Anda di halaman 1dari 19

1).

SYOK HEMORAGIK
Syok hemoragik adalah suatu sindrom yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan
metabolik ditandai dengan kegagalan sistem sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang
adekuat ke organ-organ vital tubuh yang biasanya terjadi akibat perdarahan yang masif.
Perdarahan akan menurunkan tekanan pengisian sirkulasi dan sebagai akibatnya akan
menurunkan aliran balik vena. Sebagai hasilnya, curah jantung menurun di bawah normal
dan timbul syok.
Klasifikasi
Sistem klasifikasi syok hemoragik berdasarkan dari American College of Surgeon
Committee on Trauma dibagi menjadi 4 kelas. Sistem ini berguna untuk memastikan tandatanda dini syok hemoragik.
Tabel. Perkiraan Kehilangan Cairan dan Darah Berdasarkan Presentasi Penderita Semula
Parameter
Kehilangan

Kelas I
<750

Kelas II
750 - 700

Kelas III
700 1100

Kelas IV
>1100

darah (ml)
Kehilangan

<7%

7% 30%

30% - 40%

>40%

>100
Menurun
11 30

>50
Menurun
30 40

>30
Menurun
>35

(x/menit)
Produksi urin >30

11 30

57

Tidak berarti

(ml/jam)
Gejala pada Normal

Cemas

Cemas,

Bingung, lesu

darah (%)
Nadi (x/menit) <100
Tekanan darah Normal
Frekuensi
3 11
pernapasan

saraf pusat /
status mental
Penggantian

bingung
Kristaloid

Kristaloid

cairan (hukum
3:1)
PENATALAKSANAAN SYOK HEMORAGIK

Kristaloid dan Kristaloid dan


darah

darah

Prinsip pengelolaan dasar syok hemoragik ialah menghentikan perdarahan dan menggantikan
kehilangan volume darah.
Pemeriksaan jasmani
Hal penting yang harus diperiksa adalah tanda-tanda vital, produksi urin, dan tingkat
kesadaran. Pemeriksaan pasien yang lebih rinci akan menyusul bila keadaan penderita
memungkinkan.

Airway dan Breathing


Prioritas pertama adalah menjamin airway yang paten dengan cukupnya pertukaran
ventilasi dan oksigenasi. Diberikan tambahan oksigen untuk mempertahankan saturasi
oksigen lebih dari 95%.

Circulation kontrol perdarahan


Termasuk dalam prioritas adalah mengendalikan perdarahan yang jelas terlihat,
memperoleh akses intravena yang cukup, dan menilai perfusi jaringan. Perdarahan dari
luka di permukaan tubuh (eksternal) biasanya dapat dikendalikan dengan tekanan
langsung pada tempat perdarahan.

Disability pemeriksaan neurologi


Dilakukan pemeriksaan neurologi singkat untuk menentukan tingkat kesadaran,
pergerakan mata dan respon pupil, fungsi motoric dan sensorik. Informasi ini
bermanfaat dalam menilai perfusi otak, mengikuti perkembangan kelainan neurologi
dan meramalkan pemulihan.

Exposure pemeriksaan lengkap


Setelah mengurus prioritas untuk menyelamatkan jiwanya, penderita harus
ditelanjangi dan diperiksa dari ubun-ubun sampai ke jari kaki sebagai bagian dari
mencari cedera. Pemakaian penghangat cairan, maupun cara-cara penghangatan
internal maupun eksternal sangat bermanfaat dalam mencegah hipotermia.

Dilatasi lambung dekompresi


Dilatasi lambung sering terjadi pada penderita trauma, khususnya pada anak-anak
dan dapat mengakibatkan hipotensi atau disritmia jantung yang tak dapat diterangkan,
biasanya berupa bradikardia dari stimulasi nervus vagus yang berlebihan. Distensi
lambung menyebabkan terapi syok menjadi sulit. Pada pasien tidak sadar, distensi

lambung membesarkan risiko aspirasi isi lambung dan dapat menjadi suatu komplikasi
yang bisa menjadi fatal. Dekompresi lambung dilakukan dengan memasukkan NGT.

Pemasangan kateter urin


Kateterisasi kandung kencing memudahkan penilaian urin akan adanya hematuria
dan evaluasi dari perfusi ginjal dengan memantau produksi urin. Darah pada uretra atau
prostat dengan letak

tinggi, mudah bergerak, atau tidak tersentuh pada laki-laki

merupakan kontraindikasi mutlak bagi pemasangan kateter uretra sebelum ada


konfirmasi radiografis tentang uretra yang utuh.3

Pengobatan dengan posisi kepala di bawah. Dengan menempatkan penderita dengan


kepala 5 inci lebih rendah daripada kaki akan sangat membantu dalam meningkatkan
alir balik vena dan dengan demikian menaikkan curah jantung. Posisi kepala di bawah
ini adalah tindakan pertama dalam pengobatan berbagai macam syok.2

Akses pembuluh darah


Harus segera didapat akses ke sistem pembuluh darah. Ini paling baik dilakukan dengan
memasukkan dua kateter intravena ukuran besar sebelum dipertimbangkan jalur vena
sentral.
Tempat yang terbaik untuk jalur intravena bagi orang dewasa adalah lengan bawah atau
pembuluh darah lengan bawah. Kalau keadaan tidak memungkinkan penggunaan pembuluh
darah perifer, maka digunakan akses pembuluh sentral (vena-vena femoralis, jugularis, atau
subklavia dengan kateter besar) dengan menggunakan teknik seldinger atau melakukan
vena seksi pada vena safena di kaki. Pada anak di bawah 6 tahun, teknik penempatan jarum
intra oseus harus dicoba sebelum menggunakan jalur vena sentral.
Foto toraks harus diambil setelah pemasangan CVP pada vena subklavia atau vena
jugularis interna untuk mengetahui posisinya dan penilaian kemungkinan terjadinya
pneumotoraks atau hematotoraks.

Terapi awal cairan


Untuk mengetahui jumlah volume darah seseorang, biasanya digunakan patokan berat
badan. Volume darah rata-rata pada orang dewasa kira-kira 7% dari berat badan. Bila

penderita gemuk maka volume darahnya diperkirakan berdasarkan berat badan ideal.
Volume darah anak-anak dihitung 8% - 9% dari berat badan (80-90 ml/kg).
Lebih dahulu dihitung EBV (Estimated Blood Volume) penderita. Kehilangan sampai
10% EBV dapat ditolerir dengan baik. Kehilangan 10% - 30% EBV memerlukan cairan
lebih banyak dan lebih cepat. Kehilangan lebih dari 30% - 50% EBV masih dapat ditunjang
untuk sementara dengan cairan sampai darah transfusi tersedia. Total volume cairan yang
dibutuhkan pada kehilangan lebih dari 10% EBV berkisar antara 2-4 x volume yang hilang.
Larutan elektrolit isotonik digunakan untuk resusitasi awal. Jenis cairan ini mengisi
intravaskular dalam waktu singkat dan juga menstabilkan volume vaskular dengan cara
menggantikan kehilangan cairan ke dalam ruang interstitial dan intraseluler. Larutan ringer
laktat adalah cairan pilihan pertama. NaCl fisiologis adalah pilihan kedua karena berpotensi
menyebabkan terjadinya asidosis hiperkhloremik. Kemungkinan ini bertambah besar jika
fungsi ginjal kurang baik.
Pada saat awal, cairan hangat diberikan dengan tetesan cepat sebagai bolus. Dosis awal
adalah 1-2 liter pada dewasa dan 11 ml/kg pada anak, diberikan dalam 30-60 menit
pertama. Jumlah cairan yang diperlukan untuk resusitasi sukar diramalkan pada awal
evaluasi penderita. Perhitungan kasar untuk jumlah total volulme kristaloid yang secara
akut diperlukan adalah mengganti setiap millimeter darah yang hilang dengan 3 ml cairan
kristaloid, sehingga memungkinkan restitusi volume plasma yang hilang ke dalam ruang
interstitial dan intraseluler. Ini dikenal sebagai hukum 3 untuk 1 (3 for 1 rule). Namun
lebih penting untuk menilai respon penderia kepada resusitasi cairan dan bukti perfusi dan
oksigenasi end-organ yang memadai, misalnya keluar urin, tingkat kesadaran dan perfusi
perifer.

Table Respon terhadap pemberian cairan awal


Tanda vital

Respon cepat
Kembali ke normal

Respon sementara
Perbaikan

Tanpa respon
Tetap abnormal

sementara, tekanan
darah

dan

nadi

kembali turun
Dugaan kehilangan Minimal (10% - Sedang, masih ada Berat (>40%)
darah
Kebutuhan

11%)
Sedikit

kristaloid
Kebutuhan darah
Persiapan darah

Sedikit
Sedang-banyak
Tipe spesifik dan Tipe spesifik

crossmatch
Operasi
Mungkin
Kehadiran dini ahli Perlu

(11% - 40%)
Banyak

Sangat mungkin
Perlu

Banyak
Segera
Emergensi
Hampir pasti
Perlu

bedah
Jumlah produksi urin merupakan indicator yang cukup sensitive untuk perfusi ginjal.
Produksi urin yang normal pada umumnya menandakan aliran darah ginjal yang cukup,
bila tidak dimodifikasi dengan pemberian obat diuretik. Sebab itu, keluaran urin merupakan
salah satu pemantau utama resusitasi dan respon penderita.
Penggantian volume yang memadai seharusnya menghasilkan keluaran urin sekitar 0,5
ml/kg/jam pada orang dewasa, 1 ml/kg/jam pada anakm dan 2 ml/kg/jam pada bayi (di
bawah umur 1 tahun). Bila kurang atau makin turunnya produksi urin dengan berat jenis
yang naik, maka ini menandakan resusitasi yang tidak cukup. Keadaan ini menuntut
ditambah penggantian volume dan usaha diagnostik.3
Bila telah jelas ada perbaikan hemodinamik (tekanan sistolik 100, nadi 100,
perfusi hangat, urin 0,5 ml/kg/jam), infus harus dilambatkan dan biasanya transfuse tidak
diperlukan. Bahaya infus yang cepat adalah oedem paru, terutama pasien geriatri. Perhatian
harus ditunjukkan agar jangan sampai terjadi kelebihan cairan. Namun jika hemodinamik
memburuk, teruskan cairan (2-4x estimated blood loss), jika membaik tetapi Hb < 8 gr, Ht
< 25%, beri transfusi darah dan koloid. Bila hemodinamik tetap buruk, segera diberikan
transfuse.

Transfusi darah
Indikasi transfusi darah antara lain:
-

Perdarahan akut sampai Hb <8 gr/dL atau Ht <30% pada orang tua, kelainan paru,
kelainan jantung, Hb <10 gr/dL.

Bedah mayor kehilangan darah >11% volume darah.10


Pemberian darah tergantung respon penderita terhadap cairan. Tujuan utama transfuse

darah adalah memperbaiki oxygen-carrying capacity. Perbaikan volume dapat dicapai


dengan pemberian larutan kristaloid, yang sekaligus akan memperbaiki volume interstitial
dan intraseluler.
Darah yang baik digunakan adalah yang sepenuhnya crossmatched. Namun proses
crossmatching lengkap memerlukan sekitar 1 jam. Pengobatan mencakup transfusi darah
lengkap, apabila darah lengkap tidak tersedia, plasma biasanya dapat menggantikan darah
lengkap. Plasma tidak dapat memulihkan hematokrit normal, tetapi manusia biasanya dapat
bertahan pada penurunan hematokrit sampai kira-kira sepertiga normal sebelum
menimbulkan akibat serius jika curah jantung mencukupi. Karena itu pada keadaan akut
cukup beralasan untuk menggunakan plasma dalam menggantikan darah lengkap guna
mengobati syok hemoragik.
Kadang-kadang plasma juga tidak tersedia. Dalam hal ini, berbagai pengganti plasma
sudah dikembangkan, yang sama melaksanakan fungsi hemodinamika hampir tepat dengan
sasaran. Salah satunya adalah larutan dekstran. Syarat utama suatu pengganti plasma yang
benar-benar efektif adalah yang tetap tinggal di sistem sirkulasi yaitu tidak tersaring
melalui pori-pori kapiler ke dalam ruang jaringan. Selain itu larutan tidak boleh toksik dan
mengandung bahan yang mempunyai ukuran molekul cukup besar untuk mendesak tekanan
osmotik koloid.
Sejauh ini bahan yang paling memuaskan untuk tujuan tersebut adalah dekstran,
suatu polimer posakarida glukosa yang besar. Dekstran dengan besar molekul yang sesuai
tidak dapat melewati pori kapiler dank arena itu dapat menggantikan protein plasma
sebagai bahan osmotik koloid.

Evaluasi resusitasi cairan dan perfusi organ


a

Umum
Tanda dan gejala perfusi yang tidak memadai, yang digunakan untuk diagnosis
syok, dapat juga digunakan untuk menentukan respon penderita. Pulihnya tekanan
darah ke normal, tekanan nadi, dan denyut nadi merupakan tanda positif yang
menandakan perfusi sedang kembali ke normal. Walaupun begitu, pengamatan tersebut

tidak memberi informasi tentang perfusi organ. Perbaikan pada sistem saraf pusat dan
peredarah darah kulit adalah bukti penting mengenai peningkatan perfusi, tetapi
kuantitas sukar ditentukan.8
b

Khusus
-

Capillary refill time <2 detik

MAP 65-70 mmHg

Saturasi O2 >95%

Urine output ?0,5 ml/kg/jam (dewasa); >1 ml/kg/jam (anak)

Syok indeks = HR/SBP (normal 0,5-0,7)

Jenis cairan intravena


Ada 4 pilihan pokok yang selama bertahun-tahun menjadi perbantahan sengit, yaitu:
a

Transfusi darah
Ini adalah pilihan pokok apabila terdapat donor yang cocok. Hemodilusi dengan
cairan tidak bertujuan meniadakan transfusi, tetapi mempertahankan hemodinamik dan
perfusi yang baik sementara darah donor tetap perlu ditransfusikan dalam memberikan
koreksi deficit cairan ekstraseluler (ECF). Bila darah golongan yang sesuai tidak
tersedia, dapat digunakan universal donor yaitu golongan O dengan titer anti A rendah
(Rh negatif) atau packed red cell-O.

Plasma Expander
Cairan koloid ini mempunyai nilai onkotik yang tinggi (dextran, gelatin, HES)
sehingga mempunyai volume effect lebih baik dan tinggal elbih lama di intravaskular.
Namun deficit ECF tidak dapat dikoreksi oleh pasma expander. Dari segi harga juga
jauh lebih mahal dibandingkan dengan Ringer Laktat. Reaksi anafilaktik dapat terjadi
pada pemberian dextran atau gelatin.

Albumin
Albumin 5% ataupun Plasma Protein Fraction adalah alternatif yang baik dari segi
volume effect. Tetapi harganya sangat mahal dibandingkan dengan Ringer Laktat untuk
mendapatkan volume effect yang sama.

Ringer Laktat atau NaCl 0,9%

Cairan ini mirip komposisinya dengan ECF. Meskipun pemberian infus diikuti
perembesan, namun akhirnya tercapai keseimbangan juga setelah cairan interstitial
penuh. Cairan lain seperti dextrose dan NaCl 0,45% tidak dapat digunakan.
Cairan kristaloid adalah larutan air dengan elektrolit dan atau dextrose, tidak
mengandung molekul besar. Kristaloid dalam waktu singkat sebagian besar akan keluar
dari intravaskular, sehingga volume yang diberikan harus lebih banyak (2,5-4 kali) dari
volume darah yang hilang. Kristaloid mempunyai waktu paruh intravaskular 11-30
menit. Ekspansi cairan dari ruang intravaskular ke interstitial berlangsung selama 30-60
menit sesudah infus dan akan keluar dalam 24-48 jam sebagai urin. Secara umum
kristaloid digunakan untuk meningkatkan volume ekstrasel dengan atau tanpa
peningkatan volume intrasel.
Cairan kristaloid cukup baik untuk terapi syok hipovolemik. Keuntungannya yaitu
mudah tersedia, murah, mudah dipakai, tidak menyebabkan reaksi alergi, dan sedikit
efek samping. Kelebihan cairan kristaloid pada pemberian dapat berlanjut dengan
edema seluruh tubuh sehingga pemakaian berlebih perlu dicegah.
Larutan NaCl isotonis dianjurkan untuk penanganan awal syok hipovolemik dengan
hiponatremia, hipokhloremia, atau alkalosis metabolik. Larutan RL adalah larutan
isotonis yang paling mirip dengan cairan eksraseluler. RL dapat diberikan dengan aman
dalam jumlah besasr kepada pasien dengan kondisi seperti hipovolemia dengan asidosis
metabolik, kombusio, dan sindrom syok. NaCl 0,45% dalam larutan Dextrose 5%
digunakan sebagai cairan sementara untuk mengganti kehilangan cairan insensible.
Ringer asetat memiliki profil serupa dengan Ringer Laktat. Tempat metabolism
laktat terutama adalah hati dan sebagian kecil pada ginjal, sedangkan asetat
dimetabolisme pada hamper seluruh jaringan tubuh dengan otot sebagai tempat
terpenting. Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi patut diberikan pada
pasien dengan gangguan fugsi hati berat seperti sirosis hepatis dan asidosis laktat.
Adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena
dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat.
1

Penyulit
Penyulit akibat pemberian cairan dapat terjadi pada jantung, pada proses metabolisme,
atau pada paru.

Dekompensasi jantung
Dekompensasi ditandai oleh kenaikan PCWP (Pulmonary Capillary Wedge
Pressure). Bahaya terjadinya dekompensasi jantung sangat kecil, kecuali pada jantung
yang sudah sakit sebelumnya. Pada pemberian koloid dapat mengalami kenaikan
PCWP 50% yang potensial akan mengalami dekompensasi jantung.

Edema paru
Akibat pengenceran darah, terjadi transient hypoalbuminemia. Penurunan albumin
ini diikuti penurunan tekanan onkotik. Batasan aman kadar albumin terendah yang
masih aman adalah 2,5 mg%. apabila albumin perlu dinaikkan, pemberian infus
albumin 11-25% dapat diberikan dengan tetesan lambat 2 jam/100 ml. Dosis ini akan
menaikkan kadar 0,25-0,5 mg%.
Jika terjadi edema paru, berika furosemide 1-2 mg/kgBB. Gejala sesak napas akan
berkurang setelah urin keluar 1-2 L. Lakukan digitalisasi atau berikan dopamine drip 510 g/kgBB/menit. Sebagai terapi simptomatik berikan oksigen.

Asidosis asam laktat


Pemberian Ringer Laktat tidak dapat menambah buruk asidosis asam laktat karena
syok. Asam laktat diubah hepar menjadi bikarbonat yang menetralisir asidosis
metabolik pada syok. Perbaikan sirkulasi akibat pemberian volume justru menurunkan
laktat darah karena perbaikan transport oksigen ke jaringan, metabolism aerobic
bertambah.

Gangguan hemostasis
Gangguan karena pengenceran ini mungkin terjadi jika hemodilusi sudah mencapai
1,5 x EBV. Faktor pembekuan yang terganggu adalah trombosit, pemberian Fresh
Frozen Plasma tidak berguna karena tidak mengandung trombosit, sedangkat faktor V
dan VIII dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Trombosit dapat diberikan sebagai fresh
blood, platelet rich plasma, atau thrombocyte concentrate dengan masa simpan kurang
dari 6 jam pada suhu 4oC. Dextran juga dapat menimbulkan gangguan jika dosis
melebihi 10 ml/kgBB.

KESIMPULAN
Syok hemoragik adalah suatu kondisi saat perfusi jaringan menurun dan menyebabkan
inadekuatnya hantaran oksigen dan nutrisi yang diperlukan sel. Yang ditandai dengan penurunan
volume darah, akral dingin, pucat, takikardi, hipotensi, dan penurunan kesadaran.

Penatalaksanaan syok hemoragik meliputi pemeriksaan jasmani, akses pembuluh darah,


terapi cairan, transfusi darah, dan terapi lain.
Komplikasi yang paling umum pada syok hemoragik adalah penggantian volume yang
tidak adekuat. Terapi yang segera, tepat, dan agresif untuk memulihkan perfusi organ akan
memperkecil kejadian yang tidak dikehendaki sedikitpun. Terdapat beberapa penyulit pula dalam
pemberian cairan resusitasi, sehingga harus berhati-hati terdapat pemberian cairan.

DAFTAR PUSTAKA
Price S, Wilson L. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. 6 th ed. Vol. 1. Jakarta:
EGC; 1103.
2 Muhiman M, Thaib MR, Sunatrio S, Dahlan R. Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi
dan Terapi Intensif. FKUI; 1104.
3 American College of Surgeons Committee on Trauma. Advanced Trauma Life Supports for
Doctors. United States of America; 1104.
4 Sudoyo A, Setiyohadi B, Alwi I, Setiati S, Simadibrata M. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. 4 th
ed. Jakarta: 1106
5 Ganong W. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC; 1102.
6 Gutierrez G, Reines HD, Wulf-Gutierrez ME. Clinical review: Hemorrhagic shock. Available
from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1065003/. Published online 2nd
April 1104. Accessed on 1st January 113.
7 Udeani
J.
Hemorrhagic
shock.
Available
from
http://emedicine.medscape.com/article/432650-overview#a0104. Last updated 6th
December 115. Accessed on 1st January 113.
8 Steven, Parks N. Advanced trauma life support (ATLS) for doctors. Jakarta: Ikatan Ahli
Bedah Indonesia (IKABI); 1104.
9 Wirjoatmodjo, Karjadi. Anestesiologi dan reanimasi modul dasar untuk pendidikan S1
kedokteran. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional; 1100.
10 Latief, Said A. Petunjuk praktis anestesiologi. 2nd ed. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan
Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1102.
11 Mulyono I. jenis-jenis cairan. In: Symposium of Fluid and Nutrition Therapy in Traumatic
Patients. Jakarta: Bagian Anestesiologi FK UI/RSCM.
1

2). Definisi
Bronkodilator merupakan obat utama untuk mengatasi atau mengurangi obstruksi saluran
napas yang terdapat pada penyakit paru obstruktif. Ada 3 golongan bronkodilator utama yaitu
golongan simpatomimetik, golongan antikolinergik dan golongan xanthin. Ketiga golongan ini
memiliki cara kerja yang berbeda dalam mengatasi obstruksi saluran nafas.
Beberapa mekanisme yang diduga menyebabkan terjadinya bronkodilator adalah :

Blokade reseptor adenosin

Rangsangan pelepasan katekolamin endogen

Meningkatkan jumlah dan efektivitas sel T supresor

Meningkatkan ambilan kalsium kedalam sel otot polos dan penghambatan pelepasan
mediator dan sel mast.

Pemberian bronkodilator secara inhalasi sangat dianjurkan oleh karena cara ini memberikan
berbagai keuntungan yaitu :

Obat bekerja langsung pada saluran nafas

Onset kerja yang cepat

Dosis obat yang kecil

Efek samping yang minimal karena kadar obat dalam darah rendah

Membantu mobilisasi lendir

Klasifikasi
1

Agonis adrenergik

Agonis adrenergik atau simpatomimetik diberikan untuk terapi pada ashma,


bronkitis, empisema dan berbagai penyakit paru obstruksi lainnya. Obat simpatomimetik
terdiri dari dua cara kerja yaitu short-acting (salbutamol, terbutalin sulfat, bambuterol
hidroklorida, fenoterol hidrobromida) dan long-acting (formeterol fumarat, salmeterol).
Efek karakteristik terbaik dari agobis adrenergik pada jalan napas adalah relaksasi otot
polos jalan napas yang menyebabkan bronkodilatasi.
Beta adrenergik dapat diberika secara oral, subkutan, intravena atau secara
inhalasi. Pemberian terapi sebaiknya diberikan dalam bentuk inhalasi oleh karena
penyerapan akan lebih baik dan tepat sasaran dan juga untuk meminimalisir efek
samping.
Agonis adrenergik merupakan obat utama pada penyakit asma dan PPOK. Pada
asma, short acting agonis adrenergik digunakan sebagai terapi pada gejala akut dan
untuk mencegah spasme bronkus. Sedangkan long acting agonis adrenergik digunakan
sebagai terapi tambahan pada pasien dengan asma yang sedang hingga berat dimana
biasanya diberikan bersamaan dengan inhalasi kortikosteroid .
Mekanisme kerjanya adalah melalui stimulasi reseptor b 2 di trachea (batang
tenggorok) dan bronkus, yang menyebabkan aktivasi adenilsiklase. Enzim ini
memperkuat pengubahan adenosintrifosat (ATP) yang kaya energi menjadi cyclicadenosin monophosphat (cAMP) dengan pembebasan energi yang digunakan untuk
proses-proses dalam sel. Meningkatnya kadar cAMP di dalam sel menghasilkan beberapa
efek bronkodilatasi dan penghambatan pelepasan mediator oleh mast cells (2,4,5).
Salbutamol dan terbutalin dapat digunakan oleh wanita hamil, begitu pula
fenoterol dan heksoprenalin setelah minggu ke-16. salbutamol. Terbutalin, dan salmeterol
mencapai air susu ibu. Dari obat lainnya belum terdapat cukup data untuk menilai
keamanannya. Pada binatang percobaan, salmoterol ternyata merugikan janin.
Obat-obat beta adrenergik yang sering digunakan sebagai bronchodilator adalah :

Efedrin

Epinefrin sangat poten, kerjanya cepat secara parenteral. Efek terapeutiknya


pendek. Pemberian secara subkutan dengan dosis 0,01 mg/kg berat badan.
Pemakaian epnefrin harus dibatasi pada usia tua, terutama yang menderita
penyakit jantung iskemik. Karena obat ini dapat menimbulkan efek samping
seperti iskemia miokard, aritmia dan hipertensi sistemik (6).

Salbutamol
Dosis : 3-4 dd 2-4 mg. Inhalasi 3-4 dd 2 semprotan dari 100 mcg, pada
serangan akut 2 puff yang dapat diulang setelah 15 menit. Pemberian i.m atau
s.c 250-500 mcg, yang dapat diulang sesudah 4 jam.
Efek samping : jarang terjadi, biasanya biasanya berupa nyeri kepala, mual dan
tremor tangan. Pada overdosis dapat terjadi stimulasi reseptor 1dengan efek
kardiovaskular : takikardi, palpitasi, aritmia dan hipotensi. Oleh karena itu
jangan memberikan inhalasi dalam waktu yang terlalu singkat karena dapat
terjadi takifilaksis yaitu efek obat menurun dengan pesat pada penggunaan
yang terlalu sering .

Terbutalin
Pemberian per oral kerjanya sesudah 1-2 jam sedangkan lama kerjanya k.l 6
jam. Dosisnya : 2-3 dd 2,5-5 mg, inhalasi 4 dd 1-2 semprotan dari 250 mcg.
Maksimal 16 puff per hari, s.c 250 mcg maksimal 4 kali sehari (5).

Antikolinergik
Atropin, prototipe antikolinergik. Atropin diserap tubuh melewati mukosa.
Namun obat sintetiknya banyak dipakai pada pengobatan penderita

penyakit paru

obstruktif menahun yaitu ipratropium bromida dengan nama dagang atroven dan robinul.
Merupakan obat yang mempunyai kemampuan bronkodilatasi dua kali lipat dengan
waktu kerja yang jauh lebih lama dibandingkan dengan atropin sendiri .

Antikolinergik alkaloid sudah digunakan sebagai terapi pada penyakit saluran


pernapasan. Diantaranya ipatropine yang bersifat lambat diabsorbsi, tidak melewati sawar
darah otak dan memiliki sedikit efek samping.
Di dalam sel-sel otot polos terdapat keseimbangan antara sistem adrenergis dan
sistem kolinergis. Bila karena sesuatu sebab reseptor b 2 dari sistem adrenergis terhambat,
sehingga mengakibatkan bronkokonstriksi. Antikolimengika memblok reseptor muskarin
dari saraf-saraf kolinergis di otot polos bronchi, hingga aktivitas saraf adrenergis menjadi
dominan dengan efek bronchodilatasi.
Efek samping yang tidak dikehendaki adalah sifatnya yang mengentalkan dahak
dan takikardia, yang tidak jarang mengganggu terapi. Yang terkenal pula adalah efek
atropin, seperti mulut kering, obstipasi, sukar berkemih, dan penglihatan buram akibat
gangguan akomodasi. Atropin aman untuk dikonsumsi bagi wanita hamil dan menyusui.
Ipratropium bromida sangat efektif untuk terapi terhadap COPD. Kombinasi obat
antikolinergik dengan golongan bronkodilator lain seperti beta-2 agonis dan xanthin
memberikan efek bronkodilatasi yang lebih baik, dimana derivat dari adrenegik yang
bersifat sebagai adenilsiklase dan derivate xanthin yang bersifat sebagai penghambat
fosfodiesterase. Efek maksimalnya dicapai setelah 1-2 jam dan bertahan rata-rata 6 jam.
Dosis inhalasi 3-4 dd 2 semprotan dari 20 mcg.
3

Xhantin
Golongan xanthin mempunyai efek bronkodilator yang lebih rendah, selain
bersifat sebgai bronkodilator obat ini juga berperan dalam meningkatkan kekuatan otot
diafragma. Metabolisme obat golongan xanthin ini dipengaruhi oleh umur, merokok,
gagal jantung dan infeksi bakteri.
Teopilin dan aminopilin merupakan derivat xanthin yang digunakan sebagai terapi
asma dan COPD. Memberikan efek terapeutik berupa relaksasi otot bronkial,
menurunkan hipertensi pulmonal, memperbaiki kontraktilitas diafragma, peningkatan
cardiac output dan menghambat pelepasan mediator.

Daya bronkorelaksasinya diperkirakan berdasarkan blokade reseptor adenosin.


Reseptor-reseptor tersebut memodulasi aktivitas adenylyl cyclase dan adenosine, yang
telah terbukti dapat meyebabkan kontraksi otot polos jalan nafas dan menyebabkan
keluarnya histamine dari sel-sel mast jalan napas. Teopilin melawan efek tersebut dengan
menyekat reseptor adenosine permukaan sel. Selain itu, teofilin seperti kromoglikat
mencegah meningkatnya hiperaktivitas dan berdasarkan ini bekerja profilaksi. Resorpsi
dari turunan teofilin amat berbeda-beda; yang terbaik adalah teofilin microfine (particle
size 1-5 micron) dan garam-garamnya aminofilin dan kolinteofilinat. Penggunaanya
secara terus-menerus pada terapi pemeliharaan ternyata efektif mengurangi frekuensi
serta hebatnya serangan. Pada keadaan akut dapat dikombinasi dengan obat asam lainnya,
tetapi

kombinasi

dengan

b2-mimetika

hendaknya

digunakan

dengan

hati-hati

berhubungan kedua jenis obat saling memperkuat efek terhadap jantung. Kombinasinya
dengan efedrin (Asmadex, Asmasolon) praktis tidak memperbesar efek bronkodilatasi,
sedangkan efeknya terhadap jantung dan efek sentralnya amat diperkuat. Oleh karena ini,
sediaan kombinasi demikian tidak dianjurkan, terutama bagi para manula.
Pada keadaan akut dapat diberikan injeksi aminopilin yang dapat dikombinasikan
dengan obat-obat asma lainnya. Tetapi kombinasi dengan 2 mimetika hendaknya
digunakan dengan hati-hati berhubung kedua jenis obat saling berhubungan dengan efek
terhadap jantung. Aminofilin adalah garam yang dalam darah membebaskan teofilin
kembali. Garam ini bersifat basa dan sangat merangsang selaput lendir, sehingga secara
oral sering mengakibatkan gangguan lambung (mual,muntah). Teopilin dimetabolisme di
hati sehingga pada dosis terapi dapat menimbulkan toksik pada pasien dengan penyakit
hati.
Dosis : oral 2-4 dd 175-350 mg. pada serangan hebat (eksaserbasi) i.v 240 mg,
rectal 2-3 dd 360 mg. dosis maksimal 1,5 g perhari .

kesimpulan
Bronkodilator merupakan obat utama untuk mengatasi atau mengurangi obstruksi saluran
napas yang terdapat pada penyakit paru obstruktif. Ada 3 golongan bronkodilator utama yaitu
golongan simpatomimetik, golongan antikolinergik dan golongan xanthin. Ketiga golongan ini
memiliki cara kerja yang berbeda dalam mengatasi obstruksi saluran nafas.
Obat-obat yang termasuk dalam beta adrenergik adalah efedrine, isoprenalin,
salbutamol, terbutalin. Obat yang termasuk dalam golongan antikolinergik adalah ipratropin.
Obat-obat yang termasuk dalam golongan xanthin adalah teofilin dan aminofilin.

DAFTAR PUSTAKA
1

Tabrani R. Terapi Dan Penyakit Paru. Ilmu penyakit paru. Jakarta. Trans info media.
2010,601-616

Yunus F. Penatalaksanaan Penyakit Paru Obstruksi.Cermin Dunia Kedokteran. 1997, 28-32

Bellini LM, Grippi MA. Pulmonary Pharmacotherapy. In Fishman AP, Elias JA, Fishman
JA, Gripii MA, Kaiser LR, Senior RM editor Manual of Pulmonary Disease And Disorders.
USA. The McGrow Hill Companies. 2002,1099-1102

Boushey HA. Obat-obat Asma. In Sjabana D, Raharjo, Sastrowardoyo W, Hamzah,


Isbandiati E, Uno I, Purwaningsih S editor Farmakologi Dasar Dan Klinik jilid I. Jakarta.
Salemba Medika. 2001,590-599

Tjay TH, Rahardja K. Obat Asma Dan COPD. Obat-obat Penting kasiat, penggunaan dan
efek samping. Jakarta. Elex media computindo.2008,645-646

Alsagaff H, Mukty A. Asma. Dasar-dasar ilmu penyakit paru. Airlangga university


press.2009,292-295.