Anda di halaman 1dari 5

Judul :

Latar Belakang
Penyebab terjadinya isu
1. Indonesia merupakan negara dengan tingkat mengkonsumsi rokok tertinggi keempat
di dunia setelah China, Rusia dan Amerika.

Gambar 1.1 Lima negara dengan konsumsi rokok terbesar (milyar batang)
Sumber: Tobacco Atlas 2002, 2009, 2012
Grafik di atas memperlihatkan peningkatan jumlah batang rokok yang dikonsumsi di
Indonesia dan China, dan penurunan di Amerika dan Jepang, serta fluktuatif di Rusia. Seperti
tertera dalam grafik, konsumsi rokok di Indonesia meningkat dari 182 milyar batang pada
tahun 1998 menjadi 260,8 milyar batang pada tahun 2009.
2. Sampai saat ini, Indonesia belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco
Control (FCTC).
180 negara atau mewakili 90% populasi di dunia telah meratifikasi FCTC, hal ini menjadikan
Indonesia sebagai satu-satunya negara di Asia serta salah satu dari tujuh negara yang belum
menandatangani dan belum mengaksesi FCTC, bersama dengan Andorra, Liechtenstein,
Monaco, Malawi, Somalia, dan Eriteria.
3. Rancangan Undang-Undang terkait Pengendalian Dampak Produk Tembakau
Terhadap Kesehatan (RUU-PDPTK) yang sudah diajukan sejak tahun 2006 dan
masuk Prolegnas 2010-2014, diendapkan begitu saja pada Rapat Pleno Baleg 7 Juli
2011.

RUU PDPTK ini selain mengatur peredaran tembakau secara ketat tapi juga melindungi
masyarakat terutama yang berumur dibawah 18 tahun dan juga ibu hamil dari bahaya adiksi
merokok yang mengancam kesehatan penggunanya. Diendapkannya RUU-PDPTK ini
disebabkan berubahnya nuansa setelah kunjungan kerja Baleg, pembahasan berubah menjadi
bisnis dan industri rokok yang didalihkan dengan isu perlindungan petani tembakau dan
perkebunan mandiri masyarakat serta ketergantungan ekonomi terhadapnya, padahal tidak
ada kajian terhadap itu.
4. Munculnya Rancangan Undang-Undang Pertembakauan di nomor urut 22 dari 37
prioritas Prolegnas tahun 2015, yang disinyalir disusupi kepentingan industri rokok.
Masuknya RUU Pertembakauan ini tanpa dilengkapi naskah akademik dan tanpa konsideran
(payung hukum) apapun. Sebagian besar muatan materi draft RUU tersebut lebih banyak
membahas produksi tembakau, ketimbang pengendalian atas risiko tembakau.
Dampaknya
1. Di tingkat nasional, masalah-masalah yang berkaitan erat dengan tembakau dan
produk-produk yang dihasilkan dari tembakau menyangkut masalah dalam bidang
ketenagakerjaan, petani tembakau, pajak dan cukai, kultural, yang tidak jarang
berdampak pula pada sisi psikologis.
2. Di tataran internasional berkaitan dengan penanaman modal asing, hak cipta, dan
budaya yang juga berdampak psikologis bahkan lebih jauh dapat menyinggung sistem
politis.
3. Berpotensi menambah angka perokok pasif.
Dalam RUU Pertembakauan tetap mencantumkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), namun
tidak selengkap yang ada pada pasal 115 UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan;
menghapuskan tempat umum lainnya yang belum ditetapkan.
4. Memperbesar peluang kaum muda untuk cederung merokok.
RUU Pertembakauan Pasal 26 Poin 2 menyebutkan bahwa kandungan zat kimia berbahaya
pada tembakau hanya tar dan nikotin, padahal nyatanya zat kimia berbahaya yang terkandung
dalam rokok begitu banyak bukan hanya tar dan nikotin namun juga Karbondioksida, arsenic,
dan sianida. Sebuhungan dengan hal tersebut, pada RUU Pertembakauan Pasal 36 dan 37
menyebutkan bahwa Tobacco Advertisement, Promotions, and Sponsorship (TAPS) dapat
dilakukan melalui berbagai media.
5. Pada segi ekonomi, RUU Pertembakauan Pasal 10 dan 16 menyebutkan bahwa
Pemerintah/Pemda memfasilitasi kemitraan antara petani dan pelaku usaha dengan

prinsip saling menguntungkan. Namun standarisasi harga tembakau belum ditetapkan


sehingga menyebabkan kerugian bagi petani tembakau karena ketentuan tentang harga
penjualan tembakau itu sendiri sampai saat ini sepenuhnya masih dipegang oleh pihak
industri rokok.
6. Biaya ekonomi dan sosial yang ditimbulkan akibat konsumsi tembakau terus
meningkat dan beban peningkatan ini sebagian besar ditanggung oleh masyarakat
yang berpenghasilan rendah.
Siapa yang dirugikan
1. Masyarakat terutama remaja yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi cenderung
lebih mudah dipengaruhi untuk menjadi pecandu, apalagi dengan adanya RUU
Pertembakauan Pasal 36 dan 37 justru akan lebih mempermudah pengaruh tersebut
karena iklan dan promosi produk rokok justru diperbolehkan melalui berbagai media
massa.
2. Masyarakat pada umumnya dirugikan karena kualitas udara yang menurun.
3. Petani tembakau belum dibuatkan standarisasi harga tembakau sehingga
menyebabkan kerugian karena ketentuan tentang harga penjualan tembakau itu sendiri
sampai saat ini sepenuhnya masih dipegang oleh pihak industri rokok.
4. Tembakau produksi dalam negeri mengalami penurunan harga jual.
Indonesia dengan tingkat cukai yang masih dibawah 30% menjadi surga bagi produk
tembakau impor yang menargetkan Indonesia sebagai negara tujuan impor utama karena
negara lain telah menetapkan cukai produk tembakau hingga 70% .

Fakta yang ada di lapangan

Jika kita melihat kembali keadaan Indonesia dewasa ini, sudah jelas bahwa Negeri ini sedang
terjajah oleh kapitalisme industri rokok dan ditambah minimnya kesadaran dari pemerintah
untuk terus melindungi kesehatan warga negaranya. Beberapa elemen masyarakat yang
peduli akan kesehatan warga Negara Indonesia jelas tak pernah berhenti mendukung dan
mengupayakan penegakan peraturan terkait masalah produk tembakau berupa rokok ini.
Identifikasi Masalah
1. Bagaimana kejelasan RUU Pertembakauan jika dibandingkan RUU Pengendalian
Dampak

Produk

Tembakau

Terhadap

Kesehatan

perlindungan kesehatan warga negara Indonesia?

(RUU-PDPTK)

terhadap

(Halaman 31 di sub bab 2.4 Mendua Hati Isi dari RUU Pertembakaun, intinya pertama RUU
pertembakaun ini cacat hukum karena masuk tanpa dilengkapi naskah akademik dan payung
hukum, kedua realisasi ruu pertembakaun mengarah ke kapitalisme industri rokok yang akan
hanya memberi keuntungan kepada industri rokok, ketiga kemarin sudah pernah diajukan
RUU-PDPTK yang lebih sah secara hukum karena punya naskah akademik dan isinya tepat
sebagai perlindungan kesehatan warga negara indonesia dari bahaya rokok jadi kenapa harus
memprioritaskan RUU Pertembakauan yang tidak jelas ini)
2. Bagaimana implikasi dan seberapa besar pengaruh RUU Pertembakauan ditinjau dari
sisi masyarakat Indonesia apabila dihubungkan dengan kualitas hidup?
(Halaman 32, dari poin luas lahan tembakau tidak signifikan biaya ekonomi dampak
semakin besar, boleh banget ditambah hal2 lain lagi, tapi kalo takut kemaleman gek laju dak
gawe tutorial enakan copy bae edit dikit wqwq, jangan sampe melakukan kejahatan akademik
ya kawan-kawan hohoho gek laju keno kejahatan akademik pulok plagiat wqwq)
3. Bagaimana analisis pihak-pihak yang terlibat dalam proses legislasi RUU
Pertembakauan?
(Hal 13, dak usah semua poin dimasuki, menurut aku yang penting itu poin siapa yang
mengusulkan, alat kelengkapan yang membahas, siapa yang dilibatkan dalam pembahsan,
keterlibatan publik, dan beri penekanan pada Pembahasan RUU Pertembakauan

dilakukan dengan cara konvensional yang tidak efektif dan optimal, tidak ada
metode khusus, karena secara tertutup dan tiba-tiba masuk dalam Usul Inisiatif
DPR-RI)

4. Apa solusi konkret yang dapat diberikan terkait permasalahan yang dihadapi?
(solusi dari halaman 35 itu oke kok, masuki bae cak 3 poin menurut aku, terserah yang mano
bae asal dak samo nian wkwk) ini menjawab rekomendasi solusi poin selanjutnyoPembahasan

Analisis penyebab
Analisis efek
Analisa pihak-pihak yang terlibat

Rekomendasi solusi
Penutup

Kesimpulan
Pernyataan sikap