Anda di halaman 1dari 10

1.

Klasifikasi, Golongan dan Kualitas Batubara


Pengklasifikasian batubara bertujuan untuk mengetahui variasi mutu atau kelas
batubara. Klasifikasi batubara yang umum digunakan adalah klasifikasi menurut ASTM
(American Society for Testing Materials). Klasifikasi ini didasarkan atas analisa proksimat
batubara, yaitu berdasarkan derajat perubahan selama proses pembatubaraan mulai dari
lignit sampai antrasit. Untuk itu diperlukan data karbon tertambat (fixed carbon), zat
terbang (volatile matter) nilai kalor dan kandungan sulphur .
Batubara di Bukit Asam memiliki kualitas yang bermacam-macam, antara lain
karena adanya intrusi batuan beku di beberapa tempat yang muncul di permukaan sebagai
andesit. Hal ini terjadi karena pemanasan oleh intrusi mengakibatkan keluarnya kandungan
air dari batubara sehingga penipisan terjadi. Pemanasan ini juga menaikkan peringkat
(rank) batubara. Secara umum kualitas batubara yang dijumpai di daerah Bukit Asam
adalah Sub-Bituminous hingga Antrasite. Mine brand batubara berdasarkan permintaan
konsumen pada PT. Bukit Asam (persero) tbk Unit Pertambangan Tanjung Enim dapat di
lihat pada (Tabel 1.2).
Tabel 1.2
Mine Brand PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. Tanjung Enim
PARAMETER KUALITAS BATUBARA
Calorific Value (CV) kcal/Kg
% adb

Volatile Matter (VM)


% adb

Klasifikasi

Rentang

Klasifikasi

Rentang

TE-59 (-)

Maks.

High

Min

30

TE-59

5.600 X < 6.100

Low

Max

30

TE-63

6.100 X < 6.500

Total Sulfur (TS)

TE-67

6.500 X < 6.800

% adb

TE-70

6.800 X < 7.300

TE-73 / ANS

Min

Klasifikasi
Low
High

5.600

7.300

Rentang
Max
Min

0,7
0,7

Sumber : Satuan Kerja Penanganan dan Angkutan Batubara PT.BA

Coal

Tabel 1.3 Klasifikasi Batubara Berdasarkan Market Brand PT. BA UPTE


CV
TM
IM
Ash
VM
FC
TS

Brand (Kcal/Kg (%,ar) (%,adb) (%, adb) (%, adb) (%, adb) (%, adb)

BA 59
BA 63
BA 67

, abd)
5850
6300
6650

28
21
18

14.5
11.5
9.0

8.0
6.0
6.0

40
40
40

37.5
43.0
44.5

0.8
0.5
0.7

BA 70

7000

13

6.5

6.0

40

47.5

0.7

Sumber : Satuan Kerja Eksplorasi Rinci PT. Bukit Asam Tanjung Enim

2. Iklim dan Curah Hujan


Daerah sekitar Tanjung Enim mempunyai dua musim, yaitu musim penghujan, antara
November sampai Maret dan musim kemarau antara April sampai Oktober. Pada
temperatur maksimum 350C dan minimum 230C. Dengan metode penambangan terbuka
seluruh aktivitas pekerjaan berhubungan langsung dengan udara bebas, sehingga iklim
yang ada berdampak langsung pada operasional ( Gambar 1.8).

Tabel 1.1 Prediksi Curah Hujan Tahun 2015

Sumber : Satker Renop

3. Struktur Organisasi Perusahaan


Struktur organisasi perusahaan dibuat guna meningkatkan kinerja dari setiap divisi
penyokong dalam suatu perusahaan. Dengan struktur organisasi yang optimal maka
diharapkan mampu mendukung pencapaian target di setiap tahunnya. Penyusunan struktur
organisasi dibuat berdasarkan spesifikasi dan fungsi kinerja yang ada sehingga dapat di
pertanggung jawabkan.
Untuk tugas operasionalnya, pengoperasian PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
dipimpin oleh Dewan Direksi. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
(RUPSLB) tanggal 27 desember 2006, anggota direksi berubah dari lima orang menjadi
enam orang, dan dalam organisasi baru ini terdapat dua direktorat yang tugasnya menjadi
lebih fokus, yaitu Direktorat Niaga dan Direktorat Pengembangan Usaha. Direktur niaga
fokus pada upaya peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya melalui proses pengadaan
barang dan jasa berdasarkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Direktur
pengembangan usaha fokus pada pengembangan usaha perusahaan dan memberikan
jaminan pertumbuhan perusahaan secara jangka panjang. Berikut struktur organisasi PT.
Bukit Asam (Persero), Tbk ( Gambar 1.1).

Gambar 1.1 Struktur Organisasi PT. Bukit Asam (Persero) Tbk


Unit Penambangan Tanjung Enim ( UPTE ) di kelola oleh seorang general
manager yang bertanggung jawab terhadap kelancaran perusahaan di Tanjung Enim
termasuk salah satunya divisi penambangan atau senior manager penambangan.
Senior Manager Penambangan membawahi 5 (lima) Manager yaitu Manajer
Pentam, Manajer BWE System, Manajer Wasnamtor, Manajer Swakelola dan Manajer
POHA.Manajer Swakelola membawahi 3 (tiga) Asisten Manajer Penambangan (Ass
Man) yaitu Asman. Penambangan Swakelola A2, Asman. Penambangan Swakelola B1,

dan Asman. Penambangan B2 dan Asman. yang mana masing-masing Asman


Penambangan tersebut membawahi 4 (empat) Supervisor.
4. Kegiatan Penambangan
Kegiatan Penambangan Muara Tiga Besar Selatan
Berdasarkan lokasi kerja maka penambangan Muara Tiga Besar dibagi tiga
kelompok yakni Muara Tiga Besar Utara, P2BM (Proyek Pemindahan BWE ke Muara
Tiga Besar) atau disebut Muara Tiga Besar Barat, dan Muara Tiga Besar Selatan
(MTBS).
Kegiatan penambangan pada front MTBS adalah menggunakan metode
kombinasi shovel dan truck. Sistem panambangannya meliputi kegiatan land clearing,
pengupasan lapisan penutup (top soil), penggaruan (ripping), pemuatan (loading),
pengangkutan (hauling), penimbunan disposal (dumping), ripping Batubara, loading
batubara, hauling batubara, dumping batubara. Dalam pembahasan ini dijelaskan
mengenai kegiatan penambangan di Muara Tiga Besar Selatan yang menggunakan
metode kombinasi shovel dan truck.
a. Land Clearing
Pembersihan lahan (land clearing) dilakukan untuk membersihkan semaksemak, pohon-pohon, dan menyingkirkan material yang akan menghalangi kegiatan
penambangan. Dalam proses land clearing ini, penambangan Muara Tiga Besar
Selatan (MTBS) menggunakan bulldozer Komatsu D 155 A atau setaranya.
Kegiatan pioneering yang merupakan proses lanjutan dari land clearing,
yaitu melakukan penggalian lapisan tanah humus yang berada pada lapisan paling
atas. Tanah humus ini sengaja dipisahkan pada disposal tersendiri guna disimpan
dan akan ditabur kembali pada saat reklamasi. Pada proses ini menggunakan

hydraulic excavator Komatsu PC 400 untuk sebagai alat gali muat tanah humus,
dump truck Nissan CW 33370 untuk pengangkutan tanah humus sejauh 2500 m,
dan juga bulldozer Komatsu D 155 A atau D 85 ESS sebagai alat bantu. membuat
jalan akses menuju tambang (dibantu juga dengan compactor dan grader), dan
membuat saluran air jika diperlukan (Gambar 2.8).

Gambar 2.8. Pembersihan Lahan (Land Clearing)

Proses selanjutnya yaitu pengupasan lapisan tanah penutup dengan tujuan untuk
membuang material atau tanah penutup di atas endapan bahan galian tambang sehingga
hasil bahan galian tambang dapat bersih tidak tercampur tanah atau pengotor lainnya,
mengurangi biaya pengolahan dan mempermudah kegiatan penambangan.

a. Penggalian Interburden

Pekerjaan ini dilakukan dengan cara menggali lapisan tanah yaitu interburden
yang materialnya tergolong medium hard digging dan kemudian diangkut ke tempat
penimbunan yang telah ditentukan (ke lokasi back filling timur).
Rencana produksi overburden pada tambang Muara Tiga Besar Selatan (MTBS)
bulan Februari sebesar 400.000 bcm. Penggalian dikerjakan dengan alat excavator
Komatsu PC 400, PC 800, PC 1250 dan PC 2000 materialnya kemudian diangkut
dengan menggunakan alat angkut Dump Truck 33370 dan HD 785
b. Pemuatan Interburden (Loading Interburden)
Kegiatan ini bertujuan untuk memindahkan interburden hasil galian ke dalam
alat angkut, yang selanjutnya dibawa ke disposal atau back filling di sisi timur dari
front dengan jarak 1200 m 1800 m. Proses pemuatan ini menggunakan metode
single stopping sedangkan untuk pola pemuatanya adalah top loading. Pemuatan
material interburden menggunakan hydraulic excavator Komatsu PC 400, PC 800,
PC 1250 dan PC 2000. Pemuatan interburden oleh PC 400 dibutuhkan kurang lebih
3-4 bucket sampai vessel Dump Truck 33370 penuh, PC 800 dibutuhkan kurang
lebih 10-11 bucket sampai vessel HD 785 penuh, PC 1250 dibutuhkan kurang lebih
7-8 bucket sampai vessel HD 785 penuh. Sedangkan pemuatan interburden PC
2000 dibutuhkan kurang lebih 6 bucket sampai vessel HD 785 penuh.

Gambar 2.9. Kegiatan Pemuatan Lapisan Tanah Penutup

c. Pengangkutan Lapisan Interburden (Hauling Interburden)


Pengangkutan bertujuan untuk memindahkan interburden hasil penggalian
dari front penambangan menuju disposal atau back filling dengan menggunakan alat
angkut. Alat angkut yang digunakan adalah DT NISSAN CW 33370 dan HD 785
Pengangkutan interburden dengan menggunakan HD 785 dan DT NISSAN CW
33370 membutuhkan waktu kurang lebih 16 menit dengan jarak 1800 m.

Gambar 2.10. Pengangkutan Lapisan Interburden