Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA POST SC ATAS INDIKASI EPILEPSI

I. Konsep Sectio Caesaria


A. Pengertian
Sectio
melahirkan

caesarea

janin

adalah

dengan

pembedahan

membuka

dinding

untuk

perut

dan

dinding uterus. (Sarwono, 2005)


Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan
janin

dengan

membuat

sayatan

pada

dinding

uterus

melalui depan perut atau vagina. Atau disebut juga


histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim.
(Mochtar, 1998)
B. Etiologi
Menurut

Mochtar

(1998)

faktor

dari

ibu

dilakukannya sectio caesarea adalah plasenta previa ,


panggul sempit, partus lama, distosia serviks, pre
eklamsi dan hipertensi. Sedangkan faktor dari janin
adalah letak lintang dan letak bokong.
Menurut Manuaba (2001) indikasi ibu dilakukan
sectio

caesarea

adalah

ruptur

uteri

iminen,

perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan


indikasi dari janin adalah fetal distres dan janin
besar
sectio

melebihi
caesarea

4.000

gram.

diatas

Dari

dapat

beberapa

diuraikan

faktor
beberapa

penyebab/indikasi

dilakukannya

sectio

caesarea

sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

CPD (Chepalo Pelvik Disproportion)


KPD (Ketuban Pecah Dini)
Janin Besar (Makrosomia)
Kelainan Letak Janin
Bayi kembar
Faktor hambatan jalan lahir
PEB (Pre-Eklamsi Berat)

C. Tujuan Sectio Caesarea


Tujuan

melakukan

sectio

caesarea

(SC)

adalah

untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah


terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim.
Sectio

caesarea

dilakukan

pada

plasenta

previa

totalis dan plasenta previa lainnya jika perdarahan


hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada
plasenta
untuk

previa,

kepentingan

sectio
ibu,

caesarea
sehingga

juga
sectio

dilakukan
caesarea

dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah


mati.
D. Jenis - Jenis Operasi Sectio Caesarea (SC)
1.
Abdomen (SC Abdominalis)
a. Sectio Caesarea Transperitonealis
Sectio caesarea klasik atau corporal: dengan
insisi memanjang pada corpus uteri. Sectio
caesarea profunda: dengan insisi pada segmen
bawah uterus.
b. Sectio caesarea ekstraperitonealis

Merupakan

sectio

peritoneum

caesarea

parietalis

dan

tanpa

membuka

dengan

demikian

tidak membuka kavum abdominalis.


2.

Vagina (sectio caesarea vaginalis)


Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria
dapat dilakukan apabila:

3.

a. Sayatan memanjang (longitudinal)


b. Sayatan melintang (tranversal)
c. Sayatan huruf T (T Insisian)
Sectio Caesarea Klasik (korporal)
Dilakukan

dengan

membuat

sayatan

memanjang

pada

korpus uteri kira-kira 10cm.


Kelebihan:
a. Mengeluarkan janin lebih memanjang
b. Tidak menyebabkan komplikasi kandung

kemih

tertarik
c. Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan:
a. Infeksi

mudah

menyebar

secara

intraabdominal

karena tidak ada reperitonial yang baik.


b. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi
rupture uteri spontan.
c. Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih
sering

terjadi

profunda.

Ruptur

dibandingkan
uteri

karena

dengan

luka

SC

luka

bekas

SC

klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan,


sedangkan pada luka bekas SC profunda biasanya
baru terjadi dalam persalinan.
d. Untuk
mengurangi
kemungkinan
dianjurkan

supaya

ibu

yang

ruptura

telah

uteri,

mengalami

SC

jangan

terlalu

-kurangnya

dapat

Rasionalnya
sembuh
4.

lekas

adalah

dengan

hamil

istirahat

lagi.
selama

memberikan

baik.

Untuk

Sekurang
2

tahun.

kesempatan
tujuan

ini

luka
maka

dipasang akor sebelum menutup luka rahim.


Sectio Caesarea (Ismika Profunda)
Dilakukan

dengan

membuat

sayatan

melintang

konkaf

pada segmen bawah rahim kira-kira 10cm


Kelebihan:
a. Penjahitan luka lebih mudah
b. Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik
c. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali
untuk menahan isi uterus ke rongga perineum
d. Perdarahan kurang
e. Dibandingkan
dengan
cara
klasik
kemungkinan
ruptur uteri spontan lebih kecil
Kekurangan:
a. Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan dan bawah
sehingga dapat menyebabkan arteri uteri putus yang
akan menyebabkan perdarahan yang banyak.
b. Keluhan utama pada kandung kemih post

operatif

tinggi.
5.

Komplikasi
a. Infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan
suhu selama beberapa hari dalam masa nifas atau
dapat juga bersifat berat, misalnya peritonitis,
sepsis dan lain-lain. Infeksi post operasi terjadi
apabila

sebelum

pembedahan

sudah

ada

gejala

gejala
faktor

infeksi
yang

kelainan
ketuban

intrapartum
merupakan

itu

(partus

pecah,

atau

ada

faktor

predisposisi
lama

tindakan

terhadap

khususnya

vaginal

setelah

sebelumnya).

Bahaya infeksi dapat diperkecil dengan pemberian


antibiotika, tetapi tidak dapat dihilangkan sama
sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih
berbahaya daripada SC transperitonealis profunda.
b. Perdarahan
Perdarahan

banyak

pembedahan

jika

bisa

cabang

timbul
arteria

pada

waktu

uterina

ikut

terbuka atau karena atonia uteri


c. Luka kandung kemih
d. Embolisme paru - paru
e. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah
kurang kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga
pada

kehamilan

berikutnya

bisa

terjadi

ruptura

uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan


sesudah sectio caesarea klasik.
E. Patofisiologi
Adanya
persalinan
secara

yang

normal

sentralis

beberapa

dan

kelainan/hambatan

menyebabkan
/

spontan,

lateralis,

bayi

tidak

misalnya

panggul

pada
dapat

plasenta

sempit,

proses
lahir
previa

disproporsi

cephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama,


partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan

malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu


adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea
(SC).
Dalam
anestesi

proses

yang

imobilisasi

operasinya

akan

dilakukan

menyebabkan

sehingga

akan

tindakan

pasien

mengalami

menimbulkan

masalah

intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan


kelemahan

fisik

akan

menyebabkan

pasien

tidak

mampu

melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri


sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya

informasi

mengenai

proses

pembedahan,

penyembuhan, dan perawatan post operasi akan menimbulkan


masalah ansietas pada pasien. Selain itu, dalam proses
pembedahan
dinding

juga
abdomen

inkontinuitas

akan

dilakukan

sehingga

jaringan,

tindakan

insisi

menyebabkan

pembuluh

darah,

pada

terputusnya
dan

saraf

saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang


pengeluaran
menimbulkan
pembedahan

histamin
rasa

dan

nyeri

berakhir,

prostaglandin

(nyeri

daerah

akut).

insisi

yang

Setelah

akan

akan
proses

ditutup

dan

menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan


baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi.

F. Pemeriksaan Penunjang

1.

Hemoglobin

atau

hematokrit

(HB/Ht)

untuk

mengkaji

perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi


2.
3.

efek kehilangan darah pada pembedahan.


Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan

4.
5.

darah
Urinalisis / kultur urine
Pemeriksaan elektrolit

G. Penatalaksanaan Medis Post SC (Manuaba, 1999)


1.
Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi,
maka pemberian cairan perintavena harus cukup banyak
dan

mengandung

hipotermi,

elektrolit

dehidrasi,

atau

agar

tidak

komplikasi

terjadi

pada

organ

tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya


DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan
jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb
rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
2.

Diet
Pemberian

cairan

perinfus

biasanya

dihentikan

setelah penderita flatus lalu dimulailah pemberian


minuman

dan

dengan

jumlah

makanan
yang

peroral.

sedikit

Pemberian

sudah

boleh

minuman
dilakukan

pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan


air teh.
3.

Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi:

a. Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10


jam setelah operasi
b. Latihan pernafasan
sambil
sadar
c. Hari

tidur

telentang

kedua

didudukkan

dapat

post
selama

dilakukan

sedini

operasi,
5

menit

penderita

mungkin

setelah

penderita
dan

diminta

bernafas dalam lalu menghembuskannya.


d. Kemudian posisi tidur telentang dapat

pasien

dianjurkan

belajar

untuk
diubah

menjadi posisi setengah duduk (semifowler)


e. Selanjutnya selama berturut-turut, hari
hari,

dapat

duduk

demi
selama

sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan


sendiri
4.

pada

hari

ke-3

sampai

hari

ke5

pasca

operasi.
Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan
tidak

enak

pada

penderita,

menghalangi

involusi

uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter biasanya


terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung
jenis operasi dan keadaan penderita.
5.
Pemberian obat-obatan
1) Antibiotik
Cara

pemilihan

dan

pemberian

antibiotic

sangat

berbeda-beda setiap institusi


2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran
pencernaan
a) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol

c) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6


jam bila perlu
3) Obat-obatan lain
Untuk

meningkatkan

vitalitas

dan

keadaan

umum

penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobian


I vit. C
4) Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi,
bila basah dan berdarah harus dibuka dan diganti
5) Perawatan rutin
Hal-hal

yang

harus

diperhatikan

dalam

pemeriksaan

adalah suhu, tekanan darah, nadi,dan pernafasan.


H. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian data umum
1) Identitas klien dan penanggung
2) Keluhan utama klien saat ini
3) Riwayat
kehamilan,
persalinan,

dan

nifas

yang

mungkin

darah

selama

sebelumnya bagi klien multipara


4) Riwayat penyakit keluarga
5) Keadaan klien meliputi:
6) Sirkulasi
Hipertensi
terjadi.

dan

pendarahan

Kemungkinan

vagina

kehilangan

prosedur pembedahan kira-kira 600-800 mL


7) Integritas ego
Dapat

menunjukkan

prosedur

yang

diantisipasi

sebagai tanda kegagalan dan atau refleksi negatif


pada

kemampuan

sebagai

wanita.

Menunjukkan

labilitas emosional dari kegembiraan, ketakutan,


menarik diri, atau kecemasan.
8) Makanan dan cairan
Abdomen

lunak

dengan

tidak

ada

distensi

(diet

ditentukan).
9) Neurosensori
Kerusakan

gerakan

dan

sensasi

di

bawah

tingkat

anestesi spinal epidural.


10) Nyeri / ketidaknyamanan
Mungkin mengeluh nyeri dari berbagai sumber karena
trauma bedah, distensi kandung kemih , efek - efek
anesthesia, nyeri tekan uterus mungkin ada.
11) Pernapasan
Bunyi paru - paru vesikuler dan terdengar jelas.
12) Keamanan
Balutan

abdomen

dapat

tampak

sedikit

noda

kering dan utuh.


13) Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus.
Aliran lokhea sedang.
b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator
nyeri

(histamin,

prostaglandin)

akibat

trauma

jaringan dalam pembedahan (section caesarea)


2) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma
jaringan / luka kering bekas operasi

3) Ansietas
tentang

berhubungan
prosedur

dengan

kurangnya

pembedahan,

informasi

penyembuhan

dan

perawatan post operasi


4) Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik akibat
tindakan anestesi dan pembedahan
5) Intoleransi aktivitas b/d tindakan anestesi

c. Rencana Asuhan Keperawatan


N

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria

o
1

Keperawatan
Nyeri

Hasil
Setelah

akut

diberikan 1.

berhubungan

asuhan

dengan pelepasan

selama

mediator

diharapkan

nyeri

keperawatan

24

klien

prostaglandin)

terkontrol

akibat

kriteria hasil :

jaringan
pembedahan
(section
caesarea)

jam

berkurang

dalam Klien
nyeri

2.

ketidaknyamanan

melaporkan 3.

meringis
Klien

tampak
4.

nonverbal

(misalnya

ketidakmampuan

(ex:

rileks,

dapat

komprehensif

wajah

untuk

dari
meringis)

berkomunikasi

secara efektif.
Kaji efek pengalaman nyeri terhadap kualitas
hidup

tampak

secara

dan faktor presipitasi.


Observasi
respon

terutama

berkurang

pengkajian

durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

dengan

terkontrol
Wajah tidak

rileks,

Lakukan

tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik,

nyeri

(histamin,

trauma

Intervensi

beraktivitas,

kognisi,

sosial)
Ajarkan
(relaksasi

tidur,

perasaan,

menggunakan
progresif,

dan

teknik
latihan

imajinasi, sentuhan terapeutik.)

istirahat,
hubungan

nonanalgetik
napas

dalam,

berisitirahat,

dan 5.

beraktivitas sesuai

dapat

kemampuan

ketidaknyamanan (ruangan, suhu, cahaya, dan


6.

Risiko

tinggi

Setelah

diberikan 1.

terhadap infeksi

asuhan

berhubungan

selama

dengan

diharapkan

trauma

jaringan / luka

tidak

bekas

infeksi

(SC)

operasi

Kontrol faktor - faktor lingkungan yang yang

keperawatan

24

jam
klien

mengalami 3.
4.
dengan

kriteria hasil :
Tidak
tanda
infeksi
rubor,

terjadi
-

suara)
Kolaborasi

respon

untuk

pasien

terhadap

penggunaan

kontrol

analgetik, jika perlu.


Tinjau ulang kondisi dasar / faktor risiko
yang

2.

mempengaruhi

ada

sebelumnya.

ketuban.
Kaji adanya

tanda

Catat

infeksi

waktu

(kalor,

pecah
rubor,

dolor, tumor, fungsio laesa)


Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik
Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat /

5.

rembesan. Lepaskan balutan sesuai indikasi


Anjurkan klien dan keluarga untuk mencuci

6.

tangan sebelum / sesudah menyentuh luka


Pantau
peningkatan
suhu,
nadi,

tanda
(kalor,
dolor, 7.

pemeriksaan

laboratorium

jumlah

WBC

dan
/

sel

darah putih
Kolaborasi untuk pemeriksaan Hb dan Ht. Catat

tumor,

fungsio

laesea)
Suhu
dan

perkiraan

nadi 8.
9.
dalam batas normal
(

suhu

kehilangan

darah

selama

prosedur

pembedahan
Anjurkan intake nutrisi yang cukup
Kolaborasi
penggunaan
antibiotik

sesuai

indikasi

36,5

-37,50

C,

frekuensi

nadi

60 - 100x/ menit)
WBC
dalam
batas
normal
3

(4,10-10,9

Ansietas

10^3 / uL)
Setelah
diberikan

berhubungan

asuhan

keperawatan

dengan kurangnya

selama

jam

informasi

diharapkan

tentang prosedur

klien

pembedahan,

dengan kriteria hasil

ansietas
berkurang

1. Kaji respon psikologis terhadap kejadian dan


ketersediaan sistem pendukung
2. Tetap bersama klien, bersikap

tenang

dan

menunjukkan rasa empati


3. Observasi respon nonverbal klien (misalnya:
gelisah)

berkaitan

dengan

ansietas

yang

dirasakan
4. Dukung dan arahkan kembali mekanisme koping

penyembuhan, dan
perawatan
operasi

post

5. Berikan

Klien
lebih

terlihat
tenang

dan

tidak gelisah
Klien
mengungkapkan
bahwa

ansietasnya

berkurang

prosedur

informasi

yang

pembedahan,

perawatan post operasi


6. Diskusikan pengalaman
anak pada masa lalu
7. Evaluasi perubahan
klien secara verbal

benar

mengenai

penyembuhan,
/

harapan

ansietas

yang

dan

kelahiran
dialami

A. Konsep Penyakit
1. Pengertian
Epilepsi ialah gangguan kronik otak dengan ciri
timbulnya

gejala-gejala

yang

datang

dalam

serangan-

serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan


listrik

abnormal

reversibel

sel-sel

dengan

saraf

berbagai

otak

etiologi.

yang

bersifat

Serangan

ialah

suatu gejala yang timbulnya tiba-tiba dan menghilang


secara tiba-tiba (Mansjoer, 2000).
Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat
(SSP)

yang

dicirikan

oleh

terjadinya

bangkitan

(seizure, fit, attact, spell) yang bersifat spontan


dan berkala (Harsono, 2007).
2. Etiologi
a. Idiopatik: sebagian besar epilepsi pada anak adalah
epilepsi pada anak adalah epilepsi idiopatik.
b. Faktor
herediter:
ada
beberapa
penyakit

yang

bersifat herediter yang disertai bangkitan kejang


seperti

sklerosis

angiomatosis

tuberosa,

neurofibriomatosis,

ensepalo-trigeminal,

fenilketonuria,

hipoparatiroidisme, hipoglikemia.
c. Faktor genetik: pada kejang demam
holding spells
d. Kelainan kongenital

otak:

atropi,

agenesis korfus kalosum.


e. Gangguan
metabolik:
Hipoglikemia,

dan

breath

forensepali,
hipokalsimia,

hiponatremia, hipernatremia.
f. Infeksi: radang yang disebabkan bakteri atau virus
pada otak dan selaputnya, toksoplasmosis.
g. Trauma: Kontusio serebri, hematoma subaraknoid,
hematoma subdural.
h. Neoplasma otak dan selaputnya.
i. Kelainan pembuluh darah, mal
kolagen.
j. Keracunan:

timbal

fenotiazin, air.

(Pb),

formasi,

kamper

(kapur

penyakit
barus),

k. Lain-lain:

penyakit

darah,

gangguan

keseimbangan

hormon degenerasi serebral.


3. Patofisiologi
Secara umum, epilepsi terjadi karena menurunnya
potensial membran sel saraf akibat proses patologik
dalam otak, gaya mekanik atau toksik, yang selanjutnya
melepas

muatan

(Mansjoer,
peranan

listrik

2000).

dari

Beberapa

asetilkolin

sel

saraf

penyelidikan

sebagai

zat

tersebut

menunjukkan

yang

merendahkan

potensial membran postsinaptik dalam hal terlepasnya


muatan

listrik

yang

terjadi

sewaktu-waktu

saja,

sehingga manifestasi klinisnya muncul sewaktu-waktu.


Bila asetilkolin sudah cukup tertimbun di permukaan
otak,

maka

pelepasan

muatan

listrik

kortikal dipermudah.
Setilkolin
diproduksi

oleh

sel-sel
sel-sel

saraf
saraf

kolinergik dan merembes keluar dari permukaan otak.


Pada

kesadaran

asetilkolin

waspada

lebih

permukaan

(terjaga)

banyak

otak

merembes

daripada

lebih
ke

banyak

luar

selama

dari
tidur.

Pada epilepsi idiopatik, tipe grandmal, secara primer


muatan

listrik

dilepas

oleh

nuklei

intralaminares

talami, yang dikenal juga sebagai inti centercephalic.


Inti

ini

aspesifik

merupakan
atau

terminal

lintasan

dari

lintasan

asendens

asendens

ekstralemsnikal.

Input dari korteks serebri melalui lintasan aspesifik


itu menentukan derajat kesadaran. Bilamana sama sekali
tidak ada input maka timbullah koma. Pada grandmal,
oleh

karena

terjadilah

sebab
lepas

intralaminar
talamokortikal

yang
muatan

talamik
yang

belum
listrik

secara

dapat
dari

berlebih.

berlebihan

dipastikan,

ini

inti-inti

Perangsangan
menghasilkan

kejang seluruh tubuh dan sekaligus menghalangi sel-sel


saraf yang memelihara kesadaran yang menerima impuls
aferen dari dunia luar sehingga kesadaran menghilang.
4. Manifestasi Klinis

Menurut
Terminology

Commission
of

the

of

Classification

International

League

and

Against

Epilepsy (ILAE) tahun 1981, epilepsy diklasifikasikan


sebagai berikut :
a. Epilepsi parsial (fokal, lokal)
1) Sawan parsial sederhana kesadaran tetap normal
a) Dengan gejala motorik

Fokal motorik tidak menjalar

Fokal

motorik

menjalar

(dikenal

dengan

memutar

tubuh,

Epilepsi Jackson)

Versiz

disertai

gerakan

mata, kepala

Postural disertai lengan atau tungkai kaku


dalam sikap tertentu

Fonasi disertai dengan arus bicara terhenti


atau menimbulkan bunyi- bunyian tertentu

b) Dengan

gejala

somatosensoris

atau

sensoris

spesial (melibatkan pancaindera)

Somatosensoris

timbul

rasa

kesemutan

atau

seperti ditusk jarum

Visual terlihat kilatan cahaya

Auditorius terdengar sesuatu

Olfaktoris terhidu sesuatu

Disertai vertigo

c) Dengan

gejala

atau

tanda

gangguan

syaraf

otonom pucat, berkeringat, dilatasi pupil.


d) Dengan gejala psikis (gangguan fungsi luhur)
sensasi epigastrium,

Disfasia

mengulang

suku

kata,

kata

atau

bagian kalimat

Dimnesia
pernah

gangguan

mengalami,

fungsi

ingatan

merasakan,

sebaliknya tidak pernah.

seperti

melihat

atau

Kognitif gangguan orientasi waktu

Afektif merasa sangat senang, susah, marah,


takut

Ilusi perubahan persepsi benda yang dilihat

Halusinasi
mendengar

kompleks
ada

(berstruktur)

yangbicara,

musik,

melihat

suatu fenomena tertentu


2) Epilepsi parsial kompleks (disertai gangguan
kesadaran)
a) Serangan parsial sederhana diikuti gangguan
kesadaran

Dengan gejala parsial sederhana disertai


dengan menurunnya kesadaran

Dengan

automatisme

gerakan-gerakan

tidak terkendali dan tidak disadari


b) Dengan penurunan kesadaran sejak permulaan
serangan

Hanya dengan penurunan kesadaran

Dengan automatisme

3) Epilepsy

parsial

yang

berkembang

menjadi

bangkitan umum (tonik-klonik, tonik, klonik)


a) Sawan

parsial

sederhana

yang

berkembangan

menjadi bangkitan umum


b) Sawan

parsial

kompleks

yang

berkembang

menjadi bangkitan umum


c) Sawan

parsial

sederhana

yang

menjadi

bangkitan parsial kompleks lalu berkembang


menjadi bangkitan umum
b. Epilepsi umum (konvulsif dan non-konvulsif)
1) Epilepsi lena (absence) : kegiatan yang sedang
dikerjakan terhenti, muka tampak membengong, bola
mata dapat memutar ke atas, tidak ada reaksi bila

diajak bicara, biasanya berlangsung - menit


dan sering dijumpai pada anak. Cirikhasnya :
a) Hanya penurunan kesadaran
b) Dengan komponen klonik ringan
c) Dengan komponen atonik
d) Dengan komponen tonik
e) Dengan automatisme
f) Dengan komponen autonom : kombinasi
2) Epilepsi lena tak khas (atypical absence) : dapat
disertai dengan gangguan tonus yang lebih jelas ;
permulaan

dan

berakhirnya

bangkitan

tidak

mendadak.
3) Epilepsi mioklonik : terjadi kontraksi mendadak,
sebentar,

dapat

kuat

atau

lemah

sebagian

otot

atau semua otot-otot, sekali atau berulang-ulang.


4) Epilepsi klonik : tidak ada komponen tonik, hanya
terjadi kejang kelonjot.
5) Epilepsi tonik : tidak ada komponen klonik, otototot hanya menjadi kaku.
6) Epilepsy tonik-klonik (Grandmal epilepsy)
Serangan dapat diawali dengan aura, klien
mendadak jatuh pingsan, otot-otot seluruh badan
kaku. Kejang kaku berlangsung selama kira-kira
-

menit

diikuti

kejang

kelonjot

diseluruh

badan. Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri.


Tarikan

nafas

menjadi

dalam

beberapa

saat

lamanya. Bila pembentukan ludah meningkat saat


kejang,
nafas
kejang

mulut

kuat.

menjadi

Mungkin

selesai,

berbusa

pula

klien

klien
dapat

karena

hembusan

miksi.

Setelah

bangun

dengan

kesadaran yang masih rendah atau langsung menjadi


sadar dengan keluhan badan pegal-pegal, lelah dan
nyeri kepala

7) Epilepsi

atonik

otot-otot

seluruh

badan

mendadak lemas sehingga klien terjatuh. Kesadaran


dapat tetap baik dan dapat juga menurun sebentar.
8) Status

epileptikum

berlangsung

aktifitas

terus-menerus

lebih

kejang
dari

30

yang
menit

tanpa pulihnya kesadaran.


c. Epilepsi tak tergolongkan
Ialah bangkitan pada bayi berupa gerakan bola
mata

yang

ritmik,

mengunyah-ngunyah,

gerakan

seperti berwenang, menggigil atau pernafasan yang


mendadak berhenti sejenak.
5. Pemeriksaan Penunjang
Elektroensefhalografi (EEG) merupakan pemeriksaan
penunjang

yang

diagnosis

epilepsi

bersifat
maupun

informatif
bila

khas

epileptik

diluar

serangan

gelombang

paku,

yang

dapat

ditemukan
baik

terekam

berupa

runcing

memastikan

pola

EEG

yang

saat

serangan

gelombang,

runcing,

lambat,

paku

lambat.

Pemeriksaan tambahan lain yang juga bermanfaat adalah


pemeriksaan

poto

mendeteksinya
scan,

yang

hematom,

polos

adanya

berguna

tumor,

kepala,

fraktur
untuk

yang

tulang

mendeteksi

hidrosefalus,

berguna

untuk

tengkorak:
adanya

sedangkan

CT

infark,

pemeriksaan

laboratorium dilakukan atas indikasi untuk memastikan


adanya

kelainan

sistemik

seperti

hipoglikemia,

hiponatremia, uremia, dan lain-lain.


6. Penatalaksanaa
Tujuan Pengobatan adalah mencegah timbulnya sawan
tanpa mengganggu kapasitas fisik dan intelek pasien.
Pengobatan epilepsi meliputi pengobatan medikamentosa
dan pengobatan psikososial.
a. Pengobatan Medika Mentosa
Pada epilepsi yang simtomatis dimana sawan
yang timbul adalah manifestasi penyebabnya seperti;
tumor otak, radang otak, gangguan metabolik, maka

di samping pemberian obat anti epilepsi diperlukan


pula terapi kasual.
b. Pengobatan Psikososial
Pasien
diberikan
pengobatan
terbebas

yang
dari

penerangan

optimal

sawan.

bahwa

sebagian

Pasien

harus

dengan

besar

akan

patuh

dalam

menjalani pengobatannya, sehingga dapat bebas dari


sawan dan dapat belajar, bekerja, dan bermasyarakat
secara normal.
7. Prognosis
Pasien epilepsi yang berobat teratur, 1/3 akan
bebas serangan paling sedikit 2 tahun, dan apabila
lebih

dari

dihentikan,
dikatakan

tahun
pasien

telah

sesudah
tidak

mengalami

serangan

terakhir

obat

mengalami

sawan

lagi,

remisi.

Diperkirakan

30%

pasien tidak akan mengalami remisi meskipun minum obat


secara teratur. Sesudah remisi, kemungkinan munculnya
serangan ulang paling sering didapat pada sawan tonik
klonik dan sawan parsial kompleks. Demikian pula usia
muda lebih mudah mengalami relaps sesudah remisi.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Data Subyektif, antara lain :
1) Keluhan Utama
Untuk keluhan utama, pasien atau keluarga
biasanya

ketempat

pelayanan

kesehatan

karena

klien yang mengalami penurunan kesadaran secara


tiba-tiba disertai mulut berbuih. Kadang-kadang
klien

keluarga

mengeluh

anaknya

prestasinya

tidak baik dan sering tidak mencatat. Klien atau


keluarga

mengeluh

anaknya

atau

anggota

keluarganya sering berhenti mendadak bila diajak


bicara.
2) Riwayat kesehatan.
Klien yang berhubungan dengan faktor resiko
bio-psiko-spiritual. Kapan klien mulai serangan,
pada usia berapa. Frekuensi serangan, ada faktor

presipitasi seperti suhu tinggi, kurang tidur,


dan

emosi

yang

labil.

Apakah

pernah

menderita

sakit berat yang disertai hilangnya kesadaran,


kejang, cedera otak operasi otak, Apakah klien
terbiasa menggunakan obat-obat penenang atau obat
terlarang,

atau

mengkonsumsi

alkohol.

Klien

mengalami gangguan interaksi dengan orang lain /


keluarga karena malu,merasa rendah diri, ketidak
berdayaan,

tidak

mempunyai

harapan

dan

selalu

waspada/berhati-hati dalam hubungan dengan orang


lain.
3) Riwayat kesehatan keluarga.
Dimaksudkan
untuk
mendapatkan

informasi

kemungkinan masalah yang sama pada keluarga.


4) Klien
dapat
mengeluhkan
kelemahan/lelah

dan

kurang mampu melakukan aktivitas sehari-hari.


b. Data Objektif, antara lain:
Dari
pemeriksaan
fisik
didapat
penurunan
kekuatan otot. Data pada saat serangan dijumpai:
1) Perubahan
pada
tanda-tanda
vital
berupa
peningkatan tekanan darah, denyut nadi meningkat
dan sianosis.
2) Inkontinensia urin dan fekal.
3) Perlukaan pada gusi dan lidah.
4) Ada riwayat nyeri, kehilangan kesadaran/pingsan,
kehilangan

kesadaran

sesaat

klien menangis, jatuh kelantai, disertai komponen


motorik seperti kejang tonik klonik.
5) Mioklonik.
tonik, klonik, atonik. Klien menggigit

lidah.

mulut berbuih, ada inkontinensia urin dan fekal,


bibir dan muka cianosis, mata dan kepala bergerak
memutar-mutar pada satu posisi atau keduanya.
c. Data setelah Serangan:
1) Setelah serangan tanda-tanda vital mungkin
berubah.
2) Klien mengalami lethargi, bingung, otot sakit,
gangguan bicara, nyeri kepala.

3) Perubahan

dalam

gerakan

misalnya

hemiplegi/hemiparese sementara.
4) Klien
lupa
atau
sedikit
ingat

terhadap

kejadian yang menimpa dirinya.


5) Terjadi perubahan kesadaran/tidak, pernafasan,
denyut jantung.
6) Ada perlukaan/cedera.
7) Gusi mengalami hiperplasi karena efek samping
penggunaan Dilantin.
Deskripsi
spesifik

dari

kejang

harus

mencakup beberapa data penting meliputi:


1) Awitan yakni serangan itu mendadak

atau

didahului oleh prodormal dan fase aura.


2) Durasi kejang berapa lama dan berapa

kali

frekuensinya.
3) Aktivitas motorik mencakup apakah ekstrimitas
yang

terkena

sesisi

atau

bilateral,

dimana

mulainya dan bagaimana kemajuannya.


4) Status
kesadaran
dan
nilai
kesadarannya.
Apakah

klien

dapat

dibangunkan

setelah serangan ?
5) Distrakbilitas, apakah
respon

terhadap

klien

lingkungan.

selama

dapat
Hal

atau

memberi

ini

sangat

penting untuk membedakan apakah yang terjadi


pada klien benar epilepsi atau hanya reaksi
konversi.
6) Keadaan gigi. Apakah pada saat serangan gigi
klien tertutup rapat atau terbuka.
7) Aktivitas tubuh seperti inkontinensia, muntah,
salivasi dan perdarahan dari mulut.
8) Masalah
yang
dialami
setelah
paralisis,

kelemahan,

baal

atau

serangan
semutan,

disfagia, disfasia cedera komplikasi, periode


post iktal atau lupa terhadap semua pristiwa
yang baru saja terjadi.
9) Faktor pencetus seperti stress emosional dan
fisik.
2. Diagnosa keperawatan
a. Risiko cedera berhubungan dengan tipe kejang.

b. Kebersihan

jalan

nafas

tidak

efektif

berhubungan

dengan obstruksi trakheobronkhial.


c. Kerusakan memori berhubungan dengan hipoksia.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan aktivitas
kejang.
e. Harga diri

rendah

berhubungan

dengan

perubahan

perkembangan.
f. Risiko isolasi berhubungan dengan perubahan status
kesehatan.
g. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak
yang menderita penyakit kronis.
h. Cemas berhubungan dengan ancaman kematian.
i. Kurang pengetahuan orang tua berhubungan
keterbatasan paparan.
j. Manajemen
regimen

terapeutik

tidak

dengan
efektif

berhubungan dengan konflik pengambilan keputusan.


3. Intervensi
a. Diagnosa 1 : Risiko cedera berhubungan dengan tipe
kejang.
1) NOC : Pengendalian Resiko.
2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
pencegahan

jatuh

selama

3x24

jam

diharapkan

pasien tidak mengalami cedera dan tetap tenang


dengan seringnya pengendalian resiko skala 3.
3) Kriteria hasil :
a) Pantau faktor resiko perilaku dan lingkungan.
b) Mempersiapkan lingkungan yang aman (misalnya,
penggunaan tikar karet).
c) Menghindari cedera fisik.
d) Mengidentifikasi
risiko

yang

meningkatkan

kerentanan terhadap cedera.


e) Orang tua akan mengenali resiko dan memantau
kekerasan.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Mencegah Jatuh
a) Identifikasi
faktor

yang

mempengaruhi

kebutuhan keamanan, misalnya perubahan status

mental, usia, pengobatan dan defisit motorik /


sensorik.
b) Identifikasi

faktor

lingkungan

yang

memungkinkan risiko jatuh.


c) Singkirkan benda-benda yang dapat menimbulkan
bahaya.
d) Arahkan anak ke area aman, khususnya jauh dari
jendela,

tangga,

alat

pemainan,

atau

sumber

air.
e) Jangan membuat anak teragitasi; bicara dengan
suara lembut dan sikap tenang.
f) Lindungi anak setelah kejang.
b. Diagnosa 2 : Kebersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan obstruksi trakheobronkhial
1) NOC : Kontrol Aspirasi
2) Tujuan
:
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan

Mencegah

Jatuh

selama

3x24

jam

diharapkan jalan nafas pasien kembali efektif


dengan seringnya memonitor aspirasi skala 2.
3) Kriteria hasil :
a) Mengidentifikasi faktor risiko.
b) Menghindari faktor risiko.
c) Menyediakan
makanan
sesuai
kemampuan
menelan pasien.
d) Mengupayakan konsitusi cairan dan makanan.
Skala :
1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
4) NIC : Mencegah Jatuh
a) Pengelolaan jalan nafas.
b) Ajarkan batuk secara efektif.
c) Posisikan 90 derajat sesuai kemampuan.
d) Berikan oksigen sesuai kebutuhan.
e) Lakukan pengisapan sesuai dengan kebutuhan
untuk membersihkan sekresi.
c. Diagnosa 3 : Kerusakan memori berhubungan dengan
hipoksia
1) NOC : Orientasi Kognitif
2) Tujuan
:
Setelah
dilakukan

tindakan

keperawatan Pelatihan Memori selama 3x24 jam

diharapkan pasien tidak menunjukkan kerusakan


memori dengan status orientasi kognitif skala
4.
3) Kriteria hasil :
a) Mengidentifikasikan

orang

terdekat,

tempat

sekarang, dan musim, tahun, hari yang benar.


b) Menggunakan teknik untuk membantu memperbaiki
memori.
c) Secara

akurat

mengingat

secara

tepat,

informasi saat ini dan lama.


d) Mengungkapkan kemampuan yang lebih baik untuk
mengingat.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Pelatihan Memori
a) Kaji depresi, ansietas, dan peningkatan stres
yang

mungkin

memberikan

kehilangan memori.
b) Kaji
fungsi
neurologis

kontribusi
untuk

pada

menentukan

masalah pasien, apakah kehilangan memori atau


demensia.
c) Beri label pada barang-barang.
d) Bantu pasien untuk rileks untuk meningkatkan
konsentrasi.
e) Berikan kesempatan
seperti
sesuai.
f) Berikan

suatu

pasien

permainan

gambar

untuk

pasangan

pengingat

diperlukan.
d. Diagnosa 4 : Gangguan

citra

konsentrasi
kartu

memori;
tubuh

yang
bila

berhubungan

dengan aktivitas kejang


1) NOC : Citra Tubuh
2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
Pencapaian Citra Tubuh selama 3x24 jam diharapkan
persepsi pasien terhadap dirinya positif dengan
status citra tubuh skala 3
3) Kriteria hasil :
a. Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.

b. Kesesuaian antara realitas tubuh, ideal tubuh


dan wujud tubuh.
c. Mengidentifikasi kekuatan personal.
d. Memelihara hubungan sosial yang dekat
hubungan personal.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Pencapaian Citra Tubuh
a) Tentukan
bagaimana
respon

anak

dan

terhadap

tubuhnya sesuai dengan tahap perkembangan.


b) Identifikasi
budaya,
agama,
ras,
jenis
kelamin,

dan

usia

dari

orang

penting

bagi

pasien yang menyangkut citra tubuh.


c) Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk
mengungkapkan perasaan dan untuk berduka.
d) Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk
mengungkapkan

perhatian

tentang

hubungan

personal yang dekat.


e. Diagnosa 5 : Harga Diri Rendah berhubungan dengan
perubahan perkembangan.
1) NOC : Perkembangan Anak

:2,3,4,5

tahun:

Masa

Kanak-kanak Pertengahan (%-11 tahun), dan Remaja


(12-17 tahun).
2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
Peningkatan Harga Diri selama 3x24 jam diharapkan
harga

diri

meningkatkan

pasien
harga

positif
dirinya)

(pasien
dengan

perkembangan menunjukkan skala 3.


3) Kriteria hasil :
a) 2 th : Mengindikasikan keinginan

dapat
status

secara

verbal, berinteraksi dengan orang dewasa dalam


permainan sederhana.
b) 3 th : mampu mengatakan

nama

pertamanya;

memainkan interaksi dengan anak seusianya.


c) 4
th
:
Mampu
menjelaskan
aturan-aturan
permainan interaktid bersama teman seusianya.
d) Mempertahankan hubungan pribadi yang dekat.
Skala :

1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
4) NIC : Peningkatan Harga Diri
a) Pantau pernyataan pasien tentang penghargaan
diri.
b) Bantu

pasien

meningkatkan

penilaian

dirinya

terhadap penghargaan diri.


c) Hindari tindakan yang dapat melemahkan pasien.
d) Beri
penghargaan
/
pujian
terhadap
perkembangan pasien dalam pencapaian tujuan.
e) Ajarkan orang tua akan pentingnya ketertarikan
dan dukungannya terhadap perkembangan konsep
diri yang positif pada anak.
f. Diagnosa 6
: Resiko isolasi sosial
dengan gangguan psikologis.
1) NOC : Keterlibatan Sosial
2) Tujuan : Setelah dilakukan
Peningkatan

Sosialisasi

diharapkan

pasien

lingkungan

dan

dengan

status

dapat

dapat

selama

keperawatan
3x24

berinteraksi

diterima

keterlibatan

skala 3.
3) Kriteria Hasil :
a) Melaporkan adanya

tindakan

berhubungan

di

sosial

interaksi

jam
dengan

lingkungan
menunjukkan

dengan

teman,

tetangga, aggota keluarga.


b) Berpartisipasi dalam aktivitas pengalihan
c) Mulai berhubungan dengan orang lain.
d) Mengembangkan hubungan satu sama lain.
e) Melaporkan adanya peningkatan dukungan sosial.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Peningkatan Sosialisasi
a) Identifikasi dengan pasien faktor-faktor yang
berpengaruh pada perasaan isolasi sosial.
b) Kurang
stigma
isolasi
dengan
menghormati
martabat pasien.

c) Dukung

hubungan

dengan

orang

lain

yang

mempunyai ketertarikan dan tujuan sama


d) Dukung usaha-usaha yang dilakukan pasien,
keluarga dan teman-teman untuk berinteraksi.
e) Berikan uji pembatasan interpersonal.
f) Dukung
pasien
untuk
mengubah
lingkungan,
seperti jalan-jalan dan menonton film
g. Diagnosa 7
dengan

: Perubahan proses keluarga berhubungan

mempunyai

anak

yang

menderita

penyakit

kronik.
1) NOC : Parenting
2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
Peningkatan Integritas Keluarga selama 3x24 jam
diharapkan

keluarga

berfungsi

secara

efektif

dengan seringnya melakukan peran sebagai orang


tua yang ditunjukkan dengan skala 4.
3) Kriteria hasil :
a) Memberikan kebutuhan psikologi untuk anak.
b) Memberikan
perlindungan
dan
perawatan
kesehatan secara teratyr dan aseptik.
c) Stimulasi perkembangan kognitif.
d) Stimulasi perkembangan emosi.
e) Stimulasi perkembangan spiritual.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang-kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Peningkatan Integritas keluarga
a) Kaji interaksi antara pasien dan keluarga.
b) Tentukan jenis hubungan keluarga.
c) Tentukan gangguan dalam jenis proses keluarga.
d) Ajari
keterampilan
merawat
pasien
yang
diperlukan oleh keluarga.
e) Ajari keluarga perlunya

kerja

sama

dengan

sistem sekolah untuk menjamin akses kesempatan


pendidikan yang sesuai untuk penyakit kronik.
f) Bantu keluarga berfokus pada anaknya dibanding
dengan penyakitnya.
h. Diagnosa 8 : Cemas berhubungan

dengan

kematian / perubahan status kesehatan.


1) NOC : Kontrol Cemas

ancaman

2) Tujuan

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan pengurangan ansietas selama 3x24


jam diharapkan kecemasan hilang atau berkurang
dengan seringnya mengontrol cemas dengan skala
3) Kriteria hasil :
a) Merencanakan strategi koping untuk situasi
yang membuat stres.
b) Melaporkan tidak ada

gangguan

persepsi

sensori.
c) Manifestasi perilaku kecemasan tidak ada.
d) Menunjukkan kemampuan untuk berfokus pada
pengetahuan dan keterampilan yang baru.
e) Tidak menunjukkan perilaku agresif
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Pengurangan Ansietas
a) Sediakan
informasi
yang
sesungguhnya
meliputi diagnosis, treatmen dan prognosis.
b) Gunakan
pendekatan
yang
tenang
dan
meyakinkan.
c) Berikan dorongan

kepada

orang

tua

untu

menemani anak, sesuai dengan kebutuhan.


d) Sediakan
pengalihan
melalui
televise,
radio,

permainan,

untuk

mengurangi

ansietas.
i. Diagnosa 9

: Kurang pengetahuan berhubungan

dengan keterbatasan paparan


1) Tujuan
:
Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan Menjelaskan Proses Penyakit selama


3x24 jam diharapkan defisit pengetahuan dapat
teratasi

dengan

status

pengetahuan

mengenai

proses penyakit menunjukkan skala 4.


2) NOC : Knowledge: Proses Penyakit
a) Menguraikan proses penyakit
b) Menguraikan faktor risiko
c) Menguraikan komplikasi
d) Menguraikan tanda dan gejala penyakit.

e) Menguraikan faktor penyebab untuk mencegah


komplikasi.
Skala:
1 : Tidak mengetahui
2 : Terbatas pengetahuannya
3 : Sedikit mengetahui
4 : Banyak pengetahuannya
5
:
Intensif
atau
mengetahuinya

secara

kompleks
3) NIC : Menjelaskan proses penyakit
a) Identifikasi etiologi yang memungkinkan.
b) Uraikan proses penyakit.
c) Uraikan tanda dan gejala penyakit.
d) Diskusikan terapi atau pilihan pengobatan.
e) Jelaskan patofisiologi penyakit.
f) Jelaskan komplikasi kronis yang mungkin
terjadi.
j. Diagnosa 10 : Resiko isolasi sosial
dengan gangguan psikologis.
1) NOC : Keterlibatan Sosial
2) Tujuan
:
Setelah

berhubungan

dilakukan

tindakan

keperawatan Peningkatan Sosialisasi selama 3x24


jam diharapkan pasien dapat berinteraksi dengan
lingkungan
dengan

dan

status

dapat

diterima

keterlibatan

skala 3.
3) Kriteria Hasil :
a) Melaporkan adanya

di

sosial

interaksi

lingkungan
menunjukkan

dengan

teman,

tetangga, anggota keluarga.


b) Berpartisipasi dalam aktivitas pengalihan
c) Mulai berhubungan dengan orang lain.
d) Mengembangkan hubungan satu sama lain.
e) Melaporkan adanya peningkatan dukungan sosial.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Peningkatan Sosialisasi
a) Identifikasi dengan pasien faktor-faktor yang
berpengaruh pada perasaan isolasi sosial.
b) Kurang
stigma
isolasi
dengan
menghormati
martabat pasien.

c) Dukung

hubungan

dengan

orang

lain

yang

mempunyai ketertarikan dan tujuan sama.


d) Dukung usaha-usaha yang dilakukan pasien,
keluarga dan teman-teman untuk berinteraksi.
e) Berikan uji pembatasan interpersonal.
f) Dukung
pasien
untuk
mengubah
lingkungan,
seperti jalan-jalan dan menonton film

DAFTAR PUSTAKA
Manjoer,

Arif.

2000.

Kapita

Selekta

Kedokteran.

Edisi

Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.


Harsono

(ED).

2007.

Kapita

Selekta

Neurologi

Second

Ed.

Yogyakarta: Gajah Mada University Press.


BAB II
TINJAUAN TEORI

C. Konsep Penyakit
8. Pengertian
Epilepsi ialah gangguan kronik otak dengan ciri
timbulnya

gejala-gejala

yang

datang

dalam

serangan-

serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan


listrik

abnormal

reversibel

sel-sel

dengan

saraf

berbagai

otak

etiologi.

yang

bersifat

Serangan

ialah

suatu gejala yang timbulnya tiba-tiba dan menghilang


secara tiba-tiba (Mansjoer, 2000).
Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat
(SSP)

yang

dicirikan

oleh

terjadinya

bangkitan

(seizure, fit, attact, spell) yang bersifat spontan


dan berkala (Harsono, 2007).
9. Etiologi
l. Idiopatik: sebagian besar epilepsi pada anak adalah
epilepsi pada anak adalah epilepsi idiopatik.
m. Faktor
herediter:
ada
beberapa
penyakit

yang

bersifat herediter yang disertai bangkitan kejang


seperti

sklerosis

angiomatosis

tuberosa,

neurofibriomatosis,

ensepalo-trigeminal,

fenilketonuria,

hipoparatiroidisme, hipoglikemia.
n. Faktor genetik: pada kejang demam
holding spells
o. Kelainan kongenital

otak:

atropi,

agenesis korfus kalosum.


p. Gangguan
metabolik:
Hipoglikemia,
hiponatremia, hipernatremia.

dan

breath

forensepali,
hipokalsimia,

q. Infeksi: radang yang disebabkan bakteri atau virus


pada otak dan selaputnya, toksoplasmosis.
r. Trauma: Kontusio serebri, hematoma subaraknoid,
hematoma subdural.
s. Neoplasma otak dan selaputnya.
t. Kelainan pembuluh darah, mal
kolagen.
u. Keracunan:

timbal

(Pb),

fenotiazin, air.
v. Lain-lain: penyakit
10.

formasi,

kamper

darah,

penyakit

(kapur

gangguan

barus),

keseimbangan

hormon degenerasi serebral.


Patofisiologi
Secara umum, epilepsi terjadi karena menurunnya

potensial membran sel saraf akibat proses patologik


dalam otak, gaya mekanik atau toksik, yang selanjutnya
melepas

muatan

(Mansjoer,
peranan

listrik

2000).

dari

Beberapa

asetilkolin

sel

saraf

penyelidikan

sebagai

zat

yang

tersebut

menunjukkan
merendahkan

potensial membran postsinaptik dalam hal terlepasnya


muatan

listrik

yang

terjadi

sewaktu-waktu

saja,

sehingga manifestasi klinisnya muncul sewaktu-waktu.


Bila asetilkolin sudah cukup tertimbun di permukaan
otak,

maka

pelepasan

muatan

listrik

kortikal dipermudah.
Setilkolin
diproduksi

oleh

sel-sel
sel-sel

saraf
saraf

kolinergik dan merembes keluar dari permukaan otak.


Pada

kesadaran

asetilkolin
permukaan

waspada

lebih
otak

(terjaga)

banyak

merembes

daripada

lebih
ke

banyak

luar

selama

dari
tidur.

Pada epilepsi idiopatik, tipe grandmal, secara primer


muatan

listrik

dilepas

oleh

nuklei

intralaminares

talami, yang dikenal juga sebagai inti centercephalic.


Inti

ini

aspesifik

merupakan
atau

terminal

lintasan

dari

asendens

lintasan

asendens

ekstralemsnikal.

Input dari korteks serebri melalui lintasan aspesifik


itu menentukan derajat kesadaran. Bilamana sama sekali
tidak ada input maka timbullah koma. Pada grandmal,

oleh

karena

terjadilah

sebab
lepas

intralaminar

yang
muatan

talamik

talamokortikal

belum
listrik

secara

yang

dapat
dari

berlebih.

berlebihan

dipastikan,
inti-inti

Perangsangan

ini

menghasilkan

kejang seluruh tubuh dan sekaligus menghalangi sel-sel


saraf yang memelihara kesadaran yang menerima impuls
aferen dari dunia luar sehingga kesadaran menghilang.
11.
Manifestasi Klinis
Menurut
Terminology

Commission
of

the

of

Classification

International

League

and

Against

Epilepsy (ILAE) tahun 1981, epilepsy diklasifikasikan


sebagai berikut :
d. Epilepsi parsial (fokal, lokal)
4) Sawan parsial sederhana kesadaran tetap normal
e) Dengan gejala motorik

Fokal motorik tidak menjalar

Fokal

motorik

menjalar

(dikenal

dengan

memutar

tubuh,

Epilepsi Jackson)

Versiz

disertai

gerakan

mata, kepala

Postural disertai lengan atau tungkai kaku


dalam sikap tertentu

Fonasi disertai dengan arus bicara terhenti


atau menimbulkan bunyi- bunyian tertentu

f) Dengan

gejala

somatosensoris

atau

sensoris

spesial (melibatkan pancaindera)

Somatosensoris

timbul

rasa

kesemutan

seperti ditusk jarum

Visual terlihat kilatan cahaya

Auditorius terdengar sesuatu

Olfaktoris terhidu sesuatu

Disertai vertigo

atau

g) Dengan

gejala

atau

tanda

gangguan

syaraf

otonom pucat, berkeringat, dilatasi pupil.


h) Dengan gejala psikis (gangguan fungsi luhur)
sensasi epigastrium,

Disfasia

mengulang

suku

kata,

kata

atau

bagian kalimat

Dimnesia
pernah

gangguan

mengalami,

fungsi

ingatan

merasakan,

seperti

melihat

atau

sebaliknya tidak pernah.

Kognitif gangguan orientasi waktu

Afektif merasa sangat senang, susah, marah,


takut

Ilusi perubahan persepsi benda yang dilihat

Halusinasi
mendengar

kompleks
ada

(berstruktur)

yangbicara,

musik,

melihat

suatu fenomena tertentu


5) Epilepsi parsial kompleks (disertai gangguan
kesadaran)
c) Serangan parsial sederhana diikuti gangguan
kesadaran

Dengan gejala parsial sederhana disertai


dengan menurunnya kesadaran

Dengan

automatisme

gerakan-gerakan

tidak terkendali dan tidak disadari


d) Dengan penurunan kesadaran sejak permulaan
serangan

Hanya dengan penurunan kesadaran

Dengan automatisme

6) Epilepsy

parsial

yang

berkembang

menjadi

bangkitan umum (tonik-klonik, tonik, klonik)


d) Sawan

parsial

sederhana

menjadi bangkitan umum

yang

berkembangan

e) Sawan

parsial

kompleks

yang

berkembang

menjadi bangkitan umum


f) Sawan

parsial

sederhana

yang

menjadi

bangkitan parsial kompleks lalu berkembang


menjadi bangkitan umum
e. Epilepsi umum (konvulsif dan non-konvulsif)
9) Epilepsi lena (absence) : kegiatan yang sedang
dikerjakan terhenti, muka tampak membengong, bola
mata dapat memutar ke atas, tidak ada reaksi bila
diajak bicara, biasanya berlangsung - menit
dan sering dijumpai pada anak. Cirikhasnya :
g) Hanya penurunan kesadaran
h) Dengan komponen klonik ringan
i) Dengan komponen atonik
j) Dengan komponen tonik
k) Dengan automatisme
l) Dengan komponen autonom : kombinasi
10)

Epilepsi lena tak khas (atypical absence) :

dapat disertai dengan gangguan tonus yang lebih


jelas ; permulaan dan berakhirnya bangkitan tidak
mendadak.
11)

Epilepsi

mendadak,

mioklonik

sebentar,

dapat

terjadi
kuat

kontraksi

atau

lemah

sebagian otot atau semua otot-otot, sekali atau


berulang-ulang.
12)

Epilepsi klonik : tidak ada komponen tonik,

hanya terjadi kejang kelonjot.


13)

Epilepsi tonik : tidak ada komponen klonik,

otot-otot hanya menjadi kaku.


14)

Epilepsy tonik-klonik (Grandmal epilepsy)


Serangan dapat diawali dengan aura, klien

mendadak jatuh pingsan, otot-otot seluruh badan


kaku. Kejang kaku berlangsung selama kira-kira
-

menit

diikuti

kejang

kelonjot

diseluruh

badan. Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri.


Tarikan

nafas

menjadi

dalam

beberapa

saat

lamanya. Bila pembentukan ludah meningkat saat


kejang,
nafas

mulut

kuat.

kejang

menjadi

Mungkin

selesai,

berbusa

pula

klien

karena

klien
dapat

hembusan

miksi.

Setelah

bangun

dengan

kesadaran yang masih rendah atau langsung menjadi


sadar dengan keluhan badan pegal-pegal, lelah dan
nyeri kepala
15)

Epilepsi atonik : otot-otot seluruh badan

mendadak lemas sehingga klien terjatuh. Kesadaran


dapat tetap baik dan dapat juga menurun sebentar.
16)

Status epileptikum : aktifitas kejang yang

berlangsung

terus-menerus

lebih

dari

30

menit

tanpa pulihnya kesadaran.


f. Epilepsi tak tergolongkan
Ialah bangkitan pada bayi berupa gerakan bola
mata

yang

ritmik,

mengunyah-ngunyah,

gerakan

seperti berwenang, menggigil atau pernafasan yang


mendadak berhenti sejenak.
12.

Pemeriksaan Penunjang
Elektroensefhalografi (EEG) merupakan pemeriksaan

penunjang

yang

diagnosis

epilepsi

bersifat
maupun

informatif
bila

khas

epileptik

diluar

serangan

gelombang

paku,

yang

dapat

ditemukan
baik

terekam

berupa

runcing

memastikan

pola

EEG

yang

saat

serangan

gelombang,

runcing,

lambat,

paku

lambat.

Pemeriksaan tambahan lain yang juga bermanfaat adalah


pemeriksaan

poto

mendeteksinya
scan,

yang

hematom,

polos

adanya

berguna

tumor,

kepala,

fraktur
untuk

yang

tulang

mendeteksi

hidrosefalus,

berguna

untuk

tengkorak:
adanya

sedangkan

CT

infark,

pemeriksaan

laboratorium dilakukan atas indikasi untuk memastikan


adanya

kelainan

sistemik

seperti

hiponatremia, uremia, dan lain-lain.

hipoglikemia,

13.

Penatalaksanaa
Tujuan Pengobatan adalah mencegah timbulnya sawan

tanpa mengganggu kapasitas fisik dan intelek pasien.


Pengobatan epilepsi meliputi pengobatan medikamentosa
dan pengobatan psikososial.
c. Pengobatan Medika Mentosa
Pada epilepsi yang simtomatis dimana sawan
yang timbul adalah manifestasi penyebabnya seperti;
tumor otak, radang otak, gangguan metabolik, maka
di samping pemberian obat anti epilepsi diperlukan
pula terapi kasual.
d. Pengobatan Psikososial
Pasien
diberikan
pengobatan
terbebas

yang
dari

penerangan

optimal

sawan.

bahwa

sebagian

Pasien

harus

dengan

besar

akan

patuh

dalam

menjalani pengobatannya, sehingga dapat bebas dari


sawan dan dapat belajar, bekerja, dan bermasyarakat
14.

secara normal.
Prognosis
Pasien epilepsi yang berobat teratur, 1/3 akan

bebas serangan paling sedikit 2 tahun, dan apabila


lebih

dari

dihentikan,
dikatakan

tahun
pasien

telah

sesudah
tidak

mengalami

serangan

terakhir

obat

mengalami

sawan

lagi,

remisi.

Diperkirakan

30%

pasien tidak akan mengalami remisi meskipun minum obat


secara teratur. Sesudah remisi, kemungkinan munculnya
serangan ulang paling sering didapat pada sawan tonik
klonik dan sawan parsial kompleks. Demikian pula usia
muda lebih mudah mengalami relaps sesudah remisi.
D. Konsep Asuhan Keperawatan
4. Pengkajian Keperawatan
d. Data Subyektif, antara lain :
5) Keluhan Utama
Untuk keluhan utama, pasien atau keluarga
biasanya

ketempat

pelayanan

kesehatan

karena

klien yang mengalami penurunan kesadaran secara


tiba-tiba disertai mulut berbuih. Kadang-kadang
klien

keluarga

mengeluh

anaknya

prestasinya

tidak baik dan sering tidak mencatat. Klien atau


keluarga

mengeluh

anaknya

atau

anggota

keluarganya sering berhenti mendadak bila diajak


bicara.
6) Riwayat kesehatan.
Klien yang berhubungan dengan faktor resiko
bio-psiko-spiritual. Kapan klien mulai serangan,
pada usia berapa. Frekuensi serangan, ada faktor
presipitasi seperti suhu tinggi, kurang tidur,
dan

emosi

yang

labil.

Apakah

pernah

menderita

sakit berat yang disertai hilangnya kesadaran,


kejang, cedera otak operasi otak, Apakah klien
terbiasa menggunakan obat-obat penenang atau obat
terlarang,

atau

mengkonsumsi

alkohol.

Klien

mengalami gangguan interaksi dengan orang lain /


keluarga karena malu,merasa rendah diri, ketidak
berdayaan,

tidak

mempunyai

harapan

dan

selalu

waspada/berhati-hati dalam hubungan dengan orang


lain.
7) Riwayat kesehatan keluarga.
Dimaksudkan
untuk
mendapatkan

informasi

kemungkinan masalah yang sama pada keluarga.


8) Klien
dapat
mengeluhkan
kelemahan/lelah

dan

kurang mampu melakukan aktivitas sehari-hari.


e. Data Objektif, antara lain:
Dari
pemeriksaan
fisik
didapat
penurunan
kekuatan otot. Data pada saat serangan dijumpai:
6) Perubahan
pada
tanda-tanda
vital
berupa
peningkatan tekanan darah, denyut nadi meningkat
dan sianosis.
7) Inkontinensia urin dan fekal.
8) Perlukaan pada gusi dan lidah.
9) Ada riwayat nyeri, kehilangan kesadaran/pingsan,
kehilangan

kesadaran

sesaat

klien menangis, jatuh kelantai, disertai komponen


motorik seperti kejang tonik klonik.
10)
Mioklonik.

tonik,

klonik,

atonik.

Klien

menggigit

lidah.

mulut berbuih, ada inkontinensia urin dan fekal,


bibir dan muka cianosis, mata dan kepala bergerak
memutar-mutar pada satu posisi atau keduanya.
f. Data setelah Serangan:
8) Setelah serangan tanda-tanda vital mungkin
berubah.
9) Klien mengalami lethargi, bingung, otot sakit,
gangguan bicara, nyeri kepala.
10) Perubahan
dalam
gerakan

misalnya

hemiplegi/hemiparese sementara.
11) Klien lupa atau sedikit ingat

terhadap

kejadian yang menimpa dirinya.


12) Terjadi
perubahan
kesadaran/tidak,
pernafasan, denyut jantung.
13) Ada perlukaan/cedera.
14) Gusi
mengalami
hiperplasi
samping penggunaan Dilantin.
Deskripsi
spesifik
dari

karena

efek

kejang

harus

mencakup beberapa data penting meliputi:


10) Awitan yakni serangan itu mendadak

atau

didahului oleh prodormal dan fase aura.


11) Durasi kejang berapa lama dan berapa kali
frekuensinya.
12) Aktivitas
ekstrimitas
bilateral,

motorik
yang

terkena

dimana

mulainya

kemajuannya.
13) Status kesadaran
Apakah

mencakup

klien

dapat

dan

apakah

sesisi
dan

nilai

atau

bagaimana

kesadarannya.

dibangunkan

selama

atau

setelah serangan ?
14) Distrakbilitas, apakah klien dapat memberi
respon

terhadap

lingkungan.

Hal

ini

sangat

penting untuk membedakan apakah yang terjadi


pada klien benar epilepsi atau hanya reaksi
konversi.
15) Keadaan

gigi.

Apakah

pada

saat

serangan

gigi klien tertutup rapat atau terbuka.


16) Aktivitas
tubuh
seperti
inkontinensia,
muntah, salivasi dan perdarahan dari mulut.

17)

Masalah

paralisis,

yang

dialami

kelemahan,

setelah

baal

serangan

atau

semutan,

disfagia, disfasia cedera komplikasi, periode


post iktal atau lupa terhadap semua pristiwa
yang baru saja terjadi.
18) Faktor pencetus seperti

stress

emosional

dan fisik.
5. Diagnosa keperawatan
k. Risiko cedera berhubungan dengan tipe kejang.
l. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan
dengan obstruksi trakheobronkhial.
m. Kerusakan memori berhubungan dengan hipoksia.
n. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan aktivitas
kejang.
o. Harga diri

rendah

berhubungan

dengan

perubahan

perkembangan.
p. Risiko isolasi berhubungan dengan perubahan status
kesehatan.
q. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak
yang menderita penyakit kronis.
r. Cemas berhubungan dengan ancaman kematian.
s. Kurang pengetahuan orang tua berhubungan
keterbatasan paparan.
t. Manajemen
regimen

terapeutik

tidak

dengan
efektif

berhubungan dengan konflik pengambilan keputusan.


6. Intervensi
e. Diagnosa 1 : Risiko cedera berhubungan dengan tipe
kejang.
5) NOC : Pengendalian Resiko.
6) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
pencegahan

jatuh

selama

3x24

jam

diharapkan

pasien tidak mengalami cedera dan tetap tenang


dengan seringnya pengendalian resiko skala 3.
7) Kriteria hasil :
f) Pantau faktor resiko perilaku dan lingkungan.
g) Mempersiapkan lingkungan yang aman (misalnya,
penggunaan tikar karet).
h) Menghindari cedera fisik.
i) Mengidentifikasi
risiko

yang

meningkatkan

kerentanan terhadap cedera.


j) Orang tua akan mengenali resiko dan memantau
kekerasan.

Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
8) NIC : Mencegah Jatuh
g) Identifikasi
faktor

yang

mempengaruhi

kebutuhan keamanan, misalnya perubahan status


mental, usia, pengobatan dan defisit motorik /
sensorik.
h) Identifikasi

faktor

lingkungan

yang

memungkinkan risiko jatuh.


i) Singkirkan benda-benda yang dapat menimbulkan
bahaya.
j) Arahkan anak ke area aman, khususnya jauh dari
jendela,

tangga,

alat

pemainan,

atau

sumber

air.
k) Jangan membuat anak teragitasi; bicara dengan
suara lembut dan sikap tenang.
l) Lindungi anak setelah kejang.
f. Diagnosa 2 : Kebersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan obstruksi trakheobronkhial
5) NOC : Kontrol Aspirasi
6) Tujuan
:
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan

Mencegah

Jatuh

selama

3x24

jam

diharapkan jalan nafas pasien kembali efektif


dengan seringnya memonitor aspirasi skala 2.
7) Kriteria hasil :
e) Mengidentifikasi faktor risiko.
f) Menghindari faktor risiko.
g) Menyediakan
makanan
sesuai
kemampuan
menelan pasien.
h) Mengupayakan konsitusi cairan dan makanan.
Skala :
1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
8) NIC : Mencegah Jatuh
f) Pengelolaan jalan nafas.
g) Ajarkan batuk secara efektif.
h) Posisikan 90 derajat sesuai kemampuan.

i) Berikan oksigen sesuai kebutuhan.


j) Lakukan pengisapan sesuai dengan kebutuhan
untuk membersihkan sekresi.
g. Diagnosa 3 : Kerusakan memori berhubungan dengan
hipoksia
5) NOC : Orientasi Kognitif
6) Tujuan
:
Setelah
dilakukan

tindakan

keperawatan Pelatihan Memori selama 3x24 jam


diharapkan pasien tidak menunjukkan kerusakan
memori dengan status orientasi kognitif skala
4.
7) Kriteria hasil :
e) Mengidentifikasikan

orang

terdekat,

tempat

sekarang, dan musim, tahun, hari yang benar.


f) Menggunakan teknik untuk membantu memperbaiki
memori.
g) Secara

akurat

mengingat

secara

tepat,

informasi saat ini dan lama.


h) Mengungkapkan kemampuan yang lebih baik untuk
mengingat.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
8) NIC : Pelatihan Memori
g) Kaji depresi, ansietas, dan peningkatan stres
yang

mungkin

memberikan

kehilangan memori.
h) Kaji
fungsi
neurologis

kontribusi
untuk

pada

menentukan

masalah pasien, apakah kehilangan memori atau


demensia.
i) Beri label pada barang-barang.
j) Bantu pasien untuk rileks untuk meningkatkan
konsentrasi.
k) Berikan kesempatan
seperti
sesuai.
l) Berikan

suatu

permainan

gambar

diperlukan.

pasien

untuk

pasangan

pengingat

konsentrasi
kartu

memori;

yang
bila

h. Diagnosa

Gangguan

citra

tubuh

berhubungan

dengan aktivitas kejang


5) NOC : Citra Tubuh
6) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
Pencapaian Citra Tubuh selama 3x24 jam diharapkan
persepsi pasien terhadap dirinya positif dengan
status citra tubuh skala 3
7) Kriteria hasil :
k. Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
l. Kesesuaian antara realitas tubuh, ideal tubuh
dan wujud tubuh.
m. Mengidentifikasi kekuatan personal.
n. Memelihara hubungan sosial yang dekat
hubungan personal.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
8) NIC : Pencapaian Citra Tubuh
e) Tentukan
bagaimana
respon

anak

dan

terhadap

tubuhnya sesuai dengan tahap perkembangan.


f) Identifikasi
budaya,
agama,
ras,
jenis
kelamin,

dan

usia

dari

orang

penting

bagi

pasien yang menyangkut citra tubuh.


g) Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk
mengungkapkan perasaan dan untuk berduka.
h) Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk
mengungkapkan

perhatian

tentang

hubungan

personal yang dekat.


o. Diagnosa 5 : Harga Diri Rendah berhubungan dengan
perubahan perkembangan.
5) NOC : Perkembangan Anak

:2,3,4,5

tahun:

Masa

Kanak-kanak Pertengahan (%-11 tahun), dan Remaja


(12-17 tahun).
6) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
Peningkatan Harga Diri selama 3x24 jam diharapkan
harga

diri

meningkatkan

pasien
harga

positif
dirinya)

perkembangan menunjukkan skala 3.


7) Kriteria hasil :

(pasien
dengan

dapat
status

e) 2

th

Mengindikasikan

keinginan

secara

verbal, berinteraksi dengan orang dewasa dalam


permainan sederhana.
f) 3 th : mampu mengatakan

nama

pertamanya;

memainkan interaksi dengan anak seusianya.


g) 4
th
:
Mampu
menjelaskan
aturan-aturan
permainan interaktid bersama teman seusianya.
h) Mempertahankan hubungan pribadi yang dekat.
Skala :
1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
8) NIC : Peningkatan Harga Diri
f) Pantau pernyataan pasien tentang penghargaan
diri.
g) Bantu

pasien

meningkatkan

penilaian

dirinya

terhadap penghargaan diri.


h) Hindari tindakan yang dapat melemahkan pasien.
i) Beri
penghargaan
/
pujian
terhadap
perkembangan pasien dalam pencapaian tujuan.
j) Ajarkan orang tua akan pentingnya ketertarikan
dan dukungannya terhadap perkembangan konsep
diri yang positif pada anak.
p. Diagnosa 6
: Resiko isolasi sosial
dengan gangguan psikologis.
5) NOC : Keterlibatan Sosial
6) Tujuan : Setelah dilakukan
Peningkatan

Sosialisasi

diharapkan

pasien

lingkungan

dan

dengan

status

dapat

dapat

selama

keperawatan
3x24

berinteraksi

diterima

keterlibatan

skala 3.
7) Kriteria Hasil :
f) Melaporkan adanya

tindakan

berhubungan

di

sosial

interaksi

jam
dengan

lingkungan
menunjukkan

dengan

teman,

tetangga, aggota keluarga.


g) Berpartisipasi dalam aktivitas pengalihan
h) Mulai berhubungan dengan orang lain.
i) Mengembangkan hubungan satu sama lain.
j) Melaporkan adanya peningkatan dukungan sosial.
Skala :
1. Tidak pernah

2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
8) NIC : Peningkatan Sosialisasi
g) Identifikasi dengan pasien faktor-faktor yang
berpengaruh pada perasaan isolasi sosial.
h) Kurang
stigma
isolasi
dengan
menghormati
martabat pasien.
i) Dukung
hubungan

dengan

orang

lain

yang

mempunyai ketertarikan dan tujuan sama


j) Dukung usaha-usaha yang dilakukan pasien,
keluarga dan teman-teman untuk berinteraksi.
k) Berikan uji pembatasan interpersonal.
l) Dukung
pasien
untuk
mengubah
lingkungan,
seperti jalan-jalan dan menonton film
q. Diagnosa 7
dengan

: Perubahan proses keluarga berhubungan

mempunyai

anak

yang

menderita

penyakit

kronik.
5) NOC : Parenting
6) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
Peningkatan Integritas Keluarga selama 3x24 jam
diharapkan

keluarga

berfungsi

secara

efektif

dengan seringnya melakukan peran sebagai orang


tua yang ditunjukkan dengan skala 4.
7) Kriteria hasil :
f) Memberikan kebutuhan psikologi untuk anak.
g) Memberikan
perlindungan
dan
perawatan
kesehatan secara teratyr dan aseptik.
h) Stimulasi perkembangan kognitif.
i) Stimulasi perkembangan emosi.
j) Stimulasi perkembangan spiritual.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang-kadang
4. Sering
5. Konsisten
8) NIC : Peningkatan Integritas keluarga
g) Kaji interaksi antara pasien dan keluarga.
h) Tentukan jenis hubungan keluarga.
i) Tentukan gangguan dalam jenis proses keluarga.
j) Ajari
keterampilan
merawat
pasien
yang
diperlukan oleh keluarga.

k) Ajari

keluarga

perlunya

kerja

sama

dengan

sistem sekolah untuk menjamin akses kesempatan


pendidikan yang sesuai untuk penyakit kronik.
l) Bantu keluarga berfokus pada anaknya dibanding
dengan penyakitnya.
r. Diagnosa 8 : Cemas berhubungan

dengan

kematian / perubahan status kesehatan.


5) NOC : Kontrol Cemas
6) Tujuan
:
Setelah
dilakukan

ancaman

tindakan

keperawatan pengurangan ansietas selama 3x24


jam diharapkan kecemasan hilang atau berkurang
dengan seringnya mengontrol cemas dengan skala
7) Kriteria hasil :
f) Merencanakan strategi koping untuk situasi
yang membuat stres.
g) Melaporkan tidak ada

gangguan

persepsi

sensori.
h) Manifestasi perilaku kecemasan tidak ada.
i) Menunjukkan kemampuan untuk berfokus pada
pengetahuan dan keterampilan yang baru.
j) Tidak menunjukkan perilaku agresif
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
8) NIC : Pengurangan Ansietas
e) Sediakan
informasi
yang
sesungguhnya
meliputi diagnosis, treatmen dan prognosis.
f) Gunakan
pendekatan
yang
tenang
dan
meyakinkan.
g) Berikan dorongan

kepada

orang

tua

untu

menemani anak, sesuai dengan kebutuhan.


h) Sediakan
pengalihan
melalui
televise,
radio,

permainan,

untuk

mengurangi

ansietas.
s. Diagnosa 9

: Kurang pengetahuan berhubungan

dengan keterbatasan paparan


4) Tujuan
:
Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan Menjelaskan Proses Penyakit selama

3x24 jam diharapkan defisit pengetahuan dapat


teratasi

dengan

status

pengetahuan

mengenai

proses penyakit menunjukkan skala 4.


5) NOC : Knowledge: Proses Penyakit
f) Menguraikan proses penyakit
g) Menguraikan faktor risiko
h) Menguraikan komplikasi
i) Menguraikan tanda dan gejala penyakit.
j) Menguraikan faktor penyebab untuk mencegah
komplikasi.
Skala:
1 : Tidak mengetahui
2 : Terbatas pengetahuannya
3 : Sedikit mengetahui
4 : Banyak pengetahuannya
5
:
Intensif
atau
mengetahuinya

secara

kompleks
6) NIC : Menjelaskan proses penyakit
g) Identifikasi etiologi yang memungkinkan.
h) Uraikan proses penyakit.
i) Uraikan tanda dan gejala penyakit.
j) Diskusikan terapi atau pilihan pengobatan.
k) Jelaskan patofisiologi penyakit.
l) Jelaskan komplikasi kronis yang mungkin
terjadi.
t. Diagnosa 10 : Resiko isolasi sosial
dengan gangguan psikologis.
5) NOC : Keterlibatan Sosial
6) Tujuan
:
Setelah

berhubungan

dilakukan

tindakan

keperawatan Peningkatan Sosialisasi selama 3x24


jam diharapkan pasien dapat berinteraksi dengan
lingkungan
dengan

dan

status

dapat

diterima

keterlibatan

skala 3.
7) Kriteria Hasil :
f) Melaporkan adanya

di

sosial

interaksi

lingkungan
menunjukkan

dengan

teman,

tetangga, anggota keluarga.


g) Berpartisipasi dalam aktivitas pengalihan
h) Mulai berhubungan dengan orang lain.
i) Mengembangkan hubungan satu sama lain.
j) Melaporkan adanya peningkatan dukungan sosial.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang

4. Sering
5. Konsisten
8) NIC : Peningkatan Sosialisasi
g) Identifikasi dengan pasien faktor-faktor yang
berpengaruh pada perasaan isolasi sosial.
h) Kurang
stigma
isolasi
dengan
menghormati
martabat pasien.
i) Dukung
hubungan

dengan

orang

lain

yang

mempunyai ketertarikan dan tujuan sama.


j) Dukung usaha-usaha yang dilakukan pasien,
keluarga dan teman-teman untuk berinteraksi.
k) Berikan uji pembatasan interpersonal.
l) Dukung
pasien
untuk
mengubah
lingkungan,
seperti jalan-jalan dan menonton film

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, I.J. 2001. Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta


: EGC
Doengoes,

Marylinn.

2001.

Rencana

Asuhan

Keperawatan

Maternal / Bayi. Jakarta : EGC


Manuaba,

I.B.

2001.

Kapita

Selekta

Penatalaksanaan

Rutin

Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta : EGC


Manuaba, I.B. 1999. Operasi Kebidanan Kandungan Dan Keluarga
Berencana Untuk Dokter Umum. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 2.
Jakarta : EGC
Sarwono, Prawiroharjo,. 2005. Ilmu Kandungan, Cetakan ke-4.
Jakarta : PT Gramedi
Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan
dengan

Intervensi

NIC

dan

Kriteria

Hasil

NOC,

Edisi 7. Jakarta:EGC
Prawirohardjo,

S.

2000.

Buku

acuan

nasional

pelayanan

kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta: Yayasan


Bina Pustaka.