Anda di halaman 1dari 27

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA NOTARIS DALAM HAL TINDAK

PIDANA PEMALSUAN AKTA AUTHENTIK (STUDI PUTUSAN


NOMOR: 40/Pid.B/2013/P.Lsm)

JURNAL

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Guna Memenuhi Syarat Dalam


Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

ABDURRAHMAN HARITS KETAREN


NIM: 110200382
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA NOTARIS DALAM HAL TINDAK


PIDANA PEMALSUAN SURAT AKTA AUTHENTIK (STUDI PUTUSAN
NOMOR: 40/PID.B/2013/PN.LSM)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Guna Memenuhi Syarat Dalam
Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh:
ABDURRAHMAN HARITS KETAREN
NIM: 110200382
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

Disetujui Oleh:
KETUA DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

(Dr. M. Hamdan, S.H., M.H)


NIP. 195703261986011001

EDITOR

(Prof. Dr. Alvi Syahrin, SH.MS)


NIP.196303311987031001
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

ABSTRAK
Abdurrahman Harits ketaren1
Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H, M.S.**
Alwan, S.H, M.Hum.***
Akta authentik merupakan bukti terkuat dan mengikat bagi para pihak
yang berkepentingan. Akta dapat dikatakan authentik apabila dalam pembuatan
akta tersebut dilakukan dihadapan pejabat yang berwenang dan dalam hal ini
adalah Notaris. Wewenang membuat akta authentik ini hanya dilaksanakan oleh
Notaris sejauh pembuatan akta authentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat
umum lainnya. Adapun disaat ini sudah semakin banyak perbuatan pidana yang
dilakukan oleh pejabat negara maupun masyarakat biasa, salah satu perbuatan
pidana yang dilakukan oleh pejabat berwenang adalah Notaris yang melakukan
tindak pidana pemalsuan akta. Tindakan Notaris ini sangat bertentangan dengan
sumpah jabatan yang menimbulkan akibat hukum berupa sanksi pidana sesuai
yang tertuang dalam Pasal 264 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Maka judul
skripsi Pertanggungjawaban Pidana Notaris dalam Hal Tindak Pidana Pemalsuan
Akta Authentik (Studi Putusan Nomor 40/Pid.B/2013/P.Lsm) melihat bagaimana
peranan Notaris dalam pembuatan Akta authentik serta bagaimana
pertanggungjawaban pidana dalam hal pemalsuan Akta Authentik
Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode
penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian terhadap
doktrin-doktrin dan asas-asas hukum. Penelitian dilakukan dengan menganalisis
putusan yaitu Putusan Pengadilan Negeri
Lhokseumawe
Nomor
40/Pid.B/2013//PN.Lsm dengan pokok perkara pertanggungjawaban pidana
Notaris dalam pemalsuan akta authentik, hal ini dilakukan untuk melihat
penerapan hukum positif terhadap pertimbangan hakim yang menjadi dasar
menjatuhkan putusan
Berdasarkan penelitian yang saya lakukan diketahui bahwa peranan
Notaris dalam pembuatan akta authentik terdapat pada Undang-Undang Nomor 2
Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris, Notaris adalah satu-satunya yang
mempunyai wewenang umum dalam membuat akta authentik, artinya tidak turut
para pejabat lainnya. Notaris berwenang dalam hal membuat dan mengesahkan
dalam artian memberikan kekuatan hukum dalam akta authentik tersebut.
Pertanggungjawaban pidana Notaris adalah pertanggungjawaban Notaris atas akta
yang dibuatnya apakah melanggar ketentuan-ketentuan hukum pidana yang telah
di atur oleh KUHP, apabila melanggar ketentuan tersebut maka Notaris tersebut
harus di kenakan sanksi berupa sanksi pidana kurungan penjara dan denda yang
diatur dalam KUHP.
Kata Kunci
1

: Tanggung Jawab Pidana, Notaris

) Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara


) Dosen Pembimbing I
***)
Dosen Pembimbing II
**

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengertian perbuatan pidana telah banyak dikemukakan oleh para ahli
hukum pidana. Antara satu pengertian perbuatan pidana dengan pengertian
perbuatan pidana yang lain secara umum terbagi menjadi dua kelompok, yaitu
kelompok yang memisahkan secara tegas antara perbuatan pidana dan
pertanggungjawaban pidana, dan kelompok yang menyamakan antara perbuatan
pidana dan pertanggungjawaban pidana. Pengertian perbuatan pidana semata
menunjuk pada perbuatan baik secara aktif maupun secara pasif. Sedangkan
apakah pelaku ketika melakukan perbuatan pidana patut dicela atau memiliki
kesalahan bukan merupakan wilayah perbuatan pidana, tetapi sudah masuk pada
diskusi pertanggungjawaban pidana. Dengan kata lain, apakah inkonkreto, yang
melakukan perbuatan tadi sungguh-sungguh dijatuhi pidana atau tidak, itu sudah
di luar arti perbuatan pidana.2
Moeljatno mengatakan bahwa pengertian perbuatan pidana adalah
perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman
(sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar larangan
tersebut. Pada kesempatan yang lain, dia juga mengatakan dengan substansi yang
sama bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang di larang dan diancam
dengan pidana, barangsiapa melanggar larangan tersebut.
Marshall mengatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan atau omisi
yang dilarang oleh hukum yang berlaku. Dalam Konsep KUHP tindak pidana
diartikan sebagai perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh
peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan
diancam pidana oleh peraturan perundang-undangan harus juga bersifat melawan
hukum atau bertentangan dengan kesadaran hukum masyarakat. Setiap tindak
pidana selalu dipandang bersifat melawan hukum, kecuali ada alasan pembenar.3
Dengan demikian, membicarakan pertanggungjawaban pidana mau tidak
mau harus didahului dengan penjelasan tentang perbuatan pidana. Sebab
seseorang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana tanpa terlebih dahulu ia
melakukan perbuatan pidana. Adalah dirasakan tidak adil jika tiba-tiba seseorang
harus bertanggung jawab atas suatu tindakan, sedangkan ia sendiri tidak
melakukan tindakan tersebut.4
Menurut Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt)
menyebutkan bahwa akta authentik ialah suatu akta yang di dalam bentuk yang
ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai
umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya.
2

Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2012 , hlm. 97
Andi Hamzah, Asas- Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hlm. 89
4
Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana; Dua Pengertian
Dasar dalam Hukum Pidana,Aksara Baru, Jakarta, 1983, hlm. 20-23
3

Akta authentik merupakan bukti terkuat dan mengikat bagi para pihak
yang ada dalam akta tersebut, suatu akta dapat menghasilkan bukti yang kuat
bagaimana peristiwa yang tersebut terjadi dan akta harus dipercayai tidak bisa di
ragukan kebenarannya dikarenakan dalam pembuatan akta, para pihak berada di
depan pejabat yang berwenang untuk membuat akta tersebut, maka para pihak
tidak bisa meragukan keasliannya. Apabila para pihak meragukan atau
membantah akta tersebut seharusnya mereka dapat membuktikan terlebih dahulu
ketidakbenaran akta autentik tersebut.
Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta
autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam udangundang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya. Wewenang membuat akta
otentik ini hanya dilaksanakan oleh Notaris sejauh pembuatan akte otentik tertentu
tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. 5
Bahwa pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut diatas, sekira pukul
10.00 Wib saksi ILMASTIN, S.Pd.i BIN RUSLI dan sanksi MUSLIM
GUNAWAN, S.Sos BIN SUWANDI datang menghadap terdakwa ke Kantor
Notaris IMRAN ZUBIR DAOED,S.H. di Jalan Pang Lateh Desa Simpang Empat
Kecamatan Benda Sakti Kota Lhokseumawe untuk perubahan anggaran dasar
Lembaga Serikat Pengembang Swadaya Masyarakat (SEPAKAT) dengan
memberikan dokumen sebagai dasar perubahan Anggaran dasar kepada terdakwa
berupa Daftar Absensi Rapat Anggota Lsm Sepakat Lhokseumawe, Berita Acara
Rapat Anggota Lsm Sepakat Lhokseumawe dan foto suasana rapat Anggota
lembaga Sepakat.
Selanjutnya setelah saksi ILMASTIN, S.Pd.i BIN RUSLI dan saksi
MUSLIM GUNAWAN, S. Sos BIN SUWANDI memberikan dokumen sebagai
dasar perubahan tersebut, kemudian terdakwa membuat minuta akta (asli akta
notaris) nomor : 01,- Tanggal 02 November 2012 ;
Bahwa pada saat terdakwa membuat minuta akta (asli akta notaris) Nomor
01,- Tanggal 02 November 2012 tersebut, terdakwa melakukan pemalsuan surat
terhadap akta notaris/akte otentik Nomor : 01,- Tanggal 02 November 2012
tersebut dengan cara membuat ada sebagai penghadap yang menghadap di
hadapan terdakwa halaman 1 akta Notaris tersebut dengan mencantumkan pada
angka III selaku TUAN EDI FADHIL, lahir di lamraya, pada tanggal 16 juni
1984 (seribu sembilan ratus delapanpuluh empat), wiraswasta, bertempat tinggal
di Desa Cot Jambo, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar Pemegang
Kartu Tanda Penduduk Nomor : 1354/04/AB/CJ/2003. Warga Negara Indonesia.
Padahal TUAN EDI FADHIL/saksi EDI FADHIL Bin ILYAS sebagaimana
tersebut dalam Akta Notaris tersebut tidak pernah menghadap dihadapkan
terdakwa untuk pembuatan akta notaris Nomor:01,- Tanggal 02 November 2012
tersebut

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 dan Penjelasan Undang-Undang Nomor


30 Tahun 2004.

Rumusan Masalah
Berikut adalah rumusan masalah yang diteliti dalam skripsi ini yaitu:
1. Bagaimana peranan Notaris dalam pembuatan Akta Authentik?
2. Bagaimana pertanggungjawaban Pidana dalam hal Tindak Pidana
Pemalsuan Akta Authentik?
-Metode Penelitian
1. Jenis Penulisan
Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif
yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat di dalam peraturan
perundang-undangan. Penelitian hukum normatif dilakukan untuk meneliti hukum
dalam pengertian ilmu hukum sebagai ilmu tentang kaidah atau apabila hukum di
pandang sebagai sebuah kaidah yang perumusannya secara otonom tanpa
dikaitkan dengan masyarakat.6
Penelitian tersebut di sebut juga dengan penelitian doctrinal
(doctrinal research).
Penelitian doctrinal dilakukan tidak sebatas melakukan inventarisasi
hukum positif, akan tetapi juga memberikan koreksi terhadap suatu peraturan
perundang-undangan. Kemudian menguji apakah postulat normatif dapat atau
tidak dapat diterapkan untuk sebuah perkara konkrit.7 Penelitian dilakukan dengan
menganalisis putusan yang bekaitan dengan pertanggungjawaban pidana notaris
dalam hal tindak pidana pemalsuan surat yaitu studi Putusan MA No. 40 / Pid.B /
2013 / PN.Lsm. Hal ini dilakukan untuk melihat penerapan hukum positif
terhadap perkara kongkrit yang terjadi di masyarakat terutama terhadap
pertimbangan hakim yang menjadi dasar menjatuhkan putusan.
2. Sumber Data
Data yang dipergunakan penulis dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Data sekunder tersebut mencangkup :
a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat dan
dibuat oleh pihak-pihak yang berwenang. Bahan hukum primer yang digunakan
dalam penulisan skripsi ini yaitu Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP),
Kitap Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) dan Undang-Undang.
b. Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan
hukum primer, seperti rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil
karya dari kalangan hukum dan seterusnya 8. Bahan hukum yang digunakan dalam
6

Edy Ikhsan, Mahmul Siregar, Bahan Kuliah Metode Penelitian Hukum, hal 53
Ibid., hlm. 55
8
Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Singkat,
Edisi 1, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007, hal 13.
7

penulisan skripsi ini ialah kamus hukum. Bahan hukum sekunder yang digunakan
dalam penulisan skripsi ini adalah buku-buku dan dokumen-dokumen yang
berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana notaris, dan putusan MA No. 40 /
Pid.B / 2013 / PN. Lsm. , majalah dan internet yang berkaitan dengan
permasalahan yang telah dipaparkan penulis pada perumusan masalah di atas.
c. Bahan hukum tersier, yakni bahan yang dapat memberikan petunjuk
atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder.
3. Metode Pengumpulan Data
Keseluruhan sumber data hukum di dalam skripsi ini dikumpulkan melalui
studi kepustakaan (library research), yakni melakukan penelitian dengan berbagai
bahan bacaan seperti peraturan perundang-undangan, buku-buku, majalah,
pendapat para sarjana dan bahan lainya yang berkaitan dengan skripsi. Hal ini
dilakukan untuk mendapatkan konsep, teori dan doktrin serta pendapat atau
pemikiran konseptual dan penelitian pendahulu yang berhubungan dengan
telaahan penelitian ini.
4. Analisis Data
Data sekunder yang telah diperoleh dan disusun secara sistematis,
kemudian dianalisis secara kualitatif, yaitu menganalisis melalui data yang sering
disebut penelitian yang holistik. Dikatakan holistik karena mencari informasi
sedalam-dalamnya dan sebanyak-banyaknya tentang aspek yang diteliti.
Ketentuan bahwa data-data yang berbeda tersebut merupakan satu kesatuan yang
utuh dari objek yang diteliti.9
PEMBAHASAN
PERANAN DAN PENGGATURAN HUKUM TERHADAP NOTARIS
Menurut Pasal 1868 KUH Perdata, Akta Authentik adalah suatu akta yang
di buat dalam bentuk yang di tentukan oleh undang-undang, di buat oleh atau di
hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa uuntuk itu di tempat dimana akta
di buatnya. Menurut Pasal 1 angka (1) Undang Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang Jabatan Notaris (UUJN), notaris adalah satu satunya yang mempunyai
wewenang umum itu, artinya tidak turut para pejabat lainnya. Wewenang pejabat
lain adalah pengecualian.
Menurut Wirjono Prodjodikoro, akta authentik adalah akta yang dibuat
dengan maksud untuk dijadikan alat bukti oleh atau dimuka seorang pejabat
umum yang berkuasa untuk itu, Sedangkan menurut Sudikno Mertokusumo, suatu
akta tidaklah cukup apabila akta itu dibuat oleh atau dihadapan pejabat saja,
disamping itu caranya membuat akta authentik haruslah menurut ketentuan yang
ditetapkan oleh undang-undang, suatu akta yang dibuat oleh seorang pejabat tanpa
ada wewenang dan tanpa kemampuan untuk membuatnya atau tidak memenuhi
syarat, tidaklah dapat dianggap sebagai akta authentik, tetapi memopunyai

Edy Ikhsan, Mahmul Siregar, Op.Cit., hal 43.

kekuatan sebagai akta dibawah tangan apabila ditandatangani oleh pihak-pihak


yang bersangkutan.10
Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta
authentik sejauh pembuatan akta authentik tidak di khususkan kepada pejabat
umum lainnya. Pembuatan akta authentik ada yang diharuskan oleh peraturan
perundang-undangan dalam rangka menciptakan kepastian, ketertiban dan
perlindungan hukum. Selain itu, akta authentik yang di buat oleh atau di hadapan
notaris, bukan saja karena diharuskan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi
juga kehendaki oleh pihak yang berkepentingan untuk memastikan hak dan
kewajiban para pihak demi kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum bagi
pihak yang berkepentingan sekaligus bagi masyarakat secara keseluruhan.11
Ambtelijk acten, procesverbaal acten dimasudkan yaitu akta yang dibuat oleh
( door enn ) Notaris atau yang dinamakan akta reelas atau akta pejabat
(ambtelijke akten) sebagai akta yang dibuat oleh Notaris berdasarkan pengamatan
yang dilakukan oleh notaris tersebut. Akta jenis ini diantaranya akta berita acara
rapat umum pemegang saham perseroan terbatas, akta pendaftaran atau
inventarisasi harta peninggalan dan akta berita acara penarikan undian.
Sedangkan Party acten atau akta para pihak dimaksudkan sebagai akta yang
dibuat oleh dan dihadapan Notaris berdasarkan kehendak atau keinginan para
pihak dalam kaitannya dengan perbuatan hukum yang dilakukan oleh para pihak
tersebut, dinamakan akta partij ( partij aktan ). Akta jenis ini diantaranya akta
jual beli, akta sewa menyewa, akta perjanjian kredit dan sebagainya 12
Akta yang dibuat oleh (door) Notaris dalam praktek Notaris disebut Akta
Relaas atau Akta Berita Acara yang berisi berupa uraian Notaris yang dilihat dan
disaksikan Notaris sendiri atas permintaan para pihak, agar tindakan atau
perbuatan para pihak yang dilakukan dituangkan ke dalam bentuk akta Notaris.
Akta yang dibuat di hadapan (ten overstaan)\Notaris, dalam praktik Notaris
disebut Akta Pihak, yang berisi uraian atau keterangan, pernyataan para pihak
yang diberikan atau yang diceritakan di hadapan Notaris. Para pihak berkeinginan
agar uraian atau keterangannya dituangkan ke dalam bentuk akta Notaris.13
Pembuatan akta Notaris baik akta relaas maupun akta pihak, yang menjadi
dasar utama atau inti dalam pembuatan akta Notaris yaitu harus ada keinginan
atau kehendak (wilsvorming) dan permintaan dari para pihak, jika keinginan
permintaan para pihak tidak ada, maka Notaris tidak ada, maka Notaris tidak akan
membuat akta yang dimaksud.

10

Sjaifurrachman., Aspek Pertanggungjawaban Notaris dalam Pembuatan Akta,


CV. Mandar Maju, Bandung, 2011, hlm. 25
11
Habib Adjie II, Hukum Notaris Indonesia, PT. Refika Aditama, Bandung, 2009,
hlm 127
12

G.H.S Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, Cetakan ke -5, Jakarta,


Erlangga, hlm. 51-52
13
Habib Adjie., Op.Cit., hlm. 128

Untuk memenuhi keinginanan permintaan para pihak Notaris dapat


memberikan salaran dengan tetap berpijak pada aturan hukum . Ketika saran
Notaris diikuti oleh para pihak dan dituangkan dalam akta Notaris, meskipun
demikian tetap bahwa hal tersebut tetap merupakan keinginan dan permintaan
para pihak, bukan saran atau pendapat Notaris atau isi akta merupakan perbuatan
para pihak bukan perbuatan atau tindakan notaris.
Pengeritan seperti tersebut di atas merupakan salah satu karakter yuridis
dari akta Notaris, tidak berarti Notaris sebagai pelaku dari akta tersbeut, Notaris
tetap berada di luar para pihak atau bukan pihak dalam akta tersebut. Dengan
kedudukan Notaris seperti itu, sehingga jika suatu akta Notaris dipermasalahkan,
maka kedudukan Notaris bukan sebagai pihak atau yang turut serta melakukan
atau membantu para pihak dalam kualifikasi Hukum Pidana atau sebagai Tergugat
atau Turut Tergugat dalam pekara perdata. Penempatan Notaris sebagai pihak
yang turut serta atau membantu para pihak dengan kualifikasi membuat atau
menempatkan keterangan palsu ke dalam akta otentik atau menempatkan Notaris
sebagai pihak dengan kualifikasi membuat atau menempatkan keterangan palsu ke
dalam akta authentik atau menempatkan Notaris sebagai tergugat yang berkaitan
dengan akta yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris, maka hal tersebut telah
mencederai akta Notaris dan Notaris yang tidak dipahami oleh aparat hukum
lainnya mengenai kedudukan akta Notaris dan Notaris di Indonesia. Siapapun
tidak dapat memberikan penafsiran lain atas akta Notaris atau dengan kata lain
terikat dengan akta Notaris tersebut.14
Adapun pengaturan tentang kewenangan notaris yaitu terdapat pada pasal 15
Undang-Undang Nomor 02 Tahun 2014 yang berbunyi:15
1. Notaris berwenang membuat Akta authentik mengenai semua perbuatan,
perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundangundangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk
dinyatakan dalam akta authentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan
akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta,
semuanya itu sepanjang pembuatan akta itu tidak juga ditugaskan atau
dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh
undang-undang.
2. Selain wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Notaris
berwenang pula :
a. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal
surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus.
b. membukukan seurat di bawah tangan dengan mendaftar dalam
buku khusus.
c. membuat kopi dari asli surat di bawah tangan berupa salinan yang
memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat
yang bersangkutan.
d. melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya.

14
15

Habib Adjie.,Cetakan I.,Op.Cit., hlm 44-45


Pasal 15 Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor 02 Tahun 2014.

e. memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan


akta.
f. membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan atau
g. membuat akta risalah lelang.
3. Selain kewenangan sebagaimana di maksud pada ayat (1) dan ayat (2),
Notaris mepunyai kewenangan lain yang di atur dalam peraturan
perundang-undangan.
Di samping itu juga dapat dilihat dalam rumusan ketentuan Pasal 15 ayat (2)
huruf f ini menimbulkan multi penafsiran dan penafsiran terhadap pasal ini
menumbulkan adanya dua pandangan tentang arti kewenangan Notaris berkaitan
dengan pertanahan yaitu:16
a. Notaris berwenang membuat akta yang objeknya tanah dalam arti
luas meliputi baik yang menjadi kewenangan PPAT berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 maupun kewenangan
lainnya yang tidak diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 37
Tahun 1998
b. Notaris berwenang membuat akta yang objeknya tanah dalam arti
sempit, yang tidak termasuk kewenangan PPAT berdasarkan PP
Nomor 37 Tahun 1998
Adapun rumusan Pasal 15 ayat (2) huruf g ini menimbulkan multi
penafsiran, dan penafsiran terhadap pasal ini menimbulkan adanya dua pandangan
tentang arti kewenangan Notaris berkaitan dengan akta risalah lelang yaitu; 17
a. Pertama, setiap Notaris secara serta merta berwenang untuk
membuat akta risalah lelang artinya jabatan Notaris dengan jabatan
pejabat lelang disatukan, begitu menjadi Notaris otomatis ia
menjalankan pekerjaan-pekerjaan pejabat lelang. Dengan demikian
jika seorang sudah diangkat menjadi Notaris ia tidak perlu diangkat
menjadi pejabat lelang.
b. Kedua,
tidak semua Notaris mempunyai wewenang untuk
membuat risalah lelang walaupun Notaris dan pejabat lelang
mempunyai kualifikasi yang sama sebagai pejabat umum, hanya
Notaris yang telah disahkan dan ditetapkan sebagai pejabat lelang
kelas II yang berwenang untuk membuat akta risalah lelang.
Adapun beberapa akta authentik yang merupakan wewenang Notaris dan
juga menjadi wewenang pejabat atau instansi lain, yaitu:18
1. Akta pengakuan anak di luar kawin (Pasal 281 BW);
2. Akta berita acara tentang kelalaian pejabat penyimpan hipotik (Pasal 1227
BW)

16

Sjaifurrachman.,Op.Cit.,hlm 82-83
Ibid,. hlm 85
18
Habib Adjie., Cetakan ke III.,Op.Cit., hlm 79
17

3. Akta berita acara tentang penawaran pembayaran tunai dan konsinyasi (


Pasal 1405 dan 1406 BW),
4. Akta protes wesel dan cek ( Pasal 143 dan 218 WvK).
5. Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) (Pasal 15 ayat
(1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996).
6. Membuat akta risalah lelang.
Adapun kewenangan khusus Notaris lainnya, yaitu membuat akta dalam
bentuk in Originali, yaitu akta :19
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pembayaran uang sewa, bunga, dan pensiun;


Penawaran pembayaran tunai;
Protes terhadap tidak dibayarnya atau tidak diterimannya surat berharga;
Akta kuasa;
Keterangan kepemilikan; atau
Akta lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Akta yang di buat oleh Notaris hanya akan menjadi akta authentik apabila
notaris mempunyai wewenang untuk meliputi 4 hal, yaitu :20
1. Notaris harus berwenang sepanjang menyangkut akta yang dibuat
itu. Hal ini sesuai dengan Pasal 15 ayat (1) UUJN, dimana notaris
adalah pejabat umum yang dapat membuat akta yang ditugaskan
kepadanya berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang untuk
kepentingan siapa akta itu dibuat. Pasal 52 ayat (1) UUJN
menyatakan bahwa Notaris tidak diperkenankan membuat akta
untuk diri sendiri, istri/suami, atau orang yang mempunyai
hubungan keluarga dengan notaris baik karena perkawinan maupun
hubungan darah dalam garis lurus ke bawah dan/ atau ke atas tanpa
pembatasan derajat, serta dalam garis kesamping dengan derajat
ketiga, serta menjadi pihak untuk diri sendiri, maupun dalam suatu
kedudukan ataupun dengan perantara kuasa. Maksud dan tujuan
dari ketentuan ini adalah untuk mencegah terjadinya tindakan
memihak dan penyalahgunaan jabatan.
3. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat dimana akta
itu dibuat. Menurut Pasal 18 UUJN, notaris mempunyai tempat
kedudukan di daerah kabupaten/kota. Wilayah jabatan notaris
meliputi seluruh wilayah propinsi dari tempat kedudukkannya.
Akta yang dibuat di luar jabatannya adalah tidak sah.
4. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan
akta itu. Notaris tidak boleh membuat akta selama ia masih cuti
atau dipecat dari jabatannya, demikian juga notaris tidak boleh
membuat akta sebelum ia memangku jabatannya.
5. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomot 2 tahun 2004 tentang
Jabatan Notaris, pengawasan Notaris tidak dilakukan oleh
19
20

Ibid,. hlm. 82
G.H.S. Lumban Tobing, Op. Cit., hal. 49-50

Pengadilan Negeri sesuai wilayah kerja Notaris yang bersangkutan


berada. Ada dua lembaga yang berwenang untuk melakukan
pengawasan terhadap Notaris, yaitu lembaga Majelis Pengawas
Notaris yang dibentuk oleh menteri dalam hal ini Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam rangka
pelaksanaan pengawas terhadap Notaris dan Dewan Kehormatan
yang merupakan salah satu dari alat pelengkapan organisasi
Notaris dalam hal ini Ikatan Notaris Indonesia. Kedua lembaga
tersebut berwenang untuk mengawasi Notaris sampai dengan
penjatuhan sanksi bagi Notaris yang dinyatakan melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku. Terdapat
perbedaan kewenangan antara kedua lembaga tersebut dikarenakan
keduanya terbentuk dari lembaga yang berbeda, namun keduanya
tetap tidak dapat di pisahkan dari keberadaan organisasi Notaris.21
6. Pengawasan dan pemeriksaan terhadap Notaris yang dilakukan
oleh Majelis Pengawas, yang di dalamnya ada unsur Notaris,
dengan demikian setidaknya Notaris diawasi dan diperiksa oleh
anggota Majelis Pengawas yang memahami dunia Notaris. Adanya
anggota Majelis Pengawas dari kalangan Notaris merupakan
pengawasan internal, artinya dilakukan oleh sesama Notaris yang
memahami dunia Notaris luar dalam. Sedangkan unsur lainnya
merupakan unsur eksternal yang mewakili dunia akademik,
pemerintah dan masyarakat. Perpaduan keanggotaan Majelis
Pengawas diharapkan dapat memberikan sinergi pengawasan dan
pemeriksaan yang objektif sehingga setiap pengawasan dilakukan
berdasarkan aturan hukum yang berlaku, dan para notaris dalam
menjalankan tugas jabatannya tidak menyimpang dari UUJN
karena diawasi secara internal dan eksternal.22
7.
Dewan kehormatan dan Majelis Pengawas Notaris
merupakan dua lembaga yang berbeda dan mempunyai
kewenangan yang berbeda pula dalam hal pelaksanaan pengawasan
bagi Notaris. Dewan kehormatan dibentuk sebagai alat
perlengkapan organisasi Ikatan Notaris Indonesia, sedangkan
Majelis Pengawas Notaris dibentuk oleh Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia. Dari kewenangannya, maka
Dewan Kehormatan berwenang untuk melakukan pengawasan dan
pemeriksaan atas pelanggaran kode etik organisasi yang bersifat
tidak berkaitan secara langsung dengan masyarakat atau hanya
bersifat internal organisasi saja, sedangkan Majelis Pengawas
Notaris berwenang melakukan pengawasan dan pemeriksaan
terhadap pelanggaran jabatan Notaris, dan kode etik jabatan
Notaris apabila berkaitan langsung dengan masyarakat yang
menggunakan jasa notaris, meskipun dalam kewenangan masingmasing tercantum bahwa kedua lembaga tersebut berwenang
melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap pelaksanaan dan
21
22

Sjaifurracman., Op.Cit., hlm. 261


Putri A.R., Op.Cit., hlm. 50

pelanggaran kode etik Notaris, namun lingkup kewenangannya


berbeda berdasarkan bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh
Notaris. Apabila pelanggaran kode etik yang dilakukan bersifat
internal, maka Dewan Kehormatan bertugas untuk melakukan
pemeriksaan atas pelanggaran tersebut dan bila sifat pelanggaran
yang dilakukan telah merugikan klien atau masyarakat, maka
Majelis Pengawas Notaris yang bertugas untuk melakukan
pemeriksaan. Namun demikian, Dewan Kehormatan tetap bertugas
untuk membantu Majelis Pengawas Notaris dalam hal
pemerikasaan pelanggaran kode etik dan jabatan Notaris. 23
Mengenai mekanisme yang dilakukan oleh Majelis Pengawas Notaris
dalam rangka laporan masyarakat tentang adanya dugaan pelanggaran kode etik
Notaris atau pelanggaran pelaksanaan jabatan Notaris adalah sebagai berikut :
untuk keperluan pemeriksaan sehubungan dengan ada dan diterimanya laporan
masyarakat, Ketua Majelis Pengawas Daerah membentuk Majelis Pemeriksa yang
berasal dari setiap unsur, dan terdiri dari seorang ketua dan dua orang anggota
yang dibantu oleh seorang sekretaris dalam waktu paling lambat lima hari kerja
sejak diterimanya laporan, Majelis Pemeriksa harus menolak melakukan
pemeriksaan terhadap Notaris terlapor yang mempunyai hubungan perkawinan
dan hubungan darah dalam garis tanpa pembatasan derajat dan garis ke samping
sampai derajat ketiga, laporan masyarakat tersebut harus dilakukan secara tertulis
dan dalam bahasa Indonesia disertai bukti-bukti yang dapat pertanggung
jawabkan, sebelum pemeriksaan dilakukan baik ke dalam pelapor maupun
terlapor atau Notaris yang hendak diperiksa diberi tahu secara tertulis, dalam
waktu sekurang-kurangnya lima hari kerja sebelum pemeriksaan dilakukan,
apabila terlapor tidak hadir, sekalipun telah dipanggil secara patut maka dilakukan
pemanggilan kedua, apabila setelah dilakukan pemanggilan kedua ternyata
terlapor tetap tidak bisa hadir maka pemeriksaan tetap dilakukan dan putusan
diambil serta laporan dinyatakan gugur dan tidak dapat diajukan lagi, pemeriksaan
dilakukan paling lambat dalam jangka pertama dimana pelapor hadir Majelis
Pemeriksa mulai melakukan pemeriksaan dengan membacakan laporan dan
keterangan pelapor, majelis memberikan kesempatan yang cukup kepada terlapor
untuk melakukan pembelaan diri, pelapor maupun terlapor dapat mengajukan
bukti-bukti dalil yang diajukan Majelis Pemeriksa membuat berita acara
pemeriksaan yang ditandatangani oleh ketua dan sekretaris sedapat mungkin
sebanyak dua rangkap, dimana satu rangkap untuk disampaikan kepada Majelis
Pengawas Wilayah.
Agar pemeriksaan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang
ditentukan oleh Undang-Undang Jabatan Notaris berikut peraturan pelaksanannya,
maka perlu dilakukan hal-hal atau dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: untuk
pihak pemeriksa atau Majelis Pemeriksa, setiap anggota Majelis Pemeriksa
dituntut untuk menguasai hal-hal yang berkenaan dan/atau berhubungan dengan
materi yang hendak diperiksa, maupun teknik pemeriksaan terutama dalam
rangka mendapatkan data yang diperlukan, sebelum atau pada waktu pemeriksaan
dilakukan, sebaiknya Majelis Pemeriksa menjelaskan tentang maksud dan tujuan
23

Sjaifurracman., Op.Cit., hlm. 263

pebentukan, serta wewenang dan kewajiban Majelis Pengawas, termasuk di


dalamnya wewenang dan kewajiban Majelis Pemeriksa.
Dalam melaksanakan pemeriksaan, kewajiban Majelis pemeriksa tidak
semata-mata mencari dan menemukan data/atau yang berhubungan dengan materi
laporan masyarakat yang disampaikan kepada majelis, namun yang tidak kalah
pentingnya adalah menyampaikan informasi dengan maksud untuk memberikan
pemahaman yang benar tentang materi laporan tersebut baik ditinjau dari aturan
hukum materill yang berlaku maupun dari hukum yang mengatur tentang
pelaksanaan tugas jabatan Notaris serta kode etik Notaris, kepada Notaris yang
sedang diperiksa, apabila dipandang perlu dapat diberi penjelasan mengenai halhal yang dipandang sangat penting, misalnya tentang tanggung jawab Notaris
terhadap akta yang dibuat oleh atau dihadapannya sekalipun pada prinsipnya
Notaris hanya bertugas mengkonstatir hal-hal yang dikehendaki dan dinyatakan
oleh para pihak atau penghadap, sebab ada bagian tertentu dari akta yang
merukapan tanggung jawab sepenuhnya dari Notaris pembuat akta, yaitu
mengenai awal dan akhir kata.24
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA NOTARIS DALAM HAL
PEMALSUAN AKTA AUTHENTIK
Pertanggungjawaban pidana, dalam istilah asing disebut juga
Teorekenbaardheid atau criminal responsibilty, yang menjurus kepada
pemidanaan pelaku dengan maksud untuk menentukan seseorang tersangka atau
terdakwa dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana yang terjadi atau tidak.
Pertanggungjawaban pidana itu sendiri adalah diteruskannya celaan yang objektif
yang ada pada tindak pidana.25
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pengertian dasar dari hukum
pidana ialah perbuatan pidana dan pertanggungjawab pidana. Unsur formil dari
perbuatan pidana ialah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana,
barang siapa yang melanggar larangan tersebut, sedangkan unsur materiilnya ialah
bersifat melawan hukum. Unsur pertanggungjawaban pidana ialah kesalahan. 26
Dari apa yang telah di sebutkan di atas, maka dapat dikatakan bahwa
kesalahan terdiri atas beberapa unsur, ialah:27
1. Adanya kemampuan bertanggung jawab pada pelaku artinya
keadaan jiwa pelaku harus normal.
2. Hubungan batin antara pelaku dengan perbuatannya, yang berupa
kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa): ini disebut bentukbentuk kesalahan.
3. Tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada
alasan pemaaf.
24
25

Sjaifurrachman., Op.Cit,. hlm 277-279

Mahmud Mulyadi, Feri Antoni Surbakti, Politik Hukum Pidana Terhadap Kejahatan
Korporasi, PT. Softmedia, Jakarta, 2010, hal. 34
26
S.R. Sianturi, Azas-Azas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Cetakan
Keempat, Alumni Aheam, Jakarta, 1996, hal. 163.
27

Moeljatno, Op.Cit, hlm. 170

Pemalsuan surat (valschheid in gescheriften) diatur dalam Bab XII buku


II KUHP, dari Pasal 263 s/d 276, yang bentuk-bentuknya adalah:
1. Pemalsuan surat dalam bentuk standar atau bentuk pokok
(eenvoudigevalshheid in geschiften), yang juga disebut sebagai
pemalsuan surat pada umumnya (Pasal 263).
2. Pemalsuan surat yang diperberat (gequalificeerde valshheids in
gescgeriften) (Pasal 264).
3. Menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam akta authentik
(Pasal 266).
4. Pemalsuan surat keterangan dokter (Pasal 267 dan 268).
5. Pemalsuan surat-surat tertentu (Pasal 269,270 dan 271).
6. Pemalsuan surat keterangan pejabat tentang hak milik (Pasal 267
dan 268).
7. Menyimpan bahan atau benda untuk pemalsuan surat (Pasal 275).
Pasal 272 dan273 telah dicabut melalui Stb. 1926 No. 359 jo 429.
Sementara Pasal 276 tidak memuat rumusan tindak pidana, melainkan tentang
ketentuan dapatnya dijatuhkan pidana tambahan terhadap si pembuat yang
melakukan pemalsuan surat dalam Pasal 263 sampai dengan 268, berupa
pencabutan hak-hak tertentu bertentu berdasarkan Pasal 35 No. 1-4.
Pada umumnya pemalsuan surat terdapat pada Pasal 263 yang berbunyi
ayat (1) Barangsiapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat
menimbulkan suatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang
diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai
atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan
tidak dipalsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian,
karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
Pemalsuan surat dalam Pasal 263 terdiri dari dua bentuk tindak pidana,
masing-masing dirumuskan dalam ayat (1) dan ayat (2). Berdasarkan unsur
perbuatannya pemalsuan surat ayat (1), disebut dengan membuat surat palsu dan
mamalsu surat. Sementara pemalsuan surat dalam ayat (2) disebut dengan
memakai surat palsu atau surat yang dipalsu. Meskipun dua bentuk tindak pidana
tersebut saling berhubungan, namun masing-masing berdiri sendiri-sendiri, yang
berbeda tempos dan locus tindak pidananya serta dapat dilakukan oleh si pembuat
yang tidak sama.28
Maka dari itu dapat simpulkan bahwa Tindak Pidana Pemalsuan tersebut
telah melanggar kode etik Notaris yang terdapat pada pasal 3 ayat 4 dimana dalam
penjelasan pasal ini disebutkan bahwa Notaris harus bertindak jujur, mandiri tidak
berpihak, penuh rasa tanggung jawab, berdasarkan peraturan perundang-undangan
dan Isi sumpah jabatan Notaris, dimana apabila seorang Notaris yang melakukan
tindak pidana pemalsuan jelas ia tidak bertindak jujur dan pastilah berpihak
kepada seseorang dan ini sudah melanggar ketentuan Kode Etik Notaris. Oleh
karena apabila seseorang Notaris melakukan Tindak Pidana Pemalsuan ia pasti
telah melanggar Kode Etik yang telah di tetapkan Ikatan Notaris Indonesia.
28

Adami Chazawi|Ardi Ferdian, Op.Cit., hlm. 135-137

Menurut UUJN seorang Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya terbukti


melakukan pelanggaran, maka Notaris dapat dikenai sanksi berupa sanksi perdata,
administrasi dan kode etik Notaris. Ada kalanya dalam praktek ditemukan bahwa
suatu tindakan hukum atau pelanggaran yang dilakukan Notaris sebenarnya dapat
dijatuhi sanksi perdata atau administarsi atau kode etik, tapi nditarik atau
dikualifikasikan sebagai suatu tindak pidana yang dilakukan oleh Notaris dengan
dasar Notaris telah membuat surat palsu atau memalsukan akta. 29
Dengan demikian pemidanaan terhadap Notaris dapat saja dilakukan dengan
batasan jika:30
a. Ada tindakan hukum dari Notaris terhadap aspek formal akta yang
sengaja, penuh kesadaran kenisyafan serta direncanakan, bahwa akta yang
dibuat dihadapan Notaris atau oleh Notaris, bersama-sama dengan
penghadap (sepakat) untuk dijadikan dasar untuk melakukan suatu tindak
pidana;
b. Ada tindakan hukum dari Notaris dalam membuat akta dihadapan atau
oleh Notaris yang jika diukur berdasarkan UUJN tidak sesuai dengan
UUJN; dan
c. Tindakan Notaris tersebut tidak sesuai menurut instansi yang berwenang (
untuk menilai tindakan Notaris, dalam hal ini Majelis Pengawas Notaris).
Sanksi merupakan tindakan hukuman untuk memaksa orang menepati
perjanjian atau mentaati ketentuan undang-undang. Setiap aturan hukum yang
berlaku di Indonesia selalu ada sanksi pada ahkir aturan hukum tersebut.
Pencantuman sanksi dalam berbagai aturan hukum tersebut seperti merupakan
kewajiban yang bersangkutan tidak aturan hukum. Seakan-akan aturan hukum
yang bersangkutan tidak bergigi atau tidak dapat ditegakkan atau tidak akan
dipatuhi apabila pada bagian akhir tidak mencantumkan sanksi. Tidak ada
gunanya memberlakukan kaidah-kaidah hukum manakala kaidah-kaidah itu tidak
dapat dipaksakan melalui sanksi dan menegakkan kaidah-kaidah dimaksud secara
prosedural (hukum acara).
Amar Putusan Pengadilan Negeri
Putusan Pengadilan Negeri Lhoksumawe Nomor 40/Pid.B/2013/PN.Lsm
tanggal 29 April 2013, amar putusannya, yaitu:
1. Menyatakan, bahwa Terdakwa, IMRAN ZUBIR DAOED,S.H, BIN M.
DAOED telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan
tindak pidana Pemalsuan Akta Otentik;_
2. Menjatuhkan Pidana terhadap terdakwa tersebut oleh karena itu dengan
pidana penjara selama 2 (dua) bulan ;
3. Memerintahkan masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa
dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan ;
4. Menetapkan agar terdakwa tetap di tahan ;
5. Memerintahkan barang bukti berupa :
29
30

Putri A.R., OpCit., hlm 56-57


Ibid., hlm. 58

a) 1 (satu) buah Akta Notaris Imran Zubir Daoed, SH (asli)


berdasarkan SK.Menteri Hukum dan HAM RI, Nomor : C389.HT.03.01-Tahun 2005 Tanggal 05 Desember 2005, dengan
Nomor 09, Tanggal 18 Oktober 2006 Lembaga Serikat
Pengembang Swadaya Masyarakat (SEPAKAT) ;
Dikembalikan kepada yang berhak yakni Lembaga Serikat
Pengembang Swadaya masyarakat (SEPAKAT).
b) 1(satu) buah Akte Notaris Imran Zubir Daoed, SH (asli)
berdasarkan SK. Menteri Hukum dan Ham RI, Nomor : C-389.
HT.03.01-Tahun 2005 Tanggal 05 Desember 2005, dengan Nomor
01, Tanggal 02 November 2012 tentang PERUBAHAN
ANGGARAN DASAR Lembaga Serikat Pengembang Swadaya
Masyarakat (SEPAKAT) ;
c) 1 (satu) lembar Daftar Absensi Rapat Anggota II Lembaga
Sepakat, Hari Senin tanggal 29 Oktober 2012;
d) 2 (dua) lembar Notulen Rapat Anggota LSM Sepakat
Lhokseumawe, Hari Senin tanggal 29 Oktober 2012;
e) 2 (dua) lembar Berita Acara Rapat Anggota LSM Sepakat
Lhokseumawe hari Senin tanggal, 29 Oktober 2012;
6. Menghukum pula terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp.
2000,00 (Dua ribu rupiah);
B. Pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri
Adapun yang menjadi pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri
Lhokseumawe Nomor : 40/Pid.B/2013/PN.Lsm. tanggal 29 April 2013, yaitu:
a) Mennimbang, bahwa untuk menentukan terdakwa bersalah
melakukan tindak pidana, maka harus terlebih dahulu di teliti
apakah fakta-fakta hukum yang telah terungkap tersebut di atas,
telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan oleh
penuntut umum;
b) Menimbang, bahwa terdakwa didakwaan oleh penuntut umum
dalam dakwaannya yang disusun secara tunggal yaitu melanggar
pasal 264 ayat (1) ke-1 KUHP;
c) Menimbang bahwa untuk dapat diterapkan ketentuan yang
tercantum dalam dakwaan tersebut diatass, maka harus memenuhi
unsur-unsur sebagai berikut:
1. BARANG SIAPA;
2. DENGAN SENGAJA MEMBUAT SURAT PALSU;
3. TERHADAP AKTA OTENTIK;
UNSUR KE-1 BARANG SIAPA
Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan Barang Siapa adalah orang
atau persoon sebagai pelaku perbuatan pidana dan perbuatan tersebut dapat
dipertanggungjawabkan kepadanya:

Menimbang, bahwa orang yang disangka/didakwa telah melakukan


perbuatan pidana adalah IMRAN ZUBIR DAOED,SH. Bin M.DAOED dengan
identitas lengkap tersebut dalam surat dakwaan, dimana menurut penilaian
majelis Hakim, Terdakwa, IMRAN ZUBIR DAOED, SH. Bin M.Daoed,
tersebut adalah dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, sehingga dapat
dimintakan pertanggungjawabkan atas perbuatan yang dilakukannya ;
Menimbang, bahwa dengan demikian unsur ke-1 telah terpenuhi ;
UNSUR KE-2 DENGAN SENGAJA MEMBUAT SURAT PALSU ;
Menimbang, bahwa pengertian Membuat surat palsu dapat di artikan isi
dari surat/akte ini tidak berdasarkan kebenaran, tetapi bertantangan dengan
kebenaran ;
Menimbang,
bahwa
perbuatan
tersebut
dilakukan
dengan
keinsyafan/kesadaran yang nyata dan akibat perbuatan tersebut memang
dikehendaki oleh pelaku. Artinya, bahwa si pelaku benar-benar mengetahui,
bahwa surat yang ia palsu, akan ada akibat hukumnya ;
Menimbang, bahwa selanjutnya surat yang dipalsu itu harus suatu surat
yang antara lain adalah dapat menerbitkan suatu hak, misalnya : Akta otentik,
ijazah, karcis tanda masuk, surat andil, dan sebagainya ;
Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi yaitu saksi
ilmastin, S.pd.i. Bin Rusli, dan saksi Muslim Gunawan, S.Sos Bin Suwandi serta
keterangan terdakwa bahwa pada hari Jumat tanggal, 02 Nopember 2012 sekitar
Jam 10.00 Wib, dimana saksi-saksi tersebut datang menghadap terdakwa ke
Kantor Notaris IMRAN ZUBIR DAOED, S.H., di jalan Pang Lateh Desa
Simpang empat Kec.Banda sakti Kota Lhokseumawe, untuk melakukan
perubahan anggaran Dasar Lembaga Serikat Pengembang Swadaya Masyarakat
(SEPAKAT), bahwa para saksi tersebut memberikan dokumen sebagai dasar
perubahan anggaran dasar kepada terdakwa berupa daftar absen rapat anggota-II
lembaga Sepakat, Notulen Rapat Anggota Lsm Sepakat Lhokseumawe, Beritaacara rapat Anggota Lsm Sepakat Lhokseumawe dan Foto Suasana rapat anggota
Lembaga sepakat. Bahwa setelah saksi ilmastin dan saksi gunawan, memberikan
dokumen sebagai dasar perubahan kepada terdakwa untuk di Veritifikasi,
kemudian terdakwa melakukan Vertifikasi terdapat dokumen tersebut dan
selanjutnya terdakwa membuat minuta akta (asli akta Notaris) Nomor : 01,
tanggal, 02 November 2012 tentang Perubahan Anggaran Dasar Serikat
Pengembang Swadaya Masyarakat (Sepakat) ;
Menimbang, bahwa sebagaimana fakta dipersidangan, berdasarkan
keterangan terdakwa dan keterangan saksi Edi Fadhil bahwa saat membuat minuta
akta (asli akta notaris) Nomor: 01,- Tanggal, 02 November 2012 tersebut,
terdakwa melakukan pemalsuan isi surat/akta tersebut yang tidak sesuai
sebagaimana kebenarannya, dimana proses pembuatan akta otentik Nomor : 01,Tanggal, 02 November 2012 tersebut dengan cara menyebutkan nama saksi Edi
Fadhil sebagai salah satu orang yang menghadap dihadapan terdakwa dengan
mencantumkan nama Tuan Edi Fadhil, lahir di Lamraya pada tanggal, 16 Juni

1984 ( seribu sembilan ratus delapan puluh empat) wariswasta, bertempat tinggal
di Desa Cot Jambo, Kecamatan Montasik, Kebupaten Aceh Besar, pada hal Tuan
Edi Fadhil/Saksi Edi Fadhil tersebut sebagaimana tertuang didalam Akta Notaris
yang dibuat terdakwa, tidak pernah menghadap dihadapan terdakwa untuk
perbuatan akta perubahan anggaran dasar Lsm Sepakat Nomor : 01.- tanggal, 02
November 2012 tersebut karena saat akta dibuat Tuan Edi Fadhil sedang ada
diluar aceh, hal ini saksi Edi Fadhli merasa sangat dirugikan oleh perbuatan
terdakwa karena mencantumkan namanya pada akta yang dibuat oleh terdakwa,
dimana Edi Fadhil disamping telah dirugikan, juga selaku ketua Umum Lsm
Sepakat tidak dapat menarik uang Lsm sepakat yang masih tersimpan di Bank
Panin Kota Lhokseumawe, guna operasional Lsm tersebut ;
Menimbang, bahwa berdasarkan uraian fakta tersebut diatas, majelis
Hakim meyakini unsur ke -2 Pemalsuan Surat telah terpenuhi;
UNSUR KE-3 : TERHADAP AKTA OTENTIK :
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta dipersidangan yang diperoleh dari
keterangan para saksi dan ketarangan terdakwa serta dikaitkan dengan alat bukti
surat, pada hari Jumat, tanggal, 02 November 2012 sekira pukul 10.00 Wib saksi
bernama Ilmastin dan saksi Muslim Gunawan, datang menghadap terdakwa di
kantor Notaris IMRAN ZUBIR DAOED, SH, di jalan Pang Lateh Desa Simpang
Empat Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe guna untuk melakukan
perubahan anggaran dasar Lembaga Serikat Pengembang Swadaya Masyarakat (
SEPAKAT) ;
Menimbang, bahwa maksud saksi ilmastin dan saksi Muslim Gunawan,
melakukan perubahan aggaran dasar Lsm sepakat tersebut, karena Lsm tersebut
masa kepengurusan sudah lewat waktu, juga untuk menarik uang Lsm sepakat
yang masih ada di Panin Bank ;
Menimbang, bahwa dalam akta perubahan anggaran LSM Sepakat tersebut
yaitu No. 01,- Tanggal,02 November 2012 tersebut, ikut dibuat oleh terdakwa
para penghadap selain saksi Ilmastin dan Gunawan, juga Tuan Edi Fadhil;
Menimbang, bahwa sebagaimana fakta dipersidangan, berdasarkan
keterangan terdakwa dan keterangan saksi Edi Fadhil bahwa saat membuat minuta
akta (asli akta notaris) Nomor : 01,- Tanggal, 02 November 2012 tersebut,
terdakwa telah melakukan pemalsuan data terhadap surat akta Notaris/akta otentik
Nomor : 01,- tanggal,02 November 2012 tersebut dengan cara membuat pada akta
otentik tersebut sebagai penghadap dihadapan terdakwa dengan mencantumkan
nama Tuan Edi Fadhil, lahir di lamraya pada tanggal, 16 Juni 1984 (seribu
sembilan ratus delapan puluh empat) wiraswasta, bertempat tinggal di Desa Cot
Jambo, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar, pada hal tuan Edi Fadhil/
sanksi Edi Fadhil tersebut sebagaimana tertuang didalam Akta Notaris yang
dibuat terdakwa tidak pernah menghadap dihadapan terdakwa untuk pembuatan
akta Notaris Nomor: 01,- Tanggal, 02 November 2012 tersebut karena saat kata
dibuat Tuan Edi Fadhil sedang ada diluar aceh ;

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta dipersidangan, tujuan saksi ilmastin


dan saksi Muslim Gunawan, melakukan perubahan anggaran dasar LSM Sepakat
tersebut untuk melakukan penarikan uang program kegiatan di Lembaga LSM
Sepakat yang tersimpan di Bank PANIN Kota Lhokseumawe sejumlah Rp.
38.000.000, (tiga puluh delapan juta rupiah), dengan membawa ke Bank Panin
Akta Notaris No.01,- tanggal, 02 November 2012 yang dibuat oleh terdakwa,
yang saat akta dibuat tanpa dihadri oleh penghadap Tuan Edi Fadhil tersebut,
guna perubahan spesimen (pergantian tanda tangan) atau pengkinian data Lsm
Sepakat pada Bank Panin tersebut, maka dengan adanya perubahan Spesimen
tersebut di Bank Panin, saksi Edi Fadhil yang sebelumnya selaku Ketua Umum
dalam susunan Pengurus Lsm sepakat bisa mencairkan uang di Bank Panin
tersebut, akhirnya tidak dapat lagi melakukan penarikkan uang ataupun
melakukan tanda tangan terhadap rekening Giro milik Lsm Sepakat, hal tersebut
diketahui oleh saksi Edi Fadhil setelah mendapat informasi dari Bank Panin, maka
saat itu saksi Edi Fadhil meminta kepada Bank Panin untuk memblokir lebih
dahulu uang program tersebut sehingga saksi ilmasin dan saksi Muslim Gunawan
belum dapat melakukan penarikan uang program Lsm Sepakat sejumlah Rp.
38.000.000 (tiga puluh delapan juta rupiah) yang tersimpan di Bank Panin
tersebut ;
Menimbang, bahwa berdasarkan uraian fakta tersebut diatas Majelis
Hakim berkesimpulan unsur ke-3 telah terpenuhi ;
Menimbang, bahwa oleh karena semua unur yang terkandung dalam pasal
264 ayat (1) ke -1 KUHP, sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan tunggal
telah terpenuhi, maka terdakwa harus dinyatakan telah terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pada dakwaan tunggal tersebut;
Menimbang, bahwa sebelum majelis hakim menjatuhkan hukuman,
terlebih dahulu akan mempertimbangkan tentang hal-hal yang memberatkan
maupun hal-hal yang meringankan bagi diri terdakwa ;
Hal-hal yang memberatkan:
1. Perbuatan terdakwa Merugikan Keanggotaan Lsm Sepakat itu sendiri
sehingga uang yang semestinya bisa dicairkan, akhirnya di bekukan untuk
sementara oleh pihak Bank;
Hal-hal yang meringankan:
1. Terdakwa belum pernah dihukum;
2. Terdakwa bersikap sopan dalam persidangan;
3. Terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya ;
4. Terdakwa mempunyai tanggung jawab keluarga anak dan isteri ;
- Dakwaan dan Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum;
-Surat Dakwaan

Jaksa Penuntut Umum di hadapan persidangan telah mengajukan dakwaan


yang disusun secara alternative terhadap Terdakwa. Terdakwa dihadapkan di
persidangan Pengadilan Negeri Lhokseumawe, yang pokoknya sebagai berikut:
Bahwa ia terdakwa IMRAN ZUBIR DAOED, S.H. BIN M.DAOED
selaku Notaris yang berwenang membuat Akta Otentik sesuai dengan Surat
Keputusan Menteri Hukum dan HAM R.I Nomor : C-389.HT.03.01-Th 2005
Tanggal 5 Desember 2005 pada hari Jumat tanggal, 02 November 2012
bertempat di Kantor Notaris IMRAN ZUBIR DAOED, S.H. di Jalan Pang Lateh
Desa Simpang Empat Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe atau setidaktidaknya di suatu tempat tertentu yang masih termasuk dalam daerah hukum
Pengadilan Negeri Lhokseumawe yang memeriksa dan mengadilinya, melakukan
Pemalsuan Surat terhadap akta-akta otentik. Perbuatan tersebut dilakukan
oleh terdakwa antara lain dengan cara sebagai berikut:
Bahwa pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut diatas, sekira pukul
10.00 Wib saksi ILMASTIN, S.Pd.i BIN RUSLI dan saksi MUSLIM
GUNAWAN, S.Sos. BIN SUWANDI datang menghadap terdakwa ke kantor
Notaris IMRAN ZUBIR DAOED S.H. di Jalan Pang Lateh Desa Simpang Empat
Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe untuk perubahan anggaran dasar
lembaga serikat pengembangan swadaya masyarakat (SEPAKAT) dengan
memberikan dokumen sebagai dasar perubahan anggaran dasar kepada terdakwa
berupa daftar absensi rapat anggota II lembaga sepakat, notulen rapat anggota
Lsm Sepakat Lhokseumawe, berita acara rapat anggota Lsm Sepakat
Lhokseumawe dan foto suasana rapat Anggota lembaga Sepakat. Selanjutnya
setelah saksi ILMASTIN, S.Pd.i BIN RUSLI dan saksi MUSLIM GUNAWAN,
S.Sos. BIN SUWANDI memberi dokumen sebagai dasar perubahan tersebut
kepada terdakwa untuk di verifikasi. Setelah terdakwa melakukan verifikasi
terhadap dokumen tersebut, kemudian terdakwa membuat minuta akta (asli akta
notaris) Nomor : 01.- Tanggal 02 November 2012 ;
Bahwa pada saat terdakwa membuat minuta akta (asli akta notaris) Nomor
: 01,- Tanggal 02 November 2012 tersebut, terdakwa melakukan pemalsuan surat
terhadap akta Notaris/ akta otentik Nomor : 01,- Tanggal 02 November 2012
tersebut dengan cara membuat ada sebagai penghadap yang menghadap dihadapan
terdakwa di dalam halaman 1 akta Notaris tersebut dengan mencantumkan pada
angka III selaku TUAN EDI FADHIL, lahir di Lam Raya pada tanggal 16 Juni
1984 (seribu sembilan ratus delapan puluh empat), wiraswasta bertempat tinggal
di Desa Cot Jambo, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar pemegang
Kartu tanda Penduduk Nomor : 1354/04/AB/CJ/2003. Warga Negara Indonesia.
Padahal TUAN EDI FADHIL/ saksi EDI FADHIL Bin ILYAS sebagaimana
tersebut di dalam Akta Notaris tersebut tidak pernah menghadap dihadapan
terdakwa untuk pembuatan akta notaris Nomor : 01,- Tanggal 02 November 2012
tersebut ;
Bahwa selanjutnya pada hari Jumat tanggal 02 November 2012 sekira
pukul 15.00 Wib, ILMASTIN, S.Pd.i. BIN RUSLI dan saksi MUSLIM
GUNAWAN, S.Sos. BIN SUWANDI datang ke kantor PANIN BANK kota
Lhokseumawe di jalan Samudra Desa Kampung Jawa Lama Kecamatan Banda

Sakti Kota Lhokseumawe dengan membawa Akta Notaris Nomor : 01,- Tanggal
02 November 2012 tersebut untuk mengajukan perubahan spesimen (pengantian
tanda tanggan) atau pengkinian data Lembaga Serikat Pengembang Swadaya
Masyarakat (SEPAKAT) pada Bank PANIN tersebut. Sehingga akibat dari
perubahan spesimen (pergantian tanda tanggan) atau pengkinian data Lembaga
Serikat Pengembang Swadaya Masyarakat (SEPAKAT) pada Bank PANIN
tersebut dengan menggunakan Akta Notaris Nomor : 01,- Tanggal 02 November
2012, saksi EDI FADHIL Bin ILYAS tidak dapat lagi melakukan penarikan uang
ataupun melakukan tanda tanggan terhadap rekening biro milik Lembaga Serikat
Pengembag Swadaya Masyarakat (SEPAKAT);
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal
264 ayat (1) ke-1 KUHP;
B. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum
1. Menyatakan Terdakwa, IMRAN ZUBIR DAOED, SH. Bin M. DAOED,
bersalah melakukan tindak pidana, yaitu PEMALSUAN SURAT AKTA
OTENTIK, sebagaimana diatur dalam pasal 264 ayat (1) ke -1 KUHP dalam
dakwaan tunggal;
2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa IMRAN ZUBIR DAOED, SH. Bin.
M. DAOED berupa pidana penjara selama 4 (empat) bulan dikurangi selama
terdakwa dalam tahanan sementara dengan perintah terdakwa tetap dalam
tahanan;
3. Menyatakan barang bukti berupa:
a. 1(satu) buah Akte Notaris Imran Zubir Daoed, SH (asli) berdasarkan
SK. Menteri Hukum dan HAM RI, Nomor : C-389.HT.03.01-Tahun
2005 Tanggal 05 Desember 2005, dengan Nomor 09, Tanggal 18
Oktober 2006 Lembaga Serikat Pengembang Swadaya Masyarakat
(SEPAKAT);
Dikembalikan kepada yang berhak yakni Lembaga Serikat Pengembang
Swadaya masyarakat (SEPAKAT);
a. 1(satu) buah Akte Notaris Imran Zubir Daoed, SH (asli) berdasarkan
SK Menteri Hukum dan Ham RI, Nomor : C-389.HT.03.01-Tahun
2005 Tanggal 05 Desember 2005, dengan Nomor 01, Tanggal 02
November 2012 tentang PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
Lembaga Serikat Pengembang Swadaya Masyarakat (SEPAKAT) ;
b. 1(satu) lembar Daftar Absensi Rapat Anggota II Lembaga Sepakat,
Hari Senin tanggal 29 Oktober 2012;
c. 2(dua) lembar Notulen Rapat Anggota LSM Sepakat Lhokseumawe,
hari Senin tanggal 29 Oktober 2012;
d. 2(dua) lembar Berita Acara Rapat Anggota LSM Sepakat
Lhokseumawe hari Senin tanggal, 29 Oktober 2012;
Tetap terlampir dalam berkas perkara;
4. Menetapkan agar terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 2000,00
(Dua ribu rupiah);

D. Analisis Kasus
Apabila untuk meminta keterangan Notaris atas laporan pihak tertentu
menurut pasal 66 UUJN, maka jika Notaris dipanggil oleh Kepolisian, Kejaksaan
atau Hakim, maka instansi yang ingin memanggil tersebut wajib minta
persetujuan dari Majelis Pengawas Daerah (MPD). Ketentuan pasal 66 UUJN
tersebut bersifat imperatif atau perintah. Dalam praktik sekarang ini, ada juga
Notaris yang dipanggil oleh Kepolisian, Kejaksaan atau Hakim langsung datang
menghadap kepada instansi yang memanggilnya, tanpa diperiksa dulu oleh MPD
artinya menganggap sepele terhadap MPD, jika Notaris melakukan seperti ini,
maka menjadi tanggungjawab Notaris sendiri, misalnya jika terjadi perubahan
status dari Saksi menjadi Tersangka atau Terdakwa.
Ketentuan Pasal 66 UUJN tersebut bagi kepolisian, Kejaksaan, atau
Hakim bersifat imperatif, artinya jika Kepolisian, Kejaksaan, atau Hakim
menyepelekan ketentuan pasal 66 UUJN, maka terhadap Kepolisian, Kejaksaan,
Hakim dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap undang-undang, maka
jika hal ini terjadi, kita dapat melaporkan Kepolisian, Kejaksaan dan Hakim
kepada atasannya masing-masing, dan di sisi yang lain, perkara yang disidik atau
diperiksa tersebut dapat dikaterogrikan cacat hukum (dari segi Hukum Acara
Pidana) yang tidak dapat dilanjutkan (ditunda untuk sementara) sampai ketentuan
Pasal 66 UUJN di penuhi.31
Oleh karena itu putusan Nomor : 40/Pid.B/2013/PN.Lsm. di atas
seharusnya tidak di keluarkan atau di sahkan karena tidak melapor kepada MPW
dan MPD yang sudah di jelaskan bahwa apabila hal tersebut tidak dilakukan maka
telah dikaterogirkan cacat hukum (dari segi Hukum Acara Pidana). Penegak
hukum seharusnya mengetahui hal tersebut di karenakan apabila tidak ada yang
melapor kepada MPW dan MPD apabila seseorang Notaris yang melakukan
Tindak Pidana maka peran atau tugas MPW dan MPD tidak berjalan dengan
seharusnya di mana tugas MPW dan MPD adalah memberi bimbingan dan
pengawasan kepada Notaris.
Hakim haruslah bertindak apabila tuntutan yang dilayangkan oleh Jaksa
Penuntut Umum tidak sesuai dikarenakan sudah menyangkut profesi notaris.
Putusan Nomor : 40/Pid.B/2013/PN.Lsm. di atas telah menyalahi aturan hukum
yang berlaku dan hakim tidak mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan
keadilan. Seharusnya hakim memutuskan hukuman yang lebih berat di karenakan
unsur-unsur tindak pidana yang ada di pasal 263 ketiganya telah terpenuhi dan
terdakwa telah melanggar kode etik notaris. Hakim haruslah pandai melihat suatu
kasus pidana di karenakan ini bukan kasus pidana yang dilakukan oleh orang
biasa melainkan kasus yang sudah menyangkut profesi Notaris.
Dalam dunia Notaris, dikenal adagium: setiap orang yang datang
menghadap notaris telah benar berkata tidak berbanding lurus dengan berkata
benar, yang artinya suatu kebohongan atau memberikan keterangan palsu, hal itu
menjadi tanggung jawab yang bersangkutan (para pihak). Kemudian, akta
notaris sebagai akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna
31

. Habib Adjie., Op.Cit., hlm 24

sehingga para pihak yang membaca akta tersebut harus melihat apa adanya dan
notaris tidak perlu membuktikan apa pun atas akta yang dibuat di hadapan atau
oleh notaris. Karenanya, orang lain yang menilai atau menyatakan akta notaris itu
tidak benar, maka mereka yang menilai atau menyatakan tersebut wajib
membuktikan penilaian atau pernyataannya sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Keterangan atau pernyataan dan keinginan para pihak yang diutarakan
dihadapan notaris merupakan bahan dasar bagi notaris untuk membuat akta
sesuai dengan keinginan para pihak yang menghadap notaris, tanpa ada
keterangan atau pernyataan dan keinginan dari para pihak tidak mungkin notaris
untuk membuat akta. Kalaupun ada pernyataan atau keterangan yang diduga
palsu dicantumkan dimasukkan ke dalam akta otentik, tidak menyebabkan akta
tersebut palsu, serta tidak berarti notaris memasukkan atau mencantumkan
keterangan palsu ke dalam akta notaris. Secara materil kepalsuan atas hal tersebut
merupakan tanggungjawab para pihak yang bersangkutan, dan tindakan hukum
yang harus dilakukan adalah membatalkan akta yang bersangkutan melalui
gugatan perdata.32
Berdasarkan paparan putusan Nomor : 40/Pid.B/2013/PN.Lsm. di atas,
dapat saya simpulkan bahwa dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum tidak sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di karenakan di dalam Kitap
Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 263 Jo 264 Tentang Tindak Pidana
Pemalsuan seharusnya di jatuhkan hukuman seberat maksimal 6 tahun penjara, di
bandingkan dengan putusan di atas yang hanya 2 bulan penulis tidak sependapat
dengan putusan yang di jatuhkan hakim, dan seharusnya hakim memasukan
peritimbangan hukumnya dikarenakan terdakwa telah melanggar kode etik notaris
dan kasus ini sudah menyangkut nama baik Ikatan Notaris Indonesia.
Menurut
Pendapat
Penulis,
berdasarkan
Putusan
Nomor
:
40/Pid.B/2013/PN.Lsm. Notaris merupakan pejabat umum yang membuat akta
untuk para pihak. Jadi Notaris bukanlah membuat akta untuk diri sendiri
malainkan untuk orang lain dan seharusnya pada putusan di atas haruslah di
juntokan ke pasal 55 KUHP. Hal ini di karenakan Notaris telah membantu para
pihak untuk memalsukan surat, jadi seharusnya Notaris yang bernama Imran
Zubir Daoed dikenakan Pasal 264 Jo Pasal 55 KUHP dan saksi Ilmastin dan
Muslim Gunawan seharusnya dikenakan Pasal 266 KUHP. Dimana, pasal tersebut
menyatakan Barang siapa menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam
suatu akta otentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh
akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta
itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, diancam, jika pemakaian
itu dapat menimbulkan kerugian, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Di karenakan saksi tersebut telah menyuruh Notaris untuk membuat akta tersebut
tanpa sepengetahuan Tuan Edi Fadhil.

32

http://alviprofdr.blogspot.com/2010/11/notaris-pelaku-tindak-pidana-pasal-266.html
di akses pada Tanggal 23 Maret 2015.

PENUTUP
A. Kesimpulan
1) Akta Authentik adalah suatu akta yang di dalam bentuk yang ditentukan oleh
undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang
berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya.
Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta
autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam udangundang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya. Wewenang membuat akta
otentik ini hanya dilaksanakan oleh notaris sejauh pembuatan akte otentik tertentu
tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. Peranan Notaris dalam pembuatan
Akta Authentik diatur dalam Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor 02 Tahun
2014 Tentang Jabatan Notaris berdasarkan Undang-Undang tersebut mengartikan
bahwa Notaris berperan penting dalam pembuatan Akta Authentik di karenakan
Notaris merupakan Pejabat Umum yang berwenang membuat Akta Authentik
tersebut.
2. Pertanggungjawaban pidana adalah pertanggungjawaban yang harus dilakukan
oleh seseorang yang melakukan tindak pidana, pertanggungjawaban pidana
notaris dalam tindak pidana pemalsuan yaitu sanksi berupa hukuman penjara dan
sanksi administratif yang bersifat pidana yang terdapat pada pasal 9 huruf (e)
dimana apabila seorang notaris yang di tahan oleh Kepolisian maka jabatannya di
berhentikan sementara. Oleh karena itu apabila Notaris di tahan oleh Kepolisian
maka kantor kenotariatannya berhenti sementara sampai Notaris tersebut keluar
dari tahanan.
B. Saran
Pengaturan hukum di indonesia haruslah di tegaskan dan hakim harus
mempertimbangkan segala sesuatu yang harus dipertimbangkan. Seharusnya
hukuman yang menyangkut profesi haruslah di beri hukuman yang lebih berat
dikarenakan ia telah mengerti akan perbuatannya dan ia telah mengetahui sanksi
apa saja yang terjadi apabila ia melakukan tindak pidana tersebut. Dan setiap
Acara Pengadilan harus sesuai dengan Berita Acara yang telah di atur jangan
sampai cacat hukum.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mahrus, 2012, Dasar Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta.
Hamzah, Andi, 1994, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.
Moeljatno, 1983, Perbuatan Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana, Bina
Aksara, Jakarta.
Saleh, Roeslah, 1983, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, Dua
Pengertian Dasar Dalam Hukum Pidana, Aksara Baru, Jakarta.
Adjie, Habib, 2011, Hukum Notaris Indonesia Tafsir Tematik Terhadap UU No.
30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, Rafika Aditama, Bandung.
Tobing, G.H.S.L, 1983, Peraturan Jabatan Notaris, Erlangga, Jakarta.
Soekanto,Soerjono & Sri Mamudji, 2007, Penelitian Hukum Normatif : Suatu
Tinjauan Singatan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sjaifurrahman, 2011, Pertanggungjawaban Notaris Dalam Pembuatan Akta, CV.
Mandar Madju, Bandung
Adjie, Habib, 2009, Hukum Notaris Indonesia, PT. Refika Aditama, Bandung.
R, Putri A, 2011, Perlindungan Hukum Terhadap Notaris, PT. Soft Media,
Jakarta.
Mulyadi, Mahmud, Surbakti, Feri Antoni, 2010, Politik Hukum Pidana Terhadap
Kejahatan Korporasi, PT. Softmedia, Jakarta.

Sianturi, S.R., 1996, Azas-Azas Hukum Pidana di indonesia dan Penerapannya,


Cetakan Keempat, Alumni Aheam, Jakarta.
Chazawi, Adami, 2000, Kejahatan Mengenai Pemalsuan, PT. Raja Grafindo,
Jakarta.
UNDANG-UNDANG:
Undang-Undang Nomor 02 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris.
JURNAL :
Ikhsan, Edy & Mahmul Siregar, Bahan Kuliah Metode Penelitian Hukum
Internet:
http://alviprofdr.blogspot.com/2010/11/notaris-pelaku-tindak-pidana-pasal-266.html