Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR CLAVICULA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu


Peraktek Klinik Keperawatan Medikal Bedah II
Di Ruang Seruni Rumah Sakit Prof. Dr. Margono Soekarjo

Disusun Oleh :
Yanuar Bagus Santosa
P1337420214102

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
PROGRAM SETUDI D III KEPERAWATAN PURWOKERTO
2016

FRAKTUR KLAVIKULA
I.

KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Definisi
1. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah
terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada
tulang yang berlebihan.
2. Smeltzer S.C & Bare B.G (2001) fraktur adalah terputusnya kontinuitas
tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
3. Reeves C.J,Roux G & Lockhart (2001), fraktur adalah setiap retak atau
patah pada tulang yang utuh.
4. Fraktur dalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, Arif, et al, 2000).
Pengertian fraktur pada anggota tubuh, disesuaikan menurut
anatominya, misalnya Klavikula (tulang Kolar). Dari pengertian di atas,
fraktur Klavikula merupakan suatu gangguan integritas tulang yang
ditandai dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dikarenakan tekanan yang berlebihan yang tejadi pada tulang Klavikula.
Fraktur Klavikula adalah patah tulang pada tulang klavikula atau
tulang selangka. Hal ini sering disebabkan akibat jatuh dengan posisi
lengan terputar/tertarik(outstrechedhead), posisi jatuh bertumpu ke bahu
atau pukulan langsung ke klavikula.
Fraktur klavikula (tulang kolar) merupakan cedera yang sering
terjadi akibat jatuh atau hantaman langsung ke bahu. Lebih dari 80%
fraktur ini terjadi pada sepertiga tengah atau proksimal klavikula. Tulang
merupakan alat penopang dan sebagai pelindung pada tubuh. Tanpa tulang
tubuh tidak akan tegak berdiri.
Fungsi tulang dapat diklasifikasikan sebagai aspek mekanikal
maupun aspek fisiologikal. Dari aspek mekanikal, tulang membina rangka
tubuh badan dan memberikan sokongan yang kokoh terhadap tubuh.
Sedangkan dari aspek fisiologikal tulang melindungi organ-organ dalam

seperti jantung, paru-paru dan lainnya. Tulang

juga menghasilkan sel

darah merah, sel darah putih dan plasma. Selain itu tulang sebagai tempat
penyimpanan kalsium, fosfat dan garam magnesium. Namun karena tulang
bersifat relatif rapuh, pada keadaan tertentu tulang dapat mengalami patah,
sehingga menyebabkan gangguan fungsi tulang terutama pada pergerakan.
Patah tulang atau fraktur merupakan hilangnya kontinuitas tulang yang
umumnya disebabkan oleh tekanan. Peristiwa ini dapat terjadi karena:
1. Peristiwa trauma tunggal. Patah tulang pada peristiwa ini biasanya
dikarenakan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan dapat berupa
pemukulan, penekukan, pemuntiran ataupun penarikan.
2. Tekanan yang berulang-ulang. Tekanan yang berulang-ulang dapat
menimbulkan

keretakan.

Sebagai

contoh

seorang

pelari

yang

menempuh jarak jauh dapat mengalami retak tulang pada daerah tibia,
fibula maupun metatarsal.
3. Fraktur patologik. Pada peristiwa ini tulang mengalami patah oleh
tekanan yang normal dikarenakan tulang tersebut lemah atau rapuh.
Bisa disebabkan oleh penyakit tertentu, misalnya tumor. Banyak sekali
kasus patah tulang yang terjadi dan berbeda-beda pada daerah patah
tulang tersebut. Pada kasus ini akan dibahas mengenai patah tulang
bagian klavikula.
B. Klasifikasi
1. Klasifikasi patah tulang secara umum adalah :
a. Fraktur lengkap Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang
yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis
patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain.
b. Fraktur tidak lengkap Adalah patah atau diskontinuitas jaringan
tulang dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak
mengenai korteks (masih ada korteks yang utuh).
2. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan
hubungan dengan dunia luar, meliputi:

a. Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih


utuh, tulang tidak menonjol malalui kulit.
b. Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena
adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka
potensial terjadi infeksi.
3. Lokasi patah tulang pada klavikula diklasifikasikan menurut Dr. FL
Allman tahun 1967 dan dimodifikasi oleh Neer pada tahun 1968, yang
membagi patah tulang klavikula menjadi 3 kelompok:
a. Tipe I: Fraktur mid klavikula (Fraktur 1/3 tengah klavikula)
1) Fraktur pada bagian tengah clavicula.
2) Lokasi yang paling sering terjadi fraktur, paling banyak ditemui.
3) Terjadi di medial ligament korako-klavikula (antara medial dan
1/3 lateral)
4) Mekanisme trauma berupa trauma langsung atau tak langsung
(dari lateral bahu)
b. Tipe II : Fraktur 1/3 lateral klavikula
Fraktur klavikula lateral dan ligament korako-kiavikula, dapat
dibagi:
1) type 1: undisplaced jika ligament intak
2) type 2: displaced jika ligamen korako-kiavikula ruptur.
3) type 3: fraktur yang mengenai sendi akromioklavikularis.
c. Tipe III : Fraktur pada bagian proksimal clavicula.
Fraktur yang paling jarang terjadi dari semua jenis fraktur
clavicula, insidensnya hanya sekitar 5%. Mekanisme trauma dapat
beruma trauma langsung dan tak langsung pada bagian lateral bahu
yang dapat menekan klavikula ke sternum. Jatuh dengan tangan
terkadang dalam posisi abduksi.

C. Etiologi Faktur Klavikula


Penyebab farktur klavikula biasanya disebabkan oleh trauma pada
bahu akibat kecelakaan apakah itu karena jatuh atau kecelakaan kendaraan
bermotor, namun kadang dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non
traumatik. Berikut beberapa penyebab pada fraktur klavikula yaitu :
1. Fraktur klavikula pada bayi baru lahir akibat tekanan pada bahu
oleh simphisis pubis selama proses melahirkan. Fraktur tulang
humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan
tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan yang
menjungkit merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang
fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan
fraktur ini, jika ditemukan ada tekanan keras dan langsung pada
tulang

humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya berupa

greenstick atau fraktur total. Fraktur menurut Strek,1999 terjadi


paling sering sekunder akibat

kesulitan pelahiran (misalnya

makrosemia dan disproporsi sefalopelvik, serta malpresentasi).


2. Fraktur klavikula akibat kecelakaan termasuk kecelakaan
kendaraan bermotor, jatuh dari ketinggian dan yang lainnya.
3. Fraktur klavikula akibat kompresi pada bahu dalam jangka waktu
lama, misalnya pada pelajar yang menggunakan tas yang terlalu
berat.
4. Fraktur klavikula akibat proses patologik, misalnya pada pasien
post radioterapi, keganasan clan lain-lain.
Menurut sejarah fraktur pada klavikula merupakan cedera yang
sering terjadi akibat jatuh dengan posisi lengan terputar/tertarik keluar
(outstreched hand) dimana trauma dilanjutkan dari pergelangan tangan
sampai klavikula, namun baru-baru ini telah diungkapkan bahwa
sebenarnya mekanisme secara umum patah tulang klavikula adalah
hantaman langsung ke bahu atau adanya tekanan yang keras ke bahu
akibat jatuh atau terkena pukulan benda keras. Data ini dikemukankan oleh
Nowak et a,l Nordqvist dan Peterson.

Patah tulang klavikula karena jatuh dengan posisi lengan tertarik


keluar (outstreched hand) hanya 6% terjadi pada kasus, sedangkan yang
lainnya karena trauma bahu. Kasus patah tulang ini ditemukan sekitar
70% adalah hasil dari trauma dari kecelakaan lalu lintas. Kasus patah
tulang klavikula termasuk kasus yang paling sering dijumpai. Pada anakanak sekitar 10-16 % dari semua kejadian patah tulang.

D. Patofisiologi
Patah Tulang selangka ( Fraktur klavikula) umumnya disebabkan
oleh cedera atau trauma. Hal ini biasanya terjadi ketika jatuh sementara
posisi tangan ketika terbentur terentang atau mendarat di bahu. Sebuah
pukulan langsung ke bahu juga dapat menyebabkan patah tulang selangka /
fraktur klavikula.
Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma
gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan
metabolic, patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik
yang terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan
mengakibatkan pendarahan, maka volume darah menurun. COP (Cardiac
Out Put) menurun maka terjadi peubahan perfusi jaringan. Hematoma akan
mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi edem lokal maka
penumpukan di dalam tubuh.
Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat
menimbulkan ganggguan rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai
tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang menimbulkan nyeri gerak
sehingga mobilitas fisik terganggau. Disamping itu fraktur terbuka dapat
mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi dan
kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur
terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat
menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri. Selaian itu dapat mengenai
tulang sehingga akan terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri

gerak sehingga mobilitas fisik terganggu, disamping itu fraktur terbuka


dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi
terkontaminasi dengan udara luar. Pada umumnya pada pasien fraktur
terbuka maupun tertutup akan dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk
mempertahankan fragmen yang telah dihubungkan tetap pada tempatnya
sampai sembuh. (Sylvia, 1995 : 1183, dalam keperawatansite, 2013).
E. Pathway

F. Manifestasi Klinis
Tanda gejala yang sering terjadi pada fraktur klavikula Kemungkinan
akan mengalami sakit, nyeri, pembengkakan, memar, atau benjolan pada
daerah bahu atau dada atas. Tulang dapat menyodok melalui kulit, tidak
terlihat normal. Bahu dan lengan bisa terasa lemah, mati rasa, dan
kesemutan. Pergerakan bahu dan lengan juga akan terasa susah. Anda
mungkin perlu untuk membantu pergerakan lengan dengan tangan yang
lain untuk mengurangi rasa sakit atau ketika ingin menggerakan
(Medianers, 2011).
G. Penatalakasanaan
Pada prinsipnya penangan patah tulang klavikula adalah untuk
mencapai penyembuhan tulang dengan minimum tingkat morbiditas,
hilangnya fungsi, dan sisa kelainan bentuk. Kebanyakan patah tulang
klavikula telah berhasil ditangani dengan metode tanpa operasi. Perawatan
nonoperative dengan cara mengurangi gerakan di daerah patah tulang.
Tujuan penanganan adalah menjaga bahu tetap dalam posisi normalnya
dengan cara reduksi tertutup dan imobilisasi. Modifikasi spika bahu (gips
klavikula) atau balutan berbentuk angka delapan atau strap klavikula dapat
digunakan untuk mereduksi fraktur ini, menarik bahu ke belakang, dan
mempertahankan dalam posisi ini. Bila dipergunakan strap klavikula,
ketiak harus diberi bantalan yang memadai untuk mencegah cedera
kompresi terhadap pleksus brakhialis dan arteri aksilaris. Peredaran darah
dan saraf kedua lengan harus dipantau. Fraktur 1/3 distal klavikula tanpa
pergeseran dan terpotongnya ligamen dapat ditangani dengan sling dan
pembatasan gerakan lengan. Bila fraktur 1/3 distal disertai dengan
terputusnya ligamen korakoklavikular, akan terjadi pergeseran, yang harus
ditangani dengan reduksi terbuka dan fiksasi interna. Selama imobilisasi
pasien diperkenankan melakukan latihan gerakan tapi harus menghindari
aktivitas yang berat. Tindak lanjut perawatan dilakukan dengan
pemantauan yang dijadwalkan 1 hingga 2 minggu setelah cedera untuk
menilai gejala klinis dan kemudian setiap 2 hingga 3 minggu sampai

pasien tanpa gejala klinis. Pemeriksaan foto rontgen tidak perlu selama
proses perawatan, tetapi akan lebih baik dilakukan pada saat proses
penyatuan tulang yang biasanya dapat dilihat pada minggu ke 4 sampai
minggu ke 6 (pada saat fase remodeling pada proses penyembuhan tulang).
Tanda klinis penyatuan tulang adalah berkurangnya rasa sakit atau rasa
sakit hilang, dapat melakukan gerakan bahu secara penuh, dan kekuatan
kembali normal. Tidakan pembedahan dapat dilakukan apabila terjadi halhal berikut :
1. Fraktur terbuka.
2. Terdapat cedera neurovaskuler.
3. Fraktur comminuted.
4. Tulang memendek karena fragmen fraktur tumpang tindih.
5. Rasa sakit karena gagal penyambungan (nonunion).
6. Masalah kosmetik, karena posisi penyatuan tulang tidak semestinya
(malunion).
Pemberian obat pada kasus patah tulang dapat dilakukan untuk
mengurangi rasa nyeri. Obat-obat yang dapat digunakan adalah obat
kategori analgesik antiinflamasi seperti acetaminophen dan codeine dapat
juga obat golongan NSAIDs seperti ibuprofen.
Ada 4 konsep Dasar dalam menangani Fraktur :
1. Rekognisi
Rekognisi dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur.
Prinsipnya

adalah

mengetahui

riwayat

kecelakaan,

derajat

keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang


peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri.
2. Reduksi
Reduksi adalah usaha / tindakan manipulasi fragmen-fragmen
seperti letak asalnya. Tindakan ini dapat dilaksanakan secara efektif di
dalam ruang gawat darurat atau ruang bidai gips. Untuk mengurangi
nyeri selama tindakan, penderita dapat diberi narkotika IV, sedative atau
blok saraf lokal.

3. Retensi
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi atau
dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi
penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau
interna. Metode fiksasi eksterna meliputi gips, bidai, traksi dan teknik
fiksator eksterna.
4.

Rehabilitasi
Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula
dengan cara melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai
dengan kemampuan klien. Latihan isometric dan setting otot.
Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan
peredaran darah

Penatalaksanaan ORIF ( OPEN REDUCTION INTERNAL FIXATION)


1. ORIF (Open Reduction Internal Fixation) adalah suatu bentuk
pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang yang
mengalami fraktur.ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi),open reduksi
merupakan suatu tindakan pembedahan untuk memanipulasi fragmenfragmen tulang yang patah / fraktur sedapat mungkin kembali seperti
letak asalnya.Internal fiksasi biasanya melibatkan penggunaan plat,
sekrup, paku maupun suatu intramedulary (IM) untuk mempertahan kan
fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid
terjadi. ORIF (Open Reduction Internal Fixation) Merupakan tindakan
pembedahan dengan melakukan insisi pada derah fraktur, kemudian
melakukan implant pins, screw, wires, rods, plates dan protesa pada
tulang yang patah
2. Tujuan tindakan operasi Orif
Tujuan dari operasi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen
tulang agar tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran. Internal
fiksasi ini berupa Intra Medullary Nail biasanya digunakan untuk
fraktur tulang panjang dengan tipe fraktur tranvers.
a. Imobilisasi sampai tahap remodeling
b. Melihat secara langsung area fraktur

c. mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak


mengalami pergeseran.
3. Indikasi Orif
a. Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas
b. Fraktur dengan gangguan neurovaskuler
c. Fraktur Kominutif
d. Fraktur Pelvis
e. Fraktur terbuka
f. Trauma vaskuler
g. Fraktur shaft humeri bilateral
h. Floating elbow injury
i. Fraktur patologis
j. Reduksi tertutup yang sukar dipertahankan
k. Trauma multiple
l. Fraktur terbuka derajatI II
4. Kontra indikasi Orif
a. Pasien dengan penurunan kesadaran
b. Pasien dengan fraktur yang parah dan belum ada penyatuan tulang
c. Pasien yang mengalami kelemahan (malaise)
5. Komplikasi Orif
Pada kasus ini jarang sekali terjadi komplikasi karena incisi relatif
kecil dan fiksasi cenderung aman. Komplikasi akn terjadi bila ada
penyakit penyerta dan gangguan pada proses penyambungan tulang.
6. Persiapan dan prosedur di ruang operasi
a. Inform concent
Surat persetujuan kepada pasien dan keluarga mengenai
pemeriksaan sebelum operasi, alasan, tujuan, keuntungan, kerugian
tindakan operasi
b. Diit
Pasien dipuasakan selama 8 jam sebelum operasi
c. Persiapan kebersihan kulit

Untuk membebaskan daerah operasi dari mikroorganisme,


persiapan yang dilakukan adalah pencukuran rambut pada daerah
perut , daerah sekitar anus dan alat reproduksi.
d. Terapi pharmacologic
Narkotik dihindari karena dapat menghilangkan tanda dan
gejala, antibiotik untuk menanggulangi infeksi
e. Pengecekan status
Mengecek status pasien sudah tepat dilakukan operasi orif,
dengan menyesuaikan diagnosanya. Apabila sudah tepat diagnosanya
maka segera diantar ke ruang operasi untuk dilakukan operasi
f. Persiapan alat dan ruangan
1) Alat tidak steril : Lampu operasi, Cuter unit, Meja operasi,
Suction, Hepafik, Gunting
2) Alat Steril : Duk besar 3, Baju operasi 4, Selang suction steril,
Selang cuter Steril,side 2/0, palain 2/0,berbagai macam ukuran
jarum
7. Tehnik pembedahan dan alat
a. Persiapan:
1) Alat-alat disiapkan
2) Pasien dipindahkan dari brancard ke meja operasi
3) Klien dipasang bedside monitor
4) Instrumentator dan operator mencuci tangan secara steril lalu
mengenakan jas operasi dan sarung tangan.
b. Pelaksanaan operasi
1) Klien diintubasi dengan ET sebelumnya dilakukan general
anestesi
2) Klin diposisikan telentang dengan kepala sedikit ekstensi
3) Dalam stadium anastesi dilakukan disinfektan menggunakan
betadine,kemudian diblilas menggunakan alkohol 70 %

4) Dipasang linen (doek steril), difiksasi dengan doek klem,


selanjutnya ditutup/dipasang doek lubang besar(mempersempit
area yang akan dioperasi).
5) Melakukan insisi dengan pisau bedah 10 cm,secara horizontal
dari lapisan kulit,lemak, otot.
6) Melakukan

pemegangan

reduction,kemudian

tulang

memposisikannya

menggunakan
pada

posisi

semula,kemudian memasang plate pada tlang sambil memegang


dengan retractor dan melakukan pengeburan, memasang plate
dan screw sebanyak 7 dengan obeng.
7) Control perdarahan perdarahan disuction atau dep dengan
kassa,dan memakai cuter.
8) Memposisikan

tulang

dengan

keadaan

semula,mengukur

panjang plate dan screw


9) Kemudian tulang di bor dan diukur kedalaman bor dengan alat
penduga
10) Memasang plate dan screw pada tulang yang telag dibor
11) Mencuci dengan NaCl, dan memastikan tidak ada lagi
perdarahan.
12) Melakukan

hecting

dengan

polisorb

2-0,

pada

sevi

menggunakan safil 2-0 dan pada bagian kulit menggunakan


byosin 4-0
13) Menutup luka dengan sufra tulle, kasa dan diplester.
14) Daerah area operasi dibersihkan dengan Nacl 0,9%, dan handuk
basah.
15) Operasi selesai, mengobservasi A, B, C, ET dilepaskan
16) Klien dipindahkan ke brancard dan pindahkan keruang recovery.

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui: Hb, hematokrit
sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat
bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca
dan P meengikat di dalam darah.
2. Radiologi :
X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur, deformitas dan metalikment.
Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. CT scan
untuk mendeteksi struktur fraktur yang kompleks.

Pemeriksaan

rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur. Scan tulang,
CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan mengidentifikasikan
kerusakan jaringan lunak.
I. Komplikasi
Komplikasi fraktur klavikula meliputi trauma saraf pada pleksus
brakhialis, cedera vena atau arteria subklavia akibat frakmen tulang, dan
malunion (penyimpangan penyatuan). Malunion merupakan masalah
kosmetik bila pasien memakai baju dengan leher rendah.
Komplikasi akut:
1. Cedera pembuluh darah
2. Pneumouthorax
3. Haemothorax
Komplikasi lambat :
1. Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam
waktu semestinya, namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.
2. Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 4 sampai 6 bulan

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian Asuhan Keperawatan
1.

Aktivitas/istirahat
Gejala:
Keterbatasan/kehilangan

fungsi

pada

bagian

yang

terkena

(mungkin segera akibat langsung dari fraktur atau akibat sekunder


pembengkakan jaringan dan nyeri.
2.

Sirkulasi
Tanda:
a. Peningkatan tekanan darah mungkin terjadi akibat respon terhadap
nyeri/ansietas, sebaliknya dapat terjadi penurunan tekanan darah
bila terjadi perdarahan.
b. Takikardia
c. Penurunan/tak ada denyut nadi pada bagian distal area cedera,
pengisian kapiler lambat, pucat pada area fraktur.
d. Hematoma area fraktur.

3.

Neurosensori
Gejala:
a.

Hilang gerakan/sensasi

b.

Kesemutan (parestesia)

Tanda:
a. Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi,
spasme otot, kelemahan/kehilangan fungsi.
b. Keterbatasan/kehilangan

fungsi

pada

bagian

yang

terkena

(mungkin segera akibat langsung dari fraktur atau akibat sekunder


pembengkakan jaringan dan nyeri.
c. Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma
lain.
4.

Nyeri/Kenyamanan
Gejala:
a. Nyeri hebat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada
area fraktur, berkurang pada imobilisasi.

b. Spasme/kram otot setelah imobilisasi.


5.

Keamanan
Tanda:
a. Laserasi kulit, perdarahan
b. Pembengkakan lokal (dapat meningkat bertahap atau tiba-tiba)

6.

Penyuluhan/Pembelajaran:
a. Imobilisasi
b. Bantuan aktivitas perawatan diri
c. Prosedur terapi medis dan keperawatan

7.

Pengkajian Diagnostik:
Pemeriksaan diagnostik yang sering dilakukan pada fraktur adalah:
a. X-ray: Menentukan lokasi/luasnya fraktur
b. Scan tulang: Memperlihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi
kerusakan jaringan lunak
c. Arteriogram : Dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan
vaskuler.
d. Hitung Darah Lengkap : Hemokonsentrasi mungkin meningkat,
menurun pada perdarahan; peningkatan lekosit sebagai respon
terhadap peradangan.
e. Kretinin: Trauma otot meningkatkan beban kretinin untuk klirens
ginjal
f. Profil koagulasi : Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
transfusi atau cedera hati.

B. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul:


1. Diagnosa preoperatif
Diagnosa :
-

Nyeri akut berhubungan denganagen cidera fisik (farktur)


Cemas berhubungan dengan proses operasi

No

Dignosa

NOC

NIC

dilakukan

Nyeri

akut Setelah

b.d

agen tindakan keperawatan

cidera fisik

Kaji

nyeri

klien

(P,Q,R,S,T)

selama 3 x 24 jam,
diharapkan
nyeri

Ajarkan

pasien

/tehnik relaksasi(tarik

berkurang

dapat
dengan

kriteria hasil :

Skala

nyeri

Klien
mengontrol
dengan

Kolaborasi
dokter

berkurang menjadi

nonfarmakologi
nafas dalam)

tehnik

dengan
pemberian

analgetik

Tingkatkan istirahat

mampu
nyeri
tehnik

nonfarmakologi

TTV dalam batas


normal

Cemas

dilakukan
tindakan keperawatan

Kaji faktor penyebab

kurangnya

selama 1 x 30 menit,
diharapkan
cemas

Berikan

informasi

pasien dapat teratasi

(prosedur

dengan kriteria hasil :

operasi)

Kontak mata baik

Pasien

berhubungan
dengan

Setelah

Pasien

TD normal

Pasien

tidak

2. Diagnosa intra operasi

Jelaskan

prosedur

Observasi

reaksi

Temani

pasien

dengarkan

dan

keluhan

pasien

dapat

mengungkapkan
keluhannya

kepada pasien.

nonverbal pasien.

gelisah

dukungan

operasi

terlihat

tenang

kecemasan pasien.

Tunjukkan

sikap

empati kepada pasien

Diagnosa :
-

Bersihan jalan napas tidak efektif b/d produksi mucus


Gangguan pertukaran gas b/d efek anastesi ( spasme broncus )
Resiko infeksi b/d prosedur invasif (pembedahan)
No
1.

Diagnosa
Bersihan
jalan

NOC
Setelah

NIC
dilakukan Lakukan suction

napas tindakan keperawatan

Berikan terapi O2

tidak efektif selama 3 x 24 jam

Atur posisi pasien

b/d obstruksi jalan


jalan

napas

pasien

napas: efektif,dengan kriteria

produksi

mucus

kepala

pasien

derajat

30

dari kaki/ miringkan


Pasien

dapat

bernapas

dengan

mudah

ekstensikan

Tidak

pasien

Ajarkan

batuk

efektif
ada

suara

napas
tambahan/suara
napas bersih

RR dalam rentang
normal

3. Ganguan
pertukaran

Tidak ada secret

Setelah

dilakukan

tindakan keperawatan

Buka

jalan

dengan

napas

manuver

gas b/d efek selama 2x24 jam tidak

chin lift atau jaw

anastesi

trust

terjadi

ganguan

spasme pertukaran

broncus)

gas,

dengan kriteria :

Tidak ada sianosis

Kesadaran

Pasang mayo

Lakukan

suction

pada mayo

Posisikan

pasien

composmentis

untuk

Suara napas bersih

memaksimalkan

TTV

ventilasi

dalam

rentang normal

Sputum
keluar

RR

(kedalaman, irama,

dapat

frekuansi,

dengan

suara

napas)

mudah

Monitor

Saturasi o2 dalam
rentang normal

3.

Resiko

Setelah

di

lakukan

infeksi

Monitor TTV

b/d tindakan keperawatan


prosedur
selama 3 x 24 jam

Monitor tanda-tanda

invasif:

pertahankan

pembedahan

resiko infeksi dapat


teratasi,
dengan
criteria hasil :

TTV

teknik

aseptic selama proses


pembedahan.

dalam

rentang normal

infeksi.

Lakukan

pencucian

tangan sebelum dan

Tidak ada tanda-

sedudah

tanda infeksi

pasien.

bertemu

Luka bersih

Perdarahan < 500

pelaksanaan

ml

pembedahan dengan

Observasi

menggunakan teknik
steril.

Monitor keadaan luka

Tutup

rapat

luka

dengan jahitan yang


rapi.

Jaga luka agar tidak


terkontaminasi
lingkungan

3. Diagnosa post operasi

dari

Diagnosa
-

Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan Obstruksi

jalan napas : Produksi mucus


Resiko cidera (Injury) berhubungan dengan Efek anastesi
No
1

Diagnosa
Bersihan

NOC
Setelah

NIC
dilakukan Lakukan suction

jalan

napas tindakan keperawatan


tidak efektif selama 2x24 jam jalan

b/d obstruksi napas


pasien
jalan

napas: efektif,dengan kriteria

produksi

mucus

Atur

posisi

Pasien
mudah
Tidak

ada

kepala

pasien 30 derajat dari

dapat
dengan

pasien

ekstensikan
kaki/

bernapas

Berikan terapi O2

miringkan

pasien

Ajarkan batuk efektif

suara

napas
tambahan/suara
napas bersih

RR dalam rentang
normal

Tidak ada secret


dilakukan

Resiko cidera Setelah

Sediakan lingkungan

berhubungan

tindakan keperawatan

yang

dengan

selama 3 x 24 jm

pasien

Factor kimia resiko

cidera

(Efek

teratasi

anastesi).

kriteria hasil :

dapat
dengan

aman

bagi

Temani pasien agar


tidak jatuh
Pasang

side

rail

tempat tidur

Tidak
efek

ada
dari

anastesi

lagi
obat

Anjurkan
untuk

keluarga
menemani

pasien nanti saat di

mengungkapkan

bangsal

Pasien

Mengontrol

rasa nyaman.

lingkungan

Kesadaran

kebisingan.

composmentis

DAFTAR PUSTAKA

dari

Brunner dan Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 3.
Jakarta : EGC
Chairuddin Rasjad, 2007, Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Yarsif Watampone,
Jakarta.
Jeffrey

A.

Housner,

John

E.

Kuhn,

2003,

Clavicle

Fractures,

http://www.physsportsmed.com/issues/2003/1203/housner.
Kevin

Eerkes,

2008,

Clavicle

Injuries,

http://www.emedicine.com/sports/TOPIC25.HTM
L

Joseph

Rubino,

2006,

Clavicle

Fractures,

http://www.emedicine.com/orthoped/topic50.htm.
Mansjoer, Arif, et al, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II, Medika Aesculapius
FKUI, Jakarta, 2000.
Reeves CJ, Roux G and Lockhart R, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Buku I,
(Penerjemah Joko Setyono), Jakarta : Salemba Medika
Richard S. Snell, 2006, Anatomi Klinik Edisi 6, EGC, Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner
& Suddarth, Edisi 8. EGC : Jakarta.
Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Clavicle_fracture