Anda di halaman 1dari 12

2.1.

Anatomi dan Fisiologi Payudara


Payudara sebagai kelenjar subkutis mulai tumbuh sejak minggu ke-enam masa embrio,
yaitu berupa penebalan ektodermal sepanjang garis yang disebut garis susu yang
terbentang dari aksila sampai ke regio inguinal. Dua pertiga dari garis tersebut segera
menghilang dan tinggal bagian dada saja yang berkembang menjadi cikal bakal
payudara. Beberapa hari setelah lahir, pada bayi, dapat terjadi pembesaran payudara
unilateral atau bilateral diikuti dengan sekresi cairan keruh. Keadaan yang disebut
mastitis neonatorum ini disebabkan oleh berkembangnya sistem duktus dan tumbuhnya
asinus serta vaskularisasi pada stroma yang dirangsang secara tidak langsung oleh
tingginya kadar estrogen ibu di dalam sirkulasi darah bayi. Setelah lahir kadar hormon
ini menurun, dan ini merangsang hipofisis untuk memproduksi prolaktin. Prolaktin
inilah yang menimbulkan perubahan payudara.
Kelenjar susu yang bentuknya bulat ini merupakan kelenjar kulit atau apendiks kulit
yang terletak di fascia pektoralis. Pada bagian lateral atasnya jaringan kelenjar ini keluar
dari bulatannya ke arah aksila, disebut penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap
payudara terdiri dari 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai
saluran ke papilla mamma, yang disebut duktus laktiferus. Diantara kelenjar susu dan
fascia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan
lemak. Diantara lobulus tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamentum Cooper yang
memberi rangka untuk payudara.

Pendarahan
payudara terutama
berasal dari cabang
a.perforantes
anterior dari
a.mammaria interna,
a.torakalis yang
bercabang dari
a.aksilaris, dan
beberapa
a.interkostalis.
Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.interkostalis.
Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus oleh saraf simpatik.
Penyaluran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke kelenjar
parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula penyaluran yang
ke kelenjar interpektoralis. Di aksila terdapat rata-rata 50 (berkisar dari 10 sampai 90)
buah kelenjar getah bening yang berada di sepanjang arteri dan vena brakialis. Saluran
limfe dari seluruh payudara mengalir ke kelompok anterior aksila, kelompok sentral
aksila, kelenjar aksila bagian dalam, yang lewat sepanjang v.aksilaris dan yang berlanjut
langsung ke kelenjar servikal bagian kaudal dalam di supraklavikuler.
Jalur limfe lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang selain menuju ke kelenjar
sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila kontralateral, ke m.rectus

abdominis lewat ligamentum falsifarum hepatis ke hati, ke pleura, dan ke payudara


kontralateral.
Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan
pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai
ke klimakterium dan menopause. Sejak pubertas pengaruh estrogen dan progesteron
yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebabkan duktus
berkembang dan timbulnya asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari
kedelapan menstruasi, payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum
menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timmbul benjolan
yang tidak nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi, payudara
menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin
dilakukan. Pada waktu itu pemeriksaan foto mammogram tidak berguna karena kontras
kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.
Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan, payudara menjadi
besar karena epitel duktus lobularis dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh
duktus baru.
Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu (trigger) laktasi. Air susu
diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus
ke puting susu.
2.2. Tumor Payudara Jinak
Kelainan Fibrokistik
Kelainan fibrokistik mencakup perubahan baik pada jaringan glandular maupun stroma.
Kelainan fibrokistik pada payudara adalah kondisi yang ditandai penambahan jaringan
fibrous dan glandular. Manifestasi dari kelainan ini termasuk adanya kista, fibrosis,
benjolan konsistensi lunak, terdapat penebalan, dan rasa nyeri. Kista dapat membesar
dan terasa sangat nyeri selama periode menstruasi karena hubungannya dengan
perubahan hormonal tiap bulannya. Wanita dengan kelainan fibrokistik mengalami nyeri
payudara siklik berkaitan dengan adanya perubahan hormon estrogen dan progesteron.
Perubahan fibrokistik adalah penyebab tumor yang terbanyak pada wanita berusia 30
sampai 50 tahun. Pembengkakan payudara biasanya berkurang setelah menstruasi
berhenti. Keluhan-keluhan dari perubahan fibrokistik biasanya berhenti setelah
menopause namun bisa menjadi lebih lama jika wanita tersebut melakukan terapi sulih
hormon.
Kelainan fibrokistik dapat diketahui dari pemeriksaan fisik, mammogram, atau biopsi.
Biopsi dilakukan terutama untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis kanker.
Perubahan fibrokistik biasanya ditemukan pada kedua payudara baik di kuadran atas
maupun bawah.
Fibrosis
Sesuai dengan asal katanya fibrosis, yaitu terdiri atas fibrosis dan kista. Fibrosis
menunjukkan penambahan jaringan fibrous, bahan yang sama dengan pembentuk
ligamen dan jaringan parut. Daerah dengan fibrosis tampak elastis, konsistensi padat dan
keras pada perabaan. Fibrosis tidak meningkatkan resiko untuk terjadinya kanker dan

tidak memerlukan tindakan yang khusus.


Kista
Kista adalah ruang berisi cairan yang dibatasi sel-sel glandular. Kista terbentuk dari
cairan yang berasal dari kelenjar payudara. Mikrokista terlalu kecil untuk dapat diraba,
dan ditemukan hanya bila jaringan tersebut dilihat di bawah mikroskop. Jika cairan terus
berkembang akan terbentuk makrokista. Makrokista ini dapat dengan mudah diraba dan
diameternya dapat mencapai 1 sampai 2 inchi.
Selama perkembangannya, pelebaran yang terjadi pada jaringan payudara menimbulkan
rasa nyeri. Benjolan bulat yang dapat digerakkan dan terutama nyeri bila disentuh,
mengarah pada kista.
Walaupun penyebab kista masih belum diketahui, namun para ahli mengetahui bahwa
terdapat hubungan antara kista dengan kadar hormon. Kista muncul seminggu atau 2
minggu sebelum periode menstruasi mulai dan akan menghilang sesudahnya. Kista
banyak terjadi pada wanita saat premenopause, terutama bila wanita tersebut menjalani
terapi sulih hormon. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kafein dapat
menyebabkan kista payudara walaupun hal ini masih menjadi kontroversial di kalangan
medis.
Kebanyakan wanita hanya mengalami kista payudara sebanyak satu atau dua, namun
pada beberapa kasus, kista multipel dapat terjadi. Kista biasanya dipastikan dengan
mammografi dan ultrasound (sonogram). Ultrasound sangat tepat digunakan untuk
mengidentifikasi apakah abnormalitas payudara tersebut merupakan kista ataukah massa
padat.
Kebanyakan kista yang simpel dapat digambarkan dengan baik, yaitu memiliki tepi yang
khas, dan sinyal ultrasound dapat dengan mudah melewati. Walaupun begitu, beberapa
kista didapatkan dengan tingkat ekoik internal yang rendah yang menyulitkan ahli
radiologi untuk mendiagnosis sebagai kista tanpa mengeluarkan cairan. Tipe kista yang
seperti ini disebut kista kompleks. Walaupun kista kompleks tersebut terlihat sebagai
massa yang solid, namun kista tersebut bukanlah kanker.
Dalam keadaan tertentu, kista dapat menimbulkan nyeri yang hebat. Mengeluarkan isi
kista dengan aspirasi jarum halus akan mengempiskan kista dan mengurangi
ketidaknyamanan. Beberapa ahli radiologis memasukkan udara ke daerah tersebut
setelah drainase untuk meminimalkan kemungkinan kista muncul lagi. Apabila cairan
dari kista tampak seperti darah atau terlihat mencurigakan, cairan tersebut harus
diperiksakan ke laboratorium patologi untuk dilihat di bawah mikroskop. Cairan kista
yang normal dapat berwarna kuning, coklat, hijau , hitam, atau berwarna seperti susu.
Galaktokel
Galaktokel adalah kista berisi susu yang terjadi pada wanita yang sedang hamil atau
menyusui. Seperti kista lainnya, galaktokel tidak bersifat seperti kanker. Biasanya
galaktokel tampak rata, benjolan dapat digerakkan, walaupun dapat juga keras dan susah
digerakkan. Penatalaksanaan galaktokel sama seperti kista lainnya, biasanya tanpa
melakukan tindakan apapun. Apabila diagnosis masih diragukan atau galaktokel
menimbulkan rasa tidak nyaman, maka dapat dilakukan drainase dengan aspirasi jarum
halus.

Hiperplasi Epitelial
Hiperplasi epitel ( disebut juga kelainan payudara proliferatif) adalah pertumbuhan
abnormal dari sel-sel yang membatasi antar duktus atau lobulus. Apabila hiperplasi
melibatkan duktus maka disebut hiperplasia duktus. Sedangkan bila melibatkan lobulus,
maka disebut hiperplasia lobular. Berdasarkan pengamatan dibawah mikroskop,
hiperplasia dapat dikelompokkan menjadi tipe biasa dan atipikal. Hiperplasia tipe biasa
mengindikasikan peningkatan yang tipis dari resiko seorang wanita untuk berkembang
menjadi kanker payudara. Resikonya adalah 1,5 sampai 2 kali lipat dibandingkan wanita
tanpa abnormalitas payudara. Hiperplasia atipikal mengindikasikan peningkatan yang
sedang yaitu 4 sampai 5 kali lipat dibandingkan wanita tanpa abnormalitas payudara.
Hiperplasi epitelial biasanya didiagnosa melalui biopsi jarum atau biopsi melalui
pembedahan. Apabila telah didiagnosis menderita hiperplasia terutama hiperplasia
atipikal, berarti diperlukan pemantauan yang lebih oleh dokter, misalnya pemeriksaan
fisik payudara yang rutin dan mammografi setiap setahun sekali. Hal ini dikarenakan
mengalami hiperplasia akan meningkatkan kemungkinan untuk berkembang menjadi
kanker payudara di masa yang akan datang.
Adenosis
Adenosis adalah temuan yang sering didapat pada wanita dengan kelainan fibrokistik.
Adenosis adalah pembesaran lobulus payudara, yang mencakup kelenjar-kelenjar yang
lebih banyak dari biasanya. Apabila pembesaran lobulus saling berdekatan satu sama
lain, maka kumpulan lobulus dengan adenosis ini kemungkinan dapat diraba.
Banyak istilah lain yang digunakan untuk kondisi ini, diantaranya adenosis agregasi,
atau tumor adenosis. Sangat penting untuk digarisbawahi walaupun merupakan tumor,
namun kondisi ini termasuk jinak dan bukanlah kanker. Adenosis sklerotik adalah tipe
khusus dari adenosis dimana pembesaran lobulus disertai dengan parut seperti jaringan
fibrous. Apabila adenosis dan adenosis sklerotik cukup luas sehingga dapat diraba,
dokter akan sulit membedakan tumor ini dengan kanker melalui pemeriksaan fisik
payudara. Kalsifikasi dapat terbentuk pada adenosis, adenosis sklerotik, dan kanker,
sehingga makin membingungkan diagnosis. Biopsi melalui aspirasi jarum halus biasanya
dapat menunjukkan apakah tumor ini jinak atau tidak. Namun dengan biopsi melalui
pembedahan sabat dianjurkan untuk memastikan tidak terjadinya kanker.
Fibroadenoma
Fibroadenoma merupakan tumor payudara jinak yang terkadang terlalu kecil untuk dapat
teraba oleh tangan, walaupun diameternya bisa saja meluas beberapa inchi.
Fibroadenoma dibentuk baik itu oleh jaringan payudara glandular maupun stroma, dan
biasanya terjadi pada wanita muda. Setelah menopause, tumor tidak lagi ditemukan.
Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau berbenjol-benjol, dengan simpai licin
dan konsistensi kenyal padat. Tumor ini tidak melekat ke jaringan sekitarnya dan amat
mudah digerakkan kesana kemari. Biasanya fibroadenoma tidak nyeri bila ditekan.
Kadang-kadang fibroadenoma tumbuh multipel. Pada masa adolescen fibroadenoma bisa
terdapat dalam ukuran yang besar. Pertumbuhan bisa cepat sekali selama kehamilan dan
laktasi atau menjelang menopause, saat rangsangan estrogen meninggi. Fibroadenoma
dapat dengan mudah didiagnosa melalui aspirasi jarum halus atau biopsi jarum dengan
diameter yang lebih besar (core needle biopsi).

Pada umumnya dokter menyarankan untuk dilakukannya pengangkatan fibroadenoma


terutama jika pertumbuhan terus berlangsung atau terjadi perubahan bentuk payudara.
Terkadang (terutama pada usia petengahan atau wanita usia dewasa) tumor ini akan
berhenti tumbuh atau bahkan mengecil dengan sendirinya tanpa terapi apapun. Dalam
hal ini, selama dokter yakin massa tersebut adalah benar-benar fibroadenoma dan bukan
kanker payudara, pembedahan untuk mengangkat fibroadenoma mungkin tidak
diperlukan. Pendekatan ini berguna untuk wanita dengan fibroadenoma yang multipel
yang tidak berlanjut pertumbuhannya.
Pada beberapa kasus, pengangkatan fibroadenoma multipel berarti mengangkat sejumlah
besar jaringan payudara sekitar yang normal, sehingga menyebabkan jaringan parut yang
akan mengubah bentuk dan tekstur payudara. Hal ini juga nantinya akan menyebabkan
hasil pemeriksaan fisik serta mammografi menjadi sulit untuk diinterpretasikan. Sangat
penting bagi wanita yang tidak melakukan pengangkatan fibroadenoma tersebut untuk
memeriksakan payudaranya secara teratur untuk meyakinkan bahwa massa tersebut tidak
berlanjut pertumbuhannya. Terkadang satu atau lebih fibroadenoma akan tumbuh setelah
salah satu fibroadenoma diangkat. Hal ini berarti bahwa fibroadenoma baru telah
terbentuk dan bukanlah fibroadenoma yang lama yang tumbuh kembali.
Tumor Filoides (Sistosarkoma filoides)
Tumor filoides merupakan suatu neoplasma jinak yang bersifat menyusup secara lokal
dan mungkin ganas (10-15%). Pertumbuhannya cepat dan dapat ditemukan dalam
ukuran yang besar. Tumor ini terdapat pada semua usia, tapi kebanyakan pada usia
sekitar 45 tahun.
Tumor filoides adalah tipe yang jarang dari tumor payudara, yang hampir sama dengan
fibroadenoma yaitu terdiri dari dua jaringan, jaringan stroma dan glandular. Perbedaan
antara tumor filoides dengan fibroadenoma adalah bahwa terdapat pertumbuhan berlebih
dari jaringan fibrokonektif pada tumor filoides. Sel yang membangun jaringan
fibrokonektif dapat terlihat abnormalitasnya dibawah mikroskop. Secara histologis,
tumor filoides dapat diklasifikasikan menjadi jinak, ganas, atau potensial ganas
(perubahan tumor ke arah kanker masih diragukan).
Tumor filoides pada umumnya jinak namun walaupun jarang dapat juga berubah
menjadi ganas dan bermetastase. Tumor filoides jinak diterapi dengan cara melakukan
pangangkatan tumor disertai 2 cm (atau sekitar 1 inchi) jaringan payudara sekitar yang
normal. Sedangkan tumor filoides yang ganas diterapi dengan melakukan pengangkatan
tumor disertai jaringan sekitar yang lebih luas lagi, atau mastektomi bila perlu. Tumor
filoides tidak berespon terhadap terapi hormon dan hampir sama dengan kanker
payudara yang berespon terhadap kemoterapi atau radiasi.
Papilloma Intraduktal
Papilloma intraduktal adalah pertumbuhan menyerupai kutil dengan disertai tangkai
yang tumbuh dari dalam payudara yang berasal dari jaringan glandular dan jaringan
fibrovaskular. Papilloma seringkali melibatkan sejumlah besar kelenjar susu. Lesi jinak
yang berasal dari duktus laktiferus dan 75% tumbuh di bawah areola mamma ini
memberikan gejala berupa sekresi cairan berdarah dari puting susu. Papilloma dapat juga
ditemukan di duktus yang kecil di daerah yang jauh dari puting. Keadaan ini seringkali
tumbuh dalam jumlah banyak dan juga mungkin disertai hiperplasi epitelial.

Perubahan payudara jinak yang menyebabkan keluarnya sekresi cairan dari puting,
hampir setengahnya adalah papilloma, dan sisanya adalah campuran perubahan
fibrokistik ataupun ektasia duktus. Walaupun papilloma bisa dicurigai dari pemeriksaan
terhadap discharge, namun banyak dokter menganggap pemeriksaan tersebut tidak
begitu bermanfaat. Apabila papilloma cukup besar, biopsi jarum bisa dilakukan.
Papilloma dapat juga didiagnosa melalui pemeriksaan pencitraan pada duktus payudara
yaitu dengan duktogram atau galaktogram.
Terapi untuk papilloma adalah dengan mengangkat papilloma serta bagian duktus
dimana papilloma tersebut ditemukan, dimana biasanya dengan melakukan insisi pada
tepi sekeliling areola.
Tumor Sel Granular
Tumor sel granular biasanya terdapat pada mulut atau kulit, namun dalam jumlah yang
jarang dapat ditemukan juga di payudara. Kebanyakan tumor sel granular pada saat
perabaan dapat digerakkan, konsistensi keras, berdiameter antara sampai 1 inchi.
Konsistensinya yang keras terkadang mengacaukan diagnosisnya dengan kanker, namun
aspirasi jarum halus atau biopsi jarum dapat dilakukan untuk membedakannya.
Tumor ini diatasi dengan cara mengangkat tumor beserta sedikit jaringan normal
disekelilingnya. Tumor sel granular tidak akan meningkatkan resiko pada wanita untuk
terjadinya kanker payudara di kemudian hari.
Ektasia Duktus
Ektasia duktus merupakan pelebaran dan pengerasan dari duktus, dicirikan dengan
sekresi puting yang berwarna hijau atau hitam pekat, dan lengket. Pada puting serta
daerah disekitarnya akan terasa sakit serta tampak kemerahan. Ektasia duktus adalah
kondisi yang biasanya menyerang wanita usia sekitar 40 sampai 50 tahun. Ektasia duktus
adalah kelainan jinak yang walaupun begitu dapat mengacaukan diagnosis dengan
kanker dikarenakan benjolan yang keras di sekitar duktus yang abnormal akibat
terbentuknya jaringan parut.
Kondisi ini umumnya tidak memerlukan tindakan apapun, atau dapat membaik dengan
melakukan pengkompresan dengan air hangat dan obat-obat antibiotik. Apabila keluhan
tidak membaik, duktus yang abnormal dapat diangkat melalui pembedahan dengan cara
insisi pada tepi areola.
Nekrosis Lemak
Nekrosis lemak terjadi bila jaringan payudara yang berlemak rusak, bisa terjadi spontan
atau akibat dari cedera yang mengenai payudara. Nekrosis lemak dapat juga terjadi
akibat terapi radiasi. Ketika tubuh berusaha memperbaiki jaringan payudara yang rusak,
daerah yang mengalami kerusakan tergantikan menjadi jaringan parut.
Nekrosis lemak berupa massa keras yang sering agak nyeri tetapi tidak membesar.
Kadang terdapat retraksi kulit dan batasnya tidak rata. Karena kebanyakan kanker
payudara berkonsistensi keras, daerah yang mengalami nekrosis lemak dengan jaringan
parut sulit untuk dibedakan dengan kanker jika hanya dari pemeriksaan fisik ataupun
mammogram sekalipun. Dengan biopsi jarum atau dengan tindakan pembedahan eksisi
sangat diperlukan untuk membedakan nekrosis lemak dengan kanker. Secara
histopatologik terdapat nekrosis jaringan lemak yang kemudian menjadi fibrosis.

Menurut American Cancer Society, beberapa area dari nekrosis dapat berespon berbedabeda terhadap cedera. Desamping pembentukan jaringan parut, sel-sel lemak akan mati
dan mengeluarkan isi sel, yang membentuk kumpulan seperti kantong-kantong berisi
cairan berminyak dan disebut kista minyak. Kista minyak dapat ditemukan melalui
aspirasi jarum halus, yang sekaligus merupakan tindakan untuk terapinya.
Mastitis
Mastitis adalah infeksi yang sering menyerang wanita yang sedang menyusui atau pada
wanita yang mengalami kerusakan atau keretakan pada kulit sekitar puting. Kerusakan
pada kulit sekitar puting tersebut akan memudahkan bakteri dari permukaan kulit untuk
memasuki duktus yang menjadi tempat berkembangnya bakteri dan menarik sel-sel
inflamasi. Sel-sel inflamasi melepaskan substansi untuk melawan infeksi, namun juga
menyebabkan pembengkakan jaringan dan peningkatan aliran darah. Perubahan ini
menyebabkan payudara menjadi merah, nyeri, dan terasa hangat saat perabaan.
Gambaran klinisnya sukar dibedakan dengan karsinoma, yaitu massa berkonsistensi
keras, bisa melekat ke kulit, dan menimbulkan retraksi puting susu akibat fibrosis
periduktal, dan bisa terdapat pembesaran kelenjar getah bening aksila. Kondisi ini
diterapi dengan antibiotik. Pada beberapa kasus, mastitis berkembang menjadi abses atau
kumpulan pus yang harus dikeluarkan melalui pembedahan.
2.3. Tumor Payudara Ganas (Karsinoma Mamma)
Etiologi dan faktor resiko
Dari epidemiologi tampak bahwa kemungkinan untuk menderita kanker payudara 2
sampai 3 kali lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita
kanker payudara. Kemungkinan ini lebih besar bila ibu atau saudara kandung itu
menderita kanker bilateral atau pre menopause. Seperti pada banyak jenis kanker,
insidensi menurut usia naik sejalan dengan bertambahnya usia, makin lanjut usia resiko
menderita kanker makin tinggi.
Pertumbuhan kanker payudara sering dipengaruhi oleh perubahan keseimbangan
hormon. Menarche yang cepat dan menopause yang lambat ternyata disertai dengan
peninggian resiko. Resiko karsinoma mamma lebih rendah pada wanita yang melahirkan
anak pertama pada usia lebih muda. Laktasi tidak mempengaruhi resiko. Kemungkinan
resiko meninggi terhadap adanya kanker payudara pada wanita yang menelan pil KB
dapat disangkal berdasarkan penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun. Sampai
sekarang tidak terbukti bahwa diit lemak berlebihan dapat memperbesar atau
memperkecil resiko kanker payudara.
Klasifikasi
Klasifikasi histologi :
Malignant (Carcinoma)
1.Non invasive carcinoma
a.Non invasive ductal carcinoma
b.Lobuler carcinoma in situ
2.Invasive carcinoma
a.Invasive ductal carcinoma

b.Papillobular carcinoma
c.Solid-tubular carcinoma
3.Special types
a.Mucinous carcinoma
b.Medullary carcinoma
c.Invasive lobular carcinoma
d.Adenoid cystic carcinoma
e.Squamous cell carcinoma
f.Spindel cell carcinoma
g.Apocrine carcinoma
h.Carcinoma with cartilaginous and or osseous mataplasia
i.Tubular carcinoma
j.Secretary carcinoma
k.Others
4.Pagets disease
Klasifikasi berdasarkan derajat diferensiasi histologis :
G1 : Derajat keganasan rendah
G2 : Derajat keganasan sedang
G3 : Derajat keganasan tinggi
Klasifikasi stadium TNM :
T = Ukuran tumor primer
Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 : Tidak terdapat tumor primer
Tis : Karsinoma in situ
Tis (DCIS) : Ductal carcinoma in situ
Tis (LCIS) : Lobular carcinoma in situ
Tis (Paget) : Penyakit Paget pada puting tanpa adanya tumor
T1 : Tumor dengan ukuran diameter terbesarnya 2 cm
T1mic: Adanya mikroinvasi 0,1 cm
T1a : Tumor dengan ukuran 0,1-0,5 cm
T1b : Tumor dengan ukuran 0,5-1 cm
T1c : Tumor dengan ukuran 1-2 cm
T2 : Tumor dengan ukuran 2-5 cm
T3 : Tumor dengan ukuran > 5 cm
T4 : Tumor ukuran berapapun dengan ekstensi langsung ke dinding dada atau kulit
T4a : Ekstensi ke dinding dada (tidak termasuk otot pektoralis)
T4b : Edema (termasuk peau dorange), ulcerasi, nodul satelit pada kulit pada 1
payudara
T4c : Mencakup kedua hal diatas
T4d : Mastitis karsinomatosa
N = Kelanjar getah bening regional
Nx : KGB regional tidak bisa dinilai (telah diangkat sebelumnya)
N0 : Tidak terdapat metastase KGB

N1 : Metastase ke KGB aksila ipsilateral yang mobil


N2 : Metastase ke KGB aksila ipsilateral terfiksir, berkonglomerasi, atau adanya
pembesaran KGB mamaria interna ipsilateral tanpa adanya metastase ke KGB aksila
N2a : Metastase pada KGB aksila terfiksir atau berkonglomerasi atau melekat ke
struktur lain
N2b : Metastase hanya pada KGB mamaria interna ipsilateral secara klinis dan tidak
terdapat metastase pada KGB aksila
N3 : Metastase pada KGB infraklavikular ipsilateral dengan atau tanpa metastase KGB
aksila atau klinis terdapat metastase pada KGB aksila; atau metastase pada KGB
supraklavikular ipsilateral dengan atau tanpa metastase pada KGB aksila atau
mamaria interna
N3a : Metastase ke KGB infraklavikular ipsilateral
N3b : Metastase ke KGB mamaria interna dan KGB aksila
N3c : Metastase ke KGB supraklavikular
M = Metastase jauh
Mx : Metastase jauh belum dapat dinilai
M0 : Tidak terdapat metastase jauh
M1 : Terdapat metastase jauh
Stadium :
0 : Tis N0 M0
I : T1 N0 M0
IIA : T0 N1 M0, T1 N1 M0, T2 N0 M0
IIB : T2 N1 M0, T3 N0 M0
IIIA : T0 N2 M0, T1 N2 M0, T2 N2 M0, T3 N1 M0, T3 N2 M0
IIIB : T4 N0 M0, T4 N1 M0, T4 N2 M0
IIIC : TiapT N3 M0
IV : TiapT TiapN M1
Patofisiologi
Payudara normal

Hiperplasia ( penambahan jumlah sel)

Atipikal hiperplasia (penambahan jumlah sel yang abnormal, pertanda kanker payudara)

Carcinoma in situ (kanker telah terjadi namun tergantung duktus atau lobulus dimana
kanker tersebut bermula)

Invasive cancer (kanker terdapat dan telah menyebar dimulai dari duktus atau lobulus
dimana kanker tersebut berasal)
Prosedur diagnostik
Pemeriksaan klinis :
Anamnesis :

1.Keluhan di payudara atau ketiak dan riwayat penyakitnya


Benjolan
Kecepatan tumbuh
Rasa sakit
Nipple discharge
Nipple retraksi dan sejak kapan
Krusta pada areola
Kelainan kulit : dimpling, peau dorange, ulserasi, venektasi
Perubahan warna kulit
Benjolan ketiak
Edema lengan
2.Keluhan di tempat lain yang berhubungan dengan metastase
Nyeri tulang (vertebra, femur)
Rasa penuh di ulu hati
Batuk
Sakit kepala hebat, dll
3.Faktor-faktor resiko
Usia penderita
Usia melahirkan anak pertama
Punya anak atau tidak
Riwayat menyusui
Riwayat menstruasi
Riwayat pemakaian obat hormonal
Riwayat keluarga sehubungan dengan kanker payudara atau kanker lain
Riwayat pernah operasi tumor payudara atau tumor ginekologik
Riwayat radiasi dinding dada
Pemeriksaan fisik :
1.Status generalis
2.Status lokalis
Payudara kanan dan kiri harus diperiksa
Massa tumor : lokasi, ukuran, konsistensi, permukaan, bentuk dan batas tumor, jumlah
tumor, terfiksasi atau tidak ke jaringan sekitar payudara, kulit, m.pektoralis, dan dinding
dada.
Perubahan kulit : kemerahan, dimpling, edema, nodul satelit, peau dorange, ulserasi.
Nipple : tertarik, erosi, krusta, discharge.
Status kelenjar getah bening aksila, infraklavikular, dan supraklavikular : jumlah,
ukuran, konsistensi, terfiksir satu sama lain atau jaringan sekitar.
Pemeriksaan pada daerah yang dicurigai metastase : lokasi organ (paru, tulang, hepar,
otak).
Pemeriksaan Radiodiagnostik / imaging :
1.Diharuskan :
USG payudara dan mammografi untuk tumor berdiameter > 3 cm
Foto toraks
USG abdomen (hepar)

2.Atas indikasi :
Bone scanning dan atau bone survey (bilamana sitologi dan atau klinis sangat
mencurigakan pada lesi > 5 cm)
CT scan
Pemeriksaan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) sitologi :
Dilakukan pada lesi yang secara klinis dan radiologik curiga ganas.
Catatan : belum merupakan gold standard.
Pemeriksaan Histopatologi (gold standard diagnostik) :
1.Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan potong beku dan atau parafin.
2.Bahan pemeriksaan histopatologi diambil melalui :
Core biopsy
Biopsi eksisional untuk tumor ukuran <> 3 cm sebelum operasi definitif
b.inoperabel
Spesimen mastektomi disertai dengan pemeriksaan KGB
Pemeriksaan imunohistokimia : ER, PR, c-erbB-2 (HER-2 neu), cathepsin-D, p53
(situasional)
Pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan laboratorium rutin dan kimia klinik yang sesuai dengan kemungkinan
metastase.
Penatalaksanaan :
1.Operasi
BCS (Breast Conserving Surgery)
Simpel mastektomi
Radikal mastektomi
2.Radiasi
Primer
Adjuvan
Paliatif
3.Kemoterapi
Harus kombinasi
Kombinasi yang dipakai :
a.CMF
b.CAF, CEF
c.Taxane + Doxorubicin
d.Capecetabin
4.Hormonal terapi
Ablative : Bilateral ovarektomi
Additive : Tamoxifen
Optional : Aromatose inhibitor, GnRH, dsb.
5.Molecular targeting therapy (terapi biologi)
DAFTAR PUSTAKA

1.Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim, 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
2.Komite Medik RSUP DR.Sardjito, 1999. Standar Pelayanan Medis RSUP DR.
Sardjito. Yogyakarta : Penerbit Medika FK UGM.
3.Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia, 2002. Protokol Penatalaksanaan Kanker
Payudara.
4.Santen, Richard dan Mansel, Robert, 2005. Benign Breast Disorder, The New England
Journal Of Medicine, 353 : 275-85.
5.Chaudhary, A., Qureshi, K., Rasul, S., Bano, A., 2003. Journal Of Surgery Pakistan,
vol. 8 no.3.
6.http://www.medem.com/MedLB/article_detailb.cfm?article_ID=ZZZ3F9G56JC
7.http://www.cancer.org/docroot/cri/content/cri_2_6xbenign_breast_conditions_59.asp
8.http://www.imaginis.com/breasthealth/benignbreast condition.htm

sorces : http://sanirachman.blogspot.com/2009/11/tumor-jinakpayudara.html#ixzz4FrqiKgJq
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial