Anda di halaman 1dari 1

Buku tanpa Kasta

Oleh: Rio Mastri


Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka
pastilah bangsa itu akan musnah.
Penggalan kalimat di atas berasal dari celotehan Milan Kundera, seorang novelis
masyur asal Republik Ceko yang lahir tidak lama empat tahun sebelum Adolf Hitler memulai
ekspansinya di benua Eropa.
Ucapannya dapat dibenarkan oleh siapa pun mulai dari pembaca yang aktif hingga
yang pasif sekalipun jika kita melihat sejarah bangsa-bangsa seperti, Yunani, Romawi,
Arab, Eropa, dan seterusnya, yang pernah mencapai mencapai masa keemasan di zamannya.
Jika ditilik lebih dalam, maka kita akan menemukan suatu kesamaan di antara bangsabangsa tersebut, yaitu buku. Buku menjadi kunci kesuksesan bagi bangsa Yunani dan
Romawi yang sampai sekarang dikenal sebagai Zaman Klasik. Kemudian dengan hadirnya
Islam di tanah Arab, secara lambat laun para pemikir Islam mempelajari karya-karya yang
diwariskan dari Zaman Klasik. Seiring dengan itu, para pemikir Islam, masing-masing
mereka berhasil melahirkan karya-karya besar yang akhirnya mengantar peradaban Islam
mencapai masa keemasannya.
Perang Salib yang berlangsung hingga abad ke-14 ternyata berdampak terhadap
kebangkitan bangsa Eropa yang dikenal sebagai masa Renaisans atau masa kebangkitan
kembali. Bangsa Eropa mulai mempelajari karya-karya pemikir Islam. Dengan begitu, bukan
berarti bangsa-bangsa yang tak termasuk ke dalam salah satu bangsa yang pernah mencapai
puncak peradaban di masa silam akan tertutup harapan baginya untuk ikut serta dalam
kompetisi antarbangsa di zaman global saat ini. Di antara bangsa yang terlibat dalam
kompetisi tersebut ialah Indonesia.
Hadirkan Buku Tanpa Kasta