Anda di halaman 1dari 7

Secara umum dikenal konsep Taxable Deductible atau Non Taxable Non Deductible.

Taxable biasanya ditujukan untuk pengenaan pajak atas penghasilan yang diperoleh orang atau
badan tanpa melihat dari mana penghasilan tersebut diperoleh (sumber penghasilan). Deductible
adalah biaya yang diakui oleh pajak, biasanya ditujukan kepada beban atau biaya yang menurut
ketentuan menjadi pengurang penghasilan bruto sebagai mana diatur dalam Pasal 6 Undangundang Pajak Penghasilan (PPH). Pada umumnya jika suatu biya yang terkait dengan karyawan
akan terutang Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 jika biayanya diakui misalnya biaya gaji,
tunjangan, bonus dan sebagainya. Jika pemberian dalam bentuk natura atau kenikmatan tidak
dapat dibebankan sebagai biaya fiskal (Non Deductible) sehingga bagi karyawan yang menerima
bukan merupakan penghasilan (Non Taxable).
Terdapat beberapa penyimpangan konsep Taxable Deductible atau Non Taxable Non
Deductible karena adanya ketentuan khusus yang mengaturnya. Bentuk penyimpangan tersebut
bisa berupa Taxable Deductible atau Non Taxable Non Deductible. Hal ini terkadang
menyulitkan Wajib Pajak karena hal ini akan menyebabkan perbedaan objek pajak yang
dilaporkan dalam SPT Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 tahunan dengan SPT Badan khususnya
pada pos biaya karyawan.
Untuk melihat prinsip ini secara utuh kita harus menggabungkan beberapa pasal dalam UU
PPh. Prinsip taxable diatur di Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 4 ayat (2) UU PPh, Sedangkan prinsip
deductible diatur di Pasal 6 UU PPh. Sementara itu, prinsip nontaxable diatur di Pasal 4 ayat (3)
UU PPh, dan prinsip nondeductible diatur di Pasal 9 UU PPh. Sedangkan untuk melihat suatu
penghasilan yang taxable tersebut dikenai pajak apa, kita harus melihat setiap pasal yang
mengaturnya, misalnya di Pasal 15, 19, 21, 22, 23, 24, 25, 26, maupun Pasal 29 UU PPh.

Tabel berikut memperlihatkan contoh taxable-deductible:


Bagi Penerima Penghasilan
Jenis Penghasilan

Bagi Pemberi Penghasilan


Taxable Bagi
Yang
Menerima

Jenis Biaya

Penggantian atau imbalan berkenaan


dengan pekerjaan atau jasa yang diterima PPh Pasal 21,
Biaya gaji, biaya honor,
atau diperoleh termasuk gaji, upah,
PPh Pasal 23,
biaya tunjangan, biaya
tunjangan, honor, komisi, bonus,
PPh Pasal 4
komisi, dll
gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan
ayat (2)
dalam bentuk lainnya
PPh Pasal 21,
Hadiah dari undian atau pekerjaan atau
PPh Pasal 23, Biaya hadiah/biaya
kegiatan, dan penghargaan
PPh Pasal 4 promosi/biaya lainnya
ayat (2)
Kerugian karena
penjualan atau
Keuntungan karena penjualan atau
PPh Pasal
pengalihan harta yang
karena pengalihan harta
25/29
dimiliki dan digunakan
perusahaan
Penerimaan kembali pembayaran pajak
yang telah dibebankan sebagai biaya dan
PPh Pasal Beban Pajak (selain
pembayaran tambahan pengembalian
25/29
PPh)
pajak
Bunga termasuk premium, diskonto, dan
imbalan sebagai jaminan pengembalian
PPh Pasal 23 Biaya bunga
utang
Royalti
PPh Pasal 23 Biaya royalty
PPh Pasal 23,
Sewa
PPh Pasal 4 Biaya sewa
ayat (2)
PPh Pasal 21,
Penerimaan atau perolehan pembayaran
Biaya gaji, biaya
PPh Pasal
berkala
alimentasi, biaya lainnya
25/29
PPh Pasal Biaya piutang tak
Keuntungan karena pembebasan utang
25/29
tertagih
PPh Pasal 4
Dividen yang menjadi objek Pajak
ayat (2), PPh Mengurangi R/E
Pasal 23

Deductible

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya
Ya
Ya

Ya
Ya
Ya

*dengan catatan biaya-biaya di atas merupakan biaya yang berhubungan dengan pengeluaran
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.

Sedangkan contoh untuk prinsip nontaxable-nondeductible diberikan pada tabel berikut:


Bagi Pene
Jenis Penghasilan
Pembayaran dari perusahaan asuransi
kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan asuransi
kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi beasiswa
Bantuan atau sumbangan
Warisan
Bagian laba yang diterima atau
diperoleh anggota perseroan
komanditer yang modalnya tidak
terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma dan
kongsi termasuk pemegang unit KIK

rima
Penghasilan
Nontaxable
Bagi Yang
Menerima

Ya

Ya
Ya

Ya

Bagi Pemberi Penghasilan


Jenis Biaya

Dividen yang dibayarkan


oleh perusahaan asuransi
kepada pemegang polis
Bantuan atau sumbangan
Warisan
Gaji yang dibayarkan
kepada anggota
persekutuan, firma, atau
perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi
atas saham

Nondeductible

Ya

Ya
Ya

Ya

Terdapat taxable-nondeductible atau bahkan nontaxable-deductible atau dalam bahasa


lainnya dapat dipajaki saat diberikan kepada pihak yang menerima, namun tidak dapat
dibebankan sebagai biaya oleh pihak yang mengeluarkan, dan sebaliknya, tidak dapat dipajaki
saat diberikan kepada pihak yang menerima, namun tetap dapat dibebankan sebagai biaya oleh
pihak yang mengeluarkan. Berikut beberapa contohnya:
Taxable-Nondeductible
Pemberian natura kepada
karyawan oleh perusahaan yang
dikenai PPh Final atau WP yang
menggunakan norma perhitungan
khusus
Jumlah yang melebihi kewajaran
yang dibayarkan kepada
pemegang saham

Nontaxable-Deductible
Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional,
sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan,
biaya pembangunan infrastruktur sosial, dan sumbangan
fasilitas pendidikan
Pemberian natura berupa penyediaan makanan/minuman di
tempat kerja bagi seluruh pegawai
Pemberian natura atau kenikmatan yang merupakan keharusan
dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan
kerja atau karena sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya,
seperti pakaian dan peralatan khusus untuk keselamatan kerja,
pakaian satpam, serta akomodasi awak kapal
Pemberian natura dan kenikmatan di daerah terpencil

Akibat ketidak-konsistenan prinsip ini dalam pelaksanaan, di satu sisi Wajib Pajak akan
merasa dirugikan apabila pengeluarannya yang tidak dapat dibebankan tetapi dikenai pajak bagi
yang menerima (taxable-nondeductible). Sementara di sisi lain, negara akan merasa dirugikan
apabila pengeluaran yang dapat dibebankan tetapi tidak ada uang pajak yang masuk (nontaxabledeductible). Oleh karena itu prinsip ini sebaiknya tidak selalu dikait-kaitkan dalam pembahasan
mengenai keadilan dalam pajak.

Motivasi yang mendasari dilakukannya perencanaan pajak umumnya bersumber dari tiga unsur
perpajakan, yaitu:
a.

Kebijakan perpajakan (Tax policy)


Kebijakan perpajakan merupaka alternative dari berbagai sasaran yang hendak dituju
dalam system perpajakan. Dari berbagai aspek kebijakan, terdapat factor-faktor yang
mendorong dilakukannya suatu perencanaan pajak.

1) Jenis pajak yang akan dipungut


Dalam sistemperpajakan modern terdapat berbagai jenis pajak yang harus menjadi
pertimbangan. Pertaman, baik berupa pajak langsung maupun pajak tidak langsung.
Seperti:
Pajak Penghasilan Badan atau perseorangan
Pajak atas keuntungan modal
Pajak atas impor, ekspor, serta bea masuk
Pajak atas undian atau hadiah
Bea materai
2) Subjek Pajak
Indonesia merupakan salah satu Negara yang menganut system klasik, dimana ada
pemisahan antara badan usaha dengan pribadi pemiliknya yang akan menimbulkan pajak
ganda.
Adanya perbedaan perlakuan perpajakan ataspembayaran deviden badan usaha kepada
pemegang saham perseorangan dan kepada pemegang saham berbentuk badan usaha,
yang menyebabkan timbulnya usaha untuk merencanakan pajak dengan baik agar beban
pajak rendah sehingga sumber daya perusahaan dapat dimanfaatkan untuk tujuan lain.
Disamping itu ada pertimbangan untuk menunda pembayaran deviden dengan cara
meningkatkan jumlah laba yang ditahan. Bagi perusahaan yang juga akan menimbulkan
penundanaan pembayaran pajak.
3) Objek pajak
Adanya perlakuan perpajakan yang berbeda atas objek pajak yang secara ekonomis
hakikatnya sama, akan menimbulkan usaha perencanaan pajak agar beban pajaknya
rendah.
4) Tarif pajak

Adanya penerapan scheduler taxation tariff yang diterapkan di Indonesia mengakibatkan


seorang perencana pajak berusaha sedapat mugnkin dikenakan tariff yang paling rendah.
5) Prosedur pembayaran pajak
Self assessment system dan payment system mengharuskan seorang perencana pajak
untuk merencanakan pajaknya dengan baik. Saat ini system pemungutan withholding tax
di Indonesia makin ditingkatkan penerapannya. Hal ini, disamping mengganggu arus kas
perusahaan, juga bias mengakibatkan kelebihan pembayaran atas pemungutan
pendahuluan tersebut padahal untuk memperoleh restitusi atas kelebihan tersebut
diperlukan waktu dan biaya.
b. Undang-undang perpajakan (tax law)
Kita menyadari bahwa kenyataannya di manapun tidak ada undang-undang yang
mengatur setiap permasalahan secara sempurna, maka dalam pelaksanaannya selalu
diikuti oleh ketentuan-ketentuan lain (Peraturan Pemerintah Keputusan Presiden,
Keputusa digunakan Menteri Keuangan dan Direktur Jendral Pajak), maka tidak jarang
ketentuan pelaksanaan tersebut bertentangan mencapai tujuan yang lain yang ingin
dicapainya. Keadaan ini menyebabkan munculnya celah (loopholes) bagi wajib Pajak
untuk menganalisis dengan cermat atas kesempatan tersebut untuk perencanaan pajak
yang baik.
c.

Administrasi perpajakan (tax administration)


Indonesia merupakan negara yang begitu luas wilayahnya dan begitu banyak
penduduknya, dan sebagai negara yang sedang membangun (developing country) masih
mengalami kesulitan dalam melaksanakan secara memadai (property). Hal yang
mendorong perusahaan untuk melaksanakan perencanaan perpajakan (tax planning0
dengan baik agar terhindar dari sanksi administrasi maupun pidana karena adanya
perbedaan penafsiran antara aparat fikus dengan Wajib pajak akibat dari begitu luasnya
peraturan perpajakan yang berlaku dan system informasi yang belum efektif.
Secara umum motivasi dilakukannya perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk
memaksimalkan laba setelah pajak (after tax return) karena pajak itu ikut mempengaruhi
dalam pengembalian keputusan atas suatu tindakan dalam operasi perusahaan untuk
melakukan investasi dengan cara menganalisis secara cermat dan memanfaatkrena
pemerintahan peluang atau kesempatan yang ada dalam ketentuan peraturan yang sengaja

dibuat oleh pemerintah untuk memberikan perlakuan yang berbeda atas objek yang secara
ekonomi hakikatnya sama (karena pemerintah mempunyai tujuan lain tersebut) dengan
memanfaatkan:
1. Perbedaan tariff pajak (tax rates)
2. Perbedaan perlakuan atas objek sebagai dasar pengenaan pajak (tax base)
3. Loopholes, shelters, havens