Anda di halaman 1dari 21

RECIPROCAL TEACHING DAN PROBLEM POSING

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Pendekatan Pembelajaran Kimia
yang dibina oleh Dr. Endang Budiasih, M.Si

oleh:
Aldila Candra K.
Angga Puspitaningrum
Amalia Ratnaputri U.
Dewi Lestarani
Ratna Jamilatul M.

(150331806107) Kelas A
(150331806171) Kelas A
(150331805847) Kelas B
(150331806323) Kelas B
(150331806624) Kelas B

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FEBRUARI 2016

DAFTAR ISI
Halaman Sampul ..................................................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
1. Latar Belakang........................................................................ 1
2. Tujuan ..................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................ 3
1. Strategi Pembelajaran Reciprocal Teaching ........................... 4
2. Strategi Pembelajaran Problem Posing ................................... 8
BAB III PENUTUP ............................................................................... 17
Kesimpulan.................................................................................. 17
DAFTAR RUJUKAN ............................................................................. 18

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu aspek persoalan yang harus
diperhatikan di masyarakat. Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu
pendidikan tersebut telah dan terus dilakukan, mulai dari pelatihan untuk
meningkatkan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum secara periodik,
perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, sampai dengan peningkatan mutu
manajemen sekolah. Dalam implementasinya di kelas salah satu upaya
nyatanya adalah dengan penggunaan berbagai strategi pembelajaran yang
sesuai dengan materi. Tujuannya adalah untuk mempermudah peserta didik
dalam memahami konsep-konsep. Berbagai strategi pembelajaran telah banyak
dikembangkan oleh para ahli berdarkan teori-teori belajar yang ada. Strategi
pembelajaran yang banyak digunakan sekarang ini adalah startegi
pembelajaran yang berprinsip pada teori konstruktivisme. Pembelajaran yang
berdasar pada teori konstruktisme akan melatih peserta didiknya untuk bisa
mengkonstruk sendiri pengetahuannya sehingga nantinya informasi yang
diterima dapat tersimpan dalam memori jangka panjang dan dapat
meningkatkan pemahaman peserta didik tentang konsep-konsep yang
diajarkan.
Dalam makalah ini akan dibahas strategi pembelajaran yang
berlandaskan pada teori konstruktivisme, yaitu strategi pembelajaran
reciprocal teaching dan strategi pembelajaran problem posing.
2. Tujuan
1. Mendeskripsikan strategi pembelajaran Reciprocal Teaching
2. Mendeskripsikan strategi pembelajaran Problem Posing

BAB II
PEMBAHASAN

1. Strategi Pembelajaran Reciprocal Teaching


Reciprocal teaching atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai
Pengajaran Timbal Balik merupakan salah satu jenis strategi pembelajaran yang
berdasarkan pada jenis pembelajaran kooperatif karena dalam proses
implementasinya peserta didik dibagi dalam kelompok kecil beranggotakan 4
orang yang heterogen. Reciprocal berarti suatu interaksi dimana seseorang
bertindak untuk merespon yang lain. Tujuan utama pembelajaran reciprocal
teaching adalah untuk memaknai suatu wacana/teks sehingga nantinya peserta
didik dapat menjelaskan temuannya ke pihak lain.
Selama proses pembelajaran menggunakan reciprocal teaching, guru dan
peserta didik menggunakan pengetahuan awal dan dialog untuk membangun
pemahaman bersama tentang wacana/ teks dan membangun kemampuan peserta
didik dalam memahami wacana/teks tersebut. Pembelajaran menggunakan
reciprocal teaching harus memperhatikan 3 hal, yaitu peserta didik belajar
mengingat, berpikir dan memotivasi diri.
1.1

Teori yang Mendasari Strategi Pembelajaran Reciprocal Teaching


Pembelajaran reciprocal teaching menjadikan prinsip konstruktivisme

sebagai acuan dasarnya. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta,


konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus
mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman
nyata. Berdasarkan prinsip konstruktivisme tersebut maka pembelajaran harus
mengajarkan peserta didik untuk dapat berfikir sendiri dalam menyelesaikan
masalah, mencari ide dan membuat keputusan. Peserta didik akan lebih paham
karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan
lebih paham dan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selain itu
peserta didik terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih
lama semua konsep. Terdapat 2 teori belajar yang menjadi landasan
pembelajaran reciprocal teaching, yaitu:

a. Teori Motivasi
Salah satu teori motivasi yaitu teori hiraerki Maslow mengungkapkan
bahwa manusia mempunyai 5 kebutuhan hidup mulai dari kebutuhan mendasar
hingga paling tinggi yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan,
dan aktualiasi diri. Salah satu kebutuhnayang erat kaitannya dalam pembelajran
adalah kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri. Dalam pembelajaran
reciprocal teaching, peserta didik dituntut untuk aktif dan kreatif selama proses
pembelajaran sehingga perlu diberikannya imbalan (reward) berupa
penguatan dan pujian kepada peserta didik untuk meningkatkan motivasi
mereka dalam belajar. Pembelajaran reciprocal teaching yang merupakan
pembelajaran berkelompok maka untuk mencapai tujuan individual adalah
dengan melalui keberhasilan kelompok. Oleh karena itu setiap anggota
kelompok akan membantu anggota yang lain sekuat tenaga dan mendorong
rekannya agar berpartisipasi semaksimal mungkin demi keberhasilan
kelompok.
b. Teori Kognitif
Teori kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik
memproses informasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir,
menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang
baru dengan pengetahuan yang telah ada. Teori ini menekankan pada
bagaimana informasi diproses. Teori kognitif dapat diklasifikasikan menjadi 2
golongan, yaitu Teori Perkembangan dan Teori Elaborasi Kognitif.
Teori Perkembangan
Teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita
melalui tindakan yang merupakan hasil interaksi dengan sendirinya terhadap
lingkungan. Implementasinya pada pembelajaran yaitu peserta didik dapat
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan melalui interaksinya dengan
peserta didik lain sehingga diharapkan nantinya dapat meningkatkan
penguasaan konsep-konsep yang sulit. Maka berdasarkan teori ini dalam
sistem pembelajaran di kelas lebih dianjurkan untuk menggunakan sistem
pembelajaran berkelompok. Melalui kegiatan berkelompok, fungsi-fungsi
dipahami secara kolektif yang kemudian menjadi fungsi mental sebagai

hasil konstruk secara individual dari individu yang tergabung dalam


kelompok tersebut.
Teori Elaborasi Kognitif
Teori elaborasi kognitif menekankan pada penyimpanan informasi dalam
struktur kognitif peserta didik. Informasi yang diterima bisa tersimpan di
dalam memori jangka panjang maupun jangka panjang. Salah satu cara agar
informasi yang diterima bisa tersimpan dalam memori jangka panjang
adalah dengan melakukan elaborasi terhadap informasi tersebut. Terdapat
beberapa cara dalam melakukan elaborasi terhadap informasi yang diterima,
diantaranya dengan menjelaskan informasi kepada orang lain, meringkas,
atau mengoreksi. Dalam pembelajaran reciprocal teaching setiap anggota
kelompok diberikan tugas-tugas yang merupakan kegiatan elaborasi
terhadap informasi yang diterima yaitu memprediksi, mengklarifikasi,
menyusun pertanyaan dan meringkas.
1.2

Unsur-unsur dalam Strategi Pembelajaran Reciprocal Teaching


Strategi pembelajaran reciprocal teaching yang merupakan variasi dari

pembelajaran kooperatif tentunya juga memiliki unsur-unsur pembelajaran


berkelompok yang sama. Unsur-unsur tersebut yaitu:

Interaksi langsung antar peserta didik : para peserta didik bekerja dalam
kelompok yang beranggotakan 4 orang.

Ketergantungan positif: para peserta didik bekerjasama untuk mencapai


tujuan kelompok.

Keterandalan individu: para peserta didik harus menunjukkan bahwa


mereka masing-masing menguasai kajian.

Keterampilan antar personal dan kelompok kecil: para peserta didik harus
diajari untuk bekerja sama dalam kelompok secara efektif agar tujuan
kelompok tercapai. (Iskandar, 2011: 94)

1.3

Tugas-tugas Peserta Didik


Dalam pembelajaran reciprocal teaching yang merupakan pembelajaran

berkelompok dengan jumlah 4 peserta didik, masing-masing peserta didik


mempunyai tugas-tugas sendiri dalam kelompok tersebut. Tugas-tugas peserta
didik tersebut yaitu:

a. Memprediksi, salah satu anggota kelompok bertugas untuk memprediksi apa


yang akan dibahas oleh pengarangnya dengan membaca judul atau sub judul
bacaan.
b. Mengklarifikasi, salah satu anggota kelompok bertugas untuk mencari katakata sulit dan konsep sulit yang membuat bacaan sulit dipahami.
c. Menyusun pertanyaan-pertanyaan, anggota kelompok yang bertugas harus
mengidentifikasi informasi penting di dalam bacaan kemudian mengajukan
informai terebut dalam kalimat Tanya. Peserta didik yang bersangkutan juga
harus mengetes dirina sendiri apakah dia dapat menjawab pertanyaan yang
disusunnya.
d. Membuat ringkasan, anggota kelompok yang bertugas harus membuat
bacaan lebih ringkas tanpa menghilangkan informasi-informasi yang
penting caranya dengan mengidentifikasi informasi dan konsep penting
terlebih dahulu kemudian mengintegrasikannya agar terkait satu sama lain
dan menjadi suatu pengertian yang utuh.
1.4

Langkah-langkah Pembelajaran
Langkah-langkah pembelajaran dalam pembelajaran reciprocal teaching

adalah sebagai berikut:


a. Pengajar mempersiapkan bahan bacaan dan perangkat pembelajaran lain.
b. Pengajar mengelompokkan para peserta didik menjadi kelompok-kelompok
kecil. Masing-masing kelompok branggotakan 4 orang.
c. Setiap kelompok mengerjakan bersama satu bahan bacaan dengan tugas
masing-masing yaitu memprediksi, mengklarifikasi, menyusun pertanyaan,
dan membuat ringkasan.
d. Setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas dan
harus mampu menjawab pertanyaan dari kelompok lain seputar bahan
presentasi.
e. Pengajar melakukan assesmen selama pembelajaran berlangsung.
1.5

Contoh Implementasi
Materi

: Senyawa Kimia dalam Kehidupan Sehari-hari

Kelas

:X

Semester

:1

Skenario Pembelajaran :
- Bacaan yang disiapkan oleh guru adalah kimia dalam kehidupan
sehari-hari yang meliputi: senyawa kimia dalam bahan pangan,
sandang, bangunan, perdangangan, seni dan estetika.
- Guru mengelompokkan siswa dimana masing-masing kelompok
terdiri dari 4 (empat) siswa.
Kelompok 1 membahas topik senyawa kimia dalam bahan pangan
Kelompok 2 membahas topik senyawa kimia dalam bahan sandang
Kelompok 3 membahas topik senyawa kimia dalam bahan bangunan
Kelompok 4 membahas topik senyawa kimia dalam perdangangan
Kelompok 5 membahas topik senyawa kimia dalam bidang seni dan
estetika.
- Setiap kelompok berdialog dengan anggotanya secara terstruktur
menurut tugas masing-masing yaitu memprediksi, mengklarifikasi,
menyusun pertanyaan-pertanyaan, dan membuat ringkasan. Guru
melakukan asesmen menggunakan lembar observasi kemudian setiap
kelompok menyiapkan makalah dari bacaan yang dipresentasikan
- Presentasi kelompok menyajikan topik yang sudah dibahas dalam
masing-masing kelompok. Audiens mengajukan pertanyaan mengenai
topik yang dipresentasikan. Guru melakukan asesmen menggunakan
lembar penilaian presentasi.
Asesmen
Asesmen yang disiapkan oleh guru meliputi:
a. Lembar Observasi
Nama

Bertanya

Menjawab

Menanggapi

Skor yang
diperoleh

Rubrik/ pedoman penilaian diskusi


ASPEK

2
Mengajukan
pertanyaan namun
tidak relevan
dengan materi
diskusi

Bertanya

Mengajukan
pertanyaan yang
relevan dengan
diskusi

Menjawab

Memaparkan
jawaban dengan jelas
dan sistematik

Memaparkan
jawaban dengan
jelas namun tidak
sistematik

Tidak
memaparkan
jawaban

Memberikan
pendapat dengan jelas
dan sistematik

Memberikan
pendapat dengan
jelas namun tidak
sistematik

Tidak
memberikan
pendapat

Menanggapi

Skor kelompok =

Tidak
mengajukan
pertanyaan saat
diskusi

skor yang dicapai kelompok


x100
skor maksimum

b. Lembar Penilaian Presentasi


Kelompok

Paparan
Materi

Komponen yang dinilai


Diskusi/ Tanya
Media
Jawab

Total Skor

Waktu

Rubrik Penilaian
Komponen
Paparan
Materi
Media
Diskusi/
Tanya Jawab
Waktu

Uraian
Kejelasan uraian, sistematika penjelasan
dan kedalaman materi.
Variasi media yang digunakan
Cara menjawab, kesesuaian jawaban
dngan pertanyaan
Ketepatan waktu presentasi

Bobot

Skor
max

35

Total
Skor
Max
175

20
35

5
5

100
175

10

50

c. Lembar Penilaian Makalah


Kelompok

Abstrak

Komponen yang dinilai


Isi
Sistem
Kepustakaan
Makalah
Penulisan

Total
Skor

Rubrik Penilaian
Bobot

Skor
max

Kesesuaian dan klengkapan abstrak,


system penulisan
Kejelasan latar belakang, ketajaman
perumusan masalah, kesesuaian kajian
teori
Mengikuti aturan penulisan PPKI

20

Total
Skor
Max
100

50

250

10

50

Kesesuaian bahasan dengan pustaka,


kemutakhiran bahan pustaka

20

100

Komponen
Abstrak
Isi Makalah

Sistem
Penulisan
Kepustakaan

1.6

Uraian

Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Reciprocal


Teaching
a. Kelebihan Reciprocal Teaching:
- Melatih siswa belajar mandiri
- Melatih siswa untuk menemukan hal-hal penting dari apa yang
dipelajari siswa
- Melatih siswa untuk berpikir kritis.
- Dapat diterapkan dalam kelas besar.
- Meningkatkan umpan balik peserta didik dalam proses
pembelajaran
b. Kelemahan Reciprocal Teaching:
- Dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu cukup banyak
- Bagi siswa yang mempunyai kesulitan decoding atau merangkai
kata, mereka akan merasa tidak nyaman atau malu ketika bekerja
sama dalam kelompok yang terlibat proses pembelajaran

2. Strategi Pembelajaran Problem Posing


Problem posing merupakan istilah dalam bahasa inggris yang berasal dari
kata problem berarti masalah atau soal dan posing berasal dari kata to pose yang
artinya mengajukan atau membentuk (Iskandar, 2011). Pengertian lain dari
problem posing adalah pembuatan soal oleh peserta didik yang dapat mereka
pikirkan tanpa pembatasan apapun baik terkait isi maupun konteksnya. Selain itu,
problem posing diartikan sebagai pembentukan soal berdasarkan konteks, cerita,
informasi, atau gambar yang diketahui (Mahmudi, 2013).

Problem posing adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Paolo Freire


(Freire 1970,1978, 1991) dan diakui secara resmi pada tahun 2000 oleh National
Council of Teacher of Mathematics (NCTM) sebagai bahan reformasi pendidikan
matematika. Model ini dikemudian dielaborasi ke berbagai bidang seperti
pembelajaran bahasa asing (Inggris) sebagai bahasa kedua (Crawford, 1978).
2.1

Teori yang Mendasari Strategi Pembelajaran Problem Posing


Strategi pembelajaran problem posing merupakan strategi yang tidak

hanya berpusat pada pengajar (teacher centered) tetapi juga memberikan


kesempatan pada peserta didik untuk menyusun dan membuat soal setelah
kegiatan

pembelajaran

dilakukan

sebagai

hasil

interaksinya

dengan

penyampaian materi yang diberikan guru (Nakato dalam Rasmawan, 2010:57).


Menurut

Iskandar

(2011:114),

teori

belajar

yang

mendasari

dalam

pembelajaran problem posing adalah teori konstruktivisme dan teori


behaviorisme, karena strategi ini merupakan gabungan behaviorisme dan
konstruktivisme. Pada teori behaviorisme, pembelajaran berpusat pada
pengajar (teacher centered) dan menekankan pada perubahan tingkah laku
setelah terjadi proses belajar oleh peserta didik. Dalam pembelajaran problem
posing hal ini dilakukan pada awal pembelajaran untuk menjelaskan materi.
Konstruktivisme menyatakan bahwa peserta didik menggunakan pengalamanpengalamannya untuk membangun pemahamannya secara aktif agar masuk
akal baginya dan bukannya memperoleh pemahamannya melalui penyajian
informasi dalam bentuk yang sudah jadi (Eggen & Kauchak dalam Hitipeuw,
2009: 86). Dengan demikian menurut teori ini, peserta didik harus membangun
sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek baik yang bersifat
konkret maupun abstrak. Dalam pembelajaran problem posing, obyek yang
dimaksud di atas merupakan kondisi yang diberikan kepada peserta didik untuk
membentuk soal, yaitu berupa gambar, benda, permainan, konsep/teori, atau
soal. Peserta didik perlu berinteraksi dengan sesama peserta didik di dalam
proses membangun pengetahuan. Dalam pembelajaran problem posing hal ini
diterapkan pada saat peserta didik menukarkan soal yang dibentuknya dengan
peserta didik lain untuk mendiskusikannya, sehingga akan terjadi interkasi
timbal balik antar peserta didik.

10

2.2

Unsur-Unsur dalam Strategi Pembelajaran Problem Posing


Menurut Iskandar (2011:115), ada 3 unsur penting yang menjadi ciri khas

dalam strategi pembelajaran problem posing, yaitu unsur matematika


(perhitungan); struktur pembelajaran; dan respon peserta didik. Adapun
penjelasan mengenai ketiga unsur tersebut adalah sebagai berikut.
a. Unsur matematika, dicirikan dengan adanya pengkajian tentang pokok
bahasan yang melibatkan operasi matematis. Pokok-pokok bahasan di dalam
ilmu kimia yang melibatkan perhitungan matematika adalah stoikiometri,
energi, larutan, dam kinetika kimia.
b. Unsur struktur pembelajaran, yaitu pada pelaksanaan pembelajaran problem
posing terjadi peralihan dalam pelaksanaan pembelajaran, yaitu dari teacher
centered menjadi student centered. Penyampaian materi oleh pengajar
merupakan pembelajaran berpusat pada pengajar (teacher centered),
sedangkan pembentukkan soal oleh pembelajar dan penyelesaian soal oleh
pembelajar yang lain merupakan pembelajaran berpusat pada pembelajar
(teacher centered).
c. Unsur respon peserta didik. Respon peserta didik yang diharapkan dari
situasi atau informasi problem posing adalah respon berupa soal buatan
peserta didik. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan peserta didik
membuat yang lain, misalnya peserta didik hanya membuat pernyataan.

Silver dan Cai dalam Iskandar (2011) mengklasifikasikan respon tersebut


menurut jenisnya menjadi tiga kelompok, yaitu pertanyaan matematika,
pertanyaan non matematika dan pernyataan.
a. Pertanyaan matematika adalah pertanyaan

yang memuat masalah

matematika dan mempunyai kaitan dengan informasi yang diberikan.


Pertanyaan matematika ini, selanjutnya diklasifikasikan ke dalam dua
kategori, yaitu pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan dan
pertanyaan matematika

yang tidak dapat

diselesaikan. Pertanyaan

matematika yang dapat diselesaikan adalah pertanyaan yang memuat


informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk diselesaikan, sementara

11

pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan jika pertanyaan


tersebut memiliki tujuan yang tidak sesuai dengan informasi yang ada.
b. Pertanyaan non matematis adalah pertanyaan yang tidak memuat masalah
matematika dan tidak mempunyai kaitan dengan informasi yang diberikan.
c. Pernyataan adalah kalimat yang bersifat ungkapan atau berita yang tidak
memuat pertanyaan, tetapi sekedar ungkapan yang bernilai benar atau salah.

Respon Pembelajar

Pertanyaan Non
Matematika

Pertanyaan
Matematika

Tidak dapat
diselesaikan

Pernyataan

Dapat diselesaikan

Gambar 1. Skema Respon Pembelajar Terhadap Tugas Pembentukkan Soal

Berdasarkan tingkat kesukarannya, Silver dan Cai dalam Cai (2012),


mengklasifikasikan respon peserta didik menjadi dua dua kelompok, yaitu: (1)
tingkat kesukaran respon terkait dengan stuktur bahasa (sintaksis), dan (2)
tingkat kesukaran respon terkait dengan stuktur matematika (semantik).
Tingkat kesukaran respon yang berkaitan dengan sintaksis dapat dilihat dari
proposisi yang dikandungnya. Proposisi yang digunakan dibedakan menjadi
tiga,

yaitu proposisi

penugasan, proposisi

hubungan, dan proposisi

pengandaian. Proposisi penugasan adalah pertanyaan (soal) yang memuat tugas


untuk dikerjakan. Proposisi hubungan adalah pertanyaan yang memuat tugas
untuk membandingkan. Sedangkan proposisi pengandaian adalah pertanyaan
yang menggunakan informasi tambahan.

12

Tingkat kesukaran respon berkaitan dengan stuktur semantik, dapat


diketahui dari hubungan semantiknya. Menurut Silver dan Cai dalam Cai
(2012) hubungan semantik respon peserta didik dapat dikelompokkan menjadi
lima

kategori,

yaitu

mengubah,

mengelompokkan,

membandingkan,

menyatakan kembali, dan memvariasikan.


2.3

Langkah-langkah Kegiatan dalam Strategi Pembelajaran Problem


Posing
Dalam menerapkan strategi pembelajaran Problem Posing, pengajar

harus terlebih dahulu mengetahui sintaks atau langkah-langkah pembelajaran


yang diambil pengajar untuk menerapkan strategi Problem Posing adalah
sebagai berikut.
a. Membuka kegiatan pembelajaran
b. Menyampaikan tujuan pembelajaran
c. Menyampaikan materi pembelajaran
d. Memberi contoh-contoh soal dan penyelesaiannya
e. Memberi kesempatan untuk bertanya
f. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk membentuk soal dari
kondisi yang diberikan dan mempertukarkan serta mendiskusikan
g. Mempersilakan peserta didik untuk mempresentasikan soal bentukannya
h. Memberikan kondisi lain dan memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk membentuk soal sebanyak-banyaknya
i. Mempersilakan peserta didik untuk mempertukarkan soal bentukannya
dengan peserta didik lain untuk mendiskusikan, sementara asesmen
dilakukan
j. Mengarahkan peserta didik untuk menarik kesimpulan
k. Membuat rangkuman berdasarkan kesimpulan peserta didik
l. Menutup pelajaran.
Berdasarkan sintaks atau langkah-langkah pembelajaran tersebut, dapat
diketahui bahwa langkah utama strategi ini adalah langkah 3 sampai 10.
Langkah sebelumnya merupakan kegiatan pendahuluan dan langkah setelahnya
merupakan kegiatan penutup.
Pada pelaksanaannya di kelas strategi problem posing dapat dilakukan

13

secara individu, berpasangan (in pairs) atau secara berkelompok (groups).


Masalah yang diajukan secara individu tidak memuat intervensi atau pemikiran
dari peserta didik yang lain. Masalah tersebut adalah murni sebagai hasil
pemikiran yang dilatar belakangi oleh situasi yang diberikan. Masalah yang
diajukan oleh peserta didik yang dibuat secara berpasangan dapat lebih
berbobot, jika dilakukan dengan cara kolaborasi, utamanya yang berkaitan
dengan tingkat keterselesaian masalah tersebut. Sama halnya dengan
masalahyang dirumuskan dalam satu kelompok kecil, akan menjadi lebih
berkualitas apabila anggota kelompok dapat berpartisipasi dengan baik
(Hamzah dalam Rahman, 2013: 8). Dalam pelaksanaannya dikenal beberapa
jenis model problem posing sebagai berikut.
a. Situasi problem posing bebas, peserta didik diberikan kesempatan yang
seluas-luasnya untuk mengajukan soal sesuai dengan apa yang dikehendaki.
Peserta didik dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari
sebagai acuan untuk mengajukan soal.
b. Situasi problem posing semi terstruktur, peserta didik diberikan
situasi/informasi

terbuka.

Kemudian

peserta

didik

diminta

untuk

mengajukan soal dengan mengkaitkan informasi itu dengan pengetahuan


yang sudah dimilikinya. Situasi dapat berupa gambar atau informasi yang
dihubungkan dengan konsep tertentu.
c. Situasi problem posing terstruktur, peserta didik diberi soal atau selesaian
soal tersebut, kemudian berdasarkan hal tersebut peserta didik diminta untuk
mengajukan soal baru.
2.4

Skenario Pembelajaran dengan Strategi Pembelajaran Problem


Posing
Kegiatan yang dilakukan guru didalam kelas untuk mencapai tujuan

pembelajaran dengan strategi tertentu harus disusun dalam scenario


pembelajaran. Skenario pembelajaran strategi problem posing terdiri beberapa
langkah-langkah yang telah disebutkan di pembahasan sebelumnya. Adapun
contoh implementasi strategi problem posing pada suatu materi kimia fraksi
mol ditunjukkan pada Tabel 1.

14

Tabel 1. Kompetensi Dasar untuk Materi Pokok Stoikiometri


Materi pokok

Stoikiometri

Kompetensi dasar
4.3. menghitung banyaknya
pereaksi dan hasil reaksi
dalamlarutan elektrolit

1.

2.

2.5

Indikator
Mengkomunikasikan hasil
pengamatan tentang beberapa
reaksi dalam larutan elektrolit
Menggunakan konsep mol,
konsentrasi dan volume larutan
untuk perhitungan kimiapada
reaksi dalam larutan

Asesmen dalam Pembelajaran Problem Posing


Menurut James A. Mc Lounghlin & Rena B Lewis asesmen adalah

proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi


untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang anak saat itu,
sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan.
Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program
pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objectif. Asesmen
yang dapat disiapkan oleh pengajar antara lain sebagai berikut.
Lembar Observasi
Format penilaian diskusi
Nama

Bertanya

Menjawab

Menanggapi

Skor yang
diperoleh

Rubrik/ pedoman penilaian diskusi


No.

SKOR
ASPEK

Bertanya

Mengajukan pertanyaan
yang relevan dengan
diskusi

Menjawab

Memaparkan jawaban
dengan jelas dan sistematik

2
Mengajukan
pertanyaan namun
tidak relevan dengan
materi diskusi
Memaparkan jawaban
dengan jelas namun
tidak sistematik

1
Tidak mengajukan
pertanyaan saat diskusi

Tidak memaparkan
jawaban

15

Menanggapi

Memberikan pendapat
dengan jelas dan sistematik

Skor kelompok =

Memberikan pendapat
dengan jelas namun
tidak sistematik

Tidak memberikan
pendapat

skor yang dicapai kelompok


x100
skor maksimum

Lembar penilaian pelaksanaan problem posing


Format Penilaian Problem Posing
Nama

Ketepatan
soal

Hubungan
soal dengan
kondisi soal

Ketepata
n
jawaban

Kemapuan
membuat
soal

Skor yang
diperoleh

Rubrik/ pedoman penilaian problem posing


SKOR
3
No.

ASPEK
Pembuatan soal
kurang tepat dan
kurang logis
Soal sudah benar
tetapi tidak sesuai
dengan kondisi yang
diberikan

Pembuatan soal
tidak tepat dan
tidak logis

Ketepatan membuat soal

Pembuatan soal sudah


tepat dan logis

2.

Hubungan soal dengan


kondisi soal

Soal sesuai dengan


kondisi yang diberikan

3.

Ketepatan jawaban

Jawaban sudah benar


dan tepat

Jawaban kurang tepat

Jawaban salah dan


tidak tepat

4.

Kemampuan membuat
soal

Soal matematis dan


dapat diselesaikan

Soal matematis dan


tidak dapat
diselesaiakan

Soal nonmatematis
dan tidak dapat
diselesaikan

Soal tidak sesuai


denag kindisi yang
diberikan

16

Nilai problem possing =


2.6

Skor yang dicapai


x 100
skor maksimum

Kelebihan dan Kekurangan Problem Posing


Menurut Rahayuningsih (dalam Sanjaya, 2010) pendekatan problem

posing mempunyai kelebihan dan kelemahan. Berikut ini merupakan kelebihan


problem posing:
a. Kegiatan pembelajaran tidak terpusat pada guru, tetapi dituntut keaktifan
peserta didik.
b. Minat peserta didik dalam pembelajaran lebih besar, sehingga peserta didik
lebih mudah memahami soal karena dibuat sendiri.
c. Semua peserta didik terpacu untuk terlibat secara aktif dalam membuat soal.
d. Dengan membuat soal, kemampuan peserta didik peserta didik dalam
menyelesaikan masalah semakin baik.
e. Dapat membantu peserta didik untuk melihat permasalahan yang ada dan
yang baru diterima sehingga diharapkan mendapatkan pemahaman yang
mendalam dan lebih baik, serta merangsang peserta didik untuk
memunculkan ide yang kreatif dari yang diperolehnya dan memperluas
pengetahuannya.
Namun demikian problem posing juga mempunyai kelemahan, diantaranya:
a. Persiapan guru menjadi lebih karena perlu menyiapkan informasi apa yang
perlu disampaikan.
b. Waktu yang digunakan juga lebih banyak, baik untuk membuat soal maupun
penyelesaiannya sehingga waktu penyampaian materi agar menjadi lebih
sempit.

BAB III
PENUTUP

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa


1. Strategi pembelajaran Reciprocal Teaching adalah pembelajaran untuk
memaknai suatu wacana/teks sehingga nantinya peserta didik dapat
menjelaskan temuannya ke pihak lain.
2. Strategi pembelajaran Problem Posing adalah pembelajaran dengan
strategi pembuatan soal oleh peserta didik mengenai apa mereka
pikirkan terkait isi maupun konteksnya.

17

DAFTAR RUJUKAN

Arifin, M. 2000. Common Textbook Strategi Belajar Mengajar Kimia. Bandung:


JICA.
Arvianto, I.R. 2011. Penggunaan Multimedia Pembelajaran untuk Meningkatkan
Pemahaman Konsep Peserta didik dengan Pendekatan Instruksional
Concrete Representational Abstract (CRA) (PTK Pada Peserta didik
Kelas XI SMK N 1 Banyudono). Prosiding Seminar Nasional
Matematika.
(Online),
(http://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/123456789/569/MAKILHAM-(170-179).pdf?sequence=1), diakses tanggal 17 Januari 2015.
Cai, J. 2013. Problem Posing Research in Mathematics Education: New Question
and Directions. Education Studies in Mathematics: An International
Journal. (Online), (https:www.researchgate.net/...Cai/...Problemposing.../5...), diakses tanggal 24 Januari 2015.
Cai, J. 2012. Mathematical Problem Posing as a Measure of Curricular Effect on
Student Learning. Education Studies in Mathematics: An International
Journal. (Online),
(http://epublications.marquette.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1073&co
ntext=mscs_fac), diakses tanggal 1 Pebruari 2015.
Chin, C. 2001. Student-Generated Questions: What They Tell Us About Students'
Thinking. Paper presented at the Annual Meeting of the American
Educational Research Association, Seattle-USA.
Crawford, L. M. 1978. Paolo Freires philosophy: Derivation of Curricular
Principles and Their Application to Second Language Curriculum
Design. Unpublished PhD dissertation. University of Minnesota.
Dillon, J.T. 1990. The practice of questioning. London: Routledge.
Freire, P. 1988. The Adult Literacy Process as Cultural Action for Freedom and
Education and Conscientizacao. Carbondale, IL: Southern Illinois
University Press.
Ghasempour, Z., Bakar, M.N., & Jahanshahloo, G.R. 2013. Innovation in
Teaching and Learning through Problem Posing Tasks and
Metacognitive Strategies. Int. J. Ped. Inn. 1. No. 1, pp: 53-62.
Gunawan, Ridwan Panji. 2013. Metode Pembelajaran Reciprocal Teaching
(online), (http://proposalmatematika23.blogspot.co.id/2013/06/modelpembelajaran-reciprocal-teaching.html), diakses 4 Februari 2016.

18

19

Hitipeuw, I. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan


Universitas Negeri Malang.
Iskandar, S.M. 2011. Pendekatan Pembelajaran Sains Berbasis Konstruktivis.
Malang: Bayumedia publishing.
Kementerian Pendidikan Nasional. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta:
Kemendikbud.
Keung, Wai dan Chung Li. 2011. Mosstons Reciprocal Style of Teaching: A
Pilot Study in Hong Kong. New Horizons in Education, Vol.59, No.2
Rahman, A. 2013. The Profil of Students Mathematical Problem Posing on Their
Cognitive Styles. Indian Streams Research Jornal. (Online),
(http://isrj.org/UploadedData/3058.pdf) diakses tanggal 17 Januari 2015.
Sanjaya, S. 2010. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran dengan Pendekatan
Problem Posing, (online), (http://sutisna.com/artikel/artikelkependidikan/kelebihan-dan-kelemahan-pembelajaran-denganpendekatan-problem-posing/), diakses 3 Februari 2016.
Stoyanova, E. 2003. Extending Students Understanding of Mathematics via
Problem Posing. Australian Mathematics Teacher. No. 59 (2), pp: 32-40.