Anda di halaman 1dari 10

ABSTRAK

Objektif
: Untuk mengetahui faktor faktor dan tahapan menuju pecandu narkotika
Disain peneliti : Laporan kasus berdasarkan pengalaman Tn AO mantan pecandu narkoba yang telah
mengkonsumsi narkoba +/- selama 21 tahun
Metode
: Hasil wawancara langsung dengan salah satu residen yang sedang menjalani terapi
rehabilitasi di RSKO Cibubur dan berdasarkan beberapa study literature.
Diskusi
: Berbagai macam faktor serta berbagai macam tahapan untuk menuju pecandu narkotika
menyebababkan meningkatnya penyalahgunaan narkotika dan pecandu narkotika, yang
mana jika diketahui secara dini dapat menekan angka penggunaan dari kecanduan narkotika
terutama pada kalangan produktif. Penyalahgunaan narkoba terus meningkat dari hari ke hari
bahkan kian merajalela, sehingga akan memberikan dampak negative pada masa depan
pencandu narkotika tersebut, dari awalnya hanya mencoba untuk pertama kali, kedua kali,
ketiga kali dan seterusnya, dari awal hanya mencoba punya teman dilingkungan yang
menggunakan narkotika, hingga membeli narkotika dengan uang sendiri, hingga akhirnya
menimbulkan efek kecanduan dari pengguna narkotika. Berbagai macam faktor dalam
tahapan menuju pecandu narkotika berpengaruh besar sehingga seseorang pecandu menjadi
kecanduan narkotika
Kesimpulan
: Narkotika memiliki berbagai macam golongan dan efek yang dapat ditimbulkan,lingkungan
pergaulan yang salah, dorongan pribadi seseorang untuk mencoba hal baru, kurangnya
dorongan keluarga untuk menjauhi narkotika, pendapatan yang mencukupi untuk pembelian
narkotika, hingga hilangnya rasa was was akan jeratan hukum dikarenakan backup keluarga
menyebabkan untuk terus menggunakan narkotika, merupakan beberapa faktor yang memicu
penyalahgunaan hingga menjadi pecandu dari narkotika tersebut.

Keywords

: Narkotika

Tahap

Pecandu

PENDAHULUAN :
Narkotika dan Obat-obatan terlarang (NARKOBA) atau Narkotik, Psikotropika, dan
Zat Aditif (NAPZA) adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan /
psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan
fisik dan psikologi. Narkotika menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika, yaitu zat atau obat
yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. (BNN, 2014)
Dalam dunia medis berbagai macam jenis narkotika dapat dipakai untuk tindakan
medis dalam tahapan serta standar tertentu yang aman pada tubuh manusia melalaui berbagai
macam penelitian para pakar serta ahli dalam bidang farmakologi. Sebagai contoh golongan
opioid dapat dipakai sebagai analgetik kuat untuk kasus kasus tertentu yang membutuhkan
analgetik kuat, tetapi banyak dari masyarakat yang kurang bahkan tidak mengetahui bahaya
dari penyalahgunaan narkotika tersebut.

Penyalahgunaan dalam penggunaan narkoba adalah pemakain obat-obatan atau zat-zat


berbahaya dengan tujuan bukan untuk pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa
mengikuti aturan atau dosis yang benar. Dalam kondisi yang cukup wajar atau sesuai dosis
yang dianjurkan dalam dunia kedokteran saja maka penggunaan narkoba secara terusmenerus

akan

mengakibatkan

ketergantungan,

depedensi,

adiksi

atau

kecanduan.Penyalahgunaan narkoba juga berpengaruh pada tubuh dan mental-emosional para


pemakaianya. Jika semakin sering dikonsumsi, apalagi dalam jumlah berlebih maka akan
merusak kesehatan tubuh, kejiwaan dan fungsi sosial di dalam masyarakat. (BNN,2009)
Penyalahgunaan narkotika adalah salah satu faktor yang menyebabkan pemakainya
menjadi kecanduan, dari awalnya hanya coba coba, memakai untuk kedua kali, ketiga kali,
dan bahkan seterusnya hingga menyebabkan pemakainya menjadi kecanduan dengan
narkotika tersebut.
Adapun tahapan-tahapan menjadi pecandu narkoba sebagai berikut :
1. Selalu diawali dengan coba coba (eksperimental user) untuk memenuhi rasa ingin
tahu atas bujukan orang lain
2. Dilanjutkan dengan menjadi pemakai sosial (social user) untuk memenuhi rasa ingin
tahu atas bujukan orang lain
3. Meningkatkan menjadi pemakai situasional (situasional user), menggunakan narkoba
pasa situasi tertentu, misalnya sedang kesal, bermasalah, sedih, kecewa, dll.
4. Pemakaian menjadi semakin sering, yaitu tahap penyalahgunaan (abuse), frekuensi
penggunaan semakin meningkat, tidak perlu ada orang lain atau sedang bermasalah.
5. Puncaknya adalah tahap ketergantungan(dependent), dimana penggunaan narkoba
menjadi suatu kebutuhan, bila tidak dipenuhi timbul keadaan yang sangat
menyakitkan,

baik

secara

fisik,

maupun

psikis.

(Ayub

aswad,2011)

Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengetahui tahap tahap menuju pecandu narkoba
serta faktor faktor yang mendukung kecanduan pada narkotika pada Tn AO mantan pecandu
narkotika pasien Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur dan kita dapat memutus mata
rantai penyalahgunaan narkoba dari tingkat pemakai awal daripada narkoba tersebut.
Penulisan ini berdasarkan wawancara dengan salah satu pasien di Rumah Sakit
Ketergantungan Obat Cibubur, Jakarta Timur.

PRESENTASI KASUS
Tn AO 41th, berstatus menikah, anak 2 orang, pendidikan terakhir S1, adalah mantan
pecandu narkotika yang sedang menjalani rehabilitasi di RSKO (Rumah sakit ketergantungan
obat) cibubur jakarta timur, selama kurang lebih 21 tahun hidup didalam lingakaran jerat
narkotika, berawal dari lingkungan kehidupan kampus dan pergaulan dengan sesama
mahasiswa di salah satu universitas di daerah yang memakai narkotika jenis ganja, dari sana
Tn AO mengenal ganja,beberapa

kali pertemuan Tn AO dan temannya yang memakai

narkotika memaksa Tn AO untuk kembali mencoba menggunakan ganja,alasan perasaan


senang, bahagia, enjoy, dll menyebabkan Tn AO untuk terus dan terus menggunakan
narkotika jenis ganja, walaupun orang tuanya adalah salah satu anggota POLRI tidak
mematahkan niat Tn AO untuk terus menerus menggunakan narkotika. Bahkan dengan
kondisi keuangan mahasiswa yang sehari harinya di backup dengan orang tua, ketika uang
bulanan tidak mencukupi lagi, Tn AO sering menjual perabotan dan barang elektronik
dirumahnya untuk mendapatkan uang dan digunakan membeli ganja dari bandar. Begitu
kehidupan Tn AO hingga dia menyelesaikan kuliah.
Hingga didunia kerja, Tn AO menduduki salah satu posisi strategis di Dinas
pendapatan Daerah salah satu kota didaerah. Tn AO tetap menggunakan narkoba, dan bahkan
ketika sudah bekerja pada tahun 2009 pemakaian ganja di gabungkan dengan pemakaian
sabu, dari hasil wawancara Tn AO mengakatan bahwa lama kelamaan mulai tidak
mendapatkan efek apa apa dari pemakaian ganja hingga akhirnya untuk mendapatkan efek
dari narkotika tersebut harus di ikuti dengan pemakaian sabu, dan setelah beberapa lama
memakai sabu Tn AO mengaku harus meningkatkan dosis abu untuk mendapatkan efek dari
narkotika tersebut, sabu dan ganja tersebut di konsumsi di ruang kerja Tn AO yang menurut
pengakuan dari pasien tersebut itu adalah tempat teraman baginya untuk mengkonsumsi
narkoba, karena akan jauh dari jangkauan dari pihak pihak aparat penegak hukum. Bahkan
beberapa teman sekantor Tn AO menurut pengakuan pasien juga mengkonsumsi narkotika.
Pendapatan yang besar mendorong Tn AO untuk terus menggunakan narkotika, dalam satu
bulan Tn AO bisa menghabiskan 12 jt rupiah untuk membeli ganja dan sabu, dalam sekali
beli dapat dipakai untuk 1 minggu. Akses kebandar yang mudah menyebabkan Tn AO tidak
pernah kesulitan untuk medapatkan ganja serta sabu.
Pada tahun 2002 Tn AO mengaku mengetahui sadar bahwa dirinya mulai kecanduan
narkotika, dilihat dari postur tubuh, tingkah laku, menyebabkan Tn AO memiliki keinginan
untuk berhenti memakai narkotika. Pada tahun 2005 Tn AO pernah mencoba putaw beberapa

kali, tetapi karena alasan tidak cocok dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pemakaian
putaw. 2011 menurut pengakuan pasien pernah mengalami over dosis. Tahun 2011 Tn AO
mengaku sering mengalami pusing dan sakit kepala.Pada tahun 2013-2014 pemakaian sabu
dan ganja di ikuti dengan minuman beralkohol setiap hari. Hingga akhirnya pada tahun 2014
Tn AO dibawa pihak keluarga ke BNN untuk menjalani rehabilitasi, tetapi setelah keluar dari
rehabilitasi di BNN tahun yang sama Tn AO kembali menggunakan narkotika dengan alasan
kembali bertemu bandar, dan rasa tidak enak dengan teman-teman yang juga pecandu
narkotika. Pada 13 september 2015 Tn AO kembali ke BNN untuk direhabilitasi dan di
rehabilitasi di RSKO cibubur jakarta timur.
DISKUSI
Tahapan menuju pecandu narkoba yang akan dilalui seseorang pecandu narkotika
dibagi atas 5 garis besar :
1. Selalu diawali dengan coba coba (eksperimental user) untuk memenuhi rasa ingin
tahu atas bujukan orang lain
Tn AO mencoba narkotika pertama kali ketika dibangku kuliah tahun 1994 karena
bujukan atas teman dilingkungan kampus tempat dia kuliah
2. Dilanjutkan dengan menjadi pemakai sosial (social user) untuk memenuhi rasa ingin
tahu atas bujukan orang lain
3. Meningkatkan menjadi pemakai situasional (situasional user), menggunakan narkoba
pasd situasi tertentu, misalnya sedang kesal, bermasalah, sedih, kecewa, dll.
4. Pemakaian menjadi semakin sering, yaitu tahap penyalahgunaan (abuse), frekuensi
penggunaan semakin meningkat, tidak perlu ada orang lain atau sedang bermasalah.
5. Puncaknya adalah tahap ketergantungan(dependent), dimana penggunaan narkoba
menjadi suatu kebutuhan, bila tidak dipenuhi timbul keadaan yang sangat
menyakitkan, baik secara fisik, maupun psikis.
(Ayub aswad, 2011)
Korelasi dengan Tn AO
1. Tn AO mencoba narkotika pertama kali ketika dibangku kuliah tahun 1994 karena
bujukan atas teman dilingkungan kampus tempat dia kuliah
2. Pemakaian narkoba kedua kali dilakukan dengan teman dilingkungan yang sama, dan
berulang beberapa kali, menurut pengakuan dari Tn AO karena merasa tidak enak hati
dengan teman dilingkungan pergaulan Tn AO.
3. Tn AO membantah memakai narkotika ketika mengalami tekanan psikologis baik itu
masalah keluarga, kuliah, pacar DLL

4. Semakin sering Tn AO bertemu dengan teman dilingkungan yang sama, frekuensi


pemakaian narkotika pada Tn AO semakin meningkat
5. Tn Ao menyadari mengalami ketergantungan pada tahun 2002 karena fisik yang
menurun.
Sifat Narkoba
Narkoba memiliki 3 sifat yang dapat membelenggu pemakainya, Sehingga para
pemakainya tidak dapat keluar dari jeratannya. Tiga sifat khas yang sangat berbahaya:
1. Habitualis adalah sifat pada narkoba yang membuat pemakainya akan selalu teringat,
terkenang dan terbayang sehingga cenderung untuk mencari dan rindu. sifat ini lah
yang membuat pemakai narkoba yang sudah sembuh dapat kambuh kembali.
2. Adiktif adalah sikap yang membuat pemakainya terpaksa memakai terus dan tidak
dapat menghentikan, penghentian atau pengurangan pemakaian narkoba akan
menimbulkan efek putus zat yaitu perasaan sakit yang luar biasa.
3. Menuntut dosis yang lebih tinggi. Bila dosis tidak dinaikkan narkoba itu tidak akan
bereaksi, tetapi malah membuat pemakainya mengalami sakaw.
Korelasi dengan Tn AO
1. Tn AO mengakui selalu teringat jika tidak memakai narkotika
2. Menurut pengakuan Tn AO jika dia menghentikan pemakaian narkotika maka iya
akan mengalami pusing dan sakit kepala
3. Jika dosis yang dipakai sama dengan dosis sebelumnya, maka Tn AO tidak
mendapatkan efek yang diharapkan, sehingga Tn AO dituntut untu selalu menaikkan
dosis pakai dari narkotika tersebut.
Dari beberapa sifat sifat narkoba tersebut yang dijabarkan diatas menyebabkan
pengguna narkoba secara berkala akan menjadi pecandu tanpa disadari oleh pemakai narkoba
tersebut, sehingga menyebabkan pecandu sulit untuk berhenti tanpa dibantu oleh program
tertentu serta lingkungan yang mendukung untuk berhenti menjadi pecandu narkoba.
Pandangan

Islam

tentang

hukum

penggunaan

narkoba

adalah

haramnya

mengkonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan darurat.Ibnu Taimiyah rahimahullah


berkata, Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan
kesepakatan para ulama.Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk

dikonsumsi walau tidak memabukkan (Majmu Al Fatawa, 34: 204). Dalil-dalil yang
mendukung haramnya narkoba (Tausikal, 2012) :
- -
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan
mufattir (yang membuat lemah) (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309.Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini dhoif). Jika khomr itu haram, maka demikian pula
dengan mufattir atau narkoba. (Tausikal Muhammad A. 2012)
Para ulama sepakat haramnya mengkonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan
darurat. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, Narkoba sama halnya dengan zat yang
memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat
menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan (Majmu Al
Fatawa, 34: 204).
Dalil-dalil yang mendukung haramnya narkoba:
Allah Taala berfirman,

Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala
yang buruk (QS. Al Arof: 157). Setiap yang khobits terlarang dengan ayat ini. Di antara
makna khobits adalah yang memberikan efek negatif.
Allah Taala berfirman,

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan (QS. Al Baqarah:
195).

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu (QS. An Nisa: 29).

Dua ayat di atas menunjukkan akan haramnya merusak diri sendiri atau
membinasakan diri sendiri. Yang namanya narkoba sudah pasti merusak badan dan akal
seseorang. Sehingga dari ayat inilah kita dapat menyatakan bahwa narkoba itu haram.
Dari Ummu Salamah, ia berkata,
- -
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan
mufattir (yang membuat lemah) (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini dhoif). Jika khomr itu haram, maka demikian pula
dengan mufattir atau narkoba.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
,
,

Barangsiapa yang sengaja menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati, maka dia di
neraka Jahannam dalam keadaan menjatuhkan diri di (gunung dalam) neraka itu, kekal
selama lamanya. Barangsiapa yang sengaja menenggak racun hingga mati maka racun itu
tetap ditangannya dan dia menenggaknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal
selama lamanya. Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan
ada ditangannya dan dia tusukkan ke perutnya di neraka Jahannam dalam keadaan kekal
selama lamanya (HR Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109).
Hadits ini menunjukkan akan ancaman yang amat keras bagi orang yang
menyebabkan dirinya sendiri binasa. Mengkonsumsi narkoba tentu menjadi sebab yang bisa
mengantarkan pada kebinasaan karena narkoba hampir sama halnya dengan racun. Sehingga
hadits ini pun bisa menjadi dalil haramnya narkoba.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Narkoba merupakan masalah besar yang dapat mengancam masa depan individu
bahkan dapat pula mengancam kesejahteraan bangsa karena efeknya yang addiktif
dan merusak susunan saraf pusat.
2. Habitualis adalah sifat pada narkoba yang membuat pemakainya akan selalu teringat,
terkenang dan terbayang sehingga cenderung untuk mencari dan rindu. sifat ini lah
yang membuat pemakai narkoba yang sudah sembuh dapat kambuh kembali.
3. Adiktif adalah sikap yang membuat pemakainya terpaksa memakai terus dan tidak
dapat menghentikan, penghentian atau pengurangan pemakaian narkoba akan
menimbulkan efek putus zat yaitu perasaan sakit yang luar biasa.
4. Dengan narkoba dan menyesuaikan diri dengan narkoba itu sehingga menuntut dosis
yang lebih tinggi. Bila dosis tidak dinaikkan narkoba itu tidak akan bereaksi, tetapi
malah membuat pemakainya mengalami sakaw.
5. Selalu diawali dengan coba coba (eksperimental user) untuk memenuhi rasa ingin
tahu atas bujukan orang lain
6. Dilanjutkan dengan menjadi pemakai sosial (social user) untuk memenuhi rasa ingin
tahu atas bujukan orang lain
7. Meningkatkan menjadi pemakai situasional (situasional user), menggunakan narkoba
pasa situasi tertentu, misalnya sedang kesal, bermasalah, sedih, kecewa, dll.
8. Pemakaian menjadi semakin sering, yaitu tahap penyalahgunaan (abuse), frekuensi
penggunaan semakin meningkat, tidak perlu ada orang lain atau sedang bermasalah.
9. Puncaknya adalah tahap ketergantungan(dependent), dimana penggunaan narkoba
menjadi suatu kebutuhan, bila tidak dipenuhi timbul keadaan yang sangat
menyakitkan, baik secara fisik, maupun psikis.
10. Hingga akhirnya menyebabkan seseorang yang memakai narkoba sulit untuk bisa
berhenti serta jauh dari narkoba tanpa program rehabilitasi dari pihak yang kompeten
11. Dengan mengetahui tahapan menuju pecandu narkoba diharapkan kita dapat
mencegah dan serta bisa menekan angka pemakaian narkoba secara dini.

UCAPAN TERIMA KASIH


Pada bagian ini penulis berterimakasih kepada Rumah Sakit Ketergantungan Obat
Cibubur, yang telah memberikan kesempatan untuk berkunjung dan mengumpulkan data

informasi dari staf maupun residen untuk kelancaran case report ini. Dan terima kasih kepada
DR. drh. Hj. Titiek Djannatun selaku koordinator penyusun Blok Elektif, dr. Hj. RW.
Susilowati, M.Kes selaku koordinator pelaksana Blok Elektif, dr. Nasrudin Noor, SpKJ
selaku dosen pengampu bidang kepeminatan Ketergantungan Obat/Drug Abuse. Serta kepada
dr.Yurika Sandra M.Biomed ,sebagai pembimbing kelompok 5 yang telah memberikan
bimbingannya, serta teman-teman kelompok 5 drug abuse dan rekan-rekan calon sejawat
Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi yang telah membantu dalam pengerjaan laporan kasus
ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. BNN, 2009. Advokasi pencegahan penyalahgunaan narkoba.
2. Ayub aswad, 2011. tahapan menjadi pecandu narkoba
3. An Nawazil fil Asyribah, Zainal Abidin bin Asy Syaikh bin Azwin Al Idrisi Asy
Syinqithiy, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 205229.
4. Tuasikal Muhammad A. 2012. Narkoba dalam Pandangan Islam. Diunduh
tanggal 15 November 2015 dari http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/narkobadalam-pandangan-islam.html
5. Badan narkotika nasional, pengertian narkoba. Diunduh 15 november 2015 dari
http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/artikel/2014/03/10/929/pengertiannarkoba2011