Anda di halaman 1dari 28

A.

Judul
ANALISIS KEMANTAPAN LERENG PADA TAMBANG BATUBARA DI
PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA, KALIMANTAN TIMUR
B. Latar Belakang
Masalah kemantapan lereng pada batuan merupakan suatu hal yang
menarik, karena sifat-sifat dan perilakunya yang berbeda dengan kestabilan
lerang pada tanah. Kestabilan lereng pada batuan lebih ditentukan oleh adanya
bidang-bidang lemah yang disebut dengan bidang diskontinuitas, tidak demikian
halnya dengan lereng-lereng pada tanah.
Adanya kegiatan penambangan, seperti penggalian pada suatu lereng akan
menyebabkan terjadinya perubahan besarnya gaya-gaya pada lereng tersebut
yang mengakibatkan terganggunya kestabilan lereng dan pada akhirnya dapat
menyebabkan lereng tersebut longsor.
Dalam merancang suatu tambang terbuka dilakukan suatu analisis
terhadap kestabilan lereng yang terjadi karena proses penimbunan maupun
penggalian sehingga dapat memberikan kontribusi rancangan yang aman dan
ekonomis.
Stabilitas dari lereng individual biasanya menjadi masalah yang
membutuhkan perhatian yang lebih bagi kelangsungan operasi penambangan
setiap harinya. Longsornya lereng pada suatu jenjang, dimana terdapat jalan
angkut utama atau berdekatan dengan batas properti atau instalasi penting,
dapat menyebabkan bermacam gangguan pada program penambangan.

Walaupun longsoran yang terjadi relatif kecil, dengan tanda-tanda yang


tidak begitu kentara, tetap saja dapat membahayakan jiwa dan merusak
peralatan yang ada.
C. Identifikasi Masalah
Dengan adanya kegiatan penambangan yang dilakukan untuk memenuhi
kapasitas produksi setiap harinya, maka akan semakin luas pula lahan yang harus
digali. Pada penambangan yang menggunakan metode tambang terbuka akan
terbentuknya lereng-lereng penggalian.
Kondisi material penyusun lereng pada penggalian batubara, adanya
perbedaan sifat-sifat fisik maupun mekanik dari setiap batuan penyusun akan
mengalami perubahan yang signfikan dan memungkinkan akan terjadi longsoran
pada lereng penambangan tersebut.
Maka dengan kondisi lereng tersebut kestabilan lereng perlu dilakukan
analisis ulang dan mengetahui nilai factor kemanan dari lereng itu sendiri
berdasarkan analisis kestabilannya.
D. Batasan Masalah
1. Penelitian analisis kestabilan lereng hanya dilakukan pada desain aktual lereng
low wall panel 10 PT. Madhani Talatah Nusantara.
2. Penelitian hanya melakukan analisis kestabilan lereng berdasarkan kondisi
sifat-sifat fisik dan mekanik batuan yang menjadi penyusun lereng tersebut
dengan menggunakan bantuan software slide versi 6.0

E. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah yang telah diuraikan
di atas maka pertanyaan penelitian ini yaitu :
1. Bagaimana keadaan geometri lereng yang ada pada panel 10 PT.Madhani
Talatah Nusantara ?
2. Bagaimanakah geometri lereng yang aman dengan nilai Faktor Kemanan yang
optimal untuk dilakukan aktifitas penambangan?
F. Tujuan Penelitian
Tujuan dari dilakukannya penelitian di PT. Madhani Talatah Nusantara ini
adalah :
1.

Untuk mengetahui kondisi lereng low wall dan nilai Faktor Keamanan lereng
yang optimal.

2.

Memberikan rekomendasi desain geometri lereng yang aman berdasarkan


jenis batuan beserta dengan sifat-sifat fisik dan mekanik yang ada pada tubuh
lereng dilokasi penelitian.

G. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Memberikan saran serta masukan pada perusahaan terhadap kondisi lereng
yang kritis sehingga perushaan dapat mengantisipasi terjadinya longsoran.
2. Sebagai dasar informasi kemungkinan longsoran yang akan terjadi dilokasi
pengamatan.

3. Sebagai dasar rancangan desain geometri lereng yang dapat mengoptimalkan


proses pengambilan batubara.
4. Sebagai dasra upaya penanggulangan resiko longsor pada lereng tambang
batubara.
H. Dasar Teori
Kestabilan dari suatu jenjang individual dikontrol oleh kondisi geologi
daerah setempat, bentuk keseluruhan lereng pada daerah tersebut, kondisi air
tanah setempat, dan teknik penggalian yang digunakan dalam pembuatan lereng.
Faktor pengontrol ini jelas sangat berbeda untuk situasi penambangan yang
berbeda dan sangat penting untuk memberikan aturan yang umum untuk
menentukan seberapa tinggi atau seberapa landai suatu lereng, sehingga dapat
dipastikan lereng tersebut akan stabil.
Apabila kestabilan dari suatu jenjang dalam operasi penambangan
meragukan, maka kestabilannya harus dinilai berdasarkan dari struktur geologi,
kondisi air tanah dan faktor pengontrol lainnya yang terjadi pada suatu lereng.
Kestabilan lereng pada batuan dipengaruhi oleh geometri lereng, struktur batuan,
sifat fisik dan mekanik batuan, serta gaya-gaya luar yang bekerja pada lereng
tersebut.
Suatu cara yang umum untuk menyatakan kestabilan suatu lereng batuan
adalah dengan faktor keamanan. Faktor ini merupakan perbandingan antara gaya
penahan yang membuat lereng tetap stabil dengan gaya penggerak yang

menyebabkan terjadinya longsor. Secara matematis faktor kestabilan lereng


dinyatakan sebagai berikut :
F = R / Fp
Dimana :
F

= faktor kestabilan lereng

= gaya penahan, berupa resultan gaya-gaya yang membuat lereng


tetap stabil

Fp

= gaya penggerak, berupa resultan gaya-gaya yang menyebabkan


lereng longsor

Pada keadaan :
- F 1,0 = lereng dalam keadaan stabil
- F = 1,0 = lereng dalam keadaan seimbang (akan longsor)
- F 1,0 = lereng dalam keadaan tidak stabil
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng.
Umumnya stabil atau tidaknya suatu lereng tergantung dari
beberapa faktor, antara lain :
a) Geometri lereng
Kemiringan

dan

tinggi

suatu

lereng

sangat

mempengaruhi

kestabilannya. Semakin besar kemiringan dan ketinggian suatu lereng,


maka kestabilan semakin berkurang.

b) Struktur batuan
Strukutur batuan yang sangat mempengaruhi kestabilan lereng adalah
bidang-bidang sesar, perlapisan dan rekahan. Struktur batuan tersebut
merupakan bidang-bidang lemah (diskontinuitas) dan sekaligus
sebagai tempat merembesnya air, sehingga batuan lebih mudah
longsor.
c) Sifat fisik dan mekanik batuan
Sifat fisik batuan yang mempengaruhi kestabilan lereng adalah bobot
isi (density), porositas dan kandungan air. Sedangkan sifat mekanik
batuan antara lain kuat tekan, kuat tarik, kuat geser dan juga sudut
geser dalam batuan.
Bobot isi batuan
Semakin besar bobot isi suatu batuan, maka gaya penggerak
yang menyebabkan lereng longsor juga semakin besar. Dengan
demikian kestabilan lereng semakin berkurang.
Porositas batuan
Batuan yang mempunyai porositas besar akan banyak
menyerap air. Dengan demikian bobot isinya menjadi lebih besar,
sehingga memperkecil kestabilan lereng. Adanya air dalam batuan
juga akan menimbulkan tekanan air pori yang akan memperkecil kuat

geser batuan. Batuan yang mempunyai kuat geser kecil akan lebih
mudah longsor. Kuat geser batuan dapat dinyatakan sebagai berikut :
= C + ( - ) tan
Dimana :

= kuat geser batuan (ton/m2)

= kohesi (ton/m2)

= tegangan normal (ton/m2)

= sudut geser dalam (angle of internal friction)

Kandungan air dalam batuan


Semakin besar kandungan air dalam batuan, maka tekanan air
pori menjadi semakin besar juga. Dengan demikian berarti bahwa kuat
geser batuannya menjadi semakin kecil, sehingga kestabilannya
berkurang.
Kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser batuan
Kekuatan batuan biasanya dinyatakan dengan kuat tekan
(confined and unconfined compressive strength), kuat tarik (tensile
strength) dan kuat geser (shear strength). Batuan yang mempunyai
kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser besar akan lebih stabil (tidak
mudah longsor).
Sudut geser dalam (angle of internal friction)

Semakin besar sudut geser dalam, maka kuat geser batuan juga
akan semakin besar. Dengan demikian batuan (lereng) akan lebih
stabil.
d) Gaya dari luar
Gaya-gaya dari luar yang dapat mempengaruhi atau mengurangi
kestabilan suatu lereng adalah :
1. Getaran yang diakibatkan oleh gempa, peledakan dan pemakaian
alat-alat mekanis yang berat didekat lereng.
2. Pemotongan dasar (toe) lereng.
3. Penebangan pohon-pohon pelindung lereng.
2. Klasifikasi longsoran batuan
Berdasarkan proses longsornya, maka longsoran pada batuan dapat
dibedakan menjadi empat, yaitu :
a. Longsoran Bidang (Plane failure)
Longsoran bidang merupakan suatu longsoran batuan yang terjadi
sepanjang bidang luncur yang dianggap rata. Bidang luncur tersebut
dapat berupa sesar, rekahan (joint) maupun bidang perlapisan batuan.
Syarat-syarat terjadinya longsoran bidang adalah :
1) Terdapatnya bidang luncur bebas (daylight), berarti kemiringan
bidang luncur harus lebih kecil daripada kemiringan lereng.
2) Arah bidang luncur sejajar atau mendekati sejajar dengan arah
lereng (maksimum berbeda 20o).
8

3) Kemiringan bidang luncur lebih besar daripada sudut geser dalam


batuannya.
4) Terdapat bidang bebas (tidak terdapat gaya penahan) pada kedua
sisi longsoran.

Bidang bebas

Bidang luncur

For siliding
Keterangan :
f = Kemiringan lereng
p = Kemiringan bidang luncur
= Sudut geser dalam

Gambar 1
Longsoran Bidang

b. Longsoran baji (wedge failure)


Longsoran baji dapat terjadi pada suatu batuan jika terdapat
lebih dari satu bidang lemah yang bebas dan saling berpotongan.

Sudut perpotongan antara bidang lemah tersebut harus lebih besar dari
sudut geser dalam batuannya. Bidang lemah ini dapat beupa bidang
sesar, rekahan (joint) maupun bidang perlapisan.
Cara longsoran suatu baji dapat melalui salah satu atau
beberapa bidang lemahnya, ataupun melalui garis perpotongan kedua
bidang lemahnya.

Bidang I

Bidang II
Muka lereng
10

Slope
face
(Gambar tiga demensi)

perpotongan bidang lemah

distribusi tekanan air tanah

m
fm

(tampak samping tegak lurus perpotongan bidang lemah)


Keterangan :
f = kemiringan lereng
p = kemiringan garis perpotongan bidang lemah
= sudut geser dalam

Gambar 2
Longsoran baji
c. Longsoran busur (Circular failure)
Longsoran batuan yang terjadi sepanjang bidang luncur yang
berupa busur disebut longsoran busur. Longsoran busur hanya terjadi
pada tanah atau material yang bersifat seperti tanah. Antara partikel
11

tanah tidak terikat satu sama lain. Dengan demikian, longsoran busur
juga dapat terjadi pada batuan yang sangat lapuk serta banyak
mengandung bidang lemah maupun tumpukan (timbunan) batuan
hancur.

Gambar 3
Longsoran busur
d. Longsoran guling (topping failure)
Longsoran guling akan terjadi pada suatu lereng batuan yang
acak kemiringannya berlawanan dengan kemiringan bidang-bidang
lemahnya. Keadaan tersebut dapat digambarkan dengan balok-balok
yang diletakkan diatas sebuah bidang miring. Berdasarkan bentuk dan
proses menggulingnya, maka longsoran guling dibedakan menjadi
tiga, yaitu :
a. Longsoran guling setelah mengalami benturan (flexural toppling)

12

b. Longsoran guling yang berupa blok (balok-balok)


c. Gambaran kedua longsoran diatas (block-flexural)

bagian puncak lereng


puncak lereng

bagian bawah
lereng

Gambar 4
Longsoran guling

I. Data Sebagai Dasar Analisa


Data utama sebagai dasar analisa kestabilan suatu lereng batuan adalah
geometri lereng, struktur batuan, serta sifat fisik dan mekanik batuan.
1. Data yang diperlukan
1. Geometri Lereng

13

Geometeri lereng yang perlu diketahui adalah :

Orientasi (jurus dan kemiringan) lereng

Tinggi dan kemiringan lereng baik jenjang maupun total

Lebar jenjang (berm)

2. Struktur batuan
Struktur batuan yang mempengaruhi kestabilan lereng adalah adanya bidangbidang lemah, yaitu bidang-bidang sesar, perlapisan dan rekahan.
3. Sifat fisik dan mekanik batuan
Sifat fisik dan sifat mekanik batuan yang diperlukan sebagai dasar analisa
kestabilan lereng adalah :
a. Bobot isi batuan
b. Porositas batuan
c. Kandungan air dalam batuan
d. Kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser batuan
e. Sudut geser dalam

4. Kondisi geologi
Data geologi yang perlu diketahui :
a. Orientasi struktur bidang lemah (arah dan besar kemiringan spasi, isian
dalam rekahan)
b. Tinggi permukaan air tanah

14

c. Litologi dan penyebaran batuan


d. Tingkat pelapukan
e. Morfologi
2. Cara pengumpulan data
Data yang diperlukan diperoleh dari peyelidikan dilapangan dan percobaan di
laboratorium.
1. Penyelidikan di lapangan meliputi :
1. Pengukuran jurus dan kemiringan bidang lemah
2. Pemboran inti dan pembuatan sumuran untuk memperoleh data geologi,
penyebaran batuan dan untuk mendapatkan contoh tanah.
3. Pengamatan dengan Piezometer untuk mengetahui tinggi permukaan air
tanah.
Khusus untuk cara pengumpulan data pada nomor 2 dan 3 dapat
menggunakan data yang telah ada pada perusahaan (kalau diperusahaan sudah
tersedia).

2. Percobaan di laboratorium
1. Pengujian triaksial
2. Pengujian geser langsung
3. Pengujian kuat tekan uniaksial

15

4. Percobaan untuk menentukan berat isi, kadar air dan berat jenis dari
contoh tanah yang didapat dilapangan.
Percobaan di laboratorium dapat juga tidak dilaksanakan bila data untuk ini
sudah tersedia di perusahaan.
J.

Metode Analisa Kestabilan Lereng Yang Digunakan


Kestabilan suatu lereng dapat dianalisa dengan Metode Hoek and Bray,
analisa vektor dan metode grafis. Tetapi yang akan digunakan adalah metode
Hoek and Bray. Metode Hoek dan Bray dapat digunakan untuk menganalisa
keempat macam longsoran pada lereng batuan.
1. Longsoran bidang
Dalam menganalisa, maka suatu lereng ditinjau dalam dua dimensi dengan
anggapan sebagai berikut :
1) Semua syarat untuk terjadinya longsoran bidang terpenuhi
2) Terdapat regangan tarik tegak yang terisi air sampai kedalaman tertentu
(Zw), regangan tarik ini dapat terjadi pada muka lereng maupun di atas
lereng.
3) Tekanan air pori pada regangan tarik sepanjang bidang luncur tersebar
secara linier
4) Semua gaya yang bekerja pada lereng melalui titik pusat massa batuan
yang akan longsor, sehingga tidak terjadi rotasi.
Faktor keamanan lereng dapat dihitung dengan persamaan :
Gaya-gaya penahan
16

= ---------------------------------Gaya-gaya penggerak

C.A + (W cos p U V sin p) tan


F

= ------------------------------------------------------W sin p + V cos p

Dimana :
F

= faktor kestabilan lereng

= kohesi pada bidang luncur

= panjang bidang luncur (A)

= sudut kemiringan bidang luncur (o)

= sudut geser dalam batuan (o)

= berat massa batuan yang akan longsor (ton)

= gaya angkat yang ditimbulkan oleh tekanan air disepanjang bidang


luncur (ton) = (1/2) w. Zw. (H Z) cosec p

= gaya mendatar yang ditimbulkan oleh tekanan air pada regangan


tarik (ton) = (1/2) w. Zw2

= bobot isi air (ton/m3)

Zw

= tinggi kolom iar yang mengisi regangan tarik (m)

= kedalaman regangan tarik (m)

17

= tinggi lereng (m)


Jika terjadi getaran yang diakibatkan oleh adanya gempa,
peledakan maupun aktifitas manusia laninnya, maka persamaan diatas
menjadi :
C.A + W (cos p- sin p ) U V sin p) tan
F

= ---------------------------------------------------------------------W (sin p + V cos p) + V cos p

Dimana :
= percepatan getaran pada arah mendatar
2. Longsoran baji
Dalam analisa menggunakan metode Hoek and Bray, longsoran baji dapat
dianggap hanya akan terjadi pada garis perpotongan kedua bidang lemah.
Faktor keamanan lereng dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut :
3
F = ---------- (Ca.X +Cb.Y) + (A (w/2).X) tan a + (B (w/2).Y) tan
b
. H
dimana :
Ca

= kohesi bidang lemah I (ton/m3)

Cb

= kohesi bidang lemah II (ton/m3)


18

= sudut geser dalam, bidang lemah I (o)

= sudut geser dalam, bidang lemah II (o)

= bobot isi batuan (ton/m3)

= bobot isi air (ton/m3)


Sin 24

= -------------------------------------Sin 45. Cos 2na


Sin 13

= -------------------------------------Sin 35. Cos 1nb

Cos a cos b. cos na.nb


A

= ------------------------------------------------Sin 5. Sin2na.nb

Cos b cos a. cos na.nb


B

= ------------------------------------------------Sin 5. Sin2na.nb
Dimana a dan b adalah kemiringan (dip) dari bidang-bidang I dan II
serta 5 adalah sudut penunjaman perpotongan bidang lemah I dan II.
19

Jika pada bidang I dan II tidak terdapat kohesi, serta kondisi lereng kering,
maka persamaan diatas menjadi :
F = A tan a + B tan b
Dimana A dan B adalah suatu faktor tanpa satuan yang besarnya
tergantung pada jurus (strike) dan kemiringan (dip) kedua bidang lemahnya.
Bidang lemah yang mempunyai kemiringan lebih kecil selalu dinamakan
bidang lemah I sedangkan bidang lemah yang satunya lagi dinamakan bidang
lemah II.
3. Longsoran guling
Dengan metode Hoek and Bray terjadinya longsoran guling dapat
dianalisa dengan menggunakan model yang sederhana. Dengan menggunakan
model ini digunakan untuk menganalisa kasus-kasus yang sederhana.
Sedangkan untuk menganalisa lereng yang sebenarnya dilakukan analogi
dengan mempertimbangkan variabel-variabel yang ada di lapangan.
4. Longsoran busur
Khusus untuk longsoran ini tidak ditampilkan disini, karena batuan yang
akan dianalisa diharapkan dalam keadaan segar.
K. Pembahasan Masalah
Dalam analisa ini masalah yang akan dibahas adalah mengarah pada
design lereng. Hal ini meliputi :
1. Penentuan metode analisis kestabilan lereng.

20

2. Alternatif sudut dan tinggi lereng


Hal ini dilakukan perhitungan faktor kestabilan lereng dengan metode
Hoek and Bray. Perhitungan ini dilakukan untuk :
1. Lereng individual.
Dari hasil perhitungan, kemudian dibuat dalam grafik hubungan
antara faktor keamanan dengan sudut lereng atau antara tinggi lereng
dengan sudut lereng.
2. Lereng total
Dari hasil perhitungan, kemudian dibuat grafik hubungan antara
faktor keamanan dengan sudut lereng atau antara tinggi lereng dengan
sudut lereng.
3. Perhitungan dengan metode Hoek and Bray.

Sebagai pembanding perhitungan dengan metode Bishop.


4. Pemilihan Geometri lereng
5. Pemantauan lereng
6. Usaha untuk menstabilkan lereng
L. Analisa Penyelesaian Masalah
Permasalahan yang ada di lapangan selanjutnya dipelajari dan dikaji
berdasarkan data yang ada, baik data yang dikumpulkan dari hasil penyelidikan
maupun data penunjang dan didukung berbagai teori yang menunjang
permasalahan tersebut, selanjutnya dicarikan alternatif penyelesaiannya.

21

Adapun rincian dari analisa terhadap kesetabilan lereng penggalian adalah


sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
Pada tahapan ini dilakukan pengumpulan data geometri peledakan dan
geometri lereng yang akan digali di PT. Madhani Talatatah Nusantara dengan
menggunakan metode peledakan.
2. Tahap Penyelidikan Awal
Pengumpulan data-data geologi daerah kerja yang akan mempengaruhi
dalam perancangan peledakan ataupun perancangan lereng seperti struktur
batuan (sesar, kekar, dip), kekuatan batuan (rock strength), berat jenis dan
parameter lain yang digunakan dalam kegiatan peledakan seperti spesifikasi
bahan peledak dan geometri pemboran dan peledakan yang akan digunakan.

M. Metodologi Penelitian
Dalam memecahkan permasalahan ini, dengan menggabungkan antara teori
dan data-data lapangan, terutama data-data primer yang didapat dari perusahaan,
sehingga dari keduanya didapat pendekatan penyelesaian masalah.
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu :
1.

Tahap Studi Literatur yang berhubungan dengan topik penelitian berupa


brosur-brosur, laporan penelitian terdahulu.
22

Pada tahap ini didapat data sekunder, antara laian :


a. Data curah hujan
b. Peta topografi
2.

Tahap Studi Lapangan berupa pengambilan data di lapangan yang meliputi :


a. Geometri Lereng Penggalian
Geometeri lereng yang perlu diketahui adalah :
Orientasi (jurus dan kemiringan) lereng
Tinggi dan kemiringan lereng baik jenjang maupun total
Lebar jenjang (berm)
Geometri pemboran dan peledakan
b. Struktur batuan
Struktur batuan yang mempengaruhi kestabilan lereng adalah adanya
bidang-bidang lemah, yaitu bidang-bidang sesar, perlapisan dan rekahan.
c. Sifat fisik dan mekanik batuan
Sifat fisik dan sifat mekanik batuan yang diperlukan sebagai dasar
analisa kestabilan lereng adalah :
Bobot isi batuan
Porositas batuan
Kandungan air dalam batuan
Kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser batuan

23

Sudut geser dalam


d. Kondisi geologi
Data geologi yang perlu diketahui :
Orientasi struktur bidang lemah (arah dan besar kemiringan spasi, isian
dalam rekahan)
Tinggi permukaan air tanah
Litologi dan penyebaran batuan
Tingkat pelapukan
Morfologi
N. Cara pengumpulan data
Data yang diperlukan diperoleh dari penyelidikan di lapangan dan percobaan
di laboratorium.
1. Penyelidikan di lapangan meliputi :
a. Pengukuran jurus dan kemirngan bidang lemah
b. Pengukuran geometri lereng
2. Percobaan di laboratorium
a. Pengujian triaksial
b. Pengujian geser langsung
c. Pengujian kuat tekan uniaksial
d. Percobaan untuk menentukan berat isi, kadar air dan berat jenis dari
contoh tanah yang didapat dilapangan.
24

Percobaan di laboratorium dapat juga tidak dilaksanakan bila data


untuk ini sudah tersedia di perusahaan.
O. Pembahasan Masalah
Dalam analisa ini masalah yang akan dibahas adalah analisis kestabilan
lereng dilakukan perhitungan faktor kestabilan lereng dengan metode Hoek and
Bray. Perhitungan ini dilakukan untuk :
1. Lereng individual.
Dari hasil perhitungan, kemudian dibuat dalam grafik hubungan antara faktor
keamanan dengan sudut lereng atau antara tinggi lereng dengan sudut lereng.
2. Lereng total
Dari hasil perhitungan, kemudian dibuat grafik hubungan antara faktor
keamanan dengan sudut lereng atau antara tinggi lereng dengan sudut lereng.
3. Perhitungan dengan metode Hoek and Bray.
Sebagai pembanding perhitungan dengan metode Bishop.
Selanjutnya menentukan Geometri lereng, pemantauan lereng dan usaha
untuk menstabilkan lereng.

P. Rencana Kegiatan
BULAN

Pertama

Kedua

Ketiga

Keempat

2016

2016

2016

2016

MINGGU
Studi Literatur
Observasi Lapangan
Pengambilan data
Pengolahan data
25

Penyusunan draft
Q. Rencana Daftar Isi
KATA PENGANTAR
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB.
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penelitian
C. Perumusan Masalah
D. Metodologi Penelitian
E. Hasil Penelitian
II. TINJAUAN UMUM
A. Lokasi dan Kesampaian Daerah
B. Keadaan Topografi dan Geologi.
C. Iklim
III.TEORI KESTABILAN LERENG PADA BATUAN.
A. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kestabilan Lereng Batuan
B.Menghitung Faktor Kestabilan Lereng Batuan

IV. ANALISA KESTABILAN LERENG.


A.Metode Analisa Yang Dipilih
B. Hasil Analisis Kestabilan Lereng
V . PEMBAHASAN
A.Kekuatan batuan
B.Struktur Geologi
C. Geometri Lereng
D.Usaha untuk menstabilkan lereng
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan

26

B.Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
R. Rencana Daftar Pustaka
Charles A. Kliche, Rock Slope Stability , Society for Mining, Metallurgy, and
Eksploration, Inc. 1999.
Gian Paolo Giani, Rock Slope Stability Analysis, A.A Balkema, Rotterdam,
Brookfield, 1992.
Hoek, E. and Bray, J.W., Rock Slope Engineering 3rd Ed., The Institution Of
Mining and Metallurgy London, !981.
Made Astawa Rai, Dr. Ir .Analisa Kemantapan Lereng : Proyeksi Stereografis
dan Metode Grafis, Kursus Geoteknik dan Perencanaan Tambang
Terbuka, 1993.
Made Astawa Rai, Dr. Ir. dan Anung Dri Prasetya, Ir Kemantapan Lereng
Batuan, Kursus Pengawas Tambang, 1993.

27

ANALISIS KEMANTAPAN LERENG PADA TAMBANG BATUBARA DI


PT. MADHANI TALATAH NUSANTARA, KALIMANTAN TIMUR
PROPOSAL TUGAS AKHIR

Oleh:
Ahmad Fauzi
BP. 2015/15137074
Konsentrasi

: Tambang Umum

Program Studi : S-1 Teknik Pertambangan

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2016
28