Anda di halaman 1dari 11

PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN MANGROVE DI DESA

PENAMBANGAN KECAMATAN PAJARAKAN KABUPATEN PROBOLINGGO


JAWA TIMUR
Rois Muslim
ABSTRAK
Ekosistem mangrove di sepanjang pantai Kabupaten Probolinggo masih luas
yakni sekitar 1.781 ha, dengan sebaran di Kecamatan Dringu seluas 117.2 ha,
Kecamatan Gending 354.7 ha, Kecamatan Kraksaan 289 ha, Kecamatan Paiton
300 ha, Kecamatan Pajarakan 302 ha, Kecamatan Sumberasih 208.74 ha dan
Kecamatan Tongas 210.09 ha. Berdasarkan jumlah luasan hutan mangrove
tersebut didapatkan jika 1.125 ha (63.2 %) dalam kondisi baik, 451 ha (25.3%)
dalam kondisi sedang dan sekitar 205 ha (11.5%) dalam kondisi rusak. Desa
Penambangan Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo memiliki luas
pantai 139,160 ha dan panjang pantai 3,5 km dengan luasan hutan mangrove
sekitar 82 ha dengan kriteria 61% baik, 24% sedang, 15% dalam kondisi
rusak.Kawasan ini memiliki variasi jenis yang beragam, ditemukan 16 jenis
mangrove sejati dan 11 jenis mangrove asosiasi dengan persentase tutupan
80%. Selain itu di dukung dengan keadaan cuaca local yang baik dengan suhu
kisaran 26-31oC dan curah hujan yang baik, yang disertai kemiringan yang
landai kisaran 0-2%.Hutan mangrove yang berada di lokasi penelitian berstatus
Hutan Rakyat. Model pengelolaan kawasan hutan mangrove dilokasi penelitian
dilakukan oleh masyarakat sekitar yang dikoordinasikan melalui kelompok tani
Karya Makmur dan LSM Jagat Lestari kemudian dilanjutkan ke lembaga
pengawasan
POKWASMAS
dalam
pengawasan
dalam
proses
pengelolaannya.Berdasarkan hasil Hasil pembobotan interaksi antar komponen
dalam pengelolaan kawasan hutan mangrove didapatkan jika pemerintah
memiliki peran yang menonjol dibanding dengan stakeholder dalam pengelolaan
kawasan hutan mangrove seperti rehabilitasi, penyemaian, dan penyuluhan
sumberdaya mangrove yang dilakukan selama pelaksanaan Penelitian.
Kata Kunci: Pengelolaan, mangrove, stakeholder

MANAGEMENT OF MANGROVE AREA IN PENAMBANGAN VILLAGE


PAJARAKAN SUB DISTRICT PROBOLINGGO DISTRICT EAST JAVA
ABSTRACT
Mangrove ecosystem in Probolinggo district all along the beach is still large
about 1.781 ha, with spread in Dringu district width 117.2 ha, Gending district
width 354.7 ha, Kraksaan district width 289 ha, Paiton district width300 ha,
Pajarakan district width302 ha, Sumberasih district width 208.74 ha and Tongas
district width 210.09 ha. Based on that mangrove forest area width totality show
if 1.125 ha (63.2 %) in good condition, 451 ha (25.3%) medium condition and
about205 ha (11.5%) in bad condition. Penambangan village Pajarakan
subdistrict Probolinggo district has coastal area about 139,160 ha and line of
coastal area 3.5 km with 82 ha mangrove area. Criteria of mangrove area
61%good 24%,medium 15% in bad condition. This area has many kinds of
species diversity, found 16 kinds of true mangrove species and 11 kinds of
mangrove associationwith 80% closed percentage. Bised this location supported
by as well as great local weather, with temperature about 26-31 oC and good
rainfall as well as with beach elevation about 0-2%.Mangrove area be in location
of research has society forest status. model of mangrove area management in
research location done by around society thugh coordination with farmer grup
Karya Makmur and LSM Jagat Lestari than continouse to conservation
institution POKWASMAS in controlling of mangrove area management process.

Based on interaction value among component in mangrove area management


show if government has dominate than other stakeholder in mangrove area
management like rehabilition, seedling and mangrove resource extension is done
along implementation of field study practice.
Key words : Management, mangrove, stakeholder
mengancam akan keberadaan kawasan

1. PENDAHULUAN
Hutan mangrove merupakan salah

hutan

mangrove

yang

sepanjang

wilayah pesisir yang di nilai cukup

Perkebunan dan Kehutanan, 2011).

akan

keberadaannya.

Salah

satu

pantai

di

satu sumber daya alam yang ada


penting

panjang

ada

desa

di

kecamatan

Perubahan yang terjadi di wilayah

pajarakan

persisir dewasa ini merupakan gejala

memiliki potensi ancaman kerusakan

yang

yang

disebabkan

oleh

alam

dan

merupakan

(Dinas

besar.

daerah

yang

Perkembangan

disertai oleh aktivitas yang dilakukan

pembangunan

manusia di sekitar wilayah tersebut.

terjadi di daerah tersebut, tercatat

Wilayah pesisir merupakan kawasan

hutan mangrove di desa penambangan

dimana

berbagai

yang berada di kecamatan pajarakan

aktivitas manusia yang terjadi saat ini,

memiliki luas hutan mangroen sebesar

baik dari segi pembangunan dan lain

55 ha akan tetapi data diatas tersebut

sebagainya sehingga wilayah pesisir

berdasarkan data perhutani (2001),

merupakan wilayah yang pertama kali

seiring bertambahnya tahun terjadi

dan paling banyak menerima tekanan

perubahan

yang

dibandingkan

mengingat

pembukaan

awal

mula

dari

dengan

wilayah

lain.

Tekanan

tersebut

muncul

dan

berakibat

negative

terhadap

hutan

mangrove

tersebut

2008).Berdasarkan

(Huda,

Wiyono,

(2009)

terjadi

secara

sangat

sangat

didaerah

pesat

signifikan,
lahan

yang

tersebut

sulit

dihindari.
Kerusakan
secara

ekosistem

cepat

mangrove

akan

menimbulkan

erosi

pantai

Luas hutan mangrove di Indonesia

meningkatnya

mengalami penurunan dari 5,21 juta

berdampak pada kerusakan habitat

hektar

alami ikan, dan peningkatan level air

antara

tahun

1982

sampai

tahun 1987, menjadi 3,24 hektar, dan

laut

terus

mempengaruhi mata pencaharian para

menyusut

menjadi

2,5

juta

ke

nelayan

hektar pada tahun 1993.


Ekosistem mangrove di sepanjang

daratan

dan

pesisir

dan

tersebut

akan
(Wiyono,

2009). Daerah kawasan pesisir Desa

pantai Kabupaten Probolinggo masih

Penambangan

relatif luas yaitu sekitar 545 Ha yang

dimana masyarakat setempat mencari

terdiri

udang

dari

315

Ha

ekosistem

dengan

daerah

menggunakan

tangkap

baik,

keberadaan udang ini tergantung akan

108

Ha

mangrove

dalam

(tangkar),

alat

mangrove yang masih dalam kondisi

udang

merupakan

kondisi sedang, dan sisanya sekitar

ekosistemnya

122 Ha dalam kondisi tidak baik/

mangrove yang ada di sekitarnya.

rusak,

dan

seiring

dengan

Pengelolaan

seperti

dimana

dan

lingkungan
pelestarian

bertambahnya perunrukan lahan yang

mangrove terdapat dua konsep

dioptimalkan

dapat

di

kawasan

peisir

diterapkan.

Pada

yang

dasarnya

kedua konsep tersebut memberikan

kemudian

legitimasi

secara

dan

mangrove

pengertian

sangat

bahwa

memerlukan

mangrove

yang

tersebut adalah perlindungan hutan

jenis mangrove dilakukan hanya pada

mangrove

kecamatan Pajarakan, data tersebut

lestari.

dan

Kedua

rehabilitasi

hutan

maupun

mangrove

dengan

cara

penggabungan dari beberapa sumber

perlindungan

data. Mekanisme pengumpulan data

merupakan

tersebut berawal dari penghimpunan

stakeholder.

data awal dari kelembagaan terkait

ekosistem

sebaran jenis yang ada di lokasi yang

semua
antara

dengan

yang

metode

mangrove
bagi

didaerah

didapatkan

dari

Keterkaitan

lingkungan

baik

di inginkan dengan cara interview dan

yang menuju ke daerah atas (up land)

wawancara

maupun

pantai

beberapa dinas terkait, berangkat dari

(ocean) adalah saling mempengaruhi

data tersebut kemudian peneliti juga

antara

menghimpun

ke

daerah

satu

lepas

dengan

yang

lain,

yang

dilakukan

data

di

pendukung

10 m 5 m

sehingga berdasarkan masalah diatas

selanjutnya yang didapatkan dari data

upaya pelestarian dan perlindungan

wawancara

ekosistem mangrove secara terpadu

dilakukan di beberapa desa dalam satu

perlu dilaksanakan secara dini dan

kecamatan

berkelanjutan

dengan

peneliti juga melakukan validasi data

untuk

dengan melakukan observasi lapang

lingkungan

dengan tujuan pembuktian terhadap

melibatkansemua

1m

dan

diinginkan.Pengumpulan data sebaran

kewajiban

hutan

luasan

kosep

tetap

ekosistem

terkait

dapat

pengelolaan

1m

sebaran

implementasikan

diperlukan

Perwujudan

5m

umum

di

pengelolaan dan perlindungan supaya

mangrove (Bengen, 2000).

10 m

data

memperbaiki

stakeholder

keadaan

pesisir di daerah tersebut.

data
10 Meter

2. MATERI DAN METODE


luasan

hutan

5m

didapatkan
10 m

mangrove

dari

data

1m

sekunder, dengan cara interview dan


10 m

1m
5m

wawancara yang dilakukan di instansi


A

10 Meter

terkait seperti: Dinas Perkebunan dan


B
C

Perhutanan,
Perikanan
Berdasarkan

Dinas

Kelautan

Kabupaten
data

yang

dan

Probolingo
didapatkan

kuisioner

tersebut.

yang

yang

Kemudian

didapatkan.Metode

validasi data yang dilakukan adalah


dengan

2.1 Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulandata

awal

dan

melakukan

penelusuran

lapang dengan dilakukan dengan cara


sampling
penelitian.Metode

pada
yang

lokasi
digunakan

adalah metode garis berpetak yaitu


dengan membuat petak-petak Garis
contoh
Pantai
di sepanjang jalur pengamatan seperti
yang terlihat pada gambar 1 dibawah
ini.

Gambar 1. Skema penempatan petak (Bengen, 2004)

pengumpulan data-data terkait luasan

2.2 Analisa Data


Analisa data dalam penelitian ini

hutan

mangrove

yang

didapatkan

kualitatif

kemudian data-data tersebut disajikan

data yang

dalam bentuk tabel. berdasarkan data

diperoleh secara deskriptif mengenai

tabel tersebut ditentukan nilai luasan

hasil penelitian dan pengumpulan data

maksimal,

terkait

dalam

menggunakan

deskriptif

dengan cara menyajikan

pengelolaan

kawasan

minimal

menggunakan

dengan

Microsoft

tahapan

sebagai

berikut:
1. Data penelitian diklasifikasikan
sesuai

dengan

permasalahan

rata-rata

kriterianya

ekosistem mangrove, secara kualitatif


beberapa

serta

program

office

kondisi

hutan

dengan

cara

dengan
Excel

pada

2007.Penentuan

mangrove

dilakukan

perbandingan

data

mangrove dengan data kriteria baku


yang di tetapkan dalam Keputusan

penelitian.
2. Hasil klasifikasi data selanjutya

Menteri Negara
Nomor

di sistematisasikan.

201

Lingkungan

Tahun

2004

Hidup
tentang

telah

Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan

disistematisasikan dan dianalisa

Kerusakan Mangrove, maka kondisi

kemudian untuk dijadikan dasar

ekosistem

dalam mengambil kesimpulan.

menjadi tiga kriteria yang dapat dilihat

3. Data

yang

Analisa luasan dan kondisi hutan


mangrove

dilakukan

hutan

mangrove

dibagi

pada tabel 1 dibawah ini.

dengan

Tabel 1. Kriteria Baku Kerusakan Mangrove


Penutupan
(%)

Kriteria

Kerapatan
(pohon/ha)

Sangat
> 75
> 1500
Padat
Sedang
50 75
1000 1500
Rusak
Jarang
< 50
< 1000
Sumber : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, 2004
Baik

Analisa

sebaran

jenis

mangrove

kualitatif. Dengan menganalisis dan

dilakukan dengan teknik overlay data

menyajikan data-data dangan secara

yang bersumber dari masyarakat dan

sistematis

kelembagaan

pembobotan

dan

validasi

yang

kemudian

dilakukan

antara

setiap

dilakukan secara langsung dilapang

stakeholderberdasarkan

nilai

dengan

kepentengingannya.

dari

berdasarkan

pedoman

pada

Panduan

Mangrove

di

buku

Pengenalan

Indonesia

karangan

Kemudian

interaksi antar stakeholder tersebut


ditentukan

alur

perencanaan

Rusila et al. (1999). Kemudian data

pengelolaan kawasan hutan mangrove

yang

yang baik.

didapatkan

ditabulasi

bentuk

table-tabel

kriteria

masing-masing.

Sedangkan

analisa

data

keterkaitan

stakeholderdan

sesuai

dalam

model

dengan

pengelolaan

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Luasan dan Kondisi Kawasan
Hutan
Mangrove

dalam

Ekosistem mangrove di sepanjang

penelitian ini adalah metode deskritif

pantai Kabupaten Probolinggo masih

kawasan

hutan

mangrove

relative luas yakni sekitar 1.781 ha,

tanpa adanya gangguan dari manusia.

rata-rata kerapatan yaitu didapatkan

Katagori

sebesar 83,5 % dan tutupan hutan

24% dari total luasan hutan mangrove

mangrove

pohon/ha

yang ada di daerah tersebut. Katagori

dengan sebaran di Kecamatan Dringu

sedang ini terletak di bagian tengah

seluas 117,2 ha, Kecamatan Gending

dan berbatasan langsung dengan laut

354,7 ha, Kecamatan Kraksaan 289 ha,

lepas.

Kecamatan Paiton 300 ha, Kecamatan

lapang dijumpai jika kawasan bagian

Pajarakan

Kecamatan

tengah yang berbatasan dengan laut

Sumberasih 208,74 ha dan Kecamatan

ini mengalami stes yang diakibatkan

Tongas 210,09 ha. Berdasarkan data

oleh adanya penggalian tanah yang

Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab.

dilakukan

Probolinggo (2013) sekitar 1.125 ha

warga sekitar memanfaatkan kawasan

(63.17%) kawasan hutan mangrove

tersebut untuk mencari cacing untuk

dalam kondisi baik, dan sekitar 451

dijual

ha (25.32%) dalam kondisi sedang dan

tertentu, sehingga berakibat terhadap

sekitar 205 ha (11.51%) dalam

sistem

kondisi

sebesar

2.291

302

rusak.

kawasan

hutan

ha,

sedang

Berdasarkan

oleh

disekitarnya

mangrove

setelah

kerusakan

dengan

mutuKeputusan

Menteri

baku
Negara

pengamatan

Kebiasaan

pakan

perakaran

kondisi

sebanyak

warga.

sebagai

Penilaian

disesuaikan

tercatat

dan
secara

budidaya

yang

berada

mengancam

akan

bertahap.Katagori

rusak tercatat sebanyak 15 % dari


total

keseluruhan

mangrove

2004

dan

Penambangan ini yang tersebar di

Kerusakan

tengah sekitar pertambakan garam

Pedoman

Kriteria

Baku

Penentuan

Mangrove.

ada

hutan

Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun


tentang

yang

kawasaan
di

Desa

(Kearah darat dari zona tengah).

Berdasarkan

penelitian

Perbedaan nilai ini disebakan dari

kawasan

faktor keberadaannya dan parameter

hutan mangrove di Desa Penambangan

penghambat dari ekosistem mangrove

seluas 82 ha, dengan luas pantai

seperti penebangan liar, industri, dan

sebesar 139,160 ha. Diketahui jika

perluasan lahan pertambakan. Desa

58.92%

Penambangan

didapatkan

hasil

jika

dari

sebaran

total

meruapakan

luasan

kawasan

wilayah
hutan

diketahui

merupakan

salah satu penghasil garam terbesar di

mangrove. Sebanyak 61% hutan dari

Kecamatan

total luasan mangrove yang terdapat

pertambakan

di Desa Penambangan dalam kondisi

menghendaki

baik yang terletak di bagian sisi timur

demi optimalnya evaporasi dari proses

dan barat, hal ini disebabkan karena

penggaraman. Sehingga masyarakat

daerah tersebut berbatasan langsung

sekitar cenderung menebang dengan

dengan

maksud

aliran

sungai

kecamatan

sehingga memberikan suplai air tawar


yang cukup. Daerah ini juga memiliki
akses yang sulit dijangkau sehingga
menyebabkan

ekosistem

mangrove

yang ada di daerah ini tumbuh alami

Pajarakan,
garam
keberadaan

industri
ini

tidak

mangrove

keberlangsungannya

proses

industri garamnya.
3.2 Jenis-jenis Mangrove
Dijumpai dan
Zonasi Mangrove

yang

Penyabaran jenis mangrove yang


berada

di

kawasan

Sonneratia

alba

sedangkan

hasil

Kabupaten

identifikasi jenis mangrove asosiasi di

Probolinggo sangat bervariasi, dimana

lokasi penelitian ditemukan beberapa

ditemukan berbagai jenis mangrove

jenis

yang dapat hidup di daerah ini, baik

inophyllum,

jenis mangrove sejati maupun jenis

Cerbera manghas, Hibiscus tiliaceus,

mangrove asosiasi. Pola rehabilitasi

Ipomoea pescaprae, Morinda citrifolia,

yang dilakukan di sekitar Kabupaten

Passiflora

Probolinggo

portulacastrum,

umumnya

menggunakan
yaitu

jenis

rehabilitasi
memicu

satu

hanya

jenis

mangrove

Rhizopora
seperti

hilangnya

spp.

ini

Pola

berpeluang

beberapa

jenis

yang

meliputi;

Callophyllum

Calotropis

gigantean,

foetida,

Sesuvium
Stachytarpheta

jamaicensis, Terminalia catappa, dan


Wedelia biflora.
3.3 Model Pengelolaan Kawasan
Mangrove

mangrove yang lain jika dilakukan

Secara

umum

model

pengelolan

secara terus-menerus. Perlu adanya

kawasan hutan mangrove di tempat

peninjauan kembali mengenai jenis-

pelaksanaan Penelitian dilakukan oleh

jenis

yang

program

seharusnya
rehabilitasi

dilakukan

di

ada

dalam

yang

akan

sepanjang

pantai

tersebut.

(tiga)

komponen

memiliki

keterkaitan

Komponen

yang

saling

yang

komponen

kuat.

tersebut

memiliki peranannya masing-masing

Pada saat pelaksanaan penelitian

dalam proses pengelolaan kawasan

ditemukan berbagai jenis mangrove

hutan

sesuai

dimaksudkan

buku

Pengenalan

pedoman

Mangrove

Panduan

di

Indonesia

mangrove.

upaya

dilaksanakan di sepanjang pantai Desa

kawasan

Penambangan

terpadu

Kabupaten

Probolinggo

sebagai

untuk

ini

memperjelas

keterlibatan setiap stakeholder dalam

karangan Rusila et al. (2006) yang


KecamatanPajarakan

Keterkaitan

pengembangan

sistematis

hutan
dan

pengelolaan

mangrove
berkelanjutan.

keterkaitan

antar

secara
Alur
setiap

validasai data. Hasil peninjauan jenis-

komponen dapat dilihat pada gambar

jenis

2 di bawah ini.

mangrove

yang

terdapat

di

daerah Penelitian terbagi menjadi 2


jenis mangrove yaitu mangrove sejati
dan mangrove asosiasi. Adapun hasil
pengamatan mangrove sejati yang ada
pada

lokasi

penelitian

Acanthus

ilicifolius,Aegiceras

corniculatum,
Avicennia

meliputi;

Aegiceras

alba,

floridum,

Avicennia

lanata,

Avicennia

marina,

Avicennia

officinalis,

Bruguiera

gymnorrhiza,

Ceriops

decandra,

Excoecaria

agallocha,

Gymnanthera

Rhizophora

apiculata,

paludosa,
Rhizophora

mucronata, Rhizophora stylosa, dan

Gambar

2. Mekanisme keterkaitan
antar stakehorder dalam
upaya
pengelolaan
kawasan hutan mangrove
Pada pelaksanaan Penelitian peran

badan

pemerintahan

mendominasi

dalam

ditemukan
pengelolaan

kawasan hutan mangrove di daerah

tersebut di bandingkan oleh peran

alam,

komponen yang lain. Pengelolaan yang

pemberdayaan masyarakat dan juga

dilakukaan terkoordinasi sesuai tugas

seringkali

pokok dan fungsi yang dimiliki oleh

program

setiap komponen. setiap komponen

pengelolaan kawasan hutan mangrove.

saling

dalam

Pemerintah berperan ganda dalam hal

dan

ini dimana melakukan monitoring dan

merupakan

evaluasi, pemerintah juga ditemukan

berkoordinasi

menjalankan
fungsinya.

tugas
Masyarakat

penggerak

awal

pengelolaan,
aspirasi
dengan

pokok
dalam

dimana

kebutuhan
wujud

proses

memberikan
yang

aksi

disertai

nyata

dll

membantu

melakukan
kegiatan

penggerak
proses

dalam

awal

mangrove

program-

dalam

demi

pengelolaan

proses

proses

terjalannya

kawasan

dilokasi

hutan

penelitia.

dalam

Berdasarkan hasil pembobotan antar

prosesnya. Swasta yang dalam hal ini

setiap komponen, seperti yang terlihat

meliputi; LSM, perusahaan, pecinta

pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Hasil pembobotan interaksi antar komponen dalam pengelolaan


kawasan hutan mangrove
Komponen
Pemerintah
Pemerintah
Masyarakat
8
Swasta
7
Total
15
Keterangan :
1. Lemah
<5
2. Sedang 5 7
3. Kuat
>7
Masyarakat
dalam
proses

di

pengelolaan kawasan hutan mangrove

Makmur di Desa Penambangan, yang

melibatkan beberapa unsur penting

dalam

seperti

tokoh

mengelolah kawasan hutan mangrove,

agama, tokoh adat, LSM, nelayan,

baik dalam rehabilitasi, pengawasan

petani ikan serta masyarakat maritime

dan lain sebagainya.

lainnya.

tokoh

masyarakat,

Nilai

kearifan

lokal

Masyarakat
7
6
13

bentuk

Kelompok

pengendalian

pengawasan

hutan

mangrove

bertugas

dengan

adanya

seperti

sistem

(POKWASMAS)

lokasi

Singa Laut yang dibentuk oleh dinas

penelitian.Masyarakat setempat juga

Perikanan dan Kelautan Kabupaten

menjaga unsur fauna yang berada di

Probolinggo

kawasan hutan mangrove sekitar, hal

mengawasi pemanfaatan sumberdaya

ini

perikanan

dibuktikan

di

Karya

Peran pemerintah dalam hal ini di


tunjukan

kawasan

Tani

pelaksanaanya

masyarakat lebih mendominasi dalam


kerusakan

Swasta
6
5
11

dengan

adanya

yang
yang

peraturan tidak tertulis yang berlaku

lingkungan

tentang

POKWASMAS

pelarangan

perburuan/menangkap

burung

di

lingkup
untuk

disekitar

meminimalisir

daerah

mereka.Menyadari

didalamnya

ekosistem
ini

daerahnya

kawasan hutan mangrove yang ada

berfungsi

penegakan

adalah

mangrove.

beroperasi
yang

sesuai

bertujuan

peraturan,

guna

pelanggaran-

pentingnya menjaga dan melestarikan

pelanggaran yang akan timbul. Selain

ekosistem hutan mangrove, sehingga

itu Dinas Perikanan dan Kelautan Kab.

Probolinggo

juga

rahabilitasi

dapat

melakukan

ekosistem

mangrove

terjadinya
tidak

lingkup

tersebut

Perkebunan

dan

Kehutanan

dalam

pengelolaan

kawasan

hutan

mangrove,

menempatkan

penyuluh

perhutanan

bertanggungjawab.
tidak

lupa

melibatkan

3.4 Program Rahabilitasi Kawasan

memantau akan adanya kerusakan dan

Dalam

Perhutanan

Kegiatan

aktif.
Mangrove

Penyuluh

serta

masyarakat dan petani tambak secara

lapang di setiap daerah yang berfungsi


pelanggaran.

liar

pengerusakan oleh pihak-pihak yang

sesuai angenda tahun anggaran.Dalam


Dinas

penebangan

melakukan

rehabilitasi

terdapat metode langsung dan tidak

Lapang (PPL) yang mana bergerak

langsung.

dalam

penyuluhan

dengan melakukan penanaman buah

mangrove

mangrove ke lahan secara langsung

kepada masyarakat, selain itu sebagai

tanpa menjadikannya bibit yang siap

jembatan

untuk ditanam sebelumnya, hal ini

sosialisasi

tentang

dan

kawasan

hutan

penghubung

antara

Metode

langsung

yakni

keinginan masyarakat dengan Dinas

umumnya

Perkebunan Dan Kehutanan Setempat

terdahulu dalam proses rehabilitasi

dalam

mangrove.

mengelolah

ekosistem

Mangrove.

Metode

dengan

Pada
lembaga

dilakukan

pelaksanaan
yang

pengelolaan

ikut

Penelitian

proses

penyemaian

merupakan

tahapan

di

daerah

menjadi bibit yang sudah berakar dan


berdaun.
Pelaksanaan kegiatan Penelitian ini,

bergerak dalam kegiatan perbaikan

kedua

lingkungan, yang dalam hal ini adalah

dengan

lingkungan pesisir. Lembaga ini sering

keberhasilan

membantu

motode

proses
Paiton,

persemaian,

pembibitan propagul (buah mangrove)

yang mana merupakan Lembaga yang

kawasan

langsung

dalam

tersebut adalah LSM Jagat Lestari,

pelaksanaan

hutan

tidak

andil

kawasan

rehabilitasi

masyarakat

mangrove,
Kraksaan,

di
serta

teknik

tersebut

maksud

mencari

tingkat

penanaman

langsung

penyemaian

dilakukan

yang

penelitian

antara

dengan

metode

tentunya

selanjutnya.

pada
Pada

Pajarakan, namum umumnya lembaga

pelaksanaanya sebanyak 30.000 buah

ini

mangrove jenis Rhizophora mucronata

bergerak

Probolinggo.

di

daerah

Lembaga

Kabupaten
dalam

ditanam secara langsung dan 10.000

melaksanakan pengelolaan lahan krisis

disemaikan terlebih dahulu sebelum

bergerak

ditanam

secara

swadaya,

bekerjasama

dengan

alam

ada

yang

para

di

mangrove

ini

kegiatan

pencinta

pada

lokasi

yang

telah

ditentukan.
3.4.1 Penyemaian

selalu

Kitamura et al. (1997) menyatakan

rehabilitasi

dalam prroses rehabilitasi kawasan

seperti

hutan

daerah

dengan 2 (dua) metode berbeda, yaitu

pesisir yang terancam rusak. Selain itu

langsung dan tidak langsung. Tahapan

dilakukan juga pengawasan terhadap

dalam

kawasan mangrove untuk menghindari

dilakukan dengan pembuatan bedeng.

penanaman

secara

dan

ruanglingkup

daerahanya.Lembaga
melakukan

ini

rutin

mangrove

di

mangrove

dapat

pelaksanaan

dilakukan

penyemaian

Bedeng

merupakan

tempat

dari

mangrove tertentu cenderung tidak

peletakan pembibitan. Terdapat 2 jenis

berpulang

bedeng

yaitu

daerah tersebut. Pada lokasi tanah

bedeng bertingkat dan bedeng datar

yang agak keras atau tanah berpasir,

Wiyono

dalam

dibuat lubang dengan kedalaman yang

datar

cukup pada saat air surut. Pembuatan

sebagai

tempat

lubang dilakukan di dekat ajir yang

kemudian

dilanjutkan

dalam
dan

penyemaian

Mardi.

pelaksanaanya

bedeng

digunakan
penyemaian,

(2009),

sudah

baik

untuk

dipasang

ditanam

sebelumnya.

di

Jarak

dengan persiapan pembibitan. Proses

tanam adalah 1 m x 1 m. Kedalaman

tersebut

penanaman propagul adalah 5-7 cm

dilakukan

sebagai

dengan

berikut

(1).

cara

pembuatan

panjang

propagul.

Jika

propagul

bedeng penyemaian kemudian diambil

ditanam terlalu dalam, propagul akan

polibek lalu di isi dengan lumpur yang

tertutup lumpur, sehingga lentisel dan

ada di sekitar bedeng. (2). kemudian di

hipokotil

tidak

isi

dengan

baik

polibek

dengan

sedimen,

tapi

dapat

berespirasi

sehingga

jangan terlalu penuh, melainkan

menyebabkan

dari

diisi

ditanam terlalu dangkal akan mudah

lumpur, lipat bagian atas polibek ke

hanyut oleh air pada saat pasang

bagian luar, dengan tujuan, pada saat

surut.

isi

polibek.

(3).

Setelah

kematian

dapat

dan

jika

surut dan cuaca kering, kristal-kristal

Sedangkan teknik penanaman yang

garam air laut tidak terjebak di dalam

berasal dari persemaian, Mangrove

polibek

ditanam di lahan yang telah disediakan

yang

bisa

pertumbuhan

menghambat

pembibitan

(4).

dengan cara membuat lubang di dekat

Selanjutnya, tanam buah mangrove

ajir-ajir, dengan ukuran lebuh besar

yang telah dipilih dan berkondisi baik,

dari

ke dalam sedimen dengan kedalaman

kedalaman dua kali lipat dari panjang

yang cukup sekitar 30% - 50 % bagian

polibek,

dari propagul. (5). kemudian diletakan

dengan hati-hati agar akar bibit tidak

hasil

ikut

tersebut

kedalam

bedeng

ukuran

polibek

kemudian

di

polibek

dan
buka

dan

letakkan

dengan
polibek

tetap
bibit

utuh,

penyemaian secara rapi.

kemudian

dengan

3.4.2 Penanaman

perlahan dan timbun dengan substrat


tahapan

(tanah sekitar). Selain itu pastikan

penanaman mangrove, maka lokasi

polibeck yang sudah dilepas tidak di

penanaman

buang

Sebelum

melakukan
mangrove

disepakati

bersama

harus

sudah

antara

tenaga

sembarangan

kumpulkan

agar

melaikan

tidak

pendamping, para mitra kerja dan

daerah sekitar penanaman.

masyarakat.

3.4.3 Pemeliharaan

Selanjutnya,

diketahui,

bahwa

mangrove

untuk

lokasi,
kondisi

harus

perlu

penentuan
ditanam

disesuaikan

substratnya

dan

di

Tahap

suatu

lanjutan.

Tahapan

dengan

mangrove

memiliki

budaya

panjang untuk memastikan agar bibitbibit

jenis

yang

ditemui

menginformasikan

mengotori

jenis

masyarakat lokal setempat. Beberapa

ini

di

mangrove

merupakan

tahap

pemeliharaan
tujuan

dapat

jangka

hidup

dan

di

lapangan

tumbuh dengan optimal. Hal yang

bahwa

jenis-jenis

dilakukan pada tahapan ini adalah

program penjarangan, yaitu berupa

2. Sistem

perlindungan

dan

penebangan beberapa buah batang

pemeliharaan terhadap ekosistem

pohon mangrove muda, jika ditengarai

mangrove

dilakukan

bibit mangrove yang berhasil tumbuh

program

penyemaian

memiliki

rehabilitasi, yang dilakukan oleh

kepadatan

yang

sangat

dengan
dan

tinggi. Hal ini penting dilakukan untuk

seluriap

memaksimalkan pertumbuhan pohon

pengawasan yang dilakukan secara

mangrove lainnya hal ini bertujuan

teratur dan penegakan aturan sosial

agar

tentang

bisa

tumbuh

secara

optimal.

stakeholder

pelestarian

serta

mangrove

Selain penjarangan, juga dilakukan

secara dini. Hal tersebut diatas

pembersihan

dilakukan oleh masyarakat, LSM,

lokasi

terhadap

hama

dan gangguan lainnya seperti rumput


liar

dan

gangguan

lainnya,

serta

dan Pemerintah secara beriringan.


3. Akar

permasalahan

yang

pengelolaan saluran air, jika didapati

dihadapi

terjadinya

air

kawasan hutan mangrove meliputi

sebagai akibat dari perubahan alam di

kurangnya pemahaman masyarakat

daerah

akan pentingnya kawasan ekositem

aturan

penutupan

pesisir.

saluran

Selanjutnya,

seperti larangan

penebangan

pohon

tata

melakukan

mangrove

yang

mangrove
Sehingga

dalam

utama

yang

pengelolahan

disertai

perlunya

dengan.

penyuluhan

telah berhasil tumbuh dengan baik di

secara intensif dan terpadu dan

lokasi penanaman, juga dibuat untuk

penegakan

memberikan informasi dan pendidikan

optimal.

hukum

yang

secara

kepada masyarakat akan pentingnya


penjagaan

terhadap

kelestarian

mangrove di pesisir setempat.

Bengen,

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa
1. Pengelolaan

kawasan

mangrove

di

dilakukan

secara

oleh

lokasi

berbagai

Dinas

hutan
penelitian

bersama-sama

komponen

Pemerintahan,
Masyarakat,

masyarakat.

Dimana

menjadi

langkah

penggagas

seperti

Lembaga

Swadaya

dan

masyarakat

awal

sebagai

pengelolaan

yang

dikoordinasikan melalui kelompok


tani

Karya

dibantu

Makmur

oleh

masyarakat

lembaga

(LSM)

dan

DAFTAR PUSTAKA

kemudian
swadaya
dibantu

lembaga pengawasan POKWASMAS


yang berasal dari Pemerintah.

D.G.
2000.
Sinopsis
Ekosistem dan Sumberdaya
Alam Pesisir. Pusat Kajian
Sumberdaya
Pesisir
dan
Lautan Institut Pertanian
Bogor. Bogor, Indonesia.
Dinas Perkebunan dan Kehutanan,
2012. Data Informasi Potensi,
Sebaran Status Ekosistem
Mangrove
Tahun
2011
;
Probolinggo, Jawa Timur. hal.
23
Huda,
2008.
Strategi
Kebijakan
Pengelolaan
Mangrove
Berkelanjutan
di
Wilayah
Pesisir Kabupaten Tanjung
Jabung
Timur
Jambi.
Universitas
Diponegoro.
Semarang
Keputusan
Menteri
Negara
Lingkungan
Hidup,
2004.
Tentang
Kriteria
Baku
Kerusakan Mangrove. Nomor :
201 Tahun 2004. Lamp. I
Kitamura, S.,C. Anwar, S. Baba. 1997.
Buku Panduan Mangrove di
Indonesia. Bali dan Lombok.
Departemen
Kehutanan
Republik Indonesia dan Japan

International
Cooperation
Agency.
Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N.
Suryadiputra. 1999. Panduan
Pengenalan
Mangrove
di
Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor.

Wiyono,

Mardi. 2009. Pengelolaan


Hutan Mangrove dan Daya
Tariknya
sebagaI
Objek
Wisata di Kota Probolinggo.
Universitas Malang. Malang