Anda di halaman 1dari 10

FKG

UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL

KISTA DENTIGEROUS
I.

Pendahuluan
Kista adalah suatu rongga patologis yang dibatasi oleh suatu lapisan
epitel dan biasanya berisi cairan atau bahan semi solid yang dapat terjadi pada
jaringan keras maupun jaringan lunak, dikelilingi oleh dinding atau kapsul dan
jaringan ikat 1,2,3.
Kista rahang merupakan kista yang paling sering ditemukan
dibandingkan dengan kista tulang lainnya, karena banyaknya sisa epitel yang
tertinggal pada jaringan setelah proses pembentukan gigi. Menurut WHO
(1992) kista rahang terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu ista
odontogenik dan kista non-odontogenik 1,2.
Kista yang dibentuk dari epitel odontogenik merupakan yang terbanyak
di rahang. Kista dentigerous merupakan kantung jaringan ikat yang berisi
cairan dengan berbatas epitel skuamos berlapis yang terbentuk di sekitar
mahkota gigi yang tidak erupsi atau dentikel. Kista ini sering disebut kista
folikular karena hasil pembesaran folikel yang berasal dari akumulasi cairan
antara epitel tereduksi dengan email gigi

3,4

. Kista dentigerous biasanya

terbentuk pada gigi impaksi dan gigi supernumerary permanen, kemungkinan


terjadinya pada gigi susu sangat kecil dan biasanya terjadi pada gigi yang
sedang erupsi sehingga disebut juga sebagai kista erupsi 4,5.
Erupsi gigi ektopik terkait dengan kista dentigerous di sinus maksilaris
dapat menyebabkan terjadinya sinusitis maksilaris

. Kejadian sinusitis

maksilaris dipermudah oleh adanya factor lokal maupun sistemik, maka faktor
tersebut perlu diteliti berapa besar pengaruhnya terhadap terjadinya sinus
maksilaris 11.

FKG
UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL


II.

Epidemiologi
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ramadhania RW
(2011) mengatakan bahwa Terdapat 62,7% kasus kista di mandibula dan 2,0%
kista di maksila yang belum didiagnosis jenisnya, kasus kista rongga mulut
yang sudah didiagnosis jenisnya yaitu kista radikuler sebesar 27.4%, kista
dentigerous sebesar 3.9%, kista folikuler sebesar 2,0%, dan kista multilokuler
sebesar 2,0% 6.
Kista dentigerous merupakan salah satu jenis kista odontogenik yang
terbanyak setelah kista radikuler di rongga mulut. Kista dentigerous adalah
kista yang terbentuk di sekitar mahkota gigi yang belum erupsi. Kista ini
mulai terbentuk bila cairan menumpuk di dalam lapisan epitel email yang
tereduksi atau diantara epitel dan mahkota gigi yang belum erupsi. Kista
dentigerous adalah suatu kantong yang dibungkus oleh epitelium yang terjadi
dari enamel organ yang berhubungan dengan mahkota gigi yang tidak erupsi.
Kista dentigerous sebagai kista yang menutupi gigi yang belum erupsi dengan
perluasan folikelnya dan menyerang hingga ke leher gigi. Kista dintegerous
sering terjadi pada posterior mandibula atau maksila dan umumnya berkaitan
dengan impaksi atau embedeed gigi molar ketiga

3,6

. Kelompok umur yang

paling banyak menderita kista dentigerous akibat impaksi gigi molar tiga
bawah adalah kelompok umur dewasa kecuali pada dekade usia > 70 tahun.
Berdasarkan jenis kelamin perbandingan antara pria dan wanita adalah 1,6 : 1
1,6,8

.
Kista dentigerous dapat terjadi baik di rahang atas maupun di rahang

bawah. Paling banyak ditemukan pada daerah prosesus alveolaris, ramus


asendens, molar tiga bawah, sudut mandibula, kaninus atas, molar tiga atas
dan premolar bawah serta daerah sinus maksilaris. Secara umum, gigi yang
sering mengalami terjadinya kista adalah pada molar tiga bawah, kaninus atas,
molar tiga atas dan premolar dua bawah 4.

FKG
UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL

III.

Etiologi
Etilogi kista dentigerous biasanya berhubungan dengan : 8
a.
b.
c.
d.

gigi impaksi
gigi tambahan (supernumerary)
gigi yang ektopik
gigi yang terdapat pada rongga sinus.
Faktor lokal dari penyebab kista dentigerous dapat dikaitkan dengan

perkembangan mahkota atau gigi permanen dan juga bisa muncul dari sisa
epitel enamel 3. Penyebab kista ini terbentuk oleh karena adanya cairan atau
ruangan diantara jaringan folikel gigi yang dibatasi oleh sisa epitelium email
dan mahkota gigi yang impaksi serta menyatu dengan bagian servikal
mahkota gigi. Kista dentigerus berkembang setelah pecahnya sel dari folikel
yang sedang tumbuh sebagai akibat dari erupsi yang terhalang. Hal ini yang
akan menyebabkan naiknya tekanan osmotik dari cairan kista sehingga kista
akan membesar 1,4.
IV.

Patofisiologi
Patofisiologi dimulai dengan rusaknya Stellate reticulum sehingga
membentuk cairan antara epitel email bagian dalam dan bagian luar. Tekanan
cairan tersebut mendorong proliferasi epitel email luar yang menyisakan
perlekatan pada gigi dibagian Cemento enamel junction, lalu epitel email
dalam tertekan ke atas permukaan mahkota 1,2,4.
Kista terbentuk mengelilingi mahkota dan melekat pada Cemento
enamel junction dari gigi. Saat telah terbentuk sempurna, mahkota akan
berprotusi ke dalam lumen dan akarnya memanjang ke sisi luar kista 1,2,4.
Pada setiap teori cairan menyebabkan proliferasi kistik karena
kandungan hyperosmolar yang dihasilkan oleh celluler breakdown dan
produk-produk sel sehingga menyebabkan gradient osmotic untuk memompa
cairan ke dalam lumen kista 1,2,4
3

FKG
UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL


Patogenesis pertumbuhan atau perkembangan suatu kista dapat dibagi
menjadi 4 tahap, yaitu: 1) Tahap awal, ditandai kista belum merusak tulang
sehingga tulang di atasnya masih utuh dan teraba keras. 2) Tahap sensasi bola
pingpong, ditandai sudah mulai terjadi desakan kista yang semakin besar pada
tulang, 3) Tahap krepitasi, pada tahap ini sudah terjadi fragmentasi dari tulang
di atasnya akibat desakan kista, sehingga pada palpasi teraba adanya krepitasi.
4) Tahap fluktuasi, pada tahap ini hanya ada bila kista telah mengerosi tulang
secara sempurna 3.
Infeksi yang terjadi pada gigi rahang atas P1, P2, serta M1. M2, M3
(dentogen) dapat menimbulkan masalah klinis seperti infeksi sinus. Antrum
maksila mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan akar gigi premolar,
molar atas dan sering terlihat pada pemeriksaan radiologi oral dan fasial.
Infeksi odontogen adalah infeksi yang bersumber dari kerusakan jaringan
keras gigi atau jaringan penyangga gigi yang disebabkan oleh bakteri yang
merupakan flora normal rongga mulut yang berubah menjadi patogen 11.
Terjadinya sinusitis diawali dengan adanya kuman yang masuk ke
dalam sinus. Adanya kuman dapat menyebabkan proses inflamasi dan
menyebabkan gangguan drainase sinus 11.
V.

Diagnosis
V.1 Gambaran klinis
Seperti hal nya dengan jenis kista lainnya, kista dentigerous tidak
terlihat bila masih pada tahap awal. Kista dentigerous yang belum mengalami
komplikasi seperti kista lainnya tidak akan meneyebabkan gejala sampai
pembesarannya nyata terlihat 4.
Apabila pembesarannya mulai terlihat maka gejala klinis yang dapat
ditimbulkan yaitu adanya pembengkakan yang tumbuh lambat, tidak sakit,
palpasi keras menunjukkan adanya ekspansi kortikal. Jika ada rasa sakit dan
pembengkakan yang membesar mengindikasikan adanya peradangan. Jika
kista ini diaspirasi akan diperoleh cairan jernih kekuningan 4,8.
V.2 Gambaran radiografis
4

FKG
UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL


Gambaran radiologi tampak gambaran daerah radiolusen dan gambaran
mahkota gigi atau gigi yang impaksi. Biasanya lesi unilokuler, tetapi kadangkadang tampak multilokuler. Daerah radiolusen dikelilingi oleh lapisan tipis
sklerotik yang merupakan reaksi dari tulang disekelilingnya. Pada kista
dentigerous multilokuler ada kemungkinan terjadinya Odontogenic keratocyt
basal cell nevus bifid rib syndrome. Gambaran yang lain termasuk adanya
gambaran demarkasi atau pembatasan antara lusensi dari kista dan tulang
sekelilingnya, tepi radiolusen dipisahkan oleh garis radiopak yang tipis. Jika
kista dentigerous sudah lama terjadi pelebarannya akan melibatkan akar gigi
di sebelahnya dan biasanya menimbulkan resorbsi pada akar gigi tersebut 1,2,3,4.

Gambar 1. Kista dintigerous yang kecil meliputi mahkota gigi molar tiga yang impaksi .

Gambar 2. Kista dentigerous meresorbsi akar distal gigi molar dua

Tipe gambaran radiografis pada kista dentigerus adalah (1) tipe sentral, pada
tipe ini radiolusensi mengelilingi mahkota gigi yang tidak erupsi dan mahkota dapat
5

FKG
UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL


terlihat jelas dalam lumen kista; (2) tipe lateral, pada tipe ini kista berkembang sepanjang
lateral akar gigi, sebagian mengelilingi mahkota; (3) tipe circumferential, pada tipe ini
kista seluruhnya mengelilingi gigi yang tidak erupsi (gigi dalam kavitas kista) 8.

Gambar 3. Kista dentigerous tipe sentral menunjukan mahkota terproyeksi kedalam rongga kista

Gambar 4. kista dentigerous tipe lateral


Menunjukan kista yang besar disepanjang
Akar mesial gigi impaksi

Gambar 5. Kista dentigerous tipe circumferentia


menunjukan kista meluas sepanjang akar mesial
mesial dan distal gigi tidak erupsi.

V.3 Gambaran histopatologis


Gambaran histopatologis kista dentigerous bervariasi, umumnya terdiri atas
lapisan dinding jaringan ikat tipis, dilapisi epitel gepeng berlapis tak berkeratin yang
bersatu dengan sisi epitelium email, meliputi atau melekat pada bagian leher mahkota
gigi. Pada kista dentigerous yang tidak meradang lapisan epitelnya terdiri atas 2-4

FKG
UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL


lapisan sel epitelium tak berkeratin serta jaringan ikat di bawahnya menjadi rata.
Dinding jaringan ikat subepitel ini tidak tersusun dengan baik dan mengandung
bahan dasar glikosaminoglikan yang cukup banyak. Dinding jaringan ikat subepitel
berbentuk kapsul yang biasanya tersusun oleh jaringan kolagen yang agak padat 3,4.

Gambar 6. Kista dentigerous non-inflamasi menunjukan lapisan tipis sel epitel tak berkeratin

VI.

Diagnosis banding
Salah satu diagnosis banding dari kista dentigerous adalah ameloblastoma pada

gigi impaksi, yaitu ameloblastoma unikistik. Kista dentigerous mempunyai gambaran


lesi yang mirip dengan ameloblastoma unikistik1,4.
Secara histopatologis, pada ameloblastoma unikistik terlihat ruang kistik besar
atau ruang yang dibatasi epitel tipis dengan sel-sel basal yang berjejer. Selain itu
terdapat invaginasi sel ke dalam jaringan ikat penyokong dan kadang-kadang terlihat
pulau-pulau mural yang berisi sel ameloblastoma. Diagnosis utama kista dentigerous
didapatkan dari hasil pemeriksaan histopatologis 4.

FKG
UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL

Gambar 7. Ameloblastoma

VII. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kista dapat dilakukan dengan dua cara yaitu marsupialisasi
atau enukleasi. Marsupialisasi merupakan pilihan konservatif dengan cara
mengurangi cairan isi kista dan membuat celah/lubang pada kista kemudian dilakukan
penjahitan pada lubang tersebut untuk mempertahankan kontinuitas antara kista dan
rongga mulut. Teknik ini bertujuan mengurangi tekanan kista dengan menciptakan
ruangan. Enukleasi sendiri merupakan pengambilan menyeluruh dari semua jaringan
dalam kista termasuk pengambilan gigi yang tidak erupsi. Indikasi enukleasi jika gigi
yang berhubungan dengan kista tersebut terlihat seperti terjebak didalam kista 8.
Pada kasus kista dentigerous dapat dilakukan enukleasi terhadap kapsul
jaringan ikat dan sekaligus mengikutsertakan lapisan epitel secara keseluruhan.
Tindakan ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari tertinggalnya epitel
yang dapat menyebabkan terbentuknya kista residual, karena kista baru yang
terbentuk akan lebih invasive 1,2,9,10.
Enukleasi kista dentigerous pada dapat dilakukan secara ekstra oral dengan
memiliki keuntungan akses dan visibilitas lebih baik sehingga lebih mudah dalam
tindakan enukleasi kista. Namun tidak dapat dihindari komplikasi setelah operasi
berupa parastesi dan munculnya skar disekitar daerah incisi 1,2,9,10.

FKG
UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL


Manajemen kista dentigerous yang disebabkan posisi molar ke tiga ektopik
terutama di bawah posisi nervus alveolaris inferior lebih sering pendekatan ekstra oral
sub mandibular atau pre auricular. Teknik ini memiliki penglihatan yang lebih baik
pada daerah operasi sehingga mengurangi pembuangan tulang yang berlebih dan
dapat menghindari fraktur patologis. Kekurangan enukleasi kista dentigerous dengan
pendekatan ekstra oral seperti skar dan resiko kerusakan percabangan saraf fasialis
1,2,9,10

. Pada kista yang besar, penanganannya dapat dilakukan dengan cara

marsupialisasi 9,10.

VIII. Prognosis
Bila dilakukan sesegera mungkin setelah mendapatkan diagnosis yang tepat
dengan perawatan yang dilakukan sebaik mungkin melalui tehnik pengambilan
jaringan kista sampai bersih maka akan mendapatkan prognosis yang baik. Apabila
terlambat dan menunda melakukan perawatan atau bila terjadi kegagalan dalam
melakukan pengangkatan jaringan kista maka akan menimbulkan prognosis yang
kurang baik atau kadang buruk 4.

FKG
UMI 2016

[REFARAT MINI KISTA DENTIGEROUS] BAGIAN THT-KL

DAFTAR PUSTAKA
1. Simamora R., dkk. Kista Dentigerous Pada Ramus Mandibula Kanan. Jakarta.
JKGUI vol.10 Edisi KKhusus. 2003. H. 816-820.
2. Peteraon LJ, et al. Principles of Oral & Maxillofacial Surgery. 2th Ed. Canada:
BC Decker Inc. 2004. P 566-569.
3. Azhar S., Goerety M., Soetji P. Enukleasi Kista Dentigerous Pada Coronoid
Mndibula Sinistra di Bawah Anastesi Umum. Jurnal MKGK. Desember 2015;
1(2): 99-103
4. Sudiono J. Kista Odontogenik Pertumbuhan, Perkembangan dan Komplikasi.
Jakarta : EGC. 2012. H. 22-37.
5. Mihailova HR., Nikolov VI., Slavcov SF. Diagnostic Imsging of Dentigerous
Cyst of the Mandibula. Journal of IMAB (Scientific Papers). 2008. P. 8-10
6. Ramadhania WR. Prevalensi Kista Rongga Mulut Odontogen dan Non
Odontogen Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin. Jember: FKG universitas
Jember. [Skripsi]. 2012.
7. Wardani RS., et al. Modified Transnasal Endoscopic Medial Maxillectomy
with Inferior Turbinate Flap for Dentigerous Cyst. Journal ORLI Vol. 45 (2).
2015. P. 152.
8. Widhianingrum RK., dkk. Penatalaksanaan Kista Dentigerus Terinfeksi
Dengan Fistel Ekstra Oral Pada Pipi Kanan. Jurnal MKGK. Juni 2015; 1(1):
79-84.
9. Kuhuwael FG., dkk. Kista odontogenik di Rumah Sakit Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar. Jurnal Ilmu Kesehatan THT-KL. Universitas
Hasanuddin. [diakses pada tanggal 4 Agustus 2016]. Available from:
file:///C:/Users/W7/Documents/203-405-1-SM.pdf
10. Pederson GW. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta : EGC. 1996. H. 180.
11. Farhat. Peran Infeksi Gigi Rahang Atas Pada Kejadian Sinusitis Maksila di
RSUP H. Adam Malik Medan. Jurnal MKN Vol. 39 (4) . 2006. H. 386-387.

10