Anda di halaman 1dari 3

2.

Danau
Danau adalah sekumpulan air tawar atau air asin dalam jumlah besar yang terletak di
daratan dan di sekitarnya dikelilingi oleh daratan. Danau terbentuk oleh bermacam-macam
sebab. Misalnya terbentuk karena guyuran air hujan yang terkumpul dalam jumlah besar dan
menggenang di sebuah cekungan. Bisa juga karena banyak terdapat sumber mata air yang
mengalir dan berkumpul di cekungan, atau karena adanya es yang mencair (gletser) yang
berakhir di sebuah cekungan. Danau yang sangat luas dan berisi air asin juga bisa disebut laut,
misalnya danau kaspia atau laut kaspia. Danau juga bisa berisi air payau atau campuran air tawar
dengan air laut, misalnya danau lake di Filipina yang mendapat pasokan air dari daratan dan
lautan (Lidiawati, 2012). Jenis-Jenis / Macam-Macam Danau yang ada di Indonesia :

1. Danau Buatan / Waduk


Danau buatan adalah danau yang secara sengaja dibuat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan
air pertanian, perikanan darat, air minum, dan lain sebagainya. Contoh : Waduk Jatiluhur di Jawa
Barat.
2. Danau Karst
Danau karts adalah danau yang berada di daerah berkapur di mana yang berukuran kecil disebut
doline dan yang besar dinamakan uvala.
3. Danau Tektonik
Danau tektonik adalah danau yang terjadi akibat adanya aktivitas / peristiwa tektonik yang
mengakibatkan permukaan tanah pada lapisan kulit bumi turun ke bawah membentuk cekung
dan akhirnya terisi air. Contoh yakni : Danau Toba di Sumatera Utara.
4. Danau Vulkanik / Danau Kawah
Danau vulkanik adalah danau yang terbentuk pada bekas kawah gunung berapi. Contoh yaitu :
Danau Batur di Bali.
(Godam, 2008).
Berdasarkan komunitas tumbuhan dan hewan tersebar bergantung kedalaman air dan
jaraknya dari tepian. Danau dibagi menjadi tiga zona. Zona tersebut meliputi zona Litoral, Zona
limnetik, dan zona profundal. Berdasarkan produksi bahan organiknya, danau dikelompokkan
menjadi:
a. Danau Oligotrofik, yaitu danau yang dalam dan tidak banyak mengandung nutrien, dan
fitolankton pada zona limnetiknya tidak begitu produktif.

b.

Danau Eutrofik, yaitu danau yang umumnya lebih dangkal, dan kandungan nutrien pada airnya
tinggi. Sebagai akibatnya, fitoplanktonnya sangat produktif, dan airnya seringkali menjadi keruh.

c. Danau Mesotrofik, yaitu danau yang terdapat diantara danau oligotrofik dan danau eutrofik.
Danau ini mempunyai jumlah nutrien dan produktivitas fitoplankton yang sedang.
(Campbell, 2000).

A.

DANAU

1.

pH Air
Pengukuran derajat keasaman air dilakukan dengan menggunakan kertas indikator universal pH
(1-14) yang dicelupkan ke dalam air.Kemudian perubahan warna yang terjadi dicocokkan dengan
warna standar. Atau dengan menggunakan alat test kit disital untuk mengukur pH terlebih
dahulu, dikalibrasi dengan menggunakan larutan buffer terlebih dahulu.

2.

Suhu Air
Pengukuran dilakukan dengan memaasukkan thermometer ke dalam perairan.

3.

Salinitas
Salinitas air dapat diukur dengan meneteskan air muara ke dalam alat ukur refraktometer
kemudian lihat di dalm skala berapa nilai yang tertera.

4.

Pengukuran DO
Pengukuran DO dapat dilakukan dengan menggunakan DO Meter dimana alat DO meter
sebelumnya telah dikalibrasi terlebih dahulu baru dimasukkan ke dalam perairan yang akan
diukur DOnya.

5.

Kecerahan
Penetrasi cahaya diukur dengan menggunakan keeping secchi yang diakitkan pada tali
penduga.Yang harus diperhatikan apakah penetrasi cahaya matahari tersebut sampai substrat
dasar atau tidak.Hal ini dikaitkan dengan produktivitas muara sungai.

6.

Pengambilan sampel plankton dan sedimen


Lempar plankton net ke perairan kemudian tarik secara horizontal kemudian tamping sampel air
di dalam botol film atau analisis phytoplankton di laboratorium. Ambil sampel sedimen dengan
egmen grab kemudian analisis jenis sedimen yang ada (pasir, lumpur, atau yang lainnya).

7.

Analisis Fe

Analisis kandungan Fe pada air dengan menggunakan istrumen Spektroskopi Serapan Atom
(SSA).
8.

Analisis Butiran Batuan


Analisis butiran batuan dilakuakan dengan mengamati ukuran batuan yang ada di sekitar
muara.Jika batuan kecil, dirasakan dengan jari tangan apakah halus atau kasar.

9.

Pengukuran vegetasi flora dan fauna


Buatlah kuadran dengan cara tancapkan 4 pasak dipermukaan tanah. Ikatkan sebuah tali padanya.
Peganglah lurus dan ukurlah jarang yang sebelumnya ditentukan, yang akan membentuk suatu
sisi kuadrat. Luas kuadran untuk perdu dan semak 5 x 5 m, sedangkan untuk pohon besar 20 x 20
m. dan amatilah tiap fauna yang ada di lingkungan itu.