Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL SKRIPSI

ANALISIS YURIDIS TINDAKAN PENENGGELAMAN KAPAL ASING


ILEGAL OLEH PEMERINTAH INDONESIA BERDASARKAN HUKUM
LAUT INTERNASIONAL

Nama : Viktorli Hendra


NIM : 2012 41 190

Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul


Jakarta 2015-2016

1.1 PENDAHULUAN
Sektor perikanan mempunyai peran penting dan strategis dalam
pembangunan perekonomian nasional, sumber daya ikan adalah potensi semua
jenis ikan yang didefinisikan sebagai segala jenis organisme yang seluruh atau
sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Dalam
kegiatan perikanan cara penangkapan ikan dan alat yang dipergunakan
berkembang sangat cepat dengan tujuan untuk memperoleh ikan dalam waktu
yang relatif singkat dan dalam jumlah yang besar. Dalam kamus istilah
perikanan, penangkapan adalah usaha melakukan penangkapan atau
pengumpulan ikan dan jenis-jenis sumber hayati lainnya dengan dasar bahwa
ikan dan sumber hayati tersebut mempunyai manfaat atau mempunyai nilai
ekonomis.1
Di Indonesia dengan keaneka ragaman sumber daya ikan menarik perhatian
kapal-kapal nelayan asing untuk melakukan penangkapan ikan secara illegal
atau illegal fishing. Sebagai gambaran, lokasi favorit pencurian ikan antara
lain di perairan Anambas dan Natuna dengan frekuensi pencurian yang cukup
tinggi. Pada tahun 2014, sebanyak 78 kapal ikan asing ditahan karena
pencurian ikan di perairan ini. Menurut Wakil Bupati Anambas, Abdul Haris,
banyaknya pencurian ikan membuat masyarakat Anambas yang 90% bekerja
sebagai nelayan menjadi tersingkir. Kapal pencuri ikan biasanya menggunakan
kapal besar dengan pukat harimau, sedangkan nelayan Indonesia hanya
menggunakan kapal kecil ukuran 8 meter dengan pancing biasa. Selain
hilangnya daya saing nelayan Indonesia, illegal fishing juga telah
menimbulkan kerugian negara di antaranya tidak tercatatnya ekspor dari hasil
penangkapan ikan di teritorial Indonesia dan matinya aktivitas di pelabuhan
hingga pasar lelang karena praktik pemindahan muatan di tengah laut
(transhipment) selama ini.
Terkait dengan permasalahan Illegal Fishing harus diatur dalam suatu
peraturan yang jelas. Pada kenyataannnya upaya yang diambil oleh suatu
1 Eddy Afrianto, et.al., 1996, Kamus Istilah Perikanan, Kanisius, Bandung, h.103.

negara dengan negara yang lain berbeda. Salah satunya adalah kasus Illegal
Fishing yang terjadi di Indonesia pada akhir tahun 2014, yaitu upaya yang
diambil oleh pemerintah Indonesia adalah penenggelaman kapal nelayan asing
dengan cara peledakan.2
Tindakan Illegal Fishing sering terjadi di wilayah perairan Indonesia. Awal
bulan Desember tahun 2014 terjadi penangkapan ikan secara illegal di wilayah
perairan Indonesia, tepatnya di Laut Natuna, Pulau Anambas, Kepulauan Riau
oleh 3 (tiga) kapal nelayan Vietnam. Personel TNI Angkatan Laut dari KRI
Barakuda-633

mengevakuasi

Anak

Buah

Kapal

(ABK),

kemudian

menurunkan paksa dari kapal Vietnam ke KRI Barakuda-633. Ada 8 (delapan)


ABK kapal nelayan Vietnam yang diamankan di KRI Barakuda-633 dan di
periksa satu per satu. Komandan KRI Barakuda-633 berjanji akan bertindak
tegas. Pihaknya akan mengambil tindakan untuk menenggelamkan kapal
nelayan Vietnam dengan cara meledakkan ketiga kapal nelayan milik Vietnam
tersebut yang terbukti mencuri ikan di perairan Indonesia.3
Zona laut di Indonesia yang sangat potensial dan rawan terjadinya Illegal
Fishing adalah Laut Malaka, Laut Jawa, Laut Arafura, Laut Timor, Laut Banda
dan perairan sekitar Maluku dan Papua.4 Sumber perikanan di Indonesia masih
merupakan sumber kekayaan yang memberikan kemungkinan sangat besar
untuk dapat dikembangkan bagi kemakmuran bangsa Indonesia, baik untuk
memenuhi kebutuhan protein rakyatnya, maupun untuk keperluan ekspor guna
mendapatkan dana bagi usaha-usaha pembangunan bangsanya.5 Dengan
melihat kondisi seperti ini Illegal Fishing dapat melemahkan pengelolaan
sumber daya perikanan di perairan Indonesia dan menyebabkan sumber daya
perikanan di beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia
mengalami over fishing.
2 Anonim, ___, "Kapal Ditenggelamkan Jokowi Kami Tak Main-main" URL:
http://www.tempo.co/read/news/2014/12/05/090626509/Kapal Ditenggelamkan-Jokowi-KamiTak-Main-main.

3 Anonim, ____, "

Kena! Nelayan Vietnam yang Ditangkap Personel KRI Barakuda-633 Angkat Tangan" URL:
http://news.detik.com/berita/2768540/kena-nelayan-vietnam-yang-ditangkap-personel-kri-barakuda-633-angkat-tangan.

4 Anonim, 2008, Kejutan di Bulan April, Forum Keadilan No.50115-21, April 2008, h. 41.
5 Hasjim Djalal, 1979, Perjuangan Indonesia Di Bidang Hukum Laut, Binacipta, Bandung, h. 3.

Tindakan Illegal Fishing tidak hanya merugikan secara ekonomi dengan nilai
triliunan rupiah yang hilang, tetapi juga menghancurkan perekonomian
nelayan. Selain itu juga menimbulkan dampak politik terhadap hubungan antar
negara yang berdampingan, melanggar kedaulatan negara dan ancaman
terhadap kelestarian sumber daya hayati laut. Tindakan yang melanggar
kedaulatan negara dan ancaman terhadap kelestarian sumber daya hayati laut
atau kegiatan yang berkenaan dengan perikanan adalah perbuatan yang
merugikan kedamaian, ketertiban atau keamanan suatu negara. Perbuatan ini
telah diatur dalam United Nations Convention on The Law of The Sea 1982.6
Tindakan kapal nelayan asing yang memasuki wilayah perairan Indonesia
tanpa ijin serta mengeksploitasi kekayaan alam di dalamnya tentu melanggar
kedaulatan negara Indonesia. Untuk itu harus ada penegakan hukum yang
tegas berupa penangkapan nelayan asing beserta kapalnya untuk di proses
secara hukum. Tindakan penangkapan terhadap kapal nelayan asing dapat
dibenarkan apabila sudah dipenuhinya bukti-bukti bahwa kapal nelayan
tersebut melakukan Illegal Fishing. Kepala Dinas Penerangan TNI AL
Laksamana Pertama TNI Manahan Simorangkir, mengatakan bahwa bukti
permulaan yang cukup untuk melakukan penangkapan terhadap kapal nelayan
asing adalah bukti yang menduga adanya tindak pidana di bidang perikanan
oleh kapal nelayan asing. Pelanggaran itu mencakup tidak memiliki surat izin
usaha penangkapan ikan (SIPI) dan surat izin kapal pengangkut ikan (SIKPI),
serta nyata-nyata menangkap dan/atau mengangkut ikan di wilayah perairan
Indonesia.7
Di Indonesia telah terjadi penangkapan kapal nelayan asing yang melakukan
Illegal Fishing disertai dengan tindakan penenggelaman kapal dengan cara
peledakan. Tujuan penenggelaman kapal nelayan asing tersebut adalah untuk
memberikan efek jera dan menunjukkan ketegasan sikap pemerintah dalam
6 I Wayan Parthiana, 2014, Hukum Laut Internasional dan Hukum Laut Indonesia, Yrama Widya, Bandung, h. 107-108.
7 Sulasi Rohingati, 2014, Penenggelaman kapal Ikan Asing : Upaya Penegakan Hukum laut Indonesia, Pusat Pengkajian,
Pengolahan Data dan Informasi Sekretariat Jenderal DPR RI, Jakarta, h. 2.

mewujudkan perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Namun


perlu diingat juga bahwa perbuatan penenggelaman dengan cara meledakkan
kapal milik negara lain juga dapat menyalahi ketentuan Piagam Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengikat Indonesia sebagai negara anggota.
Oleh sebab itu pentingnya permasalahan Illegal Fishing ini diangkat,
dikarenakan alasan-alasan sebagai berikut :
1. Illegal Fishing merupakan suatu permasalahan yang penting untuk dibahas
karena memberikan dampak kerugian di sektor perekonomian suatu
Negara.
2. Selain memberikan dampak kerugian ekonomi, tindakan Illegal Fishing
juga memberikan dampak sosial, politik dan lingkungan terhadap suatu
negara.
3. Kurang jelasnya peraturan Internasional yang mengatur mengenai upaya
yang dilakukan oleh suatu negara apabila terjadi Illegal Fishing di wilayah
kedaulatannya.
4. Upaya yang diambil suatu negara dalam menangani kasus Illegal Fishing
berbeda antara negara satu dengan negara lainnya, sehingga hal ini
memicu ketegangan politis antar negara yang berkaitan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis mengangkat beberapa
permasalahan akan dibahas lebih lanjut. Adapun permasalahan tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana akibat hukum tindakan Illegal Fishing terkait dengan kasus
penangkapan nelayan Vietnam oleh pemerintah Indonesia?
2. Apakah tindakan penenggelaman kapal yang dilakukan oleh pemerintah
Indonesia sah berdasarkan Hukum Laut Internasional?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui akibat hukum tindakan Illegal Fishing terkait dengan


kasus penangkapan nelayan Vietnam oleh pemerintah Indonesia.
2. Untuk mengetahui tindakan penenggelaman kapal yang dilakukan oleh
pemerintah Indonesia adalah sah atau melanggar berdasarkan Hukum Laut
Internasional.
1.4 Kerangka Teori
Pembahasan dalam penulisan skripsi ini penting dikemukakan suatu landasan
teoritis yang menjadi landasan berpikir dalam membahas dan menyelesaikan
pokok permasalahan yang diangkat. Membahas tentang tinjauan Hukum Laut
Internasional terhadap tindakan Illegal Fishing yang dilakukan oleh nelayan
Vietnam di wilayah Indonesia, terlebih dahulu harus membahas tentang teori
kedaulatan negara, teori penegakan hukum dan teori yurisdiksi.

a. Teori Kedaulatan
Negara Negara

merupakan

subjek

hukum

yang

terpenting

dibandingkan dengan subjek-subjek hukum internasional lainnya.


Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 mengenai hak-hak dan kewajibankewajiban negara menyebutkan bahwa "Negara sebagai pribadi hukum
internasional harus memiliki syarat-syarat berikut: (a) penduduk tetap;
(b) wilayah yang tertentu; (c) pemerintahan yang berdaulat; dan (d)
kemampuan untuk melakukan hubungan-hubungan dengan negaranegara lain".8
Suatu negara dapat saja lahir dan hidup tetapi itu belum berarti bahwa
negara tersebut mempunyai kedaulatan, kedaulatan ialah kekusaan
tertinggi yang dimiliki oleh suatu negara untuk secara bebas
melakukan berbagai kegiatan sesuai kepentingannya, tetapi kegiatan
tersebut tidak bertentangan dengan hukum internasional. Sesuai

8 Jawahir Thontowi, 2006, Hukum Internasional Kontemporer, Refika Aditama, Bandung, h.105.

konsep hukum internasional kedaulatan memiliki tiga aspek utama


yaitu:9
1. Aspek eksteren kedaulatan adalah hak bagi setiap negara untuk
secara bebas menentukan hubungannya dengan berbagai negara
atau kelompok-kelompok lain tanpa tekanan atau pengawasan dari
negara lain;
2. Aspek interen kedaulatan adalah hak atau wewenang eksklusif
suatu negara untuk menentukan bentuk lembaga-lembaganya, cara
kerja lembaga- lembaganya tersebut, dan hak untuk membuat
undang-undang yang diinginkannya serta tindakan-tindakan untuk
mematuh
3. Aspek teritorial kedaulatan berarti kekuasaan penuh dan eksklusif
yang dimiliki oleh negara atas individu-individu dan benda-benda
yang terdapat di wilayah tersebut
Kedaulatan suatu negara atas wilayah daratnya merupakan sesuatu yang
fundamental. Sebagai salah satu syarat dalam negara, kedaulatan suatu negara
sangat diperlukan supaya negara lain tidak semena-mena memasuki wilayah
kedaulatan negara lain. Negara dikatakan berdaulat atau sovereign karena
kedaulatan merupakan suatu sifat atau ciri hakiki dari pada negara. Negara
berdaulat berarti bahwa negara itu tidak mengakui suatu kesatuan yang lebih
tinggi dari pada kekuasaannya sendiri. Dimilikinya kekuasaan tertinggi oleh
negara ini memang dapat bertentangan dengan hukum internasional sebagai
kaidah-kaidah atau norma-norma yang mengatur hubungan-hubungan negara.
Hukum internasional menjadi tidak berlaku karena negara memiliki kekuasaan
tertinggi. akibatnya hukum internasional tidak akan dapat menjadi sarana
hubungan antar negara karena masing-masing negara dalam hubungan
internasional masih menonjolkan kedaulatannya.10
Walaupun demikian kekuasaan tertinggi ini mempunyai batas-batasnya.
Ruang berlaku kekuasaan tertinggi ini dibatasi oleh batas-batas wilayah negara itu
9 Boer Mauna, 2005, Hukum Internasional: Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Edisi ke 2,
Alumni, Bandung, h. 24.

10 Adji Samekto, 2009, Negara Dalam Dimensi Hukum Internasional, Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 50.

artinya suatu negara hanya memiliki kekuasaan tertinggi di dalam batas-batas


wilayahnya.11 Istilah kedaulatan atau sovereignty sering dipergunakan untuk
mengambarkan kedudukan sebagai subjek hukum internasional dari suatu negara.
Istilah kedaulatan juga mengambarkan suatu kompetensi hukum yang dimiliki
suatu negara pada umumnya. Kedaulatan (Souvereignty) dapat dipakai sebagai
sinonim untuk istilah kemerdekaan.12 Kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi
mengandung dua pembatasan penting dalam dirinya yaitu:13
1. Kekusaan itu terbatas pada batas wilayah negara yang memiliki
kekuasaan itu;
2. Kekuasaan itu berakhir di mana kekuasaan suatu negara lain mulai.
Seperti yang telah diuraikan diatas, salah satu dari aspek utama kedaulatan
negara adalah penguasaan suatu wilayah teritorial, di dalam wilayah mana berlaku
hukum negara tersebut. Terhadap wilayah ini otoritas tertinggi berada pada negara
terkait, karena itu munculah konsep "kedaulatan tetitorial". 14 Kedaulatan teritorial
atau kedaulatan wilayah adalah kedaulatan yang dimiliki negara dalam
melaksanakan

yurisdiksi

eksklusif

di

wilayahnya.

Negara

tidak

dapat

melaksanakan yurisdiksi eksklusifnya keluar dari wilayahnya yang dapat


mengganggu kedaulatan wilayah negara lain. Negara memiliki kewajiban untuk
menghormati kedaulatan teritorial negara lain. Pasal 1 ayat 1 dan 2 Konvensi Laut
Teritorial menegaskan tentang ruang lingkup kedaulatan suatu negara. Ditegaskan
dalam Pasal 1 ayat 1 bahwa kedaulatan suatu negara di luar wilayah daratan dan
perairan pedalamannya meliputi suatu zona laut di depan pantainya yang disebut
sebagai laut teritorial.15
b. Teori Penegakan Hukum

11 Mochtar Kusumaatmadja, 1997, Pengantar Hukum Internasional Buku I, Binacipta, Jakarta, h. 16-17.
12 Chairul Anwar, 1989, Pengantar Hukum Bangsa-Bangsa, Djambatan, Jakarta, h. 32-33.
13 Mochtar Kusumaatmaja dan Etty R. Agoes, 2003, Pengantar Hukum Internasional, Alumni, Bandung, h. 18.
14 J.G.Starke, 2010, Pengantar Hukum Internasional 1, Edisi ke 10, Sinar Grafika, Jakarta, h. 210.
15 I Wayan Parthiana, op.cit, h. 31.

Untuk menganalisis mengenai penegakan hukum Illegal Fishing yang


dilakukan pemerintah Indonesia terhadap nelayan Vietnam dalam anatomi
kejahatan transnasional maka digunakan teori penegakan hukum. Penegakan
hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan, kepastian
hukum dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Penegakan hukum merupakan
usaha untuk mewujudkan ide-ide dan konsep-konsep hukum yang diharapakan
rakyat menjadi kenyataan. Jadi penegakan hukum merupakan suatu proses yang
melibatkan banyak hal.16
Soerjono Soekanto mengemukakan ada 5 faktor yang mempengaruhi
penegakan hukum yaitu:17
1. Faktor hukumnya sendiri, dalam tulisan ini akan dibatasi pada
undangundang saja;
2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun
menerapkan hukum;
3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum;
4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau
diterapkan;
5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang
didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.
Gangguan terhadap penegakan hukum mungkin terjadi, apabila ada
ketidakserasian antara nilai, kaidah dan pola perilaku. Gangguan ini meliputi
ketidakserasian antara nilai-nilai yang berpasangan, yang menjelma di dalam
kaidah-kaidah yang bersimpang siur, dan pola perilaku tidak terarah yang
mengganggu kedamaian pergaulan.
c. Teori Yurdiksi
Huala Adolf mengemukakan bahwa "Yurisdiksi adalah kekuatan atau kewenangan
hukum negara terhadap orang, benda atau peristiwa (hukum)".18

16 Dellyana Shant, 1988, Konsep Penegakan Hukum, Liberty, Yogyakarta, h. 32.


17 Soerjono Soekanto, 2004, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, RajaGrafindo Persada, Jakarta, h. 7.
18 Huala Adolf, 2002, Aspek-aspek Negara Dalam Hukum Internasional, Edisi revisi, RajaGrafindo Persada, Jakarta,
(selanjutnya disebut Huala Adolf II), h. 183.

Yurisdiksi pidana adalah kewenangan (hukum) pengadilan suatu negara terhadap


perkara-perkara yang menyangkut kepidanaan, baik yang tersangkut di dalamnya
unsur asing maupun nasional.19 Hukum internasional tradisional telah meletakkan
beberapa prinsip hukum mengenai yurisdiksi yakni:
1. Prinsip teritorial
Berdasarkan prinsip ini setiap negara dapat menerapkan yurisdiksi
nasionalnya terhadap semua orang (baik warga negara atau asing), badan
hukum dan semua benda yang berada di dalamnya. Lord Macmillan
mengemukakan adalah suatu ciri pokok dari kedaulatan dalam batas-batas
ini, seperti semua negara merdeka yang berdaulat, bahwa negara harus
memiliki yurisdiksi terhadap semua orang dan benda di dalam batas-batas
teritorialnya dan dalam semua perkara pidana yang timbul di dalam batasbatas teritorial ini.
2. Prinsip nasional aktif
Prinsip ini menyatakan setiap negara dapat memberlakukan yurisdiksi
nasionalnya terhadap warga negaranya yang melakukan tindak pidana
sekali pun tindak pidana itu dilakukan dalam bidang yurisdiksi negara lain.
Di sini kewarganegaraan pelaku menjadi titik taut diberlakukannya
yurisdiksi negara asal.
3. Prinsip nasional pasif
Prinsip ini merupakan pasangan dari prinsip nasional aktif. Keduanya
mendasarkan diri pada kewarganegaraan sebagai kriteria. Pada prinsip
nasional pasif, tekanan diberikan pada kewarganegaraan si korban,
sementara prinsip nasional aktif menekankan pada kewarganegaraan si
pelaku. Atas dasar prinsip ini suatu negara memiliki kewenangan untuk
memberlakukan misalnya hukum pidananya terhadap suatu tindak pidana
yang terjadi di luar wilayah negara tersebut apabila korban adalah
warganegaranya.
4. Prinsip perlindungan
Hukum internasional mengakui bahwa setiap negara mempunyai
kewenangan

melaksanakan

yurisdiksi

terhadap

kejahatan

yang

19 Huala Adolf, 1996, Aspek-aspek Hukum Pidana Internasional, RajaGrafindo Persada, Jakarta, (selanjutnya disebut
Huala Adolf III), h. 145.

10

menyangkut keamanan dan integritas atau kepentingan ekonomi yang


vital. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu negara mempunyai hak untuk
menerapkan hukum (pidana) nasionalnya pada pelaku suatu tindak pidana
sekalipun dilakukan di luar wilayah negara tersebut apabila tindak pidana
itu mengancam keamanan dan keutuhan negara yang bersangkutan.
5. Prinsip universal
Pada prinsip-prinsip seperti yang disebutkan di atas, suatu negara dapat
menyatakan mempunyai hak untuk memberlakukan hukum pidananya
dengan alasan terdapat hubungan antara negara tersebut dengan tindak
pidana yang dilakukan. Hubungan yang dimaksud antara lain adalah
tempat terjadinya tindak pidana, kewarganegaraan pelaku atau korban dan
keamanan serta keutuhan negara. Berbeda dengan prinsip-prinsip tersebut,
prinsip universal sama sekali tidak mensyaratkan suatu hubungan. Hal ini
berarti bahwa prinsip universal memberi hak pada semua negara untuk
memberlakukan hukum pidananya, apabila tindak pidana yang dilakukan
membahayakan nilai-nilai yang universal dan kepentingan umat manusia.20
Suatu negara memiliki yurisdiksi atas setiap orang, benda dan peristiwa
yang terjadi di negaranya. Adapun ruang lingkup yang dimiliki negara tersebut
adalah:
a. Yurisdiksi untuk menetapkan ketentuan hukum pidana (jurisdiction
to

prescribe

atau

legislative

jurisdiction

atau

prespective

jurisdiction);
b. Yurisdiksi untuk menerapkan atau melaksanakan ketentuan yang
telah ditetapkan oleh badan legislatif (executif jurisdiction);
c. Yurisdiksi untuk memaksakan ketentuan hukum yang telah
dilaksanakan oleh badan eksekutif atau yang telah diputuskan oleh
badan peradilan (enforcement jurisdiction atau jurisdiction to
adjudicate).21
20 Ibid, h. 31-33.
21 Ibid, h. 34

11

Tindakan Illegal Fishing berada dalam anatomi kejahatan transnasional sehingga


yurisdiksi yang berlaku adalah yurisdiksi teritorial untuk menetapkan,
menerapkan dan memaksakan ketentuan hukum yang telah ditetapkan oleh suatu
negara.

E. METODOLOGI PENELITIAN
Bentuk yang digunakan penulis dalam penelitian ini adlah penelitian normative.
Yaitu pada penelitian hukum normative yang diteliti hanya bahan pusataka atau
data sekunder yang mungkin mencangkup bahan primer, sekunder dan tertier.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB 1. Latar belakang masalah
BAB 2. Kerangka Teori
BAB 3. Pembahasan Bagaimana kualifikasi hukum suatu tindakan Illegal Fishing
terkait dengan kasus penangkapan nelayan Vietnam oleh pemerintah Indonesia.
BAB 4. Pembahasan Apakah tindakan penenggelaman kapal yang dilakukan oleh
pemerintah Indonesia sah berdasarkan Hukum Laut Internasional.
BAB 5. Kesimpulan dan Saran.

12