo (28) ; Kecamatan Jekulo (35) ; Kecamatan Bae
(46) ; Kecamatan Gebog (29) ; Kecamatan Dawe (35).
2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah fasilitas ekonomi
(KUD) yang sedang berkisar antara 76 sd 123. Di wilayah Kabupaten Kudus ini
tidak ada kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah fasilitas ekonomi
yang sedang.
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah fasilitas ekonomi (KUD)
yang rendah berkisar antara 124 sd 171. Adapun wilayah Kabupaten Kudus yang
termasuk ke dalam kriteria jumlah fasilitas ekonomi (KUD) yang tinggi diantaranya :
Kecamatan Kudus kota sebanyak 172 unit KUD.
7) Berdasarkan variable Pertanian
- Pekerja di Bidang Pertanian
Bedasarkan variable mata pencaharian di bidang pertanian di setiap kecamatan,
dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
1. Rendah
Dalam perhitungan di atas wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria
mata pencaharian yang rendah untuk mata pencaharian di bidang pertanian antara
241 sampai dengan 8.841 orang, yang diantaranya terdapata pada kecamatan:
Kaliwungu (5211) ; Kudus Kota (241) ; Jati (5823) ; dan Bae (4375)
2. Sedang
Dalam perhitungan di atas wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria
mata pencaharian yang sedang untuk mata pencaharian di bidang pertanian antara
8.842 sd 17.442 orang, yang diantaranya terdapata pada kecamatan: Mejobo
(9446) ; Gebog (15.696) ; dan Dawe (13797).
3. Tinggi
22

Dalam perhitungan di atas wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria


mata pencaharian yang tinggi untuk mata pencaharian di bidang pertanian antara
17.443 sd 26.043 orang, yang diantaranya terdapata pada kecamatan: Undaan
(26044) dan Jekulo (17.645)
-

Luas Lahan Pertanian Padi Sawah:


Berdasarkan variable luas lahan pertanian padi sawah masing-masing kecamatan
yang terdapat di Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan wilayah menjadi 3
kriteria , yaitu:
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria lahan padi sawah yang
rendah berkisar antara 174 sd 2050 Ha. Adapun wilayah Kabupaten Kudus yang
termasuk ke dalam kriteria luas lahan padi sawah yang rendah diantaranya :
Kecamatan Kaliwungu (1984 Ha) ; Kecamatan Kudus Kota (175 Ha) ; Kecamatan
Jati (1027 Ha) ; Kecamatan Mejobo (1755 Ha) ; Kecamatan Bae (881 Ha)
2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria luas lahan pertanian padi
sawah yang sedang berkisar antara 2051 sd 3927 Ha. Di wilayah Kabupaten
Kudus ini yang termasuk dikategorikan luas lahan sedang terdapat pada:
Kecamatan Gebog (2052 Ha) dan Kecamatan Dawe (2668 Ha)
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah luas lahan
pertanian padi sawah yang tinggi berkisar antara 3928 sd 5804 Ha. Adapun
wilayah Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria luas lahan yang tinggi
diantaranya : Kecamatan Undaan 5805 Ha dan Jekulo 4307 Ha.

Variabel Produksi Padi Sawah (Ton):


Berdasarkan variabel jumlah produksi padi sawah/tahun masing-masing
kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kudus maka dapat dikelompokkan wilayah
menjadi 3 kriteria , yaitu
1. Rendah
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah produksi
padi/tahun yang rendah berkisar antara 1790 s/d 17560 ton. Adapun wilayah
Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria jumlah produksi padi sawah
23

yang rendah diantaranya : Kecamatan Kaliwung (14.186 ton) ; Kecamatan Kudus


Kota (1790 ton) ; Kecamatan Jati (6699 ton) ; Kecamtaan Mejobo (9815 ton) ;
Kecamatan Bae (4603 ton) ; Kecamatan Gebog (6120 ton) ; dan Kecamatan Dawe
(2905 ton).
2. Sedang
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah produksi
padi/tahun yang sedang berkisar antara 17.561 s/d 33.331 ton. Adapun wilayah
Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria jumlah produksi padi sawah
yang sedang hanya kecamatan Jekulo sebesar 29.876 ton
3. Tinggi
Wilayah kecamatan yang termasuk ke dalam kriteria jumlah produksi
padi/tahun yang tinggi berkisar antara 33.332 s/d 49.102 ton. Adapun wilayah
Kabupaten Kudus yang termasuk ke dalam kriteria jumlah produksi padi sawah
yang tinggi hanya Kecamatan Undaan sebesar 49.103 ton.

24

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Deliniasi wilayah merupakan suatu proses penggambaran ruang untuk membatasi zona
wilayah/kawasan lain disekitarnya. Dalam menentukan deliniasi suatu wilayah diperlukan
suatu konsep untuk menjadi acuan dalam penentuan deliniasi suatu wilayah. Salah satu
konsep yang dapat digunakan yaitu konsep homogenitas. Penetapan deliniasi wilayah
berdasarkan konsep homogenitas ini dapat diukur dari kesamaan wilayah dalam aspek sosial
dan ekonomi, melalui proses identifikasi dan penelitian secara saksama.
Dengan dilakukannya deliniasi wilayah dapat membantu dalam pengembangan suatu
wilayah agar pengembangan dilakukan secara merata. Sehingga tidak adanya kesenjangan
terlalu jauh di wilayah-wilayah baik secara sosial maupun ekonomi.
Wilayah yang kami analisis deliniasi wilayahnya yaitu Kabupaten Kudus. Kabupaten
Kudus terdiri atas 9 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Masingmasing kecamatan di Kudus ini memiliki karakterisitik yang berbeda dalam berbagai aspek.
Namun, untuk aspek sosial dan ekonomi beberapa kecamatan di Kudus ini memiliki kondisi
yang sama (homogenitas).
Wilayah Kabupaten Kudus dapat dikelompokan berdasarkan homogenitas kondisi sosial
dan ekonomi. Dalam hal ini pengelompokan wilayah berdasarkan kondisi sosial ekonomi
menyangkut beberapa variabel diantaranya kepadatan penduduk, pendapatan per kapita,
keberadaan fasilitas ekonomi (KUD dan NON KUD), mata pencaharian, fasilitas pendidikan
formal (SD,SMP, dan SMA), fasilitas pertanian (jumlah pekerja di bidang pertanian, luas
25

lahan dan produksi padi sawah). Pengelompokkan wilayah berdasarkan variabel-variabel


diatas ini terdiri dari 3 kriteria yaitu rendah,sedang dan tinggi.
4.2 Saran
Sebaiknya setiap wilayah suatu kabupaten memiliki data pengelompokkan wilayah
berdasarkan homogenitas sosial ekonomi, sehingga kekurangan dan kelebihan kondisi sosial
ekonomi suatu wilayah dapat diketahui dan pengembagan wilayah dapat dilakukan secara
merata agar tidak terjadinya kesenjangan yang signifikan antar wilayah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2013.

Konsep

wilayah.

Available

online

at.

http://www.e-

dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=404 (Diakses pada tanggal 28 februari pukul 19.00)


Anonim.

2013.

Batasan

wilayah.

Available

online

at.

http://www.damandiri.or.id/file/sulistionoipbbab2.pdf (Diakses pada tanggal 28 februari


pukul 19.10)
Budihardjo, Eko. 1995. Pendekatan Sistem Dalam Tata Ruang dan Pembangunan
Daerah Untuk Meningkatkan Ketahanan Nasional. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press
Hadi Sabari Yunus, 1991, Konsepsi Wilayah dan Pewilayahan, PT. Hardana Ekacitra
Tunggal, Jogjakarta.
Hariyanto dan Tukidi, 2007. Konsep Pengembangan Wilayah Dan Penataan Ruang
Indonesia Di Era Otonomi Daerah. Jurnal Geografi Volume 4 No. 1 Januari 2007
http://www.kuduskab.go.id/data.php
https://www.scribd.com/doc/58135161/TEORI-PENGEMBANGAN-WILAYAH
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31483/4/Chapter%20II.pdf
eprints.umk.ac.id/311/2/BAB_II.pdf

26

LAMPIRAN

27

28