Anda di halaman 1dari 32

BAB II

LANDASAN TEORI

1.1

Kajian Pustaka

1.1.1

Katalis
Katalis menurunkan energi aktivasi reaksi, dengan memberikan mekanisme

reaksi lain untuk menghindari tahap penentu laju yang lambat dari reaksi yang
tidak terkatalisis, sehingga laju reaksi menjadi lebih tinggi pada temperatur yang
sama. Katalis menurunkan energi aktivasi reaksi, dengan memberikan mekanisme
reaksi lain untuk menghindari tahap penentu laju yang lambat dari reaksi yang
tidak terkatalisis, sehingga laju reaksi menjadi lebih tinggi pada temperatur yang
sama (Atkins, 1996).
Katalis merupakan substansi yang dapat meningkatkan laju reaksi untuk
mencapai kesetimbangan namun tidak ikut bereaksi dengan reaktan dalam reaksi
tersebut. Dalam pemilihan katalis, diperhatikan faktor sebagai berikut:
1. Aktivitas
Keaktivan katalis didefinisikan sebagai kemampuan dari katalis untuk dapat
mengubah bahan baku menjadi produk yang dikehendaki. Keaktivan katalis
didapat dari kombinasi bahan kimia dan bahan mineralogi, sehingga dapat
diketahui katalis tersebut aktif dalam melakukan proses katalis yang dibuktikan
dengan dihasilkannya produk baru yang dikehendaki.
2. Stabilitas
Stabil dalam arti mempunyai kemampuan menghadapi racun racun yang
mungkin dapat merusak kinerja dan penampakan dari katalis itu sendiri.
3. Selektivitas
Selektivitas didefinisikan sebagai kemampuan katalis dalam menghasilkan
produk yang sesuai dengan yang dikehendaki. Hal ini karena satu zat yang
berperan dalam salah satu proses dapat juga menjadi penghambat pada proses
lainnya, sehingga perlu diteliti setiap material yang akan digunakan sebagai
katalis.

4. Umur
Umur katalis mempunyai pengertian rentang waktu bagi katalis untuk
bertahan pada level yang mencukupi sesuai kinerja katalis yang diinginkan.
5. Regenerasi
Sifat mudah diregenarasi harus dimiliki oleh katalis sehingga pada saat katalis
dioperasikan gangguan yang terjadi dapat diminimumkan.
6. Kekuatan Mekanik
Kekuatan mekanik merupakan kondisi yang harus dimiliki katalis sehingga
bila proses menghendaki tekanan dan temperature tinggi, katalis itu dapat
digunakan.
Secara umum, katalis memiliki 2 fungsi sebagai berikut: 1) Mempercepat
reaksi menuju kesetimbangan atau fungsi aktivitas, 2) Meningkatkan hasil reaksi
yang dikehendaki atau fungsi selektivitas.
Katalis tidak secara permanen terlibat dalam reaksi kimia, ketika katalis
melakukan fungsinya, maka katalis mengalami perubahan baik secara kimiawi
maupun secara fisik yang sangat mempengaruhi kinerjanya. Oleh karena itu
terdapat 3 parameter utama dari kinerja katalis yaitu: 1) Aktivitas, yaitu peran
katalis untuk meningkatkan kecepatan reaksi, 2) Selektivitas, yaitu peran katalis
untuk meningkatkan produk yang diinginkan, 3) Deaktivasi, yaitu aktivitas dari
katalis yang dihubungkan dengan masa hidup katalis (life-time).
Berdasarkan fasanya, katalis dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu
katalis homogen, katalis heterogen, dan katalis enzim. Katalis homogen ialah
katalis yang mempunyai fasa yang sama dengan fasa substrat, dimana interaksi
yang terjadi antara substrat dan katalis biasanya merupakan interaksi cair-cair.
Katalis heterogen adalah katalis yang mempunyai fasa yang berbeda dengan fasa
substrat. Sedangkan katalis enzim merupakan molekul protein dengan ukuran
koloid. Katalis ini memiliki fasa yang berada diantara katalis homogen dan
heterogen (Augustine, 1996).
Pada proses katalisis heterogen terjadi tahapan reaksi (siklus katalitik)
tertentu (Gates B., 1979). Siklus katalitik tersebut didahului dengan terjadinya
transfer reaktan menuju permukaan katalis. Reaktan kemudian berinteraksi

dengan katalis sehingga terjadi proses adsorpsi pada permukaan katalis. Spesies
yang teradsorpsi akan bereaksi untuk menghasilkan produk. Pada tahap ini terjadi
penurunan energi aktivasi reaksi. Setelah reaksi selesai, produk yang terbentuk
akan terdesorpsi dari permukaan katalis, lalu menjauhi katalis. Transfer reaktan
menuju katalis maupun produk menjauhi katalis hanya merupakan suatu transport
fisik. Sedangkan proses adsorpsi dan desorpsi telah melibatkan perubahan kimia,
dimana terjadinya interaksi antara reaktan dan katalis.
Terdeaktivasinya katalis dapat disebabkan karena 3 hal yaitu peracunan,
pencemaran, dan sintering. Peracunan disebabkan oleh sejumlah kecil material
tertentu untuk katalis tertentu dan berkaitan dengan adsorpsi racun pada situs aktif
katalis, sehingga akan menghalangi proses adsorpsi reaktan oleh katalis.
Pencemaran disebabkan pembentukan kokas (endapan karbon) dan pengendapan
logam pada permukaan katalis. Pembentukan kokas terjadi pada situs katalis yang
memiliki laju reaksi paling besar. Bertambahnya jumlah endapan yang relatif
besar akan menutup situs aktif katalis sehingga aktivitas katalis menurun.
Sedangkan sintering merupakan proses deaktivasi termal, proses fisika yang
menyebabkan terjadinya pegurangan luas permukaan katalis akibat penggunaan
temperatur di atas temperatur normalnya sehingga terjadi perubahan struktur pori
katalis. Pada penggunaan katalis dengan logam dan material pengemban, sintering
akan mengakibatkan penurunan dispersi logam dalam material pengembannya.
Sintering merupakan proses fisik yang berkaitan dengan hilangnya area material
pengembang atau basa oksida, hilangnya penyebaran kristal logam pada katalis
logam pengemban, dan penurunan komponen logam dalam katalis. Laju sintering
akan meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur (Hughes, 1984).
Dalam melakukan fungsinya pada reaksi katalisis, ada 3 faktor yang
mempengaruhi kinerja dari katalis, yaitu aliran fluida, aktivitas katalis dan
stabilitas katalis. Aktivitas dan selektivitas dapat dicapai dengan pemilihan
komponen atau material serta metode preparasi yang mampu memberikan luas
permukaan yang optimum. Aktivitas yang tinggi saja tanpa memperhatikan
selektivitas dan faktor lain semisal kekuatan mekanik tidaklah cukup dalam
menentukan kelayakan pembuatan suatu katalis. Sehingga untuk mendapatkan

kinerja katalis yang optimum, pemilihan komponen pada penelitian ini terdiri atas
2 komponen, yaitu inti aktif dan penyangga.

1.1.2

Zeolit
Zeolit adalah mineral Kristal alumina silikat berpori terhidrat yang

mempunyai struktur kerangka tiga dimensi terbentuk dari tetrahedral [SiO4]+ dan
[AlO4]5-. Kedua tetrahedral di atas dihubungkan oleh atom atom oksigen,
menghasilkan struktur tiga dimensi terbuka dan berongga yang didalamnya diisi
oleh atom atom logam biasanya logam logam alkali atau alkali tanah dan
molekul air yang dapat bergerak bebas (Scot et al., 2003).
Umumnya struktur zeolit adalah suatu polimer anorganik berbentuk
tetrahedral unit TO4, dimana T adalah ion Si4+ atau Al3+ dengan atom O berada
diantara dua atom T, seperti ditunjuk pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Struktur kimia zeolit (Ruren et al., 2007)


Struktur zeolit memiliki rumus umum Mx/n [(AlO2)x(SiO2)y].wH2O, dimana M
adalah kation alkali atau alkali tanah, n adalah jumlah valensi kation, w adalah
banyaknya molekul air per satuan unit sel, x dan y adalah angka total tetrahedral
per satuan unit sel, dan nisbah y/x biasanya bernilai 1 sampai 5, meskipun
ditemukan juga zeolit dengan nisbah y/x antara 10 sampai 100 (Bekkum et al.,
1991).
Xu et al (2007) menjelaskan tentang Primary Building Unit (PBU) dimana
TO4 yang sebagian besar tetrahedral SiO4, AlO4 atau PO4 adalah unit struktur
bangunan dasar dari kerangka zeolit yang biasa disebut dengan unit bangunan
primer. Dalam zeolit, setiap atom T dikoordinasikan ke empat atom oksigen

dengan setiap atom menjembatani dua atom T, sehingga dapat digambarkan pada
Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Ilustrasi struktur unit zeolit (Xu et al., 2007)

Secondary Building Unit (SBU) secara teoritis merupakan unit bangunan


topologi. T dalam kerangka zeolit dapat dianggap terbuat dari unit komponen
terbatas atau unit rantai tidak terbatas. Jenis SBU yang telah ditemukan berjumlah
18 macam kerangka tetrahedral yang ditunjukkan pada Gambar 2.3 (Xu et al.,
2007).

Gambar 2.3 SBU dari zeolit (Xu et al., 2007)

Ada beberapa karakteristik unit bangunan dalam kerangka zeolit. Sebagai


contoh, segi delapan dipotong (solidate unit) di mana permukaannya didefiniksan
dengan 4 cincin dan 6 cincin. Bangun yang terjadi pada kerangka zeolit
ditunjukkan pada Gambar 2.4 (Ruren et al., 2007).

Gambar 2.4 Beberapa contoh bangun ruang pada zeolit (Ruren et al., 2007)

Dewasa ini dikenal dua jenis zeolit, yakni zeolit alam dan zeolit sintesis.
Namun sekarang zeolit yang paling banyak digunakan adalah zeolit sintesis.

2.1.2.1 Zeolit Alam


Zeolit alam ditemukan dalam bentuk mineral dengan komposisi yang
berbeda, terutama dalam Si/Al dan jenis logam yang menjadi komponen minor,
seperti terlihat dalam Tabel 2.1.
Zeolit alam terbentuk karena adanya proses kimia dan fisika yang kompleks
dari batuan batuan yang mengalami berbagai macam perubahan di alam. Para
ahli geokimia dan mineralogy memperkirakan bahwa zeolit merupakan produk
gunung berapi yang membeku menjadi batuan vulkanik, batuan sedimen dan
batuan metamorfosa yang selanjutnya mengalami proses pelapukan karena
pengaruh panas dan dingin (Lestari, 2010). Sebagai produk alam, zeolit alam
diketahui memiliki komposisi yang sangat bervariasi, namun komponen utamanya
adalah silika dan alumina. Di samping komponen utama ini, zeolit juga

mengandung berbagai unsur lain yaitu Na, K, Ca (Bogdanov et al., 2009), Mg dan
Fe (Akimkhan, 2012).

Tabel 2.1 Contoh Zeolit Alam yang Umum Ditemukan (Subagio, 1993)
No

Zeolit Alam

Komposisi

Analism

Na16(Al16Si32O96).16H2O

Kabasit

(Na2,Ca)6(Al12Si24O72).40H2O

Klinoptilotit

(Na4K4)(Al8Si40O96).24H2O

Erionit

(Na,Ca5K)(Al9Si27O72).27H2O

Ferrierit

(Na2Mg2)(Al6Si30O72).18H2O

Heulandit

Ca4(Al8Si28O72).24H2O

Laumonit

Ca(Al8Si16O48).16H2O

Mordenit

Na8(Al8Si40O96).24H2O

Filipsit

(Na,K)10(Al10Si22O64).20H2O

10

Natrolit

Na4(Al4Si6O20).4H2O

11

Wairakit

Ca(Al2Si4O12).12H2O

Terlepas dari aplikasinya yang luas, zeolit alam memiliki beberapa


kelemahan diantaranya mengandung banyak pengotor seperti Na, K, Ca, Mg dan
Fe serta kristalinitasnya kurang baik. Keberadaan pengotor pengotor tersebut
dapat mengurangi aktivitas dari zeolit. Untuk memperbaiki karakter zeolit alam
sehingga dapat digunakan sebagai katalis, adsorben, atau aplikasi lainnya,
biasanya dilakukan aktivasi dan modifikasi terlebih dahulu (Mochovciakova et al.,
2007).

2.1.2.2 Zeolit Y
Zeolit X, Y dan USY merupakan zeolit dengan pori yang luas dengan tipe
kerangka struktur faujasite (FAU), tetapi berbeda pada komposisi kerangka dan
sifat-sifatnya (Lobo, 2003). Rasio Si/Al zeolit X sebesar 1,25 ([AlSiO4]), zeolit Y
sebesar 2,3 dan USY sebesar 5,6 atau lebih. Zeolit X biasanya digunakan sebagai
adsorbent dan pada gas drying. Sedangkan zeolit Y dan USY banyak digunakan
sebagai katalis asam untuk fluid catalytic cracking (FCC). Sintesis zeolit X
dengan rasio Si/Al ~ 1 dilaporkan pada tahun 1980, dengan penggantian dalam
bentuk lithium dan difungsikan sebagai adsorben penting dalam pemisahan
oksigen dari udara menggunakan pressure-swing adsorption. Zeolit Y
dealuminasi juga diteliti sekitar tahun yang sama.

Gambar 2.5 Struktur dari Faujasite (Zeolit Y) (David, 2007)

Perbedaan zeolit Y dan zeolit mordenit menurut Trisunaryati (2012) terletak


pada kristalinitasnya di mana zeolit Y memiliki kristalinitas yang lebih baik
daripada zeolit mordenit. Puncak puncak yang dimiliki zeolit Y lebih rapat

dibandingkan mordenit. Base line yang rata menunjukkan jumlah fasa impuritas
yang bersifat amorf sangat minim atau kemurnian kristal tinggi. Apabila terdapat
fasa amorf sebagai impuritas, maka base line dari puncak puncak pada
difraktogram tidak rata, membentuk lengkungan (bukit).

Gambar 2.6 SEM dari komposit zeolit 13X/karbon aktif(Lakhera et al., 2015)
USY dalam katalis berfungsi sebagai katalis perengkah. Ada beberapa
karakter penting dari USY yang dijadikan dasar dalam pemanfaatannya sebagai
katalis perengkah dengan aktivitas dan selektivitas tinggi, diantaranya sebagai
berikut:
1. Mempunyai situs asam aktif (Weitkamp, 1999)
USY digunakan sebagai katalis perengkah didasarkan situs asam Brnsted.
Situs asam Brnsted yang berasal dari gugus hidroksil dalam struktur pori USY
menentukan aktivitas USY sebagai katalis. Gugus hidroksil biasanya dibentuk
dengan pertukaran dengan ammonium atau kation polivalen diikuti dengan
kalsinasi.

Gambar 2.7 Situs asam Bronsted dan Lewis pada zeolit (Tadeus et al,. 2013)

2. Mempunyai selektivitas tinggi untuk menghasilkan produk (Weitkamp, 1999)


Katalis USY mempunyai selektivitas yang tinggi untuk menghasilkan produk
fraksi bensin dari perengkahan fraksi berat minyak bumi.
3. Luas permukaannya yang besar (Hegedus, 1987)
Reaksi katalitik berlangsung pada permukaan katalis sehingga semakin besar
luas permukaan katalis maka makin banyak molekul yang dapat mengadakan
reaksi katalitik. Luas permukaan yang besar disebabkan banyaknya pori yang
berkaitan erat proses difusi reaktan untuk mencapai sisi aktif USY sehingga
proses katalitik dapat berjalan efektif.
4. Mempunyai kestabilan panas yang tinggi (Weitkamp, 1999)
Kestabilan panas yang tinggi menyebabkan karbon yang dihasilkan lebih
sedikit, sehingga mudah diregenerasi kembali dan mempunyai umur pakai yang
panjang.
Peningkatan daya guna zeolit, khususnya USY dapat dilakukan dengan
pengembanan logam ke dalam zeolit. Katalis logam - pengemban ini banyak
digunakan kalangan industri. Beberapa penelitian yang menunjukkan penggunaan
USY sebagai katalis dengan pengembanan logam, terutama bimetal, diantaranya

dilakukan oleh Barsi dan Cardoso (2009) yang menggunakan katalis bimetal
dengan pengemban USY untuk isomesisasi. Penelitian tersebut menggunakan
bimetal Pt-Ni yang diembankan pada USY untuk isomerisasi n-heksana.Alsobaai
(2006) mengaplikasikan katalis NiMo, CoMo, NiW dan CoW yang diembankan
pada zeolit ultrastabil untuk proses hidrorengkah minyak bumi.Aktivitas katalitik
NiW/USY paling baik dibandingkan dengan katalis NiMo/USY, CoW/USY,
CoMo/USY dan USY sendiri. Penelitian Rawat et al (2010) juga menggunakan
katalis NiMo dan CoMo yang diembankan pada USY untuk proses hydrotreating.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas katalitik lebih tinggi
disebabkan meningkatnya situs asam MoS2 yang juga berpengaruh pada proses
hidrogenasi melalui transfer elektron.

1.1.3

Karbon Aktif
Karbon aktif adalah senyawa karbon yang telah diproses dengan cara diaktivasi

sehingga senyawa karbon tersebut berpori dan memiliki luas permukaan yang sangat
besar dengan tujuan untuk meningkatkan daya adsorpsinya (Arfan, 2006). Karbon
aktif merupakan material yang unik karena material ini memiliki pori/celah/rongga
dengan ukuran skala molekul (nanometer). Pori tersebut memiliki gara Van Der Waals
yang kuat.
Di Indonesia bahan baku untuk membuat karbon aktif sebagian besar
menggunakan tempurung kelapa dan kayu. Di pihak lain bahan baku yang dapat
dibuat menjadi karbon aktif adalah semua bahan yang mengandung karbon, baik yang
berasal dari tumbuh tumbuhan, binatang, maupun barang tambang seperti batu bara.
Bahan bahan tersebut adalah berbagai jenis kayu, sekam padi, tulang binatang, batu
bara, tempurung kelapa, kulit biji kopi dan lain lain. Akhir akhir ini arang aktif
dibuat dari bahan baku polimer seperti poliakrilonitril, rayon dan resol fenol (Hendra,
2006).
Arang tempurung kelapa adalah arang yang menghasilkan karbon dengan
pori - pori terbuka. Arang tempurung kelapa mempunyai permukaan yang luas
dan berongga dengan struktur yang berlapis. Hal ini menyebabkan arang
tempurung kelapa dapat menyerap gas atau zat lain dalam larutan dan udara

(Tjokrokusumo, 1995). Rendemen arang aktif dari tempurung kelapa berkisar


antara 64 86,7% sedangkan rendemen arang aktif dari dari serbuk gergaji
campuran kayu berkisar antara 56 85,3% (Hendra, 2006).
Karbon aktif bersifat hidrofobik, yaitu molekul pada karbon aktif cenderung
tidak bisa berinteraksi dengan molekul air. Luas permukaan (surface area) adalah
salah satu sifat fisik dari karbon aktif. Karbon aktif memiliki luas permukaan sangat
besar 1,95x106 m2/kg dengan total volume pori porinya 10,28x10-4 m3/kg dan
diameter pori rata rata 21,6 , sehingga sangat memungkinkan untuk dapat
menyerap adsorbat dalam jumlah banyak (Martin, 2008).
Karbon aktif tidak menyerap secara optimal pada bahan bahan kimia
tertentu seperti alkohol, glikol, ammonia, logam dan bahan bahan non organik
seperti lithium, sodium, besi, timah, arsenik, florin, dan boric acid (Wikipedia
Contributors, 2008)
Berdasarkan Gambar 2.8 merupakan struktur kimia dari karbon aktif

Gambar 2.8 Struktur kimia karbon aktif (Sudibandriyo, 2003)


Berdasarkan pori porinya, karbon aktif dapat dibedakan menjadi tiga jenis
yaitu (Sukir, 2008) :
1. Makropori
Merupakan bagian paling luar dari karbon aktif, dengan jari jari lebih besar dari
25 nm dengan volum pori pori 0,2 0,5 cm3.g-1 dan luas permukaan 0,2 2 m2.g-1.
Makropori dan mesopori memberikan kapasitas adsorpsi karbon aktif dan keduanya

terbentuk selama proses aktivasi.


2. Makropori
Merupakan bagian paling luar dari karbon aktif, dengan jari jari lebih besar dari
25 nm dengan volum pori pori 0,2 0,5 cm3.g-1 dan luas permukaan 0,2 2 m2.g-1.
Makropori dan mesopori memberikan kapasitas adsorpsi karbon aktif dan keduanya
terbentuk selama proses aktivasi.
3. Mesopori
Memiliki jari jari 1 25 nm dengan volum pori pori mencapai 0,02 0,01
cm3.g-1 dengan luas permukaan 1 100 m2.g-1. Mesopori merupakan cabang setelah
makropori dan berfungsi sebagai sarana transportasi.
4. Mikropori
Merupakan pori pori terkecil dengan jari jari kurang dari 1 nm dengan volum
pori 0,15 0,5 cm3.g-1 dan luas permukaan mencapai 100 1000 m2.g-1.

Gambar 2.9 SEM dari karbon aktif (Song et al, 2014)

Karbon sering digunakan sebagai pendukung katalis, terutama dalam reaksi


organik sangat spesifik. Katalis yang dihasilkan sering digunakan dalam reaksi
hidrogenasi yang dilakukan dalam fase cair dan terlihat bahwa bahan karbon yang
didukung sangat cocok untuk kondisi seperti itu (Ross, 2011).

Pada prinsipnya pembuatan karbon aktif terdiri atas tiga proses sebagai
berikut (Martin, 2008) :
1. Pemilihan bahan dasar
Karbon aktif bisa dibuat dari berbagai macam bahan, selama bahan tersebut
mengandung unsur karbon seperti batubara, tempurung kelapa, kayu, sekam padi,
tulang binatang, kulit biji kopo dan lain lain. Pemilihan bahan dasar untuk
dijadikan karbon aktif harus memenuhi beberapa kriteria yaitu unsur anorganik
yang rendah, ketersediaan bahan (tidak mahal dan mudah didapat), memiliki
durability yang baik dan mudah untuk diaktivasi.
2. Karbonisasi
Karbonisasi adalah suatu proses pirolisis pada suhu 400 900 oC. Pirolisis
adalah suatu proses untuk merubah komposisi kandungan kimia dari bahan
organic dengan cara dipanaskan dalam kondisi tidak ada kandungan udara sekitar.
Jadi, bahan dasar diselimuti gas inert untuk mencegah bahan terbakar karena
adanya udara sekitar. Biasanya gas nitrogen (N2) dan argon (Ar) digunakan pada
proses karbonisasi. Tujuan karbonisasi untuk menghilangkan zat zat yang
mudah menguap (volatile matter) yang terkandung pada bahan dasar. Bahan dasar
yang telah melalui proses karbonisasi memiliki pori pori.
3. Aktivasi
Aktivasi adalah bagian dalam proses pembuatan karbon aktif yang bertujuan
untuk membuka atau menciptakan pori yang dapat dilalui oleh adsorbat,
memperbesar distribusi dan ukuran pori serta memperbesar luas permukaan
karbon aktif dengan proses heat treatment pada temperature 800 1200 oC.
Terdapat 2 metode aktivasi, yaitu :

1.1.3.1 Aktivasi Fisika


Bahan dasar dari karbon aktif diaktivasi menggunakan activating agent dari
gas CO2 atau steam pada suhu 800 1200 oC. Faktor faktor yang mempengaruhi
karakteritik/sifat dari karbon aktif yang dihasilkan proses aktivasi fisika antara
lain bahan dasar, laju aliran kalor furnace, laju aliran gas, proses karbonisasi

sebelumnya, temperatur pada saat proses aktivasi, activating agent yang


digunakan, lama proses aktivasi dan alat yang digunakan.

1.1.3.2 Aktivasi Kimia


Bahan dasar direndam terlebih dahulu pada bahan kimia tertentu yang
bersifat asam (misalnya :phosphoric acid H3PO4), basa (potassium hydroxide
KOH, sodium hydroxide NaOH). Proses dilanjutkan dengan proses karbonisasi
dan kemudian hasil proses karbonisasi tersebut didinginkan lalu dicuci dengan
tujuan menghilangkan atau membuang activating agent yang sebelumnya telah
bercampur pada bahan dasar.
Sisi asam karbon aktif terbentuk dengan reaksi antara gugus hidroksil pada
permukaan karbon aktif dan ion H+ dalam larutan. Oleh karena itu, permukaan
karbon menjadi bermuatan positif dan pH larutan menurun (Ramos,

1999).

Karakteristik karbon aktif yang dapat diukur antara lain yaitu kadar abu dan
kadar air (Ikawati, 2009).
1. Kadar abu
Semakin meningkat dengan adanya peningkatan suhu karbonisasi dan
lamanya waktu karbonisasi.
2. Kadar air
Menunjukkan penurunan dengan adanya kenaikan suhu dan lamanya waktu
karbonisasi. Kadar air juga meningkat seiring dengan peningkatan bilangan iodin.
Mencari karakteristik dari arang ini yaitu berupa luas permukaan (surface
area) dapat dilakukan dengan metode adsorpsi gas.

1.1.4

Komposit
Pengertian komposit adalah bahan yang terbentuk apabila dua atau lebih

komponen yang berlainan digabung (Kroschwitz, 1987). Sifat maupun


karakteristik dari komposit ditentukan oleh beberapa faktor :
1. Material yang menjadi penyusun komposit
Karakteristik komposit ditentukan berdasarkan material penyusun dan dapat
ditentukan secara teoritis, sehingga akan berbanding secara proporsional.

2. Bentuk dan struktur penyusun dari komposit


Bentuk

(dimensi)

dan

struktur

(ikatan)

penyusun

komposit

akan

mempengaruhi karakteristik komposit.


3. Interaksi antar penyusun
Karbon aktif merupakan salah satu material yang sering digunakan dalam
mengkompositkan padatan.
Contohnya adalah penelitian Dehaghani et al (2015) yang berhasil membuat
nano komposit berpori Co-Cr-Mo/58s dengan menggunakan spaceholder dan
powder metallurgy techniques. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
nanokomposit berpori ini menjadi biomaterial yang menjanjikan untuk teknik
jaringan tulang berdasarkan struktur berporinya, sifat mekanik, bioaktivitas dan
biokompatibilitas. Muchit et al (2013) juga melakukan modifikasi ZnO dengan
cara mengkompositkannya dengan karbon aktif untuk fotodegradasi direct blue
3R serta fotoreduksi ion logam Pb2+ dan Cd2+, fungsi penambahan karbon aktif
disini adalah sebagai material yang mampu meningkatkan penyerapan terhadap
logam dalam proses fotokatalisis dibandingkan apabila hanya menggunakan ZnO.
Pembuatan komposit zeolit 13X/karbon aktif berhasil dibuat oleh Lakhera et al
(2015) dengan metode sol gel dimana penelitian tersebut menyimpulkan bahwa
penambahan amorf karbon aktif hingga sebanyak 25% ke dalam komposit zeolit
13X/karbon aktif tidak mempengaruhi kristalinitas komposit secara signifikan.
Penelitian lain dilakukan oleh Septiani et al (2012) tentang pembuatan
katalis ZnO/karbon aktif dengan metode solid state. Penelitian tersebut
menyebutkan karbon aktif menghalangi terjadinya penumpukan pada sesama
partikel ZnO, terhalangnya penumpukan partikel ZnO ini diasumsikan akan
menyebabkan luas permukaan partikel ZnO semakin besar yang nantinya akan
meningkatkan aktivitas fotokatalitik ZnO.
Septiani et al (2012) juga memvariasikan penambahan karbon aktif pada
katalis ZnO yaitu 2%, 5%, dan 10%. Semakin meningkatnya kadar karbon aktif
maka kemampuan katalitik katalis ZnO/KA dengan berbagai variasi juga
meningkat.

Hal

ini

dikarenakan

karbon

aktif

menghalangi

terjadinya

penggumpalan antar sesama partikel ZnO yang diasumsikan dapat memperbesar

luas permukaan spesifik sehingga akan meningkatkan aktivitas fotokatalitik ZnO.


Penelitian tersebut menunjukkan bahwa katalis ZnO/KA 10% yang diujikan
memberikan persen degradasi tertinggi pada saat penyinaran sinar UV untuk
mendegradasi rhodamin B 10 ppm. Ini membuktikan bahwa katalis ZnO/KA
dengan variasi KA 10% memberikan aktifitas paling baik dibandingkan katalis
ZnO, katalis ZnO/KA variasi 2% dan 5% serta tanpa katalis.

1.1.5

Logam Co dan Mo Sebagai Katalis


Katalis bimetal mempunyai aktivitas yang tinggi daripada katalis dengan

satu logam saja. Logam Co dan Mo dalam reaksi katalisis berfungsi untuk
mengaktifkan molekul-molekul diatomik atau poliatomik dan kemudian
memberikan molekul aktif tersebut kemolekul reaktan yang lain. Kemampuan
logam - logam transisi dalam mengatalisis reaksi berkaitan dengan adanya
elektron pada orbital d yang berbaur dengan keadaan elektronik orbital s dan p
yang terdekat, sehingga muncul keadaan elektronik berenergi rendah dalam
jumlah yang besar dan orbital kosong yang ideal untuk reaksi katalisis. Situs situs yang memiliki keadaan elektronik degenerasi dalam jumlah yang besar
adalah situs-situs paling aktif dalam pemutusan dan pembentukan ikatan. Keadaan
elektronik seperti ini mempunyai muatan, konfigurasi dan spin yang fluktuatif dan
hal ini terjadi pada situs-situs logam dengan bilangan koordinasi yang besar
(Hegedus, 1987).
Rodiansono (2007) menyatakan bahwa penambahan logam pada padatan
pengemban dapat meningkatkan sifat keasamannya. Hal ini dikarenakan logam
dapat terdispersi di permukaan dan di dalam pori-pori pengemban yang memiliki
orbital d kosong atau terisi setengah penuh yang efektif menerima pasangan
elektron dari basa adsorbat.
Kobalt merupakan unsur transisi yang terletak pada golongan 8 pada periode
keempat. Adanya orbital kosong pada logam kobalt, menyebabkan logam ini
bersifat asam, sehingga dapat digunakan sebagai katalis hidrorengkah suatu
senyawa berfraksi tinggi. Dari sifat keasaman ini, kobalt mampu bereaksi dengan
senyawa untuk menghilangkan pengotor sehingga didapatkan senyawa murni

tanpa pengotor.
Selain logam kobalt, logam transisi lainnya yang biasa digunakan sebagai
katalis adalah molibdenum (Mo). Molibdenum mempunyai konfigurasi elektron
[Kr] 4d5 5s1. Konfigurasi elektron logam molibdenum menunjukkan adanya
orbital 4d setengah penuh sehingga terdapat elektron-elektron yang belum
berpasangan.
Pengembanan logam molibdenum ke dalam sistem pori pengemban
biasanya menggunakan garam amoniumnya yaitu (NH4)6Mo7O24.4H2O (Li et al,.
1999). Molibdenum yang diembankan pada padatan pengemban dapat bertindak
sebagai penyetabil sifat elektrik dari katalis.
Kombinasi logam yang sering digunakan dalam preparasi katalis adalah
dengan kobalt atau logam transisi lainnya. Logam - logam transisi (Co dan Mo)
sangat aktif untuk katalisis, tetapi dalam keadaan murni diperlukan biaya yang
sangat tinggi untuk mendapatkan luas permukaan dan volum yang besar.
Beberapa contoh logam prekursor Co dan Mo sebagai katalis antara lain
penelitian Nugrahaningtyas et al (2013) yang melakukan preparasi dan
karakterisasi katalis bimetal CoMo/USY dengan variasi konsentrasi prekursor.
Penelitian tersebut memperoleh hasil semakin besar konsentrasi logam Co dan Mo
yang ditambahkan maka semakin besar kandungan logam total yang teremban.
Hererra et al (2001) melakukan penelitian tentang teknik analisis struktur kimia
katalis CoMo/SiO2 yang digunakan untuk memproduksi Single Walled Carbon
Nanotube (SWCNT) dan diketahui bahwa selama produksi SWCNT oksida Mo
berubah menjadi Mo karbida sehingga menghancurkan interaksi yang terjadi dan
melepaskan logam Co saat keadaan dispersi tinggi di mana yang berperan dalam
produksi SWCNT.

1.1.6

Katalis Logam Pengemban


Ada beberapa macam metode preparasi untuk menempatkan komponen aktif

logam Co dan Mo ke dalam pengemban USY. Moss mengelompokkan metode


preparasi menjadi 4 macam yaitu metode impregnasi yaitu memasukkan katalis
logam secara paksa ke dalam rongga - rongga pengemban, pertukaran ion,

kopresipitasi dan deposisi. Dari keempat metode tersebut yang paling umum
digunakan adalah impregnasi (Anderson, 1976).
Beberapa contoh metode impregnasi dilakukan oleh Nugrahaningtyas et al
(2013) dengan mengkarakterisasi katalis CoMo/USY dimana tidak adanya
kerusakan setelah dilakukan impregnasi namun terjadi perubahan menjadi amorf
pada katalis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pembuatan katalis bimetal
dengan metode impregnasi terpisah mempunyai efektivitas yang lebih baik
daripada pembuatan katalis dengan metode koimpregnasi. Impregnasi merupakan
prosedur yang umum untuk membuat katalis dengan dua logam pengemban
(bimetal). Katalis bimetal dapat dibuat dengan cara kedua garam logam
dimasukkan dalam waktu yang sama (koimpregnasi) atau dengan cara garam
logam pertama dimasukkan kemudian diikuti garam logam kedua (impregnasi
terpisah). Dalam koimpregnasi, letak dan sifat logam dalam pengemban
tergantung pada jenis garam prekursor yang digunakan dan kecenderungan untuk
membentuk paduan dua komponen (Augustine, 1996).
Dalam impregnasi terpisah diharapkan logam dapat terdispersi secara
merata karena tidak adanya kompetisi antara logam untuk masuk dalam
pengemban.Pembuatan katalis dengan metode impregnasi, situs asam diharapkan
tersebar di permukaan katalis (Rahmawati et al., 2013).
Bentuk murni dari suatu padatan dan logam bisa digunakan sebagai katalis
suatu senyawa. Namun, bentuk murni ini kurang efisien dan ekonomis, sehingga
diperlukan kombinasi antara logam dan padatan. Kombinasi antara logam dan
padatan ini diharapkan saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing masing atau bisa juga mendukung sifat fisik dan kimia masing-masing. Sebagai
contoh padatan dengan luas pori yang tinggi dan bersifat asam, dikombinasikan
dengan logam yang mempunyai keasaman tinggi, sehingga akan didapatkan
kombinasi logam dan padatan dengan luas permukaan yang tinggi dan sifat
keasaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan padatan awal. Selain itu, dengan
adanya kombinasi logam dan padatan, akan menekan biaya produksi karena tidak
membutuhkan banyak logam untuk proses katalisisnya. Kombinasi logam-padatan

ini sering disebut dengan pengembanan logam.


Pengembanan logam pada suatu padatan pengemban dapat dilakukan
dengan beberapa metode, diantaranya impregnasi, presipitasi, grafting, pertukaran
ion dan lain sebagainya. Metode impregnasi merupakan metode pengembanan
dengan memasukkan suatu logam ke dalam pori suatu pengemban dengan paksa.
Metode impregnasi biasanya digunakan jika logam yang dimasukkan merupakan
inert prekursor yang tidak dapat berinteraksi dengan permukaan padatan. Dua hal
yang dapat dibedakan, yaitu bergantung pada apakah pori pengemban hanya
terdapat udara pada awal preparasi ataukah pengemban sudah terembani pelarut
dari larutan impregnasi (biasanya air) atau cairan lain. Metode pertukaran ion
merupakan penggantian ion pada permukaan pengemban dengan ion lain melalui
interaksi elektrostatik. Misalnya pengemban dengan ion A dicelupkan ke dalam
larutan dengan volume berlebih (dibandingkan volume pori) yang mengandung
ion B. Ion B akan masuk ke dalam ruang pori pengemban dan menggantikan ion
A dalam larutan sampai terjadi kesetimbangan yang menandakan distribusi dua
ion antara padatan dan larutan (Che et al,. 1999).

1.1.7

Aktivasi Katalis
Aktivasi katalis dilakukan untuk mengaktifkan sisi aktif dari katalis.

Sebagai contoh jika dilihat dari sisi pengemban, maka pengotor yang menutupi
situs - situs aktif pengemban dapat dihilangkan pada saat aktivasi. Apabila jika
dilihat dari sisi logam aktif, aktivasi diharapkan dapat membentuk logam dalam
bentuk logam murninya (bilangan oksidasi nol). Hal ini bergantung pada teknik
yang digunakan. Berikut ini ada beberapa metode aktivasi katalis menurut
Delmon (1999) antara lain kalsinasi, oksidasi-reduksi dan reduksi - sulfidasi.
Rinaldi et al (2010) melakukan kalsinasi pada suhu 500 C dalam pembuatan
katalis Mo/Al2O3. Aktivasi pada suhu tinggi dapat menghilangkan senyawa
pengotor tanpa merusak struktur kristal dari pengemban maupun logam. Selain
itu, dapat membentuk pori pada katalis, sehingga lebih efektif jika diaplikasikan
untuk pengujian. Aktivasi dapat juga digunakan untuk mendistribusikan molekul
logam pada permukaan pengemban secara merata.

Tahap aktivasi yang meliputi kalsinasi, oksidasi dan reduksi digunakan


untuk meratakan distribusi logam dalam pengembanan. Pengeringan bertujuan
untuk menghilangkan pelarut yang digunakan dengan perlakuan termal.Kalsinasi
merupakan perlakuan panas pada suhu yang relatif tinggi di dalam furnace
(Hamdan, 1992).
Kalsinasi bertujuan untuk menghilangkan pengotor pengotor organik,
menguraikan senyawa logam serta memperbesar struktur permukaan pengemban.
Kalsinasi mempengaruhi mobilitas logam dalam pengemban dan interaksi antar
logam dan pengemban. Aliran gas inert seperti gas nitrogen diperlukan untuk
memperoleh mobilitas logam yang merata di setiap struktur permukaan katalis.
Menurut Augustine (1996), kalsinasi yang dilakukan sebelum reduksi akan
memberikan logam yang lebih terdispersi daripada direduksi secara langsung.
Oksidasi bertujuan untuk merubah garam prekursor yamg mungkin masih
tersisa pada proses kalsinasi diubah menjadi bentuk oksida. Oksidasi juga
diperlukan agar komponen aktif logam membentuk oksida sehingga terdistribusi
lebih baik dalam pengembanan. Proses oksidasi dilakukan menggunakan aliran
gas oksigen pada temperatur dan waktu tertentu.
Reduksi merupakan proses aktivasi yang terakhir dengan menggunakan
gas hidrogen pada temperatur 400 600 C, untuk mengubah senyawa logam atau
oksidanya menjadi logam (bilangan oksidasi = 0) sebagai situs asam Lewis.
Menurut Augustine (1996) reduksi diperlukan karena senyawa logam yang
terdapat dalam pengembanan merupakan oksida yang terbentuk dari garam logam
selama tahap kalsinasi atau berupa garam itu sendiri. Proses reduksi berlangsung
seperti pada reaksi berikut :
MO(s) + H2 M(s) + H2O

1.1.8

M = logam

Karakter Katalis
Karakter katalis antara lain karakter gugus fungsi, luas permukaan,

kandungan logam, keasaman dan untuk mengetahuinya maka dapat digunakan


analisis secara manual ataupun dengan menggunakan alat. Karakter katalis dapat
dianalisis dengan beberapa metode analisis antara lain:

1.1.8.1 Analisis Gugus Fungsi


Analisis spektrofotometer IR dapat digunakan untuk mengetahui gugus
gugus yang terbentuk dari sampel yang dihasilkan. Sifat adsorpsi arang aktif
tidak hanya ditentukan oleh ukuran pori tetapi juga dipengaruhi oleh komposisi
kimia dari arang aktif berupa gugus fungsi yang merupakan gugus fungsi dari
arang aktif. Penelitian Budiono (2012) menghasilkan spektra FTIR seperti dalam
Gambar 2.10.

Gambar 2.10 Spektra FTIR arang tempurung kelapa (Budiono et al., 2012)

Dari

Gambar

2.10

spektra

FTIR

arang

tempurung

kelapa,

menginformasikan adanya pita serapan pada bilangan gelombang 3433,29


3425,58 cm-1 muncul vibrasi ulur pada gugus O-H. Vibrasi ini didukung pita
serapan pada bilangan gelombang 1165,0 1111,0 cm-1 yang merupakan vibrasi
C-O. Pada bilangan gelombang 1620,35 1581,63 cm-1 merupakan vibrasi C=C
(Budiono et al., 2012). Analisis hasil FTIR dari Zeolit Y menghasilkan spektra
pada Gambar 2.11.
Gambar 2.11 menunjukkan bahwa serapan asimetris 1050 1150 cm-1,
serapan simetris 750 820 cm-1 dan cincin ganda 560 cm-1 merupakan daerah

spektrum FTIR dari zeolit Y menunjukkan rasio Si/Al yang lebih tinggi.

Gambar 2.11 Spektra FTIR dari nanokristal zeolit Y (Holmberg et al., 2004)

Lakhera et al (2015) telah mensintesis dan mengkarakterisasi komposit


zeolit 13X/karbon aktif sehingga menghasilkan spekta FTIR seperti pada Gambar
2.12.

Gambar 2.12 Spektra FTIR Zeolit 13X/Karbon Aktif (a) S1 (ACZB595) dan (b)
S2 (ACZB2575) (Lakhera et al., 2015)

Dari Gambar 2.12 penelitian Lakhera et al (2015) menunjukkan pita


serapan yang kuat tampak pada 3437 cm -1 dan 3441 cm-1 adalah gugus fungsi OH yang diasumsikan berasal dari molekul air yang ada dalam komposit.
1.1.8.2 Analisis Luas Permukaan, Volum Pori dan Jari jari Pori
Percobaan metode adsorpsi gas yang paling umum adalah menentukan
hubungan jumlah gas teradsorpsi (pada adsorben) dan tekanan gas. Pengukuran ini
dilakukan pada suhu tetap dan hasil pengukuran digambarkan dalam grafik dan
disebut adsorpsi isotermis (Sholehah, 2008). Isoterm adsorpsi adalah hubungan
antara jumlah gas dari adsorbat yang terserap pada setiap massa adsorben dengan
tekanan gas yang diberikan pada temperatur konstan. Adsorpsi isotermis dapat
dihitung dengan mengukur tekanan adsorbat pada saat awal (sebelum terjadi
kesetimbangan) dan pada saat terjadinya kesetimbangan (Arfan, 2006). Hasil uji
SAA pada zeolit Y dan karbon aktif ditunjukkan pada Gambar 2.13 dan Gambar
2.14.

Gambar 2.13 Hasil analisis SAA nanokristal zeolit Y (Holmberg et al., 2004)

Gambar 2.14 Hasil analisis SAA karbon aktif dari tempurung kelapa
(Song et al., 2014)
Gambar 2.14 menunjukkan isoterm adsorpsi dari karbon aktif dari
tempurung kelapa menunjukkan kurva tipe I berdasarkan International Union of
Pure and Applied Chemistry (IUPAC) yang menjelaskan tentang struktur
mikropori. Hasil penggambaran kurva antara jumlah gas yang teradsorpsi dengan
tekanan gas dalam keadaan isotermis menurut IUPAC dapat dibagi menjadi 6
jenis, seperti Gambar 2.15 berikut (Marsh et al., 2006)

Gambar 2.15 Klasifikasi isoterm adsorpsi IUPAC

Penjelasan bentuk kurva :


1. Kurva tipe I
Tipe ini disebut Isoterm Langmuir, menggambarkan adsorpsi satu lapis
(monolayer).Banyaknya adsorbat mendekati harga pembatas saat P/Po. Tipe ini
biasanya diperoleh dari adsorben berpori mikropori. Kurva jenis ini biasanya
diperoleh dari adsorben karbon aktif dan zeolit molecular sieve.
2. Kurva tipe II
Tipe ini adalah bentuk normal isoterm pada adsorben tak berpori atau
adsorben yang hanya memiliki makropore. Titik B mengindikasikan tekanan
relatif data pelapisan monolayer selesai.
3. Kurva tipe III
Tipe ini menunjukkan tipe kuantitas adsorben semakin tinggi saat tekanan
relative bertambah. Tidak adanya titik B seperti pada tipe II disebabkan karena
interaksi adsorbat adsorbat yang lebih kuat dibanding adsorben adsorben.
Sama seperti tipe II, jumlah lapisan pada permukaan adsorben tiak terbatas
(multilayer)
4. Kurva tipe IV
Tipe ini hampir sama dengan tipe II pada rentang tekanan relatif rendah
sampai menengah. Kurva jenis ini dihasilkan dari padatan adsorben berukuran
mesopore.
5. Kurva tipe V
Tipe ini hampir sama dengan tipe III, dihasilkan dari interaksi yang rendah
antara adsorben dengan adsorbat. Tipe V ini juga ditunjukkan oleh pori dengan
ukuran sama seperti tipe IV.
6. Kurva tipe VI
Tipe ini mengindikasikan permukaan adsorben yang meiliki struktur pori
yang sangat seragam (extremely homogeneous)
Luas permukaan dari material berpori adalah suatu cara yang tepat untuk
menyatakan kapasitas adsorpsi dari material berpori itu sendiri. Luas permukaan
adsorben secara esensial tidak dinyatakan dalam bentuk makro, disini maksudnya
tidak seperti menyatakan luas permukaan suatu bidang permukaan. Hal ini

dikarenakan proses adsorpsi itu sendiri terjadi pada permukaan berukuran


atom/molekul. Permukaan pori, khususnya mikropori yang berukuran < 2 nm
sampai saat ini belum bias dibuktikan dimensi dan bentuk aslinya melalui cara
visual (Marsh et al., 2006)
Beberapa sistem pengujian telah dikembangkan untuk menentukan luas
permukaan. Salah satunya adalah pengujian luas permukaan dengan adsorpsi gas
dari model isotermis Langmuir (1918) dan model isotermis Brunauer, Emmett,
and Teller (BET) (1938). Berdasarkan metode ini, sejumlah adsorbat yang
teradsorp oleh suatu adsorben sebagai fungsi tekanan ditentukan secara
gravimetrik ataupun volumetrik dan luas permukaan material tersebut, kemudian
dihitung dengan kedua model adsorpsi isotermis tersebut. Penentuan luas
permukaan dari adsorben dengan metode tersebut biasanya menggunakan gas
nitrogen (N2) (Perwitasari, 2007).
Metode adsorpsi gas yang biasa digunakan untuk mencari luas permukaan
adalah metode BET. Metode ini dikembangkan oleh Stephen Brunauer, Paul
Emmett, dan Edward Teller (BET) pada tahun 1938. Metode ini menggunakan gas
N2 pada temperature 77 K untuk menentukan kapasitas permukaan.Metode ini
memprediksikan nilai dari luas permukaan pada lapisan monolayer (monolayer
coverage). Jadi, sebenarnya metode BET ini tidak memprediksikan nilai
sesungguhnya luas permukaan adsorben, melainkan hanya memprediksikan
monolayer coverage yang terjadi di permukaan, biasanya menggunakan satuan
mmol/g (Marsh et al., 2006).
Daerah BET (Brunauer, Emmett, and Teller) luas permukaan zeolit yuang
disintesis dari abu layang umumnya dalam kisaran 49 69 m2/g. Zeolit dengan
tipe zeolit Y dan P diketahui 39 211 m2/g, volum pori 0,014 0,075 cm3/g dan
rata rata diameter pori 2,95 6 nm (Kamarudin et al., 2006). Luas permukaan
internal karbon aktif yang diteliti oleh Juliandini dan Trihadiningrum (2008),
lebih besar dari 500 m2/g dan bisa mencapai 1908 m2/g. Sudibandriyo dan
Mulyati (2008) melakukan penelitian terhadap karbon aktif dengan menggunakan
bahan dasar tempurung kelapa dengan perlakuan aktivasi pada temperatur yang
lebih rendah (300 600 oC), luas permukaan karbon aktif yang dihasilkan adalah

100 300 m2/g. Penelitian Al-Swaidan+et al (2011) menyebutkan bahwa karbon


aktif komersial dengan aktivator H3PO4 memiliki luas permukaan sebesar 1069
m2/g.

1.1.8.3 Analisis Kristalinitas


Spektroskopi difraksi sinar-X merupakan salah satu metode karakterisasi
material yyang paling tua dan paling sering digunakan hingga sekarang. Teknik
ini digunakan untuk mengidentifikasi fasa kristalin dalam material dengan cara
menentukan parameter struktur kisi serta untuk mendapatkan ukuran partikel.
Difraksi sinar-X terjadi pada hamburan elastis foton foton sinar-X oleh atom
dalam sebuah kisi periosik. Hamburan monokromatis sinar-X dalam fasa tersebut
memberikan interferensi yang konstruktif. Dasar dari penggunaan difraksi sinarX untuk mempelajari kisi Kristal adalah berdasarkan persamaan Bragg.

Gambar 2.16 Spektra XRD Zeolit 13X/Karbon Aktif (a) S1 (ACZB595) dan (b)
S2 (ACZB2575) (Lakhera et al., 2015)

Gambar 2.16 menunjukkan pola XRD hasil sintesis komposit zeolit 13X
dan karbon aktif pada sampel S1 (ACZB595) dan S2 (ACZB2575). Difraksi
sampel faujasite tipe zeolit 13X menurut JCPDS No: 12-0228 pada indeks 2 =
6,26o dan 2

= 6,18o. Pola XRD tersebut menegaskan struktur kristal dari

komposit S1 dan S2 yang masing masing terdiri dari 5% b/b dan 25% b/b
karbon aktif.

1.1.8.4 Analisis Jumlah Kandungan Logam


XRF merupakan metode analitikal untuk menentukan komposisi kimia
dari semua jenis material. Material ini dapat dalam bentuk padat, cair, serbuk,
filtrate atau bentuk lain. XRF kadang-kadang juga dapat digunakan untuk
menentukan ketebalan dan komposisi pelapisan.
Pada XRF, sinar X dihasilkan dari sumber energi yang menyinari
sampel. Atom-atom penyusun sampel akan mengemisikan radiasi sinar X
terfluoresen dengan energi diskrit yang karakteristik untuk atom tersebut.
Perbedaaan

energi

menghasilkan

warna

yang

berbeda

juga.

Dengan

menghitung energi dari radiasi yang diemisikan sampel, dapat diketahui unsur
yang dianalisis. Analisis ini merupakan analisis secara kualitatif. Sedangkan
untuk analisis kuantitatifnya, dilakukan dengan menghitung intensitas energi
emisi yang menunjukkan seberapa banyak

masing-masing unsur yang

terkandung dalam sampel (Brouwer, 2003).

1.1.8.5 Analisis Keasaman


Definisi asam-basa dapat digunakan untuk menerangkan pengertian tentang
gejala asam-basa yang ditunjukkan sebagai sifat permukaan padatan alumina. Hal
ini diperlukan untuk menerangkan gugus aktif pada padatan tersebut, baik berupa
gugus asam maupun basa. Untuk menentukan letak gugus aktif ini sangat rumit,
namun konsep paling sederhana diperoleh dengan menghubungkan sifat
permukaan dengan adanya ikatan terhadap asam atau basa yang teradsorp.
Pengertian keasaman permukaan padatan meliputi aspek kekuatan asam dan
jumlah gugus asamnya serta pusat asam dari berbagai macam padatan.Jumlah

asam pada permukaan biasanya dinyatakan sebagai banyaknya molekul atau


jumlah basa yang dapat teradsorp dalam satuan berat sampel atau satuan luas
permukaan padatan.
Pengukuran keasaman permukaan pada katalis padat dapat membantu dalam
mengkarakterisasi suatu katalis dan juga memberikan suatu metode penyaringan
sampel katalis untuk hasil dalam suatu proses. Pada katalis silika alumina,
keasaman permukaan meningkat dengan meningkatnya komposisi alumina pada
katalis silika-alumina (Rahman, 2012).
Penentuan keasaman padatan atau katalis dapat dilakukan secara gravimetri
yaitu dengan menimbang padatan sebelum dan sesudah mengadsorpsi basa.
Jumlah basa yang teradsorp secara kimia pada permukaan padatan menunjukkan
banyaknya gugus asam aktif pada permukaan padatan. Basa yang sering
digunakan sebagai adsorbat (probe molecule) pada permukaan padatan adalah
kuinolin, piridin, piperidin, trimetilamin, n-butilamin, pirol dan amonia (NH3)
(Pandingan et al., 2008). Amonia dapat digunakan sebagai molekul uji keasaman
suatu padatan, dimana basa organik teradsorpsi pada padatan yang terjadi melalui
transfer pasangan elektron dari molekul adsorbat ke situs asam Lewis (Satterfield,
1980). Trisunaryanti (1986) menyatakan bahwa basa yang paling baik digunakan
adalah amonia.

1.2

Kerangka Pemikiran
Karbon aktif merupakan salah satu material pengemban berkualitas bagus

karena memiliki luas permukaan dan volum pori yang besar dengan biaya
pembuatan yang relatif murah. USY mempunyai stabilitas termal dan tingkat
dispersi yang tinggi serta mampu menstabilkan logam untuk membentuk katalis
bifungsional. Pembuatan komposit KAU dilakukan dengan penambahan sejumlah
karbon aktif pada USY. Sifat sifat USY yang kurang mampu secara maksimal
mengemban logam akan tertutupi dengan penambahan karbon aktif yang memiliki
luas permukaan dan volum pori yang besar ke USY. Namun, penambahan karbon
aktif ke dalam komposit menyebabkan kerapatan antara karbon aktif dan USY
dalam komposit semakin tinggi sehingga menghasilkan porositas yang rendah

sehingga luas permukaan dan volum pori rendah (Latifah, 2010). Banyaknya
jumlah logam yang teremban juga dapat menurunkan karakter keasaman katalis
karena adanya penumpukan logam pada permukaan pengemban, sehingga situs
aktif dari pengemban menjadi tertutup.
Interaksi yang terjadi di dalam komposit KAU dapat terjadi secara fisik
antara USY dengan karbon aktif yang menggunakan binder sukrosa sebagai
pengikatnya maupun tanpa binder. Pada komposit KAU akan terjadi pergeseran
panjang gelombang pada gugus fungsi O-H dan C=C yang berasal dari karbon
aktif namun tidak adanya pereseran panjang gelombang pada gugus fungsi Si/Al.
Hal ini akan membuktikan bahwa interaksi fisik yang terjadi tidak akan merubah
kerangka dasar dari USY yang dapat dibuktikan dari kristalinitas dan ukuran
kristal pada USY yang berubah.

1.3

Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Penambahan karbon aktif pada USY dapat meningkatkan jumlah logam yang
teremban
2. Penambahan karbon aktif dapat menurunkan luas permukaan dan keasaman
namun secara kristalinitas tidak merubah kerangka dasar USY

Anda mungkin juga menyukai