Anda di halaman 1dari 6

SPO

PUSKESMAS
MAKALE UTARA

No.Kode

Terbitan

No. Revisi

Tgl Mulai Berlaku :


Halaman

DASAR HUKUM

PENGERTIAN

KEBIJAKAN
URAIAN PROSEDUR

Derni Renden S.Si,Apt


NIP. 197905292011012006

1. UU No.34 Th. 2009 tenteng Kesehatan


2. Kepmenkes No. 828 ttg petunjuk teknis Standar Pelayanan Minimal
bidang kesehatan kabupaten / kota
3. Kepmenpan No. 21 Th. 2008 ttg pedoman penyusunan SOP
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 75 Th.2014 ttg Puskesmas

TUJUAN

PENANGANAN KASUS KUSTA


Ditetapkan oleh,
Kepala Puskesmas Makale
Utara

Kusta / Lepra / Morbus Hansen adalah penyakit yang disebabkan oleh


bakteri tahan asam mycobacterium leprae
Program Pemberantasan Penyakit Kusta adalah upaya pengendalian
penyebaran kasus kusta sehingga kusta bukan lagi merupakan masalah
kesehatan masyarakat, dengan kegiatan tata laksana penderita sbb :
1. Penemuan penderita
2. Diagnosis dan klasifikasi
3. Pengobatan dan pengendalian pengobatan
4. Pencegahan cacat dan perawatan diri
5. Rehabilitasi medik.
MDT (Multiple Drug Therapy) adalah terapi kombinasi 2 atau lebih obat
anti kusta yang salah satunya harus terdiri atas rifampisin sebagai anti
kusta yang sifatnya bakterisid kuat dengan obat anti kusta lain yang bisa
bersifat bak-teriostatik.
PB (Pauci Baciller) adalah penyakit kusta tipe kering yang kurang
menular tetapi sering menimbulkan kecacatan
MB (Multi Baciller) adalah kusta tipe basah yang lebih menular tetapi
jarang menimbulkan kecacatan
RFT (Release From Therapy) adalah kondisi dimana pasien telah menyelesaikan pengobatan MDT secara lengkap (6-9 bulan untuk tipe PB dan
12-18 bulan untuk tipe MB)
RFC (Release From Controle) adalah penderita telah lepas pengawasan
seusai RFT (2 tahun uantuk penderita tipe PB dan 5 tahun untuk
penderita tipe MB)
POD (Prevention Of Disability) adalah upaya untuk mendeteksi reaksi
secara dini sehingga dapat mencegah kecacatan
Reaksi kusta adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit
kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan (cellular respons) atau
reaksi antigen-antibody atau humoral respons dengan akibat merugikan
penderita terutama bila mnegenai saraf tepi karena menimbulkan
gangguan fungsi

Sebagai petunjuk dalam penatalaksanaan penyakit kusta


Semua penderita yang ditemukan ditangani sesuai dengan protap

1.

2.

PERENCANAAN
1.1. Penetapan diagnosa komunitas
1.2. Mapping sasaran berdasarkan hasil contact tracing
1.3. Pembuatan Kohort Kusta
1.4. Permintaan obat, register kusta dan kartu penderita
PELAKSANAAN

SPO
PUSKESMAS
MAKALE UTARA

No.Kode

Terbitan

No. Revisi

PENANGANAN KASUS KUSTA


Ditetapkan oleh,
Kepala Puskesmas Makale
Utara

Tgl Mulai Berlaku :


Halaman

Derni Renden S.Si,Apt


NIP. 197905292011012006

2.1. PENEMUAN PENDERITA.


2.1.1. Penemuan penderita secara pasif.
Berdasarkan adanya orang/penderita yang datang berobat ke
Pus-kesmas dan sarana kesehatan yang lain.

2.1.2. Penemuan penderita secara aktif.


2.1.2.1Pemeriksaan Kontak.
Sebagai sasaran adalah semua anggota keluarga
penderita Kusta yang tinggal serumah, terutama
penderita tipe MB, dan diulang setiap tahun.
2.1.2.2Survey sesuai kebutuhan.
1)
Pemeriksaan anak sekolah SD/TK.
Dilaksanakan terintegeasi dengan pelaksanaan UKS.
2) Rapid Village Survey (RVS) dan Chase Survey.
Mencari penderita baru dalam lingkup kecil dan membina partisipasi masyarakat.
2.2 DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI.
2.2.1.
Diagnosis.
Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bila
ditubuhnya terdapat salah satu Cardinal sign dibawah :
2.2.1.1.
Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa.
Lesi dapat hypopigmentasi atau erithematous yang
anaesthesi.
2.2.1.2.
Penebalan saraf tepi disertai gangguan fungsi
saraf.
Gangguan fungsi saraf bisa berupa :
Gangguan fungsi sensoris (mati rasa).
Gangguan fungsi motoris (Parese atau Paralise)
Gangguan fungsi otonom (kulit kering dan retakretak).
2.2.1.3.
Adanya bakteri tahan asam (BTA)
Di dalam kerokan kulit BTA (+).
2.2.2. Klasifikasi.
Ada 2 tipe penderita kusta :
2.2.2.1.
Tipe PB (Pauci Basiler).
2.2.2.2.
Tipe MB (Multi Basiler).
Tanda Utama
PB
MB
Bercak kusta
Jumlah 1 s/d 5 Jumlah >5
Penebalan saraf tepi disertai
Lebih dari 1
Hanya 1 saraf
gangguan fungsi
saraf
Sediaan apusan
BTA ( - )
BTA ( + )
2.3PENGOBATAN.
2.3.1 Kasus yang memerlukan MDT :
2.3.1.1 Kasus Baru.
Penderita yang belum pernah mendapat pengobatan MDT.
2.3.1.2
Kasus Ulangan.
1) Relaps/kambuh.
2) Masuk Kembali, penderita yang datang kembali se-

SPO
PUSKESMAS
MAKALE UTARA

No.Kode

Terbitan

No. Revisi

PENANGANAN KASUS KUSTA


Ditetapkan oleh,
Kepala Puskesmas Makale
Utara

Tgl Mulai Berlaku :


Halaman

Derni Renden S.Si,Apt


NIP. 197905292011012006

telah dinyatakan default.


3) Pindahan, penderita yang sudah mendapat pengobatan MDT kemudian pindah ke UPTD Puskesmas
Kepanjen.
4) Ganti tipe, penderita dengan perubahan klasifikasi.
2.3.2 Regimen pengobatan MDT :
2.3.2.1
MDT PB Dewasa.
Lama pengobatan : 6 blister(1 blister untuk 28 hari)
diminum selama 6 9 bulan.
Pengobatan bulanan : Rifampicin 2 X 300 mg, DDS
100mg.
Pengobatan harian ( hari ke 2 s/d 28 ) : DDS 100mg.

2.3.2.2

MDT MB Dewasa.
Lama pengobatan : 12 blister (1 blister untuk 28
hari) diminum selama 12 18 bulan
Pengobatan bulanan :

Rifampicin 2 X 300 mg,


Lamprene 3 X 100 mg
Dapsone
1 X 100mg.
Pengobatan harian ( hari ke 2 s/d 28 ) :
Lamprene 1 X 50 mg
Dapsone 1 X 100mg
2.3.2.3 MDT menurut umur.
Dosis anak disesuaikan dengan berat badan
Rifampisin : 10 mg/kgBB
DDS
: 2 mg/kgBB
Clofazimin : 1 mg/kgBB
2.4. POD (PREVENTION OF DISABILITY)
POD dilakukan setiap penderita datang mengambil obat, yang
diperiksa adalah kulit dan saraf untuk mendeteksi dini adanya
reaksi. Gejala awal dari kelumpuhan bisa berupa penurunan rasa
raba pada ektrimitas.
Urutan pemeriksaan sesuai dengan Form Pencatatan Pencegahan
Cacat.
2.5. PENANGANAN REAKSI LEPRA
Reaksi kusta dapat terjadi sebelum pengobatan tetapi terutama
selama atau setelah pengobatan.
2.5.1.
Penyebab terjadinya reaksi diperkirakan :
2.5.1.1.
Stres fisik :
Kehamilan, masa nifas
Sesudah mendapat imunisasi
Penyakit infeksi penyerta (malaria, kecacingan, karies
gigi)
Anemia
Kurang gizi

SPO
PUSKESMAS
MAKALE UTARA

No.Kode

Terbitan

No. Revisi

PENANGANAN KASUS KUSTA


Ditetapkan oleh,
Kepala Puskesmas Makale
Utara

Tgl Mulai Berlaku :


Halaman

Derni Renden S.Si,Apt


NIP. 197905292011012006

Kelelahan
2.5.1.2.
Stres mental :
Malu
Takut
2.5.1.3.
Lain lain seperti pemakaian obat-obat yang
meningkat- kan kekebalan tubuh.
2.5.2.
Tipe reaksi :
2.5.2.1.
Reaksi tipe 1
Reaksi ini dapat dilihat berupa perubahan pada kulit
(merah, bengkak, nyeri dan panas), maupun saraf
dalam bentuk peradangan (manifestasi yang terjadi
berupa nyeri atau gangguan fungsi saraf)
2.5.2.2.
Reaksi tipe 2
Terjadi pada penderita tipe MB

SPO
PUSKESMAS
MAKALE UTARA

No.Kode

Terbitan

No. Revisi

PENANGANAN KASUS KUSTA


Ditetapkan oleh,
Kepala Puskesmas Makale
Utara

Tgl Mulai Berlaku :


Halaman

Derni Renden S.Si,Apt


NIP. 197905292011012006

Tabel 2.5.2.2

1.

2.

3.

4.

UNIT TERKAIT

KULIT

SARAF
TEPI

KEADAAN
UMUM

GANGGU
AN PADA
ORGAN
LAIN

1. Promkes
2. P 2 M

Bercak :
merah,tebal,
panas,
nyeri

Bercak :
merah,tebal, panas,
nyeri yang
bertambah
parah sampai pecah

Nodul :
merah,
panas,
nyeri

Nyeri pada perabaan :


(-)
Gangguan
fungsi :
(-)
Demam :
(-)

Nyeri pada
perabaan :
(+ )

Nyeri pa-da perabaan :


(-)
Ganggua
n fungsi :
(-)
Demam :
(+)

Gangguan
fungsi :
(+ )
Demam :
(+)

Nodul :
merah,teb
al, panas,
nyeri yang
bertambah parah
sampai
pecah
Nyeri pada
perabaan :
(+)
Gangguan
fungsi : ( +
)
Demam :
(+)
+
Terjadi peradangan
pada :
Mata
(Iridocyclitis
)
Testis
(Epididimoo
r chitis)
Kelenjar
Limfe
(Limfadeniti
s)
Gangguan
pada
tulang,
hidung
dan tenggorokan
.

SPO
PUSKESMAS
MAKALE UTARA

No.Kode

Terbitan

No. Revisi

PENANGANAN KASUS KUSTA


Ditetapkan oleh,
Kepala Puskesmas Makale
Utara

Tgl Mulai Berlaku :


Halaman

Status Dokumen

Induk
No.Distribusi

Derni Renden S.Si,Apt


NIP. 197905292011012006

Salinan

Beri Nilai